Terkesima. Kesima, dan Sima
Oleh Yanwardi
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI), dan Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia (TABI) dinyatakan lema “kesima” berasal dari bahasa Jakarta. Kenyataan ini diperkuat pula oleh Kamus Dialek Jakarta karya Abdul Chaer, yang memasukkan “kesima” sebagai lema. Adapun maknanya kurang lebih sama dengan keempat karya leksikografi yang pertama disebut, yakni kisaran suatu keadaan emosi yang spontan, tak terelakkan, yang muncul karena takjub, heran, tidak percaya, terkejut, atau bisa juga takut: ‘tercengang’, ‘hilang akal’, ‘terpesona’, ‘terpana’, ‘terpukau’, ‘tertegun’, ‘termangu’, dan sejenisnya. Anehnya, makna leksikal itu dinyatakan ada oleh KUBI, KBBI, TBI, dan TABI setelah mendapat awalan “ter-“, menjadi “terkesima”. Padahal, “kesima” –tanpa awalan “ter-“ telah memiliki makna “tercengang”, “terpesona”, ‘hilang akal’, dll dan dia sudah merupakan kata kerja pasif. Lebih jauh, akan tampak kelak bahwa “kesima” merupakan bentuk turunan dari pengimbuhan “ke-“ atas kata dasar “sima”. Hal-hal tersebut yang akan disoroti dalam tulisan ini. Mengenai asal usul kata “kesima”, yang lebih dekat dengan bahasa Sunda “kasima”, tidak akan difokuskan di sini.
Kata “Sima” dan “Kesima”
Dalam bahasa Sunda, terdapat kata “sima”, yang bermakna ‘karisma’, ‘aura’, ‘wibawa, dan sejenisnya. “Sima” sering dikaitkan dengan “maung” (harimau, macan) . Ini tentunya disebabkan “maung” selalu membuat manusia “terkejut”, “termangu-mangu”, “kasima” lantaran “karisma”-nya. Dari sini, muncul kata kerja pasif “kasima”, yang bermakna harfiah (leksikal), ‘terpana’, ‘terpesona’, ‘terkejut sekali’, ‘hilang akal’, ‘tak bisa berkata-kata’, dan seterusnya. Tampak bahwa “ka-“ adalah awalan pembentuk kata kerja pasif, seperti awalan “ke-“ (dalam ragam bahasa Indonesia nonstandar dan bahasa Betawi) dan “ter-“ dalam bahasa Indonesia, yang bermakna gramatikal ‘kena, dalam keadaan, tak terelakkan, tak sengaja, spontan’, bergantung pada dasar yang disandingnya.
Dalam bahasa Betawi (Jakarta), tidak ditemukan kata “sima”. Yang ada, kata “kesima” dengan makna harfiah (leksikal), kurang lebih sama dengan “kasima” bahasa Sunda, misalnya, ‘terpesona’, ‘terpana’, terperangah’, ‘hilang akal’, dan lain sejenisnya. Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa awalan “ke-“ berpadanan dengan awalan “ka-“ dalam bahasa Sunda: kesepak-kasepak; kecoret-kacoret; kebeli-kabeuli, dan dengan awalan “ter-“ dalam bahasa Indonesia standar: tersepak, tercoret, terbeli.
Kata “kesima” dalam Bahasa Indonesia
Kata “kesima” , dalam konteks bahasa Indonesia, sebenarnya telah lazim digunakan oleh kita sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tidak hanya para sastrawan peranakan Tionghoa saja, seperti Kwee Tek Hoay, yang menggunakan kata “kesima” ini. Para penulis asli Indonesia pun mulai dari Mochtar Lubis hingga Eddy D Iskandar, biasa menggunakan “kesima” alih-alih “terkesima”. Bahkan, salah seorang sastrawan besar kita, Pramoedya Ananta Toer, juga menggunakan kata “kesima” untuk menyatakan “keheranan”, “keterkejutan”, dan “ketidakpercayaan”: “Seakan-akan disambar petir kepalanya Margono mendengar itu perkataan yang paling belakang, hingga sebagai kesima ia memandang ke lain jurusan, ….” (Cerita dari Digul). Selain itu, kata ini sangat banyak ditemukan dalam cerita-cerita silat berlatar negeri Cina baik yang asli (Kho Ping Hoo) maupun yang saduran, misalnya, Gan K.H., Bu Beng Cu, Gan K.L., dll.
Kata “kesima” selalu digunakan sebagai kata kerja pasif dalam karya-karya atau tulisan-tulisan mereka, misalnya, “ Suling emas menjadi begitu kaget sampai ia berdiri kesima tak mampu bergerak….” (Suling Emas) dan “… tampak A Fei kesima mendengar percakapan mereka ….” (Pendekar Budiman). Kata kerja pasif ini berkaitan dengan awalan “ke-“ dalam “kesima”. Yang mengherankan mengapa kita, sekurangnya para pekamus, tidak menyadari keadaan itu hingga menambahkan kembali awalan yang berfungsi membentuk kata kerja pasif dan bermakna gramatikal sama dalam bahasa Indonesia, yakni “ter-“. Padahal, seperti disebutkan di muka, baik dalam ragam bahasa Indonesia nonstandar dan bahasa Betawi, dikenal awalan “ke-“, sebagaimana dalam “ketendang”, “kesihir”, “kesirep”, “kepukul”, dan lain-lain. Jelas, akan hiperkorek dan rancu, jika menambahkan lagi awalan “ter-“ kepada kata “kesihir”, “kepukul”, dan “ketendang”, umpamanya, menjadi *terkesihir, *terkepukul, dan *terketendang.
Penyerapan Utuh
Lepas dari asal usul kata “kesima” dari bahasa daerah mana, para pekamus (KUBI, KBBI, TBI, TABI) bisa jadi menyerap secara utuh kata “kesima”, tanpa memperhatikan unsur gramatikalnya (morfem terikatnya: imbuhan “ke-“). Gejala ini lazim dalam dunia leksikografi, sebagaimana kita menyerap kata fenomena, data, fakta, alumni, secara utuh unsur leksikalnya, tanpa mengikutsertakan penyerapan makna gramatikalnya, yakni makna jamak, yang ada dalam kata itu. Argumentasinya jelas, yaitu bahasa Indonesia tidak mengenal pemarkah gramatikal jamak.
Akan tetapi, jika diserap secara utuh, lema “kesima” seharusnya juga memiliki makna leksikal sebagaimana bahasa asalnya, tidak perlu ditambah awalan “ter-“ lagi. Selain itu, tampak para pekamus kurang memahami konsep lingustis dalam bahasa asalnya, yakni mereka tidak memberikan label kelas kata. Tampak di sini para penyusun kamus dan tesaurus menganggap “kesima” sebagai bentuk terikat (morfem dasar yang terikat). Padahal, jelas “kesima” dalam bahasa Betawi dan Sunda merupakan kata kerja pasif yang bisa berdiri sendiri dalam kalimat.
Memperkaya atau Menambah Kosakata Kita?
Penyerapan lema “kesima” ke dalam bahasa kita jelas menambah perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia. Namun, hendaknya upaya itu disertai dengan pemikiran yang matang. Agak beda pula kasusnya dengan penyerapan bahasa asing. Dalam pengambilan kata dari bahasa serumpun, ihwal kebahasaannya masih tampak keeratannya. Untuk kasus “kesima”, kita, sekurangnya yang berasal dari Jawa Barat dan Jakarta, langsung merasakan bahwa “ke-“ di situ adalah awalan pembentuk kata kerja pasif yang berpadanan dengan awalan “ter-‘ dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, akan sangat aneh andai kita menambahkan “kesima” dengan awalan “ter-“ lagi. Jelas tak mungkin bentukan: terketendang, *terkesihir, *terkebeli, *terkebawa”, dll.
Saya cenderung memungut lema “sima” dari bahasa Sunda untuk memperkaya bahasa Indonesia. Dengan demikian, “sima” bisa berpadanan dengan “karisma”, ‘aura”, dan “wibawa”, misalnya. Kelas kata “sima” jelas kata benda. Lebih jauh, kita menyatakan keterpanaan, keterpesonaan, kekaguman, keheranan, dan sejenisnya dengan “tersima”. Dipandang dari sisi tata bahasa, lebih bernalar kata “tersima” ketimbang “terkesima”.
Sebaliknya, jika kita hendak tetap memungut langsung kata “kesima” sebagai lema, perlakukanlah dia secara lebih akurat. Umpamanya, label informasi ketatabahasaan diperjelas, dengan memberi kelas kata (verba). Tidak seperti yang ada sekarang. KBBI, TBI, dan TABI tampak malu-malu untuk menentukan kedudukan lema “kesima” dalam satuan tata bahasa. Juga, jangan menyinonimkan dengan kata “terkesima” lantaran terjadi hiperkorek makna leksikal di sini. Sinonimkan saja, umpamanya, dengan kata/frasa “terpesona”, “termangu”, “terpana”, “hilang akal”, dll.
Penyerapan dari bahasa serumpun memang harus lebih akurat dan hati-hati karena kedekatan linguistisnya, seperti dalam kasus “kesima”, sangat jelas dan erat. Jangan sampai ada ketidaksinkronan di antara kebiasaan (linguistis) dalam bahasa asal dengan pemberian konsep kebahasaan yang baru.
Ditulis oleh yan80 