BRAMANTYA’s center

research and personal web-pages

Dibawah Naungan Gonjong Masjid Raya

Posted by bramantya on October 20, 2025

Artikel ini adalah pengembangan dari artikel sebelumnya tentang Masjid Raya Sumatera Barat.

Sore 18 Oktober 2025, langit Padang menggulung awan tipis yang berkilau keperakan. Saya menyeberang pelan di perempatan Jalan Khatib Sulaiman yang bertemu dengan Jalan Ahmad Dahlan. Titik yang memangku sebuah bangunan ikonik: Masjid Raya Sumatera Barat. Masjid yang sejak 2024 resmi menyandang nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, mengabadikan putra Minangkabau yang menjadi imam dan khatib mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram serta guru para pembaharu Islam di tanah Nusantara. 

Di depan saya, kubah-atap berlekuk empat itu menggunakan arsitek rumah gadang dan sekaligus merefleksikan kisah para Pembesar Quraisy mengangkat Hajar Aswad bersama-sama saat selesai merenovasi Ka’bah. Sebuah tafsir bentuk yang dikerjakan arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara 2007 di antara ratusan peserta mancanegara. Empat sudut atapnya melambangkan empat klan Quraisy yang mengangkat batu suci pada tempatnya. Struktur rangka pipa baja ditopang empat kolom beton melengkung, istilahnya Gonjong. Di dalam, ruang utama tersebar di tiga lantai dan dapat menampung puluhan ribu jamaah. Ia menjadi masjid terbesar di Sumatera Barat dan salah satu ikon arsitektur masjid dunia kontemporer.

Saya memasuki halaman, melewati tepian rumput dan kisi-kisi bayangan yang memanjang. Penamaan resmi “Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi” dilakukan pemerintah provinsi pada awal Juli 2024, tujuh belas tahun setelah batu pertama diletakkan 21 Desember 2007. Keluarga besar sang ulama dari berbagai penjuru turut hadir menyaksikan pengukuhan nama Masjid itu. Fakta sederhana namun bermakna: selama ini orang berteduh, berzikir, bertemu, kini mereka juga mengingat bahwa Masjid ini berdiri di atas riwayat ilmu yang pernah berangkat dari ranah Minang ini menuju Makkah, lalu “pulang” dalam bentuk murid-murid lintas generasi, kitab, tulisan dan keteladanan. 

Langkah saya berhenti di papan informasi kecil: peletakan batu pertama 21/12/2007; pemakaian perdana 14/02/2014; desain hasil sayembara daerah; pembiayaan bertahap, sebagian dibantu donasi. Sebuah kronik yang menjelaskan kenapa masjid “tumbuh” selama satu dekade lebih hingga benar-benar matang. Harian cetak nasional (tapi tadi saya akses online) mencatat ulang ciri desainnya: tahan gempa, pemenang apresiasi lomba, dengan narasi atap empat sudut yang menafsir rumah gadang dan peristiwa Hajar Aswad. Saya menunduk, bersyukur: ada arsip yang rapi di balik estetika ini. 

Di bawah naungan serambi Masjid saya terus memikirkan satu nama: Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860–1915). Beliau lahir di Koto Gadang, Agam, menempuh rihlah ilmu ke Tanah Suci, lalu menjadi imam/khatib mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram, guru besar bagi pelajar Nusantara yang datang ke Hijaz pada masa itu. Namanya kini disematkan pada masjid raya ini sebagai sebuah penanda bahwa makna sebuah bangunan bertambah saat ia dikomunikasikan tentang sosok manusia yang menyulut cahaya abadinya. 

Di ruang batin saya, nama itu memanggil rantai murid beliau seperti KH Ahmad Dahlan dari Yogyakarta. Muhammad Darwis muda yang sempat menyerap ilmu dan hikmah ke Makkah serta berguru pada Syaikh Ahmad Khatib sebelum mendirikan Muhammadiyah (1912). Murid beliau yang lain KH Hasyim Asy‘ari dari Jombang yang juga belajar pada Syaikh Ahmad Khatib dalam periode pengembaraan ilmunya di Makkah sebelum memelopori Nahdlatul Ulama (1926). Keduanya mewakili dua arus besar organisasi Islam Indonesia yang bagaimanapun ragam pendekatannya, sama-sama meletakkan ilmu, adab, dan amar ma‘ruf sebagai poros pergerakannya. Cahaya guru di Haramain memancar ke Jawa, lalu ke seluruh Nusantara. Hangat mencerahkan.

Dari semenanjung Malaya, Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki (kerabat dan sekaligus murid beliau) yang pulang mengembalikan pantulan cahaya itu dalam bentuk pembaruan pemikiran dan disiplin ilmu falak. Jejaring Haramain–Minangkabau–Jawa–Malaya pun tersambung sebagai koridor ilmu Asia Tenggara yang khas.

Jam mendekati 17.00 WIB. Sinar sore menyapu fasad mosaic Masjid. Saya masih duduk di tepi pelatarannya, memandangi arus manusia: para pekerja pulang, pelancong berfoto, ibu-ibu menuntun anak, pasangan muda-mudi selfie sambil tersenyum sumringah. Saya lalu kembali browsing internet mencari info lebih lanjut masjid ini. Disebutkan bahwa kapasitasnya bisa menampung hingga sekitar 20.000 jamaah pada ruang dan plaza bertingkat. Lekuk struktur yang megah nan besar itu ternyata mampu memeluk puluhan ribu manusia tanpa terasa saling menindih. Arsitektur di sini bukan sekadar rupa, tetapi teknik mengatur ritme komunal, menata cara orang menunggu azan, menyeberang wudhu, dan mengambil tempat dalam shaf. 

Pikiran saya kembali kepada Syekh Ahmad Khatib. Beliau juga “arsitek”, tetapi bukan bangunan, melainkan tatanan akal‐adab para pelajar murid-muridnya. Di Makkah, ia mengajarkan fikih Syafi‘i yang kukuh pada dalil; ia menegur praktik yang tidak berdasar nash; ia menulis risalah Arab yang padat. Perdebatan teologis di akhir abad-19 yang mengait adat dan syarak melahirkan dialektika Kaum Tua–Kaum Muda. Tetapi di atas semua itu, terlihat keuletannya menempatkan kejujuran ilmiah diatas sentimen emosional. Kemenag RI merangkum sosok beliau sebagai ulama besar Nusantara yang mukim di negeri Hijaz, lahir 26 Mei 1860 (6 Dzulhijjah 1276 H) di Koto Gadang, mendidik para calon pembaru Indonesia dan seluruh Dunia hingga akhir hanyatnya.

Saya beranjak untuk berwudhu. Air dingin, bening. Memasuki ruang utama, saya mendongak ke arah empat kolom lengkung yang memegang rangka atap baja, metafora empat penjuru kain yang menanggung Hajar Aswad. Di karpet, anak kecil merapikan peci ayahnya. Di sisi kiri, seorang mahasiswa memeluk buku catatan; di sisi kanan, seorang perantau membetulkan sarung. Ruang ini mendidik tanpa berkata-kata: tentang baris, jarak, ketertiban, dan keheningan. Sebuah pedagogi ruang yang jika kita perhatikan, sejiwa dengan cara ulama Minangkabau membentuk santri di surau. Melalui kebiasaan yang berulang dan badan yang patuh, sebelum akal mengerti. Penanaman adab sebelum mentransfer ilmu.

Di sudut takmir, brosur ringkas memuat sejarah singkat: sayembara 2006; peletakan batu pertama 2007; pemakaian perdana 2014; dan rampung selesai 2019. Masjid yang tahan gempa; raihan apresiasi internasional. Ada pula infografik penamaan “Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib” pada 2024, tak lupa saya memotretnya dan beberapa sudut masjid lainnya. Jika sebuah kota bisa dirangkum, mungkin ringkasnya adalah seperti ini: kerja kolektif yang panjang untuk sebuah makna bersama yang langgeng.

Azan maghrib menggema, menyapu lengkung atap dan memantul lembut ke lantai marmer. Saya menutup mata, terpejam membiarkan kalimat panggilan itu menyerap segala riwayat yang baru saja saya baca hasil berselencar di internet HP. Terbayang Syekh Ahmad Khatib berdiri di shaf depan Masjidil Haram, KH Ahmad Dahlan berjalan kaki melintasi Kampung Kauman Yogyakarta, KH Hasyim Asy‘ari menyeberang dari pesantren ke pesantren dengan catatan kecil, Syaikh Tahir Jalaluddin menatap bintang-bintang untuk menghitung kalender dan merumuskan ilmu falakiyah. Semua menaut kepada ilmu yang diupayakan kebermanfaatannya untuk rakyat, bukan sekedar nama yang diagungkan di lisan. 

Imam shalat Maghri melantunkan ayat-ayat pendek. Merdu sekaligus syahdu, khas seorang yang terbiasa mengakrabi Al Quran. Dalam sujud, saya melihat sebuah garis halus: Masjid ini (yang oleh sebagian media arsitektur dunia disebut unik dan berkelas) bukan hanya tempat shalat, ia adalah alat peraga sejarah yang menuntun warga masyarakat memahami siapa yang mereka abadikan di gerbangnya. Bahwa Syekh Ahmad Khatib bukan sekedar “tokoh nun jauh disana”. Beliau adalah darah Minang yang mengokohkan mazhab Syafi‘i di jantung dunia Islam, guru dari dua pendiri organisasi Islam terbesar di Nusantara, dan pemberi arah bagi alur pikir pembaruan.

Usai salam, jamaah mencair. Seorang bapak bertanya kepada anaknya: “Siapa Syekh Ahmad Khatib?” Saya tersenyum: pertanyaan kecil yang saya yakini akan mengantar anak itu ke Koto Gadang, ke Makkah, ke Jawa, ke Semenanjung Malaya, sebuah peta panjang bernama sanad. Saya duduk kembali, membuka catatan yang sempat saya cuplik dari berbagai sumber, saya susun diantara beberapa sebagai berikut:

Biografi singkat Ahmad Khatib: lahir Koto Gadang, 1860; wafat 1915; imam/khatib mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram; guru Ahmad Dahlan, Hasyim Asy‘ari, Sulaiman ar-Rasuli, dan banyak tokoh ulama Nusantara lainnya.

Jejak murid di Jawa: Ahmad Dahlan (Muhammadiyah, 1912) dan Hasyim Asy‘ari (NU, 1926) memiliki fase berguru kepada Ahmad Khatib saat di Makkah. 

Jejak semenanjung Malaya: Tahir Jalaluddin (al-Falaki), kerabat dan murid, menjadi simpul pembaruan di Semenanjung dan pengokoh disiplin falak; literatur akademik menautkan pengaruh guru-murid beliau di Haramain. 

Arsitektur masjid: arsitek Rizal Muslimin; simbol Hajar Aswad dan rumah gadang; kapasitas besar; pemakaian perdana 2014; penghargaan/daftar kompetisi internasional; laman resmi pemerintah provinsi. 

Penamaan resmi masjid 2024: pengukuhan nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi untuk Masjid Raya Sumbar; hadir keturunan dan tokoh masyarakat. 

Saya pun menutup catatan di HP saya, lalu melangkah keluar masjid. Di luar serambi, senja beralih ungu melambat menggelap. Sungguh indah..

(diunggah di Kereta Bandara YIA menuju Stasiun Tugu Yogyakarta)

Posted in intermezzo | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Teringat Hamka

Posted by bramantya on October 20, 2025

Pagi ini saya mengunjungi Museum Adityawarman di Jalan Diponegoro No. 10, Kota Padang. Bangunan beratap gonjong yang tegak menyimpan denyut sejarah Minangkabau. Di dalamnya terpajang naskah kuno, replika rumah gadang, pakaian adat, dan dokumentasi perjalanan intelektual masyarakat Sumatera Barat. Saya berlama-lama di mural diniding “Tokoh Minangkabau,” di mana panel-panel menampilkan sosok-sosok besar dari Tanah Minang. Nama-nama seperti Abdoel Halim, Ilyas Yakoub, Rasuna Said, Tuanku Imam Bonjol, Mohammad Natsir, Abdul Muis, dan Bagindo Azis Chan ada di sisi kiri mural. Di sisi kanan tersemat nama Adnan Kapau Gani, Hamka, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, H. Agus Salim, Sutan Syahrir, dan Hazairin. Disini saya dapat merasakan bahwa kebudayaan bukan benda mati, melainkan cara hidup yang menanamkan nilai. Dan nilai itu menuntun kita pada pertanyaan yang sama: bagaimana orang Minang mengubah ilmu menjadi amal, dan adat menjadi akhlak.

Dari suasana museum itu lahir niat menuliskan sedikit kata pada perjalanan ini. Saya datang dari Yogyakarta, kota ilmu dan sejarah di Jawa, lalu ke Padang Sumatera Barat untuk mencari sedikit makna di balik sosok Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Sosok ulama, sastrawan, dan reformis Islam Nusantara yang menembus batas zaman. Di ruang museum yang senyap saya memahami, seperti halnya artefak budaya yang dirawat, pemikiran Hamka pun perlu dibaca bukan sebagai masa lalu, melainkan sumber daya moral masa kini. Ia menunjukkan bahwa antara adat Minangkabau dan Islam tidaklah ada jurang, melainkan jembatan yang bisa dilewati siapa saja yang mau berpikir dan berbuat. Sebenarnya saya ke Padang dalam rangka mendampingi Tim Mahasiswa Gamaforce UGM untuk berlomba di Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2025, ke Museum Adityawarman mampir sejenak untuk escape sih 🙂

Buya Hamka lahir di Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, pada 17 Februari 1908. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), dikenal sebagai pelopor gerakan pembaruan Islam di Sumatera Barat. Beliau menggagas madrasah modern Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Dari sang ayah, Hamka mewarisi semangat rasional-religius, sementara dari ibunya, Siti Shafiyah, ia menyerap kelembutan hati dan empati sosial.

Hamka kecil tumbuh di lingkungan surau. Ia belajar Al-Qur’an, fiqih, dan sejarah Nabi, tetapi di luar kelas ia menyerap dunia melalui cerita rakyat dan buku-buku sastra Melayu. Ia dikenal haus baca: karya Mustafa Luthfi al-Manfaluthi, Sir Arthur Conan Doyle, hingga Victor Hugo. Pandangan dunia yang luas itulah yang membuatnya berbeda dari kebanyakan pelajar di zamannya.

Pada usia belasan, Hamka berangkat ke Makkah. Di sana ia belajar kepada ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Imam mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram. Ia bekerja di toko kitab sambil menulis di majalah al-Qiblah dan al-Manar. Pengalaman hidup di Tanah Suci menumbuhkan kesadarannya bahwa Islam bukan hanya ritual, melainkan panduan sosial yang mesti menyeimbangkan iman dan ilmu.

Sekembali ke tanah air, Hamka aktif di Muhammadiyah. Ia mendirikan cabang organisasi itu di Makassar (1927), Medan, dan kemudian di Padang Panjang. Kecakapannya berbahasa Arab dan wawasan sastranya membuatnya dikenal sebagai penulis produktif. Ia menulis roman “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” (1938) yang menyentuh tema cinta dan adat, karya yang kini dianggap klasik sastra Indonesia. Melalui novel itu, Hamka menyampaikan kritik lembut terhadap kekakuan adat Minang, sekaligus memperlihatkan bahwa keislaman tidak menghapus kemanusiaan.

Hamka menulis lebih dari 100 buku dalam berbagai bidang: tafsir, tasawuf, sejarah, psikologi, hingga politik. Magnum opus-nya, Tafsir Al-Azhar, ia selesaikan ketika dipenjara di Sukamiskin (1964–1966) karena sikap politiknya yang berseberangan dengan rezim kala itu. Dalam tafsir itu, setiap ayat dijelaskan dengan pendekatan kemanusiaan. Ia menulis dengan tangan, ditemani cahaya lampu redup, namun isinya terang bercahaya, berpendar hingga kini. Dalam pengantar tafsir itu beliau berkata:

“Tafsir ini kutulis dalam kesepian penjara, tapi jiwaku bebas, sebab jasadku saja yang dikurung, bukan pikiranku.”

Hamka hidup di masa ketika Minangkabau berhadapan dengan pertarungan nilai:  antara adat matrilineal dan ajaran Islam yang patriarkal. Ia tidak memilih memusuhi adat, melainkan menafsirkan ulang lebih postif sesuai zamannya. Dalam pidatonya di Kongres Alim Ulama Bukittinggi (1952), ia berkata,

“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah bukan hanya pepatah, melainkan prinsip hidup.”


Dengan itu ia menegaskan bahwa adat dan agama dapat bersanding bila sama-sama dijiwai oleh kearifan lokal dan akhlak mulia.

Dari sana ia dikenal bukan sekadar ulama, melainkan penjaga keseimbangan. Dalam Tasawuf Modern (1939) Hamka menulis:

“Tasawuf bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan menguasai dunia dengan hati yang bersih.”


Buku itu mengajarkan spiritualitas aktif, cocok untuk manusia modern yang hidup di tengah bising kota.

Selain menulis, Hamka adalah orator dan organisator. Ia pernah menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia pertama (1975–1981) dan menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar, Kairo, atas jasanya mengembangkan pemikiran Islam di Asia Tenggara.

Namun ia tetap sederhana. Ketika menerima penghargaan itu, ia berkata dalam bahasa Arab: “Saya ini hanya seorang guru kampung yang cinta ilmu.”

Ia wafat pada 24 Juli 1981 di Jakarta. Presiden Soeharto datang melayat, dan ribuan orang mengiringinya ke pemakaman Tanah Kusir. Dalam catatan Tempo (1981) disebutkan, wajah Hamka tersenyum saat disemayamkan, seolah beliau tahu telah menunaikan tugasnya.

Drrrtttt… (nada getar HP) seketika pesan WA masuk, mengabarkan bahwa sesi Demonstrasi divisi Technology Development (TD) tim Gamaforce UGM dalam Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2025 akan segera mulai. Memang seperti yang sudah saya rencanakan, waktunya cukup untuk mengejarnya menggunakan transportasi ojek online dari Museum Adityawarkan ke Lanud Sutan Sjahrir (Syahrir) Kota Padang.

Ketika saya keluar dari Museum Adityawarman dan melanjutkan perjalanan, saya sekelebat melintas hubungan yang halus antara ruang, sejarah, dan manusia. Museum adalah tempat menyimpan benda-benda fisik, sementara Hamka dengan semua karyanya menyimpan nilai-nilai (value) non-fisik yang mulia. Keduanya menunjukkan bahwa budaya dan iman bukanlah warisan yang membatu stagnan, melainkan proses terus-menerus untuk memahami diri sendiri sebagai makhluk dan menyadari kemahabesaran Rabb semesta alam.

Diatas kendaraan ojek online, saya membayangkan bahwa di Padang Panjang sana, tempat Hamka muda pernah menulis dan berdakwah, saya seakan duduk di teras masjid tuanya. Angin lembah membawa suara azan yang panjang. Saya teringat kalimatnya yang terkenal:

“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup; kalau bekerja sekadar bekerja, kera di hutan juga bekerja.”


Kata-kata itu, yang kini banyak dikutip di media sosial, bukan satire kosong melainkan seruan agar manusia hidup dengan nilai-nilai manfaat kemuliaan, bukan sekadar rutinitas.

Merenungi kehidupan Hamka, saya sadar bahwa Islam di Nusantara sesungguhnya bukan kompromi pragmatis, melainkan dialektika antara tradisi manusia dan wahyu Ilahi. Seperti rumah gadang yang atapnya melebar menaungi banyak ruang, Islam di tangan Hamka meneduhkan semua lapisan masyarakat: rasional-spiritual, adat-agama, ilmu-iman.

Perjalanan saya dari Yogyakarta ke Padang bukan sekadar ziarah geografis, melainkan ziarah intelektual. Yogyakarta mengajarkan disiplin berpikir; Padang menunjukkan bahwa berpikir pun harus punya jiwa.

Buya Hamka pernah menulis dalam Falsafah Hidup:

“Ilmu yang tidak melahirkan kasih hanyalah racun yang halus.”


Kalimat ini terasa relevan di tengah dunia digital hari ini. Kita mudah belajar, tetapi sulit berempati. Kita banyak berbicara atas nama agama, namun sedikit mendengar dengan hati. Hamka mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan melahirkan perpecahan, sedangkan akhlak tanpa ilmu akan menjerumuskan dalam taklid.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menafsirkan surah Al-‘Alaq dengan tafsiran yang indah: bahwa membaca (iqra’) bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk syukur kepada Tuhan atas anugerah akal. Ia menulis:

“Membaca bukan hanya kitab, tetapi alam, sejarah, dan diri sendiri.”


Kutipan itu menutup lingkaran makna kunjungan saya pagi tadi: membaca museum sama halnya dengan membaca sejarah bangsa, dan membaca Hamka sama artinya dengan membaca jiwa Indonesia.

Sore itu saya kembali memejamkan mata di kasur selesai meresapi segarnya mandi air hangat. Setelah kehujanan tadi di Lapangan Universitas Andalas (lokasi lomba selain Lanud Sutan Sjahrir) saat Final Battle “fighting chopter” dari divisi VTOL KRTI 2025, tim Gamaforce UGM menang!! Sungguh luar biasa 🙂 . Sembari mata terpejam, saya berandai-andai masih berdiri di depan Museum Adityawarman saat matahari mulai tenggelam. Cahaya matahari memantul di dinding gonjongnya, membentuk siluet seperti sayap yang melindungi kota. Di balik bangunan itu saya membayangkan sosok Hamka muda berlari ke surau dengan kitab lusuh di tangan. Dari surau itulah lahir pemikir besar yang menulis lebih dari seratus karya, mendirikan sekolah, memimpin ormas, dan memberi suara bagi nurani bangsa.

Dalam setiap langkah, saya merasakan bahwa Buya Hamka bukan sekadar nama di lembar sejarah. Ia adalah metafora tentang perjalanan manusia mencari makna, perjalanan dari gelap ke terang, dari kebiasaan ke kesadaran, dari ilmu menuju cinta.

“Hidup adalah perjalanan menuju Allah. Barang siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”

Dan saya tahu, perjalanan ini belum selesai. Setiap generasi yang membaca, berpikir, dan menulis dengan jujur sesungguhnya sedang melanjutkan rihlah Buya Hamka, dan semua ulama terdahulu yang shalih. Selamat melanjutkan perjalanan…

Posted in intermezzo | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Posted by bramantya on October 18, 2025

Saat Ilmu Kembali Pulang ke Ranah Minang

Langit Padang berpendar cerah ketika aku melangkah ke halaman Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Jalan Khatib Sulaiman. Nama itu baru diresmikan oleh pemerintah provinsi pada 1 Muharram 1446 H (7 Juli 2024), meneguhkan bahwa masjid ikonik ini memang diniatkan sebagai monumen kehidupan bagi ulama Minangkabau yang pernah menjadi imam mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram.

Di serambinya, suara para pengunjung bersahut dengan hembusan angin dari Samudra Hindia. Aku duduk, membiarkan nama “Ahmad Khatib” menuntun ingatan pada jejak rihlah indah ini. Seorang putra Koto Gadang, Agam yang berangkat ke Makkah, menulis risalah dalam bahasa Arab, dan mengajar di jantung dunia Islam. Hingga beliau diangkat menjadi kepala imam mazhab Syafi‘i di Masjid al-Haram. Masjid yang kini menyandang namanya serasa menjadi jembatan dua tepian: Minangkabau dan Makkah, keduanya sebagai tempat ilmu berangkat dan pulang sebagai cahaya keberkahan.

Namun cahaya keberkahan itu tidak pulang sendirian ke Nusantara ini. Ia kembali dalam bentuk luas generasi murid. Di ruang utama masjid, saat kubah tanpa tiang memayungi jamaah, aku teringat murid-murid beliau dari Jawa yang kelak menjadi pilar Islam Indonesia modern. Yang pertama KH. Ahmad Dahlan, pemuda Yogya bernama Muhammad Darwis yang menimba ilmu beberapa tahun di Makkah dan berguru langsung kepada Syekh Ahmad Khatib, sebelum kembali mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Lalu KH. Hasyim Asy‘ari, pendiri Nahdlatul Ulama, juga dididik oleh Syekh Ahmad Khatib saat bermukim di Tanah Suci pada akhir abad ke-19.

Dari Asia Tenggara (Semenanjung Malaya), terpahat nama Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki, cendekia ilmu falak yang berangkat ke Makkah sejak kecil dan berada dalam asuhan sepupunya, yaitu Syekh Ahmad Khatib sendiri. Pengaruh yang sangat menonjol bagi orientasi intelektualnya. Melalui para murid inilah (serta murid-murid yang tidak disebutkan disini) gagasan-gagasan pembaruan, disiplin dalil, dan akal sehat keagamaan berkelindan ke tanah air: ke ruang kuliah, ke surau, ke pasar, hingga ke organisasi sosial-keagamaan yang membentuk wajah Islam Indonesia modern saat ini.

Di dalam masjid, aku mengamati detailnya: atap empat sudut yang menafsirkan bentuk rumah gadang sekaligus mengisyaratkan kisah pengangkatan Hajar Aswad saat renovasi Ka’bah di zaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Empat penjuru perwakilan Quraisy yang secara bersamaan setara mengangkat satu batu suci tersebut. Kapasitasnya sangat kolosal, menjadikannya masjid terbesar di Sumatera Barat. Sebuah landmark yang dirancang arsitek Rizal Muslimin dan kerap masuk daftar karya arsitektur masjid kelas dunia. Tetapi pada akhirnya, kebesaran bangunan ini justru yang mampu menundukkan hati. Sebab inti penghormatan bukan terletak pada bentang marmer dan segala keindahan arsitekturnya, melainkan pada adab ilmiah yang diwariskan sang ulama. Berpikir dengan dalil, menolak keburukan dengan santun, serta menjaga agama dengan kejernihan niat.

Selepas Ashar, cahaya matahari bergeser merambat di lantai batu, dan nama-nama murid itu (seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy‘ari, Tahir Jalaluddin, dll) seakan berbaris didalam ingatan. Mereka datang dari Jawa dan Semenanjung Malaya, menimba pada mata air yang sama, lalu mengalirkannya kembali ke kampung halaman masing-masing. Menjadi sekolah, menjadi pesantren, majalah, risalah, dan gerakan-gerakan dakwah serta sosial kemasyarakatan. Di situlah aku merasakan makna terdalam atas penamaan masjid ini, yaitu ilmu Syekh Ahmad Khatib telah pulang kembali ke tanah ini, bukan dalam wujud jasad beliau, melainkan dalam karya para muridnya yang melintasi batas etnik dan negara.

Ketika melangkah keluar selepas maghrib, angin malam kota Padang mengantar pandangan mata ke langit. Pada fasad bangunan masjid tertulis kembali nama sang ulama, seolah menegaskan pesan sederhana: jangan takut berpikir, asal ilmumu benar dan niatmu lurus. Masjid ini pun terasa bukan sekadar tempat salat, melainkan mikraj makna, tangga naik yang mengingatkan setiap peziarah bahwa perjalanan ilmu tidak berhenti pada guru semata. Ia terus hidup pada murid-murid yang memikul amanah. Dan selama nama-nama murid itu masih disebut dalam pelajaran-pelajaran penuh manfaat, selama shaf-shaf di ruang utama masjid dan madrasah tetap terisi, Padang akan selalu menjadi pelabuhan tempat ilmu berpulang dan kemudian berangkat lagi menuju masa depan.

18 Oktober 2025, sambil menikmati Sate Padang Kuah Labu dan Teh Talua Niro di Kantin Masjid Raya Sumatera Barat.

Posted in intermezzo | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

RANTAU KE MINANGKABAU

Posted by bramantya on October 18, 2025

Ada perjalanan yang tidak diukur oleh jarak, melainkan oleh kedalaman makna. Perjalanan menuju Kota Padang bagi seorang Muslim bukan sekadar wisata, melainkan rihlah ruhaniyah — sebuah penjelajahan batin untuk mengenali akar ilmu, menelusuri jejak para ulama terdahulu, dan merenungkan hubungan antara iman, adat, dan peradaban. Di tanah ini, dari pesisir Samudra Hindia hingga lembah dan gunungnya yang hijau, Islam tumbuh bukan hanya sebagai ajaran, tetapi sebagai napas kehidupan yang menyatu dengan budaya Minangkabau.

Angin laut Padang membawa aroma asin dan sejarah. Di setiap hembusnya, seakan tersimpan kisah tentang para ulama besar yang lahir dari rahim Sumatera Barat dan menebarkan ilmunya ke seluruh dunia Islam. Di antara mereka ada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, putra Koto Gadang, Agam, yang menjadi Imam dan Khatib di Masjidil Haram — ulama mazhab Syafi‘i yang karya-karyanya dibaca di berbagai madrasah. Dari tanah yang sama pula lahir Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul), tokoh pembaru Islam yang menanamkan semangat modernisasi pendidikan melalui Sumatera Thawalib, dan dari rahim beliau lahir seorang sastrawan dan ulama besar, Prof. Dr. Hamka, yang menulis Tafsir Al-Azhar dengan gaya yang lembut namun berwawasan luas.

Berjalan di Padang, seorang pengembara bisa merasakan bahwa setiap masjid, surau, dan lorong tua memiliki denyut sejarah. Di Parak Gadang, berdiri nama Syekh Khatib Ali Padang, ulama Naqsyabandiyah yang gigih mempertahankan nilai-nilai tasawuf dalam keseimbangan dengan syariat. Ia menjadi simbol keteguhan di tengah gelombang modernisme yang melanda awal abad ke-20. Sedangkan dari garis keluarga ulama Padang yang berhijrah ke Tanah Suci lahir Syekh Muhammad Yasin al-Fādānī, yang dijuluki Musnid ad-Dunyā, ulama besar hadis di Makkah yang sanadnya diakui di dunia Islam. Ayahnya, Syekh Muhammad ‘Isa bin Udik al-Fādānī, dan pamannya Syekh Mahmud al-Fādānī, turut menegaskan betapa darah Padang telah menorehkan jejak keilmuan di jantung dunia Islam.

Langit Padang di waktu senja seakan turut berdzikir. Warna jingga yang memantul di permukaan laut di Pantai Air Manis mengingatkan pada kisah Malin Kundang, simbol abadi tentang anak yang lupa pada asalnya. Legenda itu, jika direnungi dengan mata batin seorang peziarah, sesungguhnya bukan sekadar cerita rakyat, melainkan pesan ruhani agar setiap insan berilmu tidak melupakan akarnya. Para ulama Minangkabau — seperti Syekh Burhanuddin Ulakan di Padang Pariaman, yang membawa Tarekat Syattariyah ke ranah ini pada abad ke-17 — telah mencontohkan keseimbangan antara menerima ajaran luar dan mengakar di bumi sendiri. Dari surau Ulakan-lah Islam menyebar ke pelosok Minangkabau, menyatu dengan adat yang berpegang pada prinsip: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.

Seorang pengembara Muslim yang berjalan menyusuri masjid tua seperti Masjid Raya Ganting, yang berdiri sejak awal 1800-an, akan menyaksikan bagaimana bangunan itu bukan sekadar tempat shalat, tetapi saksi perjuangan umat menghadapi masa-masa sulit. Di dindingnya yang retak karena gempa, tersimpan keteguhan generasi demi generasi yang menolak tunduk pada kemunduran. Dari masjid-masjid seperti itulah semangat pembaharuan muncul, melahirkan generasi ulama seperti Syekh Sulaiman ar-Rasuli (Inyiak Canduang), yang menggagas PERTI untuk mempertahankan tradisi keilmuan pesantren, serta Syekh Ibrahim Musa Parabek yang mendirikan Sumatera Thawalib Parabek sebagai pelita pendidikan kaum muda.

Rihlah ke Padang berarti membuka hati terhadap keseimbangan antara alam dan jiwa. Pantai, gunung, dan lembahnya mengajarkan hikmah tentang keteraturan ciptaan Allah. Di setiap debur ombak, seseorang dapat merenungkan ayat-ayat kauniyah yang mengingatkan bahwa dunia adalah tempat belajar dan tanda-tanda kebesaran Tuhan terbentang di mana-mana. Dalam hembusan angin yang lembut dan desir ombak di Pantai Nirwana, seorang pejalan Muslim menemukan makna bahwa perjalanan bukan sekadar hiburan, melainkan ibadah — sebagaimana para ulama terdahulu menjadikan pengembaraan mereka sebagai jalan mencari ridha Allah dan ilmu yang bermanfaat.

Ketika menapaki jalan di Padang Lama atau Kampung Nanggalo, seolah terdengar kembali langkah para pelajar yang dahulu berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu. Sebagian dari mereka kembali menjadi guru bagi bangsanya, sebagian wafat di tanah suci, namun semuanya meninggalkan warisan tak ternilai. Rahmah el-Yunusiyah, perempuan ulama dari Padang Panjang, menunjukkan bahwa keilmuan tidak mengenal batas gender. Ia mendirikan Diniyah Putri, lembaga pendidikan Islam pertama bagi perempuan di Indonesia, jauh sebelum dunia mengenal konsep kesetaraan modern. Dari tangan-tangan ulama seperti Rahmah, Zainuddin Labay el-Yunusy, hingga Azyumardi Azra yang lahir di Lubuk Alung, Padang Pariaman, terbentang garis panjang pemikiran Islam yang rasional, inklusif, dan berakar kuat pada budaya lokal.

Di setiap langkah di Padang, seorang peziarah Muslim diajak untuk berdialog dengan dirinya sendiri. “Sudahkah aku menghargai ilmu sebagaimana para ulama dahulu menjaganya?” “Sudahkah aku berjalan dengan adab, sebagaimana mereka berjalan dengan rendah hati di hadapan ilmu dan Tuhan?” Padang mengajarkan bahwa ilmu bukan untuk disombongkan, tetapi untuk diamalkan; bahwa modernitas tanpa iman hanyalah ilusi; dan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menyalakan kembali obor keilmuan yang diwariskan pendahulunya.

Pada akhirnya, rihlah ke Padang bukanlah sekadar perjalanan ke sebuah kota. Ia adalah perjalanan menuju akar peradaban Islam di Nusantara — peradaban yang dibangun di atas surau-surau kecil, di atas kesederhanaan hidup para ulama, dan di atas cinta yang mendalam kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang Muslim yang berjalan ke Padang sejatinya sedang berjalan menuju dirinya sendiri: mencari ketenangan, meneguhkan niat, dan menghidupkan kembali semangat para pendahulu yang telah menunjukkan bahwa ilmu, adab, dan iman adalah tiga pilar yang membuat bangsa ini tetap berdiri tegak di tengah arus zaman.

Di ufuk barat, matahari perlahan tenggelam di balik laut. Cahaya oranye yang menimpa menara Masjid Raya Sumatera Barat terasa seperti simbol bahwa cahaya ilmu tidak pernah padam, hanya berpindah dari generasi ke generasi. Dan di dada setiap pejalan yang datang ke Padang, ada doa lirih yang sama: semoga langkah ini menjadi bagian dari perjalanan panjang mencari makna, sebagaimana para ulama terdahulu telah menapaki jalan yang sama — dengan rendah hati, dengan ilmu, dan dengan cinta.

Posted in intermezzo | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Strategi Membangun Reputasi Universitas Melalui Buku

Posted by bramantya on October 11, 2025

Membangun Reputasi Kampus Lewat Buku yang Baik

oleh: M. Agung Bramantya

Bayangkan sebuah universitas di Asia yang ingin memperkuat reputasinya. Bukan dengan baliho besar yang menonjolkan angka peringkat, melainkan dengan cara yang lebih sunyi namun tahan lama: memperbaiki “dapur” penerbitan akademiknya. Caranya sederhana, tapi dampaknya panjang. Mereka mulai dengan menata ulang pedoman kerja penerbit kampus—university press—agar selaras dengan Best Practices for Peer Review of Scholarly Books yang diterbitkan Association of University Presses (AUPresses). Intinya, setiap buku yang terbit dicermati isinya, ditelaah oleh sejawat yang kompeten, dan semua prosesnya didokumentasikan dengan rapi agar bisa dipertanggungjawabkan.

Dari sini, universitas membentuk dewan editorial lintas-fakultas. Tugas dewan ini bukan sekadar “menyetujui naskah,” melainkan menjadi penjaga mutu dan arah. Mereka menilai apakah sebuah buku yang diusulkan benar-benar membawa gagasan baru, bermanfaat untuk ilmu dan masyarakat, serta sesuai dengan pembaca yang dituju. Editor akuisisi dilatih membaca proposal buku bukan sebagai “ringkasan isi,” melainkan janji argumen: apa kontribusinya? mengapa perlu terbit? untuk siapa? Dengan pola pikir ini, penerbit kampus tidak hanya “menerbitkan,” tetapi mengkurasi.

Langkah berikutnya adalah mengukur keterlihatan katalog yang sudah ada. Mereka membandingkan daftar buku terbitan kampus dengan Master Book List milik Book Citation Index (BKCI) di Web of Science, apakah beberapa judul sudah terdaftar atau memenuhi 18 kriteria mutu seleksi Clarivate. Mereka juga memeriksa cakupan di Scopus: apakah penerbit kampus sudah diakui sebagai penerbit yang kontennya bisa diindeks, dan apakah bab-bab dalam bunga rampai (edited volume) ikut terbaca?

Sering kali dari audit sederhana seperti ini, muncul beberapa temuan: ada judul yang sebenarnya kuat, tetapi metadata-nya kurang rapi; ada pula buku yang sudah melalui telaah sejawat, tetapi dokumentasi proses review belum ditautkan di laman penerbit. Maka dapur dibereskan: format seragam untuk “lembar ulasan” (cover sheet) penelaah, pelacakan (tracking) revisi penulis yang jelas, dan daftar periksa etika (ethics checklist). Hasilnya tentu tidak langsung meledak menjadi kenaikan peringkat. Tetapi setelah dua atau tiga siklus terbitan—katakan setahun atau dua tahun, atau mungkin lebih—nama-nama buku dari kampus itu mulai muncul di bibliografi artikel lintas-negara, dibaca di kelas universitas lain, atau disorot media. Reputasi bergerak pelan, seperti air yang menyusup ke tanah: tidak terlihat sehari dua hari, tetapi lama-lama menyuburkan.

Akses Terbuka yang Terpercaya

Setelah dapur editorial rapi, universitas memikirkan strategi akses. Tidak semua buku harus open access (OA); mereka memilih judul yang temanya lintas-batas—misalnya kebencanaan di cincin api, tata kelola air kota pesisir, urbanisasi tropis, atau ketahanan pangan. Judul-judul seperti ini berpotensi dibaca oleh peneliti dan pembuat kebijakan di berbagai negara. Untuk judul terpilih, kampus mengajukan listing ke DOAB (Directory of Open Access Books) dan setoran ke OAPEN, lengkap dengan deskripsi terbuka tentang proses peer-review yang sudah dikerjakan. Sistem PRISM milik DOAB/OAPEN ini sangat penting: ia menautkan informasi telaah sejawat pada level judul, sehingga pembaca dan pustakawan tahu bahwa OA di sini tetap bermutu.

Selain itu, kampus menjalin kemitraan dengan Project MUSE agar katalog digital hadir di antarmuka yang familiar bagi pustakawan global. Memang ada biaya yang perlu diperhitungkan (mulai dari book processing charge hingga pengaturan lisensi) tetapi setiap unduhan OA, setiap bab yang masuk daftar bacaan, dan setiap kutipan baru adalah jejak reputasi. Saat dosen di universitas jauh mengunduh buku itu untuk mata kuliahnya, nama kampus asal ikut menyeberang.

Bukan Sekadar Rencana

Kisah di atas bukan angan-angan. Banyak university press mapan sudah melakukannya. Project MUSE menampung ribuan buku dan jurnal dari ratusan penerbit akademik; Clarivate dan Elsevier menyediakan kerangka seleksi yang bisa diaudit; dan berbagai laporan kebijakan di Inggris, Eropa, dan komunitas internasional menegaskan peran monograf dalam ekosistem riset modern.

Jika dulu perdebatan “buku vs paper” terasa sengit—seolah buku kalah “terukur”—kini arah pembicaraan berubah. Artikel jurnal tetap penting untuk temuan cepat; tetapi buku menyajikan argumen panjang yang memerlukan ruang. Keduanya saling menopang. Di bidang sosial-humaniora, monograf memegang peran utama; di kebijakan publik, teknik terapan, kesehatan masyarakat, sampai ekonomi pembangunan, buku tematik dan handbook menjembatani laboratorium dan praktik. Ketika buku-buku seperti itu hadir konsisten dan mudah ditemukan, reputasi kampus menguat bukan karena kampanye, melainkan karena pengalaman pembaca yang berulang.

Empat Titik Waspada

Tentu strategi buku bukan tanpa tantangan. Ada setidaknya empat hal yang perlu diwaspadai, sederhana, tetapi menentukan.

Pertama, perbedaan disiplin. Bidang humaniora cenderung punya laju sitasi yang lebih lambat dibanding ilmu alam atau teknik. Artinya, menilai dampak buku humaniora butuh waktu dan indikator yang lebih kaya: ulasan panjang, pemakaian dalam kurikulum, atau pengaruhnya pada percakapan publik dan kebijakan. Mengukur hanya dengan “angka sitasi dua tahun” bisa menyesatkan.

Kedua, bahasa dan pasar lokal. Buku berbahasa nasional sering “kurang terlihat” di panggung global. Solusinya bukan memaksa semua buku berbahasa Inggris, melainkan merapikan metadata, menyediakan abstrak dan kata kunci dwibahasa, serta menautkan buku ke platform kurasi seperti MUSE atau direktori seperti DOAB/OAPEN. Dengan begitu, buku berbahasa Indonesia pun bisa ditemukan pembaca internasional.

Ketiga, keragaman model penerbit. Ada press baru yang sangat inovatif, ada yang mapan tetapi lebih konservatif. Kuncinya transparansi—terutama terkait peer-review. Di ranah OA, PRISM menjadi kompas agar kita tidak terjebak pada akses terbuka yang mengabaikan mutu (DOAB/OAPEN—PRISM).

Keempat, dinamika metodologi pemeringkatan. Indikator peringkat internasional (QS/THE) berubah dari waktu ke waktu. Mengerti metodologi (apa yang mereka sebut reputasi akademik, bagaimana surveinya, bobot indikatornya) membantu kampus tidak jatuh pada “kejar angka”. Fokus tetap di substansi: kualitas penerbitan, diseminasi yang baik, dan bukti penggunaan. Angka yang baik biasanya menyusul.

Saran untuk Kampus di Indonesia

Kalau semua ini diterjemahkan menjadi saran tindakan untuk kampus di Indonesia, daftarnya kira-kira begini.

1) Audit katalog dan proses.
Petakan semua buku yang sudah terbit: judul, penulis, tahun, seri, status peer-review, metadata (ISBN yang benar, deskripsi, kata kunci), serta status diseminasi (apakah ada di MUSE/DOAB/OAPEN). Tandai mana yang layak diajukan ke BKCI atau Scopus (terutama untuk bunga rampai agar bab-babnya terlihat). Sambil berjalan, rapikan “lembar ulasan”, tracking revisi, dan ethics checklist sesuai pedoman AUPresses.

2) Perkuat pengelolaan metadata.
Metadata adalah “kartu identitas” buku di internet. Tanpa metadata yang rapi, buku sulit ditemukan. Pastikan ada abstrak dwibahasa, kata kunci yang relevan, dan identitas seri. Gunakan format standar (misalnya ONIX) bila memungkinkan, atau setidaknya konsisten pada rincian dasar. Ini membuat buku mudah diindeks dan mudah dicari.

3) Rancang strategi OA yang bertahap.
Tidak perlu semua judul OA. Pilih judul-judul “jembatan” yang bisa menarik pembaca lintas negara, lalu ajukan ke DOAB/OAPEN lengkap dengan deskripsi peer-review (PRISM). Untuk judul lain, gunakan model embargo (dibuka setelah jangka waktu tertentu) atau freemium (bagian tertentu terbuka). Pastikan lisensi jelas (mis. CC-BY, CC-BY-NC, dll.) agar pembaca paham batas pakai (DOAB/OAPEN).

4) Bangun kemitraan platform.
Jajaki Project MUSE untuk meningkatkan discoverability, terutama bagi bidang sosial-humaniora. Keuntungan penting MUSE adalah statistik penggunaan yang patuh COUNTER, sehingga kampus punya bukti keterbacaan yang diakui perpustakaan dunia.

5) Dampingi penulis—secara substansi, bukan sekadar teknis.
Sediakan klinik proposal agar dosen/peneliti bisa mempertajam proposition (apa gagasan kuncinya?) dan audience fit (siapa pembacanya?). Dampingi pula pada penyusunan bibliografi dan etika sitasi, agar proses telaah berjalan lancar.

6) Dokumentasikan, lalu ceritakan.
Setiap kali ada buku yang dipakai di kurikulum kampus lain, diulas media, atau dikutip di artikel, arsipkan buktinya. Ini bukan untuk promosi semata, tapi untuk evaluasi internal—bahan berharga saat menyusun laporan mutu, akreditasi, atau diskusi strategi reputasi.

Menautkan Buku dengan Reputasi

Bagaimana semua langkah ini berhubungan dengan reputasi? Lembaga pemeringkat global seperti QS dan Times Higher Education (THE) menggunakan indikator reputasi yang diperoleh dari survei besar kepada akademisi dan, pada QS, juga pemberi kerja. Ketika buku-buku dari penerbit kampus dibaca, dikutip, dan dipakai dalam pengajaran di berbagai tempat, pengalaman itu terkumpul menjadi persepsi kolektif: kampus Anda adalah sumber gagasan yang bisa dipercaya. Persepsi inilah yang, pelan-pelan, tercermin dalam indikator reputasi.

Penting ditekankan: reputasi tidak dibangun oleh satu buku “viral,” melainkan oleh konsistensi pengalaman yang baik. Satu buku mengantar pembaca baru; buku berikutnya memantapkan kesan; rangkaian judul dari waktu ke waktu membentuk ingatan bahwa “kampus ini punya suara yang berarti.” Inilah alasan mengapa strategi penerbitan yang rapi lebih efektif daripada sekadar kampanye singkat.

Kisah Imajinatif

Bayangkan sebuah buku tentang mitigasi banjir di kota pesisir. Isinya menggabungkan rekayasa sipil, tata ruang, dan kebijakan publik. Buku itu diterbitkan oleh penerbit kampus, disunting baik, lalu dimasukkan ke Project MUSE. Metadata disiapkan rapi: ada abstrak Inggris, kata kunci, dan tautan ke publikasi terkait. Universitas kemudian mengajukan judul ini ke DOAB/OAPEN agar bisa dibaca bebas, lengkap dengan PRISM yang menjelaskan proses telaahnya.

Beberapa bulan kemudian, dosen di universitas lain—katakan di Filipina atau Jepang—menemukan buku itu saat menyiapkan materi kuliah kebencanaan. Ia memasukkan dua bab ke daftar bacaan. Mahasiswanya membaca, mendiskusikan, dan menulis esai yang mengutip buku tersebut. Di saat yang sama, peneliti di Eropa yang menulis artikel tentang tata kelola air menemukan buku itu di search engine akademik dan mengutipnya dua kali.

Tidak ada pesta untuk merayakan dua kutipan dan satu kelas yang membaca. Tetapi itulah reputasi yang sedang bertumbuh: senyap, nyata, dan—yang paling penting—berdasar pada pengalaman membaca. Saat kelak para dosen itu mengisi survei reputasi akademik, ada peluang mereka mengingat kampus Anda bukan dari iklan, melainkan dari kualitas buku yang membantu mereka mengajar dan meneliti.

Mengelola Harapan

Semua ini tidak terjadi semalam. Biasanya butuh lima hingga enam siklus terbitan untuk mulai melihat perubahan: unduhan OA yang meningkat, keterbacaan di MUSE yang konsisten, bab-bab yang masuk kurikulum luar, atau judul yang mulai muncul di BKCI dan Scopus. Namun justru karena tidak instan, hasilnya lebih tahan lama. Reputasi yang lahir dari kualitas akan melekat pada karya, tercatat di bibliografi, dan diulang oleh para pembaca yang percaya.

Jangan lupa, selalu ada ruang untuk berbenah. Dengarkan umpan balik penulis dan penelaah; evaluasi seri yang kurang berdampak; dan jangan ragu menutup “jalur lama” yang kurang efektif demi memperkuat “jalur baru” yang membawa buku ke pembaca yang tepat. Dalam penerbitan akademik, kejelasan fokus sering lebih penting daripada banyaknya judul.

Jalan yang Senyap, Hasil yang Terang

Kita kembali pada layar laptop di sore yang tenang. Seorang calon mahasiswa menutup monograf yang baru selesai ia baca. Ia mungkin tidak tahu apa itu AUPresses, BKCI, Scopus, DOAB, OAPEN, atau Project MUSE. Tetapi ia merasakan kualitas buku itu: jelas, rapi, dapat dipercaya. Ia membuka laman kampus yang menerbitkannya, dan—tanpa sadar—menyimpan kesan baik. Di sanalah reputasi bertumbuh: dari rasa percaya.

Jika kampus Anda memilih jalan ini—menata proses, membangun akses, mendokumentasikan bukti, dan bersabar—maka reputasi akan mengikuti. Bukan karena poster peringkat, tetapi karena orang-orang di luar sana menemukan, memakai, dan mengandalkan buku-buku Anda.

Rujukan

Posted in intermezzo | Leave a Comment »

Kualitas dan Reputasi: Buku dari University Press

Posted by bramantya on October 4, 2025

Mesin Mutu di Balik Sampul: Perjalanan Buku dari Editor ke Reputasi Kampus

oleh: M. Agung Bramantya

Setiap kali kita membuka sebuah buku ilmiah, sering kali kita hanya fokus pada isinya—bab demi bab yang menjelaskan sebuah topik dengan rinci dan mendalam. Tapi jarang yang tahu, bahwa sebelum buku itu sampai di tangan pembaca, ia telah melewati proses panjang yang melibatkan banyak pihak dan standar yang ketat. Terlebih jika buku itu diterbitkan oleh sebuah penerbit universitas, atau yang biasa dikenal sebagai university press.

Di balik setiap buku dari university press, ada kerja sunyi namun penting dari para editor, penelaah, dan tim editorial yang memastikan bahwa buku tersebut bukan hanya informatif, tapi juga kredibel, jujur secara ilmiah, dan layak menjadi bagian dari “wajah” kampus yang menerbitkannya. Mari kita lihat lebih dekat bagaimana semua proses ini bekerja, dan bagaimana ia akhirnya bisa berkontribusi pada reputasi sebuah universitas di mata dunia.

Dari Naskah Mentah ke Meja Editor

Segalanya dimulai dari sebuah naskah. Bisa jadi itu berasal dari dosen, peneliti, atau tim penulis yang ingin mengubah hasil riset atau disertasinya menjadi buku yang bisa dibaca luas. Naskah ini kemudian masuk ke meja seorang editor akuisisi—orang yang bertugas memilih naskah mana yang layak diterbitkan oleh university press.

Tapi editor ini bukan sekadar “penerima naskah.” Mereka seperti kurator di museum. Mereka membaca, menilai, dan memutuskan apakah gagasan dalam naskah itu cukup baru, cukup penting, dan relevan untuk dibaca banyak orang. Kalau iya, maka langkah berikutnya adalah mencari penelaah.

Proses ini disebut sebagai peer review, atau telaah sejawat. Artinya, naskah akan dinilai oleh para ahli lain di bidang yang sama—bukan untuk mencari kesalahan, tapi untuk memastikan bahwa isi buku itu benar, tidak menyesatkan, dan sungguh-sungguh bermanfaat. Panduan proses ini bahkan dibuat resmi oleh lembaga dunia seperti Association of University Presses (AUPresses), agar semua penerbit universitas di berbagai negara punya standar yang sama dalam menjaga mutu buku mereka (AUPresses Peer Review).

Buku yang Disunting dan Diaudit

Setelah penelaah memberikan masukan, biasanya penulis akan diminta merevisi. Proses ini bisa berjalan cukup lama, tergantung seberapa kompleks topiknya. Tapi justru di sinilah letak kualitasnya. Sebuah buku dari university press bukan sekadar cepat terbit, melainkan telah melalui diskusi, perbaikan, dan penyempurnaan yang panjang dan terdokumentasi.

Catatan-catatan dari penelaah, revisi dari penulis, serta keputusan akhir dari editor semuanya dicatat secara transparan. Ini penting, karena suatu saat, jika isi buku itu dipertanyakan, universitas bisa menunjukkan bahwa buku tersebut telah lolos uji ilmiah yang sahih.

Bagaimana Buku Sampai ke Pembaca Dunia?

Nah, setelah buku selesai dicetak dan diterbitkan, pekerjaan belum selesai. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana buku itu bisa ditemukan dan dibaca oleh orang-orang di luar kampus. Di sinilah pentingnya distribusi dan diseminasi.

Salah satu platform internasional yang memfasilitasi hal ini adalah Project MUSE, yang dikembangkan oleh Johns Hopkins University di Amerika. Lewat MUSE, buku dan jurnal ilmiah dari berbagai kampus besar di dunia bisa diakses oleh siapa saja, terutama oleh perpustakaan dan peneliti di berbagai negara (MUSE Platform).

Apa yang membuat MUSE istimewa adalah sistemnya yang mendukung discoverability—artinya, buku-buku yang masuk ke dalam platform ini dipermudah untuk ditemukan lewat pencarian. Setiap buku dilengkapi dengan deskripsi, kata kunci, bahkan keterkaitan ke artikel jurnal lainnya.

Bayangkan ini: buku tentang politik lokal Indonesia bisa muncul dalam katalog pencarian di universitas-universitas di Jerman, Jepang, atau Kenya—semua karena sistem distribusi digital yang cerdas.

Bisa Diukur: Indeks Buku dalam Dunia Akademik

Dulu, banyak yang beranggapan bahwa buku sulit diukur dampaknya, tidak seperti artikel jurnal yang bisa dihitung jumlah kutipannya. Tapi sekarang sudah tidak demikian. Buku-buku yang diterbitkan oleh university press bisa masuk ke dalam Book Citation Index (BKCI) yang dikelola oleh Clarivate, bagian dari Web of Science (Clarivate BKCI).

BKCI ini bukan sembarang daftar. Untuk masuk ke dalamnya, sebuah buku harus memenuhi 18 kriteria mutu. Artinya, tidak semua buku bisa masuk. Kriterianya termasuk mutu editorial, kejelasan penulisan, dan tentunya rekam jejak penerbit itu sendiri.

Melalui BKCI, buku-buku yang lolos bisa dilacak berapa kali dikutip, siapa saja yang mengutip, dan di mana mereka digunakan. Data ini menjadi sangat penting bagi kampus karena bisa menunjukkan pengaruh karya ilmiahnya secara global.

Scopus: Jembatan Baru Buku dan Artikel

Bukan hanya Web of Science, platform lain seperti Scopus dari Elsevier juga kini mulai memperluas cakupan mereka ke dunia buku. Scopus bahkan tak hanya mencatat buku secara utuh, tapi juga per bab. Ini penting, terutama untuk buku-buku yang ditulis oleh banyak penulis (bunga rampai), di mana setiap bab punya tema dan kekuatan sendiri (Scopus Book Coverage).

Scopus menggunakan pendekatan seleksi berbasis penerbit. Artinya, penerbit universitas yang punya rekam jejak baik akan lebih mudah masuk daftar mereka. Dengan begitu, buku-buku dari kampus bisa bersanding sejajar dengan jurnal dalam sistem pencarian dan kutipan ilmiah.

Perlu dicatat, banyak bidang—seperti antropologi, sejarah, atau kajian wilayah—mengandalkan buku sebagai media utama untuk menyampaikan hasil penelitian. Maka, indeksasi buku di Scopus membantu mengurangi ketimpangan visibilitas antara artikel jurnal dan buku ilmiah.

Tidak Semua Tentang Angka

Meski kini buku bisa diukur dan dicatat dalam indeks, ada hal yang tetap harus diingat: angka bukan segalanya. Banyak bidang ilmu, terutama di humaniora dan ilmu sosial, punya ritme pengaruh yang lebih lambat. Artinya, sebuah buku bisa jadi baru mulai banyak dikutip setelah dua atau tiga tahun diterbitkan.

Karena itu, evaluasi reputasi kampus juga perlu sensitif terhadap hal ini. Jangan hanya melihat angka kutipan, tapi juga pertimbangkan:

  • Apakah buku tersebut digunakan dalam pengajaran?
  • Apakah dibahas di media atau seminar publik?
  • Apakah menjadi rujukan kebijakan?

Evaluasi seperti ini disebut evaluasi berbasis konteks—dan sudah mulai diterapkan di beberapa negara untuk menyeimbangkan antara metrik dan makna.

Akses Terbuka, Tapi Tetap Terjaga Mutu

Di era sekarang, banyak universitas mulai menerbitkan buku dalam format akses terbuka (open access)—artinya, siapa pun bisa membaca tanpa membayar. Tapi tantangannya adalah menjaga kualitas buku agar tidak dipandang remeh.

Untungnya, ada lembaga seperti Directory of Open Access Books (DOAB) dan OAPEN yang memastikan bahwa buku OA tetap bermutu tinggi. Mereka menerapkan sistem PRISM, yaitu informasi terbuka tentang proses review setiap buku (DOAB PRISM).

Buku OA yang terdaftar di DOAB atau OAPEN tidak hanya gratis, tetapi juga telah melalui seleksi ilmiah yang sahih. Ini penting untuk membangun kepercayaan, terutama dari perpustakaan internasional dan para peneliti.

Bahkan beberapa penerbit kampus mengadopsi model hibrida: ada yang sepenuhnya OA, ada yang sebagian bab dibuka, ada pula yang dibuka setelah jangka waktu tertentu. Tujuannya tetap satu: menjangkau lebih banyak pembaca, tanpa mengorbankan kualitas.

Bagaimana Semua Ini Mempengaruhi Reputasi Kampus?

Sekarang kita kembali ke pertanyaan besar: apa kaitan semua proses ini dengan reputasi universitas?

Ternyata, sangat erat. Lembaga pemeringkat global seperti Times Higher Education (THE) dan QS World Rankings menilai reputasi kampus tidak hanya dari jumlah riset atau dana, tapi juga dari opini komunitas ilmiah (THE Reputation Rankings).

Misalnya, QS menggunakan indikator academic reputation (30%) dan employer reputation (15%) yang diukur dari survei ke puluhan ribu akademisi dan pelaku industri. Ketika buku-buku dari kampus tertentu mulai banyak dibaca, dirujuk, bahkan diajarkan di universitas lain, maka persepsi tentang kampus itu ikut naik.

Dengan kata lain, buku ilmiah yang bermutu menjadi duta senyap dari reputasi kampus. Ia membawa nama baik kampus ke ruang-ruang kuliah di negara lain, ke daftar pustaka di jurnal ilmiah, bahkan ke ruang-ruang pengambilan keputusan publik.

Bukan Monopoli Humaniora

Meskipun contoh paling umum ada di bidang humaniora, buku ilmiah juga berperan besar di bidang lain. Di teknik, kesehatan masyarakat, dan kebijakan publik, monograf tematik atau buku pegangan juga sangat penting.

Ketika kampus menerbitkan buku semacam ini, apalagi jika temanya sesuai dengan isu terkini—seperti perubahan iklim, keamanan pangan, atau kecerdasan buatan—buku itu bisa jadi jembatan antara laboratorium dan masyarakat. Ia bisa dibaca oleh pengambil kebijakan, pelaku industri, atau masyarakat umum yang tertarik pada topik tersebut.

Dan ketika ini terjadi berulang-ulang, universitas itu akan dikenal bukan hanya sebagai “tempat belajar,” tapi juga “tempat ide-ide penting lahir.” Di situlah reputasi akademik berubah menjadi reputasi sosial.

Mutu yang Tidak Terlihat, Tapi Terasa

Buku dari university press bukan sekadar cetakan. Ia adalah hasil kerja kolektif: penulis, editor, penelaah, dan tim diseminasi yang menjaganya sejak naskah mentah sampai hadir di layar atau rak perpustakaan.

Buku-buku ini sering tidak tampil mencolok. Tapi justru dalam ketekunan prosesnya, kita menemukan wajah kampus yang sebenarnya: kampus yang peduli pada mutu, yang tidak buru-buru, dan yang percaya bahwa reputasi terbaik dibangun lewat karya nyata yang hidup lama.

Dan karena itu, buku—meski sunyi dan lambat—tetap menjadi kendaraan yang andal untuk membawa nama kampus melintasi waktu dan ruang.

Posted in intermezzo | Leave a Comment »

Peran University Press dalam Membangun Citra Kampus

Posted by bramantya on September 27, 2025

Bagaimana Sebuah Buku Bisa Membentuk Citra Sebuah Universitas

oleh: M. Agung Bramantya

Bayangkan seorang mahasiswa yang sedang mencari referensi untuk tugas akhirnya. Ia membuka katalog digital perpustakaan dan menemukan sebuah buku ilmiah, cukup tebal, sekitar 400 halaman. Buku itu membahas topik yang jarang disentuh: tentang bagaimana kota-kota di Asia Tenggara menghadapi tantangan urbanisasi dan perubahan iklim. Isinya kaya—ada data cuaca, peta, wawancara, bahkan kajian sosial budaya.

Saat membaca halaman-halaman awalnya, si mahasiswa ini merasa buku tersebut bukan hanya menyajikan informasi, tetapi juga terasa “serius.” Bukan hanya karena bahasanya, tapi karena cara buku itu ditata: lengkap, runtut, dan menyentuh aspek yang jarang dibahas artikel-artikel populer. Lalu ia melihat penerbitnya: sebuah university press—penerbit resmi dari sebuah universitas ternama. Dalam benaknya, tiba-tiba universitas itu terlihat “berwibawa.” Bukan karena dia melihat peringkat kampus di internet, tapi karena dia membaca karya nyata yang lahir dari universitas itu.

Inilah yang dimaksud dengan “buku sebagai wajah kampus.” Ia mencerminkan kualitas, kedalaman, dan komitmen akademik dari universitas yang menerbitkannya.

Apa Itu University Press?

Banyak orang awam mungkin belum mengenal istilah ini. University press adalah penerbit buku ilmiah yang dimiliki atau dikelola langsung oleh sebuah universitas. Berbeda dengan penerbit umum yang fokus pada pasar komersial, penerbit kampus ini memiliki misi akademik: menerbitkan pengetahuan yang lahir dari penelitian dan pemikiran para ilmuwan dan dosen.

Jenis bukunya pun berbeda dari bacaan harian. Biasanya berupa monograf (buku dari satu penulis dengan satu tema khusus), kumpulan artikel riset, edisi revisi dari disertasi doktoral, atau buku pegangan akademik untuk mahasiswa pascasarjana. Formatnya panjang, mendalam, dan disusun lewat proses yang ketat.

Proses Seleksi dan Telaah: Bukan Sekadar Diterbitkan

Setiap buku yang diterbitkan oleh university press biasanya melewati tahap yang disebut peer-review atau telaah sejawat. Artinya, sebelum naskah diterbitkan, isinya diperiksa oleh pakar lain di bidang yang sama untuk memastikan kualitas, keakuratan data, dan orisinalitas gagasan.

Asosiasi penerbit universitas dunia, yaitu Association of University Presses (AUPresses), bahkan telah menyusun panduan lengkap berjudul Best Practices for Peer Review of Scholarly Books. Panduan ini menjadi acuan bagaimana proses review dilakukan, bagaimana editor memilih penelaah, dan bagaimana catatan-catatan dari proses ini harus dicatat dengan rapi dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademik (AUPresses Peer Review).

Jadi, ketika Anda membaca buku dari university press, Anda tidak hanya membaca tulisan satu orang. Anda membaca karya yang telah “diuji” oleh komunitas ilmiah.

Dari Meja Editor ke Mata Dunia

Setelah lolos review dan diterbitkan, tantangan selanjutnya adalah bagaimana buku tersebut bisa ditemukan dan dibaca oleh banyak orang. Di sinilah peran platform digital seperti Project MUSE sangat penting.

Project MUSE adalah platform distribusi buku dan jurnal ilmiah yang dikembangkan oleh Johns Hopkins University. Lewat platform ini, ribuan buku dari penerbit kampus di seluruh dunia bisa diakses oleh perpustakaan, peneliti, dan pembaca global (MUSE Platform).

Bayangkan sebuah buku dari penerbit kampus di Indonesia bisa ditemukan dan dibaca oleh dosen di Brasil, mahasiswa di Jerman, atau wartawan ilmiah di India—semuanya karena akses digital yang mudah dan metadata yang lengkap.

Buku-buku yang masuk ke dalam MUSE juga dilengkapi data statistik pembacaannya, misalnya berapa kali diunduh atau dibaca. Jadi, bukan sekadar “terbit lalu hilang”, tapi benar-benar bisa diukur dampaknya.

Buku Bukan Lagi Sulit Diukur

Selama ini, banyak yang mengira bahwa buku ilmiah tidak bisa diukur dampaknya seperti jurnal. Padahal, sekarang sudah ada indeks khusus untuk buku, yaitu Book Citation Index (BKCI) dari Clarivate Analytics. Platform ini berada di bawah sistem Web of Science, yang dikenal luas di dunia akademik sebagai salah satu penyedia data sitasi ilmiah paling ketat (Clarivate BKCI).

BKCI menilai buku bukan hanya dari jumlah kutipan, tapi juga dari 18 kriteria mutu, termasuk kualitas editorial, kejelasan bibliografi, dan reputasi penerbit. Dengan begitu, buku yang masuk indeks ini bukan hanya “terbitan kampus,” tapi benar-benar sudah memenuhi standar internasional.

Melalui indeks ini, para dosen dan peneliti bisa melacak apakah buku mereka dibaca dan dikutip oleh peneliti lain. Dan tentu saja, semakin sering sebuah buku dirujuk, reputasi institusi yang menerbitkannya juga ikut naik.

Bagaimana Akses Terbuka Membuka Peluang

Di era sekarang, akses terbuka (open access) menjadi sangat penting. Banyak lembaga, perpustakaan, bahkan pembaca umum ingin bisa membaca buku ilmiah tanpa harus membayar mahal. Tetapi di sisi lain, akses terbuka sering dianggap “rawan kualitas.”

Untuk menjawab ini, dibentuklah Directory of Open Access Books (DOAB) dan platform OAPEN. Kedua lembaga ini mengembangkan sistem bernama PRISM (Peer Review Information Service for Monographs), yaitu sistem yang menunjukkan secara terbuka bagaimana buku-buku akses terbuka telah melewati proses telaah yang sahih (DOAB PRISM).

Dengan begitu, pembaca dan pustakawan tahu bahwa buku OA yang mereka baca bukan “asal gratis”, tapi memang bermutu dan telah diperiksa secara ilmiah. Ini penting terutama untuk membangun kepercayaan—baik kepada penulis maupun kepada universitas yang menerbitkan.

Mengapa Ini Semua Penting bagi Reputasi Kampus?

Mungkin Anda bertanya, “Apa hubungannya semua ini dengan peringkat universitas?”

Jawabannya: sangat erat.

Peringkat kampus dunia, seperti QS World University Rankings dan Times Higher Education (THE), tidak hanya menilai jumlah riset, tapi juga reputasi akademik. Artinya, bagaimana institusi itu dipandang oleh para akademisi lain di seluruh dunia.

QS, misalnya, menggunakan indikator “academic reputation” yang bobotnya bisa mencapai 30% dari total skor kampus (QS Methodology). THE pun memiliki indikator serupa dalam World Reputation Rankings, yang berdasarkan survei terhadap puluhan ribu akademisi lintas negara.

Nah, ketika universitas menerbitkan buku-buku ilmiah yang dibaca, dikutip, atau dipakai mengajar di kampus lain, persepsi terhadap kampus itu akan naik. Buku menjadi sarana reputasi yang tak kasat mata, tapi punya dampak yang nyata.

Di Dunia Sosial-Humaniora, Buku Adalah Segalanya

Peran buku sangat besar di bidang sosial-humaniora. Banyak tema—seperti sejarah, filsafat, sosiologi, atau ilmu politik—yang tidak bisa dibahas tuntas hanya dalam satu artikel jurnal. Ia butuh ruang panjang, penjelasan mendalam, bahkan penelusuran sejarah yang kompleks.

Laporan dari British Academy menyebutkan bahwa buku (monograf) dalam ilmu humaniora adalah bentuk komunikasi ilmiah yang tidak bisa digantikan (British Academy on Monographs). Karena itu, jika kebijakan universitas hanya menghargai artikel jurnal sebagai bentuk publikasi utama, maka akan ada ketimpangan. Peneliti humaniora seolah “tak terlihat”, padahal kontribusinya sangat penting.

Dengan memperkuat university press, kampus memberikan panggung kepada para ilmuwan sosial-humaniora untuk berbicara lebih luas.

Jadi, Apakah Buku Bisa Meningkatkan Reputasi?

Jawabannya: bisa. Tapi bukan secara langsung dan instan.

Kualitas university press yang tinggi—yang menjunjung proses review yang ketat, keterbukaan akses, dan distribusi yang luas—akan membuat buku-buku dari kampus itu dibaca dan digunakan banyak orang. Dari situ, muncul rujukan, ulasan, adopsi dalam pengajaran, bahkan diskusi publik.

Ketika itu terjadi berulang-ulang, maka reputasi kampus pun ikut naik. Tidak karena promosi besar-besaran, tapi karena kualitas yang dirasakan pembaca.

Reputasi yang Bertumbuh dari Buku

Di zaman yang serba cepat dan instan, buku tetap menjadi tempat bernaung bagi pemikiran yang panjang, mendalam, dan hati-hati. Universitas yang menjaga kualitas bukunya bukan hanya sedang menerbitkan karya; mereka sedang membangun wajah, nama baik, dan kepercayaan.

Maka ketika Anda membaca sebuah buku akademik yang rapi, informatif, dan terpercaya, bisa jadi itu bukan hanya buah kerja satu penulis. Itu juga adalah wajah dari universitas yang memercayai pentingnya kualitas pengetahuan.

Reputasi memang tidak bisa dibangun dalam semalam. Tapi dengan satu buku yang kuat, satu pembaca yang merasa terbantu, dan satu percakapan yang dimulai dari halaman-halaman ilmiah, citra kampus bisa tumbuh—pelan, tapi pasti.

( reproduksi ulang dari tulisan lama )

Posted in intermezzo | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Profil Bramantya

Posted by bramantya on October 14, 2024

Muhammad Agung Bramantya menempuh jenjang pendidikan S1 di Jurusan Teknik Mesin dan Industri UGM, menyelesaikan S2 Teknik Mesin di kampus yang sama. Kemudian lanjut S2 lagi yang kedua di Engineering Design and Manufacture, University Malaya, MALAYSIA, hingga akhirnya jenjang S3 diselesaikan di Department of Mechanical Engineering, Keio University, JEPANG pada tahun 2010 dengan fokus penelitian di bidang cairan pintar (smart-fluids). Gelar Insinyur Profesional dan ASEAN Engineer diperolehnya pada 2022. Pria yang menyukai kegiatan keagamaan, sosial dan pendidikan ini telah menulis ratusan artikel ilmiah di bidang Teknik Mesin dan lainnya. Saat ini aktif sebagai Dosen serta Kepala Laboratorium Mekanika Fluida di Universitas Gadjah Mada dengan beberapa minat penelitian: Fluid dynamics, Aerodynamics, Magneto fluid technology, Simulation, CFD, Unmanned Aerial Vehicle, and Renewable energy. Ia telah menjadi narasumber di berbagai forum ilmiah Nasional dan Internasional di berbagai negara lintas benua. Suami serta Ayah profesional dari tiga anak ini memiliki hobi: travelling, bersepeda, dan kuliner.

Posted in intermezzo | Leave a Comment »

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Posted by bramantya on April 15, 2014

Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Muhammad Agung Bramantya


Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu Yang Menciptakan.
(Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1)

Kata ilmu dengan asal 3 huruf (ain, lam, mim) disebutkan 779 kali dalam Kitabullah. Selain itu, terdapat lebih banyak lagi kalimat yang mengarah pada makna ilmu, tapi tidak disebutkan menurut lafadznya. Seperti: yaqin, huda, akal, al-fikru, nazhar, hikmah, fiqih, burhan, dalil, hujjah, ayat, bayyinah, dan lain-lain. Sementara dalam sunnah nabawiyah, menghitung kalimat ilmu hampir merupakan hal yang mustahil, karena saking banyaknya.
(Prof. Dr. Raghib As-Sirjani)
★ ★ ★

Terdapat anggapan umum bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Barat (Eropa dan Amerika) sejak beberapa abad terakhir ini disebabkan antara lain dan terutama oleh paham sekularisme (melepaskan diri dari ikatan agama) dan gerakan sekularisasi yang mengakhiri apa yang kemudian disebut sebagai Zaman Kegelapan. Asumsi ini memang ada benarnya, mengingat hubungan yang tidak harmonis sepanjang sejarah antara dogmatisme Gereja dan rasionalisme para saintis. Ketegangan dan konflik antara keduanya begitu sengit sehingga seringkali satu pihak berusaha menjatuhkan dan menindas yang lain. Terjadilah praktik-praktik seperti eks-komunikasi, kondemnasi, persekusi, immurasi, inkuisisi, dan eksekusi. Tidak sedikit saintis yang dikucilkan, dikutuk, diburu, dikurung, diinterogasi, dan dijatuhi hukuman mati. Kasus Giordano Bruno, Galileo Galilei, dan Baruch Spinoza merupakan secuil “lembaran hitam” dalam sejarah ilmu pengetahuan di Barat.

Pernahkah anda membayangkan institusi resmi mengadili (menghukum) lebih 10.280 orang dengan cara dibakar hidup-hidup? Sekitar 6.870 orang telah digantung di depan publik dan 77.320 orang disiksa dengan berbagai macam siksaan pedih? Itu semua terjadi pada kurun yang amat singkat, sekitar 18 tahun (1481-1499 M)3. Dan itulah pengalaman pedih dan getir yang terus membekas di sanubari dunia Barat.

Yang keliru dalam hal ini adalah ketika asumsi tersebut di atas diterima “for granted“ dan digeneralisir, dijadikan cermin dan dipakai untuk membaca sejarah perkembangan, kemajuan, dan kemunduran peradaban (ilmu pengetahuan) lslam, seolah-olah kasus yang sama juga terjadi di dunia lslam, seolah-olah ilmu pengetahuan juga mengalami nasib yang sama malangnya dalam sejarah keilmuan lslam. Lebih keliru lagi ketika asumsi tersebut dikonversi menjadi tesis, lalu digunakan sebagai landasan prediksi dan strategi membangun kembali pemikiran dan peradabanIslam kini, bahwa kemunduran ilmu pengetahuan di dunia lslam disebabkan oleh ortodoksi, bahwa kebangkitan dan kemajuan ilmu pengetahuan di dunia lslam hanya dapat terwujud jika kaum Muslim mau mengikuti dan meniru bangsa-bangsa Barat, yakni dengan menganut sekularisme dan mempraktikkan sekularisasi. Artikel ini akan membahas masalah tersebut dari sudut pandang historis dan sosiologis, dalam rangka memisahkan antara mitos (opini) dan realitas (fakta) seputar jatuh-bangunnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban Islam. Artikel ini juga mencoba memberikan gambaran konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan sebagai solusi terhadap kebangkitan ilmu pengetahuan dan peradaban di dunia Islam.

Tulisan selengkapnya silakan klik: Islamisasi Ilmu Pengetahuan

silk-road-map1

Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »

Berkarakter Saja Tidak Cukup, Haruslah Beradab … !

Posted by bramantya on January 14, 2014

Berkarakter Saja Tidak Cukup, Haruslah Beradab … !

Muhammad Agung Bramantya

 

 

* * *

“Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talents are to some extent a gift. Good character, by contrast, is not given to us. We have to build it peace by peace – by thought, choice, courage and determination.”

(John Luther)

 

* * *

Kemanusiaan yang adil dan beradab

(Sila kedua Pancasila)

 

 

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD sampai Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal itu saat berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan, Sabtu 15 April 2010. Dan hal tersebut ditegaskan kembali dalam berbagai kesempatan kini.

Pentingnya karakter dalam tradisi keilmuan dan pendidikan menjadi ide digagasnya pendidikan berkarakter di Indonesia. Hal tersebut dapat dimaklumi sebagai respon terhadap merebaknya kasus lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, tetapi mental dan moralnya lemah. Pelajar dan siswa yang kesehariannya duduk manis di bangku sekolah, berubah menjadi beringas lagi sadis saat keluar dari pagar sekolah. Tawuran dan kekerasan pelajar adalah contoh yang kini menjadi umum di media massa nusantara. Mereka-mereka yang dianggap sebagai panutan dan suri tauladan dalam pendidikan pun terkadang perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Sejak kecil, anak-anak diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, lemah lembut, kasih sayang, kebersihan, ketertiban dan jahatnya kecurangan, bahkan bejatnya korupsi. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan di atas kertas dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar dalam kertas soal ujian.

Tulisan selengkapnya silakan klik: Berkarakter Saja Tidak Cukup, Haruslah Beradab … !

100_2036

 

Posted in RENUNGAN | Leave a Comment »

 
Design a site like this with WordPress.com
Get started