Odontektomi Kedua

Assalamualaikum teman-teman, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali saya menerbitkan tulisan saya dan baru sekarang sempat bercerita lagi. Apa kabar kalian dalam masa pandemi ini? semoga selalu diberikan kesehatan ya, aamiin

Kemarin malam saya sedang beberes file di meja “kerja” dan menemukan nota pembayaran pemeriksaan gigi saya tahun 2021 lalu. Kebetulan mei 2021 lalu saya menjalani proses operasi gigi geraham bungsu saya sebelah kanan, bagian atas dan bawah. Jadi saya ingin berbagi mungkin ada teman-teman yang membutuhkan gambaran kisaran biayanya (alasan lain menulis ini adalah agar segera bisa membuang notanya dan menyimpan kenangannya lewat tulisan, haha).

Jadi ini adalah odontektomi kedua saya, setelah yang pertama kira-kira tahun 2011, dan yang dicabut adalah gigi sebelah kiri atas. Tapi yang kedua ini lebih susah posisinya jadi prosedurnya dilakukan di ruang operasi. Hmm, prosesnya cepat ya, cuman ya namanya abis tindakan pasti lumayan nyut2 sih setelahnya, yang agak PR juga karena susah untuk makan ya, bibir jontor banget, wakakakak..

Tindakan ini saya lakukan di RS Kaliwates Jember ya teman-teman, dengan drg. Budi Sumarsetyo, Sp.BM. Awalnya saya kontrol dulu untuk melihat kondisi gigi yang saya keluhkan, kemudian kami janjian tanggal tindakan. Untuk pemeriksaan pertama biaya yang saya keluarkan sebesar Rp. 413.611, biaya ini meliputi karcis pendaftaran, konsultasi dokter dan resep. Kemudian untuk tindakan odontektomi sendiri saya dikenakan biaya sekitar Rp. 5.500.000 untuk 2 gigi geraham. Biusnya lokal ya teman-teman, tidak perlu takut berlebihan, karena insyaallah aman. Saya sempat menginap 1 malam di RS karena waktu operasinya sore dan saya masih dalam kondisi diobservasi pasca tindakan, mau pulang hari itu juga nanggung karena kemalaman, jadi diputuskan untuk menginap saja. Karena masih dalam kondisi pandemi Covid jadi ketika masuk IGD untuk mendaftar tindakan odontektomi saya diminta untuk menyerahkan hasil swab terlebih dahulu, setelah itu baru boleh masuk dalam ruangan.

Alhamdulillah waktu kontrol hasilnya bagus, no more sakit karena gigi yang pengen erupsi cuman tempatnya ngga muat, hehe.. Segitu dulu sharing saya, semoga bisa diambil manfaatnya

Child Concession Card ( CCC )

Kalau dengar kata FREE pasti yang paling berbinar tuh mamak-mamak ya, hihi.. Lalu apa hubungannya sama C3 ini?

C3 ini adalah kartu yang dipakai di Singapore untuk naik transportasi umum (MRT dan bus). Siapa saja yang bisa pakai kartu ini ? Anak-anak usia di atas 3 tahun dan tingginya di atas 90 cm. Kartu ini sudah disetting kadaluarsanya pada bulan April saat anak berusia 7 tahun. Nah kalau sudah punya kartu hukumnya wajib dipakai agar kartu tidak error. C3 bisa didapatkan secara GRATIS dengan menyerahkan paspor anak di stasiun MRT yang memiliki ticketing office seperti Bugis (silahkan cek di web Transit Link bila ingin tahu stasiun yang lain ya). Kebetulan Ittaqi saya bikinkan di MRT Bugis karena dekat dengan penginapan kami.

Ittaqi senang sekali bisa ngetap kartu di mesin saat kami akan naik MRT. Tapi harus menunggu sampai penumpang agak sepi baru bisa ngetap, takut lama nunggu bocil ngetap, antriii,,hehe.. C3 ini bisa dipakai untuk semua MRT dan bus kecuali yang eksklusif. Sebenernya saya sendiri pun tidak terlalu paham maksud eksklusif ini seperti apa, lebih jelasnya bisa liat di web Transit Link ya. Lumayan kan hemat pengeluaran bocil untuk transport ya, juga mengajari anak untuk lebih berani saat tak di kandang sendiri. Semoga Info ini bermanfaat. Happy Travelling..

#NHW9 Bunda Sebagai Agen Perubahan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia em·pa·ti /émpati/ n Psi adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Dalam materi ke-9 di perkuliahan online IIP, Bu Septi menjelaskan bahwa untuk dapat menjadi agen perubahan kita membutuhkan rasa empati terhadap sesama. Dengan adanya empati kita dapat lebih mudah untuk memulai aksi terlebih jika rasa empati itu ditambah dengan passion yaitu kegiatan yang sesuai dengan aktivitas yang kita sukai dan bisa kita lakukan. Melakukan perubahan sejatinya adalah memulai sesuatu yang sederhana dari diri sendiri dan dari lingkup terkecil yang ada yaitu keluarga. Harapannya perubahan positif sekecil apapun yang kita mulai dapat kita tularkan dalam lingkungan sekitar kita dengan skala yang lebih besar yang mungkin bisa menjawab permasalahan sosial yang ada.

Sejujurnya saat memilih aktivitas memijat bayi sebagai aktivitas yang membuat saya selalu berbinar-binar tujuan utama saya adalah dapat melakukan sesuatu yang saya suka dan dapat menghasilkan uang. Saya ingin agar lebih produktif melakukan sesuatu tanpa banyak meninggalkan waktu saya bersama anak-anak. Terjebak dalam rutinitas harian membuat saya takut bertemu dengan kejenuhan yang pada akhirnya berimbas pada cara saya berperilaku pada anak-anak.

Saya berkeinginan untuk mempelajari pijat bayi selain agar bisa dipraktekkan pada anak-anak di rumah juga karena ingin memiliki sebuah usaha homecare. Tetapi kemudian ketika impian saya tersebut belum terlaksana saya terpikir sampai kapan saya harus menunggu untuk dapat mengaplikasikan ilmu saya. Bila batasannya adalah uang sudah pasti tidak akan ketemu ujungnya. Maka saya mulai untuk berbagi ilmu saya secara ikhlas kepada orang tua terutama ibu-ibu yang memiliki anak balita. Saya merasa memiliki skill dalam berkomunikasi khususnya dalam menyampaikan sebuah informasi, percaya diri dan cepat beradaptasi. Saya merasakan ada energi baru yang mengisi hati saya saat berbagi, kepuasan yang berbeda. Sekali, dua kali saya melakukan kegiatan ini membuat saya ketagihan. Karena memang benar bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibagi. Layaknya sebuah pisau yang selalu diasah pasti akan tajam, sebaliknya bila tidak pernah digunakan sama sekali dia akan berkarat tumpul dan tak lagi berguna.

Di lingkungan sekitar saya atau mungkin di banyak tempat di Indonesia masih banyak orang tua yang mengajak anaknya untuk pijat di dukun pijat atau tempat pijat tradisional. Mereka rela menempuh jarak yang tidak bisa dibilang dekat dari rumah, berangkat sedari subuh untuk mengantri pijat kala anaknya sedang tidak enak badan. Menurut saya ini sangat melelahkan. Dengan kondisi anak yang tidak nyaman dengan tubuhnya yang pastinya rewel dan harus mengantri sekian jam sampai tiba giliran dipijat pastilah menguras tenaga baik orang tua maupun anaknya, belum lagi trauma yang akan ditimbulkan karena biasanya praktek di pijat tradisional lebih banyak melakukan cara paksa ketimbang sukarela. Padahal bila kita mengetahui cara pijat yang baik dan benar, tidak perlu membuang waktu seperti itu, cukup dilakukan saja di rumah bersama orang tua atau pengasuhnya. Bahkan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, misalnya saat keluarga akan melakukan perjalanan atau traveling. Kita saja sebagai orang dewasa pasti lelah dan tak jarang butuh tukang pijat untuk merelaksasi tubuh apalagi anak-anak.

Dalam ilmu pijat bayi yang lebih diutamakan untuk dapat bisa memijat adalah orang tuanya karena sentuhan yang dilakukan orang tua dapat meningkatkan bonding dengan anak. Semakin sering dipijat maka semakin banyak stimulus positif yang diterima anak. Tumbuh kembang anak juga semakin baik karena saat dipijat hormon pertumbuhan dapat dioptimalisasi.

Perubahan yang sudah saya mulai sejak anak pertama saya ini ingin terus saya tularkan kepada orang tua di luar sana. Saya berharap dengan semakin banyak orang tua yang tahu cara memijat anaknya dan mempraktekkan di rumah maka makin banyak yang sadar akan pentingnya menguatkan bonding dengan anak sedari dini serta meminimalisir trauma dan ini dimulai dari rumah. Bukankah rumah adalah tempat ternyaman dan aman?

Saat ini saya berbagi ilmu dengan cara door to door. Berbagi lewat komunitas apapun yang mau mengajak saya untuk berbagi dan kegiatan ini hanya dapat saya lakukan saat weekend. Karena saya masih memiliki anak balita yang masih menyusui sehingga waktu yang saya berikan tidak lebih dari 3 jam. Dari situ saya berkeinginan untuk memiliki “Rumah Berbagi” yaitu tempat yang bisa saya gunakan untuk mengajarkan ilmu yang saya punya kepada lebih banyak orang, kapanpun dan siapapun dengan waktu yang lebih fleksibel. Tentunya dengan tidak mengesampingkan tugas utama saya sebagai seorang istri dan ibu. Sambil terus memupuk impian saya membangun sebuah homecare (Semoga Allah pantaskan dan mampukan dalam prosesnya).

Perubahan yang sedikit ini mungkin sesuai dengan misi spesifik yang sudah saya jelaskan pada NHW sebelumnya. Sehingga saya merasa sekarang hidup saya makin benderang tujuan penciptaannya. Semoga dari yang sedikit dan tetap dilakukan berkelanjutan ini akan menghasilkan sebuah perubahan besar dalam masyarakat nantinya. Rasulullah bersabda “Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau sedikit”.

Inilah yang bisa saya tuliskan dalam #NHW9. NHW pamungkas dari materi di kuliah Matrikulasi IIP Batch #7 yang Insyaallah akan menjadi awal dari perubahan besar yang akan lebih intens saya lakukan. Semoga niat dalam hati selalu terjaga dan meningkatkan ketaatan saya pada Sang Khaliq. Bismillah, semoga Allah ridhoi.

Materi :

1. Materi IIP Batch 7 Bunda Sebagai Agen Perubahan

2. http://www.muslim.or.id “Amalan Lebih Baik Kontinu Walaupun Sedikit”

NHW 8 : Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas

Bismillah

Ini adalah NHW #8 dari perkuliahan online yang saya ikuti di Institut Ibu Profesional. Teringat seorang teman di grup kami yang mengatakan bahwa tidak terasa Kelas Matrikulasi ini tinggal 2 minggu lagi, sepertinya baru kemarin kami memulai kelas dengan semangat dan harapan yang membuncah di dada kami masing-masing. Keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengikuti kelas ini.

Tiap Minggu kami selalu dibikin deg-degan dengan homework yang nangkring di halaman Classroom tiap Selasa malam, begitu pula dengan NHW #8 kali ini. Nice Home Work yang menurut saya masih lanjutan dari NHW yang sebelumnya kami kerjakan mulai dari 1-7 sehingga terasa seperti kepingan puzzle yang kemudian makin menampakkan wajahnya.

Kami diminta untuk memilih satu kegiatan di kuadran SUKA-BISA yang telah dituliskan pada NHW #7. Saya memilih aktivitas memberikan edukasi tentang memijat bayi sebagai aktivitas produktif yang membuat saya berbinar, selalu bersemangat dan menghasilkan energi positif saat menjalankannya.

Be – Do – Have

Setelah memilih aktivitas itu, saya harus menentukan mau menjadi (BE) apa dengan aktivitas tersebut? Sikap mental seperti apa yang harus saya miliki untuk menjadi apa yang saya mau?

Saya ingin menjadi seorang yang ahli dalam pijat bayi dan yogini prenatal. Sehingga saya harus memiliki kesabaran dan bersih hati, ikhlas dalam menjalankan kegiatan, mendalami meditasi dengan yoga sehingga saat memberikan pelayanan bisa tune in dengan yang dipijat dan yang beryoga. Mengedukasi ibu-ibu dimana pun saya berada agar bisa memijat bayinya sendiri di rumah dan mendampingi ibu prenatal untuk lebih sehat lahir batin selama hamil sampai menjelang lahiran.

Saya berharap lewat aktivitas ini banyak ibu yang sadar pentingnya bonding antara orang tua dan anak yang salah satunya bisa dilakukan lewat sentuhan (pijat) dan bonding sedari janin masih di kandungan lewat yoga sehingga di lingkungan sekitar banyak anak yang terlahir dan tumbuh sehat lahir batinnya. Selain itu saya juga ingin memiliki sebuah usaha homecare yang memberikan pelayanan tersebut agar dapat menghasilkan secara finansial.

Apa Yang Ingin Saya Capai Dalam Kurun Waktu Kehidupan Saya di muka bumi (lifetime purpose)

Allah menciptakan semua yang ada di langit dan bumi ini tidak ada yang sia-sia, pasti ada tujuan dan hikmahnya. Tidak semata karena ingin saja. Bahkan semut kecil pun memiliki tujuan penciptaannya. Seperti yang tertulis dalam surat Al Mukminun ayat 115, Allah menerangkan :

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

Dan firman Allah yang lain yang tertulis dalam surat Adz Dzariyat ayat 56:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembahKu”.

Ayat diatas menjelaskan bahwa salah satu tujuan (purpose) penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, hanya menyembah Allah. Ibadah kepada Allah dengan melaksanakan baik dalam perkataan dan perbuatan segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhoiNya, yang artinya pengamalan ibadah ini adalah pada kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Dalam NHW #7 dijelaskan bahwa saat kita menjalani aktivitas produktif apakah tujuannya adalah mendapat kemuliaan dari Allah? Saya menggarisbawahi bahwa bila tujuan kita diniatkan untuk mengejar kemuliaan maka dapat dikatakan kita sedang beribadah untukNya. Saya sebagai ibu rumah tangga, merasa wajib melaksanakan aktivitas produktif dengan sungguh-sungguh untuk mengejar kemuliaan dengan cara pengabdian kepada suami, concern tentang pendidikan anak-anak dan kesehatan keluarga, serta saya ingin produktif lewat ilmu yang dapat saya bagikan di lingkungan saya.

Potensi kekuatan saya berdasar hasil tes ST30 di NHW #7 yang seringkali keluar (karena saya melakukan tes kurang lebih 3x) adalah SERVER, yaitu melayani orang lain sebagai sebuah pekerjaan, tugas ataupun keinginan yang tulus. Hal ini sesuai dengan yang saya tuliskan dalam NHW #2 bahwa misi hidup saya adalah membangun keluarga sesuai fitrah dan melayani lingkungan. Saya merasa bahagia ketika saya bertemu dengan orang lain, saya merasa bahagia ketika saya bisa membagikan (melayani) apa yang saya punya kepada sesama baik berbagi secara materi maupun ilmu. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar saya belajar ilmu pijat bayi. Karena merasa belum memiliki skill yang bisa saya tularkan (peran kebermanfaatan sebagai manusia) sekaligus skill yang bisa saya terapkan di rumah, sehingga saya memilih pijat bayi sebagai ilmu yang ingin saya dalami. Saya memilih menularkan ilmu saya tentang pijat bayi sebagai aktifitas produktif sebagai salah satu kendaraan saya untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Dalam peran sebagai server ini juga mengandung peran sebagai seorang educator yaitu untuk menyampaikan atau mengajarkan ilmu/ keterampilan agar paham kepada orang lain. Sebagaimana tujuan penciptaan manusia adalah untuk berilmu. Maka buah dari ilmu adalah amal. Tidaklah suatu ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan. Sebagaimana pohon tidaklah ditanam kecuali untuk mendapat buahnya.

Mengenai lifetime purpose ini, dituliskan dalam buku Fitrah Based Education karya Ustad Harry Santosa, purpose adalah alasan mengadakan ciptaan agar memiliki misi/tugas/aktivitas selaras dengan yang dimaksud.  Sedangkan misi adalah alasan keberadaan agar memiliki aktivitas yang sesuai. Sehingga saat ini saya akan tuliskan bahwa lifetime purpose saya di dunia ini adalah menjadi makhluk yang mengabdikan diri lewat ilmu yang telah saya pilih (pijat bayi) agar hilang atau berkurang ketergantungan orang tua pada dukun pijat dan secara ikhlas membagikan kepada lingkungan (dimana pun saya berada) sebagai wujud peribadahan kepada Sang Pencipta.

Rencana Strategis 5-10 Tahun

Rencana strategis yang akan saya lakukan adalah sesuai dengan NHW #4 yaitu tentang penentuan milestone. Saya harus melatih dan menggunakan waktu sebanyak 10.000 jam terbang (saya menetapkan kurang lebih selama 7 tahun) untuk menjadi seorang ahli dan fokus dalam kurun waktu tersebut. Serta saya memiliki harapan di kurun waktu ini bahwa keahlian saya dapat menunjang produktivitas yang akan menghasilkan secara finansial.

Milestone yang saya tetapkan adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( 0 – 1,5 tahun ) : Menguasai Ilmu Agama, Parenting, Kesehatan Bayi dan Ibu Hamil

Untuk dapat melayani orang lain saya harus memiliki bekal yang cukup untuk mengisi jiwa saya dengan ilmu agama sehingga selalu muncul rasa ikhlas dan syukur dalam menjalani setiap aktivitas. Selain itu mencari pondasi untuk menguatkan fokus ilmu sesuai dengan misi hidup yaitu mempelajari ilmu tentang parenting lewat training atau seminar, selain itu pula meningkatkan skill di bidang kesehatan bayi dan ibu hamil yaitu mempelajari lebih dalam tentang ilmu pijat bayi dan prenatal serta mengikuti workshop dan training yoga untuk ibu hamil.

KM 1 – KM 2 ( 1,5 – 3 tahun ) :

  • Mengamalkan ilmu yang telah didapat di KM 0-1 secara kontinu kepada siapa pun yang bersedia belajar tentang kesehatan bayi dalam hal ini pijat, menawarkan secara terbuka lewat media social atau pertemuan-pertemuan yang dilakukan berkala.
  • Menjalin jejaring
  • Membuat catatan setiap hari lewat pengamatan yang dilakukan terhadap anak-anak tentang pemberian stimulus atau kegiatan yang menunjang tumbuh kembang dan pendidikannya
  • Mempelajari ilmu memasak lebih dalam agar menjadi ahli untuk menentukan asupan bergizi bagi keluarga

KM 2 – KM 3 ( 3 – 5 tahun ) :

  • Kontinu berbagi ilmu dengan skala yang lebih besar
  • Menerima permintaan homecare (door to door) bayi
  • Menambah training yoga untuk teknik yang advance
  • Survey tempat dan mengurus perijinan untuk membuka usaha homecare yang tetap
  • Menguasai Ilmu Manajemen Emosi dan waktu serta Ilmu tentang Sampah

Sebagai seorang ibu saya harus pandai dalam mengatur emosi karena pekerjaan multitasking di rumah rawan akan bahaya stress, sehingga penguasaan tentang ilmu ini menjadi  penting bagi saya. Selain itu pula saya akan memiliki partner dalam menjalankan usaha saya, yaitu karyawan yang akan saya rekrut nantinya sehingga manjemen emosi pun memiliki peran dalam hal ini.

Mengapa ilmu tentang sampah saya masukkan? Karena saya ingin mengajarkan kepada keluarga tentang hidup minimalis tanpa sampah, mengajarkan cara menyayangi bumi dengan lebih baik yang juga wujud ibadah kepada Allah.

KM 3 – KM 4 ( 5 – 7 tahun ) : Menguasai Ilmu Ekonomi dan Komunikasi Efektif

Di KM ini saya ingin menguasai 2 ilmu tersebut sebagai tambahan untuk menjadi seorang ahli yang saya inginkan. Serta di tahap ini saya ingin memiliki sebuah usaha yang riil yang bisa saya jalankan yaitu homecare baby dan yoga prenatal agar saya dapat menunjang finansial keluarga dan saya ingin memiliki rumah belajar (for free) bagi siapa saja yang ingin berbagi ilmunya dan belajar kepada saya tentang ilmu yang saya miliki.

Resolusi 1 Tahun

Fokus dari resolusi ini adalah do, do and do. Yaitu melakukan yang telah saya tulis di KM 0-1 dalam renstra. Menjalankan ceklist indikator yang sesuai dengan misi hidup dalam NHW-NHW sebelumnya.

Semoga Allah hijabah doa dan harapan saya yang saya tuangkan dalam NHW #8 ini. Aamiin. Semangat melakukan perubahan dari diri sendiri untuk masa depan yang lebih baik. Ganbatte !!!

Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Itu Harus Dicari #NHW7

Bismillah

Pekan ke #7 ini di Institut Ibu Profesional, kami diajak untuk masuk pada tahapan Bunda Produktif, materinya sangat menarik karena kami diingatkan kembali tentang peran spesifik yang diemban dan menggali aktivitas produktif yang kami lakukan sehari-hari baik di ranah domestik maupun publik.

Salah satu pengertian produktif menurut KBBI adalah mendatangkan (memberi hasil atau manfaat), saya memaknai kata manfaat disini bukan hanya manfaat dalam hal materi atau secara finansial tetapi kegiatan produktif yang dapat memberi manfaat untuk lingkungan atau orang lain. Selama ini kebanyakan dari kami berpikir bahwa yang dikatakan produktif adalah seseorang yang melakukan aktivitas hanya di ranah publik saja karena masih adanya anggapan bahwa tolak ukur produktif adalah dengan dihasilkannya uang/materi, ternyata menurut IIP seseorang yang melakukan aktivitasnya di ranah domestik pun juga disebut produktif. Misalnya sebagai ibu yang berada di ranah domestik, dia memiliki ilmu yang mumpuni dalam hal pendidikan anak lalu ibu tersebut menerapkan ilmunya pada buah hatinya dengan sungguh-sungguh sehingga mencetak buah hati yang pandai akademis-perilaku-akhlaknya, aktivitas yang demikian ini juga disebut sebagai aktivitas produktif, karena dia melakukan aktivitas yang memiliki nilai manfaat pada orang lain dalam hal ini adalah anaknya.  Jadi, sebuah hal yang keliru bila kita masih menilai bahwa aktivitas produktif hanya erat kaitannya dengan uang.

Bunda Produktif yang sesuai value Ibu Profesional adalah ibu yang berikhtiar menjemput rizki, tanpa harus meninggalkan
amanah utamanya yaitu anak dan keluarga.
Menjalankan aktivitas yang membuatnya berbinar-binar adalah sebuah bagian dari ikhtiar menjemput rizki dan harusnya kegiatan itu mencakup 3 hal yaitu : 1) menambah syukur pada Allah SWT, 2) menegakkan taat dan 3) berbagi manfaat. Sehingga seorang ibu yang Fokus pada aktivitas produktif akan senantiasa mendahulukan kepentingan keluarganya dan mengejar kemuliaan di dalamnya.
Tugas kita dalam berikhtiar adalah dengan menjalankannya secara sungguh-sungguh karena rizki pasti menghampiri dan Allah telah menjaminnya.

Aktivitas produktif ini berkaitan dengan misi spesifik yang kita emban sebagai hambaNya. Seringkali kita bingung dengan peran kita di bumi ini karena masih belum yakin benar dengan potensi yang ada dalam diri kita. Di #NHW7 ini kami diminta untuk mengikuti tes untuk lebih mengenal potensi diri melalui www.temubakat.com yang disebut sebagai ST30 (Strength Typology). Sebenarnya saya mengikuti tes ST30 sekitar sebulan lalu saat ada kuliah umum di channel telegram IIP yang narasumbernya adalah Teh Elma Fitriana (saya tulis sedikit pada #NHW3). Saya melakukan tes ini sampai 3x karena penasaran, apakah hasilnya akan tetap atau hampir sama dengan tes sebelumnya. Ternyata hasil yang keluar sebagian besar sama, hehe.. Dan berikut ini adalah hasil tes ST30 saya :

Hasil ST30 Ika Rizky

IKA RIZKY DWI SUKMA, anda adalah orang yang berani menghadapi orang secara empat mata,keras kepala, berani mengambil alih tanggung jawab , senang memotivasi dengan berbagai cara ada yang melalui sifat periangnya ada yang melalui sifat empatinya ada juga karena selalu ingin memajukan orang lain , suka berhubungan dengan orang , baik utk mempengaruhi, bekerjasama atau melayani, dan bertanggung jawab , suka melayani orang lain dan mendahulukan orang lain , senang menghayal tentang apa yang mungkin terjadi jauh kemasa depan.

Setelah melakukan tes kita diminta untuk mengamati hasil tersebut dan konfirmasi ulang dengan apa yang kita rasakan selama ini. Nah untuk mengonfirmasi hasilnya kita diminta untuk menuliskan aktivitas-aktivitas yang kita lakukan dan membaginya melalui 4 kuadran. Kuadran 1 (aktivitas yang saya SUKA dan saya BISA), kuadran 2 (aktivitas yang saya SUKA tetapi TIDAK BISA), kuadran 3 (aktivitas yang saya TIDAK SUKA tetapi saya BISA), dan kuadran 4 (aktivitas yang saya TIDAK SUKA dan TIDAK BISA). Berikut adalah kuadran aktivitas saya;

KUADRAN 1 (SUKA-BISA)

KUADRAN 1 BISA
SUKA Membaca buku parenting, novel, anak
Menulis kegiatan sehari-hari
Mendongeng
Memijat
Berjualan barang yang saya sukai dan pakai
Membantu orang lain Menjadi tempat curhat teman

Merujuk hasil ST30, aktivitas di kuadran 1 ini ada yang sesuai dengan potensi kekuatan saya yaitu SERVER. Saya menyadari bahwa dari dulu saya senang berjumpa dengan orang baru, berkenalan dan membantu orang lain. Mengikuti IIP membuat saya semakin yakin bahwa misi spesifik saya berkaitan dengan peran saya yang berkaitan dengan banyak orang yaitu peran kebermanfaatan dengan sesama. Untuk mengoptimalkan peran tersebut saya harus mempraktekkan dan berbagi ilmu yang saya miliki dan terus menggali ilmu yang sesuai dengan peran spesifik saya.

Kuadran 2 (SUKA-TIDAK BISA)

KUADRAN 2 TIDAK BISA
SUKA Menjahit
Berkebun
Merajut
Baking

Aktivitas yang ada di kuadran 2 adalah hal-hal yang saya suka, saya ingin belajar lebih dalam tapi saya tidak bisa menghasilkan output yang sempurna. Setelah saya telaah kembali, aktivitas tersebut membutuhkan kesabaran dan ketelatenan sedangkan saya adalah orang yang senang melakukan sesuatu dengan ritme yang cepat, kalau mama saya bilang “nggerabus”, tergesa-gesa. Padahal aktivitas di kuadran ini dapat menunjang peran saya sebagai ibu untuk menjadi lebih produktif di ranah domestik. Mungkin ini juga sebagai pengingat bahwa saya harus melatih sabar saya dalam banyak hal agar memperoleh manfaat dari ilmu-ilmu yang saya pelajari.

Kuadran 3 (TIDAK SUKA-BISA)

KUADRAN 3 BISA
TIDAK SUKA Setrika
Beres-beres rumah
Mencatat detil pembukuan keuangan

Aktivitas di kuadran 3 adalah aktivitas yang sebenarnya saya bisa melakukan tapi untuk memulainya pun agak susah karena saya tidak suka. Dan aktivitas ini boleh saya katakan adalah aktivitas yang dapat didelegasikan pada orang lain. Seperti hasil dari ST30 tertulis salah satu kelemahan saya adalah Treasury, yaitu aktivitas untuk menata keuangan dengan rapid an tanpa kesalahan, di rumah yang lebih teliti dalam hal ini adalah suami. Saya jadi teringat akan alasan mengapa kami dipertemukan dan berjodoh mungkin salah satunya adalah hal ini, saling melengkapi dalam kelebihan dan kekurangan kami.

Kuadran 4 (TIDAK SUKA-TIDAK BISA)

KUADRAN 4 TIDAK BISA
TIDAK SUKA Menggambar
Membuat sesuatu dari hasil imajinasi

Aktivitas di kuadran 4 adalah aktivitas yang merupakan kelemahan saya. Merujuk hasil ST30 bahwa potensi kelemahan saya adalah Creator-Designer-Producer. Dan menurut saya ini sesuai, karena secara garis besar pengertian dari 3 hal di atas adalah berhubungan dengan membuat gambar, menggunakan imajinasi untuk menghasilkan sesuatu atau membangun sesuatu. Hal tersebut berkaitan dengan karsa. Dan saya memang tidak bisa dan tidak suka. Aktivitas ini tidak akan memberikan hasil yang optimal bahkan meskipun saya mempelajari lebih intens.

Dalam penjelasan ST30 dikatakan bahwa Fokus Pada Kekuatan Dan Siasati Keterbatasan. Akan menjadi kegiatan yang percuma apabila kita mempelajari hal yang merupakan keterbatasan kita. Mensiasati dapat dilakukan dengan mendelegasikan kepada orang lain, memakai bantuan mesin, atau dengan cara menghindari agar kita tidak berfokus pada hal yang melemahkan diri.

Dari hasil tersebut peran atau potensi kekuatan saya sebesar 80% berada di area interpersonal, yaitu yang berhubungan dengan orang lain. Dan 20% adalah area individual yaitu peran di Generating Idea (Visionary). Semoga dengan mengetahui potensi kekuatan dan kelemahan dalam diri saya semakin paham untuk menekuni aktivitas-aktivitas yang dapat membawa saya menjadi Bunda Produktif yang dapat menebar manfaat bagi banyak orang di sekitar saya. Aamiin.

Belajar Menjadi Manajer Keluarga Handal

Setelah kapok dengan minggu lalu yang rush in time saat ngerjakan NHW, minggu ini bertekad untuk mengerjakan lebih awal agar ke depannya lebih bisa mendalami dan praktek NHW dalam real time lebih baik. Bismillah.

Materi IIP Batch #7 minggu ini adalah tentang Ibu Manajer Keluarga Handal. Dari materi 1-6 di IIP saya merasakan minggu ini adalah materi yang paling gampang nyantol dan gambarannya terpampang gamblang di depan mata. Materi ini mengingatkan saya kembali pada motivasi menjadi ibu yang memilih bekerja di ranah domestik. Apakah saya sudah professional dengan jadual kerja saya sebagai ibu? Apakah saya sudah melaksanakan tugas saya karena ini adalah panggilan hati bukan karena kompetisi atau menggugurkan kewajiban? Atau kah hanya terjebak dalam kegiatan rutin yang menjauhkan saya dalam memahami peran diri?

Sejatinya seorang ibu memiliki peran sebagai manajer dalam keluarganya. Mari kita lihat arti kata Manajer menurut KBBI, adalah :

1. orang yang mengatur pekerjaan atau kerja sama di antara berbagai kelompok atau sejumlah orang untuk mencapai sasaran,

2. orang yang berwenang dan bertanggung jawab membuat rencana, mengatur, memimpin dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu.

Nah, jadi dari pengertian ini sudah terlihat jelas ya bahwa peran seorang manajer itu adalah untuk mengatur dan bertanggung jawab dalam sebuah kegiatan agar targetnya tercapai. Kira-kira kita sebagai seorang Ibu punya target apa ya dalam keseharian yang berkaitan dengan peran diri? Tentu jawabannya beragam ya karena tiap Ibu pasti memiliki prioritas kegiatan yang berbeda. Agar peran diri sebagai manajer keluarga lebih maksimal maka kita pun harus berpikir dan bersikap layaknya seorang manajer. Dalam materi telah dituliskan ada 4 step yang bisa dilakukan :

1.Hargai diri sebagai manajer keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapid an chic) saat menjalankan aktivitas sebagai seorang manajer keluarga.

Terlihat sepele tapi dengan berpakaian chic membuat mood kita terdongkrak hingga sekian puluh persen, sehingga kita lebih bersemangat menjalani hari, apalagi ditambah sapuan lipstick plus wangi-wangian, amboii anak dan suami pasti lebih suka ya daripada liat ibu atau istrinya lecek, hehe..

2. Rencanakan segala aktivitas yang akan dikerjakan dan patuhi (akan dibahas disini)

3. Buatlah skala prioritas

Penting untuk menentukan mana yang lebih urgent untuk dikerjakan dulu agar lebih terarah menjalani aktivitas yang telah disusun, sehingga kita tidak tersesat dalam kegiatan yang unfaedah dan berujung waktu kita terbuang percuma, akhirnya goal kita dalam sehari itu tidak tercapai.

4. Bangun komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya

Membiasakan diri untuk melakukan yang lebih baik memang tidak mudah, perlu semangat dan support system yang kuat, tapi tidak ada yang tidak mungkin bila perubahan itu datang dari kita sendiri bukan atas dasar keinginan orang lain.

Setelah mengetahui cara bersikap dan berfikir seperti seorang manajer, kita juga harus mengetahui prinsip dalam mengelola aktivitas harian kita, yaitu :

1.Put First Things First

Melakukan hal yang utama dalam urutan pertama. Sebagai seorang ibu tentulah yang dimaksud adalah suami dan anak sehingga kita bisa membuat perencanaan dalam aktivitas harian kita dan skala prioritas pada hari itu. Sering terjadi pada kegiatan saya, misal ingin membuat menu A kemudian searching resep, nah saat searching mata teralihkan dengan hal lain, yang akhirnya malah lebih fokus ke hal yang membuat lupa cari resep, hiks..

2. One Bite at A Time

Melakukan kegiatan secara bertahap dan tanpa menunda agar kegiatan yang lain dapat segera dilaksanakan dengan baik juga.

3. Delegating

Memberikan tugas pada anggota keluarga lain atau pada asisten rumah tangga agar lebih fokus pada hal yang lebih utama. Alhamdulillah di rumah saya dibantu oleh seorang ART yang bekerja kurang lebih 4 jam untuk menangani bersih-bersih, cuci dan setrika.

Kemudian apa lagi yang harus kita lakukan dalam belajar menjadi manajer keluarga handal? Dalam NHW #6 kita diminta mengikuti 7 step, diantaranya sebagai berikut :

1.Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting dan 3 aktivitas yang paling tidak penting

3 aktivitas paling penting saya adalah :

  • Beribadah (termasuk di dalamnya solat,tilawah,menuntut ilmu,menjalin hubungan baik dengan sesama)
  • Membersamai anak-anak
  • Memasak

3 aktivitas paling tidak penting

  • Chatting WA
  • Scrolling timeline instagram/windows shopping
  • Nonton drama korea

2. Waktu Anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?

Bila diprosentase mungkin menghasilkan angka 50-50.

3. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk menambah jam terbang peran hidup anda (tengok NHW sebelumnya, agar selaras)

Di NHW #4 telah dijelaskan bahwa untuk menjadi ahli dalam suatu profesi butuh 10.000 jam terbang dan saya menyebutkan bahwa waktu yang saya butuhkan untuk menjadi seorang “ahli” tiap harinya ada lah sekitar 3,5 – 4 jam. Sehingga aktivitas penting yang telah disebutkan di atas dapat dijadikan aktivitas dinamis yang menunjang peran hidup kita (ceklist indikator ibu professional di NHW #2 yang telah saya buat berdasarkan peran saya sebagai individu-istri-ibu).

4.Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan kandang waktu dan patuhi cut off time

Penjabaran lebih jelas ada dalam aktivitas harian yang saya buat di bawah ini. Saya juga menambahkan kegiatan lain yang saya lakukan saat weekend tetapi masih dalam kandang waktu yang sama di aktivitas weekdays saya.

5.Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadual waktu harian anda

Bismillah semoga istiqomah dalam menjalankan jadual harian.

6.Setelah tahap di atas selesai anda tentukan, maka buatkah jadual harian yang paling mudah anda kerjakan

7.Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

Jadual ini Insyaallah saya berlakukan mulai hari Jumat ini. Kenapa Jumat? Karena mengingat spirit hari Jumat adalah hari yang diberkahi sehingga harapan saya aktivitas yang sudah saya susun ini oleh Allah diberi kemudahan dan keteguhan hati dalam menjalaninya. Amiin

Sumber : Materi NHW #6 IIP batch #7 2019 Menjadi Manajer Keluarga Handal

Desain Pembelajaran Ala Saya

Minggu ini saya benar-benar merasa exhausted dengan serangkaian kegiatan yang saya lakukan di rumah. Di tengah asyiknya membuat kisi-kisi tugas di IIP, suami minta dibuatkan itinerary untuk rencana liburan kami bulan depan. Dan membuat itinerary sungguh membuat fokus saya tergeser karena harus survey ini itu terkait akomodasi dan printilannya, maklum bawa anak 2 bijik masih balita pula. Alhamdulillah kelar dan sudah agak selow. Teringat Minggu ini pun saya ada ujian akhir untuk kelas online yang lain, Ya Allah belum sempat kepegang lagi dong ini IIP, tapi Alhamdulillah Allah lancarkan. Malam ini sambil nungguin bayi yang lagi dilanda bapil, saya baru mulai menuliskan NHW #5. Bismillah.

Sebagai orang tua yang menjadi fasilitator untuk anak-anaknya kita harus lebih dulu mengetahui lebih baik diri kita, bagaimana mengetahui kebutuhan kita sebagai orang tua, sehingga kita dapat memahami dengan lebih baik tentang anak dan keluarga.

NHW #5 ini kami diminta membuat Desain Pembelajaran Ala Saya yang artinya rancangan belajar yang paling sesuai dan menggambarkan diri masing-masing. Searching tentang Desain Pembelajaran ternyata sangat banyak ya dan lumayan bikin puyeng juga sih, hihi,, Tapi ada benang merah yang saya tangkap dari hasil searching itu. Dan saya menggunakan kisi-kisi dari Kemp,Morrison dan Ross (1994) dalam membuat acuan Desain Pembelajaran Ala Saya ini. Disebutkan bahwa dalam Desain Pembelajaran ada 4 komponen yang harus diperhatikan :

  1. Peserta Didik
  2. Tujuan
  3. Metode
  4. Evaluasi

Saya akan mencoba menjabarkan 4 hal tersebut pada diri saya.

Pertama. Dalam hal ini saya sebagai peserta didik harus mengetahui bagaimana caranya menciptakan situasi belajar yang nyaman agar saya lebih termotivasi untuk mencari ilmu. Rumah adalah tempat ternyaman saya saat ini untuk menjadi tempat belajar. Dengan belajar di rumah saya lebih merasa bebas dan tidak terbebani dengan apa yang saya pelajari. Tapi saya juga menyadari beberapa ilmu yang telah saya tuliskan di NHW #4 juga menuntut saya mencari ilmu di luar rumah. Seperti dalam seminar, workshop, pelatihan dan sejenisnya. Saya lebih senang belajar langsung dari ahlinya, entah dari datang ke majelis ilmu (karena lebih diutamakan juga), mendengarkan kajian lewat youtube, mengikuti kuliah online. Saya lebih senang belajar dalam grup ketimbang solitaire karena saya merasa lebih bersemangat ketika menimba ilmu bersama dengan orang lain. Dan saya juga lebih nyaman dengan tempat yang tertutup/ indoor karena merasa lebih fokus pada ilmu yang ditransfer. Karena pada dasarnya saya adalah tipe pembelajar kombinasi Visual dan Auditori, sehingga bila saya berada di outdoor hampir pasti ilmu yang saya terima tidak bisa terserap sempurna karena seringnya terdistract dengan pemandangan sekitar.

Kedua. Tujuan saya belajar ilmu ini sebenarnya apa sih? Seperti yang saya tuliskan dalam NHW #4 kemarin tentang Misi Hidup saya yaitu Membangun keluarga sesuai fitrah dan melayani lingkungan maka untuk hal ini pulalah tujuan pembelajaran saya. Sehingga ilmu-ilmu yang saya tuliskan dalam NHW sebelumnya adalah ilmu pendukung misi hidup saya.

Ketiga. Metode pembelajaran adalah cara atau teknik yang digunakan untuk menyampaikan bahan ajar. Cara yang menurut saya paling cocok dengan gaya belajar saya adalah dengan mendengarkan, mencatat, praktek on the spot dan repetisi. Saya ambil contoh ilmu tentang kesehatan ibu bayi. Dalam mencari ilmu tersebut saya memilih untuk mengikuti pelatihan yang di dalamnya telah mencakup gaya belajar yang sukai tersebut terlebih dilakukan bersama-sama dalam sebuah grup. Setelah untuk diri saya pribadi untuk lebih memantabkan ilmu yang saya peroleh biasanya saya akan menularkan ilmu tersebut kepada orang-orang di sekitar saya. Jadi dengan repetisi harapannya ilmu yang saya peroleh lebih mengakar dalam keseharian.

Keempat. Evaluasi ala saya adalah dengan melakukan pengamatan dan pencatatan dengan periode yang telah saya tentukan. Misal dalam NHW #4 saya menuliskan ilmu memasak sebagai salah satu ilmu yang ingin saya kuasai. Saya melakukan praktek membuat 1 menu dalam jangka waktu tertentu kemudian saya melakukan pengamatan dan pencatatan saat ada yang dirasa kurang dalam hal rasa-takaran bumbu-proses memasak. Sehingga saat saya mempraktekkan menu itu lagi saya sudah merasa puas karena telah melakukan pengamatan yang lebih baik dari proses sebelumnya.

Jadi seperti inilah gambaran Desain Pembelajaran Ala Saya yang memang saya rasa sesuai dengan pribadi saya. Dengan lebih mengetahui desain ini harapan ke depan adalah saya lebih bisa memahami desain pembelajaran untuk anak-anak saya. Semoga selalu istiqomah dalam menjalankan peran yang dijalankan saat ini. Amiin.

Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

NHW #4 IIP Batch #7

Minggu ke minggu perjalanan belajar dengan IIP ini, makin membuat kami belajar mengenal diri dengan lebih baik. Alhamdulillah berada di jalur yang benar. Siapa lagi kalau bukan diri sendiri yang memulai untuk berbenah? Bismillah, tugas NHW #4 kali ini ada mereview tugas-tugas sebelumnya yang adalah runtutan dari proses belajar di Matrikulasi, berikut jawaban saya :

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Bismillah, saya masih yakin untuk memilih Ilmu Edukasi sebagai jurusan yang saya pilih.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Alhamdulillah capaian indikator yang saya tuliskan 70% sudah konsisten dilakukan setiap hari. Tetapi saya sadar 30%-nya masih keteteran mengerjakan. Semoga niat saya untuk memperbaiki diri ke depannya lebih dimudahkan sehingga kegiatan di indikator yang sudah saya buat bisa 100% saya jalankan.

c.Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Misi Hidup : Membangun keluarga sesuai fitrah dan melayani lingkungan
Bidang : Pendidikan Keluarga dan Kesehatan
Peran : Edukator dan Server

Setelah bermuhasabah dan merenung sejak NHW #3 kemarin sampai dengan hari ini saya menuliskan tugas, saya semakin yakin bila peran yang diamanahkan pada saya adalah sebagai Edukator dan Server. Saya ingin mendidik anak-anak sesuai dengan fitrahnya dengan memantaskan diri saya sebagai seorang ibu, saya ingin ilmu yang telah saya dapat berguna tidak hanya di keluarga tapi untuk masyarakat, saya ingin lebih banyak membantu dan terlibat dalam kegiatan dimana pun saya berada.

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut. 

a. Ilmu agama : ilmu yang mempelajari tentang tauhid, aqidah, adab,

b. Ilmu Parenting : parenting secara Islam, mendidik anak sesuai fitrah, stimulasi anak sesuai dengan tumbuh kembang, ilmu tentang bakat minat anak

c. Ilmu manajemen emosi dan waktu

d. Ilmu komunikasi efektif

e. Ilmu ekonomi : ilmu yang mempelajari tentang manajemen untuk membangun usaha/ bisnis, akuntansi dasar, klinik homecare

f. Ilmu tentang kesehatan bayi dan ibu hamil : upgrade ilmu tentang massage bayi dan ibu hamil, ilmu tentang yoga prenatal,

g. Ilmu tentang sampah : cara mengelola sampah rumah tangga,

h. Ilmu memasak : cara memasak yang bergizi,

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Untuk menjadi seorang master dalam sebuah ilmu maka diperlukan jam terbang minimal 10.000 jam. Jam terbang adalah waktu yang digunakan untuk mencari ilmu, mempraktekkan dan membuat catatan.

Saya menetapkan KM 0 saya pada usia 33 tahun. Dan saya menargetkan 7 tahun sebagai waktu tempuh saya untuk menjadi seorang ‘master’ dalam ilmu yang akan saya tekuni. Saya juga memiliki keinginan bahwa salah satu ilmu yang saya pelajari ini selain bisa saya bagikan kepada lingkungan juga dapat menjadikan saya seorang ibu yang produktif karena saya ingin membangun usaha homecare bagi bayi dan ibu hamil.

Milestone yang saya tetapkan adalah sbb :
KM 0 – KM 1 ( 0 – 1,5 tahun ) : Menguasai Ilmu Agama, Parenting, Kesehatan Bayi dan Ibu Hamil
KM 1 – KM 2 ( 1,5 – 3 tahun ) : Menguasai Ilmu Memasak
KM 2 – KM 3 ( 3 – 5 tahun ) : Menguasai Ilmu Manajemen Emosi dan waktu dan Ilmu tentang Sampah
KM 3 – KM 4 ( 5 – 7 tahun ) : Menguasai Ilmu Ekonomi dan Komunikasi Efektif

f. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Ada banyak ilmu yang belum saya masukkan ke dalam ceklist indikator di NHW #2 saya, akan segera saya perbaiki dan eksekusi.

g. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Seperti yang dikatakan Ibu Septi, “One bite at a time”. Belajar lah secara serius dalam 1 hal setelah menguasai barulah belajar ilmu yang lain dengan sungguh-sungguh pula. Bukankah setiap perjalanan selalu dimulai oleh langkah pertama di titik 0 KM? Bismillah semoga Allah mudahkan perjalanan ini untukku.

A Home Team : Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

NHW #3 IIP Batch #7

NHW minggu ini mengajak saya dan teman-teman di Matrikulasi IIP untuk mengenal potensi diri dengan lebih baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dapat dikembangkan. Allah menciptakan manusia dengan fitrah yang unik dan tidak sama satu dengan yang lain. Tugas kita adalah untuk memahami peran spesifik apa yang Allah berikan pada kita di bumi ini.
Mulai dari memahami diri sendiri, potensi suami serta anak-anak sebagai tim terdekat kita. Dengan mengetahui potensi diri diharapkan kita mampu mengaktualisasikannya serta mencari bimbingan dan dukungan dari lingkungan agar lebih berkembang sehingga misi kita sebagai makhluk Allah dapat dicapai. Berikut adalah tugasnya :

Bagi anda yang sudah berkeluarga dan dikaruniai satu tim yang utuh sampai hari ini ;
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami 

Saya telah menuliskan part ini di postingan yang berbeda. Bisa dilihat di sini.

b. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing

Ittaqi Zayyan Alfarizky

Dia istimewa bagi kami, mengingat perjuangan kami merindu hadirnya buah hati hingga 4 tahun pernikahan Allah baru titipkan amanah ini. Sejak dalam kandungan dia adalah janin yang aktif, sering berganti posisi kepala bahkan sampai usia kehamilan 9 bulan mendekati due date. Saya masih aktif melakukan yoga-senam hamil dan renang saat mengandungnya. Setiap kali diajak melakukan aktifitas dia selalu memberi respon positif dengan gerakan yang membuat perut seperti terkena gelombang.

Taqi, begitu kami memanggilnya, sekarang berumur 38 bulan. Sampai sekarang pun dia adalah tipe anak yang aktif. Senang melakukan kegiatan outdoor, seperti berlari, messy play dengan tanah-pasir-air-cat warna, bermain bola dan berenang. Dia senang diajak bernyanyi dan terkadang bersenandung menghasilkan nada sendiri. Meski energinya meledak-ledak, dia lebih sering mengalah pada adiknya. Taqi sempat menjalani terapi wicara saat usianya 2 tahun karena speech delay dan sekarang ini kosakatanya meledak. Dia semakin senang saat diajak membaca buku terutama yang berhubungan dengan hewan dan transportasi. Jadi dia dalam tahap menyerap dan mencerna kata-kata yang masih belum ada dalam kamus bahasanya.

Sampai sejauh ini dari pengamatan saya, sementara bisa saya simpulkan kalau Taqi lebih menonjol pada potensi fisiknya (kinestetik). Saya akan terus memberikan stimulasi kepadanya sehingga saya lebih dapat memahami potensi lain yang dimilikinya.

Ibraaen Omar Alfarizky

Anak kedua saya bulan ini masih berusia 11 bulan. Sejak dalam kandungan dia termasuk janin yang kalem. Saya masih menyusui kakaknya sampai dia berusia 5 bulan di rahim saya. Tapi selama itu pun dia tidak pernah menunjukkan reaksi penolakan/ kontraksi. Sampai akhirnya si kakak berhasil disapih. Dia juga anak yang mandiri, mau bermain tanpa saya temani. Dia masih dalam tahap menjelajahi apa yang ada di lingkungannya. Hampir semua stimulasi yang saya berikan mau dia mainkan. Misalnya, saat saya bernyanyi dia goyangkan tangan dan badannya, saat dibacakan buku dia melihat objek yang saya tunjuk-duduk tenang-mendengarkan, mulai berjalan beberapa langkah, senang bermain bola dan messy play dengan tepung-air-pewarna makanan. Saya mencatat tumbuh kembang anak-anak saya dengan menggunakan checklist indikator perkembangan anak yang saya dapat dari Pusat Kurikulum Diknas dan Alhamdulillah milestone Ibraa pun sesuai. Meski demikian saya masih kesulitan untuk menangkap potensi apa yang menonjol dari Ibraa.

Saya berharap makin hari saya dapat mengetahui potensi dalam diri Ibraa sehingga kami sebagai orang tua sebagai lingkungan terdekatnya mampu membimbing dan mendukung potensi apa yang dia miliki.

c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki

Kemarin saya mengikuti diskusi channel IIP lewat telegram yang narasumbernya adalah bunda Elma Fitria, beliau adalah seorang Strength Based Family Practitioner, tema diskusinya tentang Memaknai Me Time. Menurut bunda Elma, untuk dapat memenuhi me time yang produktif meliputi fungsi relaksasi dan aktualisasi diri, kita butuh mengenal ME (diri sendiri) dengan lebih baik. Sehingga aktifitas me time yang kita lakukan dapat mengasah potensi kita dari hari ke hari yang menjadikan kita wanita yang menemukan diri kita sesungguhnya, yang terbaik dan bahagia. Sebelum memulai diskusi kami diberi pre test untuk lebih mengenali diri. Dan dari hasil pre test itu saya merasa lebih yakin bahwa saya memang tipe orang yang lebih menyukai pekerjaan/ sesuatu yang berkaitan dengan banyak orang dengan fungsi melayani/ berbagi.

Saya senang membaca dan saya adalah orang yang gemar belajar hal-hal baru. Karena saya adalah seorang ibu, sekarang ini saya fokus pada pendidikan anak-anak di rumah karena memang mereka masih balita dan saya memang memilih untuk tidak menyekolahkan dini di pendidikan formal. Jadi saya fokus belajar tentang ilmu parenting yang mendukung hal tersebut baik melalui buku, kuliah online maupun seminar dan sejenisnya. Selain ilmu parenting saya senang belajar baking. Mengambil istilah dari seorang teman, penuhi negara bagian tengah dulu, baru ambil hatinya. Maksudnya adalah bila perut kenyang maka mood baik juga mengikuti.

Alhamdulillah suami mendukung kegiatan saya. Hasil belajar selalu saya share dengan suami dan kami selalu berdiskusi tentang apa yang bisa diterapkan dalam keluarga dari ilmu tersebut. Fitrah anak-anak adalah senang dengan permainan jadi mereka senang saat saya mengajak bermain dengan diselipi stimulus yang dapat mengasah potensi serta perkembangannya. Mereka juga senang bila mamahnya membuat cemilan dan selalu memuji bakingan saya meski tak jarang hasilnya belum outstanding, what a nice kids.

Suami adalah orang yang analitis sehingga segala sesuatu selalu detail dan dalam mengambil keputusan terkesan lama karena terlalu banyak memperhitungkan ini-itu. Berbeda dengan saya yang bisa dengan cepat mengambil keputusan meski kadang terlewat beberapa hal detail dan ini ditangkap oleh suami saya. Saya bukan termasuk orang yang telaten saat menghadapi kebuntuan sedangkan dia adalah orang yang sabar. Selalu memberi semangat dan menenangkan saat saya tegang. Kami berkolaborasi dalam memaknai kelebihan dan kekurangan kami, karena kami sadar bahwa setiap manusia memiliki potensi diri yang merupakan fitrah. Karena pada akhirnya sebuah pernikahan itu adalah tentang saling membutuhkan dan melengkapi bukan mengubah.


d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Lingkungan tempat saya tinggal adalah hometown saya dan suami. Setelah beberapa tahun keluarga kami merantau, Allah memberi kesempatan kami kembali ke Banyuwangi. Saya melihat diri saya seperti seekor penyu, yang kembali ke tempat dia ditetaskan untuk berkembang biak. Ya, Allah mengabulkan permohonan kami untuk memiliki keturunan saat kami pulang ke sini. Memang tidak ada tempat yang nyaman selain “rumah”. Berada di antara keluarga yang menyayangi dan saling memberi support membawa aura positif tersendiri. Ini juga kesempatan berharga terutama bagi kami yang tiap tahun cenat-cenut menanti SK karena konsekuensi dari pekerjaan suami yang seringnya dipindahtugaskan tiap beberapa periode sekali.

Di Banyuwangi saya berkenalan dengan komunitas gendong lokal, dari sini teman-teman saya bertambah. Karena pada dasarnya saya senang bertemu dan berkenalan dengan banyak orang, berbagi ilmu dan pengalaman terutama saat kopi darat. Memenuhi salah satu “Me Time” saya yaitu berbagi sekaligus bertemu dengan banyak orang. Saat ini saya juga berbagi ilmu tentang pijat bayi sehat di komunitas lokal, ibu-ibu yang memiliki baby newborn dan posyandu. (seperti yang pernah saya bahas di NHW#1). Selain berbagi ilmu, saya juga berbagi rezeki, di lingkungan terdekat saya yaitu tetangga, ada beberapa yang kehidupan ekonominya butuh bantuan, mereka adalah janda tua tanpa tunjangan. Keluarga kami adalah keluarga muda di sini, karena sebagian besar tetangga kami sudah aki-nini atau keluarga yang anak-anaknya sudah bekerja dan berkeluarga. Hampir setiap sore anak-anak saya bermain di luar rumah dan berjumpa dengan tetangga, tingkah lucu balita membuat mereka tersenyum geli. Anak-anak saya memang masih kecil tapi gerak gerik mereka setidaknya bisa menghibur aki-nini tetangga kami, berbagi kebahagiaan meski secuil.

Semoga Allah mampukan dan pantaskan diri kami sebagai orang tua untuk selalu membersamai dan memberikan dukungan kepada buah hati kami agar dapat menjalankan peran peradaban mereka, dan Allah mampukan kami sebagai sebuah keluarga yang utuh dalam mengaktualisasi peran produktif kami. Amiin.

Referensi :

https://lenycyhadinatshu.wordpress.com/potensi-anak-usia-dini-0-8-tahun/

https://mashurizahwa.wordpress.com/2012/03/29/pendidikan-dan-potensi-diri/

Materi Kuliah Umum untuk Enrichment MIIPB 7 2019 oleh Bunda Elma Fitria “Memaknai Me Time”

Materi Sesi 3 # Kelas Matrikulasi Batch #7 INSTITUT IBU PROFESIONAL Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Lovebird

 Sewaktu membaca tugas NHW #3 IIP kemarin membuat pikir saya melayang pada kejadian pertemuan pertama saya dengan suami 16 tahun silam. Saat kami masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Kebetulan kelas kami bersebelahan, tapi tak saling kenal, hanya sekedar tahu. Siang itu dia duduk di bangku sebelah kelas saya, seorang teman saya nyeletuk, itu namanya Iqbal. Bertemu lagi 5 tahun kemudian. Sekian. 

NHW yang menantang karena salah satu poinnya adalah kami diminta membuat sepucuk surat cinta untuk suami. Saya adalah perempuan yang ekstrovert, terbiasa mengutarakan segalanya pada suami, tak pernah memberi kode ala-ala yang berujung membuat baper diri karena tak ada respon darinya. Dari awal kenal sudah seperti itu. Pernah suatu hari jaman pedekate, dia memberi saya tart pada saat ulang tahun, mungkin ingin romatisan ala-ala, saya terima tapi tidak saya makan karena memang saya tidak suka. Saya katakan padanya waktu itu, lain kali tanya dulu saja apa aku suka atau tidak, daripada saling membuat kecewa. Sejak itu kami terbiasa mengatakan anything dari hal yang paling remeh sampai yang intim. Karena menurut saya terbuka dan mengatakan dengan tepat apa yang kita inginkan lebih memudahkan sebagai pasangan untuk meminimalisir konflik. Romantis menurut saya bukan melulu tentang tart-bunga ataupun cokelat.

Pun dengan surat cinta kali ini saya dengan jujur mengatakan pada suami bila saya diminta untuk membuat surat cinta sebagai salah satu NHW. Dan suami bilang “Oh, bagus itu, coba mamah bikin terus kirim ke papah”. Dan kemarin lusa setelah saya bikin yang disertai mewek lalu antiklimaks karena tiba-tiba si adek bangun dan ikutan riweuh depan laptop, haha..

Surat saya kirim via email lepas solat ashar. Sudah tanggung sebenarnya karena sudah hampir pasti suami mau siap-siap pulang dan benar saja tidak ada balasan lewat email. Ketika akhirnya dia pulang, anak-anak berhambur ke papahnya minta gendong, sambil membuka pintu pagar suami bilang “Le, mamah nggombalin papah sore-sore”,ahahaha.. Langsung tembak dong saya, “Berhasil ngga suratnya?”. Dia bilang lumayan. Dan lanjut ngobrol setelah solat magrib. Suami bilang tersentuh dan terharu sedikit dengan isi surat saya (kenapa banyak pria menambahkan kata sedikit untuk hal-hal yang sensitif), membuat dia instropeksi diri dan menyadari banyak kekurangan dia sebagai suami dan bapak.

Saya sertakan surat untuk suami di akhir tulisan ini ya, untuk dikenang juga kalau suatu hari butuh percikan cinta, haha

Alhamdulillah reaksinya positif dan pasca kirim surat 2 hari yang lalu tapi sudah nampak perbedaan perilaku suami di rumah. Lebih sweet, lebih pengertian baik ke istri dan anak-anaknya. Ah begitulah dia, laki-laki yang dari dulu sampe saat ini dan Insyaallah selamanya membuat saya klepek-klepek dengan sikapnya. Semoga ke depannya kami berdua bisa lebih solid sebagai pasangan dan mendidik anak-anak sesuai fitrahnya sehingga bisa mengantarkan mereka sukses dunia akhiratnya.

Semoga Allah selalu menjaga keluarga kami dan pertemukan kami kelak di Jannah-Nya. Amiin.

Assalamualaikum

Hai papah.. Sudah solah ashar kah?

Kemarin mamah udah cerita kan kalo pe-er IIP minggu ini salah satunya adalah mamah harus nulis surat cinta sama suami. Kalo diingat-ingat kita ngga pernah ya surat-suratan? Hehe,, Yaa boleh lah nulis sekali-sekali sama suami biar nanti ditraktir steak, haha,,

2019. Tahun ke-8 pernikahan kita, Insyaallah. Masih jelas teringat malam itu saat tiba-tiba papah telpon mamah dengan alasan nyoba nomor hp, setelah sekian tahun tak jumpa. (plis jangan pura-pura lupa sama modusnya). Biasanya kalo sudah begini, mamah bakal no respon kalo someday telpon lagi, karena sudah tau modusnya. Tapi kenapa waktu itu jadi berbalas, mungkin sebagian diriku happy dimodusin papah, waks,, Kalo kata mas Anang, jodohku maunya ku dirimu, papah setuju sama mas Anang? Hihi.. Yah tapi memang benar bila jodoh tak lari kemana, Allah dekatkan kita.

Sabar papah, hal yang membuat mamah yakin kalo papah adalah lelaki terbaik yang Allah rizkikan ke mamah untuk jadi imamku. Teringat empat tahun perjalanan kita merindu  buah hati dalam keluarga kecil kita, terima kasih telah begitu sabar dan menularkannya ke mamah. Bukan perkara mudah belajar sabar bagi mamah dengan latar belakang keluarga yang begitu kompleks tapi papah selalu ingatkan mamah untuk doakan, doakan, doakan. Pun sampai saat ini mamah membersamai anak-anak di rumah, seringkali sumbu mamah masih pendek, tapi papah juga selalu ingatkan mamah untuk sabar,sabar,sabar. Bukankah Allah juga mengatakan bahwa jadikan sabar dan solat sebagai penolong.

Terima kasih papah sudah bersedia berbagi tugas dan menjalankan peran sebagai bapak seutuhnya,apalagi saat pulang ngantor, meski mamah tahu papah lelah. Semoga lelah kita dalam mendidik anak-anak mendapat ridhoNya dan dapat mengantarkan mereka sukses dunia akhiratnya.

Terima kasih sudah support mamah lahir dan batin di setiap kegiatan mamah di rumah, biar tetap waras istrimu ini.

Mamah minta maaf kalo sampai saat ini mamah masih sering menguji sabar papah, masih banyak luputnya-banyak maunya, tapi papah bilang papah sudah bahagia sama mamah (peluuuuk,,,yah yah meweek deeh). Semoga kita berdua saling menjaga “Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi. Wallahu Waliyut Taufiq” dalam apapun keadaan kita. Semoga Allah pertemukan kita lagi nanti di surganya.

Sehidup, Sesurga bersamamu

Istrimu, Mamahnya Ittaqi & Ibraa