Jauh

Jalan hidup kadang menjauhkan kita dengan orang-orang terbaik yang pernah kita kenal,
bagi orang-orang yang ga kenal (dekat) banyak orang seperti saya, menemukan teman ngobrol yang memiliki irisan kesukaan merupakan berkah.
kepada orang-orang ini kita bisa bertukar opini dan berdialog dengan mudah, bertukar pengalaman, menceritakan tantangan, hingga berbagi hal-hal ga penting seperti film horror yang aneh.
kepada orang-orang ini juga biasanya kita tidak sungkan untuk meminta bantuan, karena kita mengetahui kapasitas mereka sebagaimana mereka mengetahui kapasitas kita.
bersama orang-orang ini, menghabiskan waktu umumnya terasa menyenangkan atau seru.

ketika kita tak lagi berhubungan,
beberapa dijauhkan dalam jarak fisik
beberapa dijauhkan dalam perbedaan prioritas atau kesibukan
beberapa dijauhkan dalam perubahan cara hidup ataupun perubahan status
beberapa dijauhkan dalam hubungan yang canggung karena satu dan lain hal.

patut kita sadari juga bahwa cara kita melihat orang lain dan menempatkan orang lain tidaklah mesti resiprokal. kadang kita merasa orang lain penting untuk dapat perhatian kita namun orang lain tersebut tidak merasakan hal yang sama. Dalam hal ini ya kita perlu mawas diri, dari memperhatikan cara komunikasi kita mencoba menakar posisi diri kita, setidaknya dengan ini kita jadi bisa memanage ekspektasi.

tapi ya gitu, tulisan ini saya tulis untuk temen-temen deket yang saat ini ga sering komunikasi lagi. semoga ada waktu dan kesempatan untuk kita bersua kembali. ngobrol lepas, ngemil bareng, gitaran, jalan-jalan. Apa ya bahasanya, kalau memilih kata rindu atau kangen nanti konotasinya jadi nggak pas, terlalu manis, jadi ya sesimpel pengin ketemu. Yg kuingat dari temen-temen ini selalu waktu-waktu terbaik, disaat kita bersama, diwaktu kita tertawa menangis, merenung, hee malah nyanyi. karena ternyatanya waktu berjalan secepet itu, bayangkan kalau dalam waktu yang terbatas ini komunikasi sama temen-temen ini terjaga dengan baik, betapa berkahnya, betapa bahagianya.

sebagai penutup,
walaupun kita jauh, dan ga berkomunikasi seperti dulu lagi, tapi pertemuan, obrolan, chat atau bentuk komunikasi apapun itu, yg kubayangkan akan menarik, selalu kutunggu.

sehat-sehat, syukur dan berkah untukmu.

Demam Berdarah di Awal Tahun 2025

Bagaikan pepatah, tapi ini terjadi beneran. Jadi tahun 2025 ini saya awali dengan menginap 4 malam (5 hari) di RS Premier jatinegara. Ya berakit-rakit ke hulu, bersakit-sakit dahulu di awal tahun. Hari rabu 1 Jan 2025 kami sekeluarga baru kembali dari kampung untuk bersiap-siap kerja dan sekolah. Anak-anak mulai sekolah tanggal 6 Januari. Liburan kemarin memang cukup melelahkan karna kami mesti bolak-balik ke ke rumah uti kakung menyesuaikan jadwal liburan anggota keluarga yang lain. Pada proses liburan tersebut, ada anak yang panas demam sesampainya di kampung (kakak), ada anak yang diare (adiknya kakak), namun beruntung secara overall waktu libur yang panjang bisa dinikmati karena mereka sembuh disela-sela waktu tersebut. Saya sendiri mengalami diare akut sehari sebelum pulang, betapa lemesnya diare namun sehari penanganan dengan entrostop dan diapet alhamdulillah bisa membuat ke esokan harinya ga lemes lagi karna diarenya sudah berhenti.

Namun kejutan belum berhenti, Sabtu 4 Januari giliran si kecil yang sakit. Badan panas tiba-tiba di sore hari setelah bangun tidur. Masih kami anggap demam / meriang biasa karena kecapekan, kamipun memberikan obat turun panas dan memastikan si anak istirahat full. Saya sendiri, sekali waktu menemani tidur, karena orang sakit memang butuh ditemani. Hari minggunya 5 Januari sore giliran saya yang mulai ga enak badan. Waduh ketularan meriang nih, batin saya. Jeda waktu dari saya sakit terakhir selepas pulang dari US di bulan mei 2024 sampai saya sakit lagi di awal tahun 2025 cukup panjang untuk membuat saya lupa rasanya nggak enak badan. Alhasil diingatkan rasanya sakit membuat saya bener-bener bertekad untuk cepet sembuh, istirahat total, multivitamin, dan paracetamol SOP yg biasa saya lakukan tiap sakitpun langsung saya praktekkan. Hari minggu, hari senin, hari selasa panas hanya turun dalam periode pemberian paracetamol. Hari Rabu saya berharap recover karna saya merasa durasi efek parasetamolnya memanjang pada hari selasa malamnya, pertanda mau sembuh. Ealah ternyata rabu pagi masih panas dan lemes. Akhirnya saya minta tolong istri untuk minta rujukan dari klinik kantor ke IGD, tapi ternyata prosesnya nggak seperti itu. Kliniknya malah bilang kalau emang urgent ya ke IGD saja, nanti dasar penentuan urgensinya di IGDnya. Tapi karna sudah terlanjur periksa ke dokter, dokter klinik menyarankan untuk cek lab dulu. Setelah menunggu 2 jam dari jam 11an sampai 13.30an hasil cek lab menunjukkan penurunan trombosit ke 160ribu dengan range normal adult di 150ribu s.d 450ribu per mikroliter darah. Kalau menurut dokter hasil tersebut mengarah ke DBD, dokter masih ngasih instruksi untuk dirawat di rumah.

Ada satu hal yg nggak nampak dari hasil pemeriksaan, yaitu bahwa orang sakit itu butuh diurusin. Menyuruh saya pulang ke rumah di saat di rumah masih ada si kecil yang sakit dan seabrek urusan rumah yang menunggu merupakan tindakan yang justru bisa nambah orang sakit yaitu istri saya. Akhirnya kami memutuskan untuk ke IGD dengan hasil tersebut. Alhamdulillah administrasi lancar dan IGDpun merekomendasikan untuk rawat inap. Secara siklus DB maka saya akan ada di fase dimana trombosit akan terus turun (bisa disebut masa kritis DB), yang mana jika terdapat pendarahan maka tubuh saya akan kesusahan untuk menghentikannya, rawat inap merupakan langkah yang jauh lebih aman dibanding dengan rawat sendiri di rumah. Benarlah, masuk hari rabu siang, trombosit saya di
1. rabu sore di: 130an ribu
2. Jumat pagi: 56ribu.
3. Sabtu pagi: 46ribu
4. Minggu pagi: 55ribu
5. Senin pagi:106ribu boleh pulang.

Anak saya hari kamis juga masuk ke RS setelah termonitor trombosit turun, secara siklus karena anak panas duluan 1 hari sebelum saya, recoverynya pun lebih duluan, sehingga si kecil masuk kamis, keluar hari minggu. Hari-hari yang cukup mengesankan buat si anak karena hari kamis, jumat, sabtu, dan minggu si anak diambil darahnya untuk dimonitor trombositnya. Dari dari kamis sampai jumat si anak terdiam lemas saja. Hari minggu setelah infus dicopot baru mulai sedikit petakilan. Alhamdulillah.

Selain panas, lemes, badan terasa dingin, dan susah tidur, yang saya rasakan pada hari ke 4 dan seterusnya adalah gatal-gatal random di badan. Saya sempat minta cetrizine 1x untuk membantu mengurangi gatal dan cukup terbantu untuk tidur cukup nyenyak. Untuk treatment yang diberikan di rumah sakit adalah paracetamol, obat lambung dan obat mual, serta cairan infus. Pada hari di mana tombosit turun cairan infus dikombinasikan dengan gel apa gitu yang berfungsi nambah trombosit katanya.

Bagitu si anak keluar, kelurahan di jakarta mendapatkan notifikasi untuk dilakukan pemantauan dan follow up. Ibu RT dan posyandupun memonitor kondisi sekitar tempat tinggal dan kemudian menjadwalkan pelaksanaan fogging. Pun ketika kami beritahu kalau kemungkinan kena gigit nyamuknya di daerah, bukan di Jakarta. Tindakan precaution yang bagus ini sayangnya tidak kami temukan di daerah. Ibu saya yang kena db juga di kurun waktu yg sama, (sehingga kami bisa mengambil kesimpulan kalau kenanya pas pulang kampung) tidak ada follow up fogging. Ibu hanya di-remind untuk membersihkan genangan-genangan air di sekitar rumah.

What a way to start a new year!

Pada akhirnya saya bersyukur karena proses penyembuhan aman lancar dan family bisa kembali sehat lagi. Awal tahun 2025 menjadi pelajaran untuk menjaga tubuh tetap fit dalam setiap kesempatan dan untuk mengambil tindakan yang lebih cepat kalau merasa sakit yang bukan common flu/cold. Terima kasih untuk temen-temen kantor yang menyempatkan waktu menjenguk dan memberi semangat. It meant a lot!.

Reflection 2024

Tue, 31 Dec 25
Hometown

Sore ini saya berencana menikmati soto stasiun, namun apa daya hujan yang seminggu terakhir ini menaungi daerah kedu, ternyata hadir juga sore ini di kampung halaman. Bukan rintik-rintik, tapi hujan yang deras, yang jatuhnya terdengar keras di atap rumah dan bagian halaman yang tak beratap. Alhasil Bapak menyuruh untuk masuk kembali ke rumah saat saya hendak bersiap naik kendaraan, “Bahaya kalau terlalu deras, nanti ada pohon tumbang atau apa”, ujar Bapak. Akhirnya pintu depan rumahpun saya tutup kembali untuk masuk, anak-anak sore ini cukup terkontrol, sepertinya capek sisa bermain di pantai yang tiap liburan hampir selalu kami kunjungi, masih terasa.

Layaknya rencanya untuk beli soto yang tidak terjadi, sepanjang 2024 terdapat pula hal-hal yang saya rencakan tapi belum kejadian, kebanyakan seputar kerjaaan. Belajar ini, membereskan itu, ternyata membutuhkan lebih dari sekedar keinginan. Lebih lagi dalam pekerjaan lebih sering kita membutuhkan orang lain untuk bisa menyelesaikan task-task atau pekerjaan yang lingkupnya cukup besar. Ada juga sedikit rasa resisten terhadap beberapa hal yang kalau dituliskan sepertinya tidak pas, tapi secara umum berkaitan dengan penerimaan saya terhadap cara melakukan pekerjaan. Beberapa hal juga perlu saya identifikasi agar saya segera bergerak. Menulis adalah salah satu caranya, bermain game tidak bermanfaat adalah salah satu penghalangnya.

Paling tidak satu ada dua hal dari scroll- scroll sosmed itu bisa saya ambil hikmahnya. Dari sekian banyak mungkin adalah bagaimana agar kita tetap show up and do it anyway. Mungkin juga pernah lewat di feed kalian, ada orang sambil dance bernyanyi riang “i do it anyway” lalu dia mention list bad emotion yang mungkin sedang kita rasakan. Search “iamyoshi2.0” di instagram. Dari konten ybs saya jadi dapat dorongan saat-saat merasa sedang “low” on energy.

Sepanjang 2024 pula saya bersyukur untuk begitu banyak hal yang saya terima. Utamanya adalah kesehatan. Kesehatan, salah satu dari sekian hal yang sering orang lupa, adalah hal yang begitu saya syukuri kini di usia yang ternyata semakin menua (well). Sebuah kondisi yang sampai 5 tahun lalu masih saya “took for granted”, hingga karna satu dan lain hal saya mesti dirawat dan merasakan betapa nikmat sehat itu luar biasa. Tahun ini, alhamdulillah, flu ringan dan kecapekan dapat diatasi dengan konsumsi makanan dengan nutrisi yang cukup dan multivitamin. Persediaan obat khusus untuk rhinitis dan cuci hidung adalah hal yang penting dan perlu diketahui oleh semua orang yang gampang pilek dan flu, dan harus dipersiapkan. Untuk anak-anak, sangat penting mengetahui kapan anak terlalu capek dan mulai ga enak badan atau demam. Istirahat yang cukup, dibantu dengan obat turun panas supaya istirahat mereka lebih nyaman membuat mereka lebih cepat recover. Masih tentang kesehatan, tidak dipungkiri terdapat kabar-kabar kesehatan dari kakek dan nenek yang mengalami naik turun. Namun demikian di usia yang tergolong sepuh, alhamdulillah 1 kakek dari Ibu, dan 1 nenek dari Bapak masih sugeng, masih sehat dan bisa berkomunikasi dengan keluarga.

Selain kesehatan, saya juga bersyukur bagi kondisi keluarga dan lingkungan yang alhamdulillah baik. Serta untuk beberapa pencapaian-pencapaian kecil saya. Serta untuk kesadaran kepedulian kepada sesama yang masih ada, ditengah kebutuhan/keinginan/keperluan pribadi yang ternyata semakin tua semakin banyak yang dipikirkan. Walaupun belum tau bagaimana caranya, saya masih ingin bisa berkontribusi banyak untuk sesama, semoga saya akan menemukan jalannya.

Harapan untuk menjadi lebih baik masih ada, di tengah kenyataan bahwa saya menjadi manusia yang biasa-biasa saja [istigfar]. Menuliskannyapun malu. Tak pantas rasanya meminta banyak, tapi pada sore ini, malam ini, malam 1 Rajab. Doa-doa yang terbersit dalam hati ini semoga akan dikabulkan, untuk tahun-tahun yang lebih baik, untuk tahun-tahun dimana rasa syukur bisa ditambahkan. Bismillah

Malu Bermimpi

Tak jarang lingkungan, pengalaman, kondisi, dan refleksi diri membuat kita malu bermimpi. Beberapa hari yang lalu, bahkan untuk mengungkapkan sebuah keinginan saya saat ngobrol di sebuah group, saya harus memikirkan kata yang tepat, karena saya malu mengatakan keinginan tersebut, karna berbagai hal. “Bermimpi saja malu”, batin saya saat itu. Tapi saya percaya bahwa mimpi-mimpi yang masih kita pegang dan kita doakan, masih punya potensi untuk terwujud. Mimpi yang walaupun kita masih malu untuk mengatakannya, atau bahkan sungkan untuk berdoa, tapi masih tetap terlintas sebagai harapan dalam hati kita, “semoga saja”, “suatu saat”, “entah bagaimana caranya”, “aku ingin”. Diantara mimpi-mimpi tersebut, ada yang terwujud tapi berbeda dari apa yang kita perkirakan, ada juga yang terwujud lebih dari yang kita harapkan, atau terwujud dalam bentuk yang berbeda. Tapi betapa punya keinginan, harapan, dan mimpi itu tetap baik. Ini seperti kita sudah berada di jalan yang dekat tujuan, dan karena ketika waktunya tepat, usaha-usaha yang sudah ataupun kemudian dilakukan semakin mendekatkan kita ke tujuan tadi, sadar ataupun tidak. Jadi tetaplah berkeinginan, berharap, dan bermimpi, karena bahkan dengan malu-pun, paling tidak hati kita tau apa yang sedang kita dekati dan telah bersiap untuk menerimanya jika terjadi.

Eulogy Mbah Uti

Namanya Sutiyem Binti Kaseran. Mbah uti, begitu saya biasa memanggilnya. Mbah uti adalah Guru SD di desa Butuh Purworejo. Mbah uti sedo Kamis, 18 Januari 2024. Beberapa saat yang lalu, salah satu cicitnya sempet datang menjenguk mbah uti yang sudah sepuh saat mbah uti baru saja ulang tahun, ke 80.

Mbah uti adalah Wanita dengan drive yang besar. Selain bekerja sebagai guru, beliau adalah sedikit dari bagian keluarga yang punya kemampuan pengelolaan uang yang sangat baik untuk ukuran guru SD yang tinggal sebuah di desa yang sangat kecil. Sesuatu yang sampai saat ini belum kesampaian untuk ditanyakan ke uti, kok bisa?. Rasa-rasanya hari ini saya pengin ngobrol banyak sama uti tentang hal ini. Sebuah hal yang cukup unik, mengingat keluarganya yang kebanyakan isinya guru. Kemampuannya mengelola uang ini ditunjukkan antara lain dalam bentuk produksi gula jawa rumahan dan kepemilikan angkot, yang berjalan hingga beberapa tahun.

Mbah Uti sempet dititipi putunya yaitu saya, sehingga saya pernah punya ingatan tinggal di rumahnya. Rumahnya yang dulu cukup besar, saya lupa persisnya karena mbah uti pindah rumah ke rumah Pakdhe setelah mulai sepuh, jadi rumah yang kami kunjungi tiap lebaran beberapa tahun ke belakang adalah rumah Pakdhe. Ingatan terupdate saya kemungkinan saat saya masih SD. Di depan rumah Mbah Uti yang lama terdapat 2 pohon rambutan aceh, sedangkan disebelah kanan rumah ada 1 rambutan lokal. Rambutan aceh ini yang kalau kita makan bijinya bisa misah dengan mudah dari kulit dagingnya, rasanya manis, teksturnya solid, mudah dikupas. Rambutan lokal relatif susah misahin biji sama daging buahnya seinget saya mengkonsumsinya mesti sambil diemut. Rindang dan Femina adalah majalah yang bisa saya baca untuk menghabiskan waktu ditempat mbah uti, waktu yang saat itu terasa sangat lama bagi saya, terutama saat menunggu siang ke sore saat film-film anak-anak mulai ditayangkan. Jaman sebelum ada hp waktu terasa lebih lama. Siang dan sore hari di desa sangat tenang hampir hampir terasa terlalu sepi, dengan bunyi cicada, dan kadang-kadang bunyi gergaji mesin. 

Warung untuk mencari jajan adalah warung Mbah Kusen cucunya namanya Arip, yang terletak di perempatan jalan utama. Di warung Mbah Kusen ini ada macam-macam jajan anak kecil dan sayur mayur. Yang iconic, tentu saja ager-ager jadul yang bentuknya seperti cone lalu lintas, transparan. Ada juga anak mas(100 perak) dan mie (25 perak). Showcase warungnya tarletan di kiri rumah, setinggi dada pas saat kecil, ditutup dengan blok kayu-kayu persegi panjang yang disusun vertical.

Di belakang rumah mbah kusen ada suatu kantor, dan TK, TK mardi siwi namanya. Seinget saya di TK ini saya punya memori tentang seorang anak perempuan yang cantik, ompong, tapi cantik. Tutut namanya. Karna saya sangat kecil saya sempet dititip di TK tersebut. Bu gurunya ada 2, salah satunya bu wati bu guru yang perawakannya tegap, raut mukanya antik dan tegas. Satu lagi saya lupa, apakah ini guru di TK yang lain, namun seingat saya sosoknya lebih kalem dan berjilbab. Di depan TK ada ayunan dan prosotan. Saat masih kecil dulu akses ke tk seingat saya bukan lewat jalan utama, tapi sebuah jalan kecil di sisi dalam.

Ditempat mbah uti ini ada 2 tetangga, 1 mas mas, kalau tidak salah mas Antok namanya, dan 1 lagi namanya Luth. 

Luth adalah anak penjual buah sawo, kalau saja punya akses dan kapital yang cukup mungkin saat ini luth bisa jadi seniman seni rupa. Seinget saya di bisa membuat plintheng ataupun panah-panahan yang bagus, menandakan kemampuan pekerjaan tangan yang baik. Seperti bapaknya, badan luth juga besar. Entah kenapa sayur sederhana di rumahnya terasa enak, hal yang sama, yaitu makanan yang rasanya begitu enak ditengah kesederhanaan, juga terjadi di rumah tukang nderesnya mbah uti. Tukang deres inilah yang mengenalkan saya ke sambel korek, cukup ditemani tempe goreng ataupun kerupuk, sambal korek ini akan mengelevate rasa dari menu existing. Sambal korek yang pertama saya rasakan kalau tidak salah terbuat dari lombok hijau. Setelah bawang putih, cabai, dan sejumput garam selesai diuleg tidak boleh ketinggalan adalah juga jlantah yang ditambahkan secukupnya diakhir dan diuleg merata. Sederhana itu bisa enak.

Kembali ke Mbah Uti, Mbah Uti adalah orang yang menyenangkan kalau diajak ngobrol, wawasannya luas, pesan-pesannya valid. “Ngrekam” adalah salah satu kata yang saya ingat dari mbah uti dan beberapa keluarga yang lain, disaat saya menunjukkan bahwa saya mendengarkan apa yang mereka omongkan atau mendengarkan beberapa hal dari tv. Saya menunjukkannya dengan mengulang beberapa kata atau statement di depan mereka.

Saat kecil dulu Mbah Uti-lah yang membuat saya bisa bobok dengan tenang setiap malam dengan dipejetin, dan dibacakan pengantar tidur: sholawat nariyah dan bacaan ayat kursi. 

Saya cukup bersyukur bahwa kepulangan dari US kemarin, saya, istri, dan salah satu anak saya yang paling anteng sempet saya bawa untuk ketemu Mbah Uti sesuai ajakan ibu untuk menjenguk. Kami menghabiskan berberapa saat untuk ngobrol. Diantara banyak obrolan, Mbah Uti cerita tentang kondisinya yang semakin sepuh, bahwa mbah uti masih care sama kakung dan masih pengin bisa ngopeni kakung, hanya saja tubuhnya yang secara natural melemah karna penuaan sudah tidak memungkinan lagi untuk perform. Mbah Uti juga cerita keinginannya untuk panjang umur, “menungso yo pengine sehat terus, ben iso ngibadah”. Dia bercerita bahwa saudaranya, yaitu kakak-kakaknya, sudah mendahului. Kejadian paling dekat adalah kakak pertamanya yang baru saja beristirahat dengan tenang sebulanan sebelumnya. Selain sanak keluarga, Uti membicarakan beberapa orang yang dia kenal seperti muridnya, dan beberapa kiyai muda yang juga sudah pergi terlebih dulu. Dia juga menceritakan bahwa dia sedang menunggu kedatangan ponakannya yang dari lampung. Ponakan yang menyebut Mbah Uti sebagai role model karna Mbah Uti sempat berjasa ngopeni ponakannya ini. 

Komunikasi yang lancar, aspirasi untuk tetap sehat, serta kondisi tubuh yang melemah tapi masih cukup kuat untuk berdiri dan berjalan ke kamar mandi, membuat saya berasumsi bahwa Mbah Uti masih akan diberikan waktu yang cukup lama untuk bisa dijenguk cucu-cucunya dan cicit-cicitnya lagi. Saya masih ingat kegumunannya ke cicitnya yang anteng makan makroni. Anak saya yang saya bawa njenguk Uti adalah anak yang paling anteng, yang walaupun malu ketemu uyut kakung dan uyut putrinya, masih bisa duduk anteng diruangan asalkan ada makroni pedes. Mbah Uti senyum dan heran ngeliat cicitnya bisa duduk anteng. Dia menanyakan cicit2nya yang lain, keduanya memang sedang dikondisikan di rumah. Supaya kedatangan kami tidak mengganggu, kami tidak membawa 2 kakaknya yang sering (sekali) ribut kalau bosan. Mereka juga sering ribut secara alami kalau mereka semua ngumpul bareng, dengan berbagai macam sebab. Selain itu, saya masih berpikir bahwa besok-besok akan balik lagi lengkap saat kondisinya pas. Ternyata apa yang terjadi berbeda. Uti tidaklah sempat bertemu degan ponakannya, dan tidaklah sempat bagi saya untuk kembali menjenguk uti bersama dengan cicit-cicitnya lengkap. 

Beberapa hari setelahnya Mbah Uti masuk rumah sakit karna lemas. Seminggu di rumah sakit, Mbah Uti recover dan pulang. Kondisi dirumah cukup baik, anak-anak uti, yaitu pakdhe, bulek, dan ibu bergantian njenguk dan menemani. 2 hari sebelum dipundut, cerita Ibu, Mbah Uti masih berkomunikasi dengan baik. Mbah Uti juga tidak mengeluhkan sakit atau sesuatu yang khusus yang berkaitan dengan kondisinya. Kamis setelah subuh, Mbah uti dipundut. Bapak mengabarkan broadcast berita duka di group whatsapp yang dibuat generik untuk dibroadcast ke semua sanak family dan kolega. Tangiskupun pecah.

Magrib, setelah Mbah Uti dimakamkan pada siang harinya, saya nelpon ibu untuk menanyakan detail hari-hari terakhir Mbah Uti. Dari video call dengan ibu yang masih di rumah pakdhe, Mbah Kakung terilhat tegar, “Uti sedo fif, gampang banget le sedo”, cerita kakung.

Selaras dengan keinginannya untuk hidup lebih lama untuk beribadah, salah satu pesan Mbah Uti buat anak-anak dan cucunya adalah untuk menjaga solat. Ini pesan yang sama dengan pesan dari Mbah Uti satunya (dari bapak) yang masih sugeng. Pesannya mengingatkan berharganya waktu yang masih dipunya kepada cucu-cucunya dan menunjukkan kepedulian mereka kepada keturunannya. Insyaallah ya uti. Uti sekarang sudah ditempat berbeda, kita ngga bisa ngobrol lagi, tapi pesan-pesan Mbah Uti dan inspirasi Mbah Uti selalu menjadi bagian dari hidup kami. Selamat beristirahat uti.

Penghujung Tahun 2015

Sore, 24 Des 2015, di penghujung tahun, aku terduduk dimeja kerja. Kantor nampak sepi, mirip suasananya dengan perpus SMA dan perpus kampus ITB. Sepi, namun memberikan rasa tentram. Rasa tentram yang muncul karena tidak adanya masalah pada system (kerjaan) yang sedang berjalan, sama seperti rasa tentram saat datang main ke perpus setelah UAS. Namun demikian, pikiran yang tentram ini mulai berlarian kemana-mana. Utamanya berlarian ke antara masa sekarang dan masa depan. Menerka apa yang akan terjadi di tahun mendatang, menerka apa yang harus aku lakukan sekarang. Namun nampaknya bermain terka-menerka melelahkan, ada begitu banyak yang mungkin terjadi di alam semesta di tahun mendatang, begitupun yang mungkin terjadi pada diriku sendiri. Mungkin, ini saatnya untuk membuat rencana, supaya permainan terka menerka ini menjadi sedikit berarah. Ya, arah yang baik bagi diriku sendiri, arah yang baik bagi dunia. Ya, rencana.. rencana adalah doa.. mungkin apabila rencana ini didengarkan dan terpatri di alam bawah sadar maka mereka akan benar-benar menjadi kenyataan.

Kuambil aplikasi berlambang gajah hijau, yang ternyata passwordnya telah lama aku lupa. Tapi selalu ada jalan seperti recovery email yang bisa dipakai pada saat ini. Recovery via email memang sangat memudahkan, sekaligus mengerikan. Dapat password user password email, kau dapat semuanya. So scary

Sembari menyelesaikan curhatan akhir tahun ini, aku mengetikkan baris demi baris checklist pada aplikasi tersebut. Rencana-rencanya kecil yang baik, Insyaallah, Perkenankanlah.

IMG_20151224_161138

Jujur dan Tanggung Jawab

Jujur dan Tanggung Jawab,
2 buah kata mutiara yang keluar dari ucapan beliau,
2 kata yang untuk beberapa kali beliau ulang, untuk mastikan aku dapat menangkapnya.
2 buah kata yang saat beliau mengucapkan, diberikannya tekanan yang cukup hingga sesudah lewat 2 haripun, aku dapat mengingatnya dengan jernih dan jelas.
2 buah kata tersebut yang harus kucatat agar tidak lupa.
Kutuliskan dalam 2 media, fisik dan batin, agar terpatri jelas dalam lakuku kelak.
Insyallah Pak.

 

Mengalihkan Fokus

Euforia pemilihan capres dan cawapres kali ini terasa begitu seru. 2 Partai yang sebelumnya pernah berkoalisi kini pecah dengan membawa wakilnya masing-masing. Membandingkan diantara keduanya merupakan hal yang rumit, karena kelebihan dan kekurangan pada diri masing masing capres tidak bisa dipisahkan dari kelebihan dan kekurangan partai pengusung dan misi perseorangan yang mereka emban.

Menilai paket capres sendiri  tanpa memperhatikan partai pendukung akan menghasilkan penilaian yang 50-50. Masing-masing calon memiliki kekurangan yang spesifik: masalah Abuse of Power dan masalah Commitment. Saat memilih nanti beberapa orang memiliki kecenderungan untuk menghitung masalah mana yang bisa di toleransi.  Masalah abuse of power mendatangkan ketakutan bahwa masa depan Indonesia akan tergambar seperti jaman orde baru yang terkekang dan terkungkung oleh kontrol, sedangkan masalah commitment mendatangkan ketakutan bahwa masa depan indonesia berada di tangan orang yang tidak bisa di percaya.

Kelebihan masing-masing calon terletak pada kharisma keduanya. Gambaran yang terlihat adalah salah satu sebagai patriot pembela negara sedangkan yang lain adalah sebagai representasi kesederhanaan rakyat. Keduanya menghasilkan daya tarik yang mempesona pendukung yang memiliki tipe kepemimpinan ideal yang sesuai di benak mereka. Sedemikian hebatnya daya tarik ini sampai menciptakan pendukung-pendukung loyal, yang siap maju di medan perang dunia maya untuk saling mempertahankan kejayaan idolanya. Tak hanya di dunia maya, langkah nyatapun mereka ambil dengan melakukan dukungan di dunia nyata melalui dialog dan diskusi, hingga sumbangsih materiil untuk masing-masing calon yang menjadi idola. manis ya.

Kelebihan cawapres terletak pada wawasan dan pengalaman keduanya di pemerintahan. Keduanya mumpuni, keduanya hebat, kekurangan calon yang satu adalah masalah keadilan hukum yang bagi beberapa pihak tidak pas, kekurangan calon yang lain bagi sebagian orang adalah masalah performa dan usia.

Menilik partai pengusung akan membuat pilihan menjadi lebih rumit, pernyataan yang umum adalah, kenapa si A didukung oleh partai X. Saat si A sudah sreg di hati ternyata hal-hal tentang partai pengusung (X) serba tidak pas semua. Dari image buruk tokoh tokoh vokal partai tersebut, hingga agenda besar/ideologi partai pengusung yang serba tidak sesuai dengan pilihan/nurani kita.

:).

satu yang pasti adalah kita harus mengetahui alasan yang pasti kenapa kita memilih. supaya bisa jadikan pembelajaran kedepan saat tiba waktunya untuk mengevaluasi pilihan kita.

sedangkan terkait dengan perilaku-perilaku sosmed yang negatif, mungkin salah satu saran adalah dengan mengalihkan fokus. membaca semua share-share  dan mengikuti bagaimana beberapa para pendukung berinteraksi dengan tata bahasa yang kurang baik akan menghabiskan banyak waktu dan bisa bikin emosi. Kembalilah ke hobby, kembalilah ke text book yang menunggu, kembalilah ke tulisan-tulisan produktif di blog, atau film-film yang menunggu untuk di download. Kembalilah sejenak, sebelum kembali ke pekerjaanmu. Pekerjaan yang benar-benar berpengaruh baik untuk dirimu sendiri maupun orang sekitar, syukur-syukur kalau pekerjaan itu berpengaruh baik untuk bangsa ini.