Marry you, in twenty five days.

“When somebody loves you
It’s no good unless he loves you all the way
Happy to be near you
When you need someone to cheer you all the way…” (*)

I’m gonna marry you in twenty five days, Sayang. Dan kalau pasangan calon pengantin lain sedang menata debaran jantung mereka yang terlalu bahagia juga excited, hari ini, kita merasakan hal yang sama sekali berbeda. We’re all devastated. Heart broken. Sedih. Continue reading

Marry you, in twenty nine days

“When I stop loving you the way I do,
there’ll be no moon to shine,
no sky of blue…” (*)

I’m gonna marry you in twenty nine days, Sayang. After a lot of ups and downs, we’re finally here. Today. Tuhan menyelamatkan kita berdua dari pertengkaran-pertengkaran yang bisa jadi memunculkan kalimat-kalimat yang akan menghantui hidup saya dan kamu. Kalimat, “Do you want to give up on me?” Atau kalimat, “You still have time to reconsider.

Those kind of sentences that will haunt my life, forever, if I actually said it and you actually replied it. Pertanyaan-pertanyaan yang akan saya sesali, sampai seumur hidup saya, jika kamu benar-benar bilang, “Ya, sebaiknya kita selesai sebelum semuanya terlanjur lebih jauh.”

Baby, saya sungguh-sungguh bisa jadi zombie kalau itu yang terjadi. Manusia dengan hati yang mati. Sedih, karena menyesal dengan ucapan sendiri. Continue reading

Marry you, in thirty days…

“It must have been, that something lovers call fate
Kept me saying: “I have to wait”
I saw them all, just couldn’t fall – ’til we met…” (*)

I’m going to marry you in thirty days, Sayang. Sungguh, sampai hari ini, sampai saya menarikan jemari di atas keyboard ini,  di pagi ini, saya masih nggak menyangka kalau saya akan menjadi istrimu. Menjadi perempuanmu. Menjadi calon ibu untuk calon anak-anakmu. Menjadi partner berbagi suka dan dukamu, sepanjang umur yang saya punya. Continue reading

Marriage’s Rollercoaster

Marriages aren’t designed to always be perfect, setahu saya begitu.

Marriages aren’t always about flowers and butterflies, itu yang saya tahu.

And marriages aren’t always smooth sailings, because storms may come in the way… iya, saya tahu banget.

Jadi ketika saya menjadi calon pengantin yang akan  segera menjadi nyonya dalam hitungan beberapa pekan saja, saya harus menguatkan hati saya bahwa semuanya tidak akan sesempurna yang saya bayangkan; not always happy, not perfect, not always smooth sailing. Kehidupan pernikahan saya tidak akan melulu berwarna merah muda. I know.

Tapi sebetulnya, siapa yang tidak ingin kehidupan pernikahan yang sempurna? Continue reading

Home

Saya selalu punya mimpi memiliki sebuah rumah.

Sebuah rumah yang kecil, tak perlu terlalu besar. Tak perlu mewah, ala Victorian. Cukup beberapa kamar tidur untuk menampung saya, suami, dan dua anak-anak kami. Tak perlu dibatasi dinding-dinding tebal yang kokoh dan dingin, juga angkuh, tapi rumah sederhana yang hangat dengan cinta kami.

Di dalam mimpi itu, rumah itu adalah rumah berukuran kecil, dengan tiga kamar. Yang cukup luas untuk bisa memanjangkan kaki sambil menonton televisi dan mengudap cemilan. Atau bermanja-manja di ruang keluarga; saya dan suami di pelukan sofa yang empuk, melihat anak-anak kami bermain di karpet tebal yang menjaga mereka dari dinginnya lantai kayu. Continue reading

Kalau Saja Masih Ada Mami

Di suatu malam, ketika saya sedang merancang hari pernikahan saya, mencorat-coret buku catatan ‘My Wedding Details’, mendadak saya nangis.

Nangis yang benar-benar nangis.

Sampai tersedu-sedu.

Bukan karena mendadak saya ingat kalau jumlah uang di tabungan saya tidak bakal cukup untuk mewujudkan pesta pernikahan impian saya (ini juga nangis, sih, tapi versi lebih ngenes dan lebay! Hihi), tapi lebih karena mendadak saya ingat Mami. Continue reading

Just Hold My Hands

Siapa yang merasa kalau merancang pernikahan itu nggak ribet? Kalau ada yang tunjuk jari, saya akan menyembah dia, deh. Salut banget! Karena dari pengalaman saya sendiri, mempersiapkan hari pernikahan itu ribetnya berkali-kali lipat daripada ngurusin pesta tahunan kantor.

As a secretary, as a personnel, saya sudah terbiasa mengatur skedul, mengatur acara farewell party, merancang acara kantor, dan banyak hal lain yang membuat saya merasa jadi seorang event organizer ketimbang personalia/sekretaris.

Nah, sekalipun sudah dibekali dengan pengalaman mengatur ini-itu, anu-inu, tetap saja ketika ngurusin hari H pernikahan, saya ruwetnya minta ampun. Continue reading

Are You Ready to be a Wife?

Tanggal 16 Februari 2013, hari Sabtu, sebulan yang lalu, Ovan datang ke rumah saya. Melamar saya. Meminta saya dari kakak-kakak saya, meminta ijin mereka untuk menjadikan adik bungsu mereka sebagai pasangan hidupnya; sepanjang umur yang kami punya.

Hati saya seolah sedang gaduh bermain trampolin di dalam sana. Berlonjakan dengan riang gembira, meski nervous luar biasa. Entah bagaimana perasaan saya saat akad nikah kelak. Pas dilamar aja udah campur aduk dan pingin nangis segala, apalagi nanti. Pingsan saking bahagianya, mungkin? 🙂

Sejak dilamar, hati saya makin menggebu. Makin tidak sabar menunggu hari yang pasti bakal penuh haru.

Si bungsu kawin!

Akhirnya! 🙂 Continue reading

The Wedding Ring

IMG_5888

Finally engaged!

Once upon a time, ketika saya masih muda belia dan kinyis-kinyis (uhuk!), saya pernah punya pemikiran sinis tentang cincin kawin. Kesinisan dan kesebalan saya pada cincin kawin diawali karena seorang teman yang menganggap bahwa cincin kawin itu sakral dan keramat luar biasa. Terlalu lebay!

Ceritanya gini.

Ada teman saya yang lupa pakai cincin kawin. Bukan karena sengaja, tapi saat dia membubuhkan body lotion setelah mandi, dia mencopot cincin kawinnya lalu meletakkannya di atas meja. Entah gimana, dia kemudian terburu-buru berangkat kerja, akhirnya cincin kawin  itu tertinggal di atas meja rias.

Kehebohan berlanjut.

Ketika dia akhirnya sadar kalau cincin kawinnya tertinggal, dia panik luar biasa. Saya pikir ada anaknya yang sakit atau ada kejadian penting apa di rumah, eh taunya karena cincin kawinnya lupa dia pakai!

Satu contoh kalimat paniknya seperti ini, “Aduh, Laaa… nanti kalau suamiku tau aku lupa pake cincin kawinnya.. bisa-bisa dia pikir aku mau selingkuh!” Continue reading