Saya baru paham istilah gifted secara konkret setelah terjun ke dunia pendidikan secara langsung sekitar tahun 2005. Gifted diberikan kepada seseorang (anak, itu yang saya perhatikan) yang memiliki kelebihan kemampuan, jauh di atas rata-rata orang seusianya, jauh di atas orang kebanyakan, bahkan orang dewasa sekalipun. Pada dasarnya dia tidak memiliki kesulitan dalam menyerap segala informasi yang ada di sekitarnya. Dia mampu menyimpan segala hal penting di otaknya. Kebanyakan anak gifted yang saya lihat cenderung memiliki minat sangat tinggi terhadap sesuatu dan dia akan menelanjangi hal yang diminatinya tersebut hingga hal terkecil yang mungkin bagi banyak orang menjadi sesuatu yang berlebihan atau mungkin dianggap mencari-cari kepayahan
Ya, sederhananya begitulah.
Wingky, dia salah satu siswa saya yang gifted yang juga diklaim menyandang autisme. Dia cenderung temperamental, memiliki kesulitan dalam pengelolaan emosi dan bermasalah dalam lingkungan sosial. Secara fisik dia tampak normal. Tampan. Hanya sedikit kurang terawat. Tapi, lebih tepat jika saya katakan kurang peduli dengan perawatan.
Suatu hari pernah dia bercakap dengan orthopaedagogis-nya yang rekan saya juga, Maya Yulianti. Mereka bercakap soal, “Kalau begini, kenapa harus begitu?” Kalau akan kotor lagi, kenapa harus mandi? Kalau harus dibuang lagi (kencing), kenapa harus minum? Kalau harus bangun lagi, kenapa harus tidur? Teman saya cerdas. Dia menjawab pertanyaan Wingky dengan pertanyaan lagi sehingga membuatnya terdiam dan berpikir, membenarkan bahwa jawabannya sama dengan pertanyaan-pertanyaan Maya.
Wingky kurang menyukai gaya belajar konvensional. Sebenarnya, cenderung menolak gaya belajar macam itu. Akhirnya, dia akan memilih untuk berkeliaran ke luar kelas ketika merasa bahwa pembelajaran tidak penting, tidak menarik, atau standar. Atau, dia tetap memilih di dalam kelas ketika merasa bahwa pembelajaran itu penting dan harus diketahuinya. Tapi, dia memilih tidak duduk baik mendengarkan gurunya atau melakukan aktivitas normal layaknya siswa. Dia akan berada di tempat mana saja asalkan tidak di bangku atau di tempat lain bergabung bersama teman lainnya. Dia akan berada di meja guru, di pojok kelas, di karpet jika teman-temannya di bangku belajar, dan yang lebih spektakuler adalah berbaringan di kolong meja atau apa pun yang berkolong dan cukup untuk dia kolongi.
Terkadang saya antara sadar dan tidak sadar apakah dia ada di dalam forum atau tidak. Yang pasti, orthopaedagogis-nya selalu berusaha mendorong dia untuk masuk jam pelajaran saya, bahasa Indonesia, karena dia memiliki kendala bahasa, khususnya menulis. Tidak dimungkiri, apa pun yang saya jelaskan akan diserap dengan baik, asalkan suara saya terdengar olehnya. Ada satu syarat lainnya, jangan suruh dia melakukan aktivitas menulis.
Saya sempat menjelaskan sesuatu kepada siswa-siswa saya ketika aktivitas berlangsung di dalam kelas. Ketika saya mengajukan sebuah pertanyaan, tidak ada satu siswa pun dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebuah suara terdengar menjawab pertanyaan saya. Ajaib, sosoknya tidak ada. Ternyata Wingky menjawab pertanyaan saya dari kolong meja di antara kaki-kaki para siswa. Ketika itu semua temannya duduk melingkar, menghadap ke meja-meja yang disatukan di tengah ruang kelas. Semua sempat terdiam melongo. Ya, dari kolong meja pun Wingky mendengarkan saya.
Awalnya saya cemas dengan kemajuan belajar wingky. Tapi, sejak kejadian itu kecemasan saya kabur. Saya memiliki sebuah optimisme bahwa wingky mampu mengadopsi semua informasi dengan baik selama dia mendengarkan saya dan berada dalam forum. Lagipula, Maya begitu intensif memberikan perlakuan khusus kepadanya, siap untuk diajak berdiskusi oleh Wingky kapan saja dia mau selama berada di sekolah. Maya membuat semacam target belajar tersendiri yang terprogram secara kontinyu untuk Wingky. Sebenarnya tidak hanya wingky, semua anak berkebutuhan khusus pun dibuatkan program tersendiri.
Kecepatan otak Wingky lebih tinggi dibandingkan kecepatan motoriknya, yang saya ingat betul adalah motorik halusnya. Mungkin dia kurang mendapatkan stimulasi yang tepat ketika balita. Atau mungkin, kendala motoriknya baru disadari orang-orang tercinta di sekitarnya setelah agak besar. Wingky berkesulitan dalam menulis, merapikan benda-benda pribadi, melipat, menggunting, menempel, dan lain-lain yang melibatkan motorik halusnya.
Kertas kerja Wingky selalu keriting, kotor, dan tulisannya berantakan tidak terbaca. Huruf-hurufnya terlalu besar dibandingkan dengan ruang tulis di antara dua garis yang sudah standar dibuat dalam buku tulis. Intinya tulisannya menabrak garis-garis batas tulisan. naik dan turun. Tulisannya ringkas, tetapi tidak mewakili. Jika dirunut lagi apa yang dituliskannya, ada dua kemungkinan yang muncul. Pertama, ketika kata yang dituliskannya berhubungan langsung dengan materi, dia berusaha menyampaikan informasi kepada saya bahwa dia memahami pertanyaan saya, hanya saja dia tidak bisa menuangkannya dalam bentuk tulisan tangan dengan batasan waktu tertentu. Kedua, ketika yang dituliskannya tidak berhubungan langsung dengan materi, apa yang dituliskannya dihubungkan dengan logikanya berdasarkan pengetahuannya tentang hal yang jadi pertanyaan. Tidak jarang pula Wingky tidak mengisikan jawaban atau menyelesaikan tugas. Itu artinya, dia tidak tahu atau hal yang diperintahkan tidak penting baginya.
Sering saya mendapati tulisan Wingky yang spektakuler. Maksudnya, saya dapat membaca arah berpikir Wingky yang bagi kebanyakan anak seusianya belum terpikirkan. Dia cerdas. Memang dia sangat cerdas. Di sisi lain, kendalanya dalam hal motorik dan pengelolaan sosial-emosional kerap membuat dia frustrasi. Inilah yang membuat dia memilih lebih menarik diri dari lingkungan teman sebayanya. Padahal, dia suka juga bercanda dengan caranya: mengisengi temannya yang juga sesama penyandang autisme yang kelebihannya berlawanan dengannya: secara sosial-emosi cerdas. Cara bercandanya cenderung kasar dan menyakiti, tetapi maksud dia sungguh-sungguh bercanda, tidak ada maksud menyakiti dan mengasari.
Wingky sering mengalami kekesalan atas sesuatu yang mengganggu ketenangannya. Dia senewen dengan pembelajaran yang monoton. Dia bosan dengan terus berada dalam kelas. Adrenalinnya butuh penyaluran lebih, mencari sesuatu yang lain di luar ruangan. Mungkin udara dalam ruang terasa sesak, belum lagi perhatian guru harus terpecah kepada sekitar 15 anak. Dia ingin perhatian lebih yang tidak berlebihan. Perhatian yang diinginkannya adalah melayaninya secara wajar dan mengakomodasi keliaran berpikirnya secara proporsional.
Sayang sekali jiga anak semacam Wingky dianggap sebagai sosok outsider yang menyulitkan guru untuk menunaikan tugas. Memang sekali lagi, para Wingky ini membutuhkan perhatian khusus yang tak tampak dikhususkan. Perlakuannya memang khusus, dibutuhkan pemikiran ekstra untuk mengimbangi kecepatan berpikirnya. Saya sendiri belum bertemu Wingky lain. Saya ada di antara berharap dan tidak bertemu dengan Wingky lain, tapi saya harus siap. Berharap karena ingin anak-anak semacamnya terakomodasi. Tidak berharap karena khawatir kemampuan saya tidak pernah cukup membendung kecepatan berpikirnya. Intinya, saya harus betul-betul jauh lebih kreatif daripada sekadar kreatif.
Mungkin sikap full of service terhadap para Wingky akan melelahkan, tapi bayaran untuk menunaikan tugas semacam ini tidak akan pernah putus sampai mati sekalipun. Insya Allah.
“Dan hendaklah kamu takut kepada Allah jika orang-orang meninggalkan generasi yang lemah, yang khawatir akan kesejahteraan mereka. Hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengatakan perkataan yang benar.” (QS An Nisa, 4: 9)