Artikel ini adalah pengembangan dari artikel sebelumnya tentang Masjid Raya Sumatera Barat.
Sore 18 Oktober 2025, langit Padang menggulung awan tipis yang berkilau keperakan. Saya menyeberang pelan di perempatan Jalan Khatib Sulaiman yang bertemu dengan Jalan Ahmad Dahlan. Titik yang memangku sebuah bangunan ikonik: Masjid Raya Sumatera Barat. Masjid yang sejak 2024 resmi menyandang nama Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, mengabadikan putra Minangkabau yang menjadi imam dan khatib mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram serta guru para pembaharu Islam di tanah Nusantara.
Di depan saya, kubah-atap berlekuk empat itu menggunakan arsitek rumah gadang dan sekaligus merefleksikan kisah para Pembesar Quraisy mengangkat Hajar Aswad bersama-sama saat selesai merenovasi Ka’bah. Sebuah tafsir bentuk yang dikerjakan arsitek Rizal Muslimin, pemenang sayembara 2007 di antara ratusan peserta mancanegara. Empat sudut atapnya melambangkan empat klan Quraisy yang mengangkat batu suci pada tempatnya. Struktur rangka pipa baja ditopang empat kolom beton melengkung, istilahnya Gonjong. Di dalam, ruang utama tersebar di tiga lantai dan dapat menampung puluhan ribu jamaah. Ia menjadi masjid terbesar di Sumatera Barat dan salah satu ikon arsitektur masjid dunia kontemporer.

Saya memasuki halaman, melewati tepian rumput dan kisi-kisi bayangan yang memanjang. Penamaan resmi “Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi” dilakukan pemerintah provinsi pada awal Juli 2024, tujuh belas tahun setelah batu pertama diletakkan 21 Desember 2007. Keluarga besar sang ulama dari berbagai penjuru turut hadir menyaksikan pengukuhan nama Masjid itu. Fakta sederhana namun bermakna: selama ini orang berteduh, berzikir, bertemu, kini mereka juga mengingat bahwa Masjid ini berdiri di atas riwayat ilmu yang pernah berangkat dari ranah Minang ini menuju Makkah, lalu “pulang” dalam bentuk murid-murid lintas generasi, kitab, tulisan dan keteladanan.
Langkah saya berhenti di papan informasi kecil: peletakan batu pertama 21/12/2007; pemakaian perdana 14/02/2014; desain hasil sayembara daerah; pembiayaan bertahap, sebagian dibantu donasi. Sebuah kronik yang menjelaskan kenapa masjid “tumbuh” selama satu dekade lebih hingga benar-benar matang. Harian cetak nasional (tapi tadi saya akses online) mencatat ulang ciri desainnya: tahan gempa, pemenang apresiasi lomba, dengan narasi atap empat sudut yang menafsir rumah gadang dan peristiwa Hajar Aswad. Saya menunduk, bersyukur: ada arsip yang rapi di balik estetika ini.
Di bawah naungan serambi Masjid saya terus memikirkan satu nama: Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860–1915). Beliau lahir di Koto Gadang, Agam, menempuh rihlah ilmu ke Tanah Suci, lalu menjadi imam/khatib mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram, guru besar bagi pelajar Nusantara yang datang ke Hijaz pada masa itu. Namanya kini disematkan pada masjid raya ini sebagai sebuah penanda bahwa makna sebuah bangunan bertambah saat ia dikomunikasikan tentang sosok manusia yang menyulut cahaya abadinya.
Di ruang batin saya, nama itu memanggil rantai murid beliau seperti KH Ahmad Dahlan dari Yogyakarta. Muhammad Darwis muda yang sempat menyerap ilmu dan hikmah ke Makkah serta berguru pada Syaikh Ahmad Khatib sebelum mendirikan Muhammadiyah (1912). Murid beliau yang lain KH Hasyim Asy‘ari dari Jombang yang juga belajar pada Syaikh Ahmad Khatib dalam periode pengembaraan ilmunya di Makkah sebelum memelopori Nahdlatul Ulama (1926). Keduanya mewakili dua arus besar organisasi Islam Indonesia yang bagaimanapun ragam pendekatannya, sama-sama meletakkan ilmu, adab, dan amar ma‘ruf sebagai poros pergerakannya. Cahaya guru di Haramain memancar ke Jawa, lalu ke seluruh Nusantara. Hangat mencerahkan.
Dari semenanjung Malaya, Syekh Tahir Jalaluddin al-Falaki (kerabat dan sekaligus murid beliau) yang pulang mengembalikan pantulan cahaya itu dalam bentuk pembaruan pemikiran dan disiplin ilmu falak. Jejaring Haramain–Minangkabau–Jawa–Malaya pun tersambung sebagai koridor ilmu Asia Tenggara yang khas.
Jam mendekati 17.00 WIB. Sinar sore menyapu fasad mosaic Masjid. Saya masih duduk di tepi pelatarannya, memandangi arus manusia: para pekerja pulang, pelancong berfoto, ibu-ibu menuntun anak, pasangan muda-mudi selfie sambil tersenyum sumringah. Saya lalu kembali browsing internet mencari info lebih lanjut masjid ini. Disebutkan bahwa kapasitasnya bisa menampung hingga sekitar 20.000 jamaah pada ruang dan plaza bertingkat. Lekuk struktur yang megah nan besar itu ternyata mampu memeluk puluhan ribu manusia tanpa terasa saling menindih. Arsitektur di sini bukan sekadar rupa, tetapi teknik mengatur ritme komunal, menata cara orang menunggu azan, menyeberang wudhu, dan mengambil tempat dalam shaf.
Pikiran saya kembali kepada Syekh Ahmad Khatib. Beliau juga “arsitek”, tetapi bukan bangunan, melainkan tatanan akal‐adab para pelajar murid-muridnya. Di Makkah, ia mengajarkan fikih Syafi‘i yang kukuh pada dalil; ia menegur praktik yang tidak berdasar nash; ia menulis risalah Arab yang padat. Perdebatan teologis di akhir abad-19 yang mengait adat dan syarak melahirkan dialektika Kaum Tua–Kaum Muda. Tetapi di atas semua itu, terlihat keuletannya menempatkan kejujuran ilmiah diatas sentimen emosional. Kemenag RI merangkum sosok beliau sebagai ulama besar Nusantara yang mukim di negeri Hijaz, lahir 26 Mei 1860 (6 Dzulhijjah 1276 H) di Koto Gadang, mendidik para calon pembaru Indonesia dan seluruh Dunia hingga akhir hanyatnya.
Saya beranjak untuk berwudhu. Air dingin, bening. Memasuki ruang utama, saya mendongak ke arah empat kolom lengkung yang memegang rangka atap baja, metafora empat penjuru kain yang menanggung Hajar Aswad. Di karpet, anak kecil merapikan peci ayahnya. Di sisi kiri, seorang mahasiswa memeluk buku catatan; di sisi kanan, seorang perantau membetulkan sarung. Ruang ini mendidik tanpa berkata-kata: tentang baris, jarak, ketertiban, dan keheningan. Sebuah pedagogi ruang yang jika kita perhatikan, sejiwa dengan cara ulama Minangkabau membentuk santri di surau. Melalui kebiasaan yang berulang dan badan yang patuh, sebelum akal mengerti. Penanaman adab sebelum mentransfer ilmu.
Di sudut takmir, brosur ringkas memuat sejarah singkat: sayembara 2006; peletakan batu pertama 2007; pemakaian perdana 2014; dan rampung selesai 2019. Masjid yang tahan gempa; raihan apresiasi internasional. Ada pula infografik penamaan “Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib” pada 2024, tak lupa saya memotretnya dan beberapa sudut masjid lainnya. Jika sebuah kota bisa dirangkum, mungkin ringkasnya adalah seperti ini: kerja kolektif yang panjang untuk sebuah makna bersama yang langgeng.
Azan maghrib menggema, menyapu lengkung atap dan memantul lembut ke lantai marmer. Saya menutup mata, terpejam membiarkan kalimat panggilan itu menyerap segala riwayat yang baru saja saya baca hasil berselencar di internet HP. Terbayang Syekh Ahmad Khatib berdiri di shaf depan Masjidil Haram, KH Ahmad Dahlan berjalan kaki melintasi Kampung Kauman Yogyakarta, KH Hasyim Asy‘ari menyeberang dari pesantren ke pesantren dengan catatan kecil, Syaikh Tahir Jalaluddin menatap bintang-bintang untuk menghitung kalender dan merumuskan ilmu falakiyah. Semua menaut kepada ilmu yang diupayakan kebermanfaatannya untuk rakyat, bukan sekedar nama yang diagungkan di lisan.
Imam shalat Maghri melantunkan ayat-ayat pendek. Merdu sekaligus syahdu, khas seorang yang terbiasa mengakrabi Al Quran. Dalam sujud, saya melihat sebuah garis halus: Masjid ini (yang oleh sebagian media arsitektur dunia disebut unik dan berkelas) bukan hanya tempat shalat, ia adalah alat peraga sejarah yang menuntun warga masyarakat memahami siapa yang mereka abadikan di gerbangnya. Bahwa Syekh Ahmad Khatib bukan sekedar “tokoh nun jauh disana”. Beliau adalah darah Minang yang mengokohkan mazhab Syafi‘i di jantung dunia Islam, guru dari dua pendiri organisasi Islam terbesar di Nusantara, dan pemberi arah bagi alur pikir pembaruan.
Usai salam, jamaah mencair. Seorang bapak bertanya kepada anaknya: “Siapa Syekh Ahmad Khatib?” Saya tersenyum: pertanyaan kecil yang saya yakini akan mengantar anak itu ke Koto Gadang, ke Makkah, ke Jawa, ke Semenanjung Malaya, sebuah peta panjang bernama sanad. Saya duduk kembali, membuka catatan yang sempat saya cuplik dari berbagai sumber, saya susun diantara beberapa sebagai berikut:
Biografi singkat Ahmad Khatib: lahir Koto Gadang, 1860; wafat 1915; imam/khatib mazhab Syafi‘i di Masjidil Haram; guru Ahmad Dahlan, Hasyim Asy‘ari, Sulaiman ar-Rasuli, dan banyak tokoh ulama Nusantara lainnya.
Jejak murid di Jawa: Ahmad Dahlan (Muhammadiyah, 1912) dan Hasyim Asy‘ari (NU, 1926) memiliki fase berguru kepada Ahmad Khatib saat di Makkah.
Jejak semenanjung Malaya: Tahir Jalaluddin (al-Falaki), kerabat dan murid, menjadi simpul pembaruan di Semenanjung dan pengokoh disiplin falak; literatur akademik menautkan pengaruh guru-murid beliau di Haramain.
Arsitektur masjid: arsitek Rizal Muslimin; simbol Hajar Aswad dan rumah gadang; kapasitas besar; pemakaian perdana 2014; penghargaan/daftar kompetisi internasional; laman resmi pemerintah provinsi.
Penamaan resmi masjid 2024: pengukuhan nama Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi untuk Masjid Raya Sumbar; hadir keturunan dan tokoh masyarakat.
Saya pun menutup catatan di HP saya, lalu melangkah keluar masjid. Di luar serambi, senja beralih ungu melambat menggelap. Sungguh indah..
(diunggah di Kereta Bandara YIA menuju Stasiun Tugu Yogyakarta)













