Satu kata yang bisa diucap mengenai band ini. Wow. Sebuah band penuh spontanitas yang awalnya hanya sebuah iseng-iseng direview oleh seorang pewarta senior di koran nasional. Bystanders kembali berkelana ke Bandung, untuk berbincang akrab dengan Gembi (G), Dani (D), dan Ageng (A) di tengah derasnya hujan. Sebuah wawancara terdahsyat yang pernah dilakukan bystanders .
Video klip kalian kabarnya gimana?
[D] Sebenernya video klip tuh udah kita bikin sih,
[A] Tapi saya ga merestui! hahahahaha…
[D] Video klip udah gua bikin dua, yang pertama emang konsepnya sentimentil banget. Gua mengambil dari footage film Happiness, pokoknya galau banget dan itu gua serius. Yang kedua itu gua ngambil dari footage film-film porno, khusus adegan klimaks dimana cowo-cowo sedang mengocok-ngocok anu-nya, soalnya itu gue rasa representasi dari lagu “Terbenam di Lautan Kegagahan Dubur”. Klimaksnya dapet banget ama lagu itu. Tapi, berhubung kita tuh demokratis, dua iya satu nggak, jadi ya kita nggak aja, gitu
[G] Tapi sebenernya Paul Agusta juga sudah menawarkan ke SL*T untuk membuatkan video klip dalam konsep yang simpel
{D] Sebenernya video yang gua bikin juga modus doang, untuk mendekatkan diri gua kepada seseorang video artist gitu
{G] Jadi kami harap kami bisa sebesar Sore, karena sama-sama diangkat oleh Paul Agusta
[D] Bedanya Sore berskill, sementara kita tanpa skill, tanpa modal, tanpa tampang, dan kita penuh kesentimentilan
Kalau influence kalian dari mana aja?
[G] Kalau SL*T secara keseluruhan, bagi gue ada Sandra Archestra, trus Storm & Stress.
[D] Sarah McLachlan
[G] Kalo dari sisi sentimentilnya sih Tori Amos bisa masuk, trus soal piano Ageng akan menjawab John Coltrane
[D] Dia keyboard atau piano lebih ke Anya ex-nya base jam (hahahaha)
[D] Kalo gue karena referensi jazz gue yang terlalu rendah, gue ngambil influence bukan dari sisi musikal, tapi lebih dari sisi emosi. Kayak lagu Chintami Atmanegara yang video klipnya di kolam-kolam, yang kayak gitu.
Ya, kalo SL*T mau disama-samain, mungkin mirip kayak Storm & Stress.
Tapi pembelaan kami adalah, kami tercipta sebelum kami mendengar itu semua, jadi menurut kami sih sah-sah aja. Beda dengan band-band lain yang karena mendengarkan suatu band lalu tercipta musik mereka. Tapi kami tercipta dulu baru mendengarkan band-band tersebut.
[G] Atau mungkin kami memang kurang referensi
[D] Ya, kami memang kurang referensi berhubung mendengarkan winamp-nya di mesin tik
[A] Kalau saya sebetulnya tidak ada influence yang signifikan. Pokonya influence tidak ada yang dominan lah, tapi banyak. Tapi karena terlalu banyak jadi ga ada yang paling dominan. Soalnya klo dalam praktek mah entah. Yang didenger apa, yang keluar apa. Tapi ada beberapa nama. Chick Corea sama Fred Jarrett.
[G] Ageng adalah sisi paling jazz di SL*T.
[D] Sementara Gembi dan Dani adalah sisi yang paling nakal dengan seksualitas dan seks bebasnya
Menurut SL*T, inspirasi paling kuat untuk membuat aransemen lagu tuh apa?
[G] Inspirasi di luar musikal kali ya, lebih tepatnya
[D] Kesunyian, kesentimentilan
[D] Yang gue liat tuh, Ageng selalu berhasil dalam berbagai aspek kehidupan. Sementara gue dan Gembi tuh selalu gagal, entah itu cinta, kerja, atau kuliah
[G] Jadi di SL*T itu hidup yang paling beres adalah Ageng! Cuma kalo diliat dari sisi sentimentil, itu tidak berlaku pada Ageng. Sisi sentimentil cuma dari gue dan Dani doang
[D] Inspirasinya paling kesendirian, khayalan, trus cewe-cewe yang tersisihkan oleh keputusan mereka sendiri.
Yang paling penting sih, menjaga eksistensi kami di dunia musik, daripada cuma jadi sekedar ‘gig-goers’ gitu, mending jadi ‘gig-players’
[G] Kalo gue mungkin bener juga apa yang dikatakan Dani, tapi ada dua tambahan. Yang pertama adalah Afrizal Malna. Yang kedua adalah dua nama yang tidak akan dilupakan. Garnis Hangialevi. Itu yang menginspirasi hingga akhirnya tercipta lagu “Kecuali Mengenang Betismu, oh Sembadra”.
[A] Kalo saya ga ada, semua inspirasi berasal dari musik.
[D] Seni untuk seni, musik untuk musik
[A] Kalo di luar musikal, karena kegalauan gitu misalnya, oh sih itu udah lewat.
Sebetulnya band ini buat Gembi dan Dani, bukan buat saya, karena apa yang dititipkan dalam konteks musik itu Gembi & Dani banget! Kalo saya hanya sekedar menyimpan estetika musikal saja
[D] Kalau untuk kami sendiri SL*T adalah berarti sukses, lelah, dan telah. Jadi intinya untuk kesuksesan dia, lelahnya karena pekerjaan yang dia lakukan, dan telahnya karena dia telah melalui hal-hal yang berhasil
[A] Dan ada satu kata untuk itu semua, kata-kata Dani itu, “Pernah pulang tanpa lelah?” hahahaha… saya puitis ya!
[G] Ini pengaruh latar belakang SL*T yang sastrawi
Kenapa sih SL*T jarang sekali manggung?
[D] Kita udah ngerilis dua EP tapi baru manggung di tiga gigs. Di sastra, FISIP Unpar, dan Food Not Bombs. Kalo dari gue sendiri kita lebih memilih apresiator yang tepat gitu. Karena dengan apresiator yang tepat maka konsep dan perasaan yang kita sampaikan mungkin akan tepat nyampenya gitu. Karena kalo apresiator-apresiatornya yang love-minded atau yang sexy-minded maka kita kurang kuat karena ya yang mereka butuhkan adalah tampang dan harmonisasi. Sedangkan kita tidak punya itu.
[A] Bukan.. penjelasannya bukan gitu… Masalahnya adalah penghargaan terhadap estetika yang kayak gini aja sih. Jadi sebetulnya klo ada audiens yang ga suka itu kita malah tersiksa. Itu feedback.
[D] Karena kita pengen manggung dan melakukan segalanya dengan konsep kita yang pengen senang-senang gitu. Kita mau menyajikan kesenangan kita buat orang-orang bukan penderitaan kita yang buat orang senang-senang. Jadi kita semua sama gitu.
Untuk berikutnya, ada kemungkinan ada EP lagi atau full album gitu ga?
[A] Jangan berharap pada rencana-rencini. Rencana pun sudah 1001 rencana, tapi apa boleh dikata.
[D] Kalo gue sendiri sih, nyikapin SL*T itu kayak gue nyikapin maaf kasar — seperti kita melakukan rutinitas onani gitu. Kayak klo kita pengen, ya kita lakukan. Kita pengen melakukan segalanya, karena basic-nya kita senang. Menurut gue sendiri klo gue ngelakuin semuanya tanpa senang atau dengan paksaan atau kita sedikit menderita kayak bawa-bawa keyboard lah, latihan lagi lah, itu menurut gue bukan SL*T. Karena menurut gue SL*T itu senang untuk kami, senang untuk kamu. Jadi bukan penderitaan dari kami, senang buat kamu. Jadi konsep kami memang have fun banget lah.
Trus kan ini katanya yang penting penontonnya senang, SL*T juga senang. Nah itu untuk menggabungkan tiga orang untuk mood yang sama atau keinginan yang sama tuh gimana?
[D] Kalo menurut gue, kayak kemaren tuh yang kita harus latihan dua kali itu bukan berarti kita untuk memaksimalkan performansi kita kepada apresiator gitu, tapi lebih ke memaksimalkan mood kita bareng-bareng. Kalo menurut kami mood kami udah bareng, tapi menurut apresiator masih ancur, ya bodo amat. Kalo gue sih lebih ngedasarin, kalo menurut kami senang, menurut kalian jelek, ya sama dengan senang. Tapi menurut kami senang, menurut kalian senang, ya sama dengan senang. Menurut kami jelek, menurut kalian jelek, ya ga mungkin SL*T ada. Karena didasarinya pada senang-senang lah. Senang untuk kami, terserah buat kalian.
Bisa diceritain dikit nggak, soal kesuksesan SL*T menembus netlabel Perancis eDogm?
[D] Waktu kita nembus e-label perancis itu sebenernya kalau secara personal malah menimbulkan kebingungan. Ibaratnya orang-orang Perancis kan budayanya lebih maju dari kita. Tapi kenapa mereka bisa kalah dengan wacana dan konsep yang kita tawarin? Dan sebenernya kalo diliat secara musik atau musikalitas, ya kita di dunia nasional sama dengan nol. Tapi mungkin karena kami diperkuat dan diperjelas oleh konsep dan wacana. Jadi sebenernya musik kami itu adalah output dari konsep dan fenomena yang kita serap.
[D] Awalnya mereka (eDogm) itu menggunakan fasilitas myspace dan mereka tertarik. Dan kebetulan kami adalah band satu-satunya di Asia yang mereka rilis. Dan mereka mungkin mengiyakan kami karena wacana dan konsep kami. Jadi kita cuma punya konsep dan wacana yang diporsikan kepada saudara Gembi.
[G] “Kecuali Mengenang Betismu” itu dirilisnya tepat waktu ulang tahun http://www.edogm.net, tanggal 14 Agustus lalu. Dan dirilis bareng dua rilisan lainnya, D’Incise dan Shamani. Jadi si eDogm itu memang netlabel spesialis free jazz, free improve, sama laptop improve, noise, sama yang gitu-gitu deh. Yang model-model acha-irwansyah gitu ga ada.
Kalo Gembi digantikan oleh Irwansyah tap bisa dapetin Acha, mending mana? Apakah milih keluar dari SL*T tapi
dapet Acha atau tetap bertahan?
[G] Gue pilih tetap di SL*T. I got a girlfriend and really love her so much. (cieehh yang baru jadian! -red)
[D] Saya mendukung Irwansyah untuk masuk SL*T karena sebetulnya ia adalah musisi super jazz.
[A] Kalo saya jawabannya ga tega.
[G] Kalo Ageng memang jawabannya cenderung simpel tapi mengandung banyak wacana di dalam kesimpelan tersebut.
[A] Ga tega sama Irwansyahnya sebetulnya. Bukannya ga tega Gembi keluar
[D] Irwansyah memang dispesialkan untuk menggantikan Gembi
[G] Karena gosipnya gue mau jadi penari
[D] Memang gosipnya Gembi tuh sebelum ada Seleb Dance, dia lebih cenderung ke.. siapa tuh penari latar Madonna tuh, yang kayak banci2 itu?
[G] Max Don! lho… hahahahaha
[D] Cuma kita rekrut karena kita kasian banyak gerak dia jadi butuh banyak koyo
Kenapa sih SL*T selalu membacakan manifesto Sungsang Lebam Telak setiap kali mau tampil? Maksudnya apa?
[D] Manifesto menurut gue, kita lempar ke apresiator karena, menurut kami itu sebagai penghancuran wacana jazz yang konvensional dan ortodok yang ada di Indonesia. Bagaimana caranya kita menghancurkan sesuatu tanpa berbekal elemen-elemen sesuatu itu. Kayak lo misalnya pengen menghancurkan dunia sepakbola tapi lo ga bisa maen bola, sebenernya itu sah-sah aja. Kalo menurut gue personal sih segala sesuatu entah itu seni entah itu musik asalkan lo punya wacana atau konsep itu keluarin aja dan Tuhan sahkan koq. Insya Allah ada ayat baru gitu
[G] Jadi manifesto itu juga seperti serangan juga buat orang-orang yang ngomong, “ah lo ngomong aja lo, lo punya karya ga?”
Klo buat gue sih, mau punya karya atau ngga, ya kalo lo mau counter mah, lo counter aja asal lo punya konsep yang menurut lo penting buat dibahas. Dan manifesto SL*T secara keseluruhan kan, awalnya gue buat kan buat mengejek semua musik yang sudah terciptakan di dunia.
[D] Yang terciptakan dan semua seragam gitu. Kayak kemaren kita masuk ke acaraacara jazz yang di Unpad gitu, lima jam lebih tuh jazz-nya sama aja gitu. Baru pas Gilang Ramadhan muncul dan Indra Lesmana, mereka berskill dan mereka memberikan sesuatu yang baru. Dan kita sangat menghormati terhadap segala sesuatu yang ditawarkan dengan cara yang baru.
[G] Istilahnya mungkin kami haus akan hal-hal yang baru. Selain baru tapi juga ngasih inovasi. Mungkin ga baru, tapi ada sesuatu lah
Pertama kali tergerak untuk membuat SL*T tuh gimana?
[D] Tergerak karena mentok dengan band gue yang bawain Stone Roses Primal Scream dan kebritpopan Manchester lain lain. Gue menemukan media baru selain gue bersolo project, jadi ya oke lah. Pertamanya sih atas dasar, biasalah, sok-eksis. Yang keduanya emang untuk seni dan seni. Seni untuk seni, dan musik untuk musik. Dan untuk Rebecca Theodora, hahaha..
[G] SL*T nih buat gue sendiri, gue tiap buat sesuatu itu berawal dari iseng2, begitu juga SL*T. Gue nyambung ama Ageng, dan Dani partner-in-crime gue, ya udah, semuanya klop, dan jadilah SL*T. Dan menurut gue rasanya bakal berdosa klo kita nambahin personil yang entah siapa gitu. Misalnya manajernya Elemental Gaze mungkin. Itu pasti bakal mengubah konsep SL*T secara keseluruhan. (kebetulan Fitrah, manager Elemental Gaze, menjadi saksi wawancara ini -red)
Bagaimana pendapat SL*T mengenai maraknya Sungsang Darlings yang marak datang ke gigs kalian?
[D] Sungsang Darlings menurut gue hanyalah korban dari konsep dan segala wacana yang kita angkat. Dan kenapa namanya Sungsang Darlings karena kita ingin memparodikan segala keposeran yang terjadi di Indonesia ini. Walaupun ya kita nganggepnya kita menghargai “bla bla bla band tersebut” darlings tapi ya kenapa kita memakai nama tersebut karena kita terlalu muak dengan fenomena seragam
[D] Kenapa ga make nama Sungsang Friends, atau Sungsang People gitu?
[D] Kita ga make Sungsang People karena menurut kami apapun yang berkaitan dengan Pure Saturday itu adalah berhakekat tinggi, dan tidak bisa diejek. Esensial banget. PS adalah saingan berat SL*T.
[G] Jadi itu, satu-satunya saingan kami adalah PS. Tapi di lain pihak yang telah dihaturkan oleh Dani barusan, sebetulnya kami sedih karena kenapa SD yang datang hanyalah yang itu-itu saja. Apakah tidak bertambah apresiator yang lainnya untuk musik SL*T. Ini fenomena aneh.
[D] Padahal belum ada Perda yang mengeluarkan larangan SD untuk tercipta. Jadi nyantai aja lah dengan Denny Setiawan (Gubernur Jawa Barat, red) dll. Itu masih sah-sah aja
Kalo harapannya SL*T buat para Sungsang Darlings yang habis nontonnya gigs kalian apa?
[G] Klo gue yang penting bajak sebanyak-banyaknya SL*T album manapun yang kalian dapat dan bagikan ke orang-orang yang kalian kasihi ataupun kalian benci. Karena menurut kami makin banyak yang mendengar maka makin indah dunia ini.
[D] Kalo gue buat para SD, bajaklah pada porsinya gitu. Kalo lo ngebajak band-band yang pengen lo bajak ya lo bajak aja gitu. Tapi kalo ada yang pengen dihargai dengan membeli CD original ya terserah lo. Kalo ada duit ya beli CD original, kalo nggak ada ya nggak usah.
Itu prinsip PPKn gue gitu, adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. hahahahahaha…
//interview by 410 & pemudagalau//photo by 410//