Blog

  • Circular Supply Chain bukan hanya menyoal daur ulang, tetapi juga cara kita berpikir ulang tentang sistem.

    Circular Supply Chain bukan hanya menyoal daur ulang, tetapi juga cara kita berpikir ulang tentang sistem.

    Selama mempelajaricircular economy dan circular supply chain dalam spesialisasi Sustainable and Resilient Operations and Supply Chains Specialization, aku semakin sadar bahwa konsep ini sering terdengar jauh dari realitas sehari-hari di perusahaan Indonesia—terlalu teoretis, terlalu “Eropa”, atau dianggap hanya relevan untuk perusahaan multinasional besar. Tapi ketika aku mulai memperhatikan praktik nyata di lapangan, membaca laporan keberlanjutan, dan mencermati kebijakan serta arah industri dalam negeri, pandanganku berubah, circular economy di Indonesia memang belum sempurna, tapi ia nyata, bertumbuh, dan sering kali lahir dari kompromi yang sangat kontekstual.

    Pengamatan ini pertama kali terasa jelas ketika melihat bagaimana banyak perusahaan di Indonesia masih beroperasi dalam logika linear yang kuat. Bahan baku diambil, diolah, dijual, lalu selesai sudah urusan. Limbah dianggap sebagai masalah operasional, bukan kegagalan desain, yang mana menjadi terlihat jelas di sektor FMCG, manufaktur, dan energi—sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional sekaligus penyumbang jejak lingkungan terbesar. Namun menariknya, justru di sektor-sektor ini pula benih circular supply chain mulai tumbuh, meski sering tidak disebut dengan istilah tersebut.

    Ambil contoh industri FMCG di Indonesia. Dari luar, program pengumpulan kemasan pascakonsumsi sering terlihat seperti aktivitas CSR atau kampanye lingkungan. Tapi jika diperhatikan lebih dalam, perusahaan seperti Unilever Indonesia mulai membangun kemitraan jangka panjang dengan bank sampah, agregator limbah, dan recycler lokal untuk memastikan aliran material pasca-konsumsi kembali masuk ke sistem produksi. Ini bukan sekadar soal mengurangi sampah, tetapi upaya menjaga pasokan material sekunder di tengah volatilitas harga bahan baku plastik global (Laporan Keberlanjutan Unilever Indonesia, 2023).

    Di sektor energi dan sumber daya, observasi yang paling menarik justru datang dari BUMN. Tentu saja tidak lepas dari kenyataan bahwa BUMN ini sudah besar sehingga berbagai standar yang ditargetkan harus mulai mengikuti standar global. Pertamina, misalnya, mulai menggeser narasi keberlanjutan dari sekadar kepatuhan lingkungan menuju efisiensi sistemik. Praktik reuse air terproduksi, pengelolaan limbah B3 berbasis pemulihan nilai, hingga eksplorasi ekonomi sirkular pada produk turunan migas menunjukkan bahwa circular economy dalam konteks Indonesia sering dimulai dari optimalisasi aset dan pengurangan pemborosan, bukan dari idealisme hijau semata (Pertamina Sustainability Report, 2022–2023).

    Dalam industri manufaktur, pendekatan circular supply chain terlihat lebih halus namun strategis. Beberapa perusahaan otomotif dan elektronik yang beroperasi di Indonesia mulai menerapkan prinsip desain yang lebih sederhana, seperti pengurangan variasi material, standarisasi komponen, dan peningkatan umur pakai produk. Tujuannya bukan hanya keberlanjutan, tetapi juga stabilitas rantai pasok di tengah gangguan global. Di sini, circularity hadir sebagai respons terhadap risiko bisnis, bukan hanya tuntutan ESG (Kementerian Perindustrian RI, Making Indonesia 4.0).

    Pengamatan lain yang tidak kalah penting adalah peran aktor informal dan UMKM. Banyak praktik circular yang berjalan justru di luar sistem korporasi formal seperti tukang servis, bengkel refurbish, pengepul, dan pengrajin daur ulang. Perusahaan besar yang mulai menyadari ini tidak lagi memandang mereka sebagai pihak luar, tetapi sebagai node penting dalam ekosistem circular supply chain. Kolaborasi dengan sektor informal ini menjadi ciri khas pendekatan Indonesia—berbeda dengan model sentralistik di negara maju.

    Namun, refleksi ini juga membawaku pada keterbatasan nyata. Infrastruktur daur ulang belum merata, kualitas material sekunder tidak selalu konsisten, dan koordinasi data lintas pelaku masih minim. Regulasi sudah bergerak ke arah yang benar—seperti peta jalan pengurangan sampah oleh produsen dan kebijakan nilai ekonomi karbon—tetapi implementasinya membutuhkan waktu dan kapasitas institusional yang tidak instan (Permen LHK No. 75 Tahun 2019; Perpres No. 98 Tahun 2021).

    Dari semua observasi ini, satu hal menjadi semakin jelas bagiku: circular supply chain di Indonesia bukan tentang meniru praktik global secara mentah, melainkan tentang adaptasi, yakni tentang memilih titik intervensi yang paling masuk akal. Tentang menerima bahwa kemajuan sering kali datang dalam bentuk perbaikan kecil namun konsisten. Dalam konteks ini, supply chain leader memegang peran krusial—bukan sebagai eksekutor operasional semata, tetapi sebagai penerjemah antara idealisme keberlanjutan dan realitas bisnis.

    Pada akhirnya, circular economy terasa kurang sebagai slogan, dan lebih sebagai proses belajar kolektif, bahwa keberlanjutan bukan tujuan yang dicapai sekali lalu selesai, melainkan kemampuan sistem untuk menyesuaikan diri, bertahan, dan tetap menciptakan nilai tanpa merusak fondasinya sendiri.

    Sumber Referensi:

    • Unilever Indonesia. Sustainability Report 2023.
    • PT Pertamina (Persero). Sustainability Report 2022–2023.
    • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Permen LHK No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.
    • Peraturan Presiden RI No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon.
    • Kementerian Perindustrian RI. Making Indonesia 4.0 Roadmap.
    • Ellen MacArthur Foundation. Circular Economy Overview & Circular Supply Chains

    Photo by Icarus Chu on Unsplash

  • Untitled post 9945

    Setelah beberapa minggu ini aku aktif sebagai bookstagram, aku sadar ada lelah yang nggak kelihatan. Bukan lelah fisik, tapi mental. Terlalu banyak interaksi, terlalu banyak ekspektasi. Di saat yang sama aku sedang menulis dan ingin menerbitkan buku, proses yang seharusnya intim dan tenang, namun kini jadi justru terasa bising. Saat dihubungi banyak orang, aku merasa tidak nyaman, seolah ruang pribadiku menyempit. Sekarang aku hanya ingin diam, bersembunyi, dan bernapas.

    Aku ingin karyaku berjalan, tapi keberadaanku menghilang. Aku ingin suaraku terdengar, tanpa harus berdiri di tengah keramaian. Dunia meminta wajah, respons, dan kehadiran,
    sementara aku hanya ingin diam dan menulis. Lagipula, menulis bukanlah pekerjaanku, menulis adalah hobiku.

    Photo by Tolu Akinyemi 🇳🇬 on Unsplash

  • yang tidak pernah sampai

    yang tidak pernah sampai

    Aku pernah menginginkan sesuatu dengan cara yang sangat sunyi. Tidak keras, tidak memaksa, tapi diam-diam berharap semesta berbaik hati. Aku menunggunya dalam doa yang sama, di malam-malam yang sama, sambil meyakinkan diri: mungkin besok, dan kalau bukan besok, mungkin lusa. Begitu seterusnya

    Keinginan itu seperti cahaya di kejauhan: ia membuat kita berjalan, tapi tidak selalu ditakdirkan untuk disentuh. Dalam perjalanan, kita sering lupa bahwa cahaya bukan janji, melainkan penunjuk arah—ia mengajari kita bergerak, bukan memiliki. Dan di situlah aku belajar—bahwa ada keinginan yang bukan untuk digenggam, hanya untuk dirasakan sebentar, lalu dilepaskan dengan hati gemetar. Bukan karena aku tidak mampu, tetapi karena hidup memilih arah lain tanpa bertanya padaku lebih dulu.

    Dalam laku sufistik, keinginan bukan musuh, tetapi tabir. Ia menyingkapkan apa yang kita kira perlu, lalu perlahan mengajarkan bahwa yang benar-benar kita cari bukanlah benda, keadaan, atau hasil, melainkan rasa cukup yang tak bergantung pada apa pun. Ketika keinginan tak tercapai, jiwa seolah dipatahkan. Padahal yang dipatahkan hanyalah ilusi bahwa kita tahu apa yang terbaik bagi diri kita.

    Aku sempat marah. Bukan pada Tuhan, tapi pada diriku sendiri: kenapa berharap sejauh itu, kenapa menggantungkan bahagia pada sesuatu yang tak pernah berjanji untuk tinggal. Karena selain ada saatnya doa dijawab dengan penundaan, ada pula saatnya dijawab dengan penolakan. Penolakan ini bukan pengusiran, melainkan pemindahan: dari “ingin memiliki” menuju “mampu menerima.” Sebab tidak semua yang kita cintai harus menjadi milik kita; sebagian cukup menjadi guru yang mengajari ikhlas.

    Pelan-pelan aku paham, keinginan yang tak tercapai bukan hukuman. Ia adalah cermin. Ia memperlihatkan betapa rapuhnya aku saat merasa “ini adalah satu-satunya jalan”, dan betapa sempitnya pandanganku tentang apa artinya cukup. Berdamai dengan keadaan bukan berarti berhenti berharap. Ia adalah seni menaruh harap di tangan Yang Maha Mengetahui, lalu membiarkan hati kita bebas dari tuntutan hasil. Seorang salik tidak berhenti berjalan ketika jalannya buntu; ia duduk, mengatur napas, dan menyadari bahwa kebuntuan pun bagian dari jalan.

    Berdamai dengan keadaan, sependek pengalamanku, tidak terjadi sekaligus. Ia datang dalam bentuk lelah—lelah menjelaskan pada diri sendiri, lelah membela harapan yang terus kalah. Sampai suatu hari aku berhenti melawan, dan hanya berkata dalam hati: kalau memang bukan ini, aku ingin tetap utuh. Keinginan yang tak tercapai sering kali menyisakan sunyi. Namun sunyi itulah ruang tempat Tuhan berbisik paling jelas. Di sana, kita belajar bahwa kehilangan bukan selalu kekurangan, melainkan pula bentuk penjagaan yang tak kita pahami saat ini.

    Maka, lepaskan keinginan itu dengan tangan terbuka. Biarkan ia pergi tanpa dendam, tanpa menyalahkan diri atau takdir. Jika suatu hal memang bukan untukmu, ia akan berubah menjadi kebijaksanaan. Jika hal itu masih perlu tinggal, ia akan kembali dalam rupa yang lebih lembut. Aku masih ingin banyak hal. Tapi aku tak lagi menaruh seluruh diriku di sana. Jika siatu hal yang kuinginkan datang, aku bersyukur. Jika tidak, aku belajar mencintai hidup yang tetap berjalan tanpanya.

    Dan ketika akhirnya engkau mampu berkata, “Aku baik-baik saja meski ini tak terjadi,” di situlah jiwa berhenti memberontak dan mulai pulang. Aku ingin pulang dan kembali padaNya dengan hati yang lapang, tanpa ada satupun penyesalan dan kesedihan atas sesuatu yang tak pernah sampai.

    Photo by Evgeni Evgeniev on Unsplash

  • Rahasia di Balik Bisnis yang Benar-Benar “Hijau”

    Rahasia di Balik Bisnis yang Benar-Benar “Hijau”

    Topik berikutnya yang dipelajari dalam rangkaian spesialisasi Sustainable and Resilient Operations and Supply Chains yang kuambil ialah mengenai Sustainable Supply Chain Managemeng (SSCM). Berbeda dengan manajemen rantai pasok biasanya, kali ini manajemen rantai pasok diintegrasikan dengan kesadaran yang lebih berkelanjutan. Artinya, seluruh rangkaian proses pengolahan dari raw material menjadi produk jadi harus menekankan pada kaidah keberlanjutan.

    Pernahkah teman-teman mendengar perusahaan mengklaim diri mereka “Ramah Lingkungan” atau “Net Zero”? Di balik istilah-istilah keren tersebut, ada sebuah sistem perhitungan yang menjadi standar global untuk membuktikannya, yaitu Scope 1, 2, dan 3.

    Memahami ketiga cakupan ini bukan lagi sekadar urusan teknis operasional, melainkan transformasi cara perusahaan mengelola risiko dan dampak lingkungan dari hulu ke hilir. Mari kita bedah satu per satu dengan bahasa yang lebih santai!

    1. Scope 1: “Apa yang Saya Bakar” (Emisi Langsung)

    Scope 1 mencakup emisi yang dihasilkan secara langsung dari aset yang dimiliki atau dikendalikan sepenuhnya oleh perusahaan. Contoh Sederhananya ialah jika perusahaan memiliki mesin pabrik atau menggunakan genset untuk operasional sehari-hari, asap yang keluar dari sana adalah Scope 1.

    2. Scope 2: “Energi yang Saya Beli” (Emisi Tidak Langsung)

    Scope 2 berasal dari emisi yang dihasilkan saat pembangkitan energi yang kita beli. Contoh sederhananya seperti penggunaan listrik dari PLN untuk menerangi kantor atau menjalankan lini produksi di suatu perusahaan manufaktur.

    3. Scope 3: “Gajah di Balik Pintu” (Rantai Pasok)

    Bisa dibilang inilah yang menurutku menjadi bagian yang paling menantang sekaligus paling penting. Scope 3 mencakup semua emisi tidak langsung yang terjadi di sepanjang rantai nilai (value chain) perusahaan, baik dari sisi pemasok (hulu) maupun distribusi ke pelanggan (hilir).

    Mengapa disebut “Gajah di Balik Pintu”? Karena faktanya, sekitar 70% hingga 90% emisi perusahaan sebenarnya berasal dari Scope 3 ini. Bahkan, para ahli dari Siemens menekankan bahwa lebih dari 90% emisi sebuah produk sering kali berasal dari rantai pasoknya. Tanpa mengelola Scope 3, upaya ESG (Environmental, Social, and Governance) sebuah perusahaan hanyalah dianggap sebagai “kosmetik” belaka. Untuk dapat lebih memahaminya, bayangkan jika sebuah pabrik makanan di Jawa Barat. Setelah diteliti, ternyata emisi terbesar mereka bukan dari mesin pabrik (Scope 1) atau listrik (Scope 2), melainkan dari proses pembuatan bahan baku (seperti gula dan minyak sawit), kemasan plastik, dan truk distributor.

    Mengapa Kita Harus Peduli? (Terutama di Indonesia)

    Mungkin kita jadi berpikir, “Apakah ini hanya tren luar negeri?” Jawabannya: Tidak. Di Indonesia, kesadaran ini sudah masuk ke dalam ranah hukum dan bisnis. Agar materi yang kupelajari tetap relevan dengan situasi di Indonesia, saya sering kali mengecek regulasi atau situasi apa saja yang kiranya berkaitan dengan topik ini. Yang jelas jumlahnya daftarnya lebih banyak dari ini. Sebagai awalan saya untuk nantinya mengembangkan relevansinya dengan lebih mendetail, beberapa yang terpikirkan sementara ini di antaranya:

    1. Aturan Hukum: UU No. 32/2009 (yang nantinya diubah di dalam UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja) sudah mewajibkan pengendalian dampak lingkungan sepanjang aktivitas usaha, termasuk rantai pasoknya. Selain itu, POJK No. 51/2017 mewajibkan laporan keberlanjutan bagi sektor jasa keuangan, yang akhirnya memberikan tekanan hijau ke seluruh rantai bisnis.
    2. Reputasi dan Ekspor: Transparansi emisi kini menjadi syarat untuk menembus pasar internasional (seperti Uni Eropa) dan menjaga reputasi merek di mata konsumen.
    3. Resiliensi Bisnis: Dengan memetakan emisi, perusahaan bisa lebih hemat energi dan tidak terlalu tergantung pada bahan baku primer melalui model ekonomi sirkular (seperti menggunakan kembali kemasan atau botol retur).
    Kesimpulan: Mulai dari Mana?

    Bagi perusahaan di Indonesia, mencapai kesempurnaan data memang sulit karena banyaknya pemasok UMKM. Namun, langkah terbaik adalah memulai dengan transparansi progresif. Fokuslah pada pemasok kunci (Tier-1) dan gunakan data yang jujur untuk mengambil keputusan.

    Ingat, mengelola emisi bukan hanya soal menyelamatkan planet, tapi juga tentang memastikan bisnis Anda tetap relevan dan kompetitif di masa depan.

    Analogi Sederhana: Bayangkan Anda sedang berdiet. Scope 1 adalah makanan yang Anda masak sendiri di rumah. Scope 2 adalah makanan yang Anda beli jadi tapi makan di rumah. Scope 3 adalah semua proses di balik proses pengolahan bahan makanan menjadi makanan yang siap dikonsumsi—mulai dari petani yang menanam padi, truk yang mengantar beras, hingga sisa sampah plastik pembungkusnya. Jika ingin benar-benar sehat, kita tidak bisa hanya mengatur masakan di rumah, tapi juga harus peduli dari mana asal semua bahan makanan tersebut.

    Beberapa sumber bacaan dari materi ini:

    1. https://www.ey.com/en_us/insights/supply-chain/supply-chain-sustainability-2022
    2. https://www.linkedin.com/pulse/ai-supply-chain-management-reaching-sustainability-goals-staubitzer/?trackingId=qdgIMhGARLWR23ts59KhPQ%3D%3D
    3. https://www.siemens.com/au/en/company/press-centre/2023/sigreen-pilot-successfully-concludes.html
  • Dekarbonisasi Produksi

    Dekarbonisasi Produksi

    Menariknya situasi pembelajaran di zaman sekarang, ada semakin banyak sekali tools yang membantu kita di dalam memahami suatu materi yang sedang kita pelajari. Dahulu ketika belajar, salah satu cara agar saya dapat dengan cepat menguasai suatu topik ialah dengan membuat mind mapping. Dengan melakukan pemetaan topik dan alur pikir, saya dapat kembali menilik ulang materi dan kembali dengan mudah memahaminya tanpa perlu memulai proses pembelajaran dari awal hingga akhir.

    Jika kemarin topik yang dibahas ialah mengenai dekarbonisasi fasilitas, hari ini saya menamatkan modul dekarbonisasi dalam proses produksi. Selama bertahun-tahun, manufaktur dibangun dengan satu tujuan utama: memproduksi lebih banyak, lebih cepat, dan lebih murah. Efisiensi dipahami semata-mata sebagai output per jam dan biaya per unit. Namun, paradigma ini mulai runtuh ketika dunia menyadari bahwa sumber daya tidak tak terbatas, dan dampak lingkungan dari industri tidak bisa lagi dianggap sebagai “externality”.

    Hari ini, keberlanjutan bukan lagi pilihan moral atau sekadar citra merek, melainkan kebutuhan sistemik. Industri menyumbang sekitar 30% emisi global dan terlibat dalam hampir seluruh rantai konsumsi dunia. Jika transportasi dan distribusi dihitung, dampaknya jauh lebih besar. Artinya, tanpa transformasi manufaktur, target net zero global hampir mustahil tercapai.

    Yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa keberlanjutan bertentangan dengan profitabilitas. Justru sebaliknya. Dalam praktik ESG modern, emisi karbon, limbah material, dan pemborosan energi adalah indikator inefisiensi sistem produksi. Menguranginya berarti memperbaiki proses bisnis itu sendiri.

    Dorongan perubahan tidak hanya datang dari regulasi, tetapi juga dari pasar. Studi Deloitte menunjukkan bahwa setengah konsumen mengubah perilaku belanja mereka demi isu iklim, dan 35% eksekutif global menyatakan bahwa permintaan pelanggan adalah pendorong utama transformasi keberlanjutan—lebih besar dari tekanan investor maupun pemerintah. Ini menandai pergeseran penting: keberlanjutan kini menjadi faktor kompetitif. Lalu, bagaimana keberlanjutan benar-benar diintegrasikan ke dalam proses produksi?

    Kuncinya, kalau dari pembahasan di modul ini, adalah data dan digitalisasi. Keberlanjutan tidak bisa dikelola jika tidak diukur. Di sinilah peran digital twin menjadi krusial. Digital twin bukan hanya alat desain produk atau gedung, tetapi representasi virtual dari proses produksi yang memungkinkan simulasi energi, aliran material, bottleneck, hingga skenario penghematan tanpa mengganggu operasi nyata.

    Integrasi keberlanjutan dalam produksi mengikuti sebuah roadmap yang jelas. Tiga tahap awal terjadi di dunia digital: penetapan strategi dan KPI keberlanjutan, desain proses berbasis digital twin, dan perencanaan produksi yang mengoptimalkan energi, material, dan waktu secara bersamaan. Tiga tahap berikutnya terjadi di dunia fisik: eksekusi produksi, monitoring real-time, dan optimasi berkelanjutan.

    Pada tahap strategi, keberlanjutan harus masuk ke dalam KPI inti—bukan berdiri sendiri. Output per unit energi, intensitas emisi, scrap rate, dan konsumsi air per produk menjadi metrik operasional, bukan hanya angka laporan tahunan. Kesalahan umum adalah menetapkan target tanpa menghubungkannya ke keputusan harian di lantai produksi.

    Dalam desain proses, keberlanjutan berarti merancang sistem yang efisien secara energi, hemat ruang, aman bagi pekerja, dan minim pergerakan material yang tidak perlu. Ergonomi, otomasi, dan tata letak pabrik bukan hanya isu produktivitas, tetapi juga sosial dan lingkungan.

    Modul ini menekankan bahwa circularity sesunguhnya dimulai dari tahap desain. Karena dari sini, setiap tahapan berikutnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, mulai dari pengadaan raw material hingga menjadi produk jadi.

    Pada tahap perencanaan produksi, fokus bergeser dari sekadar kapasitas dan waktu menjadi penggunaan sumber daya. Perencanaan material yang buruk selalu menghasilkan limbah. Perencanaan energi yang tidak tepat menciptakan beban puncak dan pemborosan. Di sinilah prinsip circular economy mulai masuk: apa yang bisa dikurangi, digunakan ulang, atau dimasukkan kembali ke sistem?

    Masuk ke tahap eksekusi, keberlanjutan dijaga melalui kualitas dan disiplin proses. Produk cacat bukan hanya masalah mutu, tetapi juga pemborosan energi dan material. Penjadwalan produksi kini perlu mempertimbangkan konsumsi energi, bukan hanya output. Manajemen inventori yang baik mengurangi kebutuhan ruang, pendinginan, dan risiko kerusakan.

    Monitoring berkelanjutan adalah jantung dari sistem ini. Sensor IoT, meter energi, dan platform analitik memungkinkan perusahaan mendeteksi masalah sebelum terjadi. Maintenance berubah dari reaktif menjadi prediktif. Mesin yang boros energi bisa diidentifikasi lebih awal, kualitas dijaga, dan downtime ditekan.

    Tahap terakhir adalah optimasi berkelanjutan dan circularity. Circular economy di industri manufaktur bukan sekadar daur ulang limbah, tetapi strategi pengelolaan aset, energi, data, dan model bisnis. Memperpanjang umur mesin, melakukan refurbish, meningkatkan efisiensi sistem secara keseluruhan—semua ini mengurangi kebutuhan material baru dan emisi tambahan.

    Energi menjadi leverage terbesar. Industri adalah pengguna energi terbesar di dunia, dan efisiensi energi adalah cara tercepat serta paling hemat biaya untuk menurunkan emisi. Digitalisasi sistem produksi, motor efisiensi tinggi, variable frequency drives, dan energy management system dapat menurunkan konsumsi energi secara signifikan—bahkan hingga 60% jika sistem dioptimalkan secara menyeluruh.

    Tantangan tetap ada. Investasi awal tinggi, keterbatasan pasokan energi rendah karbon, dan resistensi budaya sering menghambat perubahan. Namun, konsep green premium menunjukkan bahwa sebagian pasar bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan, menyediakan modal awal untuk transisi industri.

    Pada akhirnya, teknologi hanya alat. Faktor penentu keberhasilan adalah kepemimpinan dan manusia. Transformasi ini membutuhkan visi yang jelas, keberanian mengambil keputusan jangka panjang, dan investasi pada keterampilan tenaga kerja. Operator, engineer, dan manajer perlu memahami data, energi, dan keberlanjutan sebagai bagian dari pekerjaan mereka sehari-hari.

    Keberlanjutan dalam manufaktur bukan proyek sesaat. Ia adalah perjalanan sistemik—mengubah cara kita merancang, merencanakan, menjalankan, dan mengevaluasi produksi. Dan bagi industri yang memulainya lebih awal, keberlanjutan bukan beban, melainkan mesin pertumbuhan baru.

  • Catatan Belajar: Dekarbornisasi Fasilitas

    Catatan Belajar: Dekarbornisasi Fasilitas

    Seperti yang sebelumnya sudah pernah saya ceritakan, bahwa saya sedang aktif belajar online, semenjak minggu lalu saya coba menginternalisasikan pemahaman saya dengan cara menulis serta bereksperimen dengan AI untuk membuat minimal, infografisnya. Hasilnya dapat dilihat dari infografis ini.

    Modul yang saat sedang dibahas ialah mengenai dekabornisasi fasilitas dari spesialisasi kursus ini di Coursera. Ketika mengikuti kursus ini, saya dulu berpikir bahwa isu iklim itu urusannya produk, hutan, atau energi besar—bukan gedung tempat kita bekerja sehari-hari. Kantor hanyalah kantor. Pabrik hanyalah pabrik. Lampu menyala, AC dingin, pekerjaan jalan. Selesai.

    Ternyata, justru di situlah masalahnya.

    Fasilitas—kantor, pabrik, gudang, data center—adalah mesin tak terlihat dari emisi karbon. Kita jarang memikirkannya, padahal dari sanalah listrik ditarik, air dipompa, udara didinginkan, dan energi dibakar setiap hari. Dekarbonisasi fasilitas mengajak kita untuk berhenti melihat gedung sebagai “aset diam”, dan mulai melihatnya sebagai sistem hidup yang bisa diperbaiki, diubah, dan ditransformasikan.

    Dekarbonisasi sendiri bukan sekadar penghematan listrik atau mengganti lampu jadi LED. Ia berarti mengurangi—bahkan menghilangkan—emisi karbon dari seluruh rantai aktivitas fasilitas: dari desain bangunan, cara kita memanaskan dan mendinginkan ruangan, sumber listrik yang kita pilih, hingga bagaimana orang datang dan pergi dari gedung tersebut. Di sinilah perbedaan penting antara carbon neutral dan net zero. Carbon neutral bisa dicapai dengan membeli carbon offset. Net zero menuntut perubahan nyata pada cara fasilitas beroperasi.

    Indonesia sebenarnya sudah mulai bergerak ke arah ini. Pemerintah menerbitkan Perpres No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, yang menjadi dasar perdagangan karbon dan offset. Untuk sektor energi dan bangunan, ada PP No. 70 Tahun 2009 tentang Konservasi Energi yang mewajibkan audit energi bagi pengguna energi besar. Di sektor keuangan, POJK No. 51 Tahun 2017 mendorong perusahaan melaporkan kinerja keberlanjutan, termasuk emisi dari fasilitas mereka. Aturannya ada—tantangannya adalah implementasi yang konsisten.

    Beberapa perusahaan besar di Indonesia sudah mulai menunjukkan arah. Unilever Indonesia, misalnya, telah lama menjalankan pabrik dengan pendekatan efisiensi energi dan air, serta memanfaatkan energi terbarukan untuk operasionalnya. Danone Indonesia mengintegrasikan efisiensi fasilitas dengan pengelolaan air dan pengurangan emisi di pabrik-pabriknya. Di sektor properti, pengembang seperti Sinar Mas Land mulai mengadopsi konsep green building dan efisiensi energi di kawasan bisnisnya. Langkah-langkah ini mungkin tidak selalu spektakuler, tapi justru penting karena bersifat struktural dan jangka panjang.

    Bagi saya, dekarbonisasi fasilitas adalah tentang kejujuran sistemik. Tentang berani bertanya: apakah gedung yang menopang bisnis kita hari ini juga menopang masa depan? Karena pada akhirnya, ESG bukan soal laporan tahunan atau sertifikasi. Ia tentang bagaimana ruang-ruang tempat kita bekerja setiap hari ikut menentukan kualitas hidup generasi berikutnya—tanpa kita sadari, lewat saklar lampu, suhu AC, dan sumber listrik yang kita anggap biasa saja.

    Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari hal-hal yang terlihat paling sepele.

    Sumber & Bacaan Lanjutan

    Untuk teman-teman yang ingin membaca lebih jauh atau mengecek konteks kebijakan dan praktik di Indonesia, beberapa referensi berikut bisa jadi titik awal:

  • On Being Undone

    On Being Undone

    For some people who have been following my blog for a while, this will not come as a surprise. I have written before about my interest in Sufism—about this path, this language, this way of seeing. I have written some post about these journey on this and this one. Even the poems I write, whether consciously or not, almost always circle back to the same place. This is not a phase I picked up out of curiosity. It is something I keep returning to, especially when life becomes difficult.

    I did not arrive at these thoughts because I was spiritually accomplished. I arrived here because life kept undoing me.

    Things fell apart in ways I did not anticipate—plans that dissolved, identities that no longer fit, versions of myself I could no longer sustain. At first, I treated each hardship as a problem to solve, a flaw in the world that needed correcting. But slowly, and unwillingly, the question shifted. It stopped being “Why is this happening to me?” and became “Who is this ‘me’ that feels so wounded by what is happening?”

    That question unsettled everything.

    I realized how much of my suffering came not from pain itself, but from how tightly I clung to an idea of myself: who I thought I was, who I was supposed to become, what my life should look like by now. Every disappointment hurt because it threatened that image. Every delay felt like an accusation. Every loss felt personal. The world was not merely difficult—it was offending my sense of self.

    In Sufi language, this center of constant offense has a name: the nafs. The self that insists on being seen, validated, protected, fulfilled. The self that keeps saying I, even when it is exhausted. I began to notice how often my inner life revolved around this voice. I deserve. I failed. I am behind. I am not enough. The more I listened to it, the smaller my world became.

    Tasawwuf does not gently negotiate with this “I.” It questions its right to rule altogether.

    There is an idea in Sufism that initially terrified me: that the self—the “I” I have been trying so hard to fix—might itself be the source of my suffering. Not because it is evil, but because it insists on existing as something separate, solid, and self-owning. As if I am here on my own, carrying the unbearable burden of becoming someone.

    The Sufis speak of fanā’—dissolution. The fading of the ego’s claim to existence. At first, this sounded like annihilation, like losing myself entirely. But the more I sat with it, the more I understood: it is not about disappearing from life. It is about disappearing from the illusion that I am its center.

    When the ego loosens, something strange happens. Pain still arrives, but it no longer has the same grip. Loss still hurts, but it no longer defines me. Because there is less “me” to defend, to justify, to rescue. The question quietly shifts from “Why is this happening to me?” to “What is being shown here?”

    This is where Sufism speaks of God—not as a distant judge, but as the only true reality. The self is not denied, but relativized. I exist, yes—but not independently. Not autonomously. Not as the owner of outcomes. In Ibn ‘Arabi’s language, only God truly is; everything else exists by participation, by borrowing, by grace.

    Seen from this angle, even the harsh divisions of good and bad soften. They still matter in action and ethics, but inwardly, they no longer fracture reality. What happens is not always what I want—but it is never outside the Divine. This does not excuse harm or injustice; it simply releases me from believing that my personal comfort is the measure of meaning.

    After fanā’, the Sufis speak of baqā’—remaining. Returning to the world, but differently. You still work, still love, still hope. You still feel disappointment and joy. But life is no longer a referendum on your worth. You are not here to prove yourself into existence. You are here to participate.

    I think this is why suffering, strangely, became a doorway for me. It stripped away the identities I relied on. It forced me to confront how fragile my sense of self was. And in doing so, it gently asked me to loosen my grip. To stop insisting. To stop asking life to confirm me.

    I am still learning how to live this way. I still fall back into the old patterns of self-importance and self-blame. But now, when life unsettles me, I pause. I ask not what it says about me, but what it reveals about my attachment to being someone.

    Perhaps my role in this world is not to become exceptional, complete, or secure—but to become transparent. To let life pass through without constantly claiming it. To remember, again and again, that I am not the source.

    And in that remembering, suffering no longer feels like a punishment. It feels like an invitation to step aside—and let something larger breathe.

    Photo by Sara Pashakhanlou on Unsplash

  • My books of 2025 and How I choose what to read

    My books of 2025 and How I choose what to read

    Sepanjang 2025, selain belajar dan menulis, saya tentu juga membaca. Saya tidak menetapkan target bacaan tertentu; apa yang saya baca sepenuhnya menyesuaikan dengan suasana hati dan kebutuhan untuk menjawab rasa ingin tahu terhadap berbagai hal.

    Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sejak mulai membuka diri sebagai penulis, saya pun kembali aktif sebagai bookstagram. Editor saya yang baik hati menyarankan agar saya mulai membangun personal branding sebagai penulis melalui media sosial. Meski begitu, proses ini tidak selalu mudah. Ada banyak momen maju-mundur, karena tampil di ruang publik—baik sebagai diri saya sendiri maupun sebagai “saya” versi penulis—bukanlah sesuatu yang sepenuhnya terasa alami bagi saya.

    Tanpa berpanjang kata, sesuai dengan judulnya, tulisan ini saya dedikasikan untuk mendaftar beberapa buku yang saya baca sepanjang tahun 2025. Tahun ini saya berhasil menuntaskan setidaknya 35 buku, dua buku lainnya hampir selesai, serta sekitar lima atau enam buku yang masih saya baca bersamaan dan kemungkinan baru akan rampung di tahun 2026.

    Seperti yang sebelumnya sudah pernah saya bahas di sini, saya terbiasa membaca nonfiksi karena kebutuhan. Dalam banyak hal, wawasan yang luas sering kali membantu saya di kondisi yang saya dapat melaluinya karena saya pernah membaca hal tersebut sebelumnya. Kalaua di dalam sastra dan psikologi, membaca fiksi maupun nonfiksi memang diakui sebagai cara membangun vicarious experience, yakni suatu pengalaman yang tidak kita alami secara langsung, tetapi kita “pelajari” melalui cerita, bacaan, atau pengalaman orang lain. Karena sering membaca, otak kita seolah sudah pernah berada di situasi itu, sehingga ketika mengalaminya di dunia nyata, kita akan menjadi tidak sepenuhnya asing. Lain lagi dari segi kognitif-psikologi, membaca membuat kita melakukan simulasi mental: kita membayangkan keputusan, konsekuensi, emosi, dan situasi tertentu.
    Ketika kondisi itu benar-benar terjadi, otak kita pun akan merasa familiar akan suatu kondisi.

    Tahun 2025 tidak saya lewati dengan daftar bacaan atau target jumlah buku. Saya membaca dengan cara yang lebih jujur: mengikuti kebutuhan, kegelisahan, dan rasa ingin tahu yang muncul seiring saya mengamati diri sendiri dan dunia di sekitar. Di tengah kelelahan kolektif, ketidakpastian global, dan perubahan yang terasa semakin cepat, buku-buku ini hadir bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai pengalaman perantara—tempat saya belajar memahami situasi sebelum hidup benar-benar menempatkan saya di dalamnya. Daftar ini bukan tentang seberapa banyak yang saya baca, melainkan tentang mengapa saya membaca, dan apa yang saya cari ketika dunia terasa semakin sulit untuk dijelaskan dengan jawaban sederhana.

    Kebanyakan buku yang saya baca merupakan nonfiksi. Buku-buku ini saya pilih bukan semata untuk menambah pengetahuan, melainkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan mendasar seperti, “Ke mana dunia bergerak, dan di mana posisi saya di dalamnya?” Pertanyaan inilah yang mendorong saya membaca karya-karya seperti AntifragileThe Burnout SocietyHas China Won?One Man’s View of the WorldMeasure What MattersDie With ZeroDying for a Paycheck, hingga bacaan sains kosmologi dari Nick Lane, Sean Carroll, dan Michio Kaku. Pada dasarnya, buku-buku tersebut bukanlah bacaan “how to be happy” yang menjanjikan ketenangan instan di permukaan.

    Melalui bacaan-bacaan ini, saya ingin dapat lebih memahami ke mana arah peradaban bergerak, bagaimana struktur kekuasaan kemungkinan akan terbentuk dalam beberapa tahun ke depan, serta—dalam menghadapinya—logika ekonomi dan dunia kerja seperti apa yang perlu saya pahami dan siapkan.

    Pilihan fiksi yang saya baca juga sangat spesifik. Saya menekuni rangkaian besar Lord of the MysteriesCircle of Inevitability, serta beberapa karya lokal yang cenderung reflektif. Fiksi-fiksi ini tidak hadir sebagai pelarian semata, melainkan sebagai teks yang politis, sarat simbol, dan terus-menerus berbicara tentang harga pengetahuan, kekuasaan, serta pilihan moral yang harus dibayar mahal. Melalui bacaan tersebut, fiksi menjadi semacam laboratorium moral dan eksistensial—ruang aman untuk menguji keputusan, konflik, dan konsekuensinya sebelum ia benar-benar hadir dalam kehidupan nyata. Cara membaca ini juga berkelindan dengan dunia fantasi yang sedang saya bangun sendiri—novel, kali ini high fantasy, berikutnya yang sedang saya garap—di mana saya tidak ingin hanya sekedar menyerap cerita, tetapi menginternalisasi cara sebuah dunia berpikir, lalu memantulkannya kembali melalui tulisan saya.

    Akhirnya, daftar bacaan ini tidak saya anggap sebagai pencapaian atau statistik tahunan, melainkan menyerupai jejak kebutuhan: catatan tentang apa yang sedang saya cari, apa yang saya khawatirkan, dan apa yang ingin saya pahami di tengah dunia yang terus bergerak tanpa banyak jeda. Saya membaca bukan untuk merasa paling tahu, melainkan agar tidak sepenuhnya buta ketika hidup menuntut saya mengambil posisi, membuat pilihan, dan menulis dunia saya sendiri dengan kesadaran yang lebih utuh.

    Photo by Ugur Akdemir on Unsplash

  • Tebing Cahaya—novel keduaku, Terbit!

    Tebing Cahaya—novel keduaku, Terbit!

    Blurb singkat:

    Tebing Cahaya adalah kisah tentang pulang, janji lama, dan cahaya yang muncul dari tempat paling sunyi.

    Di Tanpo Arang, kabut menyimpan rahasia, kentongan berbunyi tanpa sebab, dan Tebing Cahaya memanggil mereka yang pernah pergi.

    Tiga orang kembali. Bukan untuk bernostalgia—tapi untuk memilih: membiarkan desa itu pudar, atau menyalakannya kembali.

    Genre: Fiksi Sastra, misteri lokal, drama psikologis.

    Sebenarnya tidak ada niatan untuk menerbitkan buku ini berhubung saya sudah mempublikasikannya secara gratis dan dapat dibaca di platform ini. Namun ada dorongan yang sulit dijelaskan—keinginan untuk menggenggam tulisan sendiri dalam bentuk yang nyata. Dari sanalah keputusan itu perlahan tumbuh: mungkin sudah waktunya kisah ini menemukan rumah lain.

    Cerita ini sendiri lahir lebih dari satu dekade lalu. Tokoh-tokohnya hadir diam-diam ketika saya duduk di tepi danau UI, sepulang dari Perpustakaan. Keinginan menulis sempat tertunda oleh hiruk-pikuk perkuliahan, organisasi, dan magang. Setelah menikah, kebiasaan berkelana perlahan bergeser ke hal-hal yang lebih rumahan—dan menulis menjadi salah satunya. Saya beruntung memiliki pasangan yang begitu suportif, yang memberi ruang bagi saya untuk menuntaskan apa yang pernah saya mulai. Bahkan, naskah ini sebenarnya rampung lebih dulu dibandingkan novel saya yang terbit sebelumnya.

    Jika suatu hari buku ini benar-benar terwujud dan sampai ke tangan pembaca, itu akan menjadi perjalanan yang sangat personal bagi saya. Dan bila kamu ingin ikut membersamai prosesnya sejak awal, pintu itu terbuka dengan hangat. 🌱

    Jika teman-teman berkenan untuk memesan buku ini, dapat langsung melakukan pra pesan di tautan berikut ini: https://tally.so/r/0QrMQ6

    Ide di balik seluruh tulisan fiksi ini berangkat dari keinginan untuk menggabungkan fantasi yang saya sukai dengan hal-hal yang, sedikit banyak, bersinggungan dengan dunia pekerjaan. Jadi jika suatu hari nanti fiksi yang saya tulis bersinggungan dengan isu-isu seperti lingkungan, greenwashing, pertambangan, dan sebagainya, itu bukan sesuatu yang disengaja—melainkan kebetulan, karena di situlah dunia saya berada.

    Sementara itu, soal fantasi, sejak awal memang genre inilah yang paling saya cintai. Fantasi, bagi saya, bukan sekadar pelarian, melainkan cara lain untuk memandang kenyataan dari sudut yang lebih longgar. Di dalamnya, hal-hal yang terasa berat di dunia nyata bisa dipadatkan menjadi simbol, konflik, atau lanskap yang lebih sunyi namun berbicara.

    Karena itu, dunia-dunia yang saya bangun mungkin terasa asing, tetapi denyutnya tetap berangkat dari kegelisahan yang nyata: tentang kuasa, tentang pilihan, tentang apa yang dikorbankan demi sesuatu yang disebut kemajuan. Saya tidak pernah berniat menggurui atau menghakimi; fiksi ini hanya ruang untuk bertanya, bukan untuk memberi jawaban.

    Jika ada isu-isu yang terasa familiar, itu semata karena cerita ini tumbuh dari perjumpaan saya dengan dunia sehari-hari. Pada akhirnya, saya menulis bukan untuk menjelaskan dunia, melainkan untuk berdamai dengannya. Fiksi-fiksi ini adalah upaya kecil untuk merawat kepekaan, agar saya tidak sepenuhnya kebal terhadap apa yang terjadi di sekitar. Jika pembaca menemukan gema dari pengalaman mereka sendiri di dalamnya, itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya, biarlah cerita-cerita ini berjalan dengan caranya sendiri—sebagai fantasi yang lahir dari dunia nyata, dan kembali kepadanya dengan pelan.

    salam hangat,

    alina

  • perjalanan abadi

    perjalanan abadi

    aku berjalan sendiri,
    di lorong waktu yang tak punya jam,
    menyentuh dinding-dinding sepi
    yang pernah kupanggil mimpi.

    di dadaku, ada luka
    yang tak pernah berdarah,
    hanya sunyi yang menetap,
    seperti doa yang lupa jalannya ke langit.

    Tuhan,
    jika hidup adalah sungai,
    mengapa aku selalu menjadi arus yang melawan arah?
    mengapa rinduku selalu pulang ke tempat yang hilang?

    setiap malam aku belajar mati sedikit demi sedikit,
    bukan dengan pisau,
    tetapi dengan kehilangan,
    dengan nama-nama yang tinggal gema di dada.

    aku tak takut pada kematian.
    aku takut jika kelak bertemu-Mu,
    Engkau bertanya:
    “apa yang kau cari begitu lama?”
    dan aku hanya bisa menjawab,
    “aku mencari-Mu,
    dalam bayangan dunia yang terlalu bising.”

    maka jika kelak maut mengetuk pintu,
    biarlah ia masuk perlahan,
    seperti tamu yang sudah lama kunanti,
    seperti pulang yang tak lagi menyakitkan.

    sebab yang jelas…
    kematian bukan akhir dari napas,
    melainkan saat aku akhirnya
    benar-benar sampai.

    Inspirasi

    Beberapa waktu yang lalu, saya berbagi Instagram story mengenai buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan muslim di era kejayaan Muslim. Karena keterbatasan bahasa, saya hanya membaca terjemahan berbahasa inggris, yang pada saat itu, beberapa terpaksa saya unduh secara bebas. Alasannya tentu saja, karena buku klasik intelektual seperti itu bukan buku yang mudah untuk didapatkan. Jikapun ada, aku harus menabung lebih lama. Beberapa buku yang saya baca sampai saat ini

    1. The Muqaddimah yang ditulis oleh Ibnu Khaldun
    2. The Metaphysics of the healing, yang ditulis oleh Ibnu Sina
    3. The Nabatean Agriculture, yang ditulis oleh Ibnu Washiya
    4. Ghayat Al-Hakim (dropped), penulisnya masih misteri, dalam upaya mencari buku yang ditulis oleh ahli astronomi dan astrologi muslim seperti Abu Mahsyr dan Al Kindi.

    Selain ketiga buku di atas, saya melengkapi beberapa buku yang menurut saya mendukung pemahaman saya menyoal budaya keilmuan di jaman tersebut di antaranya,

    1. Polymath of Islam, yang ditulis oleh James Pickett
    2. Islamicate Occult Sciences in Theory and Practice (Handbook of Oriental Studies: Section 1; The Near and Middle East) yang ditulis oleh Liana Saif
    3. The Brethren of Purity, yang ditulis oleh ekelompok cendekiawan yang menyebut kelompok mereka sebagai Ikhwan Al-shafa.

    Sangat disayangkan akses terjemahan bahasa Inggris untuk tulisan hebat para cendekiawan tersebut, yang dapat saya baca jumlahnya masih sangat terbatas. Jikapun ada yang dapat saya temukan, tidak semua buku lengkap. Yang lengkap paling hanya beberapa, tapi tidak semuanya.

    Dari pengalaman membaca ini saya sangat, sangat, sangat kagum sekali dengan pemikiran-pemikiran cendekiawan muslim di zaman itu. Di tulisan kali ini, saya hanya ingin membatasi bahasan dari mana inspirasi menulis puisi yang mana sumbernya dari buku Metaphysics of the healing , yang dtulis oleh Ibnu Sina.

    Jadi pada awal memilih buku apa yang ingin dibaca, saya mendasarkan pilihan pada buku yang dianggap paling berpengaruh, yang pernah ditulis oleh ilmuwan tersebut. karena Ibnu Sina adalah ahli di bidang medis, akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku As Shifa, The Book of Healing. Di situlah saya baru menyadari bahwa yang sedang saya baca bukanlah kitab medis yang selama berabad-abad menjadi rujukan Eropa, melainkan karya filsafat. Sementara karya medis besarnya yang terkenal adalah The Canon of Medicine.

    Aneh rasanya, tapi saya justru merasa sangat beruntung bisa dipertemukan dengan The Metaphysics of the Healing. Buku ini terasa jauh lebih “pas” untuk saya — yang tidak memiliki latar belakang kedokteran. Mungkin jika saya langsung membaca The Canon of Medicine, yang ada hanyalah pusing berkepanjangan. ^^

    Buku ini secara umum menjelaskan tentang bagaimana menyembuhkan ‘jiwa’ dari kebodohan. Dan yang menarik di sini Ibnu Sina memperkenalkan konsepnya yang berjudul Manusia Melayang.

    Manusia Melayang (Floating Man) menjadi eksperimen berpikir (thought experiment) yang bertujuan untuk membuktikan bahwa jiwa (kesadaran diri) adalah entitas yang terpisah dan tidak terikat dengan tubuh (jasad).

    Di eksperimen ini, Ibnu Sina membayangkan jika manusia diciptakan di ruang hampa udara, dalam keadaan terisolasi dari semua indra (termasuk pengetahuan bahwa mereka punya tubuh) dan tanpa ingatan, tetapi tetap memiliki kesadaran diri dan mengetahui tentang keberadaannya sendiri (cuma sadar kalau dirinya ada, tanpa terkecuali).

    Menurut Ibnu Sina, kesadaran lahir bersamaan dengan tubuh, lalu ketika tubuh mati, kesadaran tidak ikut hilang bersamaan jasad yang rusak karena kematian. Di sini interpretasiku adalah, Ibnu Sina berupaya “melogikakan” bagaimana kehidupan setelah mati, berdasarkan teks yang ada di Qur’an. Tapi inspirasi Ibnu Sina bukan hanya Qur’an, melainkan juga teks filsafat Yunani. Di sinilah mengapa Ibnu Sina dianggap sebagai “puncak filsafat islam” yang berupaya untuk menggabungkan filsafat Islam dan filsafat Barat (Yunani kuno). Meski tidak benar-benar berhasil menyatukan, tapi filsafat Ibnu Sina oleh akademisi modern dianggap “hampir bisa menyatukan”.

    Saya menyukai buku ini, meskipun harus jujur: ia terasa berat. Tidak seringan The Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, yang lebih mengalir bagi saya. Namun justru dari “kesalahan” memilih buku itulah saya merasa seperti dipertemukan dengan Ibnu Sina secara tak sengaja — dan tak sengaja itu terasa sangat bermakna.

    Yang membuat saya sedih adalah melihat bagaimana sebagian pihak masih mendiskreditkan beliau hanya karena latar keluarga atau tuduhan mazhab. Ya, ayah beliau memang memiliki kecenderungan tertentu. Tapi dari apa yang saya baca, saya tidak melihat Ibnu Sina sebagai sosok yang bisa dipersempit oleh label seperti itu. Menilai seseorang hanya dari garis golongan terasa terlalu sempit, terutama bagi seseorang yang hidupnya didedikasikan untuk melampaui batas-batas pikiran.

    Dan mungkin…
    di sinilah puisi itu bermula.

    Bukan dari ketakutan pada kematian,
    melainkan dari pertanyaan yang lebih sunyi:
    jika kesadaran tidak benar-benar mati,
    lalu apa arti “aku” yang berjalan di dunia fana ini?

    Puisi di atas lahir bukan dari obsesi pada maut,
    tetapi dari kegelisahan yang sama dengan Manusia Melayang:
    bahwa mungkin, jauh sebelum tubuh ini menyentuh dunia,
    jiwa telah mengenal sunyi,
    dan hanya sedang mencoba mengingatnya kembali.

    Barangkali kematian bukanlah akhir,
    tetapi jalan pulang paling hening.

    Photo by Matt Seymour on Unsplash

  • I feel as if I’ve entered a cult, one I’m still unwilling to walk away from

    I feel as if I’ve entered a cult, one I’m still unwilling to walk away from

    As many of you may already know, I have been very into Lord of Mystery over the past few months. The novel is just that good—the story is wonderful, the characters are solid, and the worldbuilding goes far beyond most modern fantasy books I have read so far. And again, as a fantasy reader maniac, I have to say that this is one of the best fantasy books written in modern times. I finished Book One, which consists of eight volumes, just last week, and even now, I’m still not quite sure when I’ll be ready to continue with the next book in this saga. Because of that, I found myself browsing some Reddit discussions, of course still related to the book, simply to satisfy my thirst for its wit and gossip.

    I remember that the last time I felt this thrilled while reading was when I discovered Tolkien and Camus. Basically, when it comes to reading, I read almost everything—except books with too much gore. That naturally made me fall in love with classic literature and certain kinds of prose. I was sitting on a plane back then, reading Camus, and when my favorite character in The Plague was dying, I cried. It made the man sitting beside me look alarmed, and he immediately asked if something was wrong with me. Of course there was—at that time, I really wasn’t feeling well. How could I stay calm when Jean Tarrou was dying just as the bubonic plague was about to end? Sigh. I was devastated for days, even weeks, barely able to eat properly because of the sadness. Anyway, that is always the effect when I read a truly good book.

    Since then, I’ve realized that reading can deeply affect my daily emotions. It’s fun, but it can also stir something very deep inside me—in what I like to call the heart domain. I’ve encountered more books with that same strong effect, until I eventually made the decision to read not only for the heart, but also for the mind and the brain. Since then, I’ve focused more on reading for learning, to gain knowledge related to the work I’m mostly involved in. I still read fiction; it’s just that my choices might seem a bit elite to some people. No, I’m not proud of that. What I want to underline is this: sometimes reading is hard, but it is necessary. Most of the time, I feel like I’ve been saved in many situations simply because I read extensively. It’s not something you grasp instantly—it shows itself through experience.

    For a long time, my decision to read only highly recommended literary fiction and popular science books slowly took away my simple enjoyment of reading. Over the years, I came to believe that reading was hard work. There were many moments when I felt lazy, yet I forced myself to keep reading because I believed it would help me grow—or else I would lose the chance to become better, especially in an era where everything moves so fast. I still enjoyed reading, but the enjoyment felt different: heavier, more demanding.

    Then I finally found Lord of the Mysteries, and through it, I found my joy in reading again. It reminded me of the first time I truly loved reading—when I encountered Harry Potter back in elementary school. That pure excitement, the urge to keep turning pages without obligation, came back to me. So I suppose I should say this: no matter how the author is viewed today—whether with praise or controversy—I can’t help but remain grateful to her. Without Harry Potter, I might not have become the reader I am now.

    Now, I no longer try to force myself into a single definition of what a “good reader” should be. I’ve learned that reading can serve different purposes at different times: sometimes it is meant to train the mind, sometimes to fill the heart, and sometimes simply to let us rest. None of these purposes diminishes the others.

    What Lord of the Mysteries gave me was not only entertainment, but permission—the permission to enjoy reading again without guilt, without justification. It reminded me that joy is not the enemy of depth, and that wonder does not make a reader shallow. In fact, it is often wonder that leads us deeper.

    My personal take on my own writing now

    Now about my decision of writing novels ever since I got stimulated from Lord of Mysteries, I realize that every phase of my reading life had its meaning. The discipline shaped my thinking, the heavy books strengthened my endurance, and the joyful ones kept me human. Reading did not become easier with time, but it became more honest. I learned to listen to what I need, rather than what I think I should need.

    I also realized that writing any kind of book—whether non-fiction or fiction—comes with its own battles (LOL). I mean, yes, most of the time I force myself to read books of good quality, but actually writing the kind of books I admire is far harder than I ever imagined. The gap between what I love reading and what I am currently able to write is wider than I expected. In fact, the best I can usually produce are the kind of standard books I don’t even enjoy reading myself LOOLL. You know what I mean. And strangely, that realization isn’t entirely discouraging. It makes me more honest about effort, practice, and humility. Good writing isn’t born simply from good taste; it demands patience, failure, and a willingness to sit with that uncomfortable distance between admiration and ability.

    Perhaps that’s another reason I’ve learned to respect both reading and writing more deeply. Reading teaches me what is possible; writing reminds me how hard it is to get there. And somewhere between those two struggles—in admiration and in effort—I keep going, slowly, stubbornly, and still in love with books.

    In the end, I’ve come to realize that good books can be found anywhere—not only among Nobel laureate fiction. You might even find them on platforms like Wattpad or in web novels. I have to admit that, at first, my impression of writers on these platforms wasn’t very positive. I assumed the quality wouldn’t be good. I was wrong—completely wrong.

    Ever since I joined Wattpad and started reading others’ work, as well as writing and revisiting my own novels, I’ve understood something more clearly than before: writing, like reading, is a never-ending journey. It doesn’t belong to one level, one label, or one literary hierarchy. It grows, changes, and deepens alongside the reader and the writer. And perhaps that is the quiet truth I want to end with—stories will continue to find us wherever we are willing to read honestly, and writing will continue to humble us as long as we’re willing to keep trying.

  • #37 Lord of Mysteries—a bias review LOL

    #37 Lord of Mysteries—a bias review LOL

    Judul : Lord of Mysteries (LoM)
    Penulis : Cuttlefish That Loves Diving / Yuan Ye (袁野)
    Tahun terbit : 2020
    Jenis : webnovel
    Rating: 10 / 5 (yeah, you read it right, ten -or even more- out of 5)

    Setelah sekian purnama tidak mengulas buku, akhirnya hari ini saya tidak bisa menahan diri untuk membahas satu serial novel yang benar-benar menyita perhatian. Bagi teman-teman penggemar fantasi dan akrab dengan dunia webnovel, nama Lord of the Mysteries tentu sudah tidak asing lagi. Harus saya akui, siapa pun yang menyukai genre fantasi pasti tak ingin melewatkan mahakarya karya Cuttlefish That Loves Diving ini—sebuah web novel Tiongkok yang, bagi saya pribadi, sangat, sangat memikat.

    Dengan worldbuilding yang kompleks, nuansa horor mistis yang menjangkau level kosmik hingga menyentuh ranah para dewa, serta jajaran karakter yang begitu hidup dan menarik, serial ini menghadirkan pengalaman membaca yang nyaris tak tertandingi. Ada fantasi yang fantastis, misteri yang menggugah, dan atmosfer yang membuat saya terus kembali membuka bab demi bab.

    Dan karena itulah, hari ini saya ingin sekali mengulas novel yang luar biasa ini. Review ini akan sangat bias. karena saya sudah sangat-sangat-sangat suka dengan serial ini, bahkan hingga pada tahap sampai sekarang saya belum juga move on meski sudah berhasil menamatkannya. Harapannya dengan menulis ulasan ini, aku jadi bisa move on lebih cepat :’D

    Lord of The Mysteries

    Alkisah, segalanya bermula ketika Zhou Mingrui tiba-tiba bertransmigrasi ke tubuh Klein Moretti, seorang lulusan Sejarah dari Universitas Khoy yang baru saja mengakhiri hidupnya sendiri. Kematian Klein—yang kemudian diketahui dipicu oleh kutukan Buku Misterius Keluarga Antigonus, yang ia teliti bersama dua temannya, Welch dan Naya—menarik Zhou ke dalam sebuah dunia baru yang penuh misteri.

    Welch McGovern menemukan buku kuno dari Epoch 4, sebuah artefak yang menyimpan sejarah kelam dan rahasia besar. Ia mengajak Klein dan Naya untuk mempelajarinya, tanpa pernah membayangkan bahwa langkah itu akan membawa malapetaka. Berbeda dari Klein yang kembali “hidup” karena kehadiran Zhou, Welch dan Naya tewas tragis, dan kematian mereka dianggap sebagai bunuh diri.

    Setelah terbangun dalam tubuh Klein, Zhou masih mengingat ritual terakhir yang ia lakukan di kehidupan modernnya. Ketika ia mencoba mengulang ritual tersebut, jiwanya terseret ke sebuah ruang berisi kabut abu-abu misterius yang berada di atas dunia spiritual. Berkat pengetahuan ritual yang dulu dipelajarinya di Tiongkok, Klein berhasil menembus kabut itu—sebuah ruang antah-berantah yang kelak mengubah perjalanan hidupnya.

    Di dalam kabut abu-abu tersebut, Klein tanpa sengaja menarik dua individu lain: Audrey Hall, yang kelak dikenal sebagai The Justice, dan Alger Wilson, The Hanged Man. Dari pertemuan tak terduga itu, Klein membentuk sebuah pertemuan rahasia bernama Klub Tarot, dinamai demikian karena setiap anggota menyandang identitas dari Major Arcana. Di sana, Klein menyembunyikan jati dirinya dan tampil sebagai The Fool.

    Pada saat yang sama, kelompok polisi bayangan bernama Nighthawk tengah menyelidiki kematian Welch dan Naya, dan mereka menemukan berbagai kejanggalan terkait Klein. Lambat laun terungkap bahwa Nighthawk bukan sekadar unit kepolisian, melainkan kumpulan Beyonder—individu yang memperoleh kekuatan supernatural melalui ramuan khusus (poison). Terdapat 22 jalur (pathway) Beyonder, masing-masing memiliki sembilan tingkatan (sequence); semakin rendah sequencenya, semakin dekat seseorang pada kekuatan para dewa.

    Pertemuan Klein dengan para Nighthawk inilah yang menjadi awal perjalanan Zhou Mingrui dalam tubuh Klein Moretti sebagai Beyonder dari Pathway Seer—sebuah perjalanan menembus dunia penuh misteri, bahaya, dan kekuatan yang melampaui batas nalar. Bersama kemampuan uniknya untuk memasuki ruang kabut abu-abu, Klein memulai langkah pertamanya di dunia baru yang menantinya.

    Ulasan Keseluruhan Lord of the Mysteries

    Kisah Klein dibukukan ke dalam delapan volume yang, jika ditotal, mencapai 1.394 chapter—dengan jumlah halaman yang tentu saja menembus sekitar delapan ribu halaman. Karena novel aslinya tidak ditulis dalam bahasa Inggris, saya hanya bisa mengandalkan terjemahan tidak resmi sampai seluruh serial ini diterjemahkan secara resmi. Dan membaca novel sepanjang ini adalah perjalanan tersendiri.

    Pada awal cerita, pembaca mungkin akan merasa sedikit kewalahan atau bahkan bosan karena pengenalan dunia yang begitu rinci. Di bab-bab awal, kita disuguhi nuansa steampunk ala Inggris, lengkap dengan teknologi unik dan sistem sihir yang rumit melalui konsep 22 jalur (pathway) Beyonder. Setiap pathway terbagi lagi menjadi 10 sequence (Sequence 9 – 0), dan harus diakui, sistem ini sangat mendetail. Masing-masing jalur memiliki identitas, kemampuan, serta ritualnya sendiri, dan penulis mengembangkannya dengan begitu konsisten dan jenius sepanjang cerita.

    Selain sistem sequence, pembaca juga akan diperkenalkan pada sejarah dunia yang terbagi ke dalam lima epoch—dengan Klein sendiri hidup di Epoch ke-5. Dalam perjalanannya untuk menemukan jalan pulang ke dunianya, Klein dipaksa mempelajari sejarah dan misteri dunia barunya ini. Di bagian ini, terasa sekali keahlian penulis: teliti, rapi, dan luar biasa terstruktur. Sebagai penggemar fantasi, saya pribadi jarang sekali menemukan worldbuilding modern yang bisa menyaingi kedalaman fantasi klasik seperti The Lord of the Rings.

    Membaca Lord of the Mysteries terasa seperti menempuh sebuah perjalanan panjang—baik dari sisi cerita maupun penulisan. Ceritanya perlahan tumbuh dari nuansa misteri dan sihir dasar menjadi epik kosmik yang menyentuh ranah keilahian. Dari sisi penulisan, perkembangan gaya Cuttlefish pun terasa: ia tidak menulis dengan prosa yang berbunga-bunga, bahkan awalnya cenderung sederhana seperti webnovel kebanyakan. Namun justru kekuatannya terletak pada detail, alur, misteri, dan worldbuilding yang luar biasa matang. Setiap bagian dunia LoM diceritakan dengan cara yang membuat pembaca terus penasaran—baik terhadap misteri dunianya maupun perkembangan karakter Klein Moretti. Kalau boleh bicara, Perkembangan Karakter Klein bagiku menjadi salah satu perkembangan karakter terbaik yang boleh jadi hampir atau bahkan menyamai perkembangan karakter Pangeran Zukho dari Avatar The Last Airbender. Hal. ini karena salah satu yang paling menarik dari novel ini ialah bagaimana kenaikan sequence para Beyonder tidak hanya meningkatkan kekuatan, tetapi juga mengubah sifat dan karakter mereka, semakin lama semakin mendekati sifat para dewa. Seluruh catatan mengenai jalur-jalur menuju keilahian ini tersimpan dalam artefak kuno bernama Blasphemy Slate, menurutku pantas saja disebut Blasphemy karena siapapun yang akan memutuskan menempuh jalur ini akan pelan-pelan kehilangan sifat manusiawi mereka.

    Secara jujur, pengalaman saya membaca serial ini benar-benar luar biasa. Sudah sangat lama saya tidak menemukan fantasi yang sehebat, sedramatis, dan sekeren ini sejak The Lord of the Rings (LOTR). Sebagai penggemar Tolkien, menemukan novel sebesar dan sedalam ini di era modern adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Meski awalnya diterbitkan sebagai webnovel, kualitas Lord of the Mysteries sama sekali tidak kalah dengan novel fantasi besar lainnya—bahkan, menurut saya, worldbuilding-nya mampu berdiri sejajar dengan karya-karya klasik terbaik.

    Adaptasi

    Kesuksesan novel ini tidak diragukan akhirnya diadaptasi menjadi Manhua dan Donghua (Anime Tiongkok) bahkan hingga game. Donghua yang baru dirilis pertengahan tahun 2025 ini mengambil cerita dari buku I: Clown. Karena jumlah halaman buku Iyang mencapai 1000an halaman sementara Donghua yang dirilis hanya mencapai 13 Episodde, jangan aneh jika pace di Donghua-nya sendiri menjadi sangat cepat, bahkan mengurangi banyak detail di cerita. Meski demikian, Donghua nya menurutku sangat, sangat bagus.

    Yang menarik, karena serial ini awalnya hadir dalam bentuk novel, para fans yang juga ilustrator mencoba untuk mengilustrasikan scene di dalam cerita, yang akhirnya berujung jadi ilustrator resmi.

    To be really honest, karena ada saking begitu banyaknya fan arts LoM, i am not quite sure which ones are the official and which ones are not LOL.

    Lord of Mysteries sendiri sebenarnya adalah Buku I dari total yang rencananya akan ada tiga buku. Buku kedua-nya, berjudul Circle of Inevitability, baru saja tamat dan sampai sekarang saya belum sanggup untuk membaca kelanjutan dari cerita dunia ini. Alasannya karena selain saya masih belum move on, masih ada rasa belum rela untuk meninggalkan Klein, tokoh utama di buku I ini. Akan ada tokoh utama baru di buku ke-II nanti.

    Karakter Klein Moretti, seperti yang sebelumnya sudah saya singgung, mengalami perkembangan yang sangat kuat dan rapi. Membicarakan soal karakternya saja bisa jadi akan membutuhkan satu artikel khusus yang dengan senang hati, suatu hari nanti, juga ingin saya bahas!

    Terakhir, saya harus bersyukur karena menemukan serial ini. Sebuah masterpiece novel fantasi di era modern. Kalau boleh sedikit cerita, alasanku sering menulis belakangan ini juga sedikit banyak dipengaruhi serial LoM. Ini mengingatkan saya pada masa-masa ketika saya demam LOTM dan Harry Potter dulu, berbagai inspirasi dan keinginan untuk menulis menggebu-gebu muncul di dada.

  • Novel pertamaku—Waktu yang Terseduh, akan terbit

    Novel pertamaku—Waktu yang Terseduh, akan terbit

    Tentang Bukunya

    📖 Judul: Waktu yang Terseduh
    🖋️ Genre: Chick lit Fantasy
    📅 Status: Telah dibuka untuk Pre-Order!
    💌 Bonus khusus: gelang dan stiker tematik.

    Sinopsis:

    Hujan menuntun Hana Larasati ke sebuah kedai kopi kecil yang seolah muncul dari gang mana pun yang sedang Kau butuhkan. Di sana, secangkir kopi memberi kesempatan mengulang lima belas menit terakhir—cukup untuk membenahi kalimat yang keliru, menata napas, atau memilih kata yang lebih lembut.

    Di kantor, Hana harus meyakinkan para investor pada mimpi energi yang lebih bersih—jalan panjang yang tidak menjanjikan hasil cepat. Samudra Jati, rekan kerja yang tenang dan tajam, menantangnya untuk jujur pada kenyataan sekaligus berani pada harapan. Sementara Nadine melangkah dengan percaya diri, menawarkan pilihan yang lebih cepat aman dan tanpa sadar menempatkan dirinya di antara Hana dan Jati.

    Setiap teguk membuat presentasi terlihat rapi, tetapi keyakinan tidak tumbuh dari pengulangan. Di balik meja Bar, Bima Sakti hanya mengingatkan dengan tatapan dingin: ada hal-hal yang tidak bisa diselamatkan oleh waktu, hanya oleh hati yang berani.

    Pada akhirnya, Hana harus memilih: jalan singkat yang menenangkan, atau jalan panjang yang benar—dalam pekerjaan, juga dalam cinta.

    Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang penuh jeda, aku bisa menulis kalimat ini: novelku yang pertama, Waktu yang Terseduh, resmi terbit.

    Bagiku buku ini bukan sekadar tulisan — tapi semacam catatan perjalanan hati. Isinya tentang waktu, kehilangan, dan perasaan yang perlahan diseduh hingga hangat kembali. Ada kisah tentang menunggu, tentang belajar ikhlas, dan tentang keinginan yang kuat untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

    Menulis Waktu yang Terseduh buatku seperti berbicara dengan versi diriku sendiri di masa lalu, masa sekarang, dan bisa jadi, juga masa depan. Ada banyak pagi yang kuhabiskan dengan secangkir kopi dan halaman kosong, mencoba menulis ulang kenangan yang dulu rasanya pahit, agar kali ini bisa kutelan dengan tenang.

    Aku tahu, mungkin kamu juga pernah merasa begitu — menunggu sesuatu yang tak pasti, menyesali yang sudah lewat, atau berusaha berdamai dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Maka buku ini kualamatkan untuk siapapun yang juga merasakannya.

    Kalau teman-teman ingin memesan, silakan isi formulir pre-order yang sudah aku siapkan. Setelah mengisi, kamu akan mendapat detail pembayaran dan konfirmasi pemesanan langsung dariku.

    Tautan Pre Order: https://bit.ly/waktuyangterseduh

    Adapun bagi teman-teman yang berminat untuk melakukan review buku ini di kanal blog, instagram, atau lain sebagainya, aku bisa memberikan bentuk copy digital (tidak untuk disebarluaskan). Teman-teman dapat langsung menghubungiku melalui direct message (DM) di Instagram @serat_kalbu. Pada dasarnya ketika menulis buku ini, aku tidak mengejar keuntungan karena selain aku masih penulis baru, aku juga tidak punya banyak base fans yang sukarela membaca novelku. Walhasil dari awal niatku hanya agar buku ini dibaca dan diulas oleh siapapun yang ingin, supaya aku bisa mendapat masukan, mengingat ini juga adalah novel pertamaku yang terbit,

    Terima kasih untuk setiap doa, pesan, dan dukungan yang mengantarkanku sampai titik ini. Semoga Waktu yang Terseduh bisa menemanimu dalam diam yang hangat, di pagi yang pelan, atau di malam yang terasa panjang.

    Dengan penuh rasa,

    alina

  • when the down become quiet

    when the down become quiet

    there comes a time when the sky no longer sings in the same way it did when we were young.
    the mornings still arrive — soft, blue, and full of light — but something in us has changed. the air carries a subtle gravity. the wind no longer only speaks of freedom; it speaks of duty, of promises made, of the quiet weight of living.

    once, i believed that growing up meant finding answers.
    but the older i become, the more i realize it is about carrying questions with grace — learning to live with the unfinished, the uncertain, and the unseen.

    adulthood is not the enemy of wonder; it is its crucible.
    In youth, i reached for dreams as if the world owed them to me.
    now, i work for them — one humble day at a time — and the effort itself becomes a prayer.

    there are days when i miss the wild innocence of my younger self: the part of me that could waste hours on art, on music, on ideas that had no price tag attached.
    now, each hour feels like borrowed time — divided among tasks, bills, and expectations.
    yet in the silence of my late nights, when the city has fallen asleep and i am alone with my thoughts, that old spark whispers again. it asks nothing but space — a page, a note, a breath.

    to create, now, is not to escape responsibility, but to redeem it.
    it is to remind the soul that even in structure, there can be rhythm.
    even in duty, there can be devotion.
    even in the repetition of daily labor, there hides a sacred music — if only one listens deeply enough.

    sometimes, I envy my past self — the one who believed that happiness was a place to arrive.
    but perhaps joy was never meant to be possessed. it flows, like a current beneath everything — beneath the weariness, the planning, the doubt.
    and i am learning, slowly, to meet it there.

    the sufis say that the heart is a traveler between two worlds:
    the visible, where hands must build and shoulders must carry,
    and the invisible, where the spirit keeps yearning for what cannot be owned.

    to be an adult, then, is to live in both — to hold the mundane and the sacred in the same breath.
    to go to work with a tired body, yet keep a soul awake.
    to pay the bills, but still pay attention to the sunset.
    to love the world enough to serve it, and still love God enough to question it.

    and perhaps this — this quiet, imperfect balance — is the art of becoming.
    the child in me still dreams, but now she dreams through the hands of a worker, through the patience of one who knows that creation takes time.
    the artist in me still paints, but now she paints with words, with actions, with the silent kindnesses that ripple unseen.

    maybe this is what the mystics meant when they spoke of surrender:
    not giving up, but giving in — to the rhythm of life itself.
    to accept that growth is not a straight road, but a spiral that brings us closer, again and again, to the same truths we thought we had outgrown.

    so i walk on — slower now, but steadier.
    i no longer chase the light; i learn to carry it.
    in the quiet moments between responsibilities, i still meet my old self — the dreamer, the learner, the believer — and together we whisper,
    “we are still here.”

    Photo by Nick Fewings on Unsplash

  • Kenapa Aku Lagi Rajin Belajar Online

    Kenapa Aku Lagi Rajin Belajar Online

    Beberapa bulan terakhir, ada satu kebiasaan baru yang ternyata mengubah ritme hari-hariku: belajar online. Hampir setiap hari, aku menyisihkan waktu untuk membuka LinkedIn Learning dan Coursera. Kadang aku ambil kelas singkat tentang komunikasi yang efektif, kadang tentang dasar-dasar software engineering, atau bahkan tentang manajemen proyek. Di awal, tujuanku sederhana: sekadar menambah pengetahuan. Tapi semakin sering aku lakukan, semakin aku sadar bahwa ini bukan cuma soal menonton video, tapi tentang cara aku menjaga diriku agar tetap relevan.

    Aku masih ingat perasaan ketika duduk di depan laptop, membuka kursus pertama. Rasanya sedikit skeptis: “Apakah aku benar-benar bisa konsisten?” Tapi pelan-pelan, aku mulai menikmati ritmenya. Ada kepuasan kecil setiap kali satu modul selesai, dan yang lebih penting: ada rasa percaya diri baru setiap kali aku bisa mempraktikkan sesuatu yang aku pelajari.

    Kenapa aku sampai begitu serius? Karena aku merasa perubahan di dunia kerja itu nyata. Aku sering mendengar orang bilang bahwa pekerjaan kita hari ini bisa hilang atau berubah bentuk dalam beberapa tahun. Ternyata itu bukan sekadar cerita horor. World Economic Forum bahkan merilis data bahwa sekitar 39% keterampilan inti pekerja akan berubah pada tahun 2030 (WEF Future of Jobs Report 2025). Bayangkan, hampir setengah dari apa yang kita lakukan sekarang bisa jadi tidak relevan di masa depan.

    Tidak berhenti di situ. Di laporan mereka sebelumnya, WEF juga menyebut bahwa dalam 5 tahun ke depan, 44% keterampilan pekerja akan terdampak oleh perubahan teknologi dan cara kerja (WEF 2023). Kalau dipikir-pikir, itu berarti kita semua sedang berada di atas treadmill raksasa: kalau kita berhenti, kita akan tertinggal.

    Aku jadi teringat obrolan dengan seorang teman yang bilang, “Belajar itu kan investasi masa depan.” Dan ternyata benar. LinkedIn dalam risetnya menunjukkan bahwa 94% karyawan akan bertahan lebih lama di perusahaan yang berinvestasi pada pengembangan karier mereka (LinkedIn Learning). Artinya, belajar itu bukan sekadar untuk kita pribadi, tapi juga berhubungan langsung dengan bagaimana kita dihargai di dunia kerja.

    Itulah alasan kenapa aku juga melanjutkan belajar di Coursera. Kalau LinkedIn Learning memberiku kesempatan untuk belajar singkat dan praktis, Coursera memberiku jalan untuk lebih dalam, lebih terstruktur, bahkan sampai mendapatkan sertifikat resmi dari universitas besar. Bagiku, kombinasi keduanya seperti punya gym pribadi untuk otak: ada latihan cepat, ada juga latihan berat yang membuatku semakin kuat.

    Semakin aku jalani, aku sadar bahwa belajar online ini bukan sekadar tentang ilmu baru, tapi tentang identitas. Tentang bagaimana aku ingin melihat diriku lima atau sepuluh tahun ke depan. Aku tidak ingin hanya jadi penonton perubahan. Aku ingin jadi bagian dari orang-orang yang bisa menavigasi perubahan itu, bahkan mungkin menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang baru.

    Di saat yang sama, aku juga melihat banyak teman di sekitarku yang baru saja menyelesaikan perjalanan panjang mereka: meraih gelar S3. Jujur, aku kagum sekaligus terinspirasi. S3 bukan perjalanan yang mudah — itu bertahun-tahun penuh riset, kesabaran, dan komitmen yang luar biasa. Tidak semua orang bisa, dan tidak semua orang berani menjalaninya. Aku pribadi belum bisa melanjutkan studi ke arah sana karena banyak pertimbangan hidup, mulai dari waktu, biaya, hingga prioritas lain yang juga harus dipikirkan.

    Tapi aku belajar untuk menerima bahwa setiap orang punya rutenya masing-masing. Ada yang berlari maraton dalam bentuk S3, ada juga yang memilih langkah-langkah kecil tapi konsisten lewat kursus online, sertifikasi, atau proyek nyata. Dan keduanya sama berharganya. S3 melatih ketekunan akademik jangka panjang, sementara belajar online membuatku tetap relevan, adaptif, dan dekat dengan praktik sehari-hari.

    Bagi aku, yang terpenting adalah tidak berhenti. Karena berhenti berarti tertinggal. Jadi meskipun jalanku berbeda dari mereka yang mengejar S3, aku tetap merasa berada di jalur yang sama: jalur belajar tanpa henti. Dan mungkin ini hal yang paling personal: setiap kali aku menyelesaikan sebuah kursus, aku merasa sedikit lebih percaya diri. Aku tahu bahwa meskipun dunia bergerak cepat, aku juga tidak diam. Aku ikut bergerak.

    Jadi kalau kamu yang membaca tulisan ini juga merasa resah, merasa dunia bergerak terlalu cepat, mungkin jawabannya sederhana: mulai belajar lagi. Tidak harus langsung yang besar. Bisa dari hal kecil: satu kursus singkat, satu jam sehari, atau bahkan satu topik yang benar-benar kamu suka. Karena pada akhirnya, belajar itu bukan tentang seberapa cepat kita selesai, tapi seberapa konsisten kita melangkah.

    Dan siapa tahu, langkah kecil hari ini adalah fondasi besar untuk masa depanmu nanti.

    Photo by Nick Morrison on Unsplash

  • [Novel] Tebing Cahaya

    [Novel] Tebing Cahaya

    Judul : Tebing Cahaya
    Penulis : Lina Kariim (Nama penaku)
    Terbit: Daring dan dapat dibaca melalui tautan ini
    Jenis : E-book
    Ilustrasi Cover: Dibantu oleh AI 

    “Roni pulang ke Tanpo Arang dengan niat liburan sederhana: tidur panjang, sinyal pasrah, dan sarapan santan. Yang melambat ternyata bukan jaringan, melainkan dirinyaterutama saat vila keluarga membuka kembali arsip janji lama: tanah ini hanya pinjaman dari arang. Di desa yang dijaga mitos Tebing Cahaya konon bila laki-perempuan menyaksikan kunang-kunang bersama, mereka tak akan bersatu. Roni bertemu lagi dengan Ahyi, teman masa kecil yang kini tumbuh jadi perempuan subjek, bukan objek: tajam seperlunya, hangat tanpa pamer. Lalu datang Ridhan, kakak Roni, dingin, rapi, dan terlalu tahu cara menahan jarak dengan kamera yang lebih jujur daripada mulutnya.

    Tiga orang, tiga cara menatap terang: Roni yang percaya pada warga dan tanah, Ahyi yang menjaga tebing dari jarak aman, dan Ridhan yang merekam senja agar tidak kabur. Ketegangan di antara mereka bukan sekadar cerita cahaya di tebing, melainkan luka lama, kalimat yang tak jadi diucap, dan pilihan: menambah arang di hati, atau membersihkannya pelan-pelan.

    Tanpo Arang adalah kisah tentang tidak mewariskan jelaga bahwa cahaya sejati bukan dari menghindari gelap, melainkan dari berani menatanya menjadi jalan pulang. Ambigunya manis; janji besar dibiarkan tumbuh di halaman berikutnya.”

    Seperti yang sudah sering aku ceritakan di blog ini, menulis memang sudah jadi hobiku sejak lama. Tapi jangan lantas mengira tulisan-tulisanku otomatis bagus. Bagiku, menulis bukan soal kualitas semata, tapi lebih sebagai bagian dari hidup. Menulis sering jadi semacam terapi pikiran—cara untuk melambat sejenak di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat.

    Apalagi dengan hadirnya AI, menulis punya tantangan baru. AI bisa menciptakan tulisan dengan sangat cepat dan sesuai format yang diinginkan. Justru karena itulah aku semakin merasa perlu menulis dengan lebih jujur, personal, dan otentik—hal-hal yang sulit digantikan mesin.

    Dari non fiksi ke roman

    Tiga tahun terakhir, aku sudah menulis tiga buku nonfiksi (dan satu lagi sedang dalam proses penerbitan). Tapi di balik itu, hatiku sebenarnya masih “mbak-mbak pecinta roman” yang punya keinginan lama menulis cerita roman versiku sendiri.

    Alhamdulillah, akhirnya keinginan itu pelan-pelan mulai terlaksana. Aku sempatkan menulis di sela kesibukan, dan novel baruku yang awalnya berangkat dari cerpen belasan tahun lalu kini sudah rampung dan terbit secara daring di platform Tinlit. Rasanya seperti menutup lingkaran lama yang dulu sempat tertunda. Tenang, novel ini masih bukan termasuk kategori roman. Selain novel ini, sebenarnya ada beberapa cerita lain—ada yang sudah selesai, ada yang masih on-going—yang juga kutulis di platform berbeda. Semuanya masih bisa dibaca gratis. Untuk saat ini, aku memang belum berfokus pada keuntungan materi dari fiksi.

    Alasan menulis buku

    Satu hal yang aku pelajari dari proses menulis dan menerbitkan buku adalah: mencari pembaca itu ternyata jauh lebih sulit daripada menulisnya. Empat buku nonfiksiku sebelumnya beruntung bisa terbit karena ada kesempatan dari teman penulis dan teman editor penerbitan di Jogja. Dari merekalah aku mendapat jalan untuk mempublikasikan karya. Tapi ketika mencoba genre baru—fiksi—aku baru sadar kalau sebagian besar penerbit, baik besar maupun indie, lebih suka bekerja dengan penulis yang sudah punya basis pembaca atau penggemar. Tentu masuk akal: penerbit juga butuh buku yang laku agar tidak merugi.

    Aku pribadi sudah menanamkan mental sederhana: kalau buku yang kutulis sampai dibajak, aku harus legawa. Di satu sisi, itu bisa mempermudah akses pembaca di negara kita di mana harga buku relatif mahal. Tapi di sisi lain, aku juga sadar pembajakan adalah kriminal dan bisa makin memperberat situasi bisnis penerbitan yang memang sedang tidak mudah.

    Menulis sebagai jalan

    Pada akhirnya, alasan utamaku menulis tetap sama: karena aku mencintainya. Menulis adalah caraku merayakan hidup, berbagi cerita, dan menemukan makna. Baik fiksi maupun nonfiksi, setiap tulisan adalah jejak kecil yang ingin kutinggalkan—meski mungkin tak sempurna, semoga tetap bisa berarti.

    Kalau kamu sudah membaca sampai sini, terima kasih banyak. Rasanya menyenangkan bisa berbagi perjalanan menulisku di blog ini. Dan kalau suatu hari kamu ingin ikut menelusuri sisi lain tulisanku—yang lebih ringan, penuh cinta-cintaan, dan kadang agak konyol—aku dengan senang hati mengajakmu mampir ke novel baruku di Tinlit.

    Tidak perlu serius-serius, anggap saja itu seperti duduk santai sambil mendengarkan cerita lama yang akhirnya kutuntaskan. Siapa tahu, di antara baris-barisnya kamu menemukan sesuatu yang nyambung dengan pengalamanmu sendiri. Mungkin ke depan aku akan membagi buku lain yang sudah atau bahkan masih on-going aku tulis ^^

  • Cinta Datang di Usia 30-an: Masih Layak Dirayakan?

    Cinta Datang di Usia 30-an: Masih Layak Dirayakan?

    Ada satu momen yang hampir semua orang di usia 30-an pernah alami: reuni keluarga. Duduk manis, tersenyum, sambil menyiapkan jawaban untuk pertanyaan klasik,
    “Kapan nyusul?”

    Kadang terdengar basa-basi, kadang penuh rasa ingin tahu, kadang malah bikin dada sesak. Begitu seringnya pertanyaan ini datang, saya pernah memutuskan untuk menulis jawaban panjang, kepada siapapun yang berkehendak keras ingin tahu alasannya, sekadar untuk menjawab rasa penasaran semua orang sekaligus memahami diri sendiri menyoal bagaimana pandanganku soal pernikahan.

    Di tengah budaya kita yang masih menilai pernikahan sebagai tolok ukur “kesuksesan hidup”, menikah di usia 30-an sering dianggap terlambat. Padahal, benarkah hidup harus dihitung dengan stopwatch?

    Justru di usia ini banyak orang lebih mengenal dirinya. Kita tahu apa yang bikin bahagia, apa yang bikin lelah, dan siapa yang pantas mendampingi. Pilihan menikah pun bukan karena takut sendirian, tapi karena benar-benar ingin tumbuh bersama. Itu bedanya menikah dengan rasa cinta dibanding menikah dengan rasa panik.

    Menikah juga soal keseharian—siapa yang menyambut ketika pulang kerja dalam keadaan letih, siapa yang ada di samping saat hari terasa berat. Di usia 30-an, banyak orang sudah lebih matang: pernah jatuh, pernah gagal, pernah belajar dari hidup, bukan sekedar patah hati. Maka, menikah di usia ini bukan hanya membawa mimpi, tapi juga kesiapan menghadapi realita kehidupan yang kita tidak pernah tahu persis ke mana arahnya.

    Apakah finansial penting? Tentu. Tapi stabilitas emosi jauh lebih menentukan, dan itu biasanya hadir seiring bertambahnya usia.

    Sering kali, menikah di usia 30-an justru memberi kesadaran bahwa hidup bukan kompetisi. Tidak ada medali untuk yang menikah duluan. Tidak ada trofi untuk yang punya anak lebih cepat. Yang membedakan hanyalah jalan hidupnya, bukan nilainya.

    Namun di luar pengalaman personal, ada fenomena yang patut diperhatikan: turunnya angka pernikahan di Indonesia.

    Pada 2014, jumlah pernikahan mencapai 2,11 juta kasus. Sepuluh tahun kemudian, di 2024, angka itu anjlok hampir 30% menjadi hanya 1,48 juta kasus. Penurunan paling drastis terlihat di kalangan usia muda 16–30 tahun. Tahun 2015, 42% pemuda menikah, tapi pada 2024 hanya 29%. Sebaliknya, yang belum menikah melonjak hampir 70%.

    Sementara jumlah pernikahan menurun, angka perceraian justru naik 9,2% dalam satu dekade terakhir.

    Fenomena ini membawa implikasi serius. Bonus demografi—ketika penduduk usia produktif melimpah—bisa cepat berakhir. Saat angka kelahiran menurun dan generasi muda menunda menikah, piramida penduduk Indonesia perlahan berubah: bagian atas (lansia) melebar, bagian bawah (generasi muda) menyempit.

    Akibatnya, dari sisi ekonomi, makin sedikit tenaga kerja harus menanggung makin banyak lansia. Dari sisi sosial, pola keluarga tradisional—di mana anak merawat orang tua—makin sulit dipertahankan. Jika tidak disiapkan dengan baik, bonus demografi bisa berubah menjadi beban demografi.

    Seorang guru besar di kampus saya pernah mengatakan, “Ketahanan keluarga adalah fondasi ketahanan nasional.” Keluarga adalah sistem mikro yang memengaruhi sistem yang lebih besar, yakni masyarakat dan negara. Maka perubahan dalam pola keluarga—usia pernikahan, jumlah anak, bahkan pilihan untuk menikah atau tidak—akan membawa dampak jangka panjang pada ketahanan bangsa.

    Karena itu, pergeseran cara pandang generasi muda terhadap pernikahan sebenarnya bukan sekadar urusan pribadi. Ia adalah cermin perubahan masyarakat. Generasi sekarang banyak menunda menikah karena ingin fokus pada pendidikan, karier, atau kemandirian finansial. Itu pilihan sah. Namun dari perspektif demografi, tren ini tetap perlu diantisipasi.

    Pada akhirnya, menikah di usia berapa pun bukan soal cepat atau lambat, melainkan soal kesiapan. Ketahanan keluarga tidak ditentukan oleh angka, tapi oleh komitmen, cinta, dan kesanggupan untuk saling menopang.

    Generasi hari ini punya jalannya masing-masing. Ada yang menikah muda dan bahagia. Ada yang menunggu dan bahagia. Ada pula yang memilih jalan berbeda, dan tetap bahagia. Semua sah, selama dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar tekanan. Dan justru di situlah kuncinya: kalau setiap keluarga mampu berdiri kokoh, apa pun bentuknya, bangsa ini tetap kuat menghadapi perubahan zaman. Karena fondasi ketahanan nasional selalu dimulai dari ruang-ruang terkecil—dari meja makan keluarga, dari percakapan sehari-hari, dari kasih yang tidak lekang oleh usia.

    Photo by Shelby Deeter on Unsplash

  • Life Lately: Notes from the Same Me, Just Older

    Life Lately: Notes from the Same Me, Just Older

    Marriage is not the meeting of two paths, but the return of one journey to its Source. ✨ I am no longer just “I” — love has turned me into “we,” and “we” into Him. 🕊️

    I have learned that marriage is not about finding completeness in another, but about walking hand in hand toward the One who is already complete. With you, every step feels like a prayer softly whispered back to its Source. In this union, I see how two journeys can intertwine without losing their way. Love, when guided by Him, is no longer about possession, but about becoming mirrors — reflecting light back to where it first began.

  • 16 Tahun, Blog, Buku, dan Hidup yang Berjalan

    16 Tahun, Blog, Buku, dan Hidup yang Berjalan


    Kalau dihitung, blog ini sudah menemaniku sejak 2008. Itu artinya sudah hampir 16 tahun, meski ya sering hilang dan timbul. Angka yang cukup bikin tertegun. Sejak awal, aku tidak pernah membayangkan blog ini akan bertahan sejauh ini. Awalnya hanya tempat menuliskan keresahan, cerita sehari-hari, atau apa pun yang kebetulan muncul di kepala. Kadang receh, kadang serius, kadang nggak jelas. Tapi itulah yang membuatnya terasa hidup.

    Belakangan ini, aku mulai berpikir untuk ganti domain dan hosting. Ada semacam keinginan untuk memperbarui “rumah” tulisan ini. Tapi di sisi lain, ada rasa takut—takut kehilangan jejak lama yang sudah menumpuk di sini. Rasanya seperti mau pindahan rumah: senang karena punya ruang baru, tapi juga sedih karena harus meninggalkan sudut-sudut lama yang penuh kenangan. Blog ini bukan hanya sekadar halaman internet, tapi juga arsip perjalanan. Dari aku yang dulu sering galau, sampai aku yang sekarang sudah beranjak ke fase hidup yang berbeda.

    Dulu, ketika membaca ulang postingan lama, aku sering menemukan sosok yang begitu cemas akan masa depan. Begitu banyak tanda tanya, begitu banyak keraguan. Sekarang, kalau melihat diriku hari ini, rasanya seperti ada lompatan besar: aku sudah menikah. Ada lucu dan hangat ketika membandingkan, seolah perjalanan panjang itu melompat begitu saja, dari halaman yang penuh kebimbangan ke halaman yang sudah mantap.

    Tapi di balik itu, aku tahu ada banyak detail kecil yang terlewatkan. Perasaan, percakapan, doa-doa pelan di malam hari, semua yang tidak sempat tertulis. Itulah yang membuat menulis itu penting—ia menangkap yang sering luput diingat.

    Selain blog, ada juga hal lain yang tak kalah penting: buku. Antara 2023 sampai 2025, aku benar-benar menulis dan menerbitkan buku. Kalau dulu rasanya mustahil, sekarang aku bisa bilang, “iya, aku sudah melakukannya.” Dan ternyata, proses itu lebih aneh daripada yang kubayangkan. Setiap buku yang lahir rasanya seperti cermin—menunjukkan bagian dari diriku yang kadang aku sendiri lupa.

    Lucu rasanya membaca ulang. Ada kalimat yang membuatku bangga, merasa “wah, ini aku banget.” Tapi ada juga bagian yang membuatku ingin menutup buku buru-buru karena terasa canggung, seperti membaca surat lama yang dikirimkan untuk diri sendiri. Dan di sanalah justru keajaibannya: menulis memberi kita kesempatan untuk melihat pertumbuhan, juga keanehan-keanehan kecil yang membentuk siapa kita hari ini.

    Sepanjang waktu itu, aku juga melihat bagaimana cara menulisku berubah. Ada masanya aku ingin terdengar sangat serius, penuh konsep, penuh “gaya.” Tapi lama-lama aku sadar, tulisan yang paling enak justru yang mengalir, sederhana, dan apa adanya. Mungkin karena aku juga belajar menikmati hidup dengan ritme yang lebih pelan. Tidak lagi selalu mengejar target, tidak lagi harus cepat-cepat promosi, tidak lagi harus segera ini-itu. Aku mulai belajar menikmati langkah yang ada, meski pelan, tapi tetap bergerak.

    Kadang aku bertanya pada diri sendiri: apa yang ingin kupelajari lagi di zaman sekarang? Jawabannya berubah-ubah. Ada kalanya aku ingin belajar hal-hal teknis, kadang ingin mendalami lagi dunia menulis, kadang juga penasaran dengan hal-hal yang sama sekali di luar kebiasaanku. Dunia sekarang begitu luas, begitu banyak pilihan, sampai-sampai kadang bikin bingung harus mulai dari mana.

    Tapi yang pasti, menulis masih jadi rumah utama. Mau sejauh apa pun melangkah, aku selalu kembali ke sini. Menulis buku lagi? Ya, tentu aku ingin. Mungkin dengan tema berbeda, mungkin dengan semangat yang baru. Tidak tahu apakah nanti akan sampai ke tangan banyak orang, atau hanya berhenti sebagai draft panjang yang tak pernah terbit. Tapi aku tahu, proses menulislah yang selalu memberi arti.

    Kalau jadi ganti domain dan hosting, mungkin wajah blog ini akan berubah. Mungkin ada yang terasa asing, mungkin ada yang harus ditata ulang. Tapi aku percaya, apa pun yang terjadi, blog ini sudah jadi bagian penting dari hidupku. Dan selama aku masih mau menulis, rumah ini akan terus hidup—entah di alamat yang sama, atau di tempat baru yang lebih segar.

    Yang jelas, perjalanan ini belum selesai. Karena menulis, sama seperti hidup, selalu menemukan jalannya.

    Photo by Redd Francisco on Unsplash

  • the eternal passage

    the eternal passage

    in the whispering breeze of a vanishing day,
    where shadows of cedar and myrtle sway,
    death arrives, not as a thief of light,
    but a kindred spirit in the softness of night.

    “behold,” it whispers in tones that is so mild,
    “i am not your foe, but a wandering child,
    lost in the cosmos, seeking my part,
    in the rhythmic dance of each pulsing heart”

    o lovers who roam the gardens of earth,
    fear not the silence that cradles rebirth.
    for death is but a door, a passage unseen,
    a quietus where colors of life convene

    shams, in his wisdom, once spoke of the end,
    as a lover’s tryst, not a darksome fiend
    a reunion with the Beloved, so endlessly sweet,
    where the songs of souls and the Divine meet

    so sip from the goblet of life with grace,
    and greet your end with a smiling face
    for in the realm where the mystics tread,
    death is but a whisper in the poems they’ve read

    Photo by Ricardo Resende on Unsplash

  • echoes of longing, a journey to the Divine

    echoes of longing, a journey to the Divine

    All is known in the sacredness of silence. Silence gives answers. In the silent chambers of our soul, there dwells a longing, a yearning so profound, an ache that echoes through the corridors of beings. It is not the longing for earthly treasures or fleeting pleasures, but a yearning for the Divine, for the purity that resides beyond the veil of this material world. Like a traveler in the desert, I thirst for the waters of spiritual nourishment, for the touch of the Beloved that can cleanse the stains from the heart and illuminate the path to inner peace.

    I choose to love you in silence, for in silence I find no rejection. With each breathes, I seek to purge myself of the distractions that clutter my mind and weigh heavy on my soul. I yearn for the purity of heart that comes from surrendering to the Divine, from letting go of the attachments that bind me to the illusions of this world. In the depths of my being, I am drawn to the light of truth, to the essence of love that flows like a river of grace, cleansing, purifying, and renewing.

    Let silence take you to the core of life. In the stillness of the night, I listen for the heart, for the guidance that comes from a place beyond words. It is in the quietude of my soul that I find solace, that I feel the presence of the Beloved drawing me ever closer. And as I journey on this path of longing and love, I trust that with each step, my heart is cleansed, my spirit is renewed, and I am brought ever closer to the Divine embrace.

    Be quiet, the secret cannot be spoken, It is wrapped in silence.

    For I want that love that is the silence of eternity.

    Photo by Mario Dobelmann on Unsplash

Design a site like this with WordPress.com
Get started