Ke Pos Polisi, Kena Pelanggaran, Tidak denda, Lalu Pulang.


Kejadian itu terjadi beberapa hari yang lalu, niatan dari rumah mau beli stiker bertuliskan “Basmallah” dalam bahasa arabic. pejalanan naik motor ke TKP, sampai diperjalanan tepatnya perempatan jalan. harusnya lurus tapi aku belok kiri yang sebelum aku tau sebenarnya itu jalan satu arah. dengan PeDenya terlintas pak polisi dari arah depan yang aku lewatin saja ya kayak ndak punya salah saja aku. berhenti di suatu kios di pinggir jalan….. mas, punya stiker tulisan bismillah ??? tanya aku ke penjual stiker. dengan spontan penjual menjawab, “ada mas.. baru sekejap tak terasa dari belakang aku di panggil, saat ditenggok ternyata seorang polisi berbadan tegap dengan seragam layaknya polisi lalu lintas.
Polisi : mas, anda salah jalur..
Aku : yang bener pak, kiranya tidak ada tanda satu arah di situ, ( dalam hati sih perasaan tadi pak tukang becak lewat situ juga ), lalu ku lihat ternyata iya beneran ada. tiangnya terlalu tinggi saudara saudara”’, cuma tadi tidak kelihatan oleh ku. apes… apes…
lalu pak polisi meminta STNK ku untuk di bawa sebagai barang jaminan.
Polisi : saya tunggu di pos polisi mas.
Aku : iya pak, tapi nama bapak siapa ? ( tips juga buat pembaca, kalo ke tilang lalu surat surat kayak STNK diminta pak polisi itu jangan lupa tanya namanya, karena hal ini akan mempermudah kita mencari siapa polisi yang menilang kita tadi ).
Polisi : pak “A” ( demi menjaga privasi anggap saja berinisial A )
Sesaat ku tancap gas lagi menuju pos polisi…………………………..
sesampai disana, dengan posisi siap aku menghampiri polisi tadi. saat itu raut muka polisi sangat welcome, ceria, sumringah. dengan sedikit basa basi…
Polisi : rumahnya mana mas ?
Aku : itu pak, daerah tambak grogol.
Polisi : tambak mana mas ?
Aku : deketnya rumah bu “E”, karena dalam pikirku sesama polisi mungkin saja kenal.
ternyata polisi tidak kenal…
Polisi : ibu yang mana mas ? polisi juga ?
Aku : benar pak !!!
Polisi : ya udah mending ini ( STNK ) yang ambil bu “E” saja,
Aku : tidak pak, saya tidak mau ngrepotin,, ibunya sibuk.
Polisi : saya tidak memaksa mas, terserah mas saja.
Aku : lho pak, biasanya dulu lewat situ boleh itu pak,, pernah juga di situ ( sambil menunjuk jalan lain ) saya juga kena tilang, tilang juga karena salah jalur.
Polisi : KTP atau SIMnya ada mas ?
Aku : ada pak, ini lengkap. tidak terlambat, rutin kok pak pajaknya.
sambil di bolak balik surat surat tadi lalu kami mlanjutkan pembicaraan…
Polisi : tadi mau kemana mas ?
Aku : cuma mau beli stiker saja pak disitu tadi.
Polisi : emmmmm, ya udah ini nanti yang ambil Ibu “E” saja ya,
Aku : tidak pak, saja tidak ingin merepotkan orang lain, ibunya sibuk.
Polisi : jabatannya apa mas ? polwan kan ?
Aku : iya pak, polwan dan stau saya kalo tidak salah jabatannya sebagai atasan.
Polisi : saya tidak memaksa mas, nanti dikira sesama polisi mempersulit.
Aku : ya ini saya selesaikan saja, saya juga salah kok pak ( dalam hati aku mengakui memang aku salah tadi )
dengan kesan lega, polisi lalu menjawab..
Polisi : lain waktu jangan diulangi lagi ya mas.
dalam hati aku, “kenapa tidak kena denda??? pernah itu kena 35.000 hanya karna salah jalur.
Aku : iya pak, trimakasih, tapi STNK saya masih bapak bawa,,
Polisi : lho bukannya mas bawa tadi ?
Aku : bapak yang bawa,
sambil pak polisi mencari di saku celana…..
Polisi : oh, ini mas.
Aku : skali lagi aku mengucapkan, “ya trimakasih pak…..”

dengan perasaan gembira penuh syukur, aku tancap gas lagi menuju kios stiker yang tadi padahal kalo di itung itung uang di dompet saya tidak mencukupi untuk bayar denda, dan kalopun kena denda aku mungkin akan pulang rumah dulu ambil uang… kadang sesuatu yang tidak mungkin atau belum disangka sebelumnya pun bisa terjadi…. tidak ada yang tidak mungkin. yang penting kita mengakui kalo kita memang benar benar salah, dengan rasa tanggung jawab kita selesaikan masalah kita. jangan takut, kebenaran itu yang terbaik.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai