Tiada yang mau berharap bahwa jalan hidup ini harus dilalui dengan luka dikarenakan orang tua yang selalu berpikir tidak sejalan dengan pikiran dan kemauan kita. Aku sudah berusaha untuk menjadi anak yang berbakti, anak yang selalu mengikuti kemauan mereka bahkan keinginanku “kuliah” aku pendam dalam-dalam untuk membantu kegiatan orang tua ku, sedari dulu aku adalah wanita yang mengharapkan keharmonisan dalam keluarga.
Ah… aku merasa resah sekarang diusiaku yang menginjak 24 tahun, pengharapanku, impianku agar kami bisa sekedar makan disatu meja, berbicara dengan mengunakan nalar bukan emosi, keinginanku yang bisa dituruti serta kehangatan kasih sayang orang tuaku agar bisa meliat kedalam keluarga terlebih dahulu hingga saat ini belum bisa kubawa kedalam indahnya warna-warni pelangi. Aku yang serba berkecukupan dan selalu dipandang “lebih” oleh orang lain ternyata itu malah membuat aku jenuh, sumpek karena orang lain itu hanya memandang diriku “lebih duniawi” bukan lebih bahwa aku tidak tergantung dengan kelebian duniawiku…..
Bahkan orang yang aku sayangpun akhirnya tidak sanggup menghadapi keegoan, keangkuhan serta kekerasan hati kedua orang tuaku. Bahkan untuk sekedar bersilatuhrami orang tuakupun enggan. Aku meronta, berontak, berteriak, merespon dengan jiwaku yang terkoyak-koyak bahkan aku yang dulu terlalu diamnya bisa melewati batas kalimat “ah” saat bertentangan dengan sikap mereka.
Tiga bulan kujalani bersamanya mengarungi semua dengan masa laluku yang juga ditentang, dia sanggup membuat aku bagai seorang putri yang sangat membutukan pemimpin di jiwaku yang kosong, dia sanggup memegang jemariku disaat aku ingin melepasnya, dia sanggup menuntutku dalam ibadah yang sungguh-sungguh, dia sanggup membuat aku menjadi lautan biru yang tenang bakan dia sanggup membuat aku menjadi orang yang bisa kasmaran lagi. Rasanya hariku hampa tanpa dirinya, rasanya waktu yang cuma bisa aku berikan padanya selama 3 jam setiap hari tak cukup juga. Telepon dan sms pun aku rasa belum juga bisa melepaskan kerinduan pada tatap matanya, gaya bicaranya, aku rindu akan pemberiannya yang tulus tanpa pamrih bahwa aku orang yang lebih duniawinya, serta aku sangat merindukan saat kulihat wajahnya dalam kesejukan air whudunya. Rasanya aku merasa damai saat aku menjadi makmumnya saat sholat Zhuhur dan Azhar yang sering kami lakukan bersama.
Terhempasku kini dalam keadaan kelurgaku yang tidak bisa menerimanya apa adanya, aku tau dia tidak sempurna karena masa lalunya, aku menyadarin itu, tapi aku sangat tahu dia sangat berubah bahkan aku tahu orang tuanya juga sangat baik padaku. Karena aku bisa merasakan sebagai seorang wanita dia tulus serta ikhlas memberikan waktu, perhatian serta kemauannya untukku bahkan saat kita tak bisa bertemu dan akhirnya mengakhirin semua inipun dia masih bisa tersenyum dan memberikan aku kalimat yang sangat dasyat “jadilah wanita yang selalu menghormati kedua orang tua walaupun mereka tak sepaham dengan kita, buktikan bahwa kamu wanita yang mampu dan bisa memberikan yang terbaik, kamu wanita (anak) yang sangat berbakti kepada keluarga, kita adalah satu bagian dari sebuah cerita yang indah dan jadikan itu kenangan serta cerita indah buat anak-anak kita kelak bahwa kita pernah bersama mengarungin hari ini tanpa melihat siapa diri kita”
Tak bisa aku pungkirin aku cuma bisa menghelah nafas dan berucap terima kasih atas nasehatanya dan bila sempet ingatlah bahwa kita masih bisa berteman walaupun itu sulit.
Dia dan aku menyakini bahwa kelak kita akan mendapatkan satu kebahagian bersama yang lain dan itu akan membuat hidup kita menjadi lebih bermakna karena kita hidup bukan cuma harus berputus asa, berpangku tangan dengan hal yang bersifat duniawi asmara tapi lebih tinggi lagi mencintai diri sendiri dengan berpikir positif terhadap hambatan apapun itu malah lebih bijak karena kita sudah dapat memerdekkan diri kita sendiri.
Sekali lagi terima kasih atas perhatian, pengorbanan serta nasehat yang kelak akan aku teruskan pada hidup-hidupku selanjutnya.
(Balikpapan, 24 Februari 2010)
Dikisahkan oleh seorang wanita karir yang berinisial “A” saat hujan deras menguyur kota minyakku tercinta.
Recent Comments