Surat Untuk Yang Tersakiti
Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.
Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,
Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.
Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.
Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.
Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Kesombongan Dan Penghargaan
Hidup baru saja memberi pelajaran baru padaku beberapa hari yang lalu, pelajaran; kesombongan dan penghargaan. Suatu pelajaran yang memang awalnya agak mengusik namun setelah kurenungkan mampu memberikanku pengalaman baru, konsepsi dasar manusia.
Jika manusia merasa statusnya meningkat, maka di sana akan timbul sikap ingin dihargai dan sekelumit kesombongan. Aku mengatakan sekelumit kesombongan karena aku sendiri tidak terlalu memahami sejauh mana kesombongan yang terdapat pada manusia-manusia seperti itu.
Jujur, penilaianku ini adalah generalisasi terhadap manusia walau kenyataannya apa yang kualami adalah hanya satu kisah nyata dan dilakukan hanya oleh satu manusia. Namun aku rasa wajar saja jika aku mengeneralisasikannya. Sah! Toh ini tulisanku.
Kisahnya terjadi pada hari minggu, 16 November 2008. Berawal dari kepulanganku ngopi setelah lelah mengadakan pelatihan blogging gratis untuk anak-anak SMU bersama kawan-kawan Aceh Bloggers.
Meradang Sepi
Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak
lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi
Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi
langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu
kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian
Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri
Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi
Lelaki dan Cinta
Lelaki itu nge-BUZZ Yahoo Messenger ku. Aku kira ada apa, mungkin kami akan membangun topik lagi tentang pergerakan-pergerakan Islam, atau tentang sikap kritis dia mengenai partai yang menginjak ranah kampus akhir-akhir ini. Atau tentang Tarbiyah dan masa depannya.
Ternyata tidak. Kali ini kami berbicara tentang cinta.
Lelaki itu sedang jatuh cinta, sekaligus patah hati. Wanita yang dia cintai juga ternyata aku mengenalnya, seorang wanita yang memang kuanggap baik, kritis, cantik, dan agak manja. Wanita itu bernama… ah sudahlah, tak perlulah ku sebut namanya. Biarkan waktu memainkan peran sebagai penjaga rahasia yang baik, hingga jika tiba waktunya semua akan terungkap dengan indah.
Kadang aku merasa lelaki itu patetik, sama sepertiku. Selalu tersungkur, terjungkal, dan kalah oleh cinta. Dan sekarang, dia mencoba-coba bermain api.
“Apa yang membuatmu menyukainya?” Tanyaku suatu ketika.
“Dia berbeda Ben,” jawab lelaki tersebut. “Tidak seperti wanita pada umumnya. Dia surfive. Dia kritis. Dia memiliki hidup. Dia memiliki jiwa.”
Bahkan Lelaki Pun Menangis
Bahkan lelaki pun menangis…
Barusan aku membaca blognya Rifka, ternyata dia baru saja mencoba menulis sebuah cerita. Judulnya Jangan Lagi Satria*.
Membaca ceritanya aku seperti membaca masa laluku, tentunya dengan tokoh, karakter, setting, dan alur yang berbeda namun memiliki garis besar yang identik. Sebuah pengakuan masa lalu yang ingin ku kubur dalam-dalam. Sebuah corengan dimukaku.
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra : 32)
Dulu, teramat dulu aku pernah menyukai seorang wanita. Seorang wanita yang dengan keinginan kuat ingin kunikahi, tentunya aku ingin menikahi dirinya sebagai aku yang dewasa, bukan aku yang dulu yang masih terlalu kekanak-kanakan dan tidak mampu mandiri. Wanita itu amat begitu berarti bagiku, bahkan antara dia dan illah seperti hanya dibatasi oleh garis tipis. Aku terlalu memujanya.
Wanita itu dengan berlangsungnya waktu lebih aku cintai daripada sang puteri. Walau mungkin hingga saat ini dia tidak akan pernah menyadari betapa berartinya dia bagiku, tetapi itu dulu. Aku menyebutnya: Taman Surga.
Buku Lagi
Hehehe… hari ini aku berburu buku lagi di pameran buku AAC. Kali ini aku tidak datang sendiri, aku ditemani oleh Mirza temanku, mantan ketua himpunan mahasiswa mesin fakultasku. Aneh, dia ke pameran buku malah beli susu kambing. Memang seh di pameran buku tidak mutlak buku yang dijual, tetapi ada juga susu kambing, VCD, murattal, dll.
Beberapa buku yang kubeli adalah:
Baca lebih lanjut
Berburu Buku
Huff… capek!
Baru pulang dari pameran buku di AAC, 300.000 duitku habis dilahap para tukang buku itu. Tapi ada sedikit kekecewaan, andai duitku lebih banyak tentu lebih banyak buku yang bisa ku kantongi. Huehehe…
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Kamis. Sorenya ketika siap shalat Ashar di Mesjid Ulee Kareng yang ada di depan Solong, aku duduk-duduk dengan bang Cho dan seorang lagi abang-abang yang tidak ku tahu namanya. Ternyata abang-abang yang tidak ku tahu namanya itu abangnya si montir. Beda 180° dari si montir, abangnya itu terlihat kharismatik dan wajahnya teduh (khas orang PKS) sedangkan si montir… masya Allah, tidak perlulah ku jelaskan di sini.
Dari abangnya si montir, aku tahu info tentang pameran buku di AAC, Darussalam. Begitu mendengar kata buku, aku langsung semangat. Memang aku ditakdirkan menjadi pecinta buku sejati.
Demikianlah kronologisnya mengapa aku terjebak dengan promosinya abang si montir (walo abangnya itu tidak promosi seh). Dan akhirnya ini lah aku, sedang menulis blog sehabis pulang dari pameran buku, menghabiskan uang 300 ribu, penat, capek, namun masih saja kecewa karena andaikan lebih banyak uang tentu lebih banyak buku yang bisa kubeli. Hehehe…
Berikut ini adalah beberapa buku yang kubeli. DILARANG MINJAM !!!
Kecewa Buku
Barusan aja pulang dari kantor Forum LSM Aceh, eh di tempat tidur sudah tergeletak paket buku. Duhh, senangnya akhirnya buku pesananku dari bukabuku.com datang.
Namun setelah ku buka paket, aku kecewa. Kenapa? Karena ada beberapa buku yang out of stock. 😦
Berikut ini adalah beberapa buku yang ku pesan:
Yang Berlawan – Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI- 7 Jurus Jitu Menulis Buku Best Seller
- Dalam Bayangan Lenin – Enam Pemikir Maxisme dan Lenin sampai Tan Malaka
- Struggling to Surrender: Pergulatan Sang Profesor Menemukan Iman
Tarbiyah Hasan Al Banna dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin- Aidit Sang Legenda
Tesis-tesis Pokok MarxismeChe Guevara Sang Revolusioner- Panduan Lengkap Menguasai Router Masa Depan menggunakan Mikrotik RouterOS
Jangan Jadi Pecundang
saat itu kamu adalah satu dari sejuta
lantas mengapa harus tersungkur
padahal kamu dulu adalah pejuang
lantas mengapa sekarang menjadi pecundang
terlalu lama melupakan
bahwa tiap jalan ada tuntunan
terlalu lama melupakan
bahwa kamu berjalan dengan kekuatan
setelah sekian lama terhenti
apakah telah lupa nikmatnya usaha
atau haruskah kecilmu dikembali
atau bahkan ketika kau hanya setetes mani
tersenyumlah
perjuangan itu indah
untuk beribu kemenangan yg berharga
semakin rintang cobaan
semakin indah arti kemenangan
tidak percaya?

Komentar Terbaru