Umrah Backpacker bagian 2 – Transportasi


Setelah Visa, kali ini kita akan bahas bagian terpenting kedua yaitu transportasi. Ada 2 macam transportasi yang harus kita pikirkan, yaitu transportasi dari Indonesia (atau negara asal) ke Saudi dan transportasi di dalam negeri Saudi itu sendiri.

Di era online, transportasi udara alias pesawat sudah gampang dipesan baik lewat website maskapai masing-masing atau lewat platform tiket online semacam tiket.com atau traveloka.com . Untuk mencari tiket termurah, bisa gunakan Google Flight atau Microsoft Bing Flight. Tinggal masukkan kota asal, tujuan, dan tanggal pergi & pulang, lalu mesin pencari (Google atau Bing) akan mencarikan alternatif rute dan maskapai. Kita tinggal menyortir mau cari yang termurah atau tercepat.

Emirates Airbus A380 rute Dubai-Jeddah sedang diisi bahan bakarnya di Dubai International Airport.

Biasanya, untuk long haul flight (lebih dari 4 jam), yang rute direct akan lebih mahal daripada yang transit. Kalau kita pesan rute CGK / Jakarta -JED / Jeddah (10 jam), biasanya rute yang murah adalah yang transit, bisa di KL Malaysia, Muscat Oman, Dubai/Abu Dhabi UAE, Doha Qatar, atau Mumbai India. Perhatikan dengan seksama pilihan yang disajikan Google atau Bing. Kadang-kadang yang termurah ini transitnya lama, lalu ganti maskapai. Sebaiknya hindari pilihan dengan 2 maskapai berbeda, kecuali maskapai yang satu induk seperti Lion Air & Batik Air. Lalu harga yang ditampilkan juga kadang berasal dari situs pemesanan tiket online yang meragukan. Banyak kasus tiket palsu, atau kalau misal perlu mengubah tiket juga susah karena saling lempar antara agen dengan maskapai. Saran saya, jangan pesan tiket dari website booking online kecuali yang sudah jelas terpercaya seperti tiket.com dan traveloka.com . Gunakan hasil pencarian sebagai referensi saja, tapi pesan tiket langsung dari website maskapai tersebut.

Rekomendasi saya adalah maskapai timur tengah yaitu Emirates, Etihad, Oman Air, dan Qatar Air. Kenapa empat maskapai ini? Karena untuk rute Jakarta-Jeddah pasti akan transit di home base mereka – Emirates di Dubai, Etihad di Abu Dhabi, Oman Air di Muscat, dan Qatar Air di Doha. Dari Jakarta ke Muscat kira-kira 7,5 jam, sementara ke Dubai/Abu Dhabi/Doha kira-kira 8 jam. Dari empat bandara itu ke Jeddah masih kira-kira 3 jam. Pada saat transit ini kita bisa berganti kain ihram bagi laki-laki. Empat bandara ini sangat nyaman untuk beristirahat, semua restoran halal, ada mushola yang nyaman, dan mudah untuk berganti kain ihram. Jarak ke Jeddah pun sudah tidak jauh lagi.

View kota Jeddah menjelang landing di King Abdul Aziz International Airport, Jeddah.

Kalau kita naik maskapai yang langsung ke Jeddah / Madinah seperti Saudia atau Garuda, artinya kita harus memakai kain ihram sejak di bandara atau ganti kain ihram di pesawat, karena saat landing di Jeddah sudah melewati batas miqat. Ganti kain ihram di pesawat rasanya kurang nyaman, apalagi toilet pesawat sempit. Sementara kalau pakai ihram dari bandara juga rasanya gak enak, apalagi perjalanan selama 10 jam.

Kalau ganti kain ihram setelah landing di Jeddah apa boleh? Ada khilaf / beda pendapat ulama dalam masalah ini, tapi saya ikut pendapat Jeddah sudah lewat miqat, jadi kalau baru pakai ihram di Jeddah berarti harus bayar dam / denda.

Untuk pemesanan tiket langsung dari website maskapai, biasanya pembayaran lewat kartu kredit / debit Visa / Mastercard. Kartu debit GPN tidak bisa digunakan. Kalau misal tidak ada kartu kredit / debit, bisa gunakan kartu debit virtual dari bank digital seperti Jenius atau Jago. Pastikan saldo kita cukup untuk membayar tiket.

Kalau mau cara tradisional ya tinggal pesan tiket dari agen. Beberapa travel agent khusus umrah mau memesankan tiket dan visa sekaligus.

Setelah masalah tiket pesawat ke Saudi Arabia beres, masalah lain ada transportasi dari bandara Jeddah / Madinah ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Dulu transportasi umum dalam negeri Saudi termasuk jelek dan tidak ramah pengunjung non-arab, tapi semenjak Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS) menjadi de facto leader dan mencanangkan Vision 2030, banyak perubahan drastis termasuk di bidang transportasi. Bagi jamaah umrah, yang paling menguntungkan adalah adanya kereta cepat yang menghubungkan Makkah-Jeddah-Jeddah Airport-Madinah.

Kereta cepat Haramain High Speed Railway (HHR) yang membawa jamaah umrah dari Jeddah ke 2 tanah haram Makkah & Madinah.

Jadi setelah kita mendarat di Jeddah dan lolos dari imigrasi, kita tinggal menuju stasiun kereta cepat. Stasiun ini terletak di dalam bandara itu sendiri, setelah lolos imigrasi dan pengambilan bagasi, tinggal jalan kira-kira 15 menit. Kita bisa beli tiket secara online di website Haramain High Speed Railway (HHR) atau lewat Apps HHR Train (Android & Apple). Kereta ini beroperasi dari jam 8 pagi sampai jam 10.30 malam, dengan frekuensi tiap 2 jam, kecuali saat jam sibuk dari jam 2 siang sampai 6 malam bisa tiap jam. Bisa cek langsung ke website HHR untuk jadwal pastinya. Harga tiket rute King Abdul Aziz Airport – Makkah di website adalah SAR (Saudi Riyal) 69 sekali jalan, tapi kalau beli di loket malah lebih mahal yaitu SAR 86, jadi sebaiknya segera booking setelah kita dapat tiket. Harga tiket rute Makkah – Madinah adalah SAR 224. Seperti biasa, pembayaran online / apps hanya bisa menggunakan kartu kredit / debit Visa / Mastercard. Kalau beli lewat loket baru bisa menggunakan uang tunai. Untuk pembelian online, calon penumpang akan mendapatkan tiket elektronik dengan QR code. Nanti calon penumpang tinggal memindai / scan QR code tersebut untuk bisa masuk gerbang otomatis. Barang bawaan yang diperbolehkan adalah 1 koper dan 1 tas jinjing / hand baggage per penumpang. Kalau ada bawaan lebih, bisa dipaketkan dengan biaya tambahan.

Saat memesan tiket, perhatikan waktu antara landing dengan keberangkatan. Paling tidak perlu 1 jam untuk jalan dari pesawat ke imigrasi, antri imigrasi, ambil koper, lalu jalan ke stasiun. Kalau mau aman ya booking setelah lolos imigrasi karena ini yang susah diduga waktunya.

Kereta cepat ini sangat nyaman dan cepat sesuai namanya. Di tengah kursi ada colokan listrik, jadi manfaatkan untuk mengecas HP selagi bisa. Ada pramugara/i yang menjual snack dan minuman, harganya tentu lebih mahal daripada di luar tapi masih wajar. Perjalanan dari King Abdul Aziz International Airport Jeddah ke Makkah memakan waktu kira-kira 1 jam dengan 1 kali pemberhentian di kota Jeddah. Kereta cepat ini bisa melaju sampai 300 km/jam, tapi kita tidak akan merasa kalau tidak melihat layar yang menampilkan kecepatan kereta.

Setelah sampai Stasiun Makkah, perjalanan bisa dilanjutkan dengan shuttle bus gratis ke Masjidil Haram. Bus akan berhenti di Drop Off Point (Harmain Makkah Station Shuttle Bus), dekat Hilton Suites Makkah (sisi barat Masjidil Haram). Gerbang Masjidil Haram terdekat adalah King Fahd Gate. Ada juga opsi dengan bus kota no. 7A, tapi tidak gratis. Bis kota akan berhenti di tempat yang sama dengan shuttle bus. Bisa juga dengan taksi, tapi tentu harus tawar-menawar harga. Perjalanan dari stasiun ke Masjidil Haram kira-kira 15 menit saja.

Shuttle bus gratis dari Stasiun Kereta Cepat Makkah ke Masjidil Haram.

Kalau Anda tiba di airport antara jam 11 malam – 8 pagi, maka pilihannya cuma menunggu sampai pagi atau naik taksi. Taksi dari Jeddah Airport ke Masjidil Haram tidak ada yang pakai argo dan biasanya sharing / berbagi dengan penumpang lain, kecuali Anda mau sewa satu mobil full. Setelah Anda keluar dari imigrasi dan pengambilan bagasi, biasanya ada banyak sopir-sopir taksi yang menawarkan jasanya.

“Haram, haram, haram…” (maksudnya taksi ke Masjidil Haram)

Nah untuk tarif harus tawar-menawar. Biasanya mereka akan minta SAR 200 dari Jeddah Airport ke Masjidil Haram, tapi bisa ditawar 100-150. Kawan pernah nyoba taksi ini karena sampai airport jam 2 pagi, kena SAR 150 untuk berdua, tapi masih narik 1 penumpang lagi. Biasanya mobilnya sedan, jadi normalnya ada 3 penumpang dan 1 sopir, kadang bisa 4 penumpang.

Opsi lain dari bandara Jeddah ke Masjidil Haram adalah naik shuttle bus gratis dari Terminal 1. Bis ini berangkat dari jam 10 pagi sampai 10 malam setiap 2 jam. Syaratnya penumpang harus menggunakan kain ihram untuk menggunakan bis ini. Ini adalah opsi terbaik untuk kaum mendang-mending, tapi saya sendiri belum pernah menggunakan moda ini jadi belum bisa memberikan review.

Setelah ini kita akan bahas masalah akomodasi, bekal, dan perlengkapan untuk umrah.

Tulisan sebelumnya tentang Visa di dilihat di sini.

Umrah Backpacker bagian 1 – Visa


Setelah blog ini mati suri bertahun-tahun, akhirnya saya putuskan untuk menghidupkan lagi. Kali ini saya akan berbagi pengalaman terbaru umrah backpacker di awal September 2023. Kenapa harus umrah backpacker alias mandiri tanpa ikut paket umrah dengan travel agent? Bagi saya, dan kebanyakan kaum mendang-mending, keuntungan terbesar umrah mandiri adalah waktu yang fleksibel dan biaya yang lebih murah, walaupun biaya ini sebenarnya relatif.

Suasana jamaah umrah di mathaf (tempat thowaf) di sekeliling Kabah, Masjidi Haram, Makkah, Saudi Arabia

Buat golongan kuli yang susah cuti, ikut paket umrah itu lumayan susah cari waktu yang pas. Rata-rata umrah juga durasinya 9 hari termasuk perjalanan, biasanya dari Sabtu ke Ahad pekan depan. Ini berarti makan 5 hari kerja kalau gak ada libur di tengah. Ga semua kuli punya privilege bisa cuti 5 hari yang pas dengan jadwal dari agen.

Read more: Umrah Backpacker bagian 1 – Visa

Keuntungan berikutnya jelas masalah biaya, walau sebenarnya belum tentu lebih murah. Kalau dihitung apple-to-apple setiap komponen biaya, belum tentu umrah mandiri lebih murah daripada paket umrah, kadang paket umrah juga bisa murah karena travel agent bisa dapat tiket promo dan diskon khusus. Kalau umrah mandiri, kita sendiri harus pinter-pinter cari tiket promo, pilih-pilih hotel yang sesuai selera dan budget, makanan, dan juga transportasi selama di Haramain (dua tanah haram – Makkah dan Madinah). Keuntungan lain umrah mandiri adalah kebebasan lebih menentukan itinerary selama di Haramain . Kalau kita cuma ingin fokus ibadah, kita gak perlu kemana-mana, hanya di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Artinya kita tidak perlu buang waktu dan uang lebih untuk transportasi dan belanja-belanja.

Masalah paling pelik dari umrah mandiri adalah visa. Ada beberapa cara untuk mendapatkan visa yang bisa dipakai umrah, baik itu memang visa khusus umrah (umumnya single entry) atau visa turis (multiple entry). Secara umum, ada 3 cara bagi non-resident / bukan penduduk yang bisa digunakan untuk mendapatkan visa umrah. Kalau sudah punya ijin kerja dan tinggal di Saudi, otomatis bisa umrah kapan saja.

1. Visa Umrah dari Travel Agent

Visa ini sejatinya mirip dengan visa umrah yang biasa digunakan paket umrah yang dijual travel agent di Indonesia. Bedanya, kita sebagai konsumen hanya membeli visanya saja, bukan paket umrahnya. Tidak semua travel agent mau menjual visa umrah lepas (di luar paket), karena ini juga bisa jadi resiko bagi travel agent kalau ada jamaah yang kabur pada saat umrah (biasanya mereka yang kaburan memang berniat jadi TKI ilegal lewat jalur umrah). Ada juga travel agent yang nakal, seolah-olah dia menguruskan visa, padahal tidak. Perlu diperhatikan, pembayaran visa harus dilakukan di muka dan tidak akan dikembalikan jika gagal alias visa tidak keluar. Ini aturan sama dari semua kedutaan. Jadi pastikan tahu rekam jejak travel agent yang akan kita minta tolong.

Salah satu agen yang menawarkan visa umrah mandiri ada di bawah ini:

Saudi Arabian Embassy Jakarta

Syarat-syarat:

Softcopy paspor masa berlaku minimal 6 bulan (biasanya 6 bulan ini dihitung dari sejak keluar Indonesia).

Tiket PP (Indonesia-Saudi, bebas kota asal di Indonesia maupun kota tujuan di Saudi, yang penting dari Indonesia, tujuan ke Saudi, lalu balik lagi ke Indonesia).

Bukti pemesanan hotel selama di Saudi (bisa menggunakan platform pemesanan hotel seperti agoda.com , booking.com , dll.)

Surat keterangan kerja / surat cuti atasan / rekening koran bagi yang mengajukan visa usia 17-54 tahun (bagi yang domisili di Indonesia)

Izin tinggal / residence permit / visa yang masih berlaku (bagi yang domisili di negara lain)

Biaya US$ 220 per orang untuk 1-5 orang, di atas 5 orang US$ 210 per orang. Untuk grup minimal 35 orang biayanya US$ 195 per orang.

Visa diproses dalam 1-2 hari dan biaya harus dibayarkan sebelum visa diproses. Biasanya, biaya tidak bisa dikembalikan jika visa ditolak, karena ketentuan dari semua kedutaan pasti seperti itu.

Hubungi Arya Pradana

HP 089630215234

Sanggahan/Disclaimer : saya pribadi belum pernah menggunakan jasa di atas, namun kawan sudah pernah menggunakan dan direkomendasikan oleh beliau. Silahkan kontak langsung kalau berminat, tapi resiko ditanggung masing-masing.

Visa ini adalah single entry, artinya cuma bisa dipakai sekali saja. Maksimal durasi tinggal adalah 90 hari.

2. Saudia / Flynas Stopover Visa

Cara lain mendapatkan visa umrah adalah memanfaatkan stopover / transit visa dari Saudia Airlines atau Flynas (maskapai berbiaya rendah / low cost carrier anak perusahaan Saudia Airlines). Stopover ini berlaku maksimal 96 jam (4 hari). Jadi kita harus memesan pesawat Saudia dengan transit di Jeddah atau Madinah. Riyadh juga bisa sebagai transit, tapi jarang digunakan karena jauh dari Makkah atau Madinah. Biasanya kalau dari Indonesia, rute favorit adalah Jakarta – Jeddah – Kuala Lumpur atau Jakarta – Madinah – Kuala Lumpur. Kenapa gak sekalian Jakarta – Jeddah pp? Ya namanya saja stopover alias transit, tentu fasilitas ini dibuat untuk rute yang memerlukan transit di kampung halaman (home base) maskapai, dalam hal ini Arab Saudi.

Stopover visa ini gratis, tapi masih ada biaya layanan visa US$ 10,50 , biaya aplikasi asuransi US$ 10,50 , dan premi asuransi mulai dari US$ 3,45 , jadi total kira-kira minimal US$ 25. Ini masih jauh lebih murah daripada biaya visa turis yaitu US$ 109. Dengan stopover visa ini, kita bisa dapat hotel gratis 1 malam di Jeddah, Riyadh, atau Madinah. Informasi lebih lengkap ada di website resmi Saudia Airlines dan website resmi pariwisata Saudi Arabia.

https://www.saudia.com/transit-visa

https://www.visitsaudi.com/en/saudi-stopover

Stopover visa ini umum diberikan maskapai timur tengah seperti Emirates dan Qatar Airways. Jadi misal kalau kita ada penerbangan dari Jakarta ke London dengan transit di Dubai, kita bisa memanfaatkan transit visa untuk jalan-jalan keliling Dubai.

Jadi kalau kita ingin menggunakan stopover visa, pertama kita harus booking dulu tiket di website Saudia. Pilih multi city (bukan return), misal Jakarta-Jeddah Jeddah-Kuala Lumpur. Pastikan peride transit dari sejak landing di Jeddah sampai terbang lagi dari Jeddah tidak lebih dari 96 jam. Setelah pembayaran / booking confirmed, baru kita bisa lanjut pesan stopover visa. Ada pembayaran lagi untuk service fee, insurance application, dan insurance premium.

Visa ini juga single entry dengan maksimal durasi tinggal 96 jam.

3. Tourist Visa

Cara yang paling simpel adalah dengan memanfaatkan website resmi imigrasi Saudi. Alamat webnya adalah :

https://visa.mofa.gov.sa/

Cara ini sangat disarankan untuk yang punya ijin tinggal resmi (residence permit) di negara-negara GCC yaitu Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman. GCC adalah organisasi negara-negara teluk yang terdiri dari Saudi dan negara-negara yang sudah disebutkan di atas. Syaratnya, ijin tinggal masih berlaku minimal 3 bulan.

Berikut cara apply tourist visa dari website kementerian luar negeri Saudi Arabia:

Setelah klik alamat di atas, klik huruf E di pojok kiri atas untuk mengganti bahasa dari Bahasa Arab ke Inggris. Tapi kalau bisa Bahasa Arab, ya lebih bagus.

Klik Service for Visitor.

Klik Visa Application from Saudi Missions Abroad.

Klik Login of Individual Visitors to Saudi Arabia. Pilih register di bawah kolom captcha. Masukkan email, password, confirm password, dan image code. Lalu cek email, setelah muncul email berjudul Unified National Visa Platform dari mofa.gov.sa, klik Activate. Link harus diklik dalam waktu maksimal 24 jam, kalau lewat harus mengulang dari awal.

Setelah klik Activate, kita akan masuk lagi ke halaman Login of Individual Visitor to Saudi Arabia dengan memasukkan email, password, dan captcha. Setelah sukses, kita akan masuk halaman Visa Platform. Klik Add a New Application, lalu masuk halaman VISA Portal Service Agreement alias Terms & Condition. Di bagian paling bawah ada keterangan biaya jasa layanan visa. Di halaman ini tertulis Electronic Visa Processing Fee US$ 10 dan Banking Service Fee US$ 0.5 , jadi total adalah US$ 10.5 . Tapi ini hanya biaya layanan online, belum termasuk biaya visa itu sendiri. Klik Agree, lalu klik Agree lagi.

Setelah itu kita masuk pada halaman Visa dan Personal Information. Pada Visa Information, yang paling penting adalah memilih jenis visa. Pada bagian Visa Type pilih Tourism Visit. Lalu isi Current Nationality, Country of Residence, dan Nearest Saudi Mission. Nearest Saudi Mission ini tergantung dari pilihan negara tempat tinggal kita. Kalau di UAE, pilihannya adalah Abu Dhabi atau Dubai. Kalau Indonesia ya Jakarta. Lalu Number of Entries pilih multiple, Visa Validity 365 days, dan Duration of Stay 90 days. Nah lalu yang menarik adalah ada pertanyaan di bawah ini :

Jadi ada perlakuan khusus untuk yang punya visa / ijin tinggal tertentu, yaitu :

Visa US, visa UK, atau visa Schengen dan sudah digunakan minimal sekali, baik itu visa turis atau visa bisnis.

Permanent Resident atau Penduduk Tetap di US, UK, atau Uni Eropa.

Penduduk resmi di negara GCC (Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE, Oman).

Kalau kita punya salah satu dari ketiga hal di atas, langkah berikutnya adalah mengisi Residence Information. Yang perlu diisi adalah Residence or Visa Number, Issuing Country, dan Residence or Visa Expiry Date. Kalau penduduk GCC minimal harus valid selama 3 bulan. Lalu kita diminta mengunggah paspor dan residence / visa permit dalam bentuk JPG atau PNG dan ukuran file maksimum 1 MB. Pastikan hasil foto / scan jelas dan semua tulisan bisa terbaca. Lalu kita masukkan nama lengkap kita dan mengunggah foto dengan seragam dan latar belakang putih. Tidak ada ketentuan khusus, tapi sebaiknya seperti format foto paspor. Lalu kita masukkan marital status, gender, occupation, classify occupation, dan KSA home address. Occupation / pekerjaan dan classify occupation tidak perlu harus persis, apalagi kalau kerjaan kita serabutan. KSA home address bisa diisi hotel yang dekat masjidil haram. Ini juga tidak masalah karena tidak akan diminta bukti booking atau sejenisnya. Lalu kita masukkan transport mode (biasanya by Air), port of entry (Jeddah atau Madinah), dan expected Entry Date to KSA. Tanggal masuk juga tidak perlu presisi, bisa dikira-kira saja. Lalu ada pertanyaan “Do You Want to Perform Umrah?” Bisa dijawab Yes. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah “Have You Ever Travelled to Other Countries During the Last Five Years?” Kalau dijawab ya, nanti akan muncul tabel yang harus diisi negara dan tanggal berapa kita masuk & keluar. Kalau mau simpel bisa dijawab No. Setelah itu tinggal centang persetujuan kalau data yang kita masukkan adalah benar dan sesuai. Lalu masukkan captcha dan klik Save / Next.

Selanjutnya kita diminta memilih asuransi perjalanan. Ada beberapa pilihan, tapi terus terang gak ada keterangan lebih lanjut apa saja yang ditanggung, prosedur klaim, dll, jadi ya sudah pilih saja yang termurah. Premi yang termurah kira-kira US$ 10. Setelah dipilih, tinggal klik Save / Next ke halaman berikutnya.

Halaman berikutnya adalah pembayaran. Opsi yang tersedia hanya pembayaran dengan kartu kredit/debit dan semacam platform pembayaran khusus di Saudi. Kartu yang diterima hanya Visa atau Mastercard, jadi kalau kartu debit GPN jelas tidak bisa dipakai. Kalau tidak ada kartu Visa atau Mastercard, bisa dengan kartu digital yang diterbitkan bank digital seperti Jenius atau Jago. Beberapa bank juga bisa menerbitkan kartu digital Visa atau Mastercard, karena untuk pembayaran melalui website yang diperlukan hanyalah nomer kartu, masa berlaku, dan kode CVV. Biasanya bank penerbit memiliki keamanan tambahan dengan kode yang akan dikirim melalui SMS atau Apps. Jadi tidak perlu khawatir dengan keamanan pembayaran lewat website resmi MoFA (Ministry of Foreign Affair) Saudi. Total biaya yang harus dibayar termasuk asuransi adalah US$ 109. Kalau Anda menggunakan kartu debit, pastikan saldo mencukupi untuk pembayaran ini. Tiap bank punya kurs tersendiri dan mungkin ada biaya tambahan yang berbeda-beda di tiap bank. Setelah pembayaran lunas, maka kalau sukses visa akan langsung dikirim. Pengalaman saya visa langsung dikirim via email kurang dari 5 menit setelah pembayaran sukses. Visa berupa 2 halaman pdf yang bisa dicetak A4.

Oya, keuntungan utama visa ini adalah multiple entry selama setahun dengan durasi maksimal 90 hari, artinya sekali Anda dapat visa, Anda bisa keluar masuk dengan visa yang sama berkali-kali, dengan catatan total durasi tinggal tidak lebih dari 90 hari. Tapi perlu diingat, Anda harus bisa menunjukkan visa atau ijin tinggal US/UK/Uni Eropa/GCC sesuai ketentuan.

Disclaimer/Sanggahan : Cara ini tidak direkomendasikan kalau tidak ada visa/permanent residence UK/US/Schengen atau residence GCC yang valid lebih dari 3 bulan. Ada kawan yang coba apply lewat website ini tanpa menyertakan bukti di atas alias hanya bermodal paspor normal Indonesia, ternyata tidak ada balasan setelah berminggu-minggu. Tapi kemarin saya sempat melihat ada iklan di FB yang menawarkan visa turis multiple entry dengan harga kira-kira US$ 600 alias 6 kali harga aslinya. Mungkin agen ini punya jalur khusus sehingga bisa meyakinkan MoFA untuk menerbitkan visa turis.

Kira-kira demikian 3 cara untuk mendapatkan visa yang bisa dipakai untuk umrah. Mana yang paling recommended? Kalau itu tergantung situasi kondisi masing-masing orang. Kalo kebanyakan kaum mendang-mending yang tinggal di Indonesia, visa umrah lewah travel agent lebih recommended karena lebih terjangkau dan fleksibel. Visa transit Saudia lebih cocok kalau buat transit, misal dari Indonesia mau ke Eropa atau ke negara Middle East lainnya seperti UAE atau Qatar. Biasanya tiket Saudia tujuan Jeddah / Madinah lebih mahal dibanding maskapai lain, bahkan kalau dibanding sesama maskapai Middle East seperti Emirates & Etihad. Visa turis paling bagus, karena multiple entry selama setahun, tapi dengan catatan punya visa/ijin tinggal di US, UK, Uni Eropa, dan negara GCC. Kalau gak punya, mending gak usah apply daripada sakit hati ditolak.

Berikutnya kita akan bahas transportasi dan akomodasi di tulisan berikutnya.

Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia


Gara-gara cari lokasi mana saja yang bisa dikunjungi di Tallinn, saya nemu beberapa blog yang menulis tentang tempat-tempat berhantu di sekitar kota tua. DAN SEMUANYA BERADA DI SEKITAR KAMI. Waakkakakakka.

Pikk jalg, Tallinn

Oh ya, apartemen kami berada tepat di bawah The Long Leg Gate. Interior apartemennya bagus, putih, bersih, modern. Terang karena jendela-jendelanya sangat lebar, kebetulan waktu itu Tallinn cerah ceria. Begitu saya foto ke luar dari jendela, kirim ke Delin, dia langsung bilang, “Creepy.” Dia memang penakut banget sih, padahal menurut saya biasa-biasa aja, pemandangan tembok batu dan tower berusia ratusan tahun. Cakep ah.

Yang lebih serem itu malah pemandangan dari jendela koridor. Lha langsung berhadapan dengan jendela apartemen tetangga dan tidak bertirai. Sementara saya taro koper di situ. Kalau mandi suka lupa bawa baju, terus keluar begitu saja. Ora klamben. Terus hiyaaaaaa kok ya apartemen tetangga pas ada orangnya. Continue reading Cerita-Cerita Horor dari Tallinn Estonia

Syukur Terkecil


Travelling, berada di negeri asing membuat saya sering menyukuri nikmat-nikmat yang sangat sederhana. Nikmat yang sangat biasa. Yang biasanya hal-hal itu bukan apa-apa.

Di Tallinn, Estonia

Di Bandara Riga, Latvia, saya duduk menyempil di pojokan ruang tunggu. Tidak terlalu kentara, saya menjalankan salat Subuh. Negara-negara Eropa Timur ini tidak terlalu mengenal Islam. Sering saya ditatap lekat-lekat gara-gara mengenakan kerudung. Sepanjang lima hari penuh di Estonia dan Latvia, tidak pernah satu kali pun saya bertemu dengan perempuan lain yang berhijab. Berbeda dengan di Helsinki, Finlandia, masih cukup sering bertemu saudara seiman keturunan Afrika. Continue reading Syukur Terkecil

Crazy Rich Jakartan


Gara-gara nonton “Crazy Rich Asian” dalam perjalanan pulang dari Lagos (telat banget yak), saya kok jadi teringat pengalaman beberapa tahun silam saat berjumpa seorang Crazy Rich Jakartan. Oya, saya emang sangat jarang banget nonton film, apalagi yang di bioskop, biasanya juga cuma nonton pas kebetulan naik pesawat full service yang ada pilihan filmnya.

Jadi tahun 2013 saya ada biztrip ke Amerika untuk inspeksi peralatan yang akan dipasang untuk suatu proyek di kantor. Ini prosedur standar untuk memastikan peralatan yang dibeli memang sesuai spesifikasi dan bekerja normal sebelum dikirim ke Indonesia. Kebetulan bos lagi baik hati mau ngirim saya pergi jauh-jauh ke Amrik, biasanya dia sendiri yang pergi kalau jauh-jauh hahaha….

Continue reading Crazy Rich Jakartan

An Indonesian family backpacker, been to 25+ countries as a family. Yogyakarta native, now living in Crawley, UK. Author of several traveling books and travelogue. Owner of OmahSelo Family Guest House Jogja. Strongly support family traveling with kids.

Design a site like this with WordPress.com
Get started