Senandung Hujan

Apa kabar hujan? Lama sudah ku tak melihat mu. Terlalu kering di sini.

Apa kabar hujan? Senandung mu begitu menggebu. Bersahut-sahutan rintik mu dengan angin mu.

Apa kabar hujan? Sudah lama ku tak pernah mengukir tulisan yang indah terbaca. Karena, memang tidak ada yang ingin membacanya.

Apa kabar hujan? Sendu mu selalu menghanyutkan setiap jiwa. Aroma khas mu selalu menenangkan pikiran.

Apa kabar hujan? Aku di sini, bersama nya. Di kala suka dan duka. Di kala sukar dan mudah. Di kala muda, dan… Dan sampaikan harapan ku, agar kelak kami juga bersama di kala usia senja.

Senandung Hujan, Palembang, April di kala Ramadhan, 2021

Dunia dan Jiwa

Saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kebahagiaan yang berlapis-lapis dalam sekejap mata.

Saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kesakitan yang bertumpuk-tumpuk tanpa batas.

Saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kenyamanan yang tak terbendung.

Dan saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kekecewaan yang bertubi-tubi seolah tanpa ada titik akhir.

Begitulah hidup. Dan akan terus demikian adanya.

Maka janganlah kamu mencintai dengan sangat, dan jangan pula sangat dalam membencinya.

Netralkan hatimu. Untuk dunia ini. Dan setidaknya, untuk menyelamatkan jiwamu yang repuh.

Dunia dan Jiwa

Saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kebahagiaan yang berlapis-lapis dalam sekejap mata.

Saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kesakitan yang bertumpuk-tumpuk tanpa batas.

Saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kenyamanan yang tak terbendung.

Dan saat di dunia, ada kalanya kamu bisa merasakan kekecewaan yang bertubi-tubi seolah tanpa ada titik akhir.

Begitulah hidup. Dan akan terus demikian adanya.

Maka janganlah kamu mencintai dengan sangat, dan jangan pula sangat dalam membencinya.

Netralkan hatimu. Untuk dunia ini. Dan setidaknya, untuk menyelamatkan jiwamu yang repuh.

Karena Takdir Telah Tertulis

Di masa lalu, aku teringat akan sebuah perasaan gugup pada saat hatiku harus membuat sebuah keputusan besar di dalam hidup..

Keputusan untuk memilih jalur pendidikan, keputusan untuk mengejar cita-cita, keputusan untuk berkarir, lalu kemudian keputusan untuk mencintaimu, dan keputusan untuk meninggalkan semuanya agar selalu bisa bersamamu..

Adalah sebuah keputusan yang besar dalam hidupku, saat aku harus memilihmu dan meninggalkan semua cita-citaku yang telah ku rajut bertahun-tahun dengan segala perjuangan yang cukup tertatih-tatih..

Sekiranya dua tahun pertama hidup bersamamu, banyak sekali untaian air mata yang mengalir di hatiku. Berusaha sekuat tenaga untuk mengikhlaskannya. Dan berbahagia denganmu..

Terima kasih, suamiku..

Karena kau selalu bersikeras untuk menghapus airmata itu. Kau selalu berusaha keras agar aku bisa tertawa lepas bersamamu. Dan, kau selalu berusaha keras bahwa aku akan bisa berbahagia hanya denganmu saja. Terima kasih..

Terima kasih, karena telah mencintaiku..

Terima kasih, karena bersamamu, aku memiliki puteri-puteri cantik yang sangat mencintaiku..

Terima kasih, karena kau selalu berusaha keras menjadi yang terbaik, untuk ku, dan anak-anak..

Aku mencintaimu…

-Since January 9th, 2011-

Mengenal Potensi Anak

Pada praktek parenting di zaman dahulu, kebanyakan orang tua mengarahkan anak-anak mereka untuk menjadi seperti apa yang orang tua inginkan. Banyak faktor yang melatarbelakangi kebijakan tersebut. Bisa jadi, salah satu faktornya adalah saat usia mereka masih anak-anak dan remaja, ada banyak hal yang belum mampu mereka capai, atau belum tuntas diselesaikan akibat pernikahan yang berada ditengah-tengah karir. Sehingga untuk memuaskan cita-cita mereka, secara sadar atau tidak, mereka limpahkan ke anak-anak mereka agar menjadi seperti yang mereka idamkan.

Tak banyak yang tahu bahwa potensi anak bisa terlihat dari masa kanak-kanak mereka. Meskipun hasrat anak-anak masihlah berubah-ubah, namun di saat usia 10 tahun, para orang tua bisa memulai untuk meneliti potensi anak-anak mereka.

Orang tua bisa memulainya dengan cara mengamati, menggali, mengenali, kemudian mengakomodasi potensi-potensi itu. Orang tua bisa membantu anak, bahkan sebelum mereka sadar tentang apa yang mereka inginkan dan apa saja kira-kira potensi mereka. Membantu anak dengan cara mengenali mereka tentang kekuatan apa yang ada di dalam diri mereka misalnya. Kemudian setelahnya, para orang tua bisa mendorong anak-anak mereka untuk melangkah lebih jauh lagi. Selain itu, ketika ada halang rintang yang menerpa anak-anak mereka saat melalui proses pengembangan potensi, para orang tua bisa menjadi wadah pertama yang menampung isi hati anak, lalu menguatkan mereka agar tidak mudah menyerah.

Sering kali, untuk melalu tahapan demi tahapan yang sesuai dengan ilmu parenting, para orang tua harus mengalah untuk tidak memaksa anak-anak mereka menjadi seperti apa yang mereka inginkan saat dahulu kala. Karena, bisa jadi, para orang tua akan menemukan potensi anak yang jauh berbeda dari harapan orang tua.

Misalnya, ketika orang tua berharap anaknya kelak akan menjadi seorang dokter spesialis hebat, dengan bonus mengharumkan nama bangsa, ternyata potensi si anak adalah menggambar. Lantas, apakah dengan kemampuan dan kecintaan anak pada dunia gambar, potensi tersebut harus dipatahkan karena tidak sejalan dengan ilmu kedokteran? Atau sebagian orang tua merasa menggambar bukanlah aktifitas yang terlihat cerdas? Tidak juga.

Orang tua harus berbesar hati bahwa menjadi dokter adalah bukan kemampuan anaknya. Anak bisa diarahkan untuk memiliki alat-alat gambar atau diikutsertakan dalam kelas menggambar. Namun, peran orang tua sangatlah penting dibagian ini : mengarahkan anak untuk menggambar yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak, misalnya menggambar desain bangunan, menggambar tata ruang, atau menggambar pemandangan ala ilustrator buku anak. Jadi, anak bukan hanya tahu bahwa gambar adalah sekedar « hobi », tetapi bisa dijadikan sebuah profesi dikemudian hari.

NB : menggambar makhluk khusus untuk umat muslim kalau bisa dihindari, misal tidak menggambar matanya.

Selengkapnya di https://muslim.or.id/26684-hukum-menggambar-makhluk-bernyawa.html

Inspirasi menulis : belajar parenting dari buku Kiki Barkiah

Eghaliter, 3 Maret 2019

Palembang, Sumatera Selatan

Bangun Dari Tidur

Sudah terlalu lama rasanya aku tertidur pulas. Mungkin sudah saatnya aku bangun. Bangun untuk kembali menyuarakan isi hati, saat tak ada lagi hulu yang dulu menampungnya…

Palembang, 14 Oktober 2018

Tengah malam selepas hujan rintik…

close up photography of red leaves

Photo by Ashley Brewer on Pexels.com