Pemuda itu terlihat begitu sembrawut penampilannya. Kaos oblong merah marun, celana jeans yang ada jahitan bekas kecelakaan dibagian paha kanannya, jam tangan yang terikat kencang karena kekecilan ditangan kirinya, kakinya dibalut sepatu model anak ABG tanggung warna abu-abu, dan tak lupa tas pinggang kecil yang senantiasa melingkar dari bahu kirinya. Kurasa ia tak terlalu peduli dengan penampilannya, terus saja ia berjalan tanpa menghiraukan sekitarnya, matanya melirik ke android digenggamannya dengan aplikasi maps terbuka, sambil sesekali celingukan menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia tengah berada di blok M, pertama kalinya kurasa.
Scene selanjutnya, ia terlihat memasuki sebuah kedai kopi. Filosofi Kopi namanya, sebuah kedai kopi di sekitaran Blok M yang mengingatkan pada sebuah film yang tahun lalu diputar beberapa waktu. Aku yakin ia pun tidak terlalu memikirkan soal apa korelasi nama kedai dan film itu, entah mungkin memang kedai itu yang digunakan sebagai core dalam film itu sekalipun, bahkan bisa jadi ia pun belum sama sekali menonton film itu. Hanya wajah kagumnya yang terlihat semburat sore itu ketika ia malu-malu membuka pintu kedai. Aroma semerbak biji kopi yang digiling, asap-asap kepulan yang terangkat dari kopi yang baru kelar diracik, hingga ornamen-ornamen batubata yang terlihat sederhana namun artistik dimatanya. Ia hanya merasa puas, kurasa.






