Keputusan untuk mengangakt rahim, ovarium dan tuba gue karena kanker dua tahun lalu benar-benar keputusan yang sulit, karena akan mengakibatkan menopause dini di usia gue yang bahkan masih 20 something.
Jadi lah sekarang gue mengalami penyakit jompo a.k.a post menopause syndrom yang berefek:
1. Osteopenia
2. Hot flush (maybe because i am too hot).
3. Kelelahan (sepertinya juga dikarenakan terlalu banyak mengangkat beban rindu).
4. Insomnia (terlebih karena terlalu larut saat memikirkan dia).
5. Mood swing ini ternyata ada hubungannya juga dengan jantung gue (yang mulai lemah karena dirampas dia setengahnya, plus suka kumat kalau mendekati bulan tua).
*silakan abaikan yang di dalam kurung ye kak*
Jadi supaya hidup gue bisa kembali normal, terutama kesehatan jantung karena hormon estrogen sudah berhenti diproduksi tubuh, dokter menyarankan untuk menjalani HRT, Hormon Replacement Therapy (Terapi Sulih Hormon). Tapi terapi ini juga beresiko, terlebih tipe kanker gue adalah Mucinous Adenokarsinoma, di mana kanker ini merupakan salah satu tipe kanker yang agak bandel. Kanker ini sendiri terbentuk dari lapisan kelenjar, sementara kelenjar itu banyak sekali jumlahnya di tubuh kita. Kalau misalnya gue jadi terapi hormon ini, dikhawatirkan akan menyebabkan kanker baru di bagian tubuh yang lain: di payudara lah, usus, paru-paru, getah bening dan lain-lain. Tapi kalau gue ga terapi, efeknya akan ke jantung dan tulang gue.
Bukan dokter namanya kalau tidak all-out (hyak elah) dalam menangani masalah ini, hihihihi. Maka setelah melakukan serangkaian test dan scan sana sini, akhirnya gue hanya diberikan tambahan hormon estrogen aja melalui oral. Karena hormon cinta sudah ada kak, bhihiiik.
Dan mulai saat ini sampai umur gue benar-benar pas untuk menopause, gue harus mengkonsumsi estradiol valerat satu sekali sehari. Kalau dihitung-hitung kira-kira gue harus minum obat ini tiap hari selama lebih kurang 20 tahun.
Itu doang? Enggak sih. Karena Post Menopause (lebih-lebih osteopenia), tiap hari gue jadinya harus konsumsi kalsium, D3, plus suplement untuk saraf kayak Neurobion, dan semua itu harus diimbangi dengan minum air putih yang banyak. Sehari minimal 3 liter, dan hyakkk, “pipisnya tida bole ditahan-tahan ya, nanti mengendap” begitu kata Dokter Endokrinologi gue yang ternyata sekampung. Hihihi, mengendap kayak kangen ya, Dok? YAAAYYYY….
Masih ada kontrol wajib ke onkologi tiap 3-6 bulan sekali untuk observasi perkembangan kesehatan gue mengingat gue adalah penyintas, dan cek kesehatan hati, payudara, serta tulang 6 bulan – 1 tahun sekali untuk melihat efek terapi hormon gue. Emang ga bole jauh-jauh dari RS ye, kan?
Oiya, sekarang gue di Jakarta. Di sini gue berobat di RSCM, di mana fasilitasnya lebi lengkap dari Sardjito. Cuma… Sardjito lebih enak gitu pelayanannya, yah namanya juga Jogja ya, hihihihi. Di sini juga gue sering gerak dan jalan kaki, jadi jarang cape kayak dulu lagi. Capenya hilang entah karena dia selalu bilang sayang, atau saking sibuknya jadi lupa kalau lagi cape, gue ga tahu. Tapi yang jelas polusi udaranya kurang ajar, kadang bikin gue bengek. Makanya gue lebih memilih kos di Depok dan naik komuter tiap hari daripada harus tinggal di kota dan lama-lama di jalan raya.



