Usai sholat Subuh. Saya melipat mukena. Bergegas ke belakang rumah, mengambil tangga sederhana terbuat dari kayu dan meletakannya di dinding. Dengan cekatan, saya menaiki anak tangga, sampai di atas atap, saya melihat ke langit. Mata saya terus mengamati langit, mencari ‘tanda’ yang terlihat agar dapat ‘terbaca’. Pesan apa kali ini?
Tanda itu datang! kali ini petir kecil melesat ke Utara. Setelah petir itu menghilang. Sayapun memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk mengetahui jawabannya. Saya ‘melihat’ rumah minimalis berlantai dua berpagar coklat. Rumah itu hanya dua blok dari rumah saya. Pemiliknya seorang wanita, saya tidak tahu namanya karena dia baru pindah sekitar 2 minggu. Mata saya terkesiap. Saya ‘melihat’ sekuntum mawar bersimbah darah, sesuatu yang mengerikan akan terjadi atas dirinya. Sayapun membuka mata, dan segera turun dan langsung masuk kamar. Tertidur.
Saya terbangun karena suara keras dari tivi di ruang tengah. Saya membuka pintu kamar sambil berkata setengah berteriak, “Tolong suara tivinya dikecilin” Saya tersadar, saya sendirian di rumah. Saya keluar kamar dan meraih remote TV dari atas meja. Ketika ingin mematikan TV, tenggorokan saya tercekat. Saya terpana di depan TV. Telah ditemukan mayat wanita muda. Dia tinggal dekat rumah saya. Terbunuh. Pembunuhnya meninggalkan setangkai mawar merah dekat mayatnya.