Suka-Suka

Kukira Kau Akan Mengembalikan Buku Itu

Aku sudah hampir khatam membaca saat kau bilang ingin membacanya juga.

Tak lama, kau bilang, kau sudah menutup buku itu sebelum selesai membacanya.

Kukira kau akan mengembalikannya kepadaku. Tapi, kau justru ingin menjadikan buku itu sebagai hak milikmu. Menyimpannya di dalam rak buku pribadimu.

HEH! Kamu belum selesai membaca, kan? Kamu bahkan mungkin belum berhasil tamat membaca chapter pertama. Bagaimana bisa kamu bilang cocok dengan isi buku itu? Kurasa, kamu hanya tertarik pada keelokan sampulnya saja.

Ya sudah, nggak apa-apa. Ambil saja. Karena kalau kupikir-pikir, buku itu terlalu sederhana untukku. Aku butuh buku yang lebih berisi. Lebih bergizi. Ambillah buku itu menjadi milikmu. Buku sederhana yang bahkan kamu tak sanggup menyelesaikan membacanya.

Suka-Suka

KEHILANGAN⁣


Rasa kehilangan hanya akan ada jika kamu pernah merasa memilikinya. Karenanya, jangan jadikan seluruh pemeran dalam setiap episode hidupmu sebagai bagian dari dirimu. Hidupmu, adalah dirimu yang utuh. Sementara mereka yang pernah beririsan dengan salah satu episode dalam hidupmu, hanyalah asesori yang membuatnya menjadi manis.⁣

Maka, ketika suatu saat nanti episode hidupmu bersamanya sudah purna, kamu tak perlu berurusan dengan rasa kehilangan. Kamu hanya akan merasa berkurang. Dan, perasaan kurang tersebut akan mudah kamu obati, ketika kamu menemukan asesori pengganti. Yang lebih layak. Lebih pantas untuk mempermanis kehidupanmu di episode-episode berikutnya nanti. ⁣

Demikian seorang kawan berkata kepada saya di suatu sore dengan rintik hujan.⁣

Suka-Suka

This Too Shall Pass

For my dearest friend,

Dulu, kita bisa bangun kembali sambil ngakak saat nyungsep waktu latihan mengendarai motor. Maka, kali ini pun. Kita pasti bisa bangkit kembali dari keterpurukan sambil tertawa bahagia. This too shall pass.

Atas jatah hidup yang masih diberikan oleh-Nya untuk kita, kita harus bertahan dan melanjutkan perjalanan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk juga kesedihan.

Kamu pernah bilang, kalau dipikir-pikir, memang seluruh ujian ini tercipta agar kita dapat mengingat kembali hal-hal yang perlu disyukuri. Dan, salah satu hal yang bisa kita syukuri adalah fakta bahwa ternyata kita sudah dewasa. 💜

Suka-Suka

Parfum Laundry

Lebih dari dua tahun terakhir ini, aku sangat menyukai aroma parfum laundry yang selalu menguar dari jaketmu ketika berkendara. Satu tahun terakhir, aroma itu sudah seperti obat untuk hidupku yang sedang limbung.

Namun, aku sungguh tak mengerti cara kerja semesta. Di suatu waktu, ia menghadirkan obat itu. Di waktu yang lain ia akan menyetop obatku secara tiba-tiba. Di saat aku sudah sangat nyaman, rindu, dan butuh. Butuh sekali.

Aku tahu, kelak di masa depan, aroma itu hanya akan menjadi pembangkit kenangan masa-masa kebersamaan ini ketika kita sudah punya kehidupan masing-masing. Tapi itu kan nanti. Nanti saja. Jangan sekarang.

Please…

Aku kangen. Aku butuh.

Obatku.

Suka-Suka

Terima Kasih Telah Menutup Buku Ini

Aku hampir khatam membaca buku ini waktu kamu ingin membacanya juga. Meski agak berat untuk melepasnya, ya sudah tidak apa-apa. Baca saja.

Lalu sekarang, kamu bilang sudah menutup buku sebelum selesai membaca. Kamu bilang, kamu hanya sanggup berputar-putar pada kalimat yang itu-itu saja.

Hehe… masing-masing orang memang memiliki selera dan kenyamanannya sendiri. Mungkin buku ini memang lebih cocok untukku, yang sudah mengetahui hampir seluruh isinya. Bukan untukmu, yang hanya tertarik akan keelokan sampulnya.

Terima kasih ya, sudah menutup buku ini. Biarkan aku melanjutkan membaca. Aku tak terlalu peduli apakah nantinya, buku ini akan bisa terus aku miliki. Saat ini aku hanya ingin terus membacanya saja. Sampai selesai.

Karena saat ini, membaca buku ini adalah obat paling mujarab untuk hidupku yang sedang tidak begitu sehat.

Suka-Suka

Mengapa Saya Selalu Membeli Rasa Iba?

Pertanyaan tersebut ditujukan untuk diri saya sendiri. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membeli satu sisir pisang dengan harga 50 ribu rupiah. Waktu itu, saya baru saja jajan es kopi di suatu minimarket ketika nenek penjual pisang ini menghampiri saya. Beliau kemudian bercerita tentang dagangannya yang tak kunjung laku, padahal ia hanya reseller dengan keuntungan seribu hingga dua ribu. Mendengar cerita dari si nenek, hati saya jadi tergerak untuk membeli sedikit dagangannya. ⁣⁣⁣⁣

Nenek itu mematok harga 75 ribu untuk satu sisir pisang dagangannya. Oh ya, tentu saja saya tahu harga pisang itu sebenarnya berapa. Nominal 75 ribu sangat tidak masuk akal untuk pisang yang biasa saja itu. Tapi, entah kenapa saya tetap mengeluarkan satu lembar uang 50 ribu dan menyerahkannya kepada si nenek. Kebetulan uang saya di dompet tinggal satu lembar itu saja.

Waktu saya ceritakan pengalaman ini, kawan saya bilang, nenek itu bukan sedang menjual pisang, melainkan menjual rasa iba. Lalu, saya membelinya.

Setelah pengalaman pertama, saya bertekad untuk tidak akan termakan lagi oleh modus ‘penipuan’ yang sama. Sampai dua hari yang lalu, seorang kakek memanggil saya waktu saya sedang berjalan kaki di sekitar kampus UIN Suka, Yogyakarta. Kakek itu menanyakan apakah saya suka membaca. Sambil menyerahkan sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, kakek itu bercerita kalau sedang tidak punya uang dan ingin menjual salah satu buku koleksinya. Waktu itu saya pikir, saya nggak rugi, kok. Saya dapat buku sekaligus bisa membantu.

Transaksi pun terjadi. Tanpa meneliti dulu kondisi bukunya, novel Pramoedya itu saya barter dengan satu lembar uang. Sampai akhirnya, saya tahu kalau ini buku bajakan. Tentu saja saya rugi, karena buku bajakan dengan kondisi yang enggak banget ini saya tebus dengan nominal yang sedianya bisa saya gunakan untuk membeli BTS Meal McD.

Sebenarnya dua pengalaman tersebut membuat saya bersyukur, sih. Karena meski lagi bokek dan kesulitan ekonomi, paling nggak saya masih bisa berusaha tanpa harus menjual rasa iba.

Tapi, kenapa ya saya selalu membeli rasa iba?

Buku

Sudah Bukan Waktunya Bucin, Move On Adalah Balas Dendam yang Elegan | #NewBook

Kehidupan cinta memang seolah menjadi topik yang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Dalam urusan asmara, ada satu istilah yang sedang sangat populer di kalangan anak-anak muda belakangan ini, yaitu bucin.

Bucin adalah akronim dari “budak cinta”. Jika kita belajar sejarah, kita akan mengenal istilah perbudakan di masa lampau. Perbudakan merupakan suatu kondisi pengontrolan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain. Orang yang dikontrol tersebut dinamakan sebagai budak, sedangkan orang yang memiliki budak disebut sebagai tuan. Seorang budak akan bekerja untuk tuannya tanpa memiliki hak-hak tertentu. Mereka akan senantiasa patuh dan menuruti perintah majikan atau tuannya. Tak peduli jika perintah tersebut kadang membuatnya menderita.

Nah, mengambil konsep dari perbudakan tersebut kemudian muncullah istilah “budak cinta”. Istilah ini digunakan untuk mengacu kepada orang-orang yang rela melakukan apa pun demi cinta. Mereka selalu menomorsatukan urusan percintaan di atas urusan yang lainnya. Tak jarang, mereka rela mengorbankan segalanya. Bahkan, hingga melakukan hal-hal yang di luar nalar atau norma-norma umum.

Alhamdulillah dapat kabar kalau buku yang saya tulis di tahun 2019 akhirnya terbit juga. Buku ini berisi ulasan mengenai fenomena yang sedang hype di kalangan anak muda, yaitu bucin atau budak cinta. Di dalam buku ini, disampaikan pula ajakan bagi para remaja untuk segera move on dari kebucinan dan menyambut hidup yang lebih positif. Sebab, sudah bukan waktunya jadi bucin. Move on adalah balas dendam yang elegan.

Suka-Suka

Sedih Nggak Apa-Apa, tapi Jangan Kayak Kemarin Lagi ya⁣⁣

To: Me⁣⁣
From: Myself⁣⁣
⁣⁣
Hehe gimana? Sakit karena overthinking malah disangka corona? 🤣⁣⁣ (Update 12/05/21: ternyata memang kena Covid)
⁣⁣
Ya ngapain, siiihh… desperate banget sampai berani-beraninya komplain sama Allah? Anggap Allah nggak adil gitu? Ya ampun. Istighfar dulu sana.⁣⁣
⁣⁣
Ingat nggak, kali pertama kamu mulai komplain sama Allah sebulan yang lalu, kamu langsung sariawan parah sampai nggak bisa makan seminggu. Lalu, kemarin kamu kumat, protes lagi sama Allah. Tiba-tiba kamu sakit demam tinggi. 38,7°C cuyy… nggak maen-maen. Untung nggak kenapa-kenapa.⁣⁣
⁣⁣
Tahu nggak itu apa tandanya? Tandanya Allah masih sayang sama kamu. Kamu marah-marah sama Allah, terus Allah kasih sakit buat menghapus dosa-dosamu. Untung langsung dibayar di sini, kalau ‘di sana’ gimana? Naudzubillah.⁣⁣
⁣⁣
Ya aku tahu, kamu habis dapat cobaan hidup yang berat banget. Pun demikian dengan bebanmu belakangan ini, sama beratnya. Ya nggak apa-apa kalau kamu mau sedih, kecewa, marah, terpuruk. Nggak papa banget. Kita nggak bisa selalu jadi orang optimis seperti kata para motivator. Tapi, jangan marah-marah sama Tuhan juga.⁣⁣
⁣⁣
Kenapa? Kamu marah karena merasa udah tabah, sabar, dan ikhlas sama cobaan dan beban hidupmu yang berat, tapi Allah masih saja tidak mengabulkan apa yang menjadi keinginan pribadimu? Itu kan yang bikin kamu marah? Bentar dulu, itu artinya kamu hanya fokus pada hal baik yang kamu lakukan. Kamu ingat nggak apa dosa-dosamu? Ya pasti ada. Mungkin dosa-dosamu itu yang bikin Allah menunda pengabulan doa-doa. ⁣⁣
⁣⁣
Lagi pula, apa yang kamu inginkan itu, belum tentu baik juga buat kamu. Walaupun untuk saat ini hal itu terasa sangat membahagiakanmu, belum tentu nanti. Allah tahu semuanya. Makanya, pasrah aja udah. Nggak usah marah. Okay! ⁣⁣
⁣⁣
Selamat ulang tahun. Semoga semakin kuat menghadapi ujian naik tingkatan level hidup ini. Kalau capek, gpp istirahat. Kalau sedih, gpp nangis. Kalau nggak sanggup, gpp bilang ga bisa. ⁣⁣
⁣⁣
Yok, sembuh yok! Kerjaan masih banyak dan ini mau lebaran cuyy!

(26 Ramadan 1442 H / 8 Mei 2021)

Suka-Suka

Selamat Ulang Tahun, Ang

Untuk Ang Riandra,

Kemarin sore, satu notifikasi masuk ke akun Facebook-ku. Ternyata adalah reminder tentang unggahan kita di platform medsos tersebut 11 tahun yang lalu. Hahaha, 11 tahun woyy elah! Lama juga ya waktu membawa kita dari satu episode hidup ke episode berikutnya. Dan seterusnya sampai entah berapa banyak lagi jatah episode yang Dia berikan untuk kita.

Jujur, aku sempat ngakak waktu mencermati apa yang tertulis dalam unggahan itu. Di samping kalimat sok nginggris darimu, yang grammarnya bubar dan pasti akan diketawain oleh anak-anak jurusan Bahasa Inggris. Ngahahah lebih dari itu, aku nggak bisa menahan tawa saat menyadari fakta bahwa dulu, skripsi adalah cobaan hidup teramat berat yang harus kita hadapi.

Aku jadi ingat salah satu obrolan kita beberapa waktu yang lalu. Waktu itu aku sambat, hidup menjadi manusia dewasa kenapa sedemikian berat. Padahal dulu, cobaan paling berat cuma skripsi. Lalu, kamu mengoreksi kalimatku. Katamu, skripsi itu bukan ‘cuma’. Pada masa itu, itu juga jadi cobaan yang berat bagi kita, karena level kita memang baru sebatas itu saja. Sekarang, jika kita merasakan cobaan hidup yang lebih berat ketika dibandingkan dengan skripsi, tentu saja karena level kita sudah di atas itu.

Hahaha benar juga, ya. Hidup ini tuh kayak perjalanan melalui badai satu ke badai lainnya. Besar kecilnya badai, tergantung sudah sampai di kelas mana perjalanan kita. Memang sudah begitu alurnya. Tugas kita hanyalah terus berjalan dan tidak berputus asa.

Selamat ulang tahun yang ke-5748354, Ang. Semoga tidak lupa untuk selalu berbahagia di tengah-tengah setiap badai yang sedang mendera.