Aduh … Anakku Mogok Sekolah!

Standard

“Kenapa anakku mogok sekolah ?”, tanya sepupu saya.
“Anak kamu yang mana ? Yang gede ?”, jawab saya.
“Bukan yang bungsu. Yang 5 tahun.”, sahut sepupu saya.

Hmmm … mendadak timbul pertanyaan dalam diri saya, “mengapa anak usia 5 tahun sudah enggan sekolah?” Rasanya, saat saya kecil dulu, saya suka sekali sekolah TK. Walau belum waktunya sekolah -karena masih berumur 4 tahun –  saya sudah minta sekolah. Akhirnya, orangtua saya mengalah. Saya didaftarkan di sekolah yang dekat dengan rumah dan diterimalah saya di sekolah itu sebagai anak pupuk bawang !

Memang akhir-akhir ini, sering dijumpai anak prasekolah (belum SD) sudah mengalami peristiwa mogok sekolah. Sewaktu saya masih mengajar di TK-PG, saya juga mengalami hal yang sama dengan murid-murid saya. Kebanyakan mogok sekolah ini terjadi pada hari Senin, setelah libur Sabtu dan  Minggu atau setelah liburan panjang. Ada apa ya ?

Mogok sekolah atau dalam bahasa kerennya, School Refusal, adalah kejadian dimana seorang siswa mengalami keengganan untuk datang ke sekolah karena suatu sebab. Mogok sekolah ini kasus yang masih ringan dibandingkan dengan fobia sekolah. Fobia sekolah / School Phobia biasanya lebih sering disertai dengan gejala fisik misalnya tiba-tiba sakit kepala, muntah, sakit perut dan perasaan tegang, takut yang berlebihan ketika akan masuk sekolah. Mogok sekolah yang kurang ditangani dengan baik biasanya akan berkembang menjadi fobia sekolah.

Ada beragam penyebab terjadinya mogok sekolah. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari mogok sekolah :

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di rumah atau ada yang ingin dilindungi di rumah

Penyebab ini tampaknya yang membuat keponakan saya enggan untuk sekolah. Di rumah, orangtuanya sedang dalam keadaan perang dunia ke III. Secara naluriah, seorang anak ingin melindungi keluarganya atau salah satu dari kedua orangtuanya. Naluri ingin melindungi ini yang menyebabkan ia tidak ingin meninggalkan rumah karena takut akan terjadi sesuatu dengan keluarga atau salah satu dari kedua orangtuanya.

Jika hal ini yang menjadi penyebab maka tentunya relasi kedua orangtua harus diperbaiki lebih dulu. Atau minimal dilakukan gencatan senjata dulu dan apabila perang akan dilanjutkan, alangkah baiknya jika tidak didepan anak-anak. Bicarakan masalah apapun dengan kepala dingin dan hati dewasa sehingga tidak akan membuat anak-anak kita menjadi terancam. Ingat anak-anak memiliki perasaan yang peka terhadap keadaan orangtuanya.

Di rumah lebih enak, karena aku bisa lebih bebas, bermain PS atau yang lainnya

Ada orangtua yang mengijinkan anaknya untuk bermain dengan bebas apabila anaknya tidak sekolah. Ketika saya tanya mengapa anak diijinkan untuk bermain hal yang ia sukai semaunya maka kebanyakan  orangtua menjawab bahwa mereka tidak ingin direpotkan oleh anak yang tidak sekolah. Makanya banyak orangtua meminta anak untuk menyibukkan diri dengan segala aktivitas menyenangkan di rumah. Faktor inilah yang bisa menyebabkan anak lebih memilih untuk dirumah daripada sekolah.

Hal lain yang bisa menyebabkan keadaan di rumah lebih menyenangkan adalah proses pembelajaran di sekolah membosankan. Apabila hal ini yang terjadi maka kita harus berdiskusi dengan guru untuk membuat suatu proyek atau aktivitas yang dapat menarik minat anak. Namun untuk tingkat prasekolah, penyebab yang satu ini jarang terjadi.

Ada kejadian yang tidak mengenakkan di sekolah sehingga anak menjadi takut sekolah

Pengalaman disakiti oleh teman (dipukul, didorong hingga jatuh, dimusuhi—bullying) dapat menyebabkan seorang anak prasekolah menjadi takut untuk sekolah. Apabila hal ini terjadi, kita bisa meminta bantuan pada guru dengan menceritakan penyebab anak takut dan meminta guru untuk memberi perhatian ekstra terhadap proses interaksi di kelas.

Adanya hal baru di sekolah juga dapat menyebabkan anak enggan untuk sekolah misal adanya guru baru, kepala sekolah baru, atau barang baru yang tidak disukai oleh anak. Kerjasama dengan guru perlu dilakukan apabila penyebab ini yang menyebabkan anak kita tidak mau sekolah. Pendekatan perlahan-lahan dan mengajak anak bermain bersama dengan benda/orang yang ia takuti akan membantunya menimbulkan perasaan berani.

Perasaan kurang disayang dalam diri anak

Perasaan diabaikan dalam diri anak akan menyebabkan ia memunculkan perilaku yang mengakibatkan ia diperhatikan oleh orangtua. Jika ia tidak masuk sekolah maka ayah/ibu akan bingung dan (minimal) ia akan diajak berbicara bukan? Proses pembicaraan atau ditemani inilah yang dinantikan oleh anak walau proses ini tidak enak. Bagaimana jika penyebab ini yang terjadi ? Yaa… jawabannya adalah di pengisian tangki cinta. Lihat DVD Tangki Cinta Anak yang telah dikeluarkan oleh SekolahOrangtua.com yang merupakan rekaman 3 jam seminar dari Bapak Ariesandi.

Ada kalanya, kehadiran adik baru juga dapat menyebabkan anak menjadi enggan untuk sekolah. Perasaan takut kehilangan ibu menyebabkan ia bertingkah seperti bayi lagi dengan harapan ibu akan memperhatikan dirinya seperti ibu memperhatikan adik baru.

Meluangkan waktu dan melibatkan anak si sulung akan banyak membantu anak dalam beradaptasi dengan adik barunya.

Apa yang harus kita lakukan saat anak kita tidak mau sekolah ?
Kunci utama dan paling utama adalah : tenang. Berpikirlah dengan jernih, tiap permasalahan pasti ada penyebab. Hadapi anak kita dengan netral dan bersikap tenang akan sangat membantu anak kita dalam menghadapi permasalahan.

  1. Langkah pertama adalah dekati anak kita dan berbicaralah dari hati ke hati mengenai penyebab ia tidak mau sekolah. Gunakan pertanyaan,”Apa yang terjadi di sekolah yang menyebabkan kamu tidak mau sekolah ?”. Jika anak tidak mau menjawab, kita dapat gunakan pertanyaan “yes no question” untuk memancingnya. “Apakah ada teman baru ?” atau “Ada sesuatu di sekolah yang tidak kamu sukai ?”. Atau “Apakah kamu dimarahi oleh seseorang di sekolah ?”. Gunakan intonasi yang rendah dan bersahabat. Tundukkan mata kita hingga sejajar dengan mata anak kita. Gunakan bahasa tubuh yang bersahabat bukan bahasa tubuh menginterograsi.
  2. Amati perilaku anak sebelum kejadian mogok sekolah. Apakah ia murung, tampak ketakutan, atau menyendiri. Jika  iya, maka dapat diartikan ia baru saja mengalami hal yang tidak mengenakkan dan menakutkan.
  3. Berkomunikasilah dengan guru di sekolah, mungkin beliau mengetahui informasi yang belum diceritakan oleh anak kita.
  4. Doronglah anak untuk menghadapi ketakutannya dan bekali anak dengan cara untuk menghadapinya. Misalnya : dengan berani mengatakan “tidak suka” saat diperlakukan kurang baik oleh temannya. Atau menemani dia ke sekolah untuk menemani anak mendekati benda atau orang yang tidak disukainya. Langkah ini tergantung pada penyebab ia tidak mau sekolah.
  5. Jika anak terpaksa diliburkan pada hari itu karena kita tidak memiliki waktu cukup untuk menggali permasalahan anak atau menemani anak ke sekolah maka yang harus kita lakukan adalah memberikan pekerjaan di rumah (bukan permainan) dan hindarilah aktivitas yang disukai anak untuk mengisi waktunya selama di rumah. Mintalah anak untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di rumah atau mengerjakan latihan soal di rumah sebagai pengganti pelajaran di sekolah. Sewaktu pulang sekolah, mintalah anak untuk bertanya dan berkunjung ke rumah teman, guna menyalin materi pelajaran yang tidak ia ikuti.
  6. Bekerjasamalah dengan guru di sekolah dengan meminta pekerjaan sekolah yang harusnya diselesaikan di hari anak tidak masuk sekolah. Atau mintalah guru anak kita berkunjung ke rumah. Cara ini manjur saya terapkan pada salah seorang murid saya yang memang kurang memiliki rasa aman dalam dirinya  (ada masalah ketika di dalam kandungan ibunya). Kunjungan saya ke rumahnya membuat ia merasa bahwa saya adalah salah satu dari teman mama yang baik hati. Jadinya ia mau sekolah keesokan harinya.

Sumber pembelajaran lain yang bisa Anda dapatkan adalah buku “Rahasia Mendidik Anak agar Sukses dan Bahagia” yang ditulis oleh Bapak Ariesandi S., CHt yang bisa didapatkan di toko buku Gramedia.

Jika kita sudah menjalankan seluruh langkah diatas namun anak kita tetap memilih tidak mau sekolah, apa yang harus dilakukan ? Ini saatnya kita meminta bantuan orang yang lebih ahli. Kita dapat meminta bantuan pada psikolog atau tim konselor SekolahOrangtua.com yang terdekat. Mungkin ada penyebab yang tidak kita ketahui yang terekam di bawah sadar anak sehingga ia mengalami keenganan luar biasa untuk datang ke sekolah. Jika hal ini yang terjadi maka bantuan dari pihak yang lebih ahli untuk menetralkan pengalaman emosional tersebut sangat kita butuhkan.

Semoga artikel ini dapat membantu para orangtua Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Salam hangat penuh cinta untuk Anda sekeluarga

Sandra M.,MPsi, Psikolog (Partner Konselor SekolahOrangtua.com)

sumber: http://www.sekolahorangtua.com

Berteman Sejak Kecil Membuat Anak PD

Standard

KOMPAS.com Melatih anak untuk bersosialisasi dengan teman sebaya sedari dini akan membantu mereka saat sekolah nanti. Anak akan lebih siap untuk mulai sekolah. Yang paling penting, anak-anak itu nantinya akan tumbuh menjadi anak yang lebih bahagia dan percaya diri.

Kesiapan sekolah bukan dinilai dari kemampuan anak semata, baik dalam membaca, menulis, maupun berhitung. Kemampuan bersosialisasi juga menjadi bagian penting dalam kesiapan anak bersekolah.

Alangkah baiknya jika anak sudah mulai diajak bermain dengan teman sebayanya. Dalam situs National Health Service bahkan dijelaskan bahwa tidak ada kata terlalu dini bagi anak untuk mulai berteman. Apalagi bila mereka adalah anak tunggal.

Saat bayi baru belajar merangkak sekalipun, orangtua bisa mulai bergabung dengan orangtua lain yang memiliki bayi seusia. Anda bisa berkenalan dengan orangtua lain saat berada di dokter anak. Anda juga bisa mencari teman kerja atau kuliah yang sudah mempunyai anak dengan usia tak jauh berbeda.

Membuat pertemuan atau kunjungan rutin dengan para orangtua ini memiliki banyak manfaat. Selain bayi atau anak dapat bermain dan bersosialisasi dengan teman sebaya, Anda sebagai orangtua dapat bertukar informasi seputar pengasuhan bayi.

Ada kalanya orangtua memasukkan anaknya yang belum berusia satu tahun di taman bermain. Ini semata agar anaknya dapat bersosialisasi dengan anak-anak seusianya meskipun, misalnya, belum bisa bicara.

Meski belum dapat berbicara, anak-anak tetap bisa berteman. Anak-anak tetap makhluk sosial dan menikmati saat mereka berada di dekat anak-anak lain.

Belum bisa berbagi

Hanya, kepada anak yang berusia 1,5 atau 2 tahun, jangan berharap mereka bisa langsung bermain dan dekat dengan anak lain. Hingga usia 2 tahun, anak belum benar-benar bermain dengan anak sebayanya.

Penyebabnya tak lain, mereka belum siap untuk melakukan pertemanan yang umumnya melibatkan kerja sama, mendengar, merespons, bergantian, dan berbagi. Yang baru bisa mereka nikmati adalah bermain dengan teman-teman yang ada di sekelilingnya.

Anak akan saling memerhatikan dan meniru apa yang dilakukan dan dikatakan. Di sini, anak akan mengasah kemampuan sosialnya satu sama lain.

Bisa saja anak belajar mengatakan “tolong” saat melihat temannya melakukan hal serupa dan mendapat respons yang menyenangkan. Selain itu, dari teman-teman yang ada di sekitarnya ini, anak juga dapat membangun kreativitas.

Memang, bermain pada usia 2 tahun bisa menimbulkan masalah lain. Boneka atau mobil-mobilan yang sedang dipegang seorang anak bisa membuat anak lain juga ingin mencoba memainkannya. Masalahnya, biasanya anak belum mau berbagi mainan dengan anak lain.

Jangan khawatir, konflik tersebut nantinya akan membuat anak belajar berbagi dan bekerja sama. Ketika anak menjelang usia tiga tahun, barulah mereka bisa bermain dan berbagi dengan satu atau dua teman spesialnya selama beberapa waktu tanpa pertengkaran.

Jarak Kelahiran 2 Tahun Cerdaskan Anak

Standard

Kompas.com – Mengatur jarak kelahiran bukan hanya menyehatkan ibu dan bayi tapi juga berefek pada kecerdasan. Anak sulung yang lahir dua tahun lebih awal dari adiknya cenderung lebih cerdas dibanding anak yang jarak kelahirannya berdekatan.

Kesimpulan tersebut disampaikan Kasey Buckles, asisten profesor ekonomi dari Universitas Notre Dame. Menurutnya jarak kelahiran dua tahun paling ideal untuk kecerdasan anak.

Beberapa pendapat mengatakan memiliki anak yang jarak kelahirannya rapat bisa membuat anak tumbuh bersama sehingga punya teman sebaya. Sementara pendapat lain menyebutkan sebaiknya jarak kelahiran tidak berdekatan sehingga anak yang lebih tua bisa lebih mandiri saat si adik lahir.

“Ada banyak filosofi konvensional mengenai jarak kelahiran yang terbaik, tetapi belum banyak bukti ilmiah yang bisa membuktikan apa yang terbaik untuk anak mereka. Studi ini adalah yang pertama kalinya,” kata Buckles.

Ia menjelaskan, bila jarak kelahiran kurang dari dua tahun, perhatian dan pengasuhan orangtua pada si kakak mungkin akan berkurang. “Dengan dua balita kecil yang harus diurus waktu orangtua akan tersita untuk mengasuh yang lebih kecil,” katanya.

Bukan hanya itu, menurut penelitiannya usia si kakak yang beda sedikit dengan adiknya cenderung lebih sering menonton televisi di usia 3 tahun dan kurang suka membaca dibanding anak yang usianya beda 2 tahun atau lebih dengan adiknya.

Dalam penelitannya Buckles dan timnya melihat data 3.000 wanita yang melahirkan 5.000 pasang kakak beradik. Anak-anak itu kemudian dites membaca dan matematika saat mereka berusia 5 dan 7 tahun.

Hasilnya anak-anak yang berbeda usia 2 tahun atau lebih memiliki skor yang lebih tinggi dibanding anak yang usianya berbeda sedikit dengan si adik.

Sayangnya hasil studi tidak menunjukkan apakah manfaat yang dirasakan si adik terkait jarak usia dengan si kakak.

sumber: kompas.com

Bijak Menghukum Anak

Standard

Anak berbuat salah itu biasa, terkadang cukup dengan menegurnya ia pun mengerti dan membuatnya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun adakalanya sebuah kesalahan yang diperbuat oleh anak menjadi tidak dapat diterima karena bersifat fatal sehingga kita pun berpikir untuk memberinya hukuman dengan maksud agar ia jera dan tak mengulangi kesalahan yang sama di masa mendatang. Adalah hal yang wajar jika sebuah kesalahan diganjar dengan sebuah hukuman, meskipun sebetulnya memaafkan itu lebih baik. Memberi hukuman kepada anak yang berbuat salah dapat menjadi sebuah pilihan di kala tujuan kita adalah untuk memberinya pelajaran, bukan untuk menyiksanya. Namun hati-hati, alih-alih membuat anak jera, jika caranya tidak tepat justru membuat anak trauma psikis, bahkan dendam kepada orang tua.

Sebelum berpikir untuk memberikan hukuman kepada anak, hendaklah memperhatikan hal-hal berikut:

Pertama, Buatlah kesepakatan bersama dengan anak tentang hal-hal yang boleh dan tidak diperbolehkan untuk dilakukan. Hal ini dapat menjadi dasar yang kuat bagi anak untuk berjuang dan berusaha melakukan apa yang telah disepakati bersama. Penanaman karakter sejak dini akan membantu anak mematuhi norma-norma keluarga meskipun tanpa harus tertulis hitam di atas putih, ia tertanam kuat di dalam jiwanya, sehingga inilah yang akan membuat karakter positif di dalam dirinya memancar sangat kuat. Pahamkan kepada anak tentang konsekuensi logis alamiah dari setiap kesalahan yang dapat dilakukan, misalkan jika bangun terlambat otomatis ia akan ketinggalan bus, terlambat sampai di sekolah, dan seterusnya. Jika ia menghamburkan makanan ringannya, ia akan kehilangan kesempatan menikmati snack pada hari berikutnya karena Ibu tidak akan menambahkan snack dalam daftar belanja bulan ini, dan seterusnya.

Kedua, Jika anak terlanjur berbuat kesalahan, konfirmasikan tentang kesalahan yang telah anak perbuat, seperti mengapa ia melakukan hal tersebut, bisa saja ia melakukan bukan karena sengaja ingin membangkang kepada orang tua, tetapi lebih karena ia penasaran terhadap suatu hal atau terpengaruh oleh teman-temannya. Hal yang wajar jika usia anak hingga remaja memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap sesuatu yang baru. Hal ini mendukung sistem komunikasi terbuka antara anak dan orang tua, anak terdorong untuk menceritakan yang sebenarnya karena percaya kepada orang tuanya.

Ketiga, Agar anak mengerti bahwa orang tua sangat marah dan kecewa atas apa yang telah dilakukannya, maka kemukakan apa yang dirasakan kepada anak. Ini membantu anak untuk mengerti bahwa perbuatan yang dilakukannya tidak dapat diterima dan membuat kecewa, sehingga timbul perasaan tidak enak dalam diri anak. Katakanlah, “Ibu sangat marah dan kecewa dengan apa yang kamu lakukan”, “Ayah kecewa kamu melakukannya”, dan sejenisnya. Biarkan anak memikirkannya sejenak, tentang apa yang telah diperbuatnya dan juga perasaan anda sebagai orang tuanya.

Keempat, Hendaknya suasana tidak enak seperti itu jangan sampai terbawa lama-lama, artinya, ekspresikan bahwa meskipun anak Anda telah berbuat kesalahan, Anda tetap mencintai dan mendukungnya. Ungkapan ini tidak mesti berupa untaian kalimat, “aku sayang kamu” atau “aku tetap mencintaimu”. Pelukan hangat, senyuman yang tulus dan sebuah ide makan malam bersama di warung/restoran favorit akan menunjukkan bahwa anda tetap mencintainya.

Kelima, Apakah boleh menghukum anak? Kalau saja kita dapat memilih, tentu saja kita akan memilih untuk menghindari hukuman dalam mendidik anak-anak kita. Namun ada beberapa konflik yang sifatnya kasuistik yang tak mampu kita hindari. Dan dalam hal ini rujukan kita adalah kisah-kisah nubuwwah yang Rasulullah wariskan kepada umatnya. Diriwayatkan dari Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al Hakim bahwa Nabi SAW bersabda, “ Suruhlah anak-anakmu melakukan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun; dan pukullah mereka (karena meninggalkannya) ketika mereka berusia sepuluh tahun; dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. Dari hadits tersebut apa yang kita pelajari? Ya, dari hadits tersebut Rasulullah secara tersirat menyampaikan bahwa didiklah anak untuk mendirikan shalat sebelum menghukum mereka karena meninggalkannya. Waktu 3 tahun dari tujuh menuju sepuluh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk mendidik anak kita tentang kewajiban shalat, maka perhatikanlah, bahwa Rasulullah mendahulukan pendidikan penuh kelembutan dan kasih sayang dan mengakhirkan hukuman, yaitu ketika anak tidak melaksanakan apa yang telah kita ajarkan. Dan pukulan yang dimaksud pun bukanlah pukulan yang menyakiti, bukan pukulan yang meninggalkan bekas hitam kemerah-merahan pada tubuhnya, bukan pukulan yang tujuannya menyiksa, namun sebuah pukulan yang memberikannya pelajaran/hikmah bahwa Meninggalkan shalat adalah sebuah perkara besar yang membuat murka Allah SWT, dan jua orang tua yang telah mendidiknya.

Hendaklah dipahami bahwa hukuman yang dilaksanakan dapat memberikan pelajaran bagi anak, dan melatihnya tentang berpikir sebab-akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Hukuman sebenarnya tidak berlaku jika kita sudah berdiskusi dengan anak tentang sebab-akibat dari suatu perbuatan, namun jika ia melanggarnya itu berarti ia sudah siap dengan konsekuensi yang telah ada. Hukuman keras seperti membentak, mencaci, atau pukulan di pantat seringkali tidak efektif dan justru menjauhkan anak dari sikap patuh dan penyesalan atas apa yang diperbuatnya. Apakah berarti hukuman fisik dapat mempengaruhi hubungan anak-orang tua atau harga diri sang anak? Mungkin saja tidak, namun banyak ahli yang merasa tidak nyaman untuk merekomendasikannya sebagai alat pendisiplinan anak, lagipula hukuman fisik sebenarnya tidak perlu kita terapkan selama masih ada cara efektif yang lain.

Renungan: Kita, Bukan Orangtua Malaikat

Standard


oleh Yuk-Jadi Orangtua Shalih pada 26 Agustus 2011 jam 7:11

  Written By: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Direktur Auladi Parenting School/Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)

Email: inspirasipspa@yahoo.com

http://www.auladi.org

 

Ayah, Ibu…..

Ketahuilah, menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita

bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua ‘malaikat’

yang tak boleh kecewa, sedih, capek, pusing menghadapi anak.

Perasaan-perasaan negatif pada anak itu wajar,

bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak

itu yang menjadi fokus perhatian.

 

Artinya, ayah ibu,

sebenarnya kita masih tetap boleh sedih, kecewa pada anak,

tetapi kita sama sekali tak berhak untuk melukai

dan menyakiti anak-anak kita.

Ketahuilah, melotot, mengancam, membentak

dapat membuat hati anak terluka.

Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya.

Tubuhnya bisa kesakitan,

tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

 

Ayah, Ibu…..

Karena kita bukan orangtua malaikat,

maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat

yang langsung terampil berbuat kebaikan.

Mereka tengah belajar ayah,

mereka masih berproses Ibu.

Seperti belajar bersepeda,

kadang mereka terjatuh,

kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh.

 

Demikian juga dengan perilaku anak-anak kita,

mereka bereksplorasi,

mereka berproses,

mereka mengayuh kehidupan

untuk meraih kebaikan

dan menjadi manusia yang berperilaku baik.

 

Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku,

sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal,

padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan.

 

Jika Ayah Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan baik anak

dengan cara yang baik.

Insya Allah kebelumterampilan berbuat baik mereka

akan terus tergerus dari kehidupan mereka.

 

Tetapi Ayah, Ibu,

jika kita menghadapi ketidakterampilan ini

dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan,

mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan.

 

Ayah Ibu….

Yakinlah, ketika seorang anak emosinya kepanasan:

nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk

yang mungkin dapat membuat orangtua jengkel,

siramlah ia dengan kesejukan.

Menyiram kayu yang terbakar dengan minyak panas

hanya membuat ia makin terbakar.

 

Ayah, Ibu…..

Yakinilah, sifat-sifat negatif anak

hanyalah bagian ‘eksplorasi’ untuk mencari cahaya kehidupan.

jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan,

insya Allah anak-anak kita akan akan menebar cahaya untuk kehidupan.

 

Karena itu ayah, ibu…,

jika kadang amarah dengan kejahilian memperlakukan anak

mampir lagi dalam hidup kita,

kamus yang benar adalah ‘inila uji ketulusan’

bukan kegagalan,

terus belajar tentang kehidupan,

bukan tak berhasil dalam kehidupan.

Belajar, memburu ilmu,

adalah ikhtiar yang kita tuju,

karena sebagian kita ketika menikah

tidak disiapkan jadi orangtua.

 

Jadi, ayah ibu,

mari kita terus belajar,

meskipun telah jadi orangtua: belajar….jadi orangtua.

Andaikan keluarga kita kuat,

insya Allah anak-anak kita memiliki ketahanan mental

terhadap lingkungan yang gawat.

“Bu, Tolong Jangan Katakan Itu !”

Standard

Di suatu pagi saya mendengar ibu yang mengeluhkan pada tetangganya mengenai anaknya yang sangat susah sekali makan. Lalu dalam perbincangan tersebut sang ibu lainnya juga mengeluhkan anaknya yang kerap sangat doyan susu, sehingga satu hari bisa menghabiskan sekaleng susu dan ia pun mengeluhkan biaya yang dikeluarkan dalam sebulan untuk membeli susu. Ada pula yang tanpa sadar beberapa kali kedapatan menceritakan bahwa anaknya nakal, tak mau diatur, belum bisa ini, belum bisa itu. Hal ini terus berlangsung berulang-ulang.

Barangkali maksud sang ibu hanya sekedar sharing dan mencari solusi. Jika tujuannya mencari solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi bukankah sebaiknya berkonsultasi pada yang ahlinya.

Yang dikhawatirkan, hal ini malah membuat kita terjebak dengan ber-su’udzon pada sang buah hati. Sikap su’udzon itu jika terus dibiarkan bisa saja merambat menjadi su’udzon pada Sang Penciptanya. Bagaimana mungkin ibu menjadi seorang guru kehidupan bagi anaknya, jika sang guru sendiri tak percaya dengan kemampuan anaknya.

Ibu tersebut lupa bahwa setiap manusia yang diciptakan Allah Swt. adalah masterpiece. Setiap anak memiliki perbedaan dan keunikan satu sama lain bahkan anak kembar siam sekalipun. Ibu adalah madrasah bagi anaknya.

Allah Swt. menurunkan ayat-Nya bahwa manusia diciptakan dengan sebaik baiknya bentuk.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS At-Tin 95:4).

Manusia turun ke bumi manusia lebih mulia dari malaikat sekalipun.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya, aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal ) dari lumpurhitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-KU, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr: 28- 29).

Manusia telah diangkat derajatnya oleh Allah, sampai seluruh malaikat pun diperintahkan untuk bersujud. Namun sayangnya ada manusia yang merendahkan derajatnya sendiri. Maka yang akan diangkat derajatnya adalah manusia yang bertaqwa.

Tentulah kita menginginkan anak kita memiliki derajat yang tinggi di mata Allah dan bertaqwa.

Fitrah manusia adalah belajar. Pernah kah kita memperhatikan bayi yang baru lahir, jangankan berjalan mengangkat kepala saja belum bisa. benar benar terkulai lemah. Lalu seminggu kemudian ia mulai bisa mengangkat kepalanya, kemudian ia belajar duduk, merangkak, merambat lalu berjalan hingga berlari.

Dalam ilmu komunikasi dikenal istilah Redudansi Komunikasi atau pengulangan dalam mengomunikasikan suatu pesan. Redudansi komunikasi memiliki kekuatan mempengaruhi alam bawah sadar manusia. Saat seorang ibu terus menceritakan kekurangan anaknya, dan saat itu pula anak tersebut mendengar.

Maka pesan – pesan yang ia dengar dari sang ibu bisa mempengaruhi alam bawah sadar sang anak. Perhatikan saja betapa mudahnya anak kita menghafal lagu- lagu yang setiap pagi kita putar atau jingle – jingle iklan di televisi . Otak anak bagaikan sponge yang dapat dengan mudah menyerap informasi apapun yang ia dengar, dan lihat.

“Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid,” (QS.Qaaf : 18)

Bangkitlah ibu, ikhlaslah menerima apapun kekurangan anak kita. Segeralah menegakkan kepala. Mari mengubah kekurangannya menjadi kelebihan. Menutupi kekurangannya dengan kelebihan. Tak ada manusia yang sempurna. Konsultasikan pada yang dianggap ahli, bukan malah mengumbar kekurangan anak kita.

Jadilah kamus berjalan bagi anak kita.
Jadilah psikolog langganan buah hati kita.
Jadilah motivator handal untuk anak kita.

Bantulah sang anak menjadi pribadi yang mulia di mata Allah Swt.

Bismillah semoga kita selalu diberikan kekuatan oleh Allah menjaga amanahnya. (Dari berbagai sumber)

http://www.eramuslim.com