Pertanyaan tersebut ditujukan untuk diri saya sendiri. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat membeli satu sisir pisang dengan harga 50 ribu rupiah. Waktu itu, saya baru saja jajan es kopi di suatu minimarket ketika nenek penjual pisang ini menghampiri saya. Beliau kemudian bercerita tentang dagangannya yang tak kunjung laku, padahal ia hanya reseller dengan keuntungan seribu hingga dua ribu. Mendengar cerita dari si nenek, hati saya jadi tergerak untuk membeli sedikit dagangannya.
Nenek itu mematok harga 75 ribu untuk satu sisir pisang dagangannya. Oh ya, tentu saja saya tahu harga pisang itu sebenarnya berapa. Nominal 75 ribu sangat tidak masuk akal untuk pisang yang biasa saja itu. Tapi, entah kenapa saya tetap mengeluarkan satu lembar uang 50 ribu dan menyerahkannya kepada si nenek. Kebetulan uang saya di dompet tinggal satu lembar itu saja.
Waktu saya ceritakan pengalaman ini, kawan saya bilang, nenek itu bukan sedang menjual pisang, melainkan menjual rasa iba. Lalu, saya membelinya.
Setelah pengalaman pertama, saya bertekad untuk tidak akan termakan lagi oleh modus ‘penipuan’ yang sama. Sampai dua hari yang lalu, seorang kakek memanggil saya waktu saya sedang berjalan kaki di sekitar kampus UIN Suka, Yogyakarta. Kakek itu menanyakan apakah saya suka membaca. Sambil menyerahkan sebuah novel karya Pramoedya Ananta Toer, kakek itu bercerita kalau sedang tidak punya uang dan ingin menjual salah satu buku koleksinya. Waktu itu saya pikir, saya nggak rugi, kok. Saya dapat buku sekaligus bisa membantu.
Transaksi pun terjadi. Tanpa meneliti dulu kondisi bukunya, novel Pramoedya itu saya barter dengan satu lembar uang. Sampai akhirnya, saya tahu kalau ini buku bajakan. Tentu saja saya rugi, karena buku bajakan dengan kondisi yang enggak banget ini saya tebus dengan nominal yang sedianya bisa saya gunakan untuk membeli BTS Meal McD.
Sebenarnya dua pengalaman tersebut membuat saya bersyukur, sih. Karena meski lagi bokek dan kesulitan ekonomi, paling nggak saya masih bisa berusaha tanpa harus menjual rasa iba.
Tapi, kenapa ya saya selalu membeli rasa iba?