Setelah Visa, kali ini kita akan bahas bagian terpenting kedua yaitu transportasi. Ada 2 macam transportasi yang harus kita pikirkan, yaitu transportasi dari Indonesia (atau negara asal) ke Saudi dan transportasi di dalam negeri Saudi itu sendiri.
Di era online, transportasi udara alias pesawat sudah gampang dipesan baik lewat website maskapai masing-masing atau lewat platform tiket online semacam tiket.com atau traveloka.com . Untuk mencari tiket termurah, bisa gunakan Google Flight atau Microsoft Bing Flight. Tinggal masukkan kota asal, tujuan, dan tanggal pergi & pulang, lalu mesin pencari (Google atau Bing) akan mencarikan alternatif rute dan maskapai. Kita tinggal menyortir mau cari yang termurah atau tercepat.
Biasanya, untuk long haul flight (lebih dari 4 jam), yang rute direct akan lebih mahal daripada yang transit. Kalau kita pesan rute CGK / Jakarta -JED / Jeddah (10 jam), biasanya rute yang murah adalah yang transit, bisa di KL Malaysia, Muscat Oman, Dubai/Abu Dhabi UAE, Doha Qatar, atau Mumbai India. Perhatikan dengan seksama pilihan yang disajikan Google atau Bing. Kadang-kadang yang termurah ini transitnya lama, lalu ganti maskapai. Sebaiknya hindari pilihan dengan 2 maskapai berbeda, kecuali maskapai yang satu induk seperti Lion Air & Batik Air. Lalu harga yang ditampilkan juga kadang berasal dari situs pemesanan tiket online yang meragukan. Banyak kasus tiket palsu, atau kalau misal perlu mengubah tiket juga susah karena saling lempar antara agen dengan maskapai. Saran saya, jangan pesan tiket dari website booking online kecuali yang sudah jelas terpercaya seperti tiket.com dan traveloka.com . Gunakan hasil pencarian sebagai referensi saja, tapi pesan tiket langsung dari website maskapai tersebut.
Rekomendasi saya adalah maskapai timur tengah yaitu Emirates, Etihad, Oman Air, dan Qatar Air. Kenapa empat maskapai ini? Karena untuk rute Jakarta-Jeddah pasti akan transit di home base mereka – Emirates di Dubai, Etihad di Abu Dhabi, Oman Air di Muscat, dan Qatar Air di Doha. Dari Jakarta ke Muscat kira-kira 7,5 jam, sementara ke Dubai/Abu Dhabi/Doha kira-kira 8 jam. Dari empat bandara itu ke Jeddah masih kira-kira 3 jam. Pada saat transit ini kita bisa berganti kain ihram bagi laki-laki. Empat bandara ini sangat nyaman untuk beristirahat, semua restoran halal, ada mushola yang nyaman, dan mudah untuk berganti kain ihram. Jarak ke Jeddah pun sudah tidak jauh lagi.
Kalau kita naik maskapai yang langsung ke Jeddah / Madinah seperti Saudia atau Garuda, artinya kita harus memakai kain ihram sejak di bandara atau ganti kain ihram di pesawat, karena saat landing di Jeddah sudah melewati batas miqat. Ganti kain ihram di pesawat rasanya kurang nyaman, apalagi toilet pesawat sempit. Sementara kalau pakai ihram dari bandara juga rasanya gak enak, apalagi perjalanan selama 10 jam.
Kalau ganti kain ihram setelah landing di Jeddah apa boleh? Ada khilaf / beda pendapat ulama dalam masalah ini, tapi saya ikut pendapat Jeddah sudah lewat miqat, jadi kalau baru pakai ihram di Jeddah berarti harus bayar dam / denda.
Untuk pemesanan tiket langsung dari website maskapai, biasanya pembayaran lewat kartu kredit / debit Visa / Mastercard. Kartu debit GPN tidak bisa digunakan. Kalau misal tidak ada kartu kredit / debit, bisa gunakan kartu debit virtual dari bank digital seperti Jenius atau Jago. Pastikan saldo kita cukup untuk membayar tiket.
Kalau mau cara tradisional ya tinggal pesan tiket dari agen. Beberapa travel agent khusus umrah mau memesankan tiket dan visa sekaligus.
Setelah masalah tiket pesawat ke Saudi Arabia beres, masalah lain ada transportasi dari bandara Jeddah / Madinah ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dulu transportasi umum dalam negeri Saudi termasuk jelek dan tidak ramah pengunjung non-arab, tapi semenjak Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS) menjadi de facto leader dan mencanangkan Vision 2030, banyak perubahan drastis termasuk di bidang transportasi. Bagi jamaah umrah, yang paling menguntungkan adalah adanya kereta cepat yang menghubungkan Makkah-Jeddah-Jeddah Airport-Madinah.

Jadi setelah kita mendarat di Jeddah dan lolos dari imigrasi, kita tinggal menuju stasiun kereta cepat. Stasiun ini terletak di dalam bandara itu sendiri, setelah lolos imigrasi dan pengambilan bagasi, tinggal jalan kira-kira 15 menit. Kita bisa beli tiket secara online di website Haramain High Speed Railway (HHR) atau lewat Apps HHR Train (Android & Apple). Kereta ini beroperasi dari jam 8 pagi sampai jam 10.30 malam, dengan frekuensi tiap 2 jam, kecuali saat jam sibuk dari jam 2 siang sampai 6 malam bisa tiap jam. Bisa cek langsung ke website HHR untuk jadwal pastinya. Harga tiket rute King Abdul Aziz Airport – Makkah di website adalah SAR (Saudi Riyal) 69 sekali jalan, tapi kalau beli di loket malah lebih mahal yaitu SAR 86, jadi sebaiknya segera booking setelah kita dapat tiket. Harga tiket rute Makkah – Madinah adalah SAR 224. Seperti biasa, pembayaran online / apps hanya bisa menggunakan kartu kredit / debit Visa / Mastercard. Kalau beli lewat loket baru bisa menggunakan uang tunai. Untuk pembelian online, calon penumpang akan mendapatkan tiket elektronik dengan QR code. Nanti calon penumpang tinggal memindai / scan QR code tersebut untuk bisa masuk gerbang otomatis. Barang bawaan yang diperbolehkan adalah 1 koper dan 1 tas jinjing / hand baggage per penumpang. Kalau ada bawaan lebih, bisa dipaketkan dengan biaya tambahan.
Saat memesan tiket, perhatikan waktu antara landing dengan keberangkatan. Paling tidak perlu 1 jam untuk jalan dari pesawat ke imigrasi, antri imigrasi, ambil koper, lalu jalan ke stasiun. Kalau mau aman ya booking setelah lolos imigrasi karena ini yang susah diduga waktunya.
Kereta cepat ini sangat nyaman dan cepat sesuai namanya. Di tengah kursi ada colokan listrik, jadi manfaatkan untuk mengecas HP selagi bisa. Ada pramugara/i yang menjual snack dan minuman, harganya tentu lebih mahal daripada di luar tapi masih wajar. Perjalanan dari King Abdul Aziz International Airport Jeddah ke Makkah memakan waktu kira-kira 1 jam dengan 1 kali pemberhentian di kota Jeddah. Kereta cepat ini bisa melaju sampai 300 km/jam, tapi kita tidak akan merasa kalau tidak melihat layar yang menampilkan kecepatan kereta.
Setelah sampai Stasiun Makkah, perjalanan bisa dilanjutkan dengan shuttle bus gratis ke Masjidil Haram. Bus akan berhenti di Drop Off Point (Harmain Makkah Station Shuttle Bus), dekat Hilton Suites Makkah (sisi barat Masjidil Haram). Gerbang Masjidil Haram terdekat adalah King Fahd Gate. Ada juga opsi dengan bus kota no. 7A, tapi tidak gratis. Bis kota akan berhenti di tempat yang sama dengan shuttle bus. Bisa juga dengan taksi, tapi tentu harus tawar-menawar harga. Perjalanan dari stasiun ke Masjidil Haram kira-kira 15 menit saja.
Kalau Anda tiba di airport antara jam 11 malam – 8 pagi, maka pilihannya cuma menunggu sampai pagi atau naik taksi. Taksi dari Jeddah Airport ke Masjidil Haram tidak ada yang pakai argo dan biasanya sharing / berbagi dengan penumpang lain, kecuali Anda mau sewa satu mobil full. Setelah Anda keluar dari imigrasi dan pengambilan bagasi, biasanya ada banyak sopir-sopir taksi yang menawarkan jasanya.
“Haram, haram, haram…” (maksudnya taksi ke Masjidil Haram)
Nah untuk tarif harus tawar-menawar. Biasanya mereka akan minta SAR 200 dari Jeddah Airport ke Masjidil Haram, tapi bisa ditawar 100-150. Kawan pernah nyoba taksi ini karena sampai airport jam 2 pagi, kena SAR 150 untuk berdua, tapi masih narik 1 penumpang lagi. Biasanya mobilnya sedan, jadi normalnya ada 3 penumpang dan 1 sopir, kadang bisa 4 penumpang.
Opsi lain dari bandara Jeddah ke Masjidil Haram adalah naik shuttle bus gratis dari Terminal 1. Bis ini berangkat dari jam 10 pagi sampai 10 malam setiap 2 jam. Syaratnya penumpang harus menggunakan kain ihram untuk menggunakan bis ini. Ini adalah opsi terbaik untuk kaum mendang-mending, tapi saya sendiri belum pernah menggunakan moda ini jadi belum bisa memberikan review.
Setelah ini kita akan bahas masalah akomodasi, bekal, dan perlengkapan untuk umrah.
Tulisan sebelumnya tentang Visa di dilihat di sini.






