RSS

Kopi dan Gula

Pemuda itu terlihat begitu sembrawut penampilannya. Kaos oblong merah marun, celana jeans yang ada jahitan bekas kecelakaan dibagian paha kanannya, jam tangan yang terikat kencang karena kekecilan ditangan kirinya, kakinya dibalut sepatu model anak ABG tanggung warna abu-abu, dan tak lupa tas pinggang kecil yang senantiasa melingkar dari bahu kirinya. Kurasa ia tak terlalu peduli dengan penampilannya, terus saja ia berjalan tanpa menghiraukan sekitarnya, matanya melirik ke android digenggamannya dengan aplikasi maps terbuka, sambil sesekali celingukan menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia tengah berada di blok M, pertama kalinya kurasa.

Scene selanjutnya, ia terlihat memasuki sebuah kedai kopi. Filosofi Kopi namanya, sebuah kedai kopi di sekitaran Blok M yang mengingatkan pada sebuah film yang tahun lalu diputar beberapa waktu. Aku yakin ia pun tidak terlalu memikirkan soal apa korelasi nama kedai dan film itu, entah mungkin memang kedai itu yang digunakan sebagai core dalam film itu sekalipun, bahkan bisa jadi ia pun belum sama sekali menonton film itu. Hanya wajah kagumnya yang terlihat semburat sore itu ketika ia malu-malu membuka pintu kedai. Aroma semerbak biji kopi yang digiling, asap-asap kepulan yang terangkat dari kopi yang baru kelar diracik, hingga ornamen-ornamen batubata yang terlihat sederhana namun artistik dimatanya. Ia hanya merasa puas, kurasa.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 11 September 2016 in Cerita Gue!

 

Tags: , ,

AKU dan DIA

Kami turun dihalte busway yang sama sore itu. Halte Manggarai. Halte pemberhentian akhir untuk rute 9, busway Trans Jakarta koridor Blok M – Manggarai. Sesaat setelah bus merapat, tak seperti sebagian penumpang yang sibuk mengambil barisan antrian untuk melanjutkan ke rute busway selanjutnya, kami langsung saja keluar dari halte itu menuju jembatan penyeberangan. Jembatan yang kemudian terbelah, ke kiri untuk menuju Stasiun Bus Manggarai dan ke kanan untuk menuju Stasiun Kereta Manggarai.

Kutebak, mungkin itu pertama kali bagi-NYA berpergian melalui stasiun Manggarai. Jelas sekali DIA terlihat bingung, menunggu seseorang lewat untuk dijadikan tempat bertanya diatas jembatan penyeberangan itu. Malu bertanya sesat dijalan, bisa jadi juga itu peribahasa yang DIA anut hingga berani menyapaku yang baru naik ke jembatan membuntuti dibelakang-NYA. “Mas, kalau ke stasiun kereta ke sini kan ya?”, sambil tangan-NYA menunjuk ke arah kanan. “Iya mbak, lewat sana”, aku mengiyakan dengan isyarat jempol yang juga kuarahkan ke arah kanan.

Aku mengekor [lagi] dibelakang-NYA yang berjalan tergesa menuruni anak tangga jembatan itu. Tenang saja, kata mengekor disini bisa kukatakan ada diradius aman, aku berada jauh beberapa langkah dibelakang-NYA hehehe :D. Anehnya, sampai diujung jembatan aku terheran melihat-NYA malah berbalik dari arah jembatan, putar balik dari arah yang kutunjukkan. Karena seingatku kawan, stasiun Manggarai arahnya lurus satu arah dari jembatan, bukan berbalik arah.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on 26 June 2016 in Cerita Gue!

 

Bicara Cinta

Mungkin setiap hari, “sang petang” dan “sang pagi” akan senantiasa berdebat. Mencari tahu siapa yang sebenarnya lebih dulu tenggelam. Matahari yang menyinari pagi duluan atau petang hari yang menenggelamkan matahari lebih dulu. Atau sebenarnya keduanya sendiri hanyalah objek dari perputaran bumi, bulan dan matahari? Atau bisa saja keduanya hanyalah sebuah kamuflase sebutan, sekedar penanda bahwa waktu telah berganti dan berlalu? Ah, lagi-lagi semua hanya ulasan tanpa arti, tanpa kejelasan. Frasa ini ibaratkan cinta, ia tak berbentuk, tak terdeteksi, tak beralasan, tak jelas. Ia hanya tergantung bagaimana sudut pandang kita melihat dan mengenyamnya.

***

Pagi itu aku sibuk berlari berselempang tas kecil, terengah turun dari halte busway. Hari itu libur, setidaknya setelan kaos oblong berbalut jaket biru parasut dipadu celana jeans cream dan sepatu cats yang kukenakan, jelas terlihat kontras dengan seragam hitam-putih-berdasi yang biasa kupakai di hari kerja. Keberadaanku di jalanan pun juga ikut memberi arti aku benar-benar libur hari ini.
Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on 8 February 2016 in Cerita Gue!

 

Bolehkah aku merindu?

Jakarta, 1 Januari 2016…

Sudah menginjak dua bulan kota ini menjadi tempat peraduanku menghampar lembaran kehidupan.
Hari demi hari senantiasa kuhabiskan dimeja kerja menjalankan tugas layaknya karyawan umumnya di salah satu badan pemerintahan. Kini rute hidupku tak terlalu fluktuatif, hanya berkutat dikos – kantor – masjid – warteg – sesekali kongkow bareng teman seperjuangan.
Sejauh ini semua berjalan lancar. Kehidupan Jakarta pelan tapi pasti juga mulai kerasan kurasakan.
Setidaknya fase ini menuntutku untuk lebih cakap dalam menata waktu, terutama untuk ibadah kepada Maha Pemberi Kelancaran itu sendiri.
Ah alangkah naifnya jika aku kerja pagi-siang-malam tapi lupa memprioritaskan waktu untuk Sang Pencipta, apalah yang bisa ku kejar kecuali harapan keberkahan pada tiap tetes keringat ini.

DSC_0364

Sore itu terasa begitu berbeda. Entahlah apa yang berbeda. Tapi view-nya memang terasa cukup menggelitik untuk dijepret dengan modal kamera smartphone, sedikit jiwa fotografer abal-abal pikirku.
Panorama sore itu yang begitu nyaman, yang kutatap dengan seksama dari atas balkon (sebenarnya genteng kos yang kebetulan mudah dipanjat) tanpa sadar memaksaku untuk memutar ulang memori masa lalu. Mengingat kembali apa saja yang sudah kutinggalkan usai memutuskan bekerja dikota ini.
Satu-per-satu screenshot kenangan itu tersusun berjejer dihadapanku, menuangkan kembali…apa yang kusebut rindu…

Read the rest of this entry »

 
4 Comments

Posted by on 1 January 2016 in Cerita Gue!

 

Kuinjakkan Kaki Ditanah Papua

Relung pikiran menyeruak mengingatkanku kembali pada satu kalimat pamungkas yang pernah terpatri begitu dalam dalam dimensi otak kecilku.
“Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpimu” – kata mutiara dari Arai, seorang tokoh yang diciptakan Andrea Hirata dalam novel bersequelnya, Sang Pemimpi. Salah satu penulis yang selalu kukagumi karena keluasan literasi tulisannya.
Tanpa disadari, kalimat itu menyertai setiap mimpiku dalam bahtera kehidupan ini, satu persatu, pelan namun pasti.

—–
dsc_0042.jpgAh, siapa sangka mimpi kecilku untuk menginjakkan kaki diberbagai wilayah negeri ini akan dimulai hari itu. Tanggal 3 Desember 2015, menjadi kali pertama kaki ini menapak di tanah Papua – kota Jayapura. Dan insyaallah, itu akan menjadi pijakan pertamaku mewujudkan mimpi yang kuceritakan tadi, menjelajahi Indonesia.
Pekerjaan sebagai Technical Support dari bagian Networking – TI Kantor Pusat salah satu BUMN tempatku kini berkarir, kadang mengharuskan untuk ikut serta dalam proses konfigurasi langsung, face to face.
Ya, mungkin ini salah satu nilai plus dari penempatan di kantor pusat, mungkin juga ini sebuah “jalan” untuk impian itu yang memang sudah Allah rangkaikan dengan begitu cantiknya. Alhamdulillah 🙂

Read the rest of this entry »

 
12 Comments

Posted by on 12 December 2015 in Cerita Gue!

 

Beliau Penjual Bubur

image

Pagi itu sama seperti pagi biasanya. Tak jarang mobil-mobil mewah berseliweran di gang kecil sekitar kosku. Gojek, grabbike, taksi bluebird, silverbird, dan family-nya juga tak mau kalah memenuhi desakan mobil-mobil kinclong itu. Tak kurang juga dari 10 orang bapak-bapak berseragam berjaga dipintu-pintu masuk sebuah mall depan kosku. Itu saja? Yah, sebenarnya ini hanya pagi biasa yang terjadi setiap hari didepan kosku.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 30 November 2015 in Cerita Gue!

 

Denting Waktu

image

Kring… Kring…
Tiba-tiba gendang telinga itu dikejutkan oleh suara deringan handphone yang berbunyi begitu kencangnya, meraung membangunkan pemiliknya dari tidur lelapnya semalaman.

“Ah sial, telat kerja nih!”, ucapan pertama yang keluar dari bibir anak muda itu usai terbelalak melihat alarm dihandphone nya yang menunjukkan 10x alarm tunda, jam analog dipojok kanan layarnya sudah nangkring di angka 07:39. Tangannya dengan cepat meraih handuk dan perlengkapan mandi yang tergeletak diujung lemari, melesat menuju kamar mandi.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 26 November 2015 in Cerita Gue!

 

Dipertigaan Rantauan

Ah baru 10 hari…

Tentu saja 10 hari belumlah waktu yang lama untuk diperbincangkan. Ayam saja belum selesai mengeram dalam kurun waktu sesingkat itu.
Saya baru secara resmi menginjakkan kaki di ibukota republik ini, Jakarta, dengan niat untuk menetap mulai rabu 11 November 2015 lalu.
Entahlah, belum pernah terbayangkan sekalipun bahwa pada akhirnya diri ini harus tersadar berada ditanah rantauan.

image

Bukan soal rantaunya yang saya permasalahkan. Saya sejatinya bukan orang yang anti-merantau. Sejak SMA saya sudah tidak tinggal dirumah (walaupun jaraknya cuma perjalanan darat 45 menit) karena beda kota. Waktu kuliah pun lebih banyak saya habiskan diwilayah kampus dibanding dirumah. Pun waktu masuk ke dunia kerja, saya juga hidup 58 km dari rumah dan pulang hanya sebulan sekali.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on 22 November 2015 in Cerita Gue!

 

Menulis itu…

Last post, 30 Mei 2014…
Bukan… Itu bukan tanggal lahir siapapun. Tanggal itu hanya berbicara mengenai tulisan terakhir saya diblog ini. Sudah jauh membentang ternyata. Lebih dari 1,5/100 abad yg lalu blog ini tak lagi saya buka 😀

Baru-baru ini saya bertemu dengan seseorang, walaupun hanya lewat chat. Tapi setidaknya “pertemuan” ini sedikit banyak memberikan pandangan mindset baru bagi saya, mengenai apa itu menulis. Dan itulah yang kemudian menggerakkan jari ini kembali untuk bersentuhan mesra merangkai kata lewat touchpad (soalnya notebook lagi rusak, cuma smartphone yang bisa jadi pilihan haha)

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 21 November 2015 in Cerita Gue!

 

Enam Bulan Lalu….

1499503_778442622169755_1574412960_nTangan ini sudah begitu kaku untuk menari diatas dashboard blog, terhitung sejak postingan terakhir 3 bulan lalu blog ini sudah sepi layaknya perpustakaan 😛
Mungkin ini saking sudah terlalu capeknya jari-jemari saya dipake ngetik skripsi sampe harus vakum dari dunia per-blog-an wkkwk #abaikan
Tapi malam ini sepertinya sang keyboard berhasil memancing jari-jari saya untuk berjingkrak-jingkrak diatasnya…

Inspirasi tulisan kali ini datang sepulang dari agenda iftor kosong-sembilan di Indralaya sore tadi.
Dari agenda itu, saya baru beranjak pulang jam 8 malam menuju ke rumah. Dan dijalan yang lengang, sepi serta gelap itulah pikiran saya berloncatan kesana kemari. Memutar kembali film-film dari brankas memori. berteleportasi dengan mesin waktu ke kenangan masa lalu, hingga akhirnya saya ingat. Malam ini tanggal 29 bulan Mei, tepatnya enam bulan silam, 29 November, saya didemisioner dari kepengurusan DPM KM UNSRI, didepan Kongres Mahasiswa Universitas Sriwijaya. Pergi pagi pulang malam adalah rutinitas yang saya jalani dimasa itu. Mungkin karena itulah jalanan malam ini kembali mengingatkan saya pada saat-saat itu.

Yaaaa anda benar! Tulisan kali ini akan saya dedikasikan khusus untuk rekan-rekan DPM KM UNSRI 2012/2013…untuk mengingat kembali kalian, disatu periode ke belakang 🙂

*Bentar, nyeduh mie rebus sama capucino dulu 😛

…baca selengkapnya

 
6 Comments

Posted by on 30 May 2014 in Cerita Gue!

 
 
Pecinta Biru

Visioner adalah ia yang menjadi seorang konseptor sekaligus eksekutor

Mozaik Kata NB_Senja

Sederhana dan Bersahaja

Septi ReMu Siregar

كل معروف صدقة

My Blog

Journey to Precious Human

Prasasti Feny

wakafabillahisyahida

algoritma udafajar

There are too many reasons to quit, any normal person would just quit

Ayualfath

Setiap Lembaran Kisah adalah Rasa.. ^_^