Jawa Pos, 11 Januari 2025: Menyimak What Is Hip, Menyimak The Invisible Hearts, Menyimak Battleground, Menyimak Nostalgia.
Sukusastra.com, 21 Maret 2025: Freedom to Fly, Under an Illusion, Last Horizon, Eat That Question.
Ngewiyak.com, 4 April 2025: Kabut Asap di Rimba Pascamodern, Aporia, Yang Sedang Terjadi, Variasi Nada Kibor pada Lagu Jump, Di Mana Keberadaan Puisi, Buku Besar, Sepasang Pundak.
Majalah Elipsis/ majalahelipsis.id, 20 April 2025: Bara Sinta, Tengara Mantra Kunti, Raksi Banowati, Drama Drupadi.
Bali Politika/ balipolitika.com, 23 April 2025: Dengan Nama Apa Mesti Menyebut Sebuah Kota, Kemungkinan Jakarta dan Kenyarisan Agitasi, Perburuan Demokrasi, Wahai Mahasiswa: Kalian Ada di Mana, Mahasiswa: Mana Suaramu.
Pikiran Rakyat, 24 Mei 2025: Cuaca Kota, Dialog Tengah Malam, Kelucuan Akhir Bulan.
KBAnews, 28 September 2025: Permainan Bass dalam Lagu Sir Duke, Suara Piano dalam Lagu I Like Chopin, Journey to Aurora, Psychotic Episode, Satellite, Finale, Mirrors of Confusion.
Bisa pesan di Tokopedia, Shopee, & TiktokShop Dunia Pustaka Jaya
Sekilas tentang Proses Kreatif Penulisan Puisi
dalam buku Progresif sejak dalam Kandungan
Saya mempunyai hobi di bidang musik itu lebih dahulu daripada sastra. Seperti pernah saya sampaikan kepada beberapa teman, bahwa saya punya hobi mendengarkan lagu di radio. Sebagai remaja tahun 80-an dan 90-an yang tidak suka televisi, saya lebih berkutat dengan radio. Acara pilihan pendengar lagu-lagu menjadi acara favorit saya. Saat masa sekolah SMA, saya sangat intensif mendengarkan radio, bahkan saat belajar atau mengerjakan tugas pelajaran dari sekolah di rumah. Saat penyiar belum memutarkan lagu karena membaca banyak ucapan penggemar acara tersebut lewat kartu pos yang biasanya ucapan kirim salam, maka saya iseng corat-coret di kertas. Awal-awal menulis bagian lirik lagu yang disukai, kemudian mulai menulis kata-kata sendiri yang bisa jadi masih terpengaruh lirik lagu pop atau bagian puisi karya penyair lama di buku Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jadi ada 2 hobi yang berjalan bersamaan yaitu menulis puisi mulai tahun 1989 dan menyimak lagu-lagu yang berlanjut dengan koleksi kaset, terutama kaset album musik rock. Yang pada masa remaja lebih sering dilakukan adalah hobi musik, termasuk belajar bermain gitar secara otodidak. Berlanjut saat masa kuliah dengan terus bermain gitar termasuk mengamen di Yogya dan Solo, serta tetap beli kaset-kaset rock di Yogya. Hobi bermusik terus dilakukan sampai membuat band kantor bernama Doauane Band di Balikpapan, Kalimantan Timur. Band vakum karena personal dimutasikan pindah tugas yang berjauhan beda pulau yang sulit untuk koordinasi, meskipun sudah ada beberapa lirik lagu yang disiapkan personal band. Sejak tahun 2005, karena vakum dari rutinitas latihan band, maka saya memilih lebih menekuni ke hobi puisi. Apalagi pada bulan Oktober 2005, ada beberapa puisi saya dimuat di koran Tribun Kaltim, Balikpapan. Hal ini makin menyemangati saya untuk serius menulis puisi.
Saya menulis puisi dalam banyak tema antara lain cinta, kemanusiaan, sosial, religi, dan lain-lain. Dengan keberanian dan kenekatan tahun 2006 menerbitkan 2 buku puisi Kepak Sayap Jiwa dan Penyadaran. Kemudian tahun 2007 menerbitkan buku berjudul Sukma Silam. Ketiga buku tersebut masih berisi puisi dalam berbagai tema dan tidak ada kesatuan tema. Maka buku berikutnya saya upayakan dalam satu tema atau keterkaitan. Tahun 2017 terbit buku Sajak Sajak Sunyi (tema terkait sunyi), tahun 2019 terbit Mazhab Sunyi (tema terkait religi/profetik dalam bentuk puisi bertanda # pagar), tahun 2023 terbit Kembali ke Puisi (tema tentang atau yang terkait puisi), dan tahun 2024 terbit buku Elegi Elegi Yogya (tema tentang atau terkait dengan kota Yogyakarta).
Tahun 2025 terbit buku Progresif sejak dalam Kandungan (PsdK), yang berisi puisi tentang lagu-lagu instrumental rock. 80 puisi di buku ini saya tulis pada tahun 2021 – 2022. Puisi-puisi sebagian besar ditulis pada masa pandemi covid-19. Mengapa saya menulis puisi dari menyimak lagu-lagu instrumental rock? Sebenarnya ini upaya perlawanan atas kegelisahan, yang juga menempuh ketidaknyamanan dan sekaligus dendam saya karena belum bisa melanjutkan bermusik. Jadi, masa kecil dan remaja saya, itu penuh dengan lagu-lagu baik yang sengaja saya dengarkan atau terpapar dari tetangga yang menyetel musiknya keras-keras. Hampir semua lagu-lagu dari pop kreatif sampai pop melankolia era kejayaan perusahaan rekaman JK Record dan dangdut yang mendayu-dayu bertalu-talu, masuk menyerbu ke dalam telinga saya, memberikan jejak ngiang yang masih ada dalam benak sampai sekarang. Kemudian sudah ada beberapa penyair yang menulis puisi dari lagu pop atau dangdut, meskipun hanya dengan menyebutkan judul atau bagian petikan lirik di narasi puisinya, saya tergelitik untuk menulis puisi dari lagu. Memang saya juga menulis puisi terkait lagu pop dan dangdut, sebagian ada yang memasukkan petikan lirik, akan tetapi saya merasa belum total. Oleh karena itu, tahun 2021 saya mulai intensif mendengarkan lagu-lagu instrumental rock dari kaset dan juga menyimak dari portal digital seperti Youtube dan Spotify.
Perjuangan menulis puisi dari musik instrumental rock ini tidak mudah bagi saya. Selain saya harus meminggirkan ingatan atau memori kemanjaan dengan lagu-lagu pop serta dangdut dari masa remaja, juga lagu-lagu rock Indonesia dan manca negara yang berlirik, saya mesti memilah dan memilih lagu-lagu tanpa lirik. Saya berkonsep bahwa saya seolah-olah sebagai penulis lirik atau syair di lagu-lagu instrumental rock tersebut. Situasi dan suasana yang lebih banyak berkutat di rumah karena kebijakan pembatasan pertemuan dengan banyak orang, sehingga membuat kebosanan yang lumayan panjang. Apalagi suasana memang mencekam saat itu dengan masifnya berita terkait korban covid-19. Ada sebagian lagu yang sudah sangat sering saya dengarkan dan bisa cepat dalam menulis puisinya, tetapi juga ada beberapa lagu yang mesti saya dengarkan berulang-ulang. Pegangan utama dalam menulis puisi adalah dari judul lagu. Saya bisa menafsir judul secara harfiah atau saya anggap sebagai metafora, kemudian saya tulisan narasi puisi dengan pertimbangan judul dan informasi tentang musisi tersebut.
Jelas ini bukan Keputusan yang populis. Beberapa lagu instrumental rock itu hanya disimak atau dilihat pemirsa dalam jumlah sangat kecil. Mari bandingan dengan lagu-lagu dari penyanyi Indonesia, untuk lagu berlirik terutama lagu pop dan dangdut yang masuk dalam 10 besar lagu Indonesia yang paling banyak dilihat di Youtube. Urutan dari yang paling banyak ditonton adalah, nomor 1. Lagi Syantik – Siti Badriah: 732 juta, 2. Asal Kau Bahagia – Armada: 514 juta, 3. Surat Cinta Untuk Starla – Virgoun: 511 juta, 4. Bukti – Virgoun: 417 juta, 5. Ya Maulana – Sabyan: 392 juta, 6. Cinta Luar Biasa – Andmesh Kamaleng: 366 juta, 7. Tak Ingin Usai – Keisya Levronka: 329 juta, 8. Jaran Goyang – Nella Kharisma: 319 juta, 9. Kertonyono Medot Janji – Denny Caknan: 309 juta, dan 10. Goyang 2 Jari – Sandrina: 287 juta. Sementara mari cek lagu instrumental rock, ambil dari nama musisi atau band yang sudah lama berkarya. Jumlah kunjungan di Youtube untuk lagu Miracle – Marty Friedman: 232 ribu , Tears of Sahara – Tony MacAlpine: 2,4 juta , Excuse Me – Kiko Loureiro: 44 ribu , Glasgow Kiss – John Petrucci: 4,2 juta, Blues for Rabbit – Paul Gilbert: 3,5 juta, Blue Monday – White Lion: 285 ribu, Zephyr (band) – Tommy Bolin: 91 ribu, For the Love of God – Steve Vai: 4,4 juta, Eclipse – Yngwie Malmsteen: 521 ribu, dan Cracking the Midnight Glass – Bruford Levin Upper Extremities: 7,4 ribu. Terlihat sangat kontras perbandingan jumlah kunjungan akun di musik instrumental rock dengan lagu-lagu pop/dangdut yang masuk 10 besar di Youtube. Ini memang hanya perbandingan relatif, yang bisa jadi berbeda jumlah aksesnya di portal digital lainnya. Akan tetapi jumlahny saya kira tidak banyak berbeda & tidak melampaui jumlah kunjungan ke lagu pop atau dangdut di Indonesia tersebut.
Barangkali bisa disebut bahwa puisi adalah momentum. Menyimak suara lagu dan kemudian menulis puisi pada tahun 2021, bisa berbeda rasa saat didengarkan pada saat yang lain. Saya menulis puisi untuk buku PsdK ini tidak dalam keteraturan jadwal. Ada yang dapat selesai dalam sekali duduk sambil intensif mendengarkan musik, tetapi ada yang tertulis beberapa kata saja dan berhenti, lalu dilanjutkan di saat yang lain. Karakter lagu yang berbeda memang cukup membutuhkan usaha yang bervariasi dan melakukan jeda penulisan dari 1 puisi ke puisi berikunya. Hal ini ditempuh agar suasana puisi memang diupayakan sesuai lagu dan tidak terkontaminasi suasana puisi dari lagu sebelumnya yang sudah ditulis. Tempo, progresi akor, naik tingginya nada, serta bauran dengan isntrumen lain akan turut menjadi bahan tulisan. Saya kira yang saya lakukan adalah hal biasa saja, artinya setiap pendengar musik bisa menulis dari lagu yang didengarkan. Terkait dengan lagu instrumental yang saya dengarkan, saya hanya menafsir suasana atau keadaan dari tema lagu tersebut. Patokan pertama adalah judul lagu. Ini penting agar yang saya tulis tetap ada keterkaitan, bahkan kalau bisa ada beberapa unsur atau kriteria yang menyokong judul lagu tersebut. Untuk beberapa lagu saya perlu mencari informasi terkait musisinya termasuk riwayat hidupnya. Ini saya lakukan untuk mendekatkan narasi ke judul lagu dan musisinya, sebagai apresiasi tinggi terhadap kreativitas musisi tersebut.
Selanjutnya yang saya harapkan dari buku puisi PsdK ini adalah munculnya pengenalan, sinergi sekaligus kolaborasi bagi pencinta musik instrumental rock dapat mengenal puisi, dan pencinta puisi bisa mencoba mendengarkan lebih intensif musik instrumental rock. Dari menyimak secara mendalam karya-karya tersebut barangkali bisa memantik ide baru atau yang lebih segar untuk dijadikan karya. Di era yang sudah banyak jenis karya, memang tidak mudah membuat karya yang orisinal, biasanya ada jejak pengaruh atau influence dari karya-karya yang sudah ada sebelumnya. Namun demikian, semoga tetap bisa diupayakan untuk menciptakan karya yang berbeda dengan yang sudah ada. Saya menulis puisi yang bertema lagu instrumental rock, ingin karya puisi saya berbeda dengan karya-karya penyair lain yang sudah ada sebelumnya, minimal berbeda atau baru dari sisi tema. Memang ada tantangan tersendiri menulis puisi dari bentuk karya seni lain, jadi semacam alih wahana. Saya berharap dapat melanjutkan proses penulisan puisi dari menyimak karya seni bidang musik dan nanti semoga dapat mencoba menulis puisi dari karya seni yang lain. Semoga dapat terlaksana. Salam Progresif.
Bekasi, 29 Oktober 2025
Budhi Setyawan
Dosen, Penyair, Pengelola komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB)
Majalah Damar, Edisi 01/ Januari 2024: Berjumpa Jokpin, Sepanjang Jalan Urban, Blues Jakarta.
Omong-omong.com, 6 Februari 2024: Paradoks Percik Penemuan Menghipnosis Abad dan Akselerasi Kehancuran Dunia, Narasi Usia, Arloji Luka, Genit, Opera Riuh.
Tatkala.co.id, 17 Februari 2024: Menafsir Sejumput Rondo Alla Turca dan Ziarah Akor yang Samarkan Getir, Dari Soldier of Fortune Menuju Always Somewhere, Wasting Love & Wasted Years, Mendengarkan Kembali Hasta Siempre, Menyusur Paradoks di Lagu I Hate Myself For Loving You, Tak Ada Pesta Halloween, Mendengar Lagu Blues dan Teringat Chairil Anwar.
Bali Politika, 21 Februari 2024: Lembaran Hujan, Musim Lucu, Menunggu Balon Meledak, Main Kembang Api, Bumi Makin Panas, Nyeri dan Suri, Nyanyian Nurani.
Koran Tempo, 17 Maret 2024: Four Seasons – Summer.
Majalah Kandaga, Nomor Edisi April 2024: Intoxicated, A Story of Mysterious Forest, For A Friend, Wishes and Dreams.
Pikiran Rakyat, 18 Mei 2024: Percik Interlude Waktu, Selalu Ada Yogya, Pelesir ke Pasar Senthir, Ibu Keberadaan.
Sastramedia.com, 26 Mei 2024: Pada Sebuah Teras.
Kompas.id, 1 Juni 2024: Waves of Eternity, Pulsar, Ghost Horses, Mozart and Madness, Vivaldi Tribute.
Ompiompi.com, 8 Juni 2024: Mudik Paling Menggembirakan, Sebelum Bilang Tidak.
Jawa Pos, 6 Juli 2024: Streetlight, Departure, The Fusion Collusion.
Isi: 70 puisi. Semua puisi adalah tentang atau terkait dengan suasana dan hal-hal di Yogyakarta, terutama dari pengalaman penulis tinggal di Yogya hampir sewindu (8 tahun), yaitu tahun 1988 – 1992 & 1995 – 1998. Bahkan di tahun-tahun 1993 – 1994, masih sering ke Yogya, sebagai bagian nostalgia atau nostalgila. He3…. (pokmen Yogya Ngangeni).
Sebagian besar puisi di buku Elegi Elegi Yogya pernah dimuat di media massa: basabasi.co, republika.co.id, koran Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dan lain-lain.
Trilogi buku Elegi Elegi Yogya adalah:
Sangat cocok bagi warga asal Yogya, baik yang tinggal di Yogya atau merantau di luar wilayah Yogya, sehingga makin menambah kecintaan terhadap Yogya.
Sangat cocok bagi yang pernah berkunjung atau tinggal di Yogya, sebagai media Kembali mengingat keindahan Yogya.
Sangat cocok bagi yang belum pernah berkunjung ke Yogya, karena bisa menjadi peta awal estetika di dalam benak dan perasaan, sehingga akan makin merindukan bertemu Yogya.
Yang tertarik silakan hubungi toko buku online seperti divapress-online.com, Tokopedia, Shopee, Bukalapak, iyigbookstore, singgasanakata, dan lain-lain. Silakan masih masa diskon & bebas ongkir di Juli 2024. Nanti harga normal Rp 55.000,-
Terima kasih Penerbit Diva Press, Kelas Puisi Bekasi (KPB), & Forum Sastra Bekasi (FSB)
Ditunggu ya teman2 silakan belanja keindahan Yogya lewat buku Elegi Elegi Yogya.
Borobudurwriters.id, 11 Januari 2023: Rezim Malam Minggu, Kita Orang Modern, Mencari Pereda Nyeri, Pertanyaan tentang Kriminalisasi, Aplikasi untuk Gengsi.
Omongomong.com, 10 Agustus 2023: Masih Ada Yogya Hari Ini, Tak Ada Perantau di Yogya, Utang di Warung Makan, Makan Lima Mengaku Dua, Segawon.
Suara Merdeka, 13 Agustus 2023: Rabaan Urban, Sajak Sajak Masa Depan, Seperti Sesaat, Mungkin Puisi Telah Jadi Cermin.
Sksp-literary.com, 14 Agustus 2023: Masih Saja Menyala Api Perang, Problema Astuti Seperti Tragedi Buah Apel, Anoman Obong: Sebuah Nyala Keadilan, Terbawa Lirik Sebuah Lagu, Kapan Kapan Kita Dengarkan Lagu Koes Plus.
kurungbuka.com, 26 Agustus 2023: Desakan Suara dari Dalam, Gubug Cerita, Tak Kusangka.
Mbludus.com, 27 Agustus 2023: Kita Adalah Kawanan Anak Burung, Seperti Dalam Lagu Lama, Pulang ke Kotamu.
Koran Merapi, 10 September 2023: Sebuah Puisi Barangkali Bisa Menghibur, Membelai Nasib yang Tak Mengeong, Dari Gubug Lantai Kesekian, Irama Paradoks, Tolong Setel Lagu Sesuai Waktu, Sepanjang Jalan Mestinya, Apa Benar Sudah Cukup Hanya Bermimpi, Janji Adalah Refrein Lagu yang Bikin Nyeri, Baru Awal Lagu Kok Sudah Bohong.
Pikiran Rakyat, 16 September 2023: Seperti Obat Nyamuk, Seperti Jalan Menukik.
Majalah Elipsis, Edisi 028 Tahun III, September – Oktober 2023: Erotic Nightmares, Our Most Desperate Hour, Progression.
Magrib.id, Nomor LI Tahun IV, September 2023: Keributan di Keruh Udara Malam, Ada yang Ketinggalan di Lagu Carrie, Sendiri Mendengarkan Lagu Alone, Apakah Hotel California Akan Membikin Wonderful Tonight.
Sastramedia.com, 10 Desember 2023: Kita Cukup Rajin Menciptakan Hantu Hantu
Balipolitika.com, 17 Desember 2023: Simulasi Persetubuhan, Anjing Cinta, Percik Ilusi, Mata Kata, Sebuah Puisi Jelek.
Kedaulatan Rakyat, 22 Desember 2023: Di Jalan Pasar Kembang, Sami Mawon, Yojana Yogya.
Pikiran Rakyat, 30 Desember 2023: Kwatrin tentang Sebuah Puisi, Hidup Ini, Kepada Ciuman.
Penerbit: Taresia Isi: 72 puisi bertema tentang puisi, hal terkait puisi, sekitar puisi atau yang menggunakam kata puisi/sajak dalam judulnya. Sebagian besar puisi pernah dimuat media massa seperti Majalah Sastra HORISON, koran Suara Merdeka, kawaca.com, dan lain-lain.
Yang tertarik (bukan tambang), silakan pesan ya. Bisa dengan cara:
Ke inbox atau WA saya (plus ongkir)
Lewat tokopedia ke tsi-store (bebas ongkir)
Ke inbox atau WA ke saya untuk pesan 2 buku yaitu Mazhab Sunyi (2019) & Kembali ke Puisi (2023): Rp 100 ribu (terbatas & bebas ongkir P. Jawa)
Terima kasih @kelaspuisibekasi @tarebooks & Forum Sastra Bekasi (FSB)
Koran Merapi, Jumat Pon 7 Januari 2022: Poya Muthik Poya Hoho, Dualisme Dagadu, Kere Ayem, Menakwil Kinanti, Pojok Beteng Wetan, Di Relung Balairung, Rencana Lari Pagi di Mandala Krida.
LP Maarif NU Jawa Tengah, maarifnujateng.or.id, Ahad, 9 Januari 2022: Tak Ada Pesta, Apakah Aku akan Sampai Padamu, Bukan Laut Tapi Keringat dan Air Mata, Darimu Mengalir Sajak, Berkhayal Menulis Puisi.
Magrib.id, Nomor XXVII, Tahun III, Edisi Januari 2022, diunggah 19 Januari 2022: Mexico 1920, Writing on the Wall, Fanfare for the Common Man, Eruption, Meditation, Another Brick in the Wall (Part 1), Take Another Piece.
Uma Kalada News, edisi Minggu, 22 Januari 2022: Resep Menggoreng Puisi, Malam Minggu: Seperti Popularitas yang Dipaksakan, Menyimak Malam Minggu, Hasrat Pada Kematian yang Progresif, Takut Populer.
Litera.co.id, 5 Februari 2022: Puisi Hanya Sekilas Kerlip di Layar Digital, Dunia Begitu Kenyal, Kuasa Hiper Realitas dan Sajak Sajak Tak Terbaca.
Radar Banyuwangi (Jawa Pos Grup), Sabtu, 12 Februari 2022: Jumat Sore Berwarna Akromatik, Sajak Penerimaan, Sajak Apologia.
Negerikertas.com, 17 Februari 2022: Tak Ada Pesta Halloween.
Insidelombok, 6 Maret 2022: The Orgy, Waves of Thought, Earthquake, Technical Difficulties.
Koran Tempo, 13 Maret 2022: Vital Signs.
Pikiran Rakyat, 19 Maret 2022: Terminal Cicaheum, Palaguna.
Nongkrong.co, 16 April 2022: Oceana, State of Grace, Nostalgic, This Time, Ship of Dreams.
Asyikasyik.com, 17 April 2022: Kliping Ciuman, Sebuah Radio dan Rasa Sakit, Waktu Seperti Obat Merah.
Balipolitika.com, 21 April 2022: Membaca Selembar Malam di Sebuah Negeri, Planet Anjing, Memasak Puisi di Kamar, Sajak Buset, Museum Kafka.
Bacapetra.co, 20 Mei 2022: Kord A Minor, Dobel Pedal, Bass 6 Senar, Lagu 3 Kord, Pola Drum ¾, Hitam Putih Tuts Piano, Gitar Hijau, Kord G7
Koran Tempo, 19 Juni 2022: Tears of Sahara.
Suara Merdeka, 7 Agustus 2022: Sisa Hujan, Perangkap, Membaca Pandangan, Sekerlip Temu, Membaca Artefak, Pasrah.
Pikiran Rakyat, 27 Agustus 2022: Dor Dor Dor, Tengah Malam di Kota.
Lensasastra.id, 3 September 2022: Kita yang Selalu Sangsi pada Suasana, Kopi Begadang, Sudut Perpustakaan, Puisiku Joget Tiktok, Akun Medsos Hot Spicy.
Suarakrajan.com, 11 September 2022: Sketsa Cemas dari Jalanan, Buku dan Perasaan yang Diperamnya, Kepada Anak Anakku, Riwayat Bapak Membawa Pergi Sebuah Malam, Rasa Manis yang Dulu.
Omong-omong.com, 5 Oktober 2022: Belum Gosok Gigi, 2 Versi Asu, Teh Poci, Mengunyah, Tersedak, Hobi Lari, Sampo Metal.
Rakyat Sultra (Rubrik Bastra), 10 Oktober 2022: Sajak Bingung, Ada yang Janggal, Momentum Cium, Skenario Sinting, Tak Buta.
Ngewiyak.com, 4 November 2022: The Incantation, Pull the Trigger.
Majalah BASIS, Nomor 9 – 10, Tahun ke-71, 2022: Babylon Dreams, Blues Breaker.
Beritabaru.co, 4 Desember 2022: Setelah Menonton Thor: Love and Thunder (2022), Selepas Menonton A Very Long Engagement (2004), Setelah Menonton Forever Young (1992), Seusai Menonton Midnight Sun (2018), Selepas Menonton Mannequin (1987)
Widku.com, 10 Desember 2022: Soda Tak Jadi Gembira, Percaya Pacar?, Bukan Kicauan Burung, Harga Naik, Gowes.
Nusa Bali, 2 Mei 2021: Ziarah Cupu, Sebuah Kotak Musik, Getun Akhir Tahun, Perangkap, Lanskap Kotamu Mengendap di Puisi.
Asyikasyik.com, 2 Mei 2021: Arwah Kucing, Bukan Paras Monalisa, Kota Kota yang Berangkat Terlalu Pagi.
Bicaranews, 7 mei 2021: Sekerlip Fragmen “Tom and Jerry”.
Rakyat Sumbar, 22-23 Mei 2021: Asam Lambung, Seperti Apa Hari Libur, Selesma
Pos Bali, 26 Juni 2021: Desis Genesis, Wish You Were Here, Seperti Perawan Pendoa, Suara dari Liverpool.
Borobudurwriters.id, 11 Juli 2021: Sajak Seperti Kuda, Separuh Dongeng, Barangkali Puisi Ini Tak Dapat Kau Maknai, Ketaksaan Urban.
Majalah Elipsis, Edisi 003, Tahun I, Agustus – September 2021: Sebuah Lagu dan Lampu Kecil di Sebuah Kafe Seperti Memanggilmu, Malam Pun Jadi Getas, Si Centil Emotikon, Memandang Hujan di Dalam Lukisan.
Maca.web.id, 9 Agustus 2021: Andai Freud Membaca Buku 1000 Tafsir Mimpi, Saat Sebuah Grup Musik Mau Latihan Lagu Baru, Puisi adalah Rasa Gatal, Di Seputar Areola, Zakia, Ganar Malam Minggu, Aku Gitarmu Lelakiku.
Tanjungpinang Pos, 14 Agustus 2021: Dongeng Sapardi, Menemukan Kata Baru, Sebuah Buku Psikologi dan Lagu Jazz.
Semesta Seni, Nomor 16 – Agustus 2021: Dongeng Malam Minggu.
Pikiran Rakyat, 28 Agustus 2021: Layar Ruang Kelas, Lagu Nusantara.
Sksp-literary.com, 3 September 2021: Di Taman Kata, Dongeng Malam Minggu, Menjemur Kasur, Pada Bulan Basah, Menafsir Desir, Menempuh Riwayat, Lengking Urban.
Buletin Tanpa Batas, 10 Oktober 2021: Dalam Pelukan Revolusi, Mitos Metal Zone, Bukan Sebuah Film.
Basabasi.co, 12 Oktober 2021: For The Love of God, Cracking the Midnight Glass, Black Utopia, The Thing That Never Was, Epiphany.
Minggu Pagi, NO 30 TH 74 MINGGU IV OKTOBER 2021: Eclipse, Physical Graffiti, Altitudes, The Maze, Selenium Forest.
Sastramedia.com, 14 November 2021: Amorfognosia, Ingin Dikenang Sebagai Penyair Mati Muda.
Majalah Changjak21 (Korea Selatan), Edisi 53 Musim Panas 2021: Blues untuk Urban, Impromptu Tak Tentu.
Lensasastra.id, 20 November 2021: Omne Vivum Ex Ovo, Tengkarah, Apakah Aku Masa Depanmu, Pita Kaset, Merayakan Cinta.
Sajak Kofe mediaindonesia.com, 19 Desember 2021: Blues Angkringan Depan Kampus (1), Blues Angkringan Depan Kampus (2), Blues Angkringan Depan Kampus (3), Blues Angkringan Depan Kampus (4), Blues Kota yang Akan Tenggelam, Blues Utopia (1), Blues Utopia (2), Blues Segempil Gula Aren.
Minggu Pagi, No. 38 TH 74 Minggu IV Desember 2021: Apresiasi Puisi Berjarak (Obrolan tentang Kelas Puisi Bekasi (KPB), ditulis oleh redaktur budaya MP).
Ada beberapa puisi saya yang dimuat di media massa dan buku antologi bersama. Terima kasih atas doa dan dukungan teman-teman semua.
Puisi yang dimuat media tahun 2020:
Radar Tasikmalaya, 5 Januari 2020: Perih, Tatal, Pecahan Kata, Pertemuan Puisi, Kelesah Malam, Mengunjungi Lapar, Membaca Karawitan, Hari yang Pegal, Kita Tetap Kanak Kanak, dan Ziarah Dahaga.
Difalitera.org, 11 Februari 2020: Di Depan Sebuah Pendapa.
Difalitera.org, 12 Februari 2020: Di Pekarangan Rumah Ibu.
Difalitera.org, 13 Februari 2020: Pintu Dapur Sebelah Timur.
Difalitera.org, 11 Agustus 2020: Ambyar.
Berbukapuisi, 3 April 2020: Susu Sunyi.
Puisipedia, 5 April 2020: Tempat Berlindung, Adamu, dan Manis dan Asin.
Wikipuisi, 7 Mei 2929: Tentang Jarak.
Cakradunia.co, 15 Mei 2020: Karena Corona dan Di Rumah Saja.
Matasastra.com, 1 Juni 2020: Hujan di Selasa Pagi
Wikipuisi, 2 Juni 2020: Susu Waktu.
Berbukapuisi, 16 Juni 2020: Buah Hujan.
Puisipedia, 21 Juni 2020: Tak Mudik, Pulang Mudik, Pulang Kampung, dan Ada yang Macet.
Suara Merdeka, 28 Juni 2020: Dalam Lumbung Ingatan, Malam Malioboro, Bepergian ke Dalam Puisi, dan Sampai ke Puisimu.
Puisi Indonesia, 3 Juli 2020: Peluklah.
Berbukapuisi, 27 Juli 2020: Mi Instan dan Jam
Musikalisasi Puisi/ Musik dan Puisi, 9 Juli 2020: Piknik Lagi ke Dalam Puisi.
Magrib.id, Agustus 2020: Sejenak Menepi, Mencari Kata, Cahaya Kata, Mengenal Puisi, Bisikan Puisi, Ke Dalam Puisi, Saat di Dalam Puisi, Dari Pemeluk Puisi.
Berbukapuisi, 12 Agustus 2020: Lari Kuda.
Wikipuisi, 28 Agustus 2020: Pengangguran Bahagia.
Puisipedia, 1 September 2020: Cinta, Bagaimana Caranya Bersembunyi, Nafkah Rindu.
Berbukapuisi, 17 September 2020: Betapa Sulitnya Menangkap Yogya.
Maarifnujateng.or.id, 23 November 2020: Ke Sebuah Pesisir, Sebuah Letusan, Kabar Lahar, Hutan Gamelan, Takwil Erupsi.
Majalah Sastra Imajisia (instagram), 5 Desember 2020: Sajak Hari Ini
Koran Tempo, 5 Desember 2020: Drama Percakapan di Wina
Banaranmedia.com, 6 Desember 2020: Gemuruh Perjumpaan, Sajak Selat, Dendang Laut, Hujan Menyalakan Pelukan, Rasa Manis yang Dulu
Cerano.id, Sabtu, 12 Desember 2020: Berkali Kali Tersesat, Barangkali Kangen, Sepercik Mimpi Kalimalang, Nada Dering Telepon, Malam Minggu Tersesat di Tubuhmu.
Ideide.id, Selasa, 15 Desember 2020: Penyepian, Silam Haru dan Rudapaksa Kota, Nujum Cium dari Kota, Kota Besar, Diingatkan Agar Melupakan, Sebagai Teman, Bepergian, Detak Detik, Perempuan Bubu, Pagi Mencakar Dadaku.
Radarseni.com, 20 Desember 2020: Sebuah Magrib, Sedikit Doa, Rindu adalah Puasa, Doa yang Bijak, Mencari Hamparan Langit, Sepanjang Puasa, Majas Bumi Langit, Lukisan Sunyi.
Puisi yang dimuat buku antologi bersama tahun 2020:
Tahun 2019 menjadi tahun yang tetap ada publikasi puisi di media massa, meskipun belum seprogresif beberapa tahun sebelumnya. Kesibukan pekerjaan kantor dan belum bisa membagi waktu secara optimal, serta banyak bermain di media sosial Facebook dan Instagram, bisa jadi yang berkontribusi pada sedikitnya puisi yang ditulis. Komitmen untuk khusyuk membaca sekian banyak buku koleksi di perpustakaan pribadi juga baru menjadi wacana dan cita-cita, yang kemudian tersisihkan oleh rutinitas bekerja dan kegiatan sebagai kepala keluarga. Ada berbagai prioritas yang ditentukan agar memberi kenyamanan dalam level wajar dan segar. Tentang kapan bisa mengeksplorasi tema dan gaya ucap puisi, sangat mungkin masih melibatkan tanda tanya.