Skip navigation

November 3, 2009
Pagi itu saat diperjalanan menuju kantor, di dalam kereta, tanpa sengaja saya melihat headline sebuah surat kabar ibukota ternama yang masih membahas kasus konspirasi yang sedang tenar saat ini di Indonesia. Diatas headline tersebut, ada sebuah mini-headline lain yang sempat membuat saya diam sesaat.

‘HARI INI MK AKAN MEMPERDENGARKAN HASIL PENYADAPAN KPK’

Kiranya seperti itu, jika saya tidak lupa. Saya memang bukan maniak atau pemerhati politik tulen. Tapi juga bukan sekedar ikut-ikutan. Belakangan, untuk kasus konspirasi yang berbalut korupsi ini memang menarik perhatian saya. Soal keputusan MK, dalam pikiran saya saat melihat mini-headline tersebut, adalah Jika MK memperdengarkan hasil penyadapan berarti sedikitnya akan terkuak kebenaran yang agaknya memang sudah sulit didapat di negara kita ini. Saya menyebut ini sebagai ‘Watergate’ versi Indonesia.

Sidang Uji Materi MKTepat pukul 11 siang, MK membuka sidang uji materi tersebut. Nampaknya sidang uji materi tersebut sudah dinanti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang ingin sekali melihat mana cicak dan mana buaya. Di kantor saya pun rasa ingin tahu itu sangat terasa sekali. Start dari ketua MK membuka sidang, sejumlah translator senior sudah duduk rapih di depan televisi. Dan ternyata bukan hanya di kantor saya, di sejumlah perkantoran dan rumah sakit pun para karyawan dan dokter rela mencuri-curi waktu atau meninggalkan pekerjaan mereka sebentar untuk menonton sidang uji materi tersebut. Dukungan terhadap KPK yang diduga menjadi korban rekayasa kriminal juga tertuang dalam ring back tone (rbt) yang digubah dari lagu Garuda Di Dadaku milik Band Netral menjadi KPK Di Dadaku oleh sejumlah musisi ternama Indonesia.

Di beberapa media yang saya baca dan dengar, bahwa kasus rekayasa kriminalisasi yang menjerat 2 orang pemimpin KPK non-aktif, Chandra Hamzah dan Bibit Samad Rianto, yang pada akhirnya mendatangkan demo dan hujatan besar-besaran dari banyak pihak, itu diawali dari kasus Bank Century dan kasus pembunuhan yang melibatkan Antasari Azhar (AA) kepada Nasrudin Zulkarnaen (Direktur PT Putra Rajawali Banjaran). Sebelum ditahan, AA membocorkan beberapa hal, salah satunya bahwa beberapa petinggi KPK juga diduga menerima suap. Dan drama pun dimulai..

Rekayasa aksi demi aksi pun dilakukan secara rapih. Melibatkan berbagai pihak, mulai dari kejaksaan, kepolisian hingga pengacara. Nama-nama seperti Ary Muladi, Antasari Azhar (dikatakan berkhianat) dan Edi Sumarsono ditarik masuk agar terlibat. Sungguh apik.

Dalam uji materi sidang MK kemarin siang, yang memperdengarkan hasil penyadapan mengungkap banyak fakta mencengangkan atas sebuah konspirasi yang didalangi oleh beberapa Petinggi Negara.

Anggodo WidjojoAktor utamanya adalah seorang Anggodo Widjojo (PT Masaro), adik dari buron KPK kasus dugaan korupsi system komunikasi radio terpadu di Departemen Kehutanan, Anggoro Widjojo.

Dalam rekaman tersebut, secara gamblang diungkapkan bagaimana sebuah konspirasi berlangsung. Mulai dari aksi agar  Bibit S. Rianto dan Chandra Hamzah ditahan, niat untuk membunuh Chandra Hamzah saat sudah berada di dalam tahanan kepolisian hingga bagaimana seorang Anggodo mengatur agar adiknya, Anggoro terlepas dari jerat hukum. Beberapa petinggi Negara ikut disebut dalam rekaman tersebut, mulai dari RI1 (Our President) hingga Truno 3. Wah wah wah..

Jujur, saat mendengar rekaman hasil sadap tersebut, saya agak ngejelimet karena hampir 90% isi rekaman tersebut menggunakan bahasa Jawa. Untung, saya memiliki teman-teman yang jago sekali bahasa Jawanya (karena itu memang bahasa baku mereka), maka saya pun memakai jasanya untuk mengartikan tulisan yang tertera pada layar. Untung ga mesti bayar yah :p. Selain itu, jijik sekali rasanya saat melihat kebusukan aparat hukum negara kita yang tergambar rapih dalam rekaman hasil penyadapan.

‘Skrip film itu, Put’, kata seorang teman di Bali, via twitter, yang juga ikut menyaksikan siaran langsung sidang MK.

Dalam benak saya saat melihat skrip tersebut adalah MK sedang melakukan reading drama besar-besaran bersama para viewers.

Sering kali kita mendengar bagaimana konspirasi terjadi di Kepolisian, Pengadilan, bahkan Mahkamah Agung sendiri tanpa pernah bisa dibuktikan. Yang kita sebut Mafia itu juga sangat lihai sehingga tak akan pernah bisa diungkap. Dan saat MK akhirnya membuka rekaman hasil penyadapan sebanyak 9 bundel tape tersebut, seluruh masyarakat pun tahu bahwa mafia itu ada, nyata dan sangat kuat.

Sejak kasus ini bergulir, banyak tokoh masyarakat yang meminta presiden untuk bertindak tegas, tidak membela satu pihak yang jelas-jelas salah. Di situs jejaring Facebook, terdapat group yang ditenggarai oleh seorang mahasiswa asal Bengkulu yang bertitle 1,000,000 facebookers mendukung Bibit – Chandra yang membernya sudah hampir mencapai 1 juta orang. Sungguh luar biasa. Dalam twitter, sejumlah selebritas dan anchor tv pun turut serta mendukung KPK dengan menyusupkan #dukungkpk dalam setiap tweet yang mereka lakukan. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan Presiden yang nampaknya agak pro pada cukong-cukong menjijikan itu. Tapi setelah rekaman tersebut dibuka, Presiden nampaknya haruslah memikirkan kembali dan mengevalusai seluruh langkah salah yang diambilnya. meskipun sehari sebelumnya, SBY pernah mengatakan jika ada yang berusaha melemahkan KPK, dialah yang akan berada paling depan di garis depan sebagai pembela. Dan untuk sedikitnya ‘membuktikan’ omongannya kepada public (public trust), Presiden membentuk Tim Pencari Fakta Kasus Bibit-Chandra yang terdiri dari 6 orang (4 orang diantaranya pihak independen dan 2 orang dari pemerintahan), dipimpin oleh Pengacara Senior, Adnan Buyung Nasution.

Rekaman berdurasi 4,5 jam yang diperdengarkan selama 3,5 jam di sidang MK tersebut , nampaknya juga menjadi momok menakutkan bagi pihak kepolisian. Bagaimana tidak, hingga rekaman dibuka pun, Kapolri masih saja mangkir. Memang, sesaat sebelum KPK membawa bukti tersebut ke MK, Kepolisian sudah lebih dulu ngotot untuk meminta rekaman tersebut dengan dalih ingin membuktikan keotentikan rekaman tersebut.

Otentik? Hellooooo..bapak-bapak terhormat, kemana aja baru nanyain masalah otentikasi menjelang barang bukti akan dibuka?

Rasa ketakutan dan malu yang menyelimuti rasanya berusaha dikuasai oleh para ‘Buaya’ untuk mengedit isi rekaman tersebut, namun untung saja rekaman tersebut langsung di bawa ke Mahkamah Konstitusi untuk diperdengarkan pada khalayak ramai.

Ada hal lucu, sesaat sebelum rekaman diperdengarkan kepada umum, salah seorang pihak MK bertanya kepada Ketua MK, Mahfud MD tentang berapa lama waktu yang akan diperlukan untuk memperdengarkan seluruh isi tape tersebut. Dngan nada sedikit kesal, Mahfud menjawab, ’Kamu aja belum pernah dengar dan enggak tahu berapa lama waktunya, apalagi saya. Sudah, kita dengarkan saja.’ sontak langsung menuai tawa dari para hadirin. Sungguh seperti sidang perceraian.

Postingan saya kali ini memang sengaja saya beri judul yang sedikit ekstrim, alasannya adalah banyaknya pihak yang disebutkan oleh Anggodo dalam rekaman penyadapan tersebut. Dari mulai RI1 hingga sejumlah pejabat kepolisian dan kejaksaan yang diinisialisasikan. Juga terdengar sangat jelas bahwa ada upaya untuk melemahkan KPK.

November 4, 2009 ini rencananya akan diadakan sidang lanjutan KPK.

Komentar saya lagi, meskipun barang bukti telah diperdengarkan, para buaya tidak akan pernah jera. Segala cara pemangkiran pun akan dilakukan. Cara membebaskan Chandra dan Bibit serta mencopot Komisaris Jend. Polisi Susno Duadji tak akan cukup untuk menunjukkan niatan Presiden sebagai yang terdepan jika terjadi pelemahan terhadap KPK. Sudah saatnya Presiden mengambil langkah yang sangat tegas dengan mencopot sekaligus Jaksa Agung, Hendraman Supandji dan Kapolri Bambang Hendarso yang harus bertanggung jawab karena jelas-jelas tidak mampu memimpin lembaganya. Karena jika dilakukan, kasus konspirasi dan penyuapan ini dapat menjadi momentum untuk Presiden SBY mereformasi total kepolisian dan kejaksaan, dalam program 100 hari kerjanya setelah memenangi pilpres April silam.

Sebelumnya, saya ingin menghaturkan mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila ada yang tersinggung dengan tulisan saya ini. Saya hanya ingin menulis apa yang ada di dalam pikiran saya. Terima kasih. (^^,)

“ cXnK qMoh tO cKiDn A A A A a a a A a A a a a a … …
m._tHa apOn YoH………………………………….
qoH tLuZ”aN uCHA bWad tTeP qEqEUh cXnK qMo….
bUD……
cIa” adJA……….”

When you see text written in this kind of style, you think: a) That’s cool. b) Whoever wrote that should be shot or have their fingers broken. c) So what? If that’s the writer’s style..

Pilihan saya, adalah B
. Yup, why? Karena untuk menuliskan 5 lines tulisan-yang-membuat-saya-eneg itu saja, saya membutuhkan waktu hampir 15 menit. Satu persatu jari jemari saya menekan keyboard komputer, bagaikan mengetik 11 jari. Dan, setiap 1 detik saya selalu melihat ke monitor untuk mencegah setiap tulisan yang saya ketik, menjadi salah. DAMN!! Betapa hebatnya manusia yang bisa menuliskan kata-kata sedemikian rupa hanya dalam waktu beberapa detik saja.

Fenomena ini dikenal dengan sebutan “Alay” atau dalam penjabarannya (sebenarnya kata tersebut tidaklah memiliki arti yang nyata, entah datang dari mana asalnya), ditujukan untuk sesuatu yang bersifat “tacky” atau “cheesy” (norak atau kampungan) atau biasa dipakai untuk mendeskripsikan bagaimana beberapa orang tertentu berpakaian/korban mode (KorMod :ON), aliran musik yang didengar: Malay-sounding bands seperti ST12, Wali atau Kangen band, maupun cara menuliskan hal-hal (yang menurut mereka mungkin bagus dan terdengar lucu, seperti mengganti kata “home” menjadi “humzz”). Apapun itu, untuk option terakhir, biasanya mereka menggabungkan pemakaian huruf besar dan huruf kecil dalam satu kalimat.

Applause saya tertuju pada Nona Ophi A. Bubu.
Siapakah dia?

The high school student from Banyuwangi of East Java, who says she was born in 1991, shot to fame in the virtual world for her postings on her Facebook page. Namanya terkenal seantero blogs dan forums dalam dunia maya (karena mereka membicarakan cara sang Ophi menulis. Bukan karena menurut mereka tulisan semacam itu hebat, but because they’re in “code”).

Salah satu contohnya sudah saya beri diatas, jika di terjemahkan menjadi:
(Translation : Sayang kamu tuh sakitnya
Minta ampun ya
Aku terus terusan berusaha buat tetep kekeuh sayang kamu
But
Sia sia aja
)

Pekerjaan saya, sebagai seorang translator, yang tentu saja hari demi hari dipenuhi dengan kamus dan tata bahasa yang sedemikian halus, rapih dan indahnya, saat mencoba iseng menulis gaya ‘alay’ ini tentu membuat saya shock.

Tapi saya tidak mau sombong dan lupa diri. Dulu, saat semester 3, saya pun ikut menjadi bagian dari grup ‘alay’ tersebut. Yup. Dulu, setiap sms, tulisan yang saya ketik pasti gabungan antara huruf besar dan kecil. Begini contohnya:
“hEi, aPa kAbaRnyA? uDah LaMa ya 9A ngObRoL” saMa Lo..”

Yah, kiranya seperti itu. Dan tulisan tersebut juga masih bisa dilihat dalam wall Facebook seorang teman dekat saya, FYI. Sebut saya kampungan, alay atau apa, tapi dulu saat sebutan ini belum merebak, saya bilang itu hal yang cool (sekarang saya bilang itu WTF!). Tapi entah mengapa, saya merasa capek sendiri. Rasanya saat harus mengetik sebuah message cepat, tak mungkin harus menekan Capslock (atau tombol * di handphone saya) bersamaan dengan menekan huruf lainnya. Agak nyeleneh, pikir saya. Alhasil, saya pun kembali normal. Meninggalkan gaya “cool” tersebut dan belajar mengetik normal yang kian hari kian cepat dan tak perlu harus melihat ke arah tombol yang saya tekan (menekan tombol sambil ngobrol, dengan arah mata tidak tertuju pada keypad atau keyboard), beberapa dari kalian mungkin ada juga yang seperti itu kan? 🙂

Back to Ophi A. Bubu

So, quite simple, Ophi has become famous for making writing even  harder to read than the scrawl of any doctor. Alay lah yang membuat Ophi terpaksa men-deactive-kan account Facebook-nya, karena banyaknya friend requests mencapai 4,000 setiap bulannya. Banyak yang menjulukinya ‘Si Ratu Alay.’ Ini semacam bullying, memang. Namun, ada pula yang menggemarinya. Supporternya pun membuat group di Facebook maupun Twitter.

Let’s see people,
Tren semacam ini sebenarnya juga ada di negara Jepang yang dikenal sebagai ‘gyaru-moji’, yang menjadi sorotan massa di tahun 2002. Sebutan lainnya adalah heta-moji. Heta yang artinya buruk (dalam tulisan tangan). Dalam bahasa sms, sebuah sms yang diketik dalam gyaru-moji biasanya memerlukan usaha yang lebih keras dan banyaknya karakter yang digunakan, daripada sebuah sms yang diketik dalam bahasa jepang konvensional.

Pendapat saya tentang alay, sesungguhnya kaum tersebut adalah kaum kreatif. Mengapa? Karena mereka mampu dengan cepat menuliskan ’perusakan’ huruf demi huruf. Tentunya mereka tidak bodoh, kan? Tulisan alay tersebut juga bisa membuat yang membacanya menjadi lebih pandai dan kreatif. Just imagine being able to type quickly that way so consistently. Isn’t that like a brain exercise? Ha ha ha..

Tapi, selama kita tahu kapan dan dimana untuk memakai gaya alay tersebut, nampaknya akan baik-baik saja. 1 hal lagi, virtual bullying yang didapatkan oleh ‘sang ratu alay’ tersebut, sungguh sangat keterlaluan. Bayangkan jika diri kita sendiri menjadi seorang Ophi, dan diri kita menjadi target dari gossip yang ada di sekitar teman-teman kita. Mau kah kita menerimanya? Pastinya, dengan sekuat tenaga kita akan melindungi diri sendiri. Sama halnya jika kita menyusupi kata ‘autis’ dalam candaan kita, lalu kita tanpa sengaja mencandai orang yang memiliki kekurangan tersebut. Akankah mereka dapat menerimanya? Bagaimana perasaan mereka? Pikirin lagi deh. (~.^)b

Gue eh, saya maksudnya aga shock dengan kabar Stephen Gately (Boyzone former) meninggal beberapa hari lalu. Saat itu penyebabnya belum diketahui. Tapi baru aja, lagi abis cek email, saya melihat breaking news yahoo UK soal penyebab kematian sang lelaki yang dulunya menjadi idola para cewek” abg (untung saya tidak, I loved Ronan Keating anyway).. dan tebakan saya benar, Marathon drinking. Yaa, namanya juga selebritis. Ga jauh dari yang namanya dunia gegap gempita, free sex, drugs and drunk.

Inilah beritanya..

Tragic Boyzone star Stephen Gately had been on a marathon drinking session in the hours before his death in Majorca, according to reports.

The family of the 33-year-old Irish pop singer and actor insisted it was a “tragic accident” and that no foul play was involved.

Police said there were “no signs of suspicious circumstancesafter Gately was found dead at his home in the resort of Port Andratx, Majorca, on Saturday afternoon.

Reports claim he spent up to eight hours drinking on Friday night and choked to death on his vomit while asleep after a night’s clubbing.

Last night fellow band members – Ronan Keating, Keith Duffy, Mikey Graham and Shane Lynch – arrived in Majorca and spent an hour at Gately’s home.

They were hoping for answers over the tragic death of their “friend and brother”.

Gerald Kean, who was asked by Gately’s family to speak on their behalf, said: “There’s no foul play involved and it’s not suicide.

“It’s just a tragic accident is what we’ve been told and we’re happy that that is correct information.

“There is nothing untoward, it’s not drugs, we don’t believe, it’s not suicide, it’s not murder, it’s not a fight. That’s what we’ve been told.”

As tributes poured in from the music world, a spokesman for police in Port Andratx added: “At the moment it is not known how he died. There are no signs of suspicious circumstances.”

A post mortem is expected to take place in Spain this week.

It was reported that police want to speak to a 25-year-old Bulgarian man who was said to have met Gately and his partner Andrew Cowles at a bar.

He is said to have returned with them to their Port Andratx home before the singer’s death.

Boyzone said they were left “completely devastated” by the loss.

“We have shared such wonderful times together over the years and were all looking forward to sharing many more,” they said.

“Stephen was a beautiful person in both body and spirit. He lit up our lives and those of the many friends he had all over the world.

“Our love and sympathy go out to Andrew and Stephen’s family. We love you and will miss you forever ‘Steo’.”

The band’s manager Louis Walsh pulled out of the X Factor live show, saying he was “very shocked and exceptionally upset”.

Outside Gately’s sea-view villa, mourners left flowers and paid tribute to the star.

British ex-pat Kate Whillock, 22, who lives nearby, said she had met Gately twice and described him as a “down to earth, genuinely lovely guy”.

Ms Whillock, who works in real estate and moved to Port Andratx four years ago, said: “When he’s here he seems to have a pretty chilled out time.

“He’s usually just relaxing in a cafe. I’ve never seen him out partying on the social scene at all.”

Gately was often spotted relaxing in the upmarket Cappuccino cafe and was recently seen dining with singer Chesney Hawkes in the pricey Portobello restaurant, she added.

Mark Kirsch, 49, a travel agent from Bushey, in Hertfordshire, who has a holiday apartment in a block near Gately’s, said he was upset and shocked by the news.

“I met Stephen a couple of times,” he said.

“He was a private guy who kept himself to himself. He definitely wasn’t living a wild rock ‘n’ roll lifestyle here. There were no wild parties, nothing like that at all.”

Gately seemed in good health recently, he added.

One note left with flowers read: “For Stephen, God bless you, rest in peace. Although we didn’t know you personally, we admired and like you as a person, not just your talent. Sue and Dave. PS. Deepest sympathy to you Andrew.”

Gately last posted a message on his Twitter page on October 6, writing: “Still busy – lots going on. Focussing on finishing my book next so may be quiet here.”

courtesy : http://uk.news.yahoo.com/5/20091012/twl-boyzone-star-had-been-on-marathon-bi-3fd0ae9.html

October 01, 2009.

Cerita dimulai saat saya yang sedang menunggu bus di halte busway Sarinah untuk pergi ke kawasan Mangga Dua bersama teman saya, Syta & beberapa rekan kerja senior. Sepakat untuk mengunakan busway karena di rasa lebih cepat, juga karena jalanan Jakarta siang itu sudah mulai macet dimana-mana (as usual). Sudah lama juga rasanya saya engga naik busway. Saat memasuki haltenya saja, saya sudah heboh sendiri. FYI, saat mau ke kantor Faith di Thamrin saya pun juga naik busway dari kantor pusat di Sudirman. Hahaha, norak banget emang.

Selagi menunggu bus datang, iseng saya melongok keluar dari pintu tunggu busway arah Blok M. Dan saya mendapati kenyataan yg sangat mengecewakan.

McDonald’s sarinah ku MENGHILANG!!! Kemana perginya??

Setelah melewati beberapa menit berargumen ria sama syta dan rekanan senior lain, yg keukeuh kalo McD-nya mungkin hanya di renovasi, busway ku pun datang. Masih tetap merasa shock meskipun semua teman saya udah berusaha untuk menghibur.

Ga rela.. Ga rela.. Ga rela.. Sangat shock juga sedih sekali rasanya. Susah untuk digambarkan (LEBBAI : ON)

Ada alasan mengapa saya heboh sendiri tentang pergantian gerai McD Sarinah yang merupakan gerai McDonald’s pertama yang dibuka di Indonesia. Masa kecil.

Yes, masa kecil saya diantaranya banyak dihabiskan di Plaza Sarinah.

Tunggu dulu, jangan salah paham. McD sarinah adalah restoran cepat saji McD pertama yg di buka di Indonesia pada tahun 1991 (usia saya saat itu 3 tahun). Kakek saya sering sekali membawa saya pergi main dan makan di plaza tersebut, jika weekend tiba. Sehabis naik bus double-decker (sayang banget bus kayak gitu udah ga ada lagi di Jakarta ya), biasanya kami langsung menuju resto tersebut untuk makan siang. My meal engga pernah jauh-jauh dari milkshake stroberi dan happy meal yang cuma pengen saya ambilin hadiah mainannya aja.

Alhasil, esoknya Syta kirimin saya sebuah email tentang pembenaran perpindahan gerai resto junk food nan bergizi juga tenar seantero dunia itu.

Ada sengketa ternyata. Antara pihak Bambang Rachmadi dan McDonald’s Corp.

Pagi ini, October 9, 2009, sebuah surat kabar ibukota kembali mengangkat soal sengketa itu. Dan ternyata masih berjalan.

Kronologis Kasus Sengketa Bambang versus McD :

23 February 1991

Setelah lobi 1,5 tahun, Bambang Rachmadi berhasil memperoleh hak waralaba utama (master franchise) resto cepat saji McDonald’s dari McDonald’s International Property Company (MIPCo) yang merupakan wakil McDonald’s Corp Negeri Paman Sam. Alhasil, resto McD Indonesia pertama dibuka di Plaza Sarinah, Jakarta Pusat, yang dikelola oleh Bambang sendiri melalui PT Ramaco Gerbang Mas dengan hak lisensi selama 20 tahun.

1994

PT Bina Nusa Rama (BNR) didirikan untuk mengelola lebih banyak resto McDonald’s di Indonesia. McD’s Corp yang diwakili International Development Services (IDS) dan Bambang diwakili oleh PT Rezeki Murni. Tahun 1999, IDS menguasai 90% saham BNR, dan PT RM hanya menguasai 10% saham BNR.

2007

Rekso Group (Sosro) melobi McDonald’s Corp untuk mendapatkan hak franchise di Indonesia, bersaing dengan 10 company lainnya.

12 Mei 2008

Bambang mundur dari jabatan sebagai Presiden Direktur PT BNR, dan bermaksud menjual McD ke Recapital.

13 Oktober 2008

RUPS BNR menjual seluruh aset perusahaan termasuk 97 gerai resto cepat saji ini kepada PT Rekso Nasional Food (RNF), anak perusahaan dari Rekso Group senilai US$ 20 juta. Bambang merasa tidak dimintai persetujuan.

10 Maret 2009

Bambang R. mengajukan gugatan perdata terhadap McDonald’s Amerika di PN Jakarta Selatan dengan ganti rugi materiil US$ 5,5 juta dan immateriil sebesar US $100juta.

03 Juni 2009

PT BNR menandatangani kesepakatan penjualan dengan PT RNF dan dengan resmi Rekso Group memiliki master franchise McD dari MIPCo. Rekso berniat membuka 75 gerai McD dalam kurun 5 tahun.

01 Oktober 2009

13 gerai McDonald’s di ganti menjadi Toni Jack’s, resto cepat saji bernuansa bajak laut, dengan moto ‘Better than that One’, yang seakan menyindir McD milik Sosro.

See? Hanya karena penjualan aset ke pihak lain tanpa pemberitahuan, sebuah sejarah bisa berubah drastis. Toni Jack’s Indonesia yang menggeser 13 gerai resto asing tersebut. Meskipun membantah bahwa ToniJack’s meniru brand asing, tapi Bambang mengatakan bahwa ToniJack’s Indonesia adalah aseli waralaba Indonesia. Dimana hampir seluruh bahan baku, katanya, di pasok dari dalam negeri.

Membicarakan tentang ToniJack’s Indonesia, di hari Sabtu sore tepatnya October 3, 2009, saat sedang menunggu meeting sore dimulai, saya pun mengunjungi resto yang di dominasi warna hitam itu. Bajak Laut sekali! Kebetulan jaraknya hanya menyebrangi jembatan penyebrangan Sarinah saja.

Dan kamu tahu apa? Mungkin karena masih baru, makanan yang dijual pun relatif datar, sedikit dan sangat ‘tidak’ banget. Imaji saya masih menganggap bahwa venue itu masih McD Sarinah yang telah melegenda selama 21 tahun perjalanan hidup saya. Hallooooo!!

Dan saya pun memesan 1 buah Chicken Cheese dan segelas milo dingin. Belum ada ice cream, sundaes, cone atau apapun. Yang ada hanya burger, kentang goreng, ayam dan minuman soda seperti cola dan fanta, juga milo. Hambar. Burger yang saya pesan pun ternyata BANTET dan di bungkus memakai kertas minyak berwarna putih 2 lapis yang di atasnya diberi stiker sesuai nama makanannya. Gelas untuk minuman pun masih memakai gelas ice tea yang di jual di kampus saya. Huahahahaha. Ingin tertawa nangis rasanya sore itu. Sumpah serapah saya haturkan pada tweet info untuk twitter dan facebook saya. Meskipun jauh di dalam pikiran saya, masih ada harapan bahwa Toni Jack’s bisa sebesar McD nantinya. Semoga.

Design a site like this with WordPress.com
Get started