(Oleh Bintangrina )
Malam ini dari kamar indekosannya yang baru ia mendengar lagi lagu lama yang meninggalkan kesan yang dalam di hatinya.Bukan dari radio atau TV melainkan dari warung kopi dan mie rebus yang ada di seberang rumah indekosannya. Penyanyinya Sutarji ,anak angkat pemilik warung . Dia bernyanyi sambil bermain gitar.
“Ternyata masih ada juga yang menyanyikannya. “ pikirnya dan membiarkan lamunannya hanyut mengikuti irama lagu tadi dari kamarnya yang sunyi.
“Terlalu indah untuk di lupa ,Terlalu sedih untuk di kenang
“Setelah jauh aku berjalan…….
Penghayatan atas lirik lagu KoesPlus itu telah mengembalikan ingatannya ke masa remajanya yang terlalu cepat ditinggalkan dengan cara menyakitkan dan mempermalukan orang tuanya.
Hidupnya mulai kacau ketika dia baru lulus SMA dengan nilai pas-pasan.
“Dengan nilai kelulusan pas-pasan seperti itu seharusnya kau tahu diri !” kata ayahnya menahan marah kepada Rosita ,anak gadisnya , yang ingin kuliah.Tetapi sang anak tidak terpengaruh oleh ejekan dan kejengkelan bapaknya ,dan tetap memaksa orang tuanya agar dirinya bisa meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Akhirnya orang tuanya menuruti tuntutan anaknya karena ancaman kabur sang anak .
Rosita kemudian memang bisa kuliah walaupun hanya di perguruan tinggi Abal-Abal alias perguruan tinggi tak berijin. Orang tuanya tak tahu , tak perduli dan tak penting. Yang penting anaknya tidak benar-benar minggat. Untuk itu ia telah berhutang banyak ke pemilik bengkel di mana dia bekerja. Rosita yang mengetahui tentang hutang bapaknya dan tentang universitas abal-abal juga tidak perduli dan tidak penting. Bisa menyandang atribut mahasiswi itulah yang terpenting. Dengan sebutan mahasiswi ia berkhayal bisa nampang, bisa sering pesta-pesta dan bernyanyi. Itu keinginannya sejak SMA . Ia suka pesta senang bernyanyi dan suaranya di akui oleh teman-temannya memang bagus.
Tetapi baru satu setengah tahun kuliah dan belum terkenal sebagai mahasiswi cantik dan bersuara merdu , ia harus mengalami kekecewaan karena pesta-pesta atau makan-makan di restauran mewah yang pernah di impi-impikan belum juga dialami.Masalahnya bukan kemewahannya yang tidak ada ,melainkan karena ia tak di ajak teman-temannya.
Di kampus universitas “Abal-abal” itu hanya mahasiswa anak orang super kaya saja yang bisa menjadi anggauta – Geng Pelangi Citra – Konon dengan iuran bulanan sekian ratus ribu rupiah, dan mempunyai mobil pribadi , seseorang baru bisa makan-makan mewah serta malam mingguan di klub malam terkenal. Sedangkan Rosita hanya mahasiswi kelas teri, dengan make-up wajah sekedarnya dan kalau ke Mall harus naik angkot atau bergelantungan di bus kota . Tentu saja dengan kondisi semacam itu ia tidak pernah mampir ke kafe ,minum coffe latte serta menggigit hamburger.
Tetapi faktor yang memperparah dan mempercepat dirinya meninggalkan kuliahnya ada di luar itu semua. Ia telah hamil di luar nikah. Pacarnya yang kaya, gagah dan anggauta Grup Pelangi Citra langsung berganti pacar tanpa merasa bertanggung jawab ketika tahu bahwa dirinya telah membuat Rosita hamil. Malahan si pacar dengan sikap pongah mengatakan bahwa sejak semula ia tidak pernah menyukai Rosita . Kalau Rosita atau siapapun tidak terima dan mau berperkara ke Pengadilan atau bahkan ke grup Preman ganas silakan saja.
“Paling-paling saya harus membayar sedikit uang dan mencarikan lelaki yang mau mengakui anak yang ada di dalam perutmu, yang belum tentu anakku !” katanya sinis.
Itulah saat-saat yang paling membuat dirinya sangat tidak berharga, dan di waktu itulah ia menyadari bahwa dirinya memang anak keluarga miskin bapaknya hanya montir bengkel biasa.
Kalau semula Rosita berhasil menekan orang tuanya dengan ancaman kuliah atau kabur, setelah dirinya hamil maka kini orang tuanya ganti mengancam “Pergi dan tak usah kembali” kecuali melunasi semua hutang-hutang orang tuanya. Impian tentang dunia mewah berbuah penyesalan.
Suara letusan yang keras di jalanan mengejutkan dan membuyarkan lamunannya. Rosi bergegas bangkit dan melongok keluar lewat jendela. Terdengar celoteh bercampur makian lalu di jalanan tampak dua orang mendorong sepeda motor menepi.Sepeda motor tukang ojek yang sedang melintas tiba-tiba pecah ban menimbulkan suara letusan. Hanya itu. Setelah tahu duduk persoalannya Rosi kembali menutup jendela dan tidur.
Keesokan harinya dengan lesu ia berangkat kerja. Kesibukan Mall yang meningkat membuatnya lupa akan kegelisahannya. Namun sore hari menjelang pulang kegelisahannya datang lagi. Teman lelaki yang baru dikenalnya minggu lalu , yang menjemput dirinya dengan motor bebeknya ditolak secara halus.
“Mengapa ?”
“Karena aku sedang ingin sendiri.” jawab Rosita datar.
“Sampai kapan ?”
Rosita hanya mengangkat bahunya.
Petang hari setelah makan malam Rosi ke kios di ujung jalan untuk membeli beberapa keperluan. Pulangnya bertemu Sutarji ,anak lelaki yang bermain gitar hampir setiap malam . Karena rumahnya ada di depan pondokan Rosi maka otomatis mereka berjalan pulang bersama.
“Tak kuduga kau pandai bernyanyi dan bermain gitar .” Rosita menyapanya.
“Ah hanya beberapa lagu saja. Aku suka lagu yang mudah dinyanyikan juga genjrengan gitarnya sederhana. Cocok untuk ngamen di bus.”
“Lagu apa saja yang kau senangi ?”
“Beberapa lagunya KusPlus , dan lagu yang dipopulerkan lagi oleh Meriam Belina, terutama lagu – Untuk sebuah nama.”
“Tetapi caramu bernyanyi dan memetik gitar terasa sekali bahwa kau sangat menghayati lagunya. Apalagi kalau itu lagunya KusPlus maka, sangat jelas kalau kau menghayati isi lagu itu.Tidak heran kau berulang-ulang menyanyikannya.
“Rupanya Kakak bosan ya mendengarnya ?”
“Tidak! tidak demikian. Sebaliknya aku suka. Kau tahu kan aku baru tiga bulan indekos disini, yang membuatku betah disini antara lain adalah lagu-lagu yang kau nyanyikan hampir setiap malam. Dan caramu bernyanyi juga bagus.!” Rosi buru-buru menjelaskan dengan jujur agar Tarji tak salah paham.
“Aku menyukai lagu itu karena lagu itu adalah lagu pertama yang bisa kunyanyikan sambil main gitar.” Tarji menjelaskan.
“Siapa yang mengajarimu bernyanyi ?”
“Teman-teman sesama pengamen dan kakak-kakak LSM di Rumah singgah.” Tarji menjelaskan dan meneruskan “Tetapi Emak yang memberi tahu cara bernyanyi yang baik.”
“ Berarti Emakmu ibu yang baik. Tetapi aku tak pernah melihatnya. di mana dia sekarang ?” tanya Rosi . Setelah itu ia menyesal telah menanyakan emaknya, karena ia telah mendengar cerita bahwa emaknya pergi entah kemana.
“Kata Abah Ocim emak pergi jauh. Entah ke mana dan dimana” Tarji menjawab jujur.
“Suatu saat ia pasti akan mencarimu Ji .” Rosi menghibur dan hatinya ikut resah.
“ Abah Ocim juga berkata demikian. Malahan kata Abah kalau saya menyanyikan lagu kesenangan emak maka Tuhan pasti akan menyampaikan perasaanku kepada Emak !”
“Apakah itu juga lagu kesenangan Emakmu ? Itu lagu sudah lama sekali.”
“Ya . Emak paling bangga kalau aku menyanyikan lagu itu. Tetapi Emak sekarang ada di mana aku tak tahu. “ Sutarji galau.
“Kupikir pendapat Abah Ocim benar. Tuhan pasti akan menyampaikan rasa rindumu kepada Emakmu lewat lagumu sampai suatu hari,entah kapan, di saat yang tepat ia datang untukmu !” Rosita menjawab dengan perasaan tersendat menahan kesedihan karena saat itu Rosita ingat anaknya yang juga terpaksa ditinggal.
“Sampai disini kita berpisah. Kau belok kiri aku ke kanan. Daaag.” Rosi pamit
Sesampainya di kamar Rosi langsung merebahkan dirinya ke tempat tidurnya. Tak lama kemudian telinganya mendengar lagi lalu lama itu yang dinyanyikan dengan apiknya oleh Sutarji Lagunya KusPlus yang senantiasa menghanyutkan kenangannya ke masa-masa yang mengaduk-aduk jiwanya.
Terlalu indah untuk di lupa,
Terlalu sedih untuk di kenang.
Setelah jauh aku berjalan…………..
Dipeluknya gulingnya erat-erat untuk melupakannya. Semua menjadi kacau gara-gara perilakunya yang hanya memenangkan rasa amarahnya karena dihianati oleh pacarnya.
“ Kini anakku berumur 3 tahun. Kukira ia pasti cantik karena aku ibu kandungnya cantik, dan juga pasti bersuara bagus.Tetapi di mana dia. Aku selalu merindukannya .” keluhnya dalam hati sambil menutup wajahnya dengan bantal.Tanpa dikehendaki kenangan lain yang paling menyedihkan muncul lagi.
Hari itu adalah hari yang paling mengguncangkan seluruh jasmani dan rokhaninya. Anaknya perempuan,lahirnya lancar beratnya 3 Kg lebih sedikit . Ia sempat menyusui sampai tujuh hari lalu ia harus berpisah karena anaknya ada yang mengadobsi. Waktu itu ia tak bisa berpikir atau berkata apa-apa. Ia dalam keadaan yang sangat asing bukan saja dengan pengalaman melahirkan yang pertama , dan tempat di mana dia melahirkan, tetapi juga orang-orang yang menolong dan membantu mencarikan bidan dan terutama sepasang manusia yang akan langsung mengadobsi bayinya. Ia benar-benar kacau dan tak tahu harus bagaimana. Ia hanya ingat salah seorang familinya mengatakan bahwa bayinya perempuan cantik dan di pangkal tengkuknya yang sebelah kiri belakang si bayi ada tahi lalat sebesar biji kedelai warnanya hitam. Hanya itu yang diingatnya. Setelah itu sampai hari ini ia tidak pernah melihat anaknya lagi. Kalau menurut kata orang yang mengadobsi anaknya waktu itu, konon sebulan paling lama dua bulan setelah ia melahirkan ia akan melupakan bayinya , seperti cerita para gadis yang mengalami nasib sama dengan dirinya.
Sampai seberapa jauh ia bisa merasakan kebenaran ucapan itu ia tak pernah tahu soalnya sampai saat ini ia tak bisa melupakan anaknya. Rosita memang tidak terlalu merindukan si bayi, tetapi ia juga tidak bisa melupakannya. Ia mengira bahwa waktu akan menyembuhkan segala-galanya, termasuk melupakan bayinya. Tetapi kapan itu ? Ia sering berandai-andai ,andaikata ia yang merawatnya kira-kira sudah seberapa besar anaknya kini.
Seharusnya berbagai pertanyaan di atas bisa membuat dirinya menjadi pemurung atau temperamental seperti kata beberapa orang. Tetapi nyatanya malah sebaliknya. Ia menjadi wanita yang ramah, suka menolong dan membantu orang lain baik diminta maupun tidak .Pokoknya secara perilaku ia menjadi lebih baik. Juga kebiasaannya bercanda dan suka bernyanyi tidak hilang, malahan bakatnya di rawat dengan baik-baik. Perubahan itu tak terjadi secara otomatis, melainkan berkat sebuah buku yang di ketemukan ketika ia sedang membersihkan calon kamar indekosannya yang baru. Ia menemukan sebuah buku catatan entah milik siapa , yang pasti milik anak yang pernah indekos disini.Seperti bukunya anak kuliahan.
Buku itu sudah lusuh dan kumal terselip di pojok antara ranjang kayu dan tembok. Tetapi yang luar biasa buku kumal tadi berisi semacam petunjuk atau nasihat budi pekerti utama yang tidak menggurui , tetapi cukup kuat memacu dirinya mau mempraktekkannya dalam perilaku sehari-hari. Berkat isi buku tadi Rosita mampu bangkit dari frustasinya Selanjutnya walaupun ia akhirnya berpindah-pindah indekosan demi mendekati tempat kerjanya , buku kumal tadi tetap dibawa dan dibacanya berulang-ulang.
Suatu sore ketika Rosita sedang berebut menunggu angkot yang akan membawanya pulang tiba-tiba terdengar klakson di bunyikan berulang-ulang dari truck mini bak terbuka dan di sela-sela suara klakson itu terdengar namanya dipanggil-panggil bunyinya keras mengalahkan kenek angkot yang juga sedang berteriak-teriak mencari penumpang. Mula-mula Rosita kurang menghiraukan walaupun namanya dipanggil-panggil karena yang memanggil biasanya para kenek angkot yang sudah kenal dan menawarkan angkotnya. Setelah si sopir menjulurkan kepalanya ke jendela lebih panjang sambil terus memanggil panggil namanya , Rosita baru tahu bahwa sopir truck tadi memang memanggil dirinya. Lalu dengan bergegas Rosita mendatangi sopir tadi.
“Tarji ? apa kau memanggilku ….?”
“Betul ! Cepat naik Kak !” kata Tarji lebih keras
“Kemana ….?,kan ini sudah sore dan saya harus segera pulang. Saya capai Ji !”
“Saya juga mau pulang !Ayo cepat naik. Tuh di belakang sopir angkot pada marah karena saya berhenti disini . Cepat naik Kak !” begitu Rosita naik,tanpa menunggu pintu di tutup truck mini berangkat.
“Kak Ros kemana saja sudah sebulan tidak terlihat. Menurut Mbah Surip kakak menginap di rumah temannya. “ tanya Tarji sambil mengendalikan truck mininya.
“ Betul ! Saya diminta teman membantu menyelesaikan persoalan pacarnya dan sekaligus dapat order bernyanyi di sebuah café . Lumayan untuk menambah penghasilan . Kini sudah selesai.” Rosita berkata sambil menengok ke belakang, dan menggelengkan kepalanya kearah kenek angkot yang kecewa karena penumpangnya naik truck mini.
Tarji anak tetangga yang umurnya baru sekitar 20 tahun ini sangat dekat dengannya. Selama ini apapun yang dibicarakan dengannya selalu bersuasana riang.
“Bagaimana keadaan Abah ? Katanya emakmu datang . Kau pasti senang sekali !” tanya Rosita dengan wajah cerah. Entah kenapa asal berbicara dengan Sutarji suasana hati Rosita selalu merasa ringan . Mungkin karena Ia sangat simpati kepada nasib sutarji yang di perlakukan kurang manusiawi justru oleh ibu kandungnya.Suatu peristiwa yang jarang terjadi.
“Itulah yang ingin saya ceritakan kepada Kak Ros. Malahan seminggu yang lalu Abah dan Emak resmi menikah . Ternyata benar apa yang dikatakan oleh para tetangga. Abah dan Emak sudah lama saling jatuh cinta..” Sutarji bercerita sambil tertawa aneh dan membuang muka.
“Mengapa kau tertawa ?”
“Ah tidak. “ kata Tarji sambil cengar-cengir. Karena penasaran Rosita terus mengejar dengan pertanyaan yang sama. Setelah diulang beberapa kali dengan wajah serius akhirnya sambil terus tertawa Sutarji bertanya kepada Rosita apakah Emaknya nanti akan hamil dan mempunyai bayi lagi . Pertanyaan itu mau tak mau juga membuat Rosita tertawa tertahan, membayangkan emaknya Tarji hamil dan Abah yang sudah kakek-kakek akan menjadi ayah lagi. Padahal Rosita belum pernah melihat emaknya Tarji. Rosita akhirnya tidak menjawab hanya tertawa. Tarji juga tidak berharap ada jawabannya , soalnya Tarji tahu jawabnya memang tidak ada . Di pikiran pemuda yang baru gede pernikahan dan percintaan orang tua adalah ganjil dan lucu.
“ Kalau nanti Kak Ros ke rumahku pasti kaget soalnya penghuninya bertambah lagi. Jadi makin ramai lagi sekarang, bukan soal langganan saja , melainkan juga paman Santo datang bersama anaknya yang berumur 3 tahun.”
“Rumahmu benar-benar ramai. Tuh kelihatan dari sini.” Rosita berkata sambil turun dari truck.
“ Terima kasih atas jemputannya. Besok saya bisa berkenalan dengan Emakmu dan keluarga Mang Santo.”
“Jadi malam ini Kak Ros belum mengunjungi emakku ?”
“ Belum soalnya malam ini aku harus mencuci pakaianku yang sudah menumpuk.Pokoknya besok pagi aku akan kesana bertemu dengan emakmu dan juga keluarga pamanmu. Daaag!”
Keesokan harinya setelah sarapan dan selesai menjemur pakaian, Rosita ke warung. Sutarji jelas sudah berangkat ke toko material. Sesampainya disana hanya ada dua lelaki dan seorang pembeli, Abah dan lelaki muda gagah, dia pasti adiknya Abah. Tak ada seorang wanita pun di sana . Padahal tujuannya kewarung ini ingin berkenalan dengan emaknya Tarji. Suasana warung masih sepi, maklum masih pagi. Rosita disambut ramah oleh Abah . Setelah berbasa basi menanyakan khabar menghilangnya Rosita selama sebulan ini , Abah mengenalkan adiknya kepada Rosita. Sambil berkenalan pandangan mata Rosita menyapu seluruh warung. Yang dicari tidak ada. Ketika Rosita akan melepaskan salamannya dengan Santo ternyata lelaki itu belum melepaskan genggaman tangannya sehingga Rosita terpaksa menatap wajah Santo kemudian ke tangannya yang belum terlepas.Memberi isyarat agar tangannya di lepas.
“Siapa yang kau cari …?” Santo bertanya dengan sorot mata yang tajam.
“Emaknya Tarji di mana Bah ? saya kan belum kenal ?” tanyanya sambil melepas tangannya.
“Ooo dia sudah pergi tadi pagi-pagi sekali, mengantar Ririn ke puskesmas !”
“Siapa Ririn itu ?”
“Dia anak Santo.” kata abah sambil menunjuk ke adiknya yang baru saja berkenalan dan telah kembali ke belakang meja warung melayani pembeli yang memesan mie rebus..
“Anak itu sakit apa ?”
“Yah namanya anak-anak. Dia pasti kelelahan naik bus dari Tanjung Karang.”
“Ya dia pasti kelelahan .” Santo menambahkan. “Perutnya juga kembung.”
“Kasihan sekali. Dari Tanjung Karang ke sini kan jauh.”berhenti sebentar “ Kalau begitu saya pamit dulu Bah . Selain ingin ketemu Emak juga ingin berknalan dengan emaknya Ririn. Nanti sore saya kesini lagi.”
Bersamaan dengan diakhirinya kalimat Rosi, tiba-tiba Abah dan Santo saling pandang. Santo wajahnya pucat.
“Ada apa Bah? Apa yang salah dengan ucapan saya ?”Rosita heran.
“Tidak !…..tidak…..tidak ada yang salah hanya…….” kata Abah sambil menengok adiknya yang tiba-tiba menunduk sambil membuang muka . Ada tangis tertahan.
“Ibunya Ririn telah meninggal dunia tiga bulan yang lalu. Setelah itu Ririn sering rewel.” Abah menjelaskan derita yang harus di hadapi Santo. Setelah itu semua tenggelam dalam sepi.
“Karena di Tanjung Karang tidak mempunyai saudara, dan para tetangga yang ada di sana adalah orang-orang sibuk serta kurang cocok, maka Santo membawa anaknya kemari.
“Permisi dulu Bah dan Bang Santo. Nanti sore akan ke sini lagi. siapa tahu bisa menghibur Ririn.”
“Terima kasih sebelumnya.” Kata Abah dan Santo hampir bersamaan. Sepeninggal Rosita kedua lelaki itu masih diam. Abah membeku dengan pikiran kosong, sedangkan Santo resah.
”Mau kemana kau ?” tanya Abah kepada adiknya
“Membelah kayu ! agar pikiran saya tidak ke mana-mana.”jawab Santo sambil kebelakang warung. Di tempat itu memang banyak potongan-potongan kayu bekas bangunan yang di beli murah oleh Sutarji dan dibawa pulang untuk kayu bakar dapur warung abahnya.
“Hati-hati kayu bongkaran banyak pakunya. Kalau beradu dengan kampak bisa rusak
Sebetulnya bukan hanya Santo saja yang resah Rosita juga demikian. Wanita muda itu hatinya mudah tersentuh setiap kali bicara soal anak kecil . Cerita tentang kematian ibunya Ririn mengingatkan dia akan anaknya , yang kini entah di mana. Kalau kini Ririn tak mempunyai ibu lagi , itu memang kehendak Gusti Allah, akan tetapi perpisahan anak kandungnya dengan dirinya bukanlah kehendak Gusti Allah melainkan karena nafsu pribadinya yang tak ingin bertanggung jawab, yang malu mempunyai anak tanpa pernikahan yang sah. Ia ingat dirinya masih sempat menyusui anaknya dan yakin anaknya juga pasti masih sempat merasakan kasih sayang ibunya .
“Anakku pasti masih bisa merasakan betapa bahagianya tidur dalam pelukanku.” berhenti sebentar. “ Tetapi hanya tujuh hari. Ya Tuhan hanya tujuh hari……Setelah itu ….setelah itu semua dicabut dari dirinya oleh sepasang manusia yang mau mengadobsi bayinya. Kalau dikatakan pasangan yang mengadobsi bayinya itu manusia jahat, maka dirinyalah yang lebih jahat dan kejam sebab di biarkan bayinya di bawa orang lain tanpa perjuangan mempertahankannya, malahan ia mendapatkan uang banyak atas adobsiannya tadi. Konon uang tadi untuk membayar hutang bapaknya kepada pemilik bengkel, ketika dirinya memaksa karena ingin kuliah. Tetapi sampai seberapa jauh kebenarannya ia tak tahu, karena sehabis melahirkan ia tak mau pulang lagi malahan nomor HP nya di ganti sehingga hubungan dengan orang tuanya sama sekali terputus.” Rosita menyesal dan merasa bersalah. Tetapi itu sudah terjadi sekitar hampir tiga tahun yang lalu.
“Anakku seharusnya tidak perlu kehilangan ibu-kandungnya karena ibunya yaitu diriku masih ada. “ Pikiran Rosita kacau. “Duh Gusti Allah ampunilah kebodohanku. Semoga anakku dimana pun dia berada ada dalam asuhan wanita yang penuh kasih sayang.” Doa nya.
“Hai Rosi! kalau bekerja yang benar. Jangan seperti orang melamun begitu ! Begadangnya di café, pestanya di café , tetapi telernya di sini !” kepala regu kerjanya menegur .
“Maaf….sekali lagi maaf !” Rosita geragapan dan memperbaiki kerjanya. Tetapi sampai jam tugasnya berakhir dia tidak pernah bekerja dengan tenang.Pikirannya selalu ingat Ririn, anak 3 tahun yang belum di lihat dan di kenal. Anak itu nasibnya pasti sama dengan anakku
Waktu pulang tiba hatinya senang karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Ririn.Ia akan menyediakan waktunya, hatinya dan jiwanya untuk menghibur Ririn. Ririn akan dianggap sebagai anaknya. Itulah tekadnya.Hatinya bertambah mekar ketika dari tempatnya berdiri ia melihat di seberang jalan tampak Sutarji sedang melambai-lambaikan tangan kepadanya. Pemuda itu naik motor. Itu jelas motor ojek temannya yang dipinjam untuk menjemput dirinya. Entah mengapa Rosita tiba-tiba merasa bahwa Sutarji sengaja datang menjemput dirinya padahal sebelumnya tak ada perjanjian. Agar yakin Rosita bertanya kepada Sutarji ,
“Maaf sebenarnya kau mau kemana atau baru dari mana ?”
“Saya sengaja kesini memang untuk menjemput Kak Ros !”
“Terima kasih sekali. Sepertinya ada yang penting.”
“Bagiku memang ada. karena itu aku menjemput Kak Ros.”
“Coba ceritakan alasanmu .” Rosita mulai gelisah.Dan Sutarji langsung bercerita.
“ Tadi sore Emak sedang mandi dan Ririn masih tidur. “ Tarji mulai bercerita sambil menyetir motornya pelan-pelan. “Rencananya setelah mandi maka emak akan mulai mempersiapkan masak soto kuning sebagai dagangan nanti malam dan besok pagi. Tetapi di luar dugan Ririn yang sedang sakit bangun dan menangis. Tentu saja yang menggendong Mang Santo. Ternyata Ririn terus rewel, walaupun telah digendong oleh emak. Anak 3 tahun itu terus saja menangis padahal sudah diberi susu juga bubur untuk bayi. Dan tak henti-hentinya memanggil-panggil ibunya. Emak, Abah juga Mang Santo terus berusaha menenangkan . Tetapi anak itu tak mau diam. Ia berontak berguling-guling di tanah sambil menangis menjerit-jerit memanggil-pangggil bundanya yang sudah almarhum. Dalam keadaan panik tadi kudengar Mang Santo bertanya kepada Abah apakah Rosita kira-kira mau menolong seperti janjinya tadi pagi? Dan Abah menjelaskan bahwa Rosita hanya tetangga dan ia karyawati Mall selain itu ia juga penyanyi Cafe. “Jadi jangan berharap Rosita sempat menolongmu .” kata Abah.
“Lalu apa kata Bang Santo?” tanya Rosita sedikit terkejut dan ingat tadi pagi sambil pamitan sempat menawarkan tenaganya membantu mengasuh Ririn.
“Apakah Kak Ros memang berjanji kepada Mang Santo ?”
“Memang benar !”
“Jangan berbasa-basi begitu Kak. Kasihan Mang Santo. Hatinya kacau tak mampu menenangkan anaknya dan akhirnya hanya bisa diam.”
“Lalu ada apa lagi dengan Ririn?” panik
“ Tidak ada ! hanya Ririn menangis memanggil ibunya berulang-ulang.”
“Kasihan Ririn. ! Tadi pagi saya memang sudah berjanji dan bukan basa-basi !….. Ayo kebut !” kata Rosita.
“Mang Santo tadi sore sudah sangat panik sampai mengatakan ia mau mengganti semua ongkos dan mau mengupah Kak Ros asalkan mau membantu menenangkan Ririn. Tanpa malu-malu Mang Santo menangis sambil bercerita bagaimana istrinya menyayangi Ririn dan sangat memanjakan Mang Santo karena dengan gigihnya mempertahankan Ririn sebagai bayinya!”
“Jadi Ririn bukan anak kandung mereka ?”
“Bukan !.”
“Barusan kau bercerita katanya Mang Santo mempertahankan bayinya ! Apa maksud mempertahankan tadi ?” Rosita bersuara keras untuk mengatasi suara mesin motor.
“Saya tidak tahu. Nanti saja tanyakan langsung ke Mang Santo kalau sampai di rumah. Tidak enak bicara sambil menyetir motor!”
Sesampainya di rumah Rosita cepat-cepat mandi dan sedikit makan snack lalu bergegas ke rumah Abah. Warungnya kini tampak lebih terang, bersih dan lebih ramai. Soalnya yang di jual bukan hanya mie rebus dan kopi saja, tetapi juga soto Jakarta atau soto kuning. Rosita langsung ke dapur dan berkenalan dengan emaknya Tarji. Tetapi setelah di dalam dan berkenalan dengan Mak Tarji ia tak melihat ada Ririn. Bang Santo juga sedang ada di belakang warung membelah kayu menjadi potongan pendek-pendek dan kecil-kecil.
“Kemana Ririn……katanya dia sakit….?”
“Dia memang sakit, kata bu Bidan ia kelelahan dalam perjalanan yang jauh. Tetapi kini telah tidur, Satu jam yang lalu bu Bidan datang lagi memberi obat.
“Maafkan saya terlambat pulang. Padahal tadi pagi sudah berjanji akan membantu mengasuh Ririn.” kata Rosita dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa Ros. Kan ada Mpok .” Terdengar suara Santo dan Rosita memutar badan.
“Ririn…….?”
Dia sudah tidur .” Santo menjelaskan sambil menunjuk ke kamar di belakang warung.
Seminggu telah berlalu. Hubungan Rosita dengan Ririn sangat baik. Mak Tarji mengajari Ririn memanggil Rosita dengan bulik, dan anak itu menurut. Kedekatan Rosita dengan keluarga Abah Ocim semakin baik berkat Ririn dan Tarji demikian pula hubungan Rosita dengan Santo. Ternyata Santo lelaki yang gagah dan tampan itu pemalu dan sering kikuk. Rosita sendiri akhir-akhir ini mempunyai kesibukan lain yaitu menjadi penyanyi café seminggu tiga malam dan baru pulang setelah pukul 24 malam.Keesokan harinya ia masih harus bekerja sebagai karyawati di sebuah Mall sehingga baru bisa menemui Ririn sore harinya sepulang kerja. Hampir setiap sore menjelang Rosita pulang Ririn sudah ada bersama Santo di halaman depan dan langsung berlari ke jalan menyongsong Rosita yang baru pulang dan turun dari ojek atau angkot. Demi keselamatan Ririn mau tak mau Santo harus menemani dan menjaganya agar Ririn tidak jatuh atau lari ke tengah jalan. Inilah sebenarnya yang membuat dua anak manusia itu semakin dekat. Tarji berkhayal pasti sangat bangga bila mempunyai bibi Rosita yang bukan hanya cantik tetapi juga suaranya merdu.Tarji pernah dua kali diajak ke café dimana Rosita bernyanyi dan dikenalkan dengan para penyanyi dan pemain bandnya. Hampir semingggu sekali Rosita selalu membelikan rok , atau pakaian atau mainan untuk Ririn.
Pembelian pakaian dan perlengkapan bayi lainnya ini yang kemudian membuat Santo segan, malu dan minder. Selama ini bahkan jauh sebelum istrinya meningggal ia tidak pernah berpikir membelikan sesuatu untuk Ririn. Semuanya di serahkan kepada almarhumah istrinya.
Tiga minggu berikutnya Santo mendapat pekerjaan sebagai Sopir Travel, yaitu kendaraan khusus antar jemput penumpang jarak jauh. Kesibukannya ini membuat Santo semakin jarang bertemu dengan Ririn maupun Rosita. Sebaliknya hubungan Ririn dengan Rosita semakin dekat malahan sering diajak tidur di kamar indekosannya.
Selama hal itu berlangsung Abah dan Emak tampaknya biasa-biasa saja . Hanya berharap Rosita dan Santo bisa berjodoh dan segera menikah itu lebih baik. Itu yang ada dipikiran kedua orang tua itu.
Suatu pagi setelah manggung selama empat hari tiga malam di hajatan di luar kota ,Rosita tidak melihat Ririn. Kata Emak Ririn di ajak pergi Santo entah ke mana. Santo tidak menjelaskan tetapi tampak kalau Santo terburu-buru. Dengan mobil travelnya ia pergi membawa Ririn. Walaupun kecewa Rosita langsung pamit. Dan berkata kepada Tarji ,yang juga mau berangkat kerja ,bahwa dia malam ini tidak pulang .
Keesokan harinya ketika Rosita sudah pulang kebetulan ada libur tugas dua hari dan sudah siap mengajak bermain Ririn , belum sampai ia keluar indekosannya ia melihat Tarji bergegas dengan ekspresi wajah panik menemuinya dan langsung mengadu “ Kasihan Ririn!”
“Kan ada bapaknya , Abah dan juga ada Emakmu .”
“ Ririn hilang!”
“Apa….?”
“Ririn hilang ! benar-benar hilang !”
Mustahil ! bagaimana itu bisa terjadi ?! tanya Rosita kurang yakin dengan berita itu.
“Tanyakan saja langsung ke bapaknya . Tuh dia di bawah pohon sawo . Linglung !” Tarji dengan marah menunjuk ke bangku di bawah pohon sawo. Setelah itu Tarji menghilang.Tampak Santo sedang duduk bersandar loyo di bawah pohon sawo . Tanpa ragu-ragu dengan suara bergetar menahan marah Rosita mendekat dan bertanya kepada Santo tentang kebenarannya.
“Memang benar Ririn sempat hilang. Tetapi kini sudah ketemu.” Santo menjawab,peluh membasahi wajah dan tubuhnya.
“Jadi Ririn selama tiga hari ini hilang, baru ketemu tadi pagi dan langsung dibawa pulang!” Rosita meradang . Mulutnya terus “berkicau dengan pedasnya “ mengulang-ulang apa yang telah di katakan Santo di tambahi kata-kata lainnya yang menyakitkan perasaan,.
“Sekarang di mana Ririn ? saya tak melihatnya !” Rosita masih terus mengoceh sambil tangannya menunjuk-tunjuk ke berbagai arah untuk membuktikan Ririn tidak ada. Santo.yang di hardik hanya menunduk, wajahnya pucat.
Abah Ocim menahan diri agar tidak menambah rumitnya masalah. Perilaku Rosita yang sedang kalap mengingatkan Abah akan almarhumah emaknya yang sudah puluhan tahun yang lalu meninggal dunia. Saat itu Abah rasanya seperti menyaksikan emaknya memarahi Santo yang waktu itu masih anak-anak tetapi berani kabur dan dirinya disuruh emaknya mencari anak itu dengan ancaman tak boleh pulang kalau belum ketemu.
“Ririn di bawa Mpok ke rumah sakit .” jawabnya tetap menunduk. Ketika Rosita akan menanyakan di rumah sakit mana tiba-tiba HP nya berdering. Dari Tarji yang baru saja sampai di rumah sakit menemani Emak.
“Baik saya akan segera ke sana. Begitu saya sampai di rumah sakit Emak kau antar pulang. Apa…….? Saya sendiri yang akan menjaga Ririn ! Sampai kapanpun akan tetap menjaganya , jangan berpikir yang lain. !” telepon di tutup. Saya akan pulang sebentar mengambil pakaian kata Rosita. Santo menengadahkan kepalanya dan melihat ke Abah, yang hanya memelototi adiknya, sambil menggoyangkan kepalanya.
“Ros…Rosita…biar aku mengantarkanmu !” Santo berkata dengan suara bergetar.
Untuk beberapa saat Rosita tertegun dan sadar bahwa ia telah menghardik Santo, padahal Ririn anaknya Santo, bukan anaknya. Tetapi mengapa dirinya yang marah-marah.
“Pakai motornya Gufron saja.” Kata Abah sambil melambaikan tangannya ke jalan . Kebetulan Gufron tukang ojek kerabat jauh Abah sedang lewat. Abah di desa itu sangat dihormati. Tanpa banyak bertanya atau mendebat Gufron langsung menyerahkan motornya kepada Santo.
“Kita mampir ke rumah dulu. Saya akan menyiapkan pakaian ganti dan juga nanti mampir ke tukang penatu.” kata Rosita.
“Tukang penatunya di mana….?” Santo heran ketika motor menuju ke arah kota. Kemudian berhenti kesebuah kios. Disitu ada kesibukan khusus.Beberapa karyawan menimbang-timbang pakaian dan mencatatnya , kemudian menyerahkan bukti penerimaan pakaian yang akan di cuci.
Sesampainya di rumah sakit Rosita tampak gelisah dan masuk dengan tergesa-gesa.
“Ros kita harus belok kiri, lalu ke kiri lagi.” Santo menjelaskan kamar di mana Ririn di rawat.
“Oh maaf saya sangat gelisah.”
“Maafkan saya Ros, seharusnya kau tak perlu terlibat akibat kesalahanku !” Santo memberanikan diri berkata sambil menyapu seluruh tubuh Rosita dengan ekspresi yang sulit di tebak.
“Sekarang yang mana ruangan Ririn….?” Tanya Rosita untuk mengalihkan pandangan mata Santo yang tajam tapi sulit di tebak. Santo tidak menjawab hanya dengan kepalanya dia memberi isyarat agar Rosita melihat ke kamar berikutnya , dimana Tarji melambai kearah mereka.
Sesampainya di ruangan Rosita melihat Ririn sedang tidur tetapi tidak pulas. Sesekali terdengar Ririn merintih. Tidak jelas apa yang diucapkan. Ketika Rosita mengatakan bahwa disini ada nenek, ada juga Bulik Rosita , juga abah dan bang Tarji, Ririn bukannya bangun justru menjerit-jerit “tidak mau…..tidak mau….!!”
“Sudah ! Sudah jangan berkomentar apa-apa. Anak ini masih dibayangi ketakutan dan kepanikan!” kata perawat yang masuk dan memeriksa panas tubuh Ririn.
“Bagaimana dia Mbak ?” tanya Rosita kepada perawat dengan cemas.
“Dia tidak apa-apa, dia hanya kecapaian dan beberapa kali jatuh, entah di mana.” Berhenti memeriksa barut-barut bekas jatuh dan melanjutkan.
“Sebaiknya saya yang mengantar Empok pulang sambil pamit kepada perusahaan bahwa saya tidak bisa kerja. Dan Tarji menemani Rosita.”
Tak lama kemudian Ririn sudah bangun dan langsung menangis. Begitu melihat Rosita , Ririn langsung bangun dan Rosita sudah mendahului memeluknya sambil membujuk bahwa kini mereka telah bersatu lagi. Ketika Santo berusaha ikut bicara agar jangan menangis terus, Rosita langsung memotong mengatakan biar saja Ririn menangis sepuas-puasnya agar tidak ada beban batin karena dua , tiga hari yang lalu ia merasa sedih dan takut. Santo langsung diam menunduk dan pelan-pelan keluar ruangan.
Selanjutnya Rosita terus merayunya agar tangisnya mereda dengan sendirinya. Sambil merayu tangannya mengganti bajunya Ririn dengan yang bersih. Pada saat ia membuka bagian kiri tubuhnya , sampai di bagian pangkal tengkuknya agak kekiri, Rosita tertegun. Bagian tertentu itu di usap-usap. Beberapa detik kemudian dipeluknya rubuh Ririn erat-erat. Kejadian yang hanya sekejap ini memang terlewatkan oleh yang ada di situ , kecuali Emak yang sedikit heran akan perilaku Rosita yang tiba-tiba memeluk Ririn sambil menutup matanya seperti sedang berdoa.
Rosita memang sedang berdoa. Beberapa kali di elus-elusnya pangkal kiri tengkuk Ririn . Di bagian yang di elus-elus itu memang ada tahi lalat besar sebesar kedelai berwarna hitam .Tahi lalat besar yang tak akan hilang seumur hidupnya.
“Tuhan aku mengucap syukur kepadaMu karena telah mengembalikan anakku yang telah berpisah denganku ketika ia baru berumur tujuh hari.!”
“Ada apa Ros ?” tanya Emak juga Tarji. Santo walapun tidak berkata apa-apa tetapi dia heran melihat kelakuan Rosita yang aneh terutama ketika sedang mengusap-usap pangkal tengkuknya. Santo tahu dan hafal apa yang ada di pangkal tengkuknya Ririn, sebuah tahi lalat besar . Tetapi ia tidak mengerti mengapa Rosita perilakunya sangat aneh. Lebih aneh lagi ketika mendengar ucapan Rosita waktu membujuk Ririn.
“Ririn mulai saat ini bersama bulik terus ya. Dan memanggilnnya bukan bulik , tetapi ibu, atau bunda .”
“Bunda….?” Emak, Tarji dan Santo terkejut dan saling pandang satu sama lain. Tetapi Rosita seperti tidak mendengarnya. Ia terus saja membuka pakaian Ririn dan menggantinya dengan pakaian yang bersih yang sudah disediakan oleh Emak.
“Emak kalau akan pulang silakan sekarang saja. Ririn aman bersamaku .” ucapan Rosita ini semakin membuat mereka bingung tetapi tak berkata apa-apa. Santo tegang.
Sambil pamitan dan mengucap mualaikum salam kepada kepada Ririn dan Rosita semua langsung keluar kamar.
Tanpa di ketahui oleh Emak dan anaknya Santo kembali ke kamar dan menatap tajam kepada Rosita. Yang ditatap hatinya berdesir, tak tahu mengapa Santo kembali dan menatap tajam kepadanya. Tetapi naluri seorang ibu yang kini mengisi seluruh relung jiwa Rosita membisikkan ada bahaya dan ia perlu melindungi Ririn. Otomatis tangannya merangkul anaknya dan menatap waspada kepada Santo. Yang dipangku sekarang ini adalah anak kandungnya tak akan dilepaskan selamanya. Itulah yang ada di benak Rosita.
“Ada apa Bang ? Apa ada yang masih tertinggal ?” tanya Rosita sewajar mungkin . yang ditanya tidak menjawab dan tetap menatap tajam pada si wanita.
“ Dengar baik-baik ! Ririn adalah anakku !” kata Santo dingin.
Ririn yang dipangku Rosita menurut saja malahan ikut menatap Santo.
“ Mualaikum salam ! hati-hati di jalan…..!” ucap Rosita setelah menguasai perasaannya . Ia sengaja mengucap kata salam untuk mengusir secara halus agar Santo pergi . Santo akhirnya memang pergi , dan ketika balik badan bertubrukan dengan Tarji yang mau masuk. Rasa tegang yang di alami Rosita berubah menjadi rasa geli.
“Main tubruk saja!” Santo menghardik sambil keluar, dan Tarji yang semula terkejut akhirnya hanya geleng-geleng kepala dan menggerutu “Dasar !”
“Mang Santo barusan ngomong apa ?”tanyanya setelah tenang.
“Ah tidak ada. dia tak bicara apa-apa. Hanya menatap Ririn saja.” Rosita menjawab sekenanya. Setelah bicara lain-lain dan ada kemungkinan nanti sore Ririn bisa pulang, Rosita bertanya bagaimana proses adobsi Ririn oleh Santo.
“Jadi Kak Ros belum bertanya langsung ?”
“Tidak sempat. Karena itu kini kau saja yang bercerita agar saya tahu proses adobsinya.”
“Proses adobsinya tidak ada, karena tidak didaftarkan ke mana-mana. “ jawab Tarji . “ Hanya di anggap luar biasa karena bayi itu di selamatkan dari kecelakaan tunggal mobil di jalan raya di sebuah jalan hutan yang sepi, antara Bakauheni dan Palembang. Mang Santo yang sedang lewat menghentikan trucknya karena mendengar tangis bayi. Dan memang ada bayi menangis di dalam mobil yang mulai terbakar itu.Seorang bayi berhasil di selamatkan dari kebakaran sedangkan sepasang manusia yang duduk di depan tidak. Anehnya setelah itu tak ada berita apa-apa , baik tentang sepasang penumpangnya maupun yang mengaku atau memberi tahu telah kehilangan bayi. Akhirnya Mang Santo yang memang tidak mempunyai anak mengaku bahwa bayi itu anaknya. Ternyata istrinya setuju dan merasa senang dengan memberi nama Marini, dengan panggilan Ririn. Ketika pindah ke Tanjung Karang ,Ririn diaku sebagai anak kandungnya.” Tarji mengakhiri ceritanya. Setelah itu suasana sepi. Rosita sibuk menyisiri Ririn dengan penuh kasih .
“Ririn memang anak bunda !” kata Rosita kemudian sambil memeluk Ririn dan yang dipeluk tertawa geli. Sebaliknya Tarji heran. Ini untuk kedua kalinya tiba-tiba Rosita mengaku Ririn anaknya. Tetapi Tarji diam saja dan akhirnya lagi-lagi hanya angkat bahu tak perduli. Tetapi sikap masa bodoh yang dianggap bukan urusannya itu berubah menjadi urusannya.
Setelah menginap semalam akhirnya Ririn diperbolehkan pulang. Semua biaya rumah sakit telah di lunasi oleh oleh Rosita dan ini membuat Santo tersinggung.
“Itu kan anakku. Mengapa dia yang membayar ?”gerutu Santo dengan wajah tegang.
“Kalau kau mau membayar langsung saja bicara sama Rosita. Kan ada rekening pembayaran Mengapa harus menggerutu!”emak berkata sambil memberikan rekening pelunasan . Dengan rasa malu Santo mengganti semua biaya rawat inap buat Ririn.
Setelah itu hari-hari berjalan kikuk buat mereka berdua terutama buat Santo karena di matanya kini Ririn sepenuhnya di kuasai oleh Rosita. Dan Ririn tampaknya senang, tak pernah memanggil-panggil ayahnya. Tidak seperti dulu. Malahan sering menginap di kamar Rosita.
Seminggu setelah itu, suatu sore Rosita pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah mandi dan ganti baju dengan bergegas Rosita datang ke warung Abah, mencari Marini. Dengan wajah tegang dia mencari cari Ririn.
“Kemana Ririn ?!” tanyanya dengan ekspresi panik
“Jalan-jalan dengan bapaknya !”
“Ini kan sudah sudah sore, mengapa belum pulang ? tanya Rosita mulai panik. “Kemana saja mereka apa sudah mandi? Jangan-jangan di dibawa pergi seperti tempo hari bagaimanapun seorang bapak kurang bisa mengasuh bayi. Apalagi……….” Perkataannya terhenti . Dari halaman terdengar celoteh riang Ririn. Ririn tampak diturunkan dari tempat duduk tambahan dari sepeda ontel oleh bapaknya.
“Besok sore kita bersepeda lagi ya.” Kata si bapak dan setelah mengiyakan kata bapaknya ,sambil berlari masuk kedalam si kecil mencari neneknya. Dan ketika ketemu Rosita si anak makin gembira dan bercerita bahwa ia baru saja bersepeda bersama bapaknya keliling komplek perumahan. Dengan perasaan marah dan cemburu yang di tahan dipaksanya dirinya tertawa dan menanggapi celoteh si anak. Setelah menyimpan speda ontelnya di belakang warung, Santo muncul ke ruang tengah warung yang sepi.
“Dari mana saja, sudah hampir magrib masih saja main….!” Tiba-tiba Rosita bertanya ketus.
“Itu terserah saya. Kan Ririn anakku dan hampir setiap sore kami berdua bersepeda keliling komplek!” jawab Santo tanpa menengok, langsung minum teh manis yang baru saja diseduh. Kemudian dipanggilnya Ririn di tawari teh yang baru saja diminum dan masih hangat.
“Rin sini minum sama ayah !” katanya membujuk, tetapi cepat-cepat Rosita menanyakan kepada Ririn di mana susu buat Ririn yang baru saja kemarin sore dibelikan. Pesona Rosita lebih kuat sehingga Ririn berlari ke meja di mana terletak susu yang dimaksud.
“Ririn harus banyak minum susu ya agar lebih montok dan sehat, tidak seperti sekarang kurus!”jawab Rosita tetap ketus.
“Aku bapaknya jelas lebih tahu soal anaknya!” Santo langsung memotong .Ia tersinggung.
“Seorang bapak yang ,menyayangi anaknya mustahil menyerahkan anaknya ke tempat lain sehingga sempat hilang ! Bapak macam apa itu ?” di luar dugaan Rosita menjawab dengan tuduhan yang sangat menyakitkan.
“Saya tidak menghilangkan Ririn ! Kau ini siapa berani-beraninya berkata demikian!”
“Kalau kau merasa bapaknya, mustahil menghilangkan anak kecil. Kau lelaki yang sengaja mengirim anak kecil ke tempat yang tak di kenal. Tidak mustahil kau sengaja menjual Ririn !”
“Jaga ucapanmu!kau lancang sekali ! Kau kira aku seorang kriminal ?!”
“Santo !! “ tiba-tiba Abah Ocim ikut bicara. “Sejak Ririn hilang sampai hari ini kau hanya menampakkan kebingunganmu saja! Kini jelaskan juga kepada kami semua yang ada disini. Kau kemarin itu kemana dan mengapa Ririn sampai sempat hilang !” Abah Ocim menunjukkan kemarahannya.
“Saya memang salah Bang !” kata Santo panik sampai tersedak dan terbatuk-batuk.“Tetapi…. tetapi…yang penting Ririn kini sudah pulang dalam keadaan sehat !” Santo wajahnya masih pucat menahan marah dan berbagai perasaan yang di tahan.
“Bicaralah yang jelas kemana kau bawa Ririn sampai sempat tiga hari hilang! Untung saya belum lapor Polisi . Bayangkan kalau sampai tersebar berita bahwa kita keluarga penculik atau penjual anak ! Mau di taruh di mana wajahku !?” Abah marahnya sudah serius.
“Saya ke Pandeglang, untuk mencarikan ibu buat Ririn. Ternyata……! Ternyata saya kecele! Sudahlah Bang saya jangan di tanya terus-menerus begitu. Saya malu Bang !” jawab Santo sambil duduk di bangku panjang.
Untung warung sepi belum ada pembeli yang datang hanya Tarji yang ikut mendengarkan
“Saya tidak berniat mempermalukan kamu Santo justru sering mencemaskanmu. Kau adikku satu-satunya. Tetapi sejak dulu setiap saya bertanya tentang dirimu, jawabmu tidak pernah tuntas. Kini karena kita bicara soal anak yang hampir hilang, dan ada tanda-tanda unsur kesengajaan, yang mengarah kepada penculikan dan penjualan bayi maka saya semakin cemas. ! Santo jawablah pertanyaanku dengan jelas!” Abah kini benar-benar marah bercampur sedih.
“Abang dan Mpok saya ke Pandeglang benar-benar mencarikan wanita untuk ibunya Ririn. Bukan yang lain….. Sekarang jelas Bang !” Santo menjawab frustasi.
“Kau ketemu wanita itu dimana dan kapan ?”
“Waktu naik bus dari Tanjung Karang ke sini yang meringankan bebanku menghadapi rewelnya Ririn adalah wanita yang duduk dikursi di sebelahku.Wanita itu ikut menidurkan Ririn di bus. Sebelum berpisah kutanyakan alamatnya, ia tinggal di Pandeglang……….!”
“Cukup ! Bagiku sudah cukup jelas . Adikku yang kusayangi ternyata bodoh ! Bodoh!!”
“Ampuni aku Bang ….!”
“Kalau tujuanmu untuk mencarikan ibunya Ririn , mestinya kau cari wanita yang cocok dan sudah di kenal Ririn, misalnya wanita yang ada di desamu sana diTanjung karang.!”
“Tetapi disana tidak ada Bang….tidak ada.!”
“Kalau disana tidak ada ya dicari di lain tempat , pokoknya Ririn cocok!”
“Siapa dan dimana Bang ?”
“Kau ini memang keterlaluan ! Matamu melotot tetapi hatimu buta !”
“Iya Bang, saya memang bodoh, hatiku buta. Kini tolonglah saya siapa yang mau dengan aku? terdengar permintaan penuh memelas dari Santo.
“Kau memang keterlaluan !” Abah Ocim gemas dan istrinya memberi isyarat agar jangan berkata kasar dan tetap sabar. Setelah mengambil nafas panjang menyabarkan diri sambil geleng-geleng kepala akan kebodohan adiknya,lelaki tua itu berkata dengan tenang
“Wanita yang kini di tempel Ririn itulah yang cocok dengan anakmu. Mengapa bukan dia yang kau lamar ?”
Ucapan Abah Ocim bukan hanya mengejutkan Santo yang langsung tertegun menatap ke arah Rosita kemudian menunduk, tetapi juga Rosita sendiri yang untuk beberapa saat berdiri terpaku di tempatnya.Ucapan Abah memang sangat mengejutkan yang ada disitu termasuk Tarji. Emak walaupun terkejut hanya menengok sebentar ke arah Rosita.Sesaat ruangan sepi. Abah yang menatap tajam adiknya, masih diam menunggu . Sang Adik hanya menunduk.
“Mengapa kau diam Santo ?! Kurang cantikkah dia atau ada kekurangan lainnya ?”
“Tidak Bang !Rosita terlalu cantik buatku. Abah harus tahu saya hanya seorang sopir, seorang montir. Malahan kini hanya menjadi petani kopi kurang dari 1000 pohon di Tanjung Karang.” berhenti sebentar . Bayangkan untuk cantik seperti dia kamarnya pasti penuh dengan alat-alat kosmetik yang mahal dan mana aku kuat membelikannya Bang !” jawab Santo memelas.
“Apa kau pernah masuk ke kamarnya Rosita ?” tanya Emak di luar dugaan.
“Tidak Mak, tidak pernah !” tanyakan ke Rosita, kalau tak percaya.!” Santo meminta dukungan Rosita. Yang diminta hanya diam.
“Mang Santo ! Mengapa Mamang berpikiran sempit ? Bukankah Mamang yang mengajari aku pepatah Inggris yang berbunyi “ You are what you think ? yang artinya dirimu adalah apa yang kau pikirkan. Kalau Mamang hanya berpikir yang sempit-sempit saja memang seperti kemarin itulah jadinya. Ririn hampir hilang. Saya ingin mengingatkan bahwa Mamang adalah sopir teladan . Dan mempunyai sertifikat sebagai sopir teladan dari Ka Polri, juga mendapat sertifikat terbagus dari sebuah dealer Mobil Jepang dan banyak lainnya lagi ! Mengapa Mang Santo mencitrakan diri serendah itu ?” celoteh Tarji di luar dugaan. Rupanya Sutarji jengkel melihat perilaku adik bapaknya yang karena frustasi lalu merendahkan dirinya dalam menghadapi Rosita.
“ Dimataku Rosita terlalu cantik dan bisa menumpulkan gagasan-gagasanku !” Santo frustasi.
“Apa tidak terbalik Mang ?” Tarji terus mendesak.” Bukankah kemarin Mamang bercerita kepada saya bahwa gagasan mendirikan tukang penatu di rumah kita sebagai cabang laundry and dry cleaning besar di Bekasi itu muncul dari Kak Ros pada waktu Mamang mengantar kak Ros ke tukang penatu di kota. Bukankah ide itu muncul karena Mamang dekat dengan Kak Rosita ?” di luar dugaan Tarji masih bercerita banyak tentang ide-ide lainnya yang berasal dari Rosita.
“Sudah !Sudah sukup Ji! Saya malu…” Santo wajahnya makin merah. Malu.
“Kak Ros dan Abah perlu tahu bahwa setiap sore Mang Santo bersepeda ontel keliling perumahan ini bukan hanya main-main dengan Ririn , tetapi sekaligus menyebar pengumuman bahwa dua minggu lagi di rumah kita akan di buka Laundry and Dry celaning ,cabang Bekasi.!”
Semua yang mendengar terkagum-kagum dengan gagasan Santo. Abah Ocim baru mengerti mengapa sudah seminggu ini adiknya sibuk membersihkan bahkan mengganti kaca depan rumahnya, yang memang hak warisan adiknya , menjadi seperti sebuah toko. Abah sebagaimana biasa tidak langsung bertanya tetapi membiarkan dulu semua kegiatan adik satu-satunya ini.
“Nah Santo kini dengar baik-baik omongaku !” Abah Ocim tiba-tiba memotong dan bicaranya berubah, suaranya berat dan dalam , menandakan dia sedang serius dan Santo mengerti abangnya sedang serius, setengah marah dan harus di dengar baik-baik.
“ Apakah kau benar-benar serius mencarikan emak buat Ririn ?”
“Ya saya serius !” Santo menjawab sambil melirik ke sekitarnya. Keringat membasahi tubuhnya.
“Menurut pendapatmu apakah Rosita pantas menjadi emaknya Ririn ?” tanya Abah selanjutnya.”
Santo hanya mengangguk dan menengok ke arah Rosita sebentar lalu menunduk lagi.
Yang di di tengok terhenyak . Jantungnya berdebar kencang .Dengan gelisah melirik kekiri. Emak mendekat dan tersenyum penuh arti sambil mengelus punggungnya.Ririn berpindah menempel di badan neneknya.
“Kalau demikian lamarlah Rosita !”
“Kapan Bang …..Sekarang ?”
“Sekarang juga!…… Atau kau menunggu Rosita dan Ririn mendapat suami dan bapak baru ?!”
“ Bapak baru ….?! Tidak bisa , tidak boleh !” di luar dugaan Santo berdiri tegak bicara tegas dan garang. Tangannya terkepal, pandangan matanya yang tajam itu setelah menatap Rosita lalu bergeser menyapu seluruh ruangan . Seolah-olah dia siap menghadapi apapun yang bakal menghalanginya. Diluar dugaan kejadian yang mendadak ini justru membuat Rosita kagum atas sikap Santo.
“Demi Tuhan, inilah lelaki jantan yang selalu kubayangkan.Aku aman bersamanya. Tuhan jadikan dia pemimpinku, agar jelas citra diriku sebagai istri dan ibu.” bisik Rosita kepada Tuhan.
Suasana mendadak sepi dan tegang. Emaknya Tarji mendadak ingat masa lalu bagaimana dirinya tidak berdaya menghadapi Abah Ocim yang menanyakan apakah dia menerima lamarannya. Emaknya Tarji bisa membayangkan bagaimana gelisahnya Rosita. Karena itu di usahakan dirinya tetap tersenyum ramah dan mengangguk kepada Rosita.
Semua perhatian terpusat kepada Rosita ,sehingga tak ada yang menyadari masuknya seorang lelaki tua sahabat Abah dan duduk tak jauh dari Santo. Santo masih berdiri memandang Abangnya dengan wajah pucat. Sesaat sang Abang teringat masa kecilnya Santo, adik satu-satunya, yang ketakutan karena dimarahi oleh ayah mereka.Dan saat itu dirinyalah yang menghiburnya. “ Kinipun Santo membutuhkan diriku.” pikir sang abang.
“Katakan baik-baik Santo !” suara Abah terdengar lembut. Dan ini membangkitkan semangatnya. Santo dengan langkah pasti berjalan ke arah Rosita. Setelah cukup dekat ia bersimpuh di depannya. Rosita tak bisa berpikir lagi , indah menyenangkan dan tak terduga
.Di saat yang bersamaan Ririn mendekati bapaknya ikut bersimpuh dan menirukan perilaku bapaknya. Mereka berdua bapak dan anak memandang ke arah Rosita, memohon kecintaan dan kerelaan hari Rosita
“Rosita, aku melamarmu untuk menjadi istriku dan ibu buat anakku…..Jawablah!”
Semua diam tegang. Emaknya Tarji kembali mengelus punggung Rosita dan tersenyum memberi semangat dengan anggukan kepala.
“ Ya aku mau menjadi istrimu dan ibunya Ririn.” Rosita menjawab lirih
“Saya belum mendengar jelas…. ulangi !” tiba-tiba temannya Abah berteriak menghentak.
“Saya juga belum mendengar kecuali kata “ya “ saja. Mohon di ulangi!” Abah menyetujui.
“Bagaimana kau Tarji apa sudah jelas ucapan Rosita tadi ….?” Abah minta pendapat Tarji sambil melotot memberi isyarat agar Tarji mendukung gagasan Kakek ,temannya Abah.
“Saya ….saya… terus terang sebaiknya Kak Rosita bicara lebih keras. Para pendekar Betawi ini tidak suka yang lembek-lembek !”
“ Ya saya mau menjadi istrinya Bang Santo dan menjadi ibunya Ririn !”akhirnya Rosita yang biasa bernyanyi di Café mempunyai keberanian untuk bicara jelas
“ Syukur Alhamdulillaaaaaah..!!!!” Terdengar ucapan puji syukur dari semua yang hadir.
“Bang Santo berdirilah !Aku malu.” kata Rosita sambil memeluk Ririn dan mempersilakan Santo berdiri.
Setelah itu Rosita , Ririn dan dan emaknya Tarji langsung berpelukan . Rosita menangis bahagia.
Derita batin yang harus dipikul sendirian akibat perilakunya sejak remaja kini terhapus sudah. Setelah ini ia akan menemui orang tuanya, yang telah ditinggalkan tanpa pamit untuk, memohon ampun atas segala kelakuannya
Adzan magrib terdengar dari masjid komplek.
Selesai.