2. Kisah Sang Penjual Darah

Buku kedua bulan ini yang luckily saya tidak perlu keluar duit untuk membacanya. Pemantik saya tertarik untuk membaca buku ini adalah:

  1. Si buku teronggok nganggur di rak kantor dalam keadaan masih tersegel
  2. Warnanya MERAH!!!
  3. Setelah ijin ke pemiliknya dibolehin, ternyata si pemilik buku ini kedobelan belinya, jadilah ditinggal di kantor dalam keadaan masih tersegel.

Halaman pertama langsung disambut dengan gaya penulisan yang deskriptif, masyaAllah sekaliiii…… Makin jatuh hati lah pastinya. Lembar demi lembar dibaca, dan semakin suka karena menggunakan gaya bahasa jaman dulu gitu (ya meskipun yang saya baca ini terjemahan sih, tapi saya tidak akan pernah meragukan kapasitas seorang Agustinus Wibowo dalam menerjemahkan buku ini).

Buku ini menceritakan tentang betapa gigihnya perjuangan seorang ayah yang rela menjual darahnya (yap, literally menjual darah) untuk kelangsungan hidup keluarganya. Kegiatan menjual darah sendiri digambarkan seperti donor darah saat ini. Diceritakan bahwa darah yang dijual sebanyak 2 mangkuk, yaitu sekitar 400 mililiter dan si penjual darah baru diperbolehkan menjual darah kembali tiga bulan sesudahnya. Sesudahnya, si penjual darah akan mendapatkan imbalan yang cukup besar yang digambarkan bisa untuk meminang gadis atau membangun rumah.

Emosi pembaca (minimal saya lah ya) ikut hanyut dalam cerita hidup seorang Xu Sanguan. Sampe-sampe ikutan gemes ketika dia collapse akibat terlalu banyak menjual darah demi mencari biaya pengobatan putranya yang sedang dirawat di rumah sakit.

Oiya, salah satu faktor kenapa saya suka buku ini adalah karena banyak disisipkan proverb khas Cina di dalamnya, pun dengan diksi yang digunakan, jadinya berasa kaya baca novel lawas gitu.

Kalo disuruh ngasih skor, saya akan memberi nilai 9/10 untuk buku ini secara keseluruhan.
Intinya buku ini enak dibacanyaaa… dan super cocok dengan saya wkwk…

Terima kasih Pak Pemilik Buku atas pinjaman bukunya (denger-denger mau dibawain Katarsis-nya Anastasia Aemilia)

1. Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya

Ceritanya di tahun 2026 ini berusaha untuk mendisiplinkan diri ini untuk melakukan rutinitas yang telah lama ditinggalkan gegara darderdornya tahun 2025 dengan segala kebisingannya (in which alhamdulillah berhasil survive meskipun banyak selingan nangisnya). Rencananya sih mau mulai rutin nulis lagi di sini (meskipun hanya 1 postingan/bulan), menyelesaikan baca buku apapun minimal 2 bijik di tiap bulannya, trus rutin olahraga lagi setelah vacuum cukup lama akibat keseleo ga ngotak di Manado yg sampe sekarang masih kerasa rada nyeri di punggung kaki kiri.

First thing first, nganterin bocah jajan buku (qodarullah bokapnya terkapar ga enak badan, jadinya rencana liburan awal tahun bubar jalan). Tentu saja hal ini juga jadi modus emaknya untuk ngelirik buku inceran yang lewat pas scrolling medsos yaitu Kios Pasar Sore dan Cerita Orang-Orang Biasa Lainnya, tulisan Ibu Reda Gaudiamo.
Kok menarik, kok kayanya ringan, kok ada toples yang berisi biji kopi di cover bukunya (receh bener emang sumpah). Langsung masukin tas item legendnya Gramedia Bintaro Super Megapolitan City.

Long story short, setelah ritual tandatangan buku + menuliskan lokasi + tanggal pembelian buku, hal yang pertama kali menarik perhatian adalah pembatas bukunya, ada 2 pembatas buku, 1 bentuk kucing lutjuwww, 1 lagi seperti post card yang dibaliknya tertulis pesan dari penulis buku (yang kemudian saya baru tau bahwa Ibu Reda pernah menjadi pemred Cosmopolitan, lantas menggumam “oh pantessss”). Pesan singkat, sederhana, namun mengena. Ditambah dengan ditulis menggunakan tulisan tangan yang membuat pesan tersebut terkesan lebih personal, sehingga emosinya dapet. Dan satu lagi, kertasnya bukan yang kertas putih memplak, sehingga nyaman membacanya, ngga bikin “sakit mata” karena terlalu kontras antara kertas dan huruf-huruf di dalamnya.

Seperti dugaan awal, buku ini beneran ringan. Tipikal buku yang menceritakan peristiwa yang kita temui di kehidupan sehari-harinya, dan justru hal itu menurut pendapat saya pribadi malah jadi bikin relate  dengan cerita-cerita di dalamnya. Beberapa kali saya menggumam dalam hati “lhah iyak!” atau sekadar berseru “gimana sik?!” sebagai bentuk respon atas tulisan di dalamnya, beneran kaya lagi ghibah versi tulisan 1 arah wkwk..

salah satu yang menarik perhatian saya adalah penggunaan kalimat “Ruang kosong pada gusinya” sebagai representasi atas kata “ompong”, itu keren!!!

Intinya, buku ini sangat cocok untuk dibaca jika ingin melepas penat, pengen short escape via tulisan, pengen dengerin cerita seorang “Ibu” via tulisan, atau ya sekadar pengen baca buku aja. Tentu saja cuapan saya di atas sepenuhnya subyektif, murni berdasarkan preferensi pribadi saya.

Terima kasih atas bukunya, Ibu Reda ❤️🌹

MRI Lalu Mati

Lengan kiri tiba-tiba sakit, apalagi kalo diangkat/ gerakan memutar, harus dibantu dengan tangan kanan. Pasang celana aja terpincang-pincang karena full pake tangan kanan.

Laporlah diri ini ke paksuami, beliau mengonfirmasi bahwa yang dulu pernah cedera itu adalah yang kanan, bukan kiri.

Kemudian paksuami merunut kronologi kegiatanku sejak pagi hari dan sepertinya tidak ada gerakan ekstrim, kecuali jika ternyata ketika sedang tidur siang tadi tertindih cukup lama dan menyebabkan spasm otot.

Walhasil oleh paksuami aku diminta untuk segera ke dokter, bahkan jika perlu langsung MRI (ngeri bener sumpah) sekaligus untuk menegakkan diagnosa di bahu kananku yang sampai saat ini masih suka kambuh ngilunya terutama jika dalam kondisi udara dingin.

Tetiba sepintas terlewat di pikiranku, bahwa aku semakin tua, potensi menuju ajal semakin besar, lantas???

Inginku adalah ketika aku mati kelak, aku tidak ingin teman-temanku bersedih. Aku maunya teman-temanku entah yg menghadiri pemakamanku (jika ada wkwk..) entah yang baru mendengar kabar kematianku beberapa hari/minggu/tahun kemudian, itu malah ngetawain semacem “buset! bisa mati juga lu?!” atau bisa jadi “ihirrr… akhirnya ketemuan ama bonyok juga, jan lupa pesta sukurannya!” pun bisa halnya berupa “elah kebanyakan tingkah sih lu, mokat juga kan akhirnya, dibilangin batu bener, dasar aries!!!”
Semacem itu lah.. Aku maunya cuma pengen jadi kenangan manis di memori kalian (kalo ada), konyol juga ga masalah, intinya jangan sedih lah ya..

Ketika aku mati, aku juga tidak ingin mendengar ada pernyataan semacam “aku bersaksi bahwa ika adalah orang yang baik”
NOOOOOO!!! AKU ITU JAHAT!!!
Kalian ga tau aja sebusuk apa kelakuanku, bakalan terkezoet pasti kelen kalo pada tau.

Inginku ketika aku mati, ada yang bawa setangkai mawar merah dan diletakkan di pusaraku trus bilang “seneng kan lu akhirnya dikasi bunga juga wkwk..”

Intinya, tulisan ini dibuat ketika overthinking perkara tangan sakit dua-duanya trus disuruh MRI trus inget mati.
Makanya sehat-sehat selalu ya kalian semua.. ❤

Infinity %

Suatu malam, aku iseng nanya ke Kiran tentang seberapa besar rasa sayangnya ke anggota keluarga inti. Kurang lebih jawabannya seperti ini:

Ayah: infinity persen

Bunda: infinity persen

kak Mahes : 100 miliar persen

kak Risha : 100 juta persen

Kiran sendiri: infinity infinity infinity infinity infinity infinity infinity persen

Dua hal yang kucatat:
1. rasa sayang ke kak Risha “cuma” 100juta persen karena kak Risha galak
2. tanpa disadari, Kiran sudah menerapkan self love ke dirinya sendiri (karena kadar cintanya paling besar ke dirinya sendiri dibanding ke anggota keluarga yang lain)

..dah…

Strava Wrap 2024

Per Januari 2024, pimpinan tertinggi di kantorku mengajak kami untuk beramai-ramai ikut berpartisipasi dalam event olahraga yang dilaksanakan di kantor sebelah. Event tersebut berupa lari/jalan dengan jarak masing-masing kurleb 5.2km DAN harus melalui aplikasi Strava, sehingga mau tidak mau harus melakukan penginstallan terlebih dahulu.

Singkat cerita, event tersebut berhasil dijalani dengan baik, sependek ingatanku, salah satu kelompok perwakilan kantor kami mendapatkan hadiah berupa kaos jersey (harap dimaklumi keterbatasan memoriku dalam mengingat detail hadiah tersebut).

Event sudah selesai, trus aplikasinya gimana dong? Masa iya udah nginstall tapi cuma kepake sekali? Yaudahlah ya iseng-iseng kalo wiken mulai jalan 3-5kiloan lah… Meskipun blom konsisten seminggu sekali nih, tp seenggaknya udah ada motivasinya yaitu : sayang aplikasinya kalo ngga kepake

Waktu berlalu, di grup WA event olahraga tadi mulai ada weekly report nih siapa-siapa aja yg udah olahraga minggu itu, termasuk durasi dan jaraknya, trus diranking gitu. YA TENTU SAJA JIWA KOMPETITIF SAYA MULAI TERUSIK!!! Yok bisa yok 5kilo masing-masing di sabtu minggu, abis itu mulai naik min 7kilo sekali jalan, trus mulai iseng ikutan challenge 5km, 10km, 30km, hingga 100km/bulan. Untuk yang 100km/bulan ini alhamdulillah aku berhasil mencapai bahkan melebihi target sebanyak 4x (semoga desember ini juga bisa, jadinya 5x deh).

Yaaa mungkin bagi para pegiat olahraga, capaianku ini tidak seberapa, bisa dibilang receh. Namun bagiku yg super mager, ini merupakan hal yang luar biasa yg menurutku patut diabadikan di laman blog ini (semoga wordpress tetap ada hingga nanti aku mati wkwkw..)

Sekian dulu yaaa.. Semoga tahun 2025 nanti bisa mencapai total jarak lebih dari 1000km, semoga lebih konsisten olahraganya, semoga lebih sehat semua-muanya.

Happy weekend and be good 🩷

Teh Manis Hangat

Di masa kecil saya, hanya ada dua pilihan teh, yaitu teh Cap Bandulan dan teh Cap Wayang. Masing-masing teh tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Teh Cap Wayang berupa serbuk daun teh, sehingga harus disaring terlebih dahulu agar tidak ikut terminum ketika disajikan (saya pernah mencoba nekat tidak disaring dan cukup diendapkan saja, ternyata bikin tersedak trus batuk-batuk). Teh Cap Wayang ini lebih ke wangi, menghasilkan warna merah yang cukup cepat sesaat setelah diseduh dengan air panas, seringnya disajikan di rumah Mbah atau di acara-acara keluarga besar (karena harganya juga lebih ekonomis sepertinya).

Berbeda dengan teh Cap Wayang, untuk tekstur teh Cap Bandulan berupa potongan daun teh seperti halnya teh tubruk pada umumnya sehingga meskipun tidak disaring tidak apa-apa karena si para daun teh ini akan anteng di dasar gelas. Teh Cap Bandulan akan menghasilkan aroma melati yang sungguh wangi (berbeda dengan wangi yang dihasilkan oleh teh Cap Wayang), rasa sepat yang pekat, namun untuk warna dia tidak cenderung “murah” seperti teh Cap Wayang. Untuk teh Cap Bandulan ini harus menunggu waktu yang lebih lama sampai warna tehnya benar-benar keluar. Teh Cap Bandulan ini mostly disajikan di rumah saya dan hanya untuk Bapak seorang (sepertinya penghuni rumah yang lain sudah cukup puas dengan mengonsumsi teh Cap Wayang, wkwkwk..)

Sedikit cerita tentang kebiasaan Bapak mengonsumsi teh Cap Bandulan ini. Duluuuu, setiap pagi wajib hukumnya menyajikan teh tubruk manis yang memiliki jenama Bandulan yang diproduksi oleh CV Budi Djaja di Pekalongan sana. Biasanya teh yang disajikan untuk Bapak ini dalam bentuk teh tubruk yang tidak disaring, disajikan di pagi hari di dalam gelas besar khusus untuk Bapak, dan sudah tersedia sebelum Bapak berangkat mengajar ke sekolah (profesi Bapak adalah guru Sekolah Dasar) and you know what, seringnya yang curi-curi minum seteguk dua teguk adalah anaknya, yaitu saya sendiri hahahaha…

Sejak saya tinggal bersama Mbah (ketika Ibu meninggal, praktis saya “dititipkan” ke rumah Mbah oleh Bapak dalam rentang waktu SD-SMP) otomatis 95% teh yang saya konsumsi adalah teh Cap Wayang (kalo sekarang mungkin mirip dengan teh celup Sosro yang biasa disajikan di warteg/ warkop/ warmindo abang-abang burjo gitu lah).

Sebenarnya secara hirarki, posisi teh ini kalah status jika dibandingkan dengan kopi. Di budaya kampung kami terdapat peraturan tidak tertulis bahwa ketika kita berkunjung ke suatu rumah dan “hanya” disajikan teh, maka hal tersebut bisa dianggap si pemilik rumah tidak menghargai tamunya/menganggap remeh tamunya (tentu saja kecuali ada request khusus dari si tamu supaya menyajikan teh/air putih saja). Sajian kopi hitam manis panas merupakan bentuk penghormatan dan pengakuan tertinggi, terlepas kopi hitam pun nantinya akan dibagi lagi apakah kopi robusta murni atau kopi campuran.

Dalam periode saya tinggal dengan Mbah, SETIAP PAGI sesudah sholat subuh, sudah tersaji satu cangkir kopi hitam manis yang harus saya habiskan sebelum saya berangkat sekolah. Iyap, sejak SD kelas 1 hingga SMP saya menikmati kopi hitam manis setiap paginya, bahkan sebenarnya kebiasaan minum kopi hitam itu (sependek ingatan saya) sudah dimulai sejak sebelum saya masuk SD. Mbah Putri saya yang mengajarkan kebiasaan makan biji kopi dan hal itu sepertinya menjadi candu bagi saya hingga saat ini.

Kembali ke teh, kenapa tiba-tiba bahas teh? Karena beberapa hari terakhir sepertinya badan saya sedang kurang nyaman, semacem ngedrop, gemeteran, lemes. Oleh teman kaporit saya, saya disarankan untuk mengonsumsi teh manis hangat untuk asupan gula darurat yang seharusnya juga membantu saya mendapatkan energi dan terlepas dari rasa tidak nyaman tersebut. Masalahnya cuma satu, saya males bikinnya, ngahahaha… Emang enak kok minum teh manis hangat pas kondisi badan lagi nggak enak, tapi bisa nggak sih tehnya itu sudah dalam kondisi tersaji? Jadinya saya ngga perlu repot-repot bikinnya wkwkwk..

Dah ah, segini aja kerandoman cerita hari ini, maapin alur ceritanya yang sungguh tidak jelas ini.
Be good, gusy…

Be Healthy or Be Wealthy?

Pencetus tulisan ini muncul adalah gegara di-WA sama temen kaporit saya, “be healthy” ceunah.
Trus entah kenapa ni otak malah mikir “mending be wealthy gak sih?”
Secara kan kalo udah wealthy tuh ya apa-apa kan ada, apa-apa terpenuhi, segala resource yang dibutuhkan ada, tinggal tunjuk tangan aja auto tersaji di depan mata.
Terlepas ya meskipun ketika posisi sudah wealthy tidak menjamin kita bakalan healthy jika tidak diimbangi dengan gaya hidup sehat. MESKIPUN, dengan being wealthy kita jadi punya privilege(s) bisa akses kebutuhan fisik seperti:

  1. ketring sehat
  2. hire personal trainer
  3. build your own fitness center inside your enormous house(s)
  4. beli Rejuve bergalon-galon
  5. minum air alkali setiap hari (even mungkin install sendiri di rumah???)
  6. kalo sakit pun bisa full cover asuransi yang bisa lamsunk cek in di rumah sakit trus roomnya VVIP

pun kebutuhan psikis seperti:

  1. lanjalan ke Maldives (contoh aja sih ini) atau ngeliatin aurora di perbatasan kutub utara sana
  2. umroh berkalikalikali, jadi kalo pengen jajan ayam ciken Albaik tinggal pesen tiket pesawat trus ngenggggg…
  3. haji plus waynot gitu kan ya?! jadi ngga usah nungguin 15 juta triliyun taun buat dapet giliran ke Tanah Suci
  4. Spa full body treatment tanpa mikirin besaran tips yang pantas untuk mbak2 masseurnya
  5. Atau ya sekadar nglangut duduk-duduk malem-malem di pinggiran pantai di pulau Tidung sana (ke Tidungnya naek helicopter tapinya jadi ga perlu nungguin jadwal kapal sandar)

On the other side, balik lagi, by being healthy pun juga punya privilege, seenggaknya dengan kondisi badan sehat, kita bisa:

  1. Makan enak tanpa perlu mikirin kolesterol ataupun asam aurot dan sejenisnya
  2. Bisa sesenangan trekking/hiking/swimming (bagi yang bisa, aku ga bisa tapinya wkwk..)
  3. Minim sakit, sehingga bisa terus produktif bekerja menjadi kang senso, kang mandor, kang parkir, kang ASN yang jabatannya babu di lapangan, dsj
  4. Bisa begadang buat ngepet (entah sebagai babinya atau jaga lilinnya), bisa juga untuk semedi di gunung Kawi untuk berburu tuyul demi proyeksi pasif income ke depannya.
  5. Bisa kuat gendong bocah dan membersamai mereka beraktivitas fisik
  6. Danlainlain

Simpulannya, jika bisa healthy dan wealthy, kenapa harus milih salah satunya, ya ya ya?

Bunga Abadi

Gusyyyy.. (ternyata) ada yang mengirimiku bunga!!!

Jani begidi, di hari jumat pekan lalu, ada seonggok box berbentuk tabung berwarna charcoal gitu di atas mejaku. Sebagai sebuah gambaran, itu meja memang posisinya semacam siapa aja boleh meletakkan barangnya karena aku sebagai empu jarang menempatinya karena satu dan lain hal. Sehinggaaaaaaa ketika ada box nangkring di atas mejaku dan tidak ada tanda-tanda bahwa itu ditujukan untukku maka aku tidak akan menyentuhnya karena takutnya itu barang ternyata milik orang lain yang numpang diletakkan di atas mejaku.

Dah nih ya.. Jumat sore pulang.. Sabtu minggu berjalan seperti biasa tuh..

Nahhhhh.. Senin paginya pas baru nyampe kantor, itu box charcoal berbentuk tabung masih nangkring di atas mejaku!!! Kutanya rangorang sekitar pada nggatau itu milik siapa, yaudah lah ya akhirnya aku memberanikan diri untuk membukanya, and guess what????????

A VERY STUNNING DAZZLING MESMERIZING FLOWER BOUQUET!!!

CANTIK BANGET SUMPAAAAHHH… (insert emot nangis bahagia)

Let me show you the picture of the bouquet (pardon my photographic skill)

I mean, it’s soooo meeeee!!! It’s red rose surrounded by the white one, it’s like me myself as the red rose being in the spotlight.

Another point that is so me is the word “Don’t die…” It’s like, i don’t know, it fits me well! The choice of the word really represents me 🤩

The choice of the bouquet itself is just beyond my expectation, i never expect to have that kind of bouquet. It’s so sweet 😭😭😭😭😭😭😭😭

What a wonderful way to start the monday morning 😭😭😭😭😭

*and it makes me like having sugar rush all day long

Thank you very much for your kindness.. You don’t know how it means to me 🤍

Jalan Sore

Posisi lagi jalan kaki santai muterin kampus PKN STAN, dan dari kegiatan ini nyadar kalo diri ini punya (minimal) 2 privilege:

1. Bebas Akses Masuk

Tadi kebetulan pas masuk gerbangnya barengan sama abang OJOL. As i was casually passing by, si babang OJOL ternyata kudu lapor ke pasapam yang jaga di pos Ceger. Sependengaranku, pasapam nanyain babang OJOL mau kemana dan kenapa harus lewat jalanan kampus (wicis di gmaps itu nggak ada jalan alias bukan jalan umum). Sepertinya ada yg order dari asrama mahasiswa sih, jadi si babang OJOL lolos aja.

Tak lupa kmaren juga salah satu tetangga wondering knapa diri ini sering jalan ke kampus karena sepengetahuan blio akses masuk kampus itu ditutup. Kujelasin pun bahwa untuk akses motor tetep bisa masuk kok, mobil pun tetep bisa es long es kasi reasoning yg bener.

Intinya adalah: privilege jadi preman itu riyel nggak pake

2. Me Time

Iyes, pas lagi enak-enaknya jalan dan ngelewatin (dulunya) Warung Akang, nggak sengaja bersirobok dengan Ibu Penjaga Warung. Trus ini otak sok iye dan sok bijak banget pake acara mikir: iya juga ya, diri ini beruntung banget bisa kelayapan meskipun sekadar jalan kaki. Sesuatu yang mungkin belum bisa dimiliki oleh Ibu Penjaga Warung karena beliau masih harus menunaikan kewajibannya mencari nafkah. Sementara aku bisa meluangkan waktu 1-2 jam dan jajan LeMinerale (karena kata Kiya nggaboleh beli Aqua) karena punya akses untuk meniadakan pekerjaan domestik di sore hari. Entah punya dana berlebih untuk hire ART, entah punya safety net untuk memesan makan sore/malam secara online, entah karena dijinkan oleh suami untuk ngelayap sendirian (iyes, di agamaku kudu ijin/sepengetahuan suami) dan beliau bersedia back up jagain anak-anak di rumah.

Yappp.. Seringkali privilege semacem ini luput dari perhatian kita karena fokusnya ke hal-hal gede macem golden spoon dan sejenisnya.

Sekian postingan yang sok bijak dan ditulis dalam radius 1.5kilo pertama muterin kampus.

Yuk mulai menyadari hal-hal kecil di sekitarmu yang membuatmu bersyukur telah ada di posisimu saat ini.

Have a nice long weekend and be happy ❤

Menor

Sebuah percakapan absurd antara saya dan si nomer 2

R: Bunda, bunda ngga usah belajar (pake) make up ya!

B: Knapa gitu?

R: Ntar kalo bunda belajar make up, nanti menor. Lagian kalo ngantor kan bisa telat karena pake make upnya kan lama

B: ya kan bisa aja bunda belajarnya yg make up natural atau minimalis gitu.

R: nggak ah, Cica ga suka bunda pake make up. Bunda kalo keluar itu cuma pake lipstik ya?

B: iya, kalo cuma ke depan, indomaret, beli sayur gitu pake lipstik doang, soalnya kalo gapake lipstik nanti bunda keliatan pucet

R: kalo eyeliner make juga?

B: nggak, eyeliner makenya kalo ke kantor, mall, kondangan, atau kalo kita mo pergi jauh aja

R: tau ga kenapa Cica tiba-tiba ngomongin ttg make up? Kmaren di sekolah ada ibu2 menor banget, blush on-nya keliatan banget lagi, ngga suka Cica liatnya

B: Oiya??? Kalo bunda bisa make up-pun sepertinya juga ngga bakal make up-an terus kali Kak, palingan kalo mo pergi kondangan atau hajatan apa gitu doang

R: iyaaa.. Lagian kalo menor gitu jadi terlihat galak tauk

B: menurutmu bunda menor ga lipstiknya?

R: nggak, biasa aja

B: lipstik merah ini cocok sama bunda? Atau bunda ganti warna aja?

R: Bunda cocoknya lipstik merah ini aja, kalo pink atau warna lain gitu ngga cocok, ngga usah ganti warna

B: cokelat tua gitu cocok ga?

R: nggak ah, merah kaya sekarang aja terus

B: okeyyy..

..sekian percakapan absurd kami di hari minggu yang terik ini..

Selamat berakhir pekan 💋💄