Sengketa Wilayah Aceh, satu pembelajaran berharga bagi NKRI


Penulis: bjp Syafriadi Cut Ali

Pertama-tama harus dipersepsikan bahwa masalah Aceh tidaklah sama dengan wilayah lain di Indonesia.

Mengapa..?
Mungkin generasi muda sekarang banyak yang kurang paham bahwa sejak awal founding father kita telah menetapkan 3 wilayah sebagai daerah istimewa yaitu Yogyakarta, Aceh dan Jakarta, yg masing-masing tentu dengan alasan khususnya.

Presiden Prabowo sudah memutuskan masalah kepemilikan 4 pulau Aceh.  Jadi sudahlah jangan lagi ada diskusi berkepanjangan di media tentang masalah ini, yang ditanggapi pula dengan ulasan buzzer yg seolah-olah masih memberikan pembenaran atas keputusan Tito.

Bukan apa2 Bro, saya khawatir sentimen negatif yang telah tumbuh di tengah warga Aceh tentang masalah 4 pulau yg seperti “dicaplok” Sumut pastinya masih bersisa, kemudian menjadi sikap antipati atas keputusan2 yg diambil Pemerintah Pusat.

Presiden Prabowo sudah secara tepat memutuskan itu. Sebab masalah kedaulatan negara bukanlah masalah hukum semata, dan banyak aspek yg harus dipertimbangkan termasuk masalah politik dan masalah keistimewaan Aceh itu tadi.

Harusnya para cerdik cendikia cukup bijak melihat masalah ini. Demikian juga media TV harusnya ikut bijak untuk jangan lagi mengangkat masalah ini yg terkadang lebih dikarenakan aspek komersialitas belaka. Tanpa menimbang aspek psikologis masyarakat Aceh.

Saya khawatir kedalaman pengetahuan mereka tentang Aceh terlalu dangkal tanpa pengetahuan sejarah dan berdebat kusir secara menang-menangan seperti perdebatan masalah ijazah palsu. Kalau masyarakat Aceh tidak menontonnya mungkin tidak masalah, tetapi media itu juga ditonton di seantero Aceh..

Masyarakat Aceh tingkat religiulitasnya sangat kental yang menjadi identitas warganya dan  menjadi kebanggaan bagi mereka. Waktu saya masih sekolah dahulu, setiap sholat jumat, toko-toko segera tutup termasuk milik warga non muslim. Sehingga menjadi kurang pas kalau masalah ini disejajarkan sama dengan wilayah NKRI yang lain.  Sehingga debat dan diskusi sepertinya digelar tanpa beban, sementara bagi warga Aceh tetap tersisa ganjalan tentang masalah 4 pulau itu.

Kebanggaan kepahlawanan mereka dalam melawan Portugis dan Belanda, juga masih kental diingat. Disudut halaman Mesjid Raya Baiturrahman terdapat monumen kecil tempat tertembaknya Jenderal Kohler, Panglima militer Belanda oleh pejuang Aceh.

Jadi walaupun Aceh menjadi bagian dari NKRI, hendaklah sikap emosionalitas mereka tidak digebyah uyah sama dengan yang lain.
Kita belum bicara masalah sumber daya melimpah yang bagi warganya hendaklah jangan mengulangi booming LNG Arun yang kini terkuras habis, tanpa dinikmati rakyat pemilik lahan yang hidup diatas genangan gas alam itu.

Mungkin masalahnya bukan lagi tentang 4 pulau yang mungkin juga belum jelas sumber daya di perut buminya seperti apa.
Tetapi bagaimana isu itu menggelegak dan mengundang keberpihakan warga untuk tidak direbut provinsi lain.  Sudah bisa kita bayangkan betapa fanatiknya mereka mengamankan itu.
Masalahnya bukan lagi soal penguasaan fisik atas pulau2 itu, melainkan sudah masuk kepada penguasaan identitas dan harga diri yang pantang terusik.  Sebab bila itu terjadi maka dengan gampang akan memicu konflik bila pemeritah tidak bijak dalam mengambil keputusan.

Jadi sudahlah, keputusan telah diputuskan. Jangan lagi ditingkahi dengan berbagai diskusi yg menumbuhkan tanda tanya bagi warga Aceh: “ini pemerintah serius atau main-main sih mengembalikan ke 4 pulau ke Aceh..?”

Keputusan final Presiden Prabowo hendaknya kita dukung, jangan dilihat keputusan itu sebagai sesuatu yang sederhana, tetapi harus dilihat sebagai sesuatu yang serius, yang mungkin tidak bisa kita bayangkan tetang apa yang akan terjadi bila keputusan Tito didukung Presiden…

Pengalaman atas kasus ini tentulah harus dengan bijak disikapi oleh mereka para Pembantu Presiden yg kebetulan
memiliki hak sebagai penentu kebijakan.

Mungkin sudah saatnya Presiden membatasi kewenangan  itu mana yg boleh diambil mana yang tidak boleh atau setidaknya perlu izin Presiden, sehingga tidak menjadi gaduh seperti 4 pulau itu..

Kategori:General

Policy Brief: Mengakhiri Ketergantungan Eksploitatif dalam Pembangunan Daerah Berbasis SDA

Latar Belakang: Model pembangunan ekonomi daerah di Indonesia selama beberapa dekade terakhir masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam (SDA); melalui investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) atau investor luar daerah. Namun, pola ini telah menciptakan ketimpangan struktural dan memperkuat hubungan ketergantungan yang eksploitatif antara pusat kekuasaan dan kepentingan daerah. Banyak kota tambang dan perkebunan seperti Dumai, Morowali, dan Papua masih menghadapi kemiskinan dan keterbelakangan meskipun menjadi lumbung SDA nasional.

Masalah Utama:
o Kecilnya Multiplier Effect FDI terhadap Ekonomi Lokal:
o FDI lebih banyak menciptakan enclave ekonomi tanpa keterlibatan nyata pelaku lokal.
o Transfer teknologi dan pengembangan SDM lokal sangat minim.

Dominasi Elite Rent-Seeker Lokal dan Pusat:
o Terbentuknya “centeng ekonomi” yang menjadi perantara antara investor dan rezim kekuasaan.
o Keuntungan ekonomi tidak merata, hanya terkonsentrasi pada elite tertentu.

Kerusakan Lingkungan dan Dislokasi Sosial:
o Pola ekstraktif menciptakan degradasi ekologi dan konflik lahan.

Reproduksi Ketergantungan:
o Daerah tidak memiliki daya tawar dan kontrol atas SDA-nya sendiri.
o Struktur ekonomi lokal lemah, bergantung pada komoditas mentah.

Akar Teoritis: Perspektif Dependency Theory:
Dependency Theory menyatakan bahwa ketertinggalan daerah bukan karena kurangnya pembangunan, melainkan hasil dari pembangunan yang timpang dan eksploitatif. Dalam konteks Indonesia, hubungan antara daerah penghasil SDA dan pusat kekuasaan mencerminkan pola pusat-periferi yang memperparah kemiskinan struktural.

Rekomendasi Kebijakan:

Reformasi Tata Kelola SDA:
o Desentralisasi kontrol atas sumber daya ke pemerintah daerah.
o Dana bagi hasil yang lebih proporsional dan transparan.

Selective FDI dengan Regulasi Ketat:
o Syarat wajib: kemitraan lokal, transfer teknologi, pengembangan SDM, perlindungan lingkungan.
o Penerapan prinsip “Right to Say No” terhadap investasi yang merugikan, kalau perlu aktifkan kembali DNI secara selektif.

Pembangunan Ekonomi Lokal yang Endogen:
o Hilirisasi industri berbasis SDA di daerah.
o Penguatan koperasi, UMKM, dan BUMD sebagai pelaku utama.

Anti-Rent-Seeking dan Reformasi Institusional:
o Pembatasan peran elite perantara.
o Partisipasi publik dalam pengambilan keputusan investasi.

Koalisi Daerah untuk Keadilan Struktural Nasional:
o Advokasi bersama antar daerah penghasil SDA untuk menuntut redistribusi yang adil.
o Penguatan otonomi fiskal dan politik daerah.

Penutup:

Untuk keluar dari jerat ketergantungan dan eksploitasi, Indonesia perlu merekonstruksi paradigma pembangunan daerah dengan pendekatan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal.

Dependency development bukan takdir, melainkan struktur yang bisa dan harus diubah melalui keberanian politik dan reformasi institusi.

Disusun oleh: aditiawan chandra/ hadrian sjah razad

“Cohort Penduduk = Menjelma menjadi Gen”

Penulis: Aditiawan Chandra

Bagi seorang demographer lintasan kelompok penduduk di negara tertentu menarik untuk diamati. Mereka akan bersorak ria jika bisa mengumumkan pergerakan angka kelahiran dan angka kematian penduduk tersebut dan menemukan faktor pencetusnya sebelum nyanyian bersama berkumandang.

Kemudian, cerita ini diberikan penyedap oleh para ahli sosial, dengan membuat postulasi adanya perekat dalam kekompakan kelompok penduduk tersebut. Berbagai teori menjadi bahan masakannya.

Membuat peta kelompok penduduk ini semakin rumit, para psikolog tidak mau kalah tampil. Mereka memberikan warna adanya kesamaan motif dan perilaku penduduk tersebut, terutama dari kacamata perilaku perseorangan dan keunikan karakternya.

Akhirnya, seorang marketerpun muncul kepermukaan…
Dengan gagahnya dia memberikan label cohort penduduk yang diamatinya, cukup dengan kosokata “gen”, atau singkatan dari generasi. Muncullah setelah itu istilah gen millenial dan gen Z

Silahkan simak saja, semua cerita yang ada dirangkum dengan indahnya oleh para ahli pemasaran ini. Memang sesuai dengan kompetensinya, sebagai ahli meramu dan memasarkan….

Namun manteman, cohort atau gen penduduk ini sampai bisa punya perilaku dan gaya hidup yang sama, sejatinya didorong oleh adanya penemuan teknologi.

Teknologi mempunyai kekuatan daya dobrak yang positip, namun banyak juga yang negatif. Terobosan teknologi terbukti mampu membuat gaya hidup kelompok penduduk tersebut menjadi tampil beda.

Namun tak kalah pentingnya untuk diketahui, bahwa teknologi tidak memiliki karakter dan rasa belas kasihan. Antara lain pengaruhnya terhadap kejanggalan perilaku dan efek disruptif di masing-masing generasi. Sehingga berhati-hati ya untuk bersahabat dengannya. 🌿💚💚

Kategori:General

Shifting ke Belanja OnLine

Penulis: Aditiawan Chandra.
Artikel Harvard Business Review September 20 2017 yang menyorot kasus kebangkrutan produsen mainan “Toys R Us” menarik untuk diamati implikasinya.

Toko mainan yang lengkap ini sangat diminati oleh konsumen mancanegara, khususnya di Amerika Serikat. Kemudian terjadi malapetaka karena perusahaan ini mengalami kebangkrutan. Biang keroknya tidak lain dampak dari inovasi sistim logistik, yang kemudian mengganggu (disrupted) konsep cara berbelanja tradisional yang ada.

Awalnya, cara memasarkan produk2 retail memerlukan kehadiran konsumen untuk berkunjung ke gerai2 toko di pusat kota (CBD). Alasannya, konsentrasi pembeli ada di pusat kota– maka pilihlah lokasi usaha di tengah kota. Menariknya janji ini memicu produsen produk retail seperti produk mainan, pakaian dan sepatu untuk membuka pusat2 penjualannya di mal-mal tengah kota. Mereka memperebutkan tempat sewa strategis di mall, dan memang peningkatan penjualanpun terjadi setelah itu.

shoppingmall

Namun zaman emas ini sudah berlalu. Aplikasi teknologi internet pada sistim logistik pemesanan produk retail, berubah menjadi on-line lima tahun belakangan. Maraknya cara penjualan on-line terjadi di produk retail pakaian, mainan anak, sepatu dan produk convenience lainnya. Memang konsumen dimanjakan. Mereka bisa belanja dari rumahnya masing-masing tanpa berkunjung lagi ke pusat belanja. Akibatnya, lambat laun toko-toko produk retail di mall tengah kota mulai sepi pengunjung. Naaah fakta ini yang menjadi pil pahit pada perusahaan Toys R Us.

Apakah implikasinya bagi produsen retail di Indonesia?

Saat ini kota-kota besar Indonesia banyak meniru konsep pengembangan pusat kota seperti yang pernah di lakukan di negara-negara Barat. Gedung mal dan pusat belanja dibangun dan berjamuran di kota-kota besar. Kemudian penjual produk2 retail banyak yang memanfaatkan konsentrasi pengujung mall tersebut. Mereka memanfaatkan konsep cara penjualan barang offline dengan mendatangi pusat-pusat keramaian.

Kedepannya, bisa saja apa yang dialami seperti kasus Toys R Us akan terjadi di negara kita. Kita lihat bagaimana platform Facebook banyak dipakai oleh penjual multi level saat menawarkan produk2 mereka ke konsumen. Lambat laun cara berbelanja on-line akan menjadi gaya hidup masyarakat urban Indonesia. Apalagi dengan kecenderungan peningkatan kemacetan lalu lintas kota, motif penduduk kota mengunjungi mall bukan lagi untuk berbelanja produk retail, tetapi sekedar untuk cari tempat makan dan ngerumpi di café dan pub.

Jadi bersiaplah teman-teman menyongsong adanya “disruption” di sektor retail tradisional.

#online #disruption #retail

/a/ Link: https://hbr.org/2017/09/toys-r-us-is-dead-but-physical-retail-isnt?utm_campaign=hbr&utm_source=facebook&utm_medium=social

Siasat Menyiapkan Karir

Menyiapkan karir

Penulis: Aditiawan Chandra.
Setiap orang ingin punya penghasilan yang mapan dan berkecukupan. Kehidupan yang berkecukupan telah menjadi dambaan kita semua.

Impian ini tentunya akan terselengara jika kita sudah memiliki “mesin penghasil uang”. Sebagian didapat dengan pemilihan bidang pekerjaan/bisnis yang tepat yang mampu menghasilkan pendapatan yang bagus dan prospektif. Jadi kita perlu mempersiapkan karir secara lebih baik dan matang.

Bagaimana kemudian cara menyiapkan diri agar perjalanan karir berjalan sesuai harapan?

Berikut beberapa kiat yang dapat saya berbagi pada teman-teman:

Miliki Impian yang Dahsyad
Hampir semua pimpinan organisasi dan pimpinan negara yang terkenal punya impian-impian yang dahsyad.

Masih ingat bagaimana Presiden Sukarno selalu menggaungkan perlunya bangsa Indonesia bekerja keras untuk mencapai tujuan “Masyarakat Indonesia yang Adil dan Makmur”. Dengan tekad ini masyarakat Indonesia bisa bersatu dan sepakat melakukan pembangunan secara berkelanjutan.

Kemudian Presiden John F. Kennedy punya Impian hebatnya untuk “Mengirim manusia menginjakkan kakinya di Bulan”. Impian ini berhasil menyatukan tekad teknokrat Amerika merekayasa dan mengirimkan pesawat Apollo ke bulan.

Dengan impian yang besar akan timbul semangat kuat untuk bekerja keras dan berusaha mencapai target-target antara — sebagai syarat meraih mimpi atau keinginan masa depan yang akan dituju.

Sebagai contoh, saya dahulu bekerja keras mendapatkan ijasah S1 sekaligus mengejar keterbelakangan penguasaan bahasa Inggris. Semua itu saya lakukan semata-mata karena saya ingin “Pergi Melihat Amerika Serikat Secara Gratis”. Dengan memilih FEUI sebagai jalur karir awal, saya punya kesempatan besar diterima di Universitas Amerika Serikat. Dan Alhamdulillah saya bisa pergi tinggal di Amerika Serikat selama 8 tahun, dengan pendanaan fellowship bersaing.

Kuasai Ketrampilan Terkini
Menurut temuan satu riset yang berlaku juga di Indonesia, ada sekitar 96% Pengelola Perguruan Tinggi meyakini bahwa lembaga pendidikan mereka punya kemampuan dalam menyiapkan mahasiswanya untuk siap bekerja. Tetapi anehnya hanya ada sekitar 11% Pimpinan Bisnis yang setuju bahwa lulusan Perguruan Tinggi memiliki ketrampilan dan kemampuan mengelola pekerjaan yang dituntut oleh perusahaan mereka.

Hal ini tidak aneh karena bidang pekerjaan yang ada di dunia nyata telah disesuaikan dengan kebutuhan organisasi perusahaan. Sementara kurikulum pengajaran di Perguruan tinggi tidak bisa dirubah dengan cepat. Apalagi sesering mungkin mengikuti pola perubahan permintaan dari penerima calon pekerja lulusannya.

Menyikapi kondisi ini, saya sarankan Anda menutup kekurangan dengan menguasai ketrampilan terpakai sesuai dengan perubahan zaman. Persisnya kita perlu belajar secara mandiri mencari informasi paling terbaru dan mau berpikir mencari hal-hal yang kreatif.

Berpikir secara kreatif , mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik merupakan syarat utama kita siap menjemput tantangan. Ketrampilan khusus yang unik bisa dipupuk antara lain dari jenis kegiatan sehari-hari yang merupakan passion/hobby Anda. Ketrampilan ini akan semakin terasah jika dikembangkan secara talenta. Upaya lain adalah memiliki kemahiran yang bisa ditonjolkan dan dikolaborasikan dengan pihak ketiga.

Kita perlu menguasai ketrampilan mengolah data digital, pengetahuan aplikasi software dan mengikuti perubahan teknologi digital.

Ikuti traning atau seminar dalam tehnik berkomunikasi, kemahiran berbahasa asing, penguasaan aspek leadership, membangun teamwork, memanaje data statistik dan data digital, branding melalui media sosial, serta tehnik2 terbaru sesuai bidangnya masing-masing.

Kuasai Pengetahuan Hard Skill Sesuai Bidangnya
Kemampuan hardskill yang mencakup wawasan pohon ilmu tertentu, akan memuluskan perjalanan karir Anda ke depan.

Namun saya tidak mengatakan bahwa Anda perlu memilih bidang pengetahuan yang sedang naik daun. Semua bidang pengetahuan tentunya mempunyai kelebihan dan manfaatnya masing-masing. Tinggal sejauh mana kita mampu menguasai dan mendalami pegetahuan tersebut. Kita harus mampu memutahirkan ilmu tersebut dengan aplikasinya di kondisi terkini.

Ambil contoh, pengetahuan tentang manajemen perusahaan bisa diperoleh dengan bekerja sebagai konsultan managemen. Disana Anda akan diasah untuk mampu memecahkan permasalahan bisnis, membuat keputusan yang rasional dan membina teamwork yang tangguh. Ketrampian inilah yang kemudian banyak mensupport perjalanan karir saya. Saya terlatih untuk memiliki budaya kerja yang kuat dan menjaga etika kerja yang professional.

Miliki Komitmen dan Semangat dalam bekerja
Mari kita amati bagaimana pemilik bisnis dan pejabat eksekutif papan atas bisa meraih posisi karir puncaknya. Hampir semua memiliki komitmen yang tinggi dalam menggeluti pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka menjadi sosok pimpinan yang bisa memotivasi team kerjanya. Termasuk membangun etos kerja keras di organisasi. Mereka mampu menyelesaikan semua hambatan dan permasalahan kritis yang dihadapi.

Menurut pengalaman saya, sukses dalam meraih mimpi akan semakin mudah jika dibekali oleh komitmen yang kuat, disamping dukungan bakat, ketrampilan serta mau untuk bekerja keras . Dengan berkomitmen pada diri sendiri — kita berikrar menyatakan akan tetap fokus pada apa yang kita kerjakan. Kita mampu memilih kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas. Dalam hal ini, komitmen yang mengarah pada perubahan, biasanya lebih mempunyai daya dorong dan memberikan motivasi kuat dalam penyelesaian tugas-tugas sulit penuh rintangan.

“Tiada hasil yang bagus tanpa mau bekerja keras”.

Inilah motto budaya kerja dari saya pribadi. Mengapa Negara Jepang dan Jerman bisa maju negaranya dan stabil sepanjang masa? Hal ini disebabkan oleh cara bekerja mereka sehari-harinya. Mereka umumnya warga kelas dunia yang bertanggung jawab atas tugas yang dihadapi. Mereka gigih mengejar prestasi dan mempunyai rasa memiliki terhadap organisasi yang tinggi.

Kesimpulannya, segera buang semangat bermalas-malasan. Segera miliki prioritas pekerjaan, dan tetap konsisten membuat “daftar to do list”. Budaya kerja keras pantang menyerah, hendaknya menjadi motto dalam kita berkarya.

Berikut adalah contoh-contoh perbuatan yang perlu dibangun sebagai budaya kerja berprestasi demi meraih sukses:

  • Segera lakukan tindakan nyata, hindari slogan dan omong kosong.
  • Prioritaskan waktu Anda pada pekerjaan-perkerjaan utama.
  • Tidak lari dari prioritas pekerjaan jika Anda menghadapi kendala sulit.
  • Utamakan penyelesaian tugas-tugas yang mendukung pencapaian target.
  • Menepati janji, komitmen pada rencana kerja dan kesepakatan bersama.
  • Rela berkorban pada waktu dan sumber daya demi terlaksananya tujuan.

Junjung Tinggi Integritas dan Kejujuran
Kemanapun Anda berkolaborasi dengan mitra bisnis dan rekan sekerja, mereka menuntut Anda memberikan jaminan: mampu memegang janji, tidak melakukan penipuan, bisa dipercaya dan taat memenuhi kode etik yang disepakati. Anda tidak lari dari tanggung jawab. Benar istilah kerennya integritas dan kejujuran menjadi tuntutan dalam pekerjaan, dan menjadi faktor utama untuk lulus test seleksi saat masuk di organisasi.

Kira-kira apa saja kemudian tindakan yang bisa menjamin tegaknya integritas?

Saya katakan Integritas akan terbentuk jika kita mampu:

  • Mengerjakan pekerjaan dengan benar untuk kepentingan organisasi walaupun tak ada orang yang melihat.
  • Memperlakukan rekan sekerja dan bawahan dengan baik dan sejajar, dimana bawahan bukan budak suruhan dari atasan.
  • Mengatakan hal-hal yang paling benar walaupun sulit dilakukan dan tidak populer dimata rekan sejawat.
  • Menghindari perbuatan curang dan korup.
  • Bersekongkol menjatuhkan pihak lawan atau pihak ketiga.
  • Memojokkan dan mempermalukan seseorang karena kita kecewa atas perbuatannya.
  • Menjaga kerahasiaan organisasi dalam pertukaran data dan informasi.
  • Mengedepankan budi pekerti dan etika sopan santun berorganisasi.
  • Menjaga perbuatan dan perkataan yang tidak berbeda dalam kenyataan.
  • Tidak melakukan penghianatan pada rekan kerja, atasan dan organisasi.
  • Tidak mengatas namakan kepentingan pribadi dan kelompok.
  • Tidak bisa disuap oleh uang dan jabatan, dan tidak gentar atas hilangnya jabatan.

Sepanjang kita mampu membangun integritas dalam pekerjaan, dan bisa dipercaya oleh mitra kerja, semuanya akan mempermudah perjalanan karir Anda.

Bangunlah karakter Anda sebagai “sosok yang jujur dan tidak bisa disalah-gunakan”.

@Copyright by AditiawanChandra

Mengantisipasi Perubahan

Penulis: Aditiawan Chandra.
Pagi ini saya membaca koran yang penuh dengan tulisan yang berisikan kekhawatiran tentang pro dan kontra terhadap berbagai isu baru. Reaksipun menjadi beragam muncul spontan karena akan terjadinya “perubahan”.

Mengapa perubahan menimbulkan pertentangan, silang pendapat dan reaksi keras ketidak-setujuan?

Meminjam teori ilmu ekonomi tingkat pertama, dengan perubahan satu tatanan bergeser dari kondisi “equilibrium lama” kepada posisi “keseimbangan baru”. Dampak perubahan kebijakan baru akan dirasakan oleh kelompok yang diuntungkan dan mereka yang dirugikan.

Contoh, terpilihnya Presiden Amerika Serikat ke-45, yang istilah kerennya bekerja untuk memenuhi “tuntutan warga Amerika” , telah menimbulkan kegoncangan tatanan keseimbangan ekonomi global, pasar keuangan, dan perjanjian kerjasama antar Negara. Duniapun mengalami perubahan ke arah pendulum menuju kesimbangan barunya.

Kemudian rencana keluarnya negara Inggris dari Kelompok Ekonomi Eropah (MEE) telah membuat kehebohan tersendiri yang berakibat tumbangnya era pemerintahan wanita Perdana Menteri Inggris.

tea_party_-_pennsylvania_avenue

(picture from Google)

Berikut beberapa hal yang ingin saya bagi pada teman-teman tentang esensi proses “perubahan”:

(1) “perubahan” umumnya terjadi karena ketidak puasan atas kinerja yang ada.

Inggris keluar dari MEE didorong oleh tuntutan warga negara seniornya yang memusuhi kedatangan warga immigrant pendatang. Di Amerika Serikat maraknya demo terjadi akibat kebijakan Pemerintah Trumph yang mengusung “perlindungan pada kepentingan utama warga Amerika”.

Secara mikro, setiap perubahan kebijakan di perusahaan tercetus karena dorongan perubahan Lingkungan Bisnis. Reaksinya antara lain dengan melakukan “perubahan” visi atau cara kerja unit-unit organisasi dalam mencapai tujuan.

Perubahan kebijakan yang dilakukan , menggantikan pejabat atau menutup Kantor Cabang yang buruk kinerjanya. Kalah bersaing di pasar bisa mendorong Pimpinan melakukan pemangkasan biaya dan perumahan karyawan. Jika kelesuan kinerja tetap berlanjut bisa saja Leader Unit Organisasi melakukan kebijakan “bedol desa” menggantikan dengan tenaga2 andalan mereka. Akhirnya, saat jaringan pemasaran menunjukkan gejala lumpuh, bisa saja ranting tersebut digantikan dengan merekrut member baru yang lebih energetik.

(2) “perubahan” dapat mengguncang tatanan lama dan menimbulkan reaksi negatif yang berlebihan

Kebijakan perubahan di perusahaan akan mendorong timbulnya protes keras di organisasi. Namun protes ini akan kalah dengan sendirinya, karena adanya komitmen Pimpinan yang lebih dominan dan futuristik. Saat para pelaku protes kemudian frustasi dan merasa terpojok, mereka akan mengakhiri protesnya dengan pembiaran pada kondisi baru pasca perubahan.

(3) Perubahan melalui Corporate Action bisa memberikan hasil rekayasa yang lebih baik. Namun bisa terguncang kembali jika ketidakpuasan meningkat.

Melihat pada contoh kasus yang telah diuraikan, ada beberapa tindakan yang bisa saya sarankan.

Tindakan corporate action, bisa menimbulkan reaksi kompromi yang positif atau sebaliknya perlawanan yang negatif. Namun reaksi negatif ini pada akhirnya akan melemah karena sebagian tuntutan telah diakomodir atau karena habisnya amunisi dari para pelaku protes.

Setiap strategi perubahan perlu disiapkan dengan kejelasan blueprint kebijakan yang akan diusung dan ketegasan proses pelaksanaannya. Jika timbul protes negatif yang masif segera lakukan mitigasi mencari kompromi sebelum ekskalasi bola salju semakin membahayakan.

#perubahan #protes #strategi

Bisnis MultiLevel Indonesia

Penulis: Aditiawan Chandra.
Penjualan Multilevel adalah penjualan produk-produk retail tanpa melalui jalur distribusi ke distributor, pedagang menengah, dan kios2 keagenan. Jadi proses penjualannya lewat online atau melalui sistim jaringan pemasaran berjenjang (multi level).

Bicara mengenai prospek bisnis multilevel Indonesia tentunya tidak terlepas dari perkembangan perekonomian Indonesia. Kesehatan dan keberlanjutan roda ekonomi akan mempengaruhi perkembangan kegiatan bisnis retail ini. Berikut analisis saya menggunakan data tahun 2017.

  1. Perkembangan Ekonomi Indonesia

Sehatkah kondisi perekonomian Indonesia beberapa tahun kebelakang?

Marilah kita lihat beberapa indikator utama yang menjadi faktor penentu (antara lain pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi dan nilai tukar.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata adalah 5.0%. Dibandingkan dengan perkembangan jangka panjang 2006-2016, pertumbuhan tinggi dicapai pada level 7.16% dan yang terendah 1.56%. Ini merupakan prestasi tersendiri dengan pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara. Diantara negara G-20 Indonesia masuk ke peringkat No-3.

Ke depan pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi kita akan berlanjut walaupun tidak pada level yang terlalu tinggi.

Forecast Bank Indonesia mematok angka optimis pada tingkatan rata-rata 6% untuk periode 2017-2019. Sedangkan Asia Development Bank (ADB) memperkirakan level 5.1% — yang tidak jauh berbeda dengan perkiraan Bank Dunia pada level 5.5%.

og

(Source: Google- Statistics Indonesia)

Sebagai akibat perkembangan perekonomian yang menggembirakan ini, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan angka 3834 US dollar/ kapita — tingkatan tertinggi yang diraih selama periode 2006-2016. Coba bandingkan dengan level terendahnya 549 US dollar/kapita sehingga merupakan lonjakan dahsyad dalam daya beli konsumen Indonesia secara menyeluruh.

Daya beli konsumen yang melonjak ini membuat sektor retail di Indonesia tumbuh cepat dibandingkan kondisi beberapa tahun sebelumnya. Baik perdagangan partai besar dan kecil mengalami perkembangan yang meningkat. Akibatnya, investasi di bidang pergudangan, logistic, angkutan barang dan aktivitas mall meningkat pesat. Value added dari kegiatan sektor jasa misalnya, GDP nya mencapai level sekitar 40 triliun rupiah, melonjak dari level terendah 23.7 triliun selama periode 2006-2016.

Daya beli yang kuat ini disokong oleh rendahnya tingkat inflasi, yang membukukan level 3.1% tahun 2016. Pemerintah telah berupaya sekuat tenaga membuat realisasi inflasi dibawah level APBNP 2016.

Satu hal yang membuat kinerja perekonomian belum optimal adalah tingkatan nilai tukar rupiah. Akibat tekanan faktor eksternal nilai tukar kita pernah mengalami pelemahan, dan kemudian bertengger pada stabilitas baru Rp 13.307 per US dollar pada tahun 2016. Bagi produk-produk retail yang selama ini diimpor, tingginya nilai tukar ini membuat harga jual beberapa produk impor mengalami penyesuaian harga jual beberapa kali selama waktu 2 tahun terakhir. Produk-produk retail yang terkena dampak antara lain produk makanan, minuman, obat-obatan dan kosmetik.

  1. Tantangan Pasar Retail Penjualan Langsung

Memasuki tahun 2017 pasar sektor retail di Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius. Diperlukan antisipasi para pebisnis dalam menghadapi tantangan berikut.

Pertama, walaupun pendapatan per kapita mengalami lonjakan sebenarnya kondisi disparitas pendapatan di level konsumen rumah tangga mengalami kepincangan. Saat ekonomi melaju dengan rata-rata pertumbuhan 5.58% selama periode 2004-2015, ternyata angka kemiskinan menurun rata-rata 5.53%.

Kedua, pada bulan Februari dan Maret kondisi politik di Negara kita kembali menghangat sejalan berjalannya Pilkada secara serentak. Apalagi dengan jor-joran peserta partai politik dalam pemilihan kepala daerah, kondisi pasar retail akan terimbas oleh perlehatan akbar tersebut. Semoga proses Pilkada ini bisa berjalan aman dan terkendali.

Ketiga, produktivitas nasional belum berjalan dengan optimal. Dampak tingkat pengeluaran modal investasi (ICOR) tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian itu sendiri. Menurut Harian Kompas ICOR Indonesia meningkat dari 4.5% pada tahun 2013 ke tingkatan 6.8% pada tahun 2015. Namun demikian laju pertumbuhan ekonomi Indonesia turun dari tingkat 5.6% tahun 2013 menuju 5.02% tahun 2015. Banyak ahli mengatakan bahwa dana desa yang ditingkatkan oleh Pemerintah dikhususkan untuk pengembangan infrastruktur, dan belum cukup disalurkan pada upaya meningkatkan investasi di bidang pemberdayaan masyarakat.

Terakhir, dengan perkembangan kondisi permintaan pasar global, biaya transport di dalam negeri akan cenderung meningkat. Faktor pencetusnya adalah penyesuaian harga premium dan bahan bakar serta peningkatan tariff pendaftaran kendaraan bermotor di kota besar.

Namun selama pebisnis sektor retail mampu bekerja dengan efisien dan menajamkan tergetting pasarnya maka tantangan ini insya Allah bisa dihadapi dengan baik.

  1. Prospek Kedepan

Prospek kegiatan Penjualan Langsung Retail menurut saya masih menjanjikan. Masih terdapat ruang gerak yang cukup luas untuk meningkatkan volume penjualan. Tentunya ini semua tergantung dari jenis produk retail yang digeluti dan target konsumen/wilayah pasar yang menjadi sorotan utama.

teaser_2016-retail-and-consumer-products-trends580x280

(picture from Google)

Alasan argumentasi ini saya buat dengan melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh hal-hal berikut ini.

A. Trend positip perkembangan Pengeluaran Konsumen. Rata-rata Consumer Spending masyarakat Indonesia berkisar 598 Triliun Rupiah selama tahun 2000-2015. Permintaan ini melonjak dahsyad dengan angka 1308 Triliun Rupiah pada Kwartal III tahun 2016. Bandingkan posisi terendahnya pada Kwartal I tahun 2000 yang menunjukkan angka 210 Triliun Rupiah.

B. Kredit konsumen seperti pengeluaran kartu kredit mengambil peran dominan atas lonjakan permintaan tersebut. Per bulan Nopember 2016, terdapat 17.351 juta kartu kredit yang diterbitkan. Jumlah transaksinya mencapai 26.342 juta , atau senilai angka 23.745 Triliun Rupiah. Penurunan tingkat bunga kredit diharapkan bisa membuat kondisi permintaan bertahan. Untuk diketahui, pada bulan Januari 2017 Bank Indonesia telah menurunkan tingkat Bunga kartu kredit 2.25% per bulan atau 27% per tahunnya.

C. Penjualan sektor retail di Indonesia telah tumbuh 7.6% dengan basis year on year. Ini adalah posisi pada bulan Oktober 2016. Bandingkan dengan level terendah -26.3% dan max 40.3% selama periode sepuluh tahun terakhir. Sebagai informasi saja jumlah transaksi ATM telah mencapai 44 milyar transaksi dengan nilai Rp 483 Triliun Rupiah.

D. Tingkat kepercayaan konsumen atas kondisi pasar, yang biasa disebut dengan Consumer Confidence Index –menunjukkan trend yang meningkat. Menurut Hasil Survey Konsumen dari Nilsen angkanya meningkat tajam dari 116 tahun 2015 ke 122 tahun 2016. Rentang minimum level adalah 9.6 dan maksimum 121 selama periode 2006-2015.

E. Pemerintah pada tahun 2017 akan lebih mengutamakan upaya memeratakan distribusi pendapatan dengan kebijakan-kebijakan: (a) transfer dana ke desa-desa yang lebih besar, (b) meredistribusikan asset dan (c) meningkatkan volume penyaluran kredit usaha rakyat.

F. Penggunaan komunikasi dan pemasaran lewat media sosial di Indonesia salah satu yang terbesar di dunia. Hal ini berakibat semakin murah dan tersedianya peralatan handphone dan dukungan kapasitas jaringan internet secara nasional. Penjualan online melalui e-catalog telah banyak dirintis oleh perusahaan retail global, seperti halnya perusahaan kosmetik Oriflame.

Screen Shot 2017-01-18 at 11.58.08 PM.png

(picture from Oriflame Indonesia)

Jadi terlihat jelas prospek bisnis retail di Indonesia masih cukup menggembirakan.

  1. Implikasi Bagi Pebisnis di Sektor Penjualan Langsung Retail.

Gambaran perkembangan retail bisnis di atas menunjukan prospek yang bagus. Masih cukup tersedia ruang yang lebar bagi para pebisnis retail barang2 kebutuhan rumah tangga untuk meningkatkan penjualnya melalui perluasan jaringan keanggotaan. Fokus ke depan pada kegiatan pemasaran produk2 kosmetik, obat2an supplement, produk sepatu, barang pakaian serta jasa pengiriman barang.

Menguatnya nilai mata uang dollar terhadap rupiah akan membawa dampak pada peningkatan ekspor hasil2 produk pertanian dan hasil hutan. Keadaan ini bisa mempengaruhi permintaan terhadap kebutuhan rumah tangga di wilayah-wilayah domisili produk ekspor tersebut. Pasar produk-produk kebutuhan rumah tangga di kota menengah di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan Maluku diperkirakan akan meningkat.

Penguatan mata uang asing bisa berarti naiknya lonjakan arus kedatangan turis manca negara ke wilayah-wilayah wisata di tanah air. Meliputi daerah di Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Kepulauan Riau dan Sumatera Barat. Perekonomian daerah di wilayah wisata ini akan memberikan prospek bagi peningkatan permintaan produk-produk retail.

Pebisnis yang menjual produk-produk retail impor perlu mensiati strategi pemasarannya dengan cerdik. Segmen pasar yang ada hendaknya lebih dipertajam, membidik target konsumen menengah dan atas. Konsentrasi pasar tentunya masih di kota-kota besar, khususnya yang memiliki akses kegiatan ekspor impor dengan dunia luar.

Konsumen produk retail berbasis impor mendambakan kemudahan akses informasi tentang spesifikasi produk yang lebih rinci dan range harga yang bersaing. Sehingga diperlukan kemahiran para penjual retail memasarkan produk2nya secara onlinedi di media sosial. Kecenderungan peningkatan kemacetan di kota-kota besar membuat konsumen semakin enggan pergi berbelanja on the spot di toko2 atau gerai mall. Mereka pergi ke mall utamanya untuk keperluan makan, nonton film dan ngupi2 di café dan bukan khusus untuk tujuan shopping.

#multilevel #online #retail

Tinjauan Buku: Storytelling with Data

Cole Nussbaumer Knaflic. 2015. STORYTELLING WITH DATA. New Jersey: John Wiley and Son. ISBN 978-1-119-00225-3

Oleh Aditiawan Chandra

Dalam era teknologi informasi yang semakin canggih kehidupan kita dipenuhi oleh lautan data. Data bisa berbentuk koleksi angka2 kuantitatif, kejadian satu event atau rekaman serial digital photo. Menjadi pertanyaan lebih lanjut:

“Bagaimana kita bisa memanfaatkan koleksi data yang banyak jumlahnya ini menjadi satu informasi yang bermanfaat bagi keputusan bisnis atau penyebaran komunikasi?”

Kita sering kecewa saat melihat laporan penjualan yang disampaikan bawahan yang sulit dicerna Belum lagi dengan tumpukan album foto tanpa tema, atau cerita panjang tanpa makna yang dijejali masuk ke timeline wall facebook kita. Menjembatani kegundahan para pembuat keputusan bisnis atau penerima pesan informasi, buku yang ditulis oleh Cole ini sedikitnya menjawab kebutuhan tersebut.

Buku ini berisikan pedoman cara menyampaikan pesan komunikasi dengan baik dan efektif ditengah tumpukan ribuan data yang ada di sekitar kita.Dari buku barunya yang berjumlah 267 halaman, Penulis menyarankan perlunya kita membuat cerita yang mudah ditangkap dan mudah dimengerti (STORYTELLING) dengan memanfaatkan data yang sesuai. Tujuannya tak lain agar pesan komunikasi yang diterima menjadi efektif — tidak membingungkan dan mudah dimengerti.

Penulis yang berlatar belakang pengetahuan matematika dan ilmu manajemen bisnis, memberikan pedoman dalam menyiapkan “storytelling” tersebut. Terdapat 6 tahapan, berikut ini:

  1. Mengerti KONTEKS PESAN yang disampaikan.

Kita perlu menetapkan target dari kelompok orang yang akan menerima pesan. Intinya hindari keinginan agar semua audience bisa dijangkau dengan pesan Anda. Kemudian berpikirlah sebentar dengan mempertanyakan:“Kira2 inti pesan apa yang paling penting yang ingin disampaikan?”

Konsep yang paling menarik dalam menyiapkan ini Penulis memperkenalkan metode cara membuat cerita yang dibatasi 3 menit untuk membaca/mendengar/ melihatnya. Naah jurus ini kita perlu banyak berlatih. Kemudian kita perlu membuat rencana “storyboard”, berisikan slogan:

(a) isu yang akan diusung,

(b) hubungkan dengan data yang ada,

(c) kemudian ide untuk memecahkan permasalahan pada isu tersebut,

(d) tunjukan ilustrasi/grafik/diagram/fotonya secara visual, dan

(e) sarankan rekomendasi.

  1. Gunakan TEHNIK PERAGA VISUAL yang cocok.

Tidak ada saran peraga visual yang bagaimana yang paling baik untuk dipakai. Apapun bisa dipakai sepanjang jangan terlalu berlebihan memperagakannya. Buatlah sesederhana mungkin. Namun demikian Penulis menyarankan untuk kita tidak menggunakan tehnik visual “apple chart” dan “chart 3dimensi”. Kitapun diminta untuk menjaga etika dalam memperagakan konsep pesan, dengan tidak melakukan manipulasi data atau gambar cloning.

  1. HILANGKAN CLUTTER: peraga visual yang rumit

Satu lagi tip untuk membuat cerita pesan yang yang efektif adalah menghindari peraga visual yang rumit. Apalagi jika memasukkan tampilan grafis statistic yang beragam dan rumit dalam satu tayangan. Ini perlu dihindari.

Penulis menyarakan perlunya menggunakan SKENARIO PERAGA sebelum kita memilih gambar yang akan digunakan.. Tentunya dengan membuat tayangan peraga berlatarbelakang warna putih, dengan menggunakan kontras dan tone warna untuk menonjolkan pesan yang “eye-catching”. Kita diminta untuk tidak menggunakan “Gridline” pada grafik presentasi.

  1. FOKUS KE INTI PESAN yang akan disampaikan.

Untuk menggiring perhatian penerima pesan dalam tayangan visual, sebaiknya kita menggunakan apa yang dinamakan “preattentive attribute”. Bentuknya bisa dalam pemilihan skala ukuran, tone dan kontras warna maupun memposisikan gambar/photo di halaman peraga pesan. Dengan tehnik2 contoh yang diberikan oleh Penulis, penggunaan attribute ini mampu menggiring perhatian indra mata dan otak penerima pesan tertuju pada focus pesan yang akan kita tonjolkan.

  1. Gunakan KONSEP DISAIN yang bagus.

Berkomunikasi dengan memanfaatkan data akan lebih menarik jika kita menggunakan PRINSIP KONSEP DISAIN yang bagus. Yang pertama gunakanlah jenis huruf, ketebalannya, warna huruf atau ukuran huruf untuk mendapatkan inti pesan yang menarik. Lebih lanjut hindari kalimat, cerita atau konsep yang mengganggu atau kurang berhubungan dengan pesan inti yang ingin ditonjolkan. Hendaknya penggunaan gaya bahasapun dibuat sesingkat mungkin dan jelas maksudnya. Hilangkan kalimat2 yang engga perlu dan berlebihan atau berulang. Warna pada grafik juga diminta agar kita pintar memilih, dengan kombinasi warna yang engga norak. Warna yang lebih tua bisa dipakai untuk menonjolkan focus pada data yang penting.

  1. Menyiapkan CERITA SINGKAT DAN JELAS berhubungan dengan data.

Pada akhir bagian bukunya, Cole memberikan jurus-jurus menyiapkan draft cerita atas dasar data dengan runtun dan lengkap. Banyak contoh kasus yang beliau berikan dibukunya tersebut untuk mendapatkan storytelling yang enak dibaca, engga membosankan, dan menarik untuk dibaca.

Saya kira akan lebih baik teman-teman membaca langsung buku yang agak teknis ini untuk mendapatkan wawasan yang lengkap. Penulisnya sendiri memiliki pengalaman yang luas di perusahaan JPMorgan Chase, perusahaan perbankan, private equity dan terakhir di Google Company. Buku ini ditulis atas dasar pengalaman lapangan selama bertugas di banyak perusahaan global tersebut.

Reviewer: Aditiawan Chandra.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai