Besar perkara tak bisa bertanya.
Sebenarnya diri ini mau kemana. Tujuan hidupnya apa. Mau menjadi apa. Mau melakukan apa.
Sekedar bertanya namun tak pernah menanya. Tiba-tiba tersentak satu minggu berlalu begitu saja.
Bangun, Ben.
Besar perkara tak bisa bertanya.
Sebenarnya diri ini mau kemana. Tujuan hidupnya apa. Mau menjadi apa. Mau melakukan apa.
Sekedar bertanya namun tak pernah menanya. Tiba-tiba tersentak satu minggu berlalu begitu saja.
Bangun, Ben.
Hampir setahun ini, di 2022, ada banyak hal yang terjadi dan dialami.
Akhir tahun beberapa hari lagi, dan tak lama setelah itu, usia menginjak 39.
Waktu dimana refleksi mengingat diri.
Tapi apa daya saya lupa siapa diri.
Bukan kali pertama saya mendengar ketika sore itu ada teman sejawat yang menyebut saya pembangkang. Terlebih ketika dia mengatakan saya tidak punya catatan sejarah yang baik ketika berurusan dengan pimpinan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI); pembangkang/pem·bang·kang/ n 1 orang yang melawan (perintah dan sebagainya); 2 orang yang merintangi kemajuan; 3 penentang; penyanggah.
1 orang yang melawan (perintah dan sebagainya). Benar adanya. Saya seringkali kesulitan menahan diri untuk tidak melawan perintah dari orang lain ketika saya merasakan bahwa apa yang diperintahkan itu bertentangan dengan norma umum dan peraturan yang berlaku. Terlebih jika perintah itu semata hanya untuk kepentingan pribadi semata dari sang pemberi perintah.
2 orang yang merintangi kemajuan. Entahlah. Karena sepertinya saya dan sang pemberi perintah punya perbedaan mendasar memahami apa itu kemajuan. Terutama jika sang pemberi perintah mendasarkan kemajuan itu adalah yang menguntungkan kepentingannya semata, bukan kemajuan semua.
3 penentang; penyanggah. Benar adanya. Juga benar adanya. Tapi satu catatan. Saya sebenarnya jarang menentang atau membantah ketika perihal itu hanya terjadi pada diri sendiri. Acapkali saya menjadi penentang atau penyanggah untuk orang lain. Orang yang tidak punya suara untuk bisa menentang atau menyanggah. Orang yang takut untuk bisa menentang atau menyanggah.
Sampai kapan saya akan seperti ini? Entahlah. Mungkin sampai kita punya pemahaman yang sama tentang apa itu kemajuan.
Baru bulan ke dua di tahun 2022, tapi sudah dua kali pula saya masuk dan di rawat di rumah sakit. Keduanya lima hari. Di sebuah kamar yang sama, yang luasnya mungkin empat atau lima kali ukuran rata-rata kamar kontrakan di Jakarta.
Di kamar rawat itu lah silih berganti dokter dan perawat memberikan jasanya untuk kembali mensehatkan saya. Obat, operasi, hingga fisioterapi saya jalani.
Ketika ada teman yang bertanya, tak jarang di antara mereka ada yang bersuara agar saya mencari pilihan lain saja. Tapi entahlah, saya menurut saja apa yang dokter pinta. Toh saya tidak perlu pusing tentang biaya.
Ya saya tak tersirat khawatir akan biaya.
Yang ada di kepala hanya kesembuhan belakan.
Tak khawatir perihal keluarga. Tak terbeban lepas dari kerja.
Menikmati saja dirawat di sebuah kamar bertahta, sambil santai menonton berita.
Berita sore itu, seorang perempuah paruh baya yang tertangkap hendak asusila. Menjaja diri mengumpulkan uang sejuta untuk menebus biaya ijazah anak tercinta.
Kelu, saya tak tahu harus berbuat apa.
Hari terakhir di tahun 2021.
Begitu banyak cerita selama 365 hari ini dengan beragam label yang bisa disematkan. Salah satunya adalah tahun kegagalan.
Setelah lebih dari sepuluh tahun di tempat saya bekerja saat ini, muncul keinginan untuk mencari tempatan baru. Selama lebih dari sepuluh tahun ini tak terpikir untuk itu. Namun obrolan dengan pasangan, dan juga beberapa orang di lingkar dekat, membuat saya tergerak untuk untuk membuka diri terhadap peluang di dunia yang baru. Satu frasa karena keinginan untuk mencari tantangan baru karena memang sudah cukup lama saya bergumul dengan rutinitas yang sama. Frasa lain untuk sekedar menguji diri, apakah cukup berharga untuk ditanggapi di luar sana.
Membuka mata dan hati terhadap kemungkinan baru, selama setahun ini tiga yang saya coba raih, dua datang menghampiri.
Tiga yang saya coba raih.
Yang pertama terhenti seketika. Cerita saya bahkan tak cukup menarik buat mereka baca. Hanya beberapa hari sejak saya sampaikan lamaran, sebuah notifikasi datang untuk menghentikan asa. Saya gagal.
Yang kedua, cukup menarik mungkin hingga saya dipanggil untuk mengikuti ujian tertulis. Lama tak terdengar kabar, hingga satu waktu saya membaca berita bahwa mereka mencari kandidat tambahan. Peluang mungkin masih ada, tapi terlalu tipis untuk berharap. Jadi ya sudahlah. Saya gagal lagi.
Yang ketiga juga akhirnya selesai. Perjalanan saya setelah beberapa langkah terhenti ketika sebuah surat elektronik menyapa dan berkata, pencarian mereka sudah selesai dan itu bukan buat saya. Saya gagal kembali.
Saat ini saya punya pekerjaan yang baik, tentang hal yang saya sukai, dan mencukupi secara ekonomi. Jadi mungkin tak seperti cerita kebanyakan, kegagalan ini tak menghentikan dunia saya.
Tapi tetap tak bisa berdusta betapa ini cukup menyiksa. Lebih dari sepuluh tahun bekerja, cukup untuk membuat saya berpikir saya saya tahu segalanya, saya tahu semua orang dan semua orang tahu saya. Lebih dari sepuluh tahun berkarya, cukup untuk membuat saya berpikir bahwa saya adalah orang yang paling sesuai dengan apa yang dideskripsikan di tiga peluang kerja tadi.
Tapi nyatanya tidak. Ternyata saya tidak sebegitunya. Saya gagal menjadi.
Dua datang mengampiri.
Satunya dari negeri seberang sana. Tak terduga jika ini pintu terbuka. Dan cukup membuat saya bergelora. Dunia yang berbeda, tapi dengan gairah yang luar biasa. Begitu jumawa melihat si empu terpesona akan saya. Tapi setelah beberapa langkah, ternyata ada yang lebih luar biasa. Sehingga akhirnya juga selesai. Saya gagal menepi.
Satunya lagi dari halaman negeri sendiri. Membuka lebar gerbangnya untuk saya berbakti, mengabdikan ilmu untuk negeri. Begitu bergelora disambut dengan tangan terbuka. Namun ternyata saya yang gamang jadinya. Hingga di hari terakhir tahun ini, tak jua saya bisa menetapkan diri. Saya gagal sendiri.
Hari terakhir di tahun 2021.
Ketika saya menyadari bahwa kegagalan sebenarnya itu akan terjadi ketika saya tak upaya memperbaiki diri dari kegagalan ini.
2021, terima-kasih atas semua kegagalan yang kau beri.
Tahun 1998 atau 1999. Tak ingat persis saya waktunya. Entah kelas 1 atau 2 SMA kala itu. Tak ingat juga. Yang saya ingat hanya ruangan kelas yang terasa hening dan berhenti bergerak ketika abang saya datang dan mengabarkan kalau nenek sudah tiada.
Abang saya datang mengabarkan langsung, tuk mengajak saya pulang langsung, tuk menegaskan pelukannya agar saya bisa menangis langsung, karena dia tau berapa dekat hubungan saya dengan si nenek, langsung.
Saya tak ingat apakah memang ada air mata yang jatuh akhirnya. Kalaupun ada, itu bukanlah air mata sedih. Nenek pernah berpesan, Allah Maha Baik. Dan dalam baik itu lah Allah memanggil nenek menemui-Nya.
Lebih dari dua puluh tahun berlalu.
Kali ini saya ingat semuanya secara jelas. Hari Minggu, 13 Desember 2020, jam setengah 11 malam. Telepon singkat dari abang mengabarkan kalau papa sudah tiada. Saya sampaikan ke istri yang sedang menemani dua anak laki-laki kami tidur.
Tak lama saya berkemas, mengatur perjalanan pulang dengan pesawat paling pagi.
Perjalanan pulang itu sendiri, karena kondisi pandemi tak keburu rasanya untuk keluarga juga serta, tapi tak apa karena saya tau mereka akan menemani perjalanan ini.
Saya ingat, di perjalanan, saya bercerita ke istri, saya tak tahu apakah saya perlu menangis, kapan saya harus menangis. Hatimu tahu kapan itu, jawabnya.
Sebagai anak ketujuh, bisa dibilang hubungan saya dengan papa cukup berbeda dengan hubungan kakak-kakak dengan papa. Saya dan papa terikat erat dengan segala perbedaannya. Setengah umur saya saat ini saya di rumah tumbuh dalam gerak dan dekapan papa, dan setengah umur saya saat ini saya jauh berkelana dalam iringan doa dan mimpi papa.
Saya ingat, air mata saya tumpah begitu saya memeluk tubuh kaku papa, hingga mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.
Tapi itu bukanlah air mata sedih.
Papa selalu berpesan, Allah Maha Baik.
Dan dalam baik itu lah Allah memanggil papa menemui-Nya.
Allah SWT sungguh Maha Baik.
Rumah, Jakarta.
Sewaktu kecil, saya tidak pernah terpikir akan bagaimana hidup saya kelak. Mungkin pernah, tapi tak saya ingat sekarang. Bukan sekedar tentang gumanan cita-cita atau menjadi apa, tetapi tentang hidup seperti apa yang akan saya jalani. Semuanya dijalani seakan sepenuhnya tentang hari ini.
Semuanya berjalan dengan baik tanpa rencana. Bukannya tanpa drama atau lika-liku suka dan duka, tetapi saya rasa tak cukup menarik untuk menjadi sebuah skenario film yang akan ditonton jutaan orang di layar.
Dengan segala canda-Nya, saya diselimuti karunia yang tak terhingga.
Januari ini, usia 36.
Kala dimana saya tertegun tentang sejauh apa hidup saya. Merunut garis menelusuri jejak, menghitung apa yang telah diberi.
Berkata angka, rasa-rasanya yang saya lakukan hanyalah 3, tetapi diberi 6, dan tak jarang juga 3+6, 3×6, 36x, dan entah berapa kalinya.
Saya merasa kaya. Saya begitu bergelimang akan kasih-Nya.
Sebuah keluarga yang meneduhkan hati setiap waktunya; istri dan dua laki-laki kecil bernama Bumi dan Damai, dalam kehidupan yang memberikan saya kesempatan untuk menjadi manusia.
Allah SWT sungguh Maha Baik.
Tak pantas dan tak kuasa dihitung sebenarnya, karena tak ada satupun nikmat-Nya yang bisa saya dustakan.
Tidaklah saya diberi usia selain untuk menyembah-Nya.
36, Bismillah.
Silom, Bangkok, Thailand.
Istri yang selalu membuat saya merasa damai, anak yang selalu membuat saya bahagia. Dan sekarang, Insya Allah kita menantikan yang kedua – anak kedua tentu saja, bukan istri – kebahagian ini terus saja ditambah dan disempurnakan Allah setiap waktunya.
Allah SWT sungguh Maha Baik.
Neemli, Rajasthan, India
Sungguh saya menikmati sekali dengan adanya jasa layanan ojek yang bisa dipesan dari telepon genggam. Murah, ini tentu saja kriteria pertama dan utama buat saya. Jadilah hampir setiap hari saya memakai jasa ojek on-line ini setiap sore, dari halte TransJakarta ke rumah. Tarifnya hanya sembilan ribu rupiah, langsung sampai dan cepat.
Dengan angkot, saya masih harus lanjut berjalan sekitar satu kilo meter. Dan sialnya, karena tahu di angkot akan lama, biasanya ini jadi pembenaran buat saya beli gorengan terlebih dahulu – biar bisa ngemil mengurangi stress terjebak kemacetan di angkot. Setelah turun angkot pun, saya masih harus lanjut berjalan sekitar satu kilo meter menuju rumah. Dan lagi-lagi, tergoda untuk beli gorengan – yang kebetulan juga pas ada di dekat saya biasa turun angkot. Makan gorengan tentu saja bikin haus, dan ada Alfamart di sebelahnya. Alhasil, walaupun ongkos angkot cuma empat ribu, tetapi sekali perjalanan sore bisa menghabiskan hingga dua puluh ribu rupiah. Continue reading “Individu Baik”
Saya sempat menjadi penggemar kursi di dekat jendela, setiap kali ada kesempatan naik pesawat terbang. Rasanya luar biasa sekali bisa melihat bagaimana bandara dan rumah-rumah semakin lama semakin terlihat kecil, bahkan satu kota atau satu pulau (yang kecil tentunya) bisa terlihat secara keseluruhan dari atas, hingga terus berlalu hilang terhalang awan. Melihat awan dan langit juga rasanya menyenangkan sekali. Walau cuma seperti tumpukan kapas putih ataupun layar biru tak berujung, tapi tak jemu rasanya memandang sepanjang penerbangan.
Hingga masa dimana, terkait pekerjaan, penerbangan menjadi hal yang rutin, dan pilihan pun beralih ke kursi di pinggir koridor. Tidak harus membangunkan orang di sebelah jika saya harus ke kamar kecil, gampang menyampa pramugari untuk meminta segelas air ataupun meminjam balpoin, namun yang utama adalah karena saya ingin jadi yang terakhir naik pesawat, namun bisa awal turunnya sehingga bisa bergegas langsung ke hotel tempat kegiatan pekerjaan, atau saat pulang agar bisa segera berlalu ke rumah.
Satu bulan terakhir, pekerjaan membawa saya bepergian cukup sering. Sempat dalam satu minggu, mengunjungi lima negara. Setiap kali check-in, pilihannya adalah kursi di koridor bagian depan, agar bisa cepat turun. Selalu.
Hingga pada penerbangan dua hari yang lalu dari Singapura ke Bangkok, saya mengiyakan saja ketika sang petugas check-in menawarkan kursi di dekat jendela. Dua puluh menit dari lepas landas, pesawat sudah berada pada ketinggian yang cukup, sehingga yang terlihat hanya dataran awan. Sejatinya, saya ingin memejamkan mata sejenak, mencuri-curi waktu untuk bisa beristirahat. Namun, suara renyah si anak kecil di sebelah mengurungkan niat saya. Si anak yang duduk di kursi tengah, di samping Ibunya, berusaha melongok mencoba melihat ke luar jendela.
“Kok kayak ga gerak pesawatnya, Ma? Padahal sebenarnya kita lagi melaju kencang ya kan” tanya sang anak penasaran.
Seperti tak bergerak, padahal melaju kencang?
Entah bagaimana, frasa ini seperti melayang di otak. Sambil memandang ke luar jendela, rasanya memang pesawat ini tak bergerak sama sekali. Stagnan, seperti hidup. Ya, seperti hidup ini saya rasa. Tapi ini mungkin karena saya memandangnya dari kursi saya duduk saat ini. Coba jika dari bawah, pesawat saya berlalu dengan sangat kencang. Ya, seperti hidup ini saya rasa. Ketika kita merasa hidup stagnan, bias jadi dari sudut orang lain di sana, kita melaju kencang.
Tak ada yang perlu dilakukan selain bersyukur.