Kemiskinan dan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia

Saat ini, adalah saat tegang bagi para orang tua yang masih mempunyai kewajiban menyekolahkan anaknya, dalam melakukan kalkulasi kemampuan finansial dan keinginan menyekolahkan anaknya ke sekolah yang berkualitas, karena sekolah berkualitas identik dengan biaya mahal. Kemiskinan dan peluang melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi sering menjadi topik diskusi yang hangat setiap tahun. Namun persoalan itu tidak pernah tuntas terselesaikan. Intervensi pemerintah pada biaya pendidikan telah dilakukan antara lain lewat dana BOS, pemberian tunjangan profesi pendidik, subsidi sekolah RSBI dan SBI, dan lain-lain. Namun intervensi ini kelihatannya tidak pernah dapat menjawab permasalahan utama yaitu rendahnya kualitas sumberdaya manusia dalam menunjang pembangunan bangsa.
Kemiskinan yang diduga sebagai penyebab rendahnya kualitas sumberdaya manusia, merupakan salah satu topik yang sangat seksi diperbincangkan saat ini. Menurut data BPS 2010, jumlah penduduk miskin Indonesia adalah 13,33% dengan nilai garis kemiskinan Rp 211.726,-/kapita/bulan, termasuk biaya makanan dan non makanan. Pada saat ini, diluar masyarakat dibawah garis kemiskinan tersebut pun, masih muncul pendapat bahwa biaya pendidikan menjadi semakin mahal. Dengan alasan untuk menaikkan standar kualitas pendidikan, beberapa Sekolah Dasar dan Menengah tertentu bahkan menarik biaya pendidikan lebih tinggi dari pada biaya pendidikan perguruan tinggi, sehingga banyak anak-anak usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan studinya di sekolah-sekolah yang berkualitas. Beberapa waktu yang lalu diberitakan bahwa di tingkat Perguruan Tinggi, mahasiswa saat ini hanya mampu membayar 1/10 hingga 1/6 dari biaya pendidikan yang sebenarnya. Di beberapa sekolah dasar dan menengah berstandar internasional, seorang murid harus membayar hingga satu setengah juta rupiah per bulan. Dengan keadaan seperti itu dapat dimengerti bahwa beberapa orang tua yang tidak mampu harus menjual tanah atau ternaknya yang menjadi sumber penghidupannya, hanya untuk membayar biaya sekolah anaknya, tanpa menghitung lagi apakah investasi itu akan kembali dengan nilai yang lebih tinggi sesudah anaknya selesai sekolah  dan bekerja nanti, sehingga dapat dikatakan telah terjadi proses pemiskinan bangsa, karena konsumsi untuk pendidikan melebihi kemampuan sebenarnya. Pernahkan kita sebagai bagian dari bangsa ini ikut berhitung, dan menyusun strategi peningkatan kesejahteraan bangsa lewat peningkatan kualitas pendidikan?
Program SBI dan RSBI, saat ini mulai dipergunjingkan, dipandang subsidi pemerintah kepada program internasionalisasi standar pendidikan ini tidak mencapai sasaran. Program pendidikan berstandar internasional ini dimaksudkan untuk mengantisipasi proses globalisasi, menyiapkan agar sebagian calon tenaga kerja Indonesia ini siap berkompetisi dengan tenaga kerja asing. Namun sering menjadi pembicaraan, bahwa program internasional ini hanya lebih menekankan pada pemberian pembelajaran dengan bahasa Inggris, dan sering ditemukan juga bahwa kualitas bahasa tenaga pendidiknya pun belum sesuai dengan standar internasional. Di sisi lain, ada kecenderungan bahwa lulusan sekolah internasional ini akan melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di luar negeri, sehingga hasil subsidi pemerintah yang sangat besar ini lebih banyak dinikmati oleh Negara lain.
Mari kita lihat, apa yang telah dihasilkan pendidikan selama ini. Di dalam laporan BPS 2010, struktur angkatan kerja Indonesia condong pada tenaga kerja “un-skill”, angkatan kerja tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD berjumlah 22,28%, angkatan kerja yang tamat SD berjumlah 29,22%, angkatan kerja yang lulus SMP berjumlah 18,90%. Bayangkan 70,4% angkatan kerja kita berpendidikan dibawah SMA/SMK, tenaga kerja yang tidak mempunyai kompetensi yang tegas, dengan pendapatan yang rendah. Angkatan kerja lulusan SMA/SMK sebanyak 22,32% dan lulusan perguruan tinggi hanya sebanyak 7,28% dari jumlah total tenaga kerja sebanyak 107.405.572 orang. Melihat data tersebut dapat dimaklumi bahwa ekspor tenaga kerja ke luar negeri sangat di dominasi oleh tenaga kerja kasar, sebagai pembantu rumah tangga dan kuli bangunan. Bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan, apabila proporsi angkatan kerja kita masih condong pada tenaga kerja “un-skill” ini? Beberapa orang berpendapat bahwa rendahnya ketrampilan tenaga kerja Indonesia dan rendahnya etos kerja telah menyebabkan banyaknya perusahaan asing meninggalkan Indonesia. Hal ini juga yang menyebabkan semakin menurunnya jumlah lapangan pekerjaan. Demikian pula rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia telah menyebabkan rendahnya nilai tambah produk pertanian, perikanan dan sumberdaya alam lainnya, sehingga kita tidak mampu mengolah produk mentah tersebut menjadi produk jadi yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi.
Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mengatasi hal ini, mengingat jumlah penduduk Indonesia sebanyak 234 juta orang (BPS 2010), hampir separonya merupakan tenaga kerja, dan hanya 30% diantaranya yang berpendidikan SMA/SMK ke atas. Untuk itu diperlukan upaya kerjasama yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan sumberdaya yang berkualitas dan professional, lewat pendidikan dengan standar pendidikan tertentu. Mendorong semua penduduk usia sekolah untuk menyelesaikan wajib belajar 12 tahun, meningkatkan kualitas pendidikan hingga mencapai standar nasional yang diinginkan, mendorong penduduk yang mampu untuk menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi hingga mendapatkan kompetensi yang mendukung profesionalime standar kualitas tenaga kerja internasional. Di dalam laporan Human Development Index tahun 2010, Indonesia menempati rangking 108, dengan nilai HDI 0,60 dan rerata lama sekolah hanya 5,7 tahun dengan Gross National Income per kapita sebesar 3.957. Untuk mendorong terwujudnya sumberdaya yang berkualitas, tentunya kita harus berusaha meningkatkan rerata lama sekolah menjadi diatas 12 tahun. Tentu proses ini tidak semudah mendorong becak, karena selain dipengaruhi oleh kualitas institusi pendidikannya, proses pendidikan juga dipengaruhi oleh kemampuan dan semangat anak didik serta budaya yang diyakini sebagai pendukung suasana dan semangat proses pendidikan. Contoh yang menarik untuk diperhatikan adalah berkaitan dengan budaya pernikahan. Menurut data BPS 2010, umur perkawinan pertama seorang wanita di Indonesia rerata 13,40% pada umur 10-15 tahun, 33,41% pada umur 16 – 18 tahun, 41,33% pada usia 19 – 24 tahun, dan 11,86% pada usia diatas 25 tahun. Yang lebih menarik, persentase umur perkawinan sangat muda yang tinggi justru terjadi di pulau Jawa yang mempunyai penduduk hampir 60% dari total jumlah penduduk Indonesia. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, misalnya, 18,78% pada umur 10-15 tahun, 36,54% pada umur 16 – 18 tahun, 35,57% pada usia 19 – 24 tahun, dan  9,12% pada usia diatas 25 tahun. Keadaan ini dapat ikut memberikan kontribusi pada lemahnya upaya meningkatkan sumberdaya berkualitas mengingat perbandingan jumlah wanita dan laki-laki hampir sama, dan masih adanya peraturan yang tidak memperbolehkan siswa SMP dan SMA bersuami/nikah saat masih berstatus pelajar. Dapatkah kita mengubah budaya menikahkan wanita pada usia sangat muda, atau dapatkah kita mengubah aturan, agar wanita yang sudah nikah juga dapat sekolah di SMP dan SMA?
Sudah saatnya kita melakukan evaluasi diri terhadap kebijakan pendidikan bangsa ini, apa yang menjadi prioritas utama, mendorong internasionalisasi pendidikan sebagian masyarakat atau memeratakan kualitas pendidikan. Kerjasama semua komponen bangsa ini tentu sangat diperlukan mengingat adanya disparitas kemampuan akademik dan finansial di dalam struktur sosial bangsa kita.
 

3 Komentar

Filed under Drainasi, Low Land Development, Pendidikan, Pengelolaan Sumberdaya Air

Proses keruntuhan jembatan karena erosi dasar sungai

Dalam beberapa hari terakhir ini, kita melihat tayangan runtuhnya jembatan, checkdam, groundsill di sepanjang sungai yang dialiri oleh lahar dingin. Kemampuan erosi lahar dingin terhadap dasar sungai melebihi kemampuan erosi aliran air jernih. Beberapa contoh gambar di bawah ini diambil dari beberapa film di YouTube yang dibuat oleh Tinus dan Santo serta Yuanaariye. Terima kasih dokumentasinya, yang telah memberi penjelasan pada proses erosi ini. Semoga informasi ini dapat memberi pengertian pentingnya konstruksi groundsill dan checkdam di suatu alur sungai sebagai pelindung laju erosi.

Pilar jembatan Tlatar di sungai Pabelan ini mungkin hanya didukung oleh fondasi dangkal bukan fondasi sumuran

Beberapa meter di hilir jembatan terdapat rangkaian checkdam pelindung fondasi jembatan. Namun  karena kekuatan erosi dasar oleh lahar dingin sangat kuat, telah terjadi keruntuhan dua checkdam di bawah, dan tergerusnya bagian bawah checkdam terdekat, yang mengakibatkan terjadinya erosi dasar sungai di sekitar jembatan.

Akibat runtuhnya groundsill dan checkdam di hilir,  erosi di sekitar jembatan telah meruntuhkan pilar jembatan yang kemudian juga meruntuhkan gelagar jembatan.

Runtuhnya Jembatan

Tinggalkan komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Nasib Kali Putih

Banjir lahar dingin di Kali Putih merupakan fenomena yang telah membawa korban cukup banyak, beberapa desa dan jembatan terluapi lahar dingin dengan volume yang sangat melimpah. Beberapa tanggul dan jembatan runtuh. Walaupun terlihat angkutan sedimen yang sangat banyak yang telah menyebarkan pasir dan batuan ke pemukiman dan persawahan, tetapi juga terlihat adanya erosi yang sangat intensif, yang mengakibatkan longsornya tebing, turunnya dasar sungai dan akibatnya telah mengakibatkan runtuhnya jembatan dan checkdam yang ada.

Fenomena gerusan/erosi dasar dan tebing ini ternyata suatu fenomena yang perlu dicermati. Gerusan yang terjadi telah merambat ke hulu, dan telah membawa korban runtuhnya beberapa dam yang tadinya dimaksudkan untuk menahan lahar dingin dan memperkecil kemiringan sungai. Keruntuhan dam dengan volume lahar yang sangat besar di dalamnya, akan sangat membahayakan bagian hilir sungai.

Saat ini, consolidation dam PU C11 yang berada di hulu jembatan Ngepos telah runtuh. Proses channeling dengan gerusan dasar sungai di hulu dam ini mengembalikan kemiringan sungai ke kemiringan aslinya, yang membuat kemampuan erosi yang semakin kuat.

Bangunan di hulunya yang sedang dalam proses keruntuhan adalah bangunan PU D1. Consolidation dam nya sudah runtuh, bagian bawah dam sudah tergerus, proses piping yang membawa sedimen dibagian hulu menerobos bagian bawah dam segera terjadi, dan volume lahar dingin yang tadinya parkir di hulu dam akan meluncur ke hilir dengan jumlah yang sangat besar.

Proses serupa juga akan berlanjut ke hulu hingga bangunan PU D2, yang menyimpan volume lahar dingin yang lebih besar lagi. Kita perlu memikirkan andaikan hal itu terjadi, musibah apa yang akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang?

Akhirnya bangunan PU – D1 runtuh

Tinggalkan komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Potensi Bahaya Lahar Dingin di Kali Opak

Hulu Kali Petit Opak Deposit Awan Panas di Kali Gendol sangat besar sekali. Deposit ini selain akan mengalir ke hilir Kali Gendol ternyata juga melimpah lewat sisi barat, masuk ke Kali Petit Opak yang mengalir lewat lembah di sebelah timur lapangan golf Merapi.

Beberapa saat setelah erupsi, aliran lewat celah ini belum kelihatan, namun di akhir bulan Desember 2010, mulai terlihat adanya aliran lahar dingin lewat Kali Petit Opak ini, yang telah mengakibatkan rusaknya jembatan Pagerjurang, disebelah timur Lapangan Golf Merapi.

Plosokerep Di ruas atas, massa lahar dingin ini mempunyai rapat massa yang besar yang mempunyai kemampuan angkut yang besar. Di hilir jembatan pagerjurang telah terjadi proses channeling yang sangat kuat, yang mampu menggerus dasar endapan lama yang sangat keras.

OpakDi hilir ditemukan alur sungai dengan kapasitas yang kecil sehingga massa batuan dan pasir melimpas ke samping bahkan naik ke atas jembatan

Dalam upaya mengembalikan dan meningkatkan kapasitas alur sungai, telah dilakukan normalisasi pengerukan material lahar dingin.

Namun perlu dipikirkan jumlah material yang akan masuk ke alur Kali Petit Opak ini. Dengan kapasitas seperti ini, diperkirakan bahaya hempasan lahar dingin akan lebih besar di masa mendatang.

Sebaran Deposit bebatuanTerlihat sebagian hempasan lahar dingin di persawahan dan pekarangan penduduk. Jumlah ini diperkirakan akan semakin banyak.

polsekAliran massa lahar dingin juga menghantam Polsek Cangkringan, pasir berhamburan di pelataran kantor PolSek.

JembatanJembatan di depan PolSek Cangkringan ini ternyata terlalu kecil untuk dapat melewatkan material lahar dingin, saat banjir aliran meluap melewati jembatan tersebut. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya pasir yang masih bertebaran di atas jembatan dan jalan di sekitarnya

Akhirnya jembatan ini runtuh dan sungai menjadi lebih lebar ( ternormalisasi alami) agar mampu mengalirkan lahar dingin.

 

 

4 Komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Masyarakat cerdas menghadapi bencana

Fenomena banjir lahar dingin Sungai Code menjadi topik menarik bagi masyarakat kota Yogyakarta saat ini. Banjir yang membawa material pasir, kerikil dan batu merupakan aliran massa dengan rapat massa yang lebih besar dari pada air jernih yang mengalir saat banjir biasa. Aliran massa seperti itu mempunyai daya erosi dan daya rusak yang lebih besar daripada aliran air jernih, sehingga masyarakat harus lebih waspada menghadapi fenomena ini. Dari beberapa pengamatan lapangan, terlihat besarnya kemampuan erosi aliran lahar dingin ini. Beberapa tebing sungai dan bangunan tanggul mulai terosi, hal ini dapat diindikasikan dari banyaknya batang kayu dan pohon pisang yang terangkut aliran lahar dingin, bahkan sebagian tanggul Kali Putih hancur diterjang lahar dingin ini. Oleh karena itu system peringatan dini sangat diperlukan dalam upaya mitigasi bencana. Di Negara maju dikembangkan early warning system yang sangat canggih, yang dibantu peralatan deteksi bencana dan peralatan relay lain yang kemudian dapat memberikan informasi proses mitigasi bencana secara cepat. Bagaimana system yang ada di Kali Code?

Kejadian bencana di Yogyakarta ternyata telah melatih kebersamaan dan sistem “self response” yang sangat menarik untuk dikemukakan. Forum komunikasi masyarakat lewat jaringan frekuensi 149.200, yang setiap saat mengudara dibawah satu stasiun induk di Jalan Kaliurang  Km 8, telah berhasil memberi informasi tentang keadaan Gunung Merapi dan daerah sekitarnya, yang ternyata telah banyak membantu masyarakat dan relawan bahkan pemerintah dalam menghadapi bencana. Sistem ini juga telah berjalan dengan baik saat memberikan informasi gerakan lahar dingin di Kali Boyong yang menjadi hulu Sungai Code. Di setiap sore atau malam, saat terjadi hujan lebat di Kaliurang, selalu terdengar komunikasi yang sangat konstruktif.  Dimulai dari “induk” yang membangunkan system dengan memberi peringatan “Operator dimohon siap, hujan overscale terjadi di hulu sungai Boyong”.  Saat itu seolah-olah semua pasukan operator mulai menyiapkan diri pada posisi masing2 untuk memberikan laporan ke “induk’.  Beberapa menit kemudian terdengar “Induk monitor, terpantau Pulo Watu mulai melihat kepala satu lewat jembatan, membawa batang pohon dan batu” yang menceriterakan datangnya awal lidah banjir lahar dingin di Pulo Watu. Selang beberapa menit kemudian, operator Kradangan mulai melaporkan hal yang sama, diikuti operator Rejondani, “Rejondani siap mengkondisikan para penambang pasir”, dan diikuti operator dibawahnya, Lojajar, Krikilan, Gemawang, Jembatan Sarjito Baru dan seterusnya hingga Sayidan. Induk juga selalu menanyakan lama hujan, kekuatan aliran, pertambahan tinggi muka air, lamanya banjir dan lain-lain yang apabila disusun dalam suatu logbook akan dapat memberikan informasi perkiraan waktu kedatangan banjir, kenaikan muka air banjir dan daya rusak banjir kepada masyarakat di sepanjang bantaran sungai. Dari kejadian banjir yang telah terekam beberapa hari ini, “induk” sudah dapat memperkirakan perlu atau tidaknya penghuni bantaran sungai diungsikan, dengan mendengarkan data banjir yang dilaporkan dari bagian hulu sungai. Demikian pula masyarakat juga dapat belajar ketergantungan sistem penanggulangan bencana antara hilir sungai dan hulu sungai.

Sistem komunikasi masyarakat untuk menolong sesama seperti ini, di tambah muatan ilmiah/teknis yang diberikan oleh pihak yang berwenang, akan merupakan suatu model proses pembelajaran yang efektif dan sangat bermanfaat. Penjelasan teknis tentang bahaya erosi tebing, erosi pangkal jembatan, peluapan di bantaran pada saat banjir besar, bahaya penggalian material di dekat bangunan, sesekali sangat diperlukan agar masyarakat mampu meningkatkan ketahanan mengatasi bencana. Pembelajaran bersama menghadapi bencana seperti ini sangat diperlukan, karena setiap bencana alam akan menjadi resiko bagi suatu kelompok masyarakat apabila kelompok masyarakat tersebut rentan terhadap bencana. Kerugian atau resiko atas terjadinya bencana tergantung pada daya tahan manusia, lingkungan dan infrastruktur yang ada. Oleh karena itu peningkatan ketahanan masyarakat menghadapi bencana menjadi suatu kebutuhan utama. Dan biasanya masyarakat baru mau belajar sesudah mengalami kesulitan atau mengahadapi problem. Saat ini, proses pembelajaran ini menjadi mudah karena ditunjang oleh sistem informasi yang sangat cepat dan akurat dari beberapa instansi yang ada, lewat websitenya yang selalu diperbaharui, situs Badan Geologi http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/ memberikan informasi Merapi yang terbaru, misal memberikan informasi tentang jumlah guguran, jumlah awan panas, tremor, gempa tektonik, vulkanik dan multiphase, seismograf getaran di plawangan, yang saat ini sudah menjadi konsumsi umum, yang tadinya tidak pernah diketahui masyarakat. Situs Jaringan Informasi Lingkar Merapi http://merapi.combine.or.id/ dengan audio streamernya di http://jogjastreamers.com/ juga merupakan jaringan komunikasi masyarakat yang sangat efektif saat krisis Merapi beberapa waktu yang lalu. Dengan semakin tinggi kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi informasi ini, diharapkan proses pembelajaran bersama tanggap bencana ini akan semakin cepat tercapai.

1 Komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Aliran Lahar Dingin

Fenomena banjir lahar dingin Sungai Code menjadi topik menarik bagi masyarakat kota Yogyakarta saat ini. Banjir yang membawa material pasir, kerikil dan batu merupakan aliran massa dengan rapat massa yang lebih besar dari pada air jernih yang mengalir saat banjir biasa. Aliran massa seperti itu mempunyai daya erosi dan daya rusak yang lebih besar daripada aliran air jernih, sehingga masyarakat harus lebih waspada menghadapi fenomena ini. Dari beberapa pengamatan lapangan, terlihat besarnya kemampuan erosi aliran lahar dingin ini. Beberapa tebing sungai dan bangunan tanggul mulai terosi, hal ini dapat diindikasikan dari banyaknya batang kayu dan pohon pisang yang terangkut aliran lahar dingin, bahkan sebagian tanggul Kali Putih hancur diterjang lahar dingin ini.
Adapun gaya angkat dan gaya tarik yang bekerja pada butir yang berada didasar sungai dapat dinyatakan sebagai fungsi luas butiran, rapat massa dan kecepatan aliran.

Rapat massa aliran lahar dingin ini, menurut catatan beberapa ahli di beberapa negara, besarnya rapat massa lahar dingin ini 1,5 hingga 2 kali rapat massa air jernih, tergantung pada distribusi butiran massa lahar dingin tersebut. Pada saat mengalir, lidah terdepan biasanya terdiri atas batuan terbesar, yang mempunyai kecepatan aliran hingga 30 m/s, dan mempunyai kekuatan hantaman yang sangat besar, karena tekanannya merupakan fungsi rapat massa dan kecepatan aliran kuadrat.

Aliran sedimen selain mengangkut material dari hulu juga melakukan pengambilan material dari dasar.

Deposit lahar dingin ini ditemukan dibagian hulu Sungai Boyong, yang mempunyai gradasi butiran yang lengkap sejak diameter 2,0 m hingga pasir . Deposit lahar ini akan mengalir ke bawah apabila terjadi aliran dengan kemampuan erosi yang tinggi.

Aliran batuan ini dapat dihambat oleh bangunan ataupun pepohonan yang ada.

Kemampuan aliran air lewat pori batuan untuk membuat saluran baru, memungkinkan terjadinya pembukaan saluran yang tertutup sedimen.

Kemampuan erosi yang tinggi telah mampu mengubah alur sungai, sehingga erosi tebing dapat membahayakan pemukiman yang ada di sekitar bantaran sungai.

Di sepanjang Sungai Boyong dan Sungai Code, terdapat beberapa ground sill dan bendung intake irigasi, yang selain berfungsi untuk menetapkan elevasi muka air di intake saluran irigasi, juga untuk menjaga kemiringan memanjang sungai agar aman terhadap proses erosi. Namun dengan adanya bendung dan ground sill ini telah mengakibatkan terjadinya deposisi sedimen di beberapa tempat di ruas sungai yang menganggu outlet drainasi limbah domestik dan oulet pembuangan air hujan.

 

Adanya tumpukan pasir di beberapa ruas sungai telah dimanfaatkan oleh penduduk di sepanjang sungai sebagai pendapatan tambahan selama terjadi banjir lahar dingin. Namun penambangan seperti ini harus tetap memperhatikan bahaya erosi tebing yang mungkin terjadi apabila lapisan penutup fondasi talud habis dikeruk oleh manusia dan oleh arus lahar dingin.

Tinggalkan komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Sulitkah mencerdaskan kehidupan bangsa?

Di suatu sore di awal kehidupan saya menjadi dosen, tiga puluh tahun yang lalu, datang seorang staf administrasi sebuah perguruan tinggi tempat saya mengajar, sambil ketakutan, dia meminta saya agar memberikan ujian ulangan tersendiri pada seorang mahasiswa yang nilainya jelek. Dia memohon maaf atas keberaniannya datang ke rumah karena dipaksa si mahasiswa dengan todongan senjata tajam, yang saat itu menunggu di luar rumah. Di suatu sore yang lain, datang seorang mahasiswa dari perguruan tinggi lain tempat saya mengajar, seperti cerita sebelumnya, dia menanyakan kenapa nilai ujiannya jelek, dan bertanya siapa yang melaporkan bahwa dia berbuat curang dalam ujian akhir semester, sambil menjelaskan bahwa dia adalah ketua klub beladiri di kampusnya. Kejadian tersebut di atas menunjukkan kerentanan pemahaman seseorang terhadap maksud belajar menuntut ilmu pengetahuan di institusi pendidikan. Pendidikan, seperti yang diamanatkan dalam Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Dasar 1945, adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Contoh di atas menunjukkan dua komponen kerentanan yaitu kerentanan intelektual dan kerentanan akhlak seorang anak didik, yang apabila diluluskan atas paksaan, maka dosen sebagai pendidik telah menciderai tujuan pendidikan seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang. Saat ini kasus serupa semakin sering terjadi tanpa disadari bersama. Pemaksaan untuk keluar dari koridor tujuan pendidikan atas nama hak asasi, atas nama humanisme, atas nama ”uang”, semakin sering kita temui. Seseorang mahasiswa yang telah membayar biaya kuliah yang mahal, sering mempunyai hak yang lebih tinggi untuk lulus dengan nilai tinggi walaupun isi intektualnya belum mencukupi kompetensi yang dijanjikan. Beberapa pekan kemarin, sebuah sekolah menengah harus menghadapi cacian karena tidak meluluskan seorang siswa yang lulus ujian nasional, lulus ujian sekolah, tetapi tidak lulus ujian akhlak. Dan akhirnya atas tekanan beberapa pihak, sekolah tersebut harus meluluskan siswa yang bersangkutan demi alasan humanisme. Pendidikan seperti inikah yang kita inginkan? Sedemikan sulitnyakah mencerdaskan kehidupan bangsa? Bagaimana kita harus melaksanakan amanah pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Apakah pendidikan kita cukup mengedepankan kecerdasan intelektual saja, atau harus mengedepankan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional sosial, atau cukup mengedepankan kecerdasan emosional dan sosial saja. Seiring dengan kemajuan bangsa-bangsa di dunia, dan kompetisi untuk hidup yang semakin ketat, kita mulai menemukan kekurangan pada hasil pendidikan kita, korupsi para orang pintar semakin menjadi-jadi, penjahat teknologi informasi dengan pengetahuannya telah mampu menghancurkan sistem keamanan bank dan jual beli online. Hal ini kemudian ditanggapi oleh pemerintah dan masyarakat kita dengan mulai menginginkan penguatan pendidikan karakter. Tujuan mulia ini seharusnya didukung demi kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia, karena keberadaan dan kemajuan ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk menunjang kehidupan yang lebih baik. Kecerdasan intelektual harus didasari oleh kecerdasan emosional dan sosial, akhlak budi pekerti yang benar agar keberlanjutan kehidupan manusia di muka bumi ini dapat berlangsung aman, damai dan sejahtera.


7 Komentar

Filed under Pendidikan

Berapa jumlah air yang kita butuhkan ?

Sumber :

Klik untuk mengakses WHO_TN_09_How_much_water_is_needed.pdf

Water is essential for life, health and human dignity. In extreme situations, there may not be sufficient water available to meet basic needs and in these cases, supplying a level of safe drinking water for survival is of critical importance. Insufficient water and the consumption of contaminated water are usually the first and main causes of ill health to affect displaced populations during and after a disaster.

The amount of water required to support life and health in an emergency varies with climate, the general state of health of the people affected, and their level of physical exercise. Of equal importance in deciding how much water is needed are the expectations people have. A poor rural community may have far lower expectations concerning the quantity of water that is essential for life than people used to living in a wealthy urban environment. As a result, the poorer community is likely to consume less.

People use water for a wide variety of activities. Some of these are more important than others. Having a few litres of water to drink each day, for example, is more important than washing clothes, but people will still want and need to wash if skin diseases are to be prevented and other physiological needs are to be met.

2 Komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Perkebunan kelapa sawit dan alokasi air.

Kompetitor pengguna air yang sedang naik daun dan sering belum dipertimbangkan adalah perkebunan kelapa sawit. Diantara sejumlah tanaman perkebunan, perkebunan kelapa sawit di Indonesia mengalami peningkatan yang luar biasa. Tabel berikut menunjukkan peningkatan luas perkebunan kelapa sawit sebesar 4x lipat, 0,9 juta hektar pada tahun 1995 menjadi 4,1 juta hektar pada tahun 2008 (BPS, 2009). Disisi lain, luas tanaman perkebunan lain, (karet, coklat, kopi, kina, tebu) relatif konstan bahkan sebagian menurun. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Sawit Departemen Pertanian (2007), menerbitkan Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kelapa Sawit, yang menyatakan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran penting bagi subsektor perkebunan. Pengembangan kelapa sawit antara lain memberi manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan masyarakat (pendapatan petani kelapa sawit pada 2010 diproyeksikan sekitar USD 2.000-2.500,-/KK/tahun dari sekitar USD 1.246- 1.650,-/KK/tahun di tahun 2005); produksi yang menjadi bahan baku industri pengolahan yang menciptakan nilai tambah di dalam negeri dan untuk ekspor sebagai penghasil devisa (produksi tahun 2000 sebesar 7 juta ton meningkat menjadi sekitar 12,45 juta ton pada tahun 2005); ekspor CPO yang menghasilkan devisa (volume ekspor tahun 2000 sebesar 4,11 juta ton senilai USD 1,09 juta meningkat menjadi 10,37 juta ton senilai USD 3,76 juta pada tahun 2005); di tahun 2005 telah menyediakan kesempatan kerja bagi lebih dari 2,8 juta tenaga kerja di berbagai sub sistem dan menjadi sekitar 4 juta tenaga kerja pada tahun 2010.

Luas Tanaman Perkebunan Besar Menurut Jenis Tanaman, Indonesia (ribu Ha)

Tahun Karet 1) Minyak Sawit 1) Coklat 1) Kopi 1) Teh 1) Kina 1) Tebu 2)
1995 471,9 992,4 125,4 49,3 81,0 4,6 496,9
1996 538,3 1.146,3 129,6 46,7 88,8 2,2 400,0
1997 557,9 2.109,1 146,3 61,8 89,3 2,3 378,1
1998 549,0 2.669,7 151,3 62,5 91,2 0,6 405,4
1999 545,0 2.860,8 154,6 63,2 91,6 1,3 391,1
2000 549,0 2.991,3 157,8 63,2 90,0 1,3 388,5
2001 506,6 3.152,4 158,6 62,5 83,3 1,2 393,9
2002 492,9 3.258,6 145,8 58,2 84,4 1,2 375,2
2003 517,6 3.429,2 145,7 57,4 83,3 3,3 340,3
2004 514,4 3.496,7 87,7 52,6 83,3 3,2 344,8
2005 512,4 3.593,4 85,9 52,9 81,7 3,1 381,8
2006 513,2 3.748,5 101,2 53,6 78,4 3,1 396,4
2007 514,0 4.101,7 106,5 52,5 77,6 3,0 427,8
2008* 526,2 4.117,5 108,9 52,5 75,2 3,0 442,2

1)     Luas areal untuk tanaman tahunan adalah areal yang ditanami di akhir tahun

2)     Luas areal untuk tanaman musiman adalah luas panen kumulatif bulanan area.

*) Angka Sementara

Indonesian Commercial Newsletter (ICN), November 2009, memberikan informasi bahwa sektor minyak kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan, hal ini terlihat dari total luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7,3 juta hektar pada 2009 dari 7,0 juta hektar pada 2008. Sedangkan produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari 19,2 juta ton pada 2008 meningkat menjadi 19,4 juta ton pada 2009. Sementara total ekspornya juga meningkat, pada 2008 tercatat  sebesar 18,1 juta ton kemudian menjadi 14,9 juta ton sampai dengan September 2009. Dengan luas total perkebunan sebesar 7,3 juta hektar dan produksi CPO sebesar 19,4 juta ton, maka produksi CPO rerata tahun 2009 adalah sebesar  2,66 ton/ha. Harga CPO di Malaysian Derivative Exchange (MDEX) untuk pengiriman bulan Februari 2009 berada di RM 1.628 per ton atau sekitar US$ 448 per ton, dengan kata lain produksi rerata satu hektar lahan kelapa sawit sebesar US$ 1190,-/ha/tahun = Rp 11.070.000,-/ha/tahun. Suatu jumlah yang “tidak menggiurkan” bagi lahan subur.

Siapakah pengelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia ? Saat ini perkebunan besar swasta (PBS) mendominasi luas areal perkebunan sawit di Indonesia. Pada tahun 2009 dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional seluas 7.077 ribu ha, sekitar 3.501 ribu ha (49,47%) diusahakan oleh perkebunan besar swasta (PBS), sedangkan 2.959 ribu ha (41,80%) diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR) dan selebihnya 617 ribu ha (8,73%) adalah milik PBN. Menurut data Ditjen Perkebunan, areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 17 provinsi meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Tahun 2005 wilayah Sumatera merupakan yang terbesar yaitu sebesar 4.280.094 ha atau 76,46% dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional. Di wilayah ini provinsi Riau tercatat memiliki areal terbesar yaitu 1.383.477 ha dan selanjutnya diikuti provinsi Sumatera Utara seluas 964.257 ha. Wilayah lainnya yang juga memiliki areal perkebunan kelapa sawit cukup besar adalah Kalimantan seluas 1.108.288 ha (19,80%). Dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 466.901 ha berada di provinsi Kalimantan Barat yang tercatat sebagai yang terbesar di Kalimantan, kemudian disusul oleh Kalimantan Tengah seluas 269.043 ha.

Menurut Iman Yani Harahap dan Witjaksana Darmosarkoro, 1999, yang melakukan pendugaan kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit, menyatakan bahwa kebutuhan air untuk pertumbuhan kelapa sawit di lapang berkisar antara 4 – 4,65 mm/hari atau sekitar 120 – 140 mm/bulan. Pemberian air melalui sistem irigasi secara umum  dilakukan pada akhir Juli sampai akhir Oktober. Air yang di butuhkan sistem irigasi saluran terbuka berkisar antara 1.960 – 2.460 m3/ ha/bulan, dengan puncaknya pada Agustus (2.460 m3/ha/bulan). Sedangkan air yang dibutuhkan sistem irigasi tertutup (sprinkler dan drip) berkisar antara 1570 – 1970 m3/ha/bulan, dengan puncaknya pada Agustus (1.970 m3/ ha/ bulan). Jumlah kebutuhan air ini setara dengan 0,9 liter/det/ha yang hampir sama dengan kebutuhan air untuk irigasi padi sawah. Dengan mempertimbangkan luas kebun kelapa sawit di Sumatera sebesar  4,3 juta hektar, dengan rerata kebutuhan air sebesar 2.000 m3/ha/bulan, maka lahan tersebut akan memanfaatkan air sebesar 103 milyar m3/tahun. Apabila dibandingkan ketersediaan air di Sumatera sebesar 96,2 Milyar m3, maka kita perlu hati-hati kemungkinan terjadinya defisit air di Sumatera, mengingat kebutuhan air untuk pertanian, kebutuhan rumah tangga dan industri juga semakin meningkat.

Apabila perhitungan kebutuhan air ini benar, Balai Besar Wilayah Sungai harus mulai berhitung, berapa alokasi air untuk lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di wilayahnya dan bagaimana urutan prioritasnya dibanding pemanfaatan air untuk kebutuhan air irigasi rakyat dan air minum.

9 Komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air

Konversi Hutan dan Rawa Tanpa Ijin memprihatinkan

Perkebunan Sawit Tanpa Izin Marak. Pelanggaran di Kalimantan Tengah Paling Luas

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/22/03254493/perkebunan.sawit.tanpa.izin.marak

Kompas, Senin, 22 Februari 2010 | 03:25 WIB

Pontianak, Kompas – Perkebunan kelapa sawit yang terindikasi melanggar peraturan, yaitu beroperasi tanpa memiliki surat izin pelepasan kawasan dari Menteri Kehutanan, marak dan meliputi luas sekitar 2.000.000 hektar di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Karena itu, Kementerian Kehutanan akan membawa kasus tersebut ke jalur hukum.

Kepala Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kalimantan Barat (Kalbar) Soenarno, Sabtu (20/1), menegaskan, Kementerian Kehutanan memastikan akan membawa kasus pelanggaran tersebut ke jalur hukum.

Sementara Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Sabtu di Pontianak, mengakui, di Indonesia jutaan hektar perkebunan dan pertambangan beroperasi tanpa izin pelepasan kawasan atau izin pinjam pakai.

”Dari laporan yang sudah masuk, perkebunan yang beroperasi tanpa izin lahannya memang mencapai jutaan hektar. Saya tidak ingat persis angkanya,” tutur Zulkifli Hasan kepada wartawan di ruang VIP Bandara Supadio.

Menurut Menhut, laporan mengenai banyaknya lahan perkebunan yang beroperasi tanpa izin itu masuk ke Tim Terpadu Penanganan Pelanggaran Kehutanan yang dibentuk pada Januari 2010. Tim terpadu tersebut, antara lain, terdiri atas Kementerian Kehutanan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

Kalteng paling luas

Soenarno menjelaskan, sekitar 1,5 juta hektar berada di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan 332.000 hektar berada di Kalbar. Sekitar 300.000 hektar dari 332.000 hektar yang ada di Kabupaten Ketapang, Kalbar, dipastikan tidak berizin.

”Di Kabupaten Bengkayang dan Sanggau (keduanya di Kalbar) yang melanggar 28.000 hektar dan sekitar 4.000 hektar,” ujar Soenarno.

Menyangkut pelanggaran di Kalteng, Direktur Eksekutif Save Our Borneo Nordin membenarkan bahwa pelanggaran atas lahan 1,5 juta hektar tersebut dilakukan oleh sedikitnya 77 perusahaan dari 144 perusahaan perkebunan di Kalteng.

Dari Medan, Sumatera Utara, diperoleh informasi bahwa harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) cenderung naik, baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah panen CPO yang menurun serta musim dingin di Eropa yang datang lebih awal daripada tahun sebelumnya sehingga panen kedelai dan biji matahari berkurang.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Sumatera Utara Balaman Tarigan mengatakan, pada akhir tahun 2009 harga CPO Rp 6,2 juta per ton dan pada akhir Februari 2010 melonjak menjadi Rp 7,6 juta per ton.

”Kami optimistis harga CPO akan terus naik dan tembus Rp 10 juta per ton,” kata Tarigan seusai acara Musyawarah Cabang II Gapki Cabang Sumut di Medan, Sabtu. (AHA/FUL/MHF)

2 Komentar

Filed under Pengelolaan Sumberdaya Air