Ini adalah hari keempat aku berada di Bukoba. Masih hari keempat tapi capeknya luar biasa, mungkin ini sisa-sisa keletihan dari perjalanan panjang dari Indonesia yang belum terbayarkan, ditambah lagi badan yang dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu yang cukup signifikan, kalau di Indonesia pukul 9 malam, di Tanzania masih pukul 5 sore. Pukul 10 di Indonesia biasanya aku sudah tidur. Tapi ini enggak. Tak heran aku rajin menguap di sore bolong, yah..tuntutan biologis. Tapi bagaimanapun harus bisa menyesuaikan kalau tidak mau sebelas bulan di Tanzania berlalu dengan sia-sia. Untungnya makanan disini mirip di Indonesia, meskipun agak aneh makan nasi berlaukkan pisang rebus, dan sayur kuah kacang. Tapi di hari berikutnya, ada nasi, sayur rebus, terung dimasak pakai paprika, dan…..jeng jeng jeng jeng mereka punya ikan teri. Jadi, walaupun capek, badan gak jadi sakit karena kehilangan nafsu makan.
Mengenai cuaca di Bukoba hampir mirip dengan cuaca di Indonesia. Panas-panas berangin kayak di pantai, tapi emang bener soalnya Bukoba letaknya di pinggir Danau Victoria.
Tinggal di tepi danau jadi point penting, karena setiap kali merasa capek aku bisa motong jalan lewat pinggir danau sekalian buang suntuk. Kadang kalau tiba di kantor, sepatuku berisi pasir, hehehe.
Aku tinggal berdua bersama Elena, worker-nya Tumaini yang bertugas bersih-bersih. Tadinya aku hampir tinggal di rumah sendirian, tapi karena aku belum berani jadi Elena tinggal sementara. Elena orangnya sangat ramah, suka tertawa, dan banyak bicara. Tapi sayangnya aku belum lancar bahasa Kiswahili, sedangkan Elena cuma bisa bahasa Kiswahili, so bisa dibayangkan setiap kali mau bilang sesuatu ke dia aku harus mikir lamaaaa, lihat kamus, dan seringnya hanya pakai bahasa isyarat, hahaha. Mati aku.
Untungnya sister Adventina sangat perhatian. Dia mengutus seseorang (ceilaaah mengutus) untuk mengajariku Kiswahili yang tak lain adalah worker Tumaini juga. Savinus Mbanga.
Kami belajar Kiswahili setelah jam kantor, pukul 3.30 sampai pukul 4.30.
Mengenai bahasa Kiswahili itu sendiri, sebenarnya pronunciationnya hampir sama dengan penulisannya, yang menyulitkan adalah aku harus mengahapal kata-kata yang sama sekali masih baru bagiku, dan bayangkan berapa banyak kata..
Tapi harus dilakukan kalau tak mau satu tahun di Tanzania berlalu dengan sia-sia.
Untuk kegiatan, kami mengunjungi anak-anak Tumaini center, follow up mereka, dan mengunjungi keluarga mereka. Follow up maksudnya, melihat kondisi mereka, apa permasalahan mereka hari ini, apakah ada yang sedang mereka butuhkan atau keluarga mereka butuhkan, seperti beras, sabun, bubuk teh, gula, dsb. Susah dijelaskan kondisi mereka walaupun semua anak memiliki masalah yang hampir sama. Kemiskinan, ditinggal mati kedua orang tua. Ada beberapa diantara mereka yang hidupnya enggak miskin-miskin amat tapi meninggalkan rumah karena katanya mereka tidak betah dengan orangtua tiri mereka. Mereka yakin dengan pergi ke kota mereka bisa mendapatkan duit atau makanan. Contoh nya hari ini kami turun ke jalan, Maiko, Neema, dan aku. Kami menemukan ‘pendatang baru’. Maiko yang bilang kalau kedua anak itu pendatang baru, dia sudah terbiasa membedakan pendatang baru dan yang tidak. Sementara aku tidak habis pikir kok bisa anak sekecil mereka bisa kepikiran meninggalkan rumah sementara tempat yang mereka tinggalkan itu jauh. Meskipun aku pernah melihat anak jalanan di Indonesia tapi sepertinya kasusnya berbeda dengan yang disini.
Permasalahan anak-anak rumit karena setelah dipulangkan ke rumah orangtua mereka, mereka kembali lagi ke jalan. Atau, sepulang sekolah (Tumaini menyekolahkan mereka) beberapa dari mereka kembali ke jalan, kalau sudah waktunya makan siang mereka kembali ke Tumaini center.
Inilah misi Tumaini center, menjadi rumah sementara bagi anak-anak jalanan, mengadakan seminar/penyuluhan untuk mereka, menyekolahkan dan menyediakan kebutuhan sekolah mereka, menyediakan seragam sekolah mereka, sebisa mungkin menyediakan kebutuhan pangan keluarga mereka sampai mereka sudah dirasa siap untuk kembali ke orangtua mereka.
Victoria lake, view from my nyumbani in Bukoba
Elena





