Satu Pertanyaan yang Berujung Pada Sebuah Pemaparan
April 3, 2009
Di sela-sela rutinitas yang membebani, kadang-kadang saya merenung sendiri. Apakah kehidupan perempuan zaman sekarang ini sudah makin baik? Hmmm… Sepertinya tergantung tempat, situasi, dan kondisi masing-masing ya. Kalo saya dan teman-teman cwe di ITB mungkin termasuk yang beruntung. Bisa dapet pendidikan dari PTN bergengsi, hidup berkecukupan ( walaupun sebenarnya ada yg susah juga ), dan dikelilingi para calon suami yang kata orang jaman dulu sih calon mantu ideal…
Namun, bagaimana dengan perempuan2 di “luar” sana ya??
Baru-baru ini ( sebenarnya sih udah gak baru lagi ) ada kasus pemerkosaan di Cimahi ( deket Bandung nih ) yang lagi cukup marak dibicarakan. Cucu, nama korban adalah anak berusia 16 tahun yang diperkosa tetangga majikannya pada tahun lalu. Kasus ini sudah dilaporkan ke pihak kepolisian tahun lalu juga. Namun, pihak kepolisian kurang menanggapi dengan serius. Menurut mereka bukti yang diajukan tidak mencukupi. Padahal sudah ada bukti visum dan saksi mata! Dan kedua bukti ini pada umumnya sudah cukup untuk mengangkat kasus pemerkosaan ke persidangan. Apa yang membuat polisi bersikap seperti itu? Ada indikasi polisi bersikap seperti itu karena si pemerkosa adalah seorang pegawai DinSos a.k.a pegawai pemerintah ! Kasus Cucu ini diadvokasi oleh beberapa organisasi pergerakan perempuan dan sidang baru dilaksanakan Maret lalu. Hampir setahun kasus ini diabaikan. Selama ini Cucu sudah menderita, menerima ancaman bahkan diculik dan ditinggalkan di suatu daerah yang tidak Cucu tahu ( maaf saya lupa dimana ). Sudah adilkah perlakuan yang diterima oleh Cucu? Sudah adilkah perlakuan yang diterima oleh gadis 16 tahun dan kurang mampu ini? Begitukah perlakuan yang diberikan oleh aparat2 kita?
Saya benar-benar prihatin dengan nasib gadis 16 tahun ini. Ketika saya berumur 16 tahun saya adalah anak yang tidak pernah merasa kurang akan kasih sayang orangtua saya, kebutuhan saya terpenuhi, belajar, bermain, dan dan tertawa-tawa dengan para teman dan sahabat yang saya sayangi. Saat itu saya bukan anak perempuan miskin, putus sekolah, diperkosa, dan diperlakukan seenaknya.
Kalau dibandingkan dengan kehidupan perempuan sebelum jaman Ibu Kartini, mungkin dengan bahagia saya sebagai saya akan bilang bahwa perempuan zaman sekarang sudah maju. Perempuan zaman sekarang sudah diperlakukan dengan adil. Kalo meminjam istilah yang gak pernah basi dan selalu jadi statement perempuan zaman sekarang, ” Sekarang jaman emansipasi perempuan gitu lho.”
Namun, jika saya adalah Cucu, saya akan berkata : Ah, apanya yang maju? Apanya yang adil? Toh saya miskin. Diperkosa pula. Udah diperkosa, yang merkosa juga gak mau tanggung jawab. Polisi aja gak ngbelain!
Entah Cucu yang sebenarnya akan berani berkata seperti itu langsung atau malah tidak berani sekalipun mengucapkannya di dalam hati..
Saat ini saya hanya bisa menulis. Saya hanya bisa berdoa untuk saudara-saudara perempuan saya di sana. Untuk para perempuan di daerah konflik, buruh perempuan, anak perempuan miskin, pelacur-pelacur yang sering dihina, korban pemerkosaan, dan perempuan manapun yang yang diperlakukan tidak adil maupun belum memperoleh kehidupan yang layak. Namun, saya ingin, sangat ingin, dan akan membantu serta berjuang dengan mereka. Semampu saya, sebisa saya.
Untuk Mereka, saudara-saudara perempuan saya…
Hello world!
Maret 16, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!