KALEIDOSKOP ABAD 22

Tahun 2015 Masehi akan berganti menjadi tahun 2016. Tahun ini menjadi tahun yang penuh dengan persaingan untuk menjadi yang ter-update: paling lebih dulu menemukan tempat baru, sesuatu yang baru, ikut-ikutan apa-apa yang baru-baru. Berhubungan hal tersebut, saya memutuskan tidak membuat kaleidoskop tahun 2015 karena pasti banyak yang membahasnya. Itu tentu bertentangan prinsip tren manusia update. … Continue reading KALEIDOSKOP ABAD 22

Kauakusuka-Akusukakau

aku kau aku suka suka kau kusuka kau suka aku kaus kau kaus suka susu kau aku suka kau aku susuk saja kau! (mengertilah, aku tak ingin lebih gila dari gilaku yang kau tahu sudah) ah, Tuhan aku suka dia dia suka aku tidak? aku dia suka sudi suka dia aku duka oh, duka? tak! … Continue reading Kauakusuka-Akusukakau

Tentang Pagi dan Pesan Singkatmu

Rindu mampu membuat seorang memandangi gagang pintu dan berharap gagang itu berdering. Maka biarkan pada pagi ini kulayangkan rindu dengan segala kerendahan hati. Kupikir salamku telah hinggap di jendelamu. Begitu lekat, sebagai embun yang enggan menguap. Padahal sebabnya sederhana saja, seperti aku yang ingin menjejaki waktu secara biasa: misalnya bangun dan mencuci muka. Berjalan, tak … Continue reading Tentang Pagi dan Pesan Singkatmu

GADIS YANG MENEMPEL DI DINDING

Yadi menemui tengah malam paling mengejutkan, sekaligus mengherankan dalam hidupnya. Perutnya yang memang punya kebiasaan lapar tengah malam, kembali membangunkannya yang baru tidur dua jam sebelumnya. Hanya, baru saja ia mengumpulkan nyawa dan memasang kacamata, ia langsung dikejutkan dengan sesuatu yang menempel di dinding kamarnya. Tak masalah jika itu cecak, kecoa, atau serangga lainnya. Tapi … Continue reading GADIS YANG MENEMPEL DI DINDING

BEBERAPA BAIT MUNGIL UNTUK BANGUN TIDURMU NANTI

: Teruntuk Yusti /1/ barisan tawamu menepi di bantal, tertidur meriwayat nada klarinet merah jambu sejumput notasi luput, jatuh, dan tertayang sebagai puisi cinta yang kaubaca dalam mimpi seraya aku mendorongmu bermain ayun-ayunan. /2/ mungkin kau tak sadar, beberapa kali kudengar kau mendengkur. betapa hari buatmu menekuri letih yang hinggap di pipimu kemudian aku menendangnya … Continue reading BEBERAPA BAIT MUNGIL UNTUK BANGUN TIDURMU NANTI

AKU MENGHITUNG SAMPAI TUJUH DIMULAI DARI TERAKHIR KALI KULINGKARI KALENDER DENGAN TANDA HATI

: Yusti Ajeng Julya Dua Sengaja tak kumulai dari satu, karena ini tentang kita berdua. Aku boleh mengacak urutan sebagaimana senyummu pertama kali menghamburkan detak hati yang sebelumnya rapi seperti barisan bulu mata--yang sesekali tanggal oleh rindu. Atau seperti rimbun bambu tempat Kaguya meringkuk dan memeluk gromofon. Kemudian menyalakan beberapa lagu tentang teduh senyum dalam … Continue reading AKU MENGHITUNG SAMPAI TUJUH DIMULAI DARI TERAKHIR KALI KULINGKARI KALENDER DENGAN TANDA HATI

PAGI SETELAH PESAN SINGKATMU

: Yusti Ajeng Julya Rindu mampu membuat seseorang memandangi gagang pintu dan berharap gagang itu berdering. Maka biarkan pagi ini kulayangkan rindu dengan segala kerendahan hati. Kupikir salamku telah hinggap di jendelamu. Begitu lekat, sebagai embun yang enggan menguap. Padahal sebabnya sederhana saja, seperti aku yang ingin menjejaki waktu secara biasa: misalnya bangun dan mencuci … Continue reading PAGI SETELAH PESAN SINGKATMU

SETELAH KAU TIDUR

aku terjebak pada layar ponselku, membaca ulang pesan-pesan darimu yang telah berkali pula kuhayati sebagai lembar-lembar buku sekolah, serupa pelajar yang siap menghadapi beberapa ujian dasar tentang menyikapi debar-debar. "jangan makan terlalu malam," pesanmu. tiba-tiba di depanku langsung tersaji beberapa menu makanan. aku menunjuk satu. kemudian aku menggambar piring, sendok, dan serbet. pula garpu yang … Continue reading SETELAH KAU TIDUR

Y A J

Yang aku jumpa pertama kali pada siang yang tenang itu, gerimis malu-malu jatuh dan menempelkan pipinya di muka jendela, meniru-niru gaya embun di pagi-pagi biasa kau sudah segar dan bersiap menyapu kebosanan yang berserakan di lantai. Saat itu aku mengamati dua hal: waktu kembali menyediakan pertemuan yang tak pernah dapat kuterka maunya. Dan kau, mulai … Continue reading Y A J

KEPADA SENYUMAN YANG PERNAH KUBERI PUISI

Barangkali, kau akan melihat puisi ini pagi-pagi sekali. Pagi di mana aku mungkin melihat matahari terbit dua kali: di sudut jendela kamar, dan di ufuk bibirmu yang paling bidadari. Kala embun sudah duduk dan menyeduh percakapan dengan debu di ketiak jendela. Kala kau masih berusaha membangunkan bulu mata, yang biasa mengisyaratkan kerinduan--entah siapa yang menanggal--dan … Continue reading KEPADA SENYUMAN YANG PERNAH KUBERI PUISI