Menjaga Berat Badan Selama Berpuasa

Biasanya setelah liburan hari raya banyak yang mengeluh berat badannya meningkat karena pakaian terasa sempit. Dan biasanya orang-orang menyalahkan menu pada hidangan lebaran yang membuat gemuk. Sebenarnya tidak mungkin makanan dalam sehari bisa menyebabkan kenaikan berat badan secara langsung. Coba saja kita ditraktir teman makan enak seharian di restoran, kita memang kenyang dan perut terasa gembul, tapi coba lihat timbangan kita, apakah akan langsung terjadi peningkatan berat badan?

Proses penambahan berat badan tidak butuh waktu sehari, menyangkut kerja metabolisme tubuh. Adanya surplus kalori, protein, lemak yang berlebih dan tidak dibakar tubuh sehingga menumpuk di badan kita maka terjadilah peningkatan berat badan. Waktu tercepat untuk meningkatnya berat badan kira-kira setelah 1 minggu. Berarti bila berat badan naik setelah lebaran, terjadinya karena apa yang kita lakukan selama bulan puasa. Bukan salah menu lebarannya 🙂

Bayangkan apa yang kita lakukan selama bulan puasa? Biasanya kegiatan olahraga terlupakan begitu saja dengan alasan nanti lemas karena puasa. Lalu saat buka puasa biasanya kita malah ’balas dendam’. Begitu terdengar adzan Maghrib, langsung minum teh manis, kolak, gorengan. Belum lagi menu makan malamnya yang ’balas dendam’, kita di jalan ’lapar mata’ untuk membeli aneka lauk karena puasa. Sepulang tarawih pun biasanya suka makan snack atau tajil yang tersisa. Makan yang banyak di malam hari ditambah aktifitas yang berkurang sangat mempercepat proses penambahan berat badan.

Penyebab meningkatnya berat badan selama bulan puasa :

  1. Terlalu lama tidur setelah sahur. Kadang hingga menjelang adzan baru terbangun.
  2. Kurang olahraga Baca lebih lanjut

Makna Puasa Bagi Tubuh Kita

Apa yang terpikir bila kita berpuasa?
Pastilah menahan lapar dan haus….
Sebelum mulai puasa pastilah terbayang kita akan lemas karena tidak makan dan minum. Ada yang berpendapat sebaiknya batasi aktifitas bila puasa karena akan mudah lemas.
Namun benarkah kita akan lemas? Bagaimana dengan Rasulullah SAW dan sahabatnya yang dapat memenangkan perang Badar saat berpuasa?
Terbayang pulakah di benak kita bila kita juga akan terasa lemas dan mengantuk bila kekenyangan, terlalu banyak makan enak, minum air kebanyakan sehingga kembung?
Bila benar demikian berarti tidak ada hubungannya antara puasa dan rasa lemas. Dan bukan berarti saat berpuasa kita harus berhenti beraktivitas. Lihatlah prestasi zaman Rasulullah yang dapat menang perang Badar saat puasa.
“berperanglah niscaya kamu mendapat keuntungan (ghanimah), berpuasalah niscaya kamu sehat, berpergilah niscaya kamu mendapat kekayaan” (HR Thabrani)
Puasa mempunyai makna yang luar biasa bagi tubuh kita.

Defenisi Puasa
• Secara bahasa berarti menahan
• Secara syari berarti menahan makan dan minum serta yang membatalkannya,pada waktu, dan dengan syarat-syarat yang bersifat khusus.
Manusia dan Makanan
Dalam kebutuhan sehari-hari, manusia memang membutuhkan makanan sebagai sumber energi. Sehari-hari kita berpikir untuk mencari makan, tanpa makan kita tak bisa bekerja, bila kita tak bekerja kita tak bisa makan. Sebuah lingkaran simbiosis yang saling membutuhkan. Namun ada tingkatannya buat kebutuhan tubuh terhadap makanan yaitu :
– Tingkatan hajat ( yang dibutuhkan) yaitu makanan yang hanya sekedar untuk bisa menegakkan tulang punggung
– Tingkatan kifayah ( ukuran kecukupan ) yaitu membaginya dalam 3 bagian 1/3 makanan, 1/3 minuman, 1/3 oksigen
– Tingkatan fudlah ( yang melebihi batas ) yaitu makanan yang melebihi 1/3 bagian

Sedangkan sistem pencernaan manusia adalah  sbb :

• Makanan ke dalam tubuh diatur dalam sistem pencernaan. Dari Baca lebih lanjut

Syarat-syarat Menjadi Donor Darah

Berikut syarat-syarat untuk menjadi donor darah. Syarat-syarat ini ditetapkan demi kesehatan dan keselamatan orang yang menjadi donor setelah menyumbangkan darahnya. Demikian pula dengan darah yang akan ditransfusikan ke si penerimanya terjamin aman.

1. Keadaan umum saat akan diambil darahnya dalah keadaan baik; sang donor dalam kondisi sehat secara fisik.
2. Bebas dari alkohol dan narkoba (obat-obatan yang tergolong psikotropika).
3. Tidak menderita penyakit jantung, paru-paru, hati, gimjal, diabetes (kencing manis), penyakit darah (anemia, leukemia atau thalasemia), epilepsi, kanker, penyakit kulit kronis. Kecuali ada referensi dari dokter yang merawatnya; bagi si penderita penyakit tsb diperbolehkan untuk menjadi donor darah.
4. Usia :17 – 60 tahun; dapat menyumbangkan darah sampai usia 65 tahun.
5. Berat badan minimal 45 kg.
6. Denyut nadi : 60 – 100 /menit.
7. Tekanan darah sistolik : 100 – 140 mmHg; tekanan darah diastolik : 60 – 90 mmHg.
8. Hb > 12
9. Tidak dalam kondisi haid, hamil, menyusui. Diperbolehkan menjadi donor bagi wanita setelah 6 bulan melahirkan dan setelah 3 bulan berhenti menyusui.
10. Jarak penyumbangan darah (donor darah) : 2,5 bulan – 3 bulan setelah diambil darahnya.
11. Tidak dalam kondisi mendapat transfusi darah selama satu tahun terakhir.
12. Tidak diperkenankan menjadi donor darah apabila hasil pemeriksaan lab. terhadap VDRL, anti HCV dan anti HIV adalah positif.
13. Telah sembuh dari penyakit typhus selama jangka waktu 6 bulan.
14. Jangka waktu untuk dapat menyumbangkan darah dengan vaksinasi:
– Rabies dan Hepatitis B: setelah 12 bulan vaksinasi.
– Rubella : setelah 4 minggu vaksinasi.
– Polio, Mumps, Yellow Fever : setelah 2 minggu vaksinasi.

15. Jangka waktu menjadi donor darah dengan tindakan medis: Baca lebih lanjut

Pedoman Umum Penanganan Pertama pada Kecelakaan

Pengetahuan mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan perlu dipahami semua orang karena kita tidak tahu persis kapan tiba-tiba terjadi keadaan gawat dimana tidak ada tim medis di sekitar kita.
Menolong orang saat terjadi kecelakaan gawat darurat merupakan “golden hour” karena saat itu adalah waktu yang sangat penting untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Penderita yang terluka parah saat terjadi kecelakaan atau musibah lain memerlukan penilaian yang cepat dan pengelolaan yang tepat untuk menghindari kematian.
Penderita yang terluka karena kecelakaan (termasuk kecelakaan kerja) dan sebagainya dapat mengalami berbagai jenis trauma. Trauma adalah cedera atau kerusakan salah satu atau beberapa organ tubuh yang juga dapat berefek kehilangan fungsi organ yang rusak tersebut.
Penanganan penderita pada tahap awal atau persiapan terdiri dari dua fase, yaitu : Baca lebih lanjut

Enuresis

“kenapa sudah besar masih ngompol? Tapi tak apa kan namanya juga anak-anak.” mungkin itu adalah yang biasa terdengar di kalangan masyarakat. Bila anak masih ngompol tak bisa dibiarkan saja karena itu adalah bukan hal wajar, bisa merupakan suatu penyakit.
Normalnya anak-anak mengompol saat tidur adalah ketika usia bayi hingga usia 3-4 tahun. Umumnya para orang tua melakukan toilet training kepada anaknya pada usia 1-2 tahun untuk menghentikan kebiasaan tersebut, bila di atas usia 4 tahun anak masih mengompol maka hal itu merupakan gangguan kesehatan tersendiri pada anak yang disebut enuresis.
Kebanyakan masalah gangguan ngompol cenderung terjadi pada anak laki-laki.

Definisi Enuresis
Enuresis (ngompol) merupakan pengeluaran urine yang tidak disadari pada saat tidur karena anak-anak gagal/tidak bisa menahan pengeluaran urine (‘pipis’) saat tidur. Berdasarkan waktu enuresis terbagi atas enuresis diurnal yang terjadi saat tidur siang dan enuresis nokturnal yang terjadi malam hari.
Enuresis umumnya terjadi malam karena waktu tidurnya lebih lama.


Fisiologi Normal ‘Pipis’ atau Pengeluaran Urine

Vesica urinaria (kandung kemih) adalah kantong otot yang menyimpan urine dan bersifat elastis. Kandung kemih mengembang saat urine penuh dan mengempis bila buang air kecil.
Secara normal, semua orang (termasuk anak) dapat mengendalikan kandung kemih. Syaraf di dinding kandung kemih mengirim sinyal ke otak saat kandung kemihnya penuh lalu otak mengatur agar si anak menahan pipis dan mengirim sinyal lagi ke syaraf di kandung kemih agar tidak ‘bocor’ sampai anak pergi ke kamar mandi untuk pipis secara sadar.
Pada enuresis umumnya disebabkan oleh gangguan sistem syaraf-nya sehingga tidak dapat mengirimkan sinyal dengan baik.

Klasifikasi Enuresis
1. Enuresis Primer
Terjadi pada usia 5-6 tahun.
Disebabkan oleh Baca lebih lanjut

Sick Building Syndrome

Sick Building Syndrome (SBS) adalah situasi dimana penghuni suatu gedung (bangunan) mengeluhkan masalah kesehatan – berkaitan dengan periode yang dihabiskan selama tinggal di bangunan tersebut – gejala tidak spesifik, cenderung seperti gejala flu.SBS didefinisikan pula sebagai keluhan masalah kesehatan yang berhubungan dengan kualitas udara dalam lingkungan dari penghuni ruangan ber-AC. Biasanya sering terjadi pada pekerja kantoran dimana mereka selalu bekerja dalam ruangan tertutup dan ber-AC selama – minimal – 8 jam.

Biasanya keluhan penderita adalah sakit kepala, mata perih, hidung tersumbat, bersin, radang tenggorokan, batuk kering, pegal, dan mual. Para pekerja yang mengalami gangguan tersebut cenderung hilang keluhannya saat akhir pekan atau libur panjang. Dan keluhan benar- benar hilang setelah berhenti kerja. Selama ini mereka berpikir bahwa mereka sakit karena stress akibat beban pekerjaan. Tetapi sebenarnya itu adalah SBS. Dimana penyebabnya adalah Baca lebih lanjut

Penanganan Pertama Pada Luka Bakar

Definisi luka bakar :
Luka bakar adalah luka yang menyebabkan kulit panas dan terbakar yang sering terjadi akibat kecelakaan pada tempat kerja atau di rumah tangga.
Penyebab yang biasa terjadi di tempat kerja : sengatan listrik, zat kimia berbahaya, kebakaran, radiasi, alat elektronik berbahaya.
Penyebab yang biasa terjadi di rumah : air panas, percikan minyak goreng saat masak.
Biasanya bila disebabkan oleh api, selain api langsung menjilat tubuh, baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar. Bahan pakaian yang paling aman adalah bahan wol. Bahan sintetis seperti nilon dan dakron selain mudah terbakar juga mudah lumer oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga memperberat derajat kedalaman luka.

Tingkat keparahan luka bakar ditentukan oleh derajat. Derajat luka bakar dibagi menjadi derajat I, II dan III.

Luka bakar derajat I:
hanya mengenai epidermis atau lapisan kulit paling atas. Biasanya sembuh dalam 5 – 7 hari. Keluhan yang dirasakan penderita adalah nyeri atau hipersensitif pada daerah yang terkena luka.

Luka bakar derajat II:
mengenai daerah dermis atau lapisan kulit di bawah epidermis, namun beberapa kelenjar di kulit seperti kelenjar keringat, kelenjar sebasea dan pangkal rambut masih belum terkena. Gejalanya adalah nyeri, munculnya gelembung pada kulit dan keluarnya cairan (seperti nanah) pada kulit.

Luka bakar derajat III:
meliputi seluruh kedalaman kulit atau organ di bawah kulit yang terluka. Tidak terasa nyeri oleh penderita. Kulit tampak pucat abu-abu gelap atau hitam.

Selain berdasarkan derajatnya, keparahan luka bakar dinilai dari prentasenya berdasarkan luasnya daerah kulit yang terbakar.

Bahaya luka bakar :

– Syok karena kaget dan kesakitan.
– Sel darah yang ada di dalamnya ikut terbakar sehingga bisa menimbulkan anemia.
– Kehilangan cairan elektrolit akibat keluarnya cairan pada kulit dan penguapan karena panas.
– Bila sangat luas presentase kulit yang terkena luka (>20%) akan menimbulkan syok hipovolemik dengan gejala gelisah, pucat, dingin, berkeringat, denyut nadi lemah dan cepat, tekanan darah menurun.
– Pada kebakaran yang terjadi pada ruang tertutup, bisa menyebabkan gangguan jalan nafas.
– Kematian

Penanganan Pertama Pada Luka Bakar

Upaya pertama yang perlu dilakukan saat terbakar adalah mematikan si sumber trauma atau api.Bila Baca lebih lanjut

Demam


Demam atau tubuh yang terasa lebih panas adalah suatu hal yang sering terjadi. Demam merupakan gejala awal dari berbagai penyakit. Demam adalah peningkatan suhu di atas variasi sirkadian normal (suhu normal tubuh: 35,8˚ – 37,2˚C) akibat perubahan pada pusat pengatur suhu di hypothalamus(batang otak).Hal ini disebabkan oleh zat pirogen yang menyebabkan kenaikan temperatur set point.

Demam tidak selalu merugikan penderita. Pada suhu sekitar 38˚C dapat dikatakan justru menguntungkan penderita. Karena pada suhu itu aktifitas makrofag dan sel PMN dalam aksi kemotaksis, fagositosis dan aktifitas bakterisidal mencapai optimal. Artinya dapat efektif untuk membunuh bakteri yang masuk ke dalam tubuh kita.

Pada sebagian besar kasus demam dapat sembuh dengan sendirinya dari si penderita. Biasanya cukup dengan obat anti demam.

Telah dikatakan bahwa demam adalah gejala awal dari berbagai penyakit. Hal ini dapat dilihat dari berbagai gejala penyertanya dan berapa lama demam yang dideritanya.

Dapat dibagi dalam 2 kategori, yaitu demam yang berlangsung kurang dari 7 hari dan lebih dari 7 hari. Berikut adalah contoh penyakit yang sering terjadi di masyarakat.

–          Demam < 7 hari :

  1. Demam Berdarah Dengue.

v  demam terus menerus biasanya setelah dua hari turun, lalu naik lagi.

v  perdarahan, mimisan.

v  bila terjadi luka berdarah, tidak dapat langsung berhenti.

2. Pneumonia.

    v  sesak nafas, nyeri dada

    3. Campak.

      v  kulit kemerahan yang menyebar, lama kelamaan menghitam dan mengelupas dengan sendirinya.

      v  mulut terasa nyeri.

      v  batuk, pilek

      v  mata berair.

      –          Demam > 7 hari:

      1. Tifoid.
      • panas badan naik secara bertahap terutama pada malam hari, memuncak pada minggu pertama (40˚C), pada minggu ke-3 demam meningkat tapi turun lalu meningkat lagi.
      • sakit kepala
      • diare, sulit BAB, hilangnya nafsu makan, keluhan daerah perut.
      • lidah keputihan
      • ditunjang pemeriksaan lain dari dokter.
      • 2. Malaria.

      • demam tinggi mendadak, mengigil, tiba-tiba panas turun drastic.
      • banyak berkeringat
      • mual, muntah
      • diare terus menerus
      • sulit BAK
      • 3. TBC

      • berat badan menurun selama 3 bulan berturut-turut, lemas, nafsu makan menurun.
      • batuk berdarah, batuk lebih dari sebulan, sulit bernapas atau tersengal-sengal.

      Untuk penanganan demam atau panas badan dapat diberikan parasetamol namun

      bila terdapat gejala-gejala penyerta yang tercantum di atas –serta demam yang tak kunjung sembuh walaupun telah diberi paracetamol – segera hubungi dokter untuk pemeriksaan penunjang dan penetapan diagnosis.

      Mencegah Bau Mulut Tak Sedap Saat Puasa

      “Senyum itu adalah sedekah”

      Tapi kadang kita enggan tersenyum saat puasa karena malu akibat bau mulut.

      Bau mulut (halitosis) sering dikeluhkan selama bulan puasa. Hal ini terjadi karena kita tidak mengkonsumsi makanan akibatnya rongga mulut kering karena produksi air liur pun berkurang. Air liur (saliva) berfungsi untuk menjaga kelembaban rongga mulut, membantu pencernaan makanan dan sebagai pembunuh bakteri karena mengandung lisozym.

      Berkurangnya produksi air liur selama puasa akan menyebabkan semakin berkembang biaknya bakteri anaerob dalam rongga mulut. Bakteri tersebut akan aktif mengurai makanan yang kita makan saat sahur, sehingga menimbulkan bau mulut tak sedap. Uraian sisa makanan dari bakteri tersebut memproduksi senyawa kimia berbau tak sedap, seperti : indole, skatol, polyamine dan senyawa sulfur yang mudah menguap.

      Kita masih bisa tersenyum dan berkomunikasi dengan PD saat puasa tanpa harus menutup mulut. Bau mulut tak sedap dapat dicegah dengan cara :

      1. Menjaga makanan saat sahur.

        Hindari jengkol, petai, bawang putih atau asparagus.

        Sebaiknya mengunyah seledri atau wortel dan usahakan buah setelah sahur, dengan sering mengunyah produksi air liur kita akan semakin banyak ’stok’nya saat puasa.

        2.Hindari kebiasaan merokok setelah sahur.

        3.Biasakan selalu menyikat gigi setelah sahur, berbuka, dan sebelum tidur. Agar lebih maksimal dan gigi terasa lebih bersih kesat gunakan dental floss. Bila perlu, berkumurlah dengan penyegar mulut. Lebih efektif lagi bila berkumur dengan penyegar mulut saat hendak berwudhu, karena dengan kondisi rongga mulut yang kering selama berpuasa, sering timbul keluhan sariawan.

        4.Bila bau mulut terus menganggu Anda, ataupun lawan bicara Anda, segera hubungi dokter gigi.

              Selamat berpuasa dan tetap tersenyum !!