Â
Dear ‘chibi-ko’,
Pagi ini ketika aku melintasi ‘jalan kenangan’ itu, aku ingat lagi padamu. Dulu kita sering jalan berdua melewati jalan setapak ini menuju ke asrama setelah malam-malam penuh tumpukan buku di perpustakaan. Sepanjang jalan, riuh caramu bercerita selalu menarik lirikan mata mereka yang juga sedang dalam perjalanan pulang. Tabrakan dengan dosen ,yang sebenarnya biasa saja, menjadi topik semenarik fenomena Obama jika itu kamu yang menceritakannya. Seluruh dunia ikut dalam ekspresimu yang begitu hidup, dari matamu, dari gerakmu, dari senyummu.. Chibi-ko, diam-diam aku berharap, jalan kenangan itu ternyata tidak berujung..
Chibi-ko,
pagi ini masih gelap. Cahaya lampu memantulkan warna keperakan di tepi mahkota bunga mentega yang berbaris rapi di sisi jalan kenangan. Aku jadi teringat, dulu kamu begitu takjub pada barisan rapi kembang seputih salju yang memberi nuansa berbeda jalan kenangan di waktu malam. Aku masih ingat ekspresimu ketika tahu bahwa nama bunga itu adalah bunga mentega. Kamu tertegun sebentar dan sedetik kemudian aku yang terdiam. Kamu tertawa, lepas, dengan suara paling merdu dari sekedar simfoni hujan. Aku selalu ingat saat-saat itu. Karena itulah pertama kali aku melihat benteng dalam dirimu runtuh, sejak pertama kali kau menjabat tanganku dan menyebut namamu. Lebih dari itu, karena saat itulah, chibi-ko, aku tahu bahwa jalan kenangan akan lebih dari sekedar setapak yang selalu aku lalui setiap malam tiba.
Chibi-ko, sejak kapankah kupanggil kau dengan nama itu?
Ah, aku ingat detik-detik perkenalan kita. Kita bukan satu jurusan, bukan pula satu asal. Kita hanya dua orang mahasiswa asing, di negeri asing, tanpa sanak saudara, dan sama-sama maniak dorama. Kesamaan yang mengantarkan kita di kelas bahasa jepang. Syoukai suru (red: perkenalan) basa-basi yang membuat kita sama-sama terhenyak. Satu kesamaan lagi, nama belakang kita sama. Cempaka Kosasih dan Tyas Kosasih. Kebiasaan memanggil nama keluarga hanya akan menambah tragedi salah panggil. Lewat yubikiri (red: perjanjian dengan kelingking) insidental di ‘malam bunga-mentega’ itu, tyas kosasih resmi menjadi chibi-ko. Hanya aku yang memanggilmu begitu dan hanya kamu yang memanggilku nee-chan. Selisih beberapa bulan saja membuatku merasa kamu harus memanggilku kakak. Tyas..Tyas.. kamu tidak pernah tahu mengapa aku memaksamu mengakui perbedaan usia kita..
Tyas, my chibi-ko,
Hari ini entah mengapa kenangan akan malam-malam bunga mentega itu sekali lagi muncul di pelupuk mataku. Tiga tahun berlalu dan masih ada lubang menganga yang kau tinggalkan bersamaku. Semua tawa, canda, senyum kita serasa mimpi yang hilang saat mentari pagi menerobos kegelapan malam yang nyaman dan tanpa sepatah kata selamat tinggal atau sekelumit penjelasan, kau berlalu dari kehidupan bunga mentega yang sempat menjadi semangat hidupku melewati musim dingin yang menggigit. Tiba-tiba jalan pulang bersama ke asrama menjadi sebuah permintaaan paling sulit, tiba-tiba kamu memutuskan pindah asrama, tiba-tiba tidak ada senyum dan canda lagi kau tawarkan saat mata kita bertemu, dan tiba-tiba setelah masa undergraduate kita berlalu kamu memutuskan mengambil tawaran ke Belanda dan bukan studi lanjut ke Jepang seperti yang selalu kita janjikan. Ada sebuah pertanyaan yang tak terjawab yang sengaja kau tinggal menoreh semua kebingungan. Ada apa Tyas?
My dear Chibi-ko,
selamat ulang tahun. Kali ini tak ada tepung atau telur tersembunyi di tanganku seperti saat ulang tahunmu yang ke-20 atau sekedar sepasukan teman yang bisa melemparkanmu ke kolam asrama di ultahmu ke-21. Hanya sebuah doa yang kupanjatkan untuk kebahagiaanmu dan semoga kamu mau mengerti. Chibi-ko, ingatkah kamu malam bulan separuh? Saat kau gamit tanganku dan bercerita tentang cinta putri bulan dan raja matahari, aku berdusta saat aku berkata kau hanyalah seorang adik. Aku terlalu takut mengakui apa yang perlahan menjangkiti kepalaku seperti segerombolan virus, kau menginfeksiku habis tanpa sisa. Aku takut kehilangan apa yang sudah ada,dan aku takut merasakan luka yang sama. Kaulah yang membantuku keluar dari luka itu, dan aku takut kehilanganmu sebagai seorang yang menorehkan luka yang sama dengan apa yang ditinggalkannya padaku.
Chibi-ko,
Tidak ada mesin waktu. Walau doraemon hidup dalam dunia kita, duniamu, duniaku. Tapi selalu ada waktu untuk jujur, dan aku tahu sekarang lah yang terbaik. Selamat ulang tahun Tyas, aku selalu sayang padamu.
Â
Â
Ditulis dalam short story, story