Dengerin lagu ini sambil (masih) ngebahas usulan anggaran… knock me out!
Listening to Knock Me Out by Afgan with Berly, Irfa , and zulfian at Administration’s Building, PLTU Tarahan
Preview it on Path
Dengerin lagu ini sambil (masih) ngebahas usulan anggaran… knock me out!
Listening to Knock Me Out by Afgan with Berly, Irfa , and zulfian at Administration’s Building, PLTU Tarahan
Preview it on Path
Berhubung beberapa bulan belakangan ini setiap pulang kantor saya langsung tepar dengan sempurna, rencana pengen segera merampungkan bagian ke-2 tulisan ini jadi luar biasa molor. Bukan apa-apa.. setelah seharian di kantor kenyang mantengin monitor komputer, I’m damn sure that the last thing I wanna do at home is doing the same. But miraculously, here comes Part 2 : Making Itinerary & Budget Plan! yeeeyy.. #cheersyanggapenting tapi perlu buat mengapresiasi diri sendiri kyahahaha…
Menurut saya saat-saat paling excited menjelang keberangkatan traveling yang dah berbulan-bulan ditunggu adalah pas seru nyusun Itinerary dan estimasi budget; sama satu lagi, packing ! Karna itu saya pengen men-share momen-momen itu disini. Sijak hapsida :
Melancong ke negeri Ginseng tidaklah semenakutkan yang dibayangkan. Beneran deh. Buktinya saya yang cuman tau 3 kata dalam bahasa korea : Annyeong haseyo, Gamsahamnida sama Sarangheyo… ternyata bisa juga keliling Seoul dan Busan dengan aman dan selamat hahaha… Itu semua berkat berlimpahnya informasi seputar traveling ke Korea. Apa itu di internet, travelogue (buku) ataupun leaflet, yang bisa membantu memandu perjalanan kita disana.
Untuk Web Portal, http://english.visitkorea.or.kr/enu/index.kto adalah situs yang dengan lengkap menyediakan pelbagai informasi mendetail tentang lokasi, transportasi (rute subway juga bus), tarif masuk dan bahkan waktu operasional lokasi-lokasi wisata tertentu. Lengkap..kap..kap dah pokoknya.. Yang juga terbukti helpful yaitu tulisan-tulisan para blogger yang sharing pengalaman jalan-jalan mereka di Korea. Seru bacanya!
Selain 2 sumber diatas, saya juga searching info lewat buku. Kebetulan buku-buku panduan yang saya pake kemaren semuanya free hehe… yang pertama, Bukunya Claudia Kaunang (gratis karna dipinjemin temen) dan; kedua, Paket Buku Panduan Travel dari KTO (Korean Tourism Organization) yang saya kunjungi langsung kantornya di Wisma GKBI Jakarta, biar bisa sekalian tanya-tanya.
Bisa juga request paket buku panduan KTO ini via email. Tapi berhubung permintaan yang membludak, KTO baru bisa mengirimkannya 3-4 bulan sejak permintaan kita diterima. How to apply to get these free travel guide books? first thing, kita harus nge-like dulu fanpage KTO Indonesia di Facebook. Setelah jadi member kita juga bisa ikutan kuis-kuis atau event-event yang mereka adain di fanpage mereka. Ga jarang hadiahnya itu kupon diskon, tiket nonton pertunjukan, free pass theme park atau bahkan tiket gratis terbang ke Korea. Temen sepenginapan saya disana menang tiket gratis nonton Fantastick sama tiket masuk Petite France. Lumayan banget kan!
Sumber lain yang bisa dimanfaatkan buat menggali informasi adalah nontonin Running Man! This hilarious Variety show bisa jadi referensi, karna selalu memilih lokasi-lokasi syuting yang bagus di Korea. Jujur aja salah satu “wish” saya sebelum berangkat itu, “moga-moga pas lagi disana bisa punya kesempatan buat liat mereka shooting! Beneran pengen banget liat si Grasshopper, Kang Gary sama Kwang Soo!” Tapi wish saya ga kesampean hiks.. yang ada cuma ketemu shooting guerilla interview di Gwanghamun Plaza dengan guest yang saya ga kenal, jadi yaa sudah dilewatin aja dan lanjut jalan-jalan lagi hahaha…
Setelah semua sumber informasi dikumpulkan, selanjutnya tinggal nentuin tempat dan rute perjalanan.
Berikut Itinerary saya taun 2013 kemarin plus dengan expenses nya :
Notes : Kurs per saat itu 1 Won = Rp. 8,9 ; Dan tarif subway 1050 won dengan penambahan 100 won per 4 km. Tapi perasaan saya tiap naek subway kemana aja di seputar Seoul, tarifnya flat 1050 won terus hehe..
Pas lagi jalan-jalan ke Bukchon, kita ngelewatin satu Booth “Free Picture”. Kita diminta buat mau difoto. Ternyata kegiatan ini dalam rangka mempromosikan Visit Korea. Ahjussi yang jadi ketua di booth itu ternyata sempet kerja sebentar di bilangan Kuningan Jakarta. Pas kita tanya kesan dia tentang Jakarta “Uuuh, macet dimana-mana”, ujarnya, hahaha.. ngedenger itu kita sama-sama ketawa. Setelah ngobrol sebentar, Ahjussi itu ngasih kita hadiah beberapa postcard lukisan cat air rumah-rumah tradisional dan meseum-museum unik di Bukchon. I made those myself, katanya. Waaah, bagus loh postcard nya hehe…
Puas bingits foto-foto disini. Cuman karna lightingnya agak temaram dan kami hanya bermodal Camdig doang, alhasil beberapa hasil gambarnya agak gelap. But that’s not a problem at all selama bisa tetap eksis berpose dalam pelbagai gaya andalan hehe.. Disini kami ketemu rombongan anak-anak muda dari Vietnam dan Thailand, sama satu Ibu dari Malaysia yang ditemenin keliling Seoul sama anak laki-laki nya. Ternyata si Ibu dah lama ngidam pengen jalan-jalan kesana, dan akhirnya anaknya yang pergi nemenin dia. So Sweet bgt deh. Mana anaknya ganteng lagi hahaha… kami saling gantian ngambilin foto. Maklum tongsis belum lahir kala itu ^_^
Di Hoehyeon ini kita ketemu satu Ahjumma pemilik toko souvenir yang sumpah baiiiiik dan ramah banget. Sampai speechless pas dia ngasih kami hadiah yang banyaaak banget mulai : seperangkat alat makan dan dompet khas Korea, jepitan rambut, pembatas buku, kaos, sama hiasan dinding ukiran kayu Istana Gyeongbok yang baguuuus bgt. We hugged each other.. and she said she believed that someday (she said in 2015 to be precise) we will come back and visiting her shop again. Hwuaaa, terharuuu… → priceless
Aaaaah.. jadi kepengen balik jalan-jalan kesana lagi deh 🙂 Someday, Fika, someday… hehehe.. #fingerscrossed
Ok that’s a wrap for Part 2. Next, I’m gonna share about “ Part 3 : Funny things during my Travel to Korea.” See Yaaa….
Rada menantang
daya ingat juga nih buat nulis tentang pengalaman traveling ke Korea kemarin. Pasalnya kemarinnya itu dah ampir 9 bulan yang lalu hehehe… Seperti biasa, pas lagi disana diniatin banget pengen mencurahkan setiap jengkal memori yang dialamin selama jalan-jalan. Begitu dah balik ke indonesia, yang ada malah asik nginget-nginget sendiri dan lupa kalo dulu pernah semangat empat lima buat bikin tulisannya di blog hehe… Akhirnya daripada terus asik terbayang-bayang sendiri, lebih baik saya share. Siapa tau bisa jadi salah satu referensi buat yang niat jelong-jelong kesana. Terutama buat para first time traveler seperti saya dan ade saya kemaren.
Take One :
Hal pertama yang musti dilakukan jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan adalah : Hunting Tiket Promo. Pilihan pertama pastinya AirAsia yang dah terkenal sering nawarin tiket promo. Kebetulan kemarin saya dapet early bird Garuda. Lumayan murah juga 3,4 jt PP (incl. breakfast/lunch, bagasi 20kg and taxes). Menurut saya sih kalau beda harga dengan AirAsia masih sekitar 300-400rb, mending milih Garuda aja. Alasannya : udah all in, non-stop flight, plus in flight entertainment nya juga cukup menghibur selama 7 jam perjalanan.
Oiyah, berikut beberapa hal yang perlu jadi pertimbangan pas hunting tiket :
Ada sedikit drama sebelum keberangkatan kami kemaren. Saya salah masukin nama penumpang! Alhasil, nama di tiket saya dengan di paspor beda. Kurang sih lebih tepatnya. Saya lupa kalo pas bikin paspor, nama saya ditambahin nama ayah karena mau dipakai buat paspor haji juga. Dengan still yakin saya masukin namanya sesuai KTP seperti saya biasa beli tiket domestik. Daaaan…stress lah saya karna takutnya gara-gara itu kami jadi batal berangkat, andwaeeee….#plus efek petir bergeludug
Ternyata setelah divonis “Maaf ga bisa, tiket anda Hangus!” oleh beberapa Garuda Agent (di palembang ma jakarta sama aja jawabannya), masalah itu ternyata bisa terselesaikan dengan nulis email ke web admin Garuda dan minta tolong untuk dikoreksi nama di tiket, supaya bisa sama dengan nama di paspor. Kan pada dasarnya cuma nambah nama Keluarga aja. Selang seminggu, nama di tiket sudah terkoreksi dengan sempurna. Fiuuuh, Jeongmal Gamsahabnida, Web admin Garuda!
Take Two :
Reservasi Hotel. Mumpung hari keberangkatan masih lama, bisa dimanfaatin untuk nyari penginapan selama disana. Dah banyak situs yang menyediakan jasa booking penginapan worldwide dengan harga murah. Reviewnya juga cukup objektif. Lumayan membantu untuk jadi referensi. Yang penting lokasinya deket sama subway station, strategis (deket kota, tempat makan/belanja), murah dan bersih. Pastinya layak buat kita beristirahat setelah seharian gempor jalan-jalan hehe… Saran saya, mending milih yang ga butuh di DP in dulu (transfer/PayPal). Just in case ternyata pengen pindah penginepan, jadi ga rugi karna DP nya hangus. Pilih aja pembayaran yang akan dilakukan full saat check in. Menurut saya lebih safe. Kemarin saya mesen lewat booking.com . Bisa juga searching lewat hostelbookers.com , hostelworld.com , rajakamar.com
Lokasi penginapan yang recommended dan paling banyak dipilih yaitu di sekitar Hongdae dan Myeongdong. Kami kemarin milih Hongdae Guesthouse, rekomendasi temen yang dah kesana dan juga dari buku nya Claudia Kaunang. Dan ternyata emang recommended.
Take Three :
Visa. Pembuatan Visa ke Korea cukup mudah. Prosesnya tidak sesulit yang dibayangkan. Tapi karna saya dines di Palembang dan ade yang di jakarta juga lagi sibuk banget, akhirnya kami milih untuk menggunakan Jasa Pembuatan Visa. Bapaknya pensiunan deplu ternyata, jadi dah terbiasa dengan prosedur pembuatan pelbagai Visa. Ramah juga orangnya. Saya yang banyak banget nanya dan stress gara-gara beda nama itu tetep diladeninya dengan sabar hehe.. Ngurus sendiri pun prosedurnya ga ribet (info dari temen yang kebetulan ngurus sendiri). Tinggal datang ke Visa Counselor of Korean Embassy di The Plaza MH Thamrin Jakarta. Normalnya makan waktu 4-5 hari kerja sampai Visanya disetujui. Ada kemungkinan di panggil buat wawancara untuk mengklarifikasi dokumen, tp jarang.
Biaya pembuatan Visa Korea Selatan—sampai April 2013—yaitu US $30 (untuk single visa yang berlaku 90 hari sejak tanggal issued). Biaya jasanya sendiri 150rb. Di bawah ini list dokumen yang kudu dilengkapi untuk permohonan Visa Korea Selatan :
Sementara, saya share tentang persiapannya dulu yah.. nti disambung lagi di Part 2 : Itinerary & Budget Plan. So, see you on the next part… mudah-mudahan hahaha…
Ada yang terasa spesial dengan perhelatan yang satu ini, sehingga saya yang biasanya tak begitu suka cerita tentang pekerjaan, menjadi antusias untuk sharing tentang acara ini. Motivasinya bukan karena saya yang jadi MC nya hehe.. tapi karena sepenggal kalimat penggugah yang disampaikan dalam acara itu begitu membekas di pikiran saya, “Perubahan haruslah berawal dari sebuah kepedulian. Inisiatif dan semangat untuk membawa perbaikan semestinya digerakan oleh sentuhan hati”. Berikut artikel yang saya buat untuk acara tersebut :
Mengawali pelaksanaan Bootcamp OPI (Operational Performance Improvement) Wave 4 Sumatera, pada hari Senin tanggal 03 Februari 2014 bertempat di Auditorium PLN Pembangkitan Sumbagsel dilaksanakan Kick Off dan Management Up Skilling OPI Sumatera Wave 4. Peserta Bootcamp OPI Wave 4 Sumatera yang akan diselenggarakan selama 3 hari di Palembang yaitu pada tanggal 04-06 Februari 2014 berasal dari 17 unit PLN yaitu : 9 unit dari PLN Wilayah dan Distribusi, 5 unit dari PLN Pembangkitan dan 3 unit dari P3B Sumatera.
Acara dibuka dengan Sambutan dan overview OPI di PLN KITSBS oleh General Manager PLN Pembangkitan Sumbagsel, Ruly Firmansyah. “Implementasi OPI mulai menunjukan pengaruh positifnya terhadap budaya kerja di lingkungan PLN Pembangkitan Sumbagsel (PLN KITSBS). Bahkan, OPI di KITSBS telah dibuatkan program kerja atau roadmap nya hingga untuk 5 tahun ke depan,” jelasnya. Fase selanjutnya yang telah mulai dilakukan sejak semester kedua 2013 di PLN KITSBS adalah mengintegrasikan OPI dengan Enterprise Asset Management (EAM). Usulan RKAP 2014 pun telah disusun berbasis OPI dengan menerapkan metode 3D (Diagnosa, Design dan Deliver).
“Apa sudah ada yang membaca berita tentang Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards di kompas pagi ini?” tanya Direktur Operasi Jawa Bali Sumatera (DIR OP JBS), Bapak Ngurah Adyana, membuka paparannya mengenai OPI Drive, agenda acara selanjutnya pagi itu. Namun ternyata belum ada perserta maupun panitia yang sempat membaca koran pagi itu. Beliau kemudian meneruskan ceritanya tentang Dr. Gamal Albinsaid yang baru berusia 24 tahun, penerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Pangeran Charles di istana Buckingham tersebut. “Perubahan harus didahului oleh sebuah kepedulian”, tambahnya. “Klinik Asuransi Sampah yang dikembangkan Dr. Gamal di daerah Jawa Timur diawali oleh kepeduliannya terhadap kondisi keluarga para pemulung di sana. Ia tergerak untuk membantu mereka agar bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis melalui manajemen dan daur ulang sampah. Bila kepedulian dari satu anak muda bisa memberikan perubahan yang begitu signifikan, bayangkan bila kepedulian itu datang dari seluruh anak-anak muda yang ada di PLN, tentunya perubahan yang bisa terjadi di perusahaan ini akan luar biasa. Semuanya harus diawali oleh kepedulian, semangat dan inisiatif yang dibarengi dengan penajaman pemikiran dan strategi”, ujar Adyana.
Dalam lanjutan paparannya, DIR OP JBS menerangkan bahwa OPI berperan dalam mewujudkan visi Direktorat Operasi JBS melalui tiga perspektifnya yaitu mendorong perbaikan kinerja teknis, proses bisnis dan Mindset, Capabilities dan leadership (MCL). Melalui OPI, diharapkan perusahaan dapat menggali lebih banyak ide-ide terbaik yang dapat diterapkan dalam rangka perbaikan dan peningkatan kinerja operasional unit. Beberapa hasil implementasi OPI sampai dengan akhir tahun 2013 antara lain : (1) PLTU Tarahan yang semakin andal, ditandai dengan makin berkurangnya frekuensi gangguan; (2) Dibangunnya gudang 4-S (GOLD di Solok); (3) Lingkungan GI yang sudah mulai bersih dan tertata dengan baik; (4) Sertifikat e-Procurement Award 2013 yang diterima PLN dari LKPP; serta (5) DREAM (DistRibution Enterprise Asset Management).
Tantangan bagi para Local Coach OPI ke depan yaitu bagaimana untuk dapat terus melaksanakan OPI secara konsisten dan menumbuhkan mindset “mendukung perubahan” di unitnya masing-masing. Menutup paparannya, DIR OP JBS memberikan “pekerjaan rumah” bagi setiap unit peserta Bootcamp OPI Wave 4 Sumatera, dimana masing-masing unit wajib menyerahkan usulan program unggulan. Program Unggulan tersebut harus memperhatikan keunggulan/ potensi spesifik dan dukungan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing unit.
Puncak acara Kick Off pada hari itu ditandai dengan Penandatangan Komitmen OPI yang dilakukan oleh para manajer dan koordinator local coach dari masing-masing unit peserta Bootcamp OPI Wave 4 Sumatera, PMO OPI Sumatera dan DIR OP JBS, dengan disaksikan oleh KSPKK selaku PMO OPI Korporat, KADIV KIT Sumatera dan GM PLN KITSBS.
Agenda acara selanjutnya yaitu Sharing Success Story OPI yang bertujuan untuk memberikan contoh dan juga motivasi kepada para Local Coach dalam merencanakan dan mengembangkan strategi implementasi OPI di masing-masing unitnya nanti. Beberapa unit yang diundang untuk menyampaikan Success Story implementasi OPI di unitnya yaitu Sektor Bukit Asam, PLN WS2JB dan PLN Area Solok. Dilanjutkan dengan presentasi mengenai Integrasi Management Asset dengan OPI oleh Purwono Jati Agung, GM PT PJB UB JOM PLTU Rembang. Turut diundang untuk memberikan Sharing yaitu narasumber dari Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Gentur Upadi, yang dalam presentasinya menjelaskan mengenai Development of Improvement Culture di Toyota Motor. Ia juga menceritakan sejarah Toyota Motor dengan menayangkan video sejarah perkembangan Toyota Motor, dimulai dari sejarah berdirinya hingga menjadi perusahaan otomotif leading di dunia saat ini. Ia juga sekilas menjelaskan mengenai awal mulai pengembangan sistem Toyota Production System (TPS), metode Kaizen dan Toyota Ways di Toyota dimana semua best practises tersebut bermuara pada nilai-nilai perusahaan Toyota yaitu : Continous of Learning dan Respect to People.
Menutup acara pada sore itu, KADIV Pembangkitan Sumatera, Ishvandono, berpesan kepada seluruh peserta Bootcamp Wave 4 untuk tetap fokus selama mengikuti pelatihan dan mampu terus menjaga semangat dalam menyukseskan implementasi OPI di unitnya masing-masing. “Tetap jaga semangat anda dalam melaksanakan OPI di unit, karena itulah bekal yang paling penting yang harus dimiliki oleh para Local Coach dalam menyukseskan implementasi OPI, selain dari dukungan penuh dari manajemen.” (vk)
“All is well, if the ending is well…”
Ending sebagai titik klimaks menentukan kualitas sebuah film. Apakah berkesan atau tidak, memorable or not. Ada dua pengelompokan ending film, Happy ending dan Sad ending. Namun yang saya anggap paling berkesan adalah diluar keduanya. Twisted ending atau shocking ending adalah satu variasi yang bisa begitu meninggalkan “bekas” bagi para penonton. Melongo atau dalam istilah bule jaw dropping adalah respon yang khas setelah sang movie maker bisa dengan cerdik dan lihai menggiring ekspektasi penonton untuk kemudian menjungkirbalikannya dengan penutup yang tidak disangka-sangka. Ya, saya kagum pada film-film berkelas yang berhasil mengakali dan menipu saya mentah-mentah. Astonish end. Rasanya nampol banget deh haha…
Berikut beberapa judul film with awesome twisted endings yang menurut saya pribadi bisa jadi referensi. Oiya, ulasan saya mengandung spoiler.. jadi buat yang penasaran, lebih baik baca 1-2 paragraf nya aja ya hehe..
1) Old Boy
Film arahan Park Chan-Wook (2003) ini tanpa ragu saya tempatkan di urutan pertama. Plot dan permainan karakternya begitu kuat dan endingnya terutama, sangat tidak tertebak. Oh Dae-su (Choi Min-sik) pada satu malam setelah perayaan ulang tahun putrinya tiba-tiba diculik dan disekap di sebuah kamar hotel tanpa mengetahui dimana dan mengapa dirinya diculik. Saat disekap ia diberitahu kalau istrinya telah dibunuh dan ia menjadi tersangka utamanya. Putrinya diadopsi dan dibawa keluar negeri. Yang mengherankan, setelah 15 tahun berlalu Dae-su dibebaskan begitu saja oleh si penculik. Dengan membabi buta, ia berusaha menguak motif di balik penculikannya, sembari menjalin hubungan cinta dengan seorang Chef Sushi, Mi-do (Kang Hye-jeong).
Saat tengah meyelidiki, Woo-jin (Yu Ji-tae) sang penculik mendatangi Dae-Su dan mengultimatum bila dalam waktu 5 hari Dae-su tidak berhasil mengungkap rahasia konspirasi itu, ia akan membunuh Mi-do dan kemudian membunuh dirinya sendiri. Dae-su akan kehilangan segalanya sekali lagi dan mati tanpa pernah tahu alasan dibalik penculikannya. Diburu pertaruhan tersebut, dengan ditemani Mi-do, Dae-su semakin mendekati jawabannya. Semua berakhir saat ia dengan gagah memasuki penthouse Woo-jin, siap membunuhnya.
Namun kenyataan yang diterima Dae-su malah membuatnya memohon ampun dan meminta Woo-jin mengasihaninya. Terungkap kalau alasan Woo-jin menculiknya adalah sebagai balas dendam. Dae-Su adalah orang yang bertanggung jawab dibalik kematian kakak perempuan Woo-jin. Kematian yang dipicu hanya karena sebuah rumor yang disebarkan oleh Dae-su sesaat sebelum ia pindah ke Seoul, bahwa Woo-jin menjalin hubungan terlarang dengan kakak perempuannya. Bukan hanya itu, Dae-Su juga dipaksa menerima kenyataan sangat pahit kalau Mi-do, kekasihnya, adalah putri kandungnya sendiri. Dae-su memohon agar Woo-jin tidak memberitahukan kenyataan itu pada Mi-do. Ia bahkan memotong lidahnya sendiri sebagai tanda penebusan dosa.
Setelah menceritakan segalanya, Woo-jin menembak kepalanya sendiri, meninggalkan Dae-su yang meraung-raung dan hampir mati. Pada adegan terakhir terlihat Dae-su yang sedang duduk di sebuah tanah lapang tertutup salju ditemani seorang ahli hipnosis. Ia meminta agar dapat dibuat lupa akan semua rahasia kelam masa lalunya. Setelah sang hipnosis pergi, Mi-do kemudian datang dan memeluk Dae-su, membisikan padanya kalau ia mencintainya. Dae-su sekilas tersenyum sebelum akhirnya mimiknya berubah seperti orang yang kesakitan dan menderita. Sekali lagi penonton dibuat bertanya-tanya, berhasil atau tidakkah hipnosis tadi?
Thanks to Bang Haji yang mereferensikan film ini dan Unusual Suspect di tahun 2006 dulu. Film yang diganjar Palme d’Or pada Festifal Film Cannes 2004 ini didaulat CNN dan banyak movie critics sebagai salah satu film asia terbaik sepanjang masa. Bahkan Quentin Tarantino terobsesi untuk membuat remake-nya. Akhirnya di 2013 hal itu terwujud. Ga yakin juga sih dengan kualitas remake nya, karena sudah keburu kepincut dengan kesan kuat film aslinya.
2) Sixth Sense
“I see dead people”… menjadi line yang monumental di film arahan M. Night Shyamalan ini. Sitxth Sense menceritakan tentang seorang bocah intovert bernama Cole Sear (Haley Joel Osment) yang mengaku bisa melihat dan berbicara dengan orang yang telah mati. Dengan lirih Cole menceritakan setiap kejadian yang dia alami pada Dr.Malcolm Crowe (Bruce Willis), seorang psikiater spesialis anak.
Rangkaian adegan demi adegan menggiring penonton untuk ikut masuk kedalam kehidupan supranatural Cole dan suramnya keseharian Dr. Crowe. Penonton begitu terhanyut dengan plot film ini dan perlahan masuk dalam ‘jebakan’ tanpa pernah mencurigai sedikitpun kalau karakter Bruce Wills sebenarnya sudah mati sejak menit-menit awal. Dia tak sadar telah ditembak oleh pasiennya sendiri. Adegan inilah yang membuat film yang sebenarnya biasa ini menjadi luar biasa. Mungkin penonton baru akan menyadari saat melakukan flashback, dimana kalau cukup jeli, terlihat bahwa Dr. Malcolm hanya bisa berkomunikasi dengan Cole. Saat bersama istrinya pun ia hanya terlihat berbicara sendiri tanpa ditanggapi. Istrinya tampak tak menyadari keberadaan Malcolm. Namun berkat angle pengambilan gambar yang apik, penonton dibuat percaya bahwa Dr. Malcolm benar-benar berbicara dengan Ibu Cole dan keregangan antara Dr.Malcolm dan istrinya adalah karena mereka sedang bertengkar. Padahal tidak.
3) Se7en
Sejumlah pembunuhan berantai sangat sadis terjadi dengan modus operandi Seven deadly sins. Detektif veteran William R. Somerset (Morgan Freeman) dan partner barunya David Mills (Brad Pitt) ditugaskan menyediki kasus tersebut. Mills baru saja pindah ke kota itu beserta istrinya, Tracy (Gwyneth Paltrow). Kedua detektif homicide tersebut berusaha memecahkan kasus itu dan memprediksi tindakan si pembunuh berantai selanjutnya dengan mencoba masuk kedalam alam pikirannya. The serial killer secara berani menantang para detektif dengan memberikan petunjuk-petunjuk untuk melacak dan menyelamatkan calon-calon korbannya. Namun para polisi itu selalu gagal. Pada akhirnya si pembunuh, John Doe (Kevin Spacey), muncul di kantor polisi seraya menyerahkan dirinya begitu saja.
Puncak suspense film arahan David Fincher ini ada di adegan terakhir, dimana diperlihatkan Sommerset, Mils bersama Doe, sang psikopat, tengah berkerumun di sebuah gurun. Tiba-tiba sebuah van mendekat. Sommerset langsung berlari menghentikan laju van tersebut yang ternyata mengantarkan sebuah paket berupa kardus.
Turns out that the killer’s last victim of his seven deadly sins vengeance was in that box.. Saat Sommerset mencoba membuka paket tersebut, Doe berkata pada Mils betapa ia cemburu pada kehidupan sehari-hari Mils. Ia mulai bercerita tentang Tracy dan hal-hal detail tentang istri Mils itu. Saat ia memberitahukan Mils kalau istrinya tengah mengandung, Sommerset berhasil membuka paket itu dan langsung berbalik, berlari sambil berteriak pada Mils yang serta merta menembak Doe berkali-kali. Korban terkahir Doe adalah Tracy. Ia melakukannya atas dasar “Envy” (kedengkiannya) pada Mils. Dan Mils merampungkan “rangkaian” dosa terakhir Doe dengan “wrath” (kemurkaan). Bisa dibayangkan apa sebenarnya isi paket yang dibuka oleh Sommerset tadi, bukan? The ending of this movie gave me the creeps for quite sometime..
4) Primal Fear
Meski terbilang film perdana yang dibintanginya, namun Edward Norton mampu menunjukan kualitas akting yang bagus di film ini. Ia dengan sukses memerankan karakter Aaron Stampler, seorang pengidap kepribadian ganda (dissociative identity disorder). Adegan dibuka dengan sebuah tanyangan live pengejaran tersangka pembunuhan sang uskup agung.
Aaron stampler menjadi tersangka utama kasus pembunuhan yang menghebohkan tersebut. Martin Veil (Richard Gere), seorang mantan penuntut umum yang berpindah haluan menjadi pengacara berminat pada kasus tersebut. Sebagai pengacara flamboyan yang tengah naik daun, ia tergoda pada sensasi dan bayangan akan begitu banyak sorotan yang bakal didapatkannya. Namun Veil tidak pernah menduga bahwa kasus pembunuhan Uskup Agung itu ternyata tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Begitu rumit dan hasilnya sangat memukul telak ego dan kesombongannya sendiri.
Veil dan bahkan seluruh orang yang terlibat dalam persidangan benar-benar dipermainkan Aaron Stampler. Veil sungguh percaya kalau Aaron mengidap kepribadian ganda. Ia berusaha keras meyakinkan para juri bahwa alter ego Aaron yang lainlah si pembunuh sesungguhnya. Pembelaan itu dan “atraksi” Aaron saat didokumentasikan dalam sebuah video, membuat semua orang di ruang sidang terkesima.
Dan tibalah momen mengejutkan itu. Saat Veil mengetahui kalau Aaron selama ini menipunya dengan berpura-pura memiliki kepribadian ganda, semua telah berakhir. Juri telah membebaskannya. Fakta yang menampar pula para penonton. Tidak ada yang namanya mulitiple personality, semua itu hanya rekayasa Aaron yang dengan piawai mempermainkan semua orang, termasuk pengacaranya sendiri. Aaron adalah pelaku pembunuhan sebenarnya. Dan ironisnya double Jeopardy berhasil membuatnya lepas dari segala jeratan hukum berkat bantuan Veil. Bang, what an ending!
5) Hello Ghost
Waktu menonton film ini 2 tahun yang lalu, saya pikir akan disuguhi cerita komedi yang biasa saja. Tapi ternyata film ini berbeda. Bukan hanya menawarkan cerita drama yang menarik, film ini juga mampu memainkan emosi penonton. This was an emotional drama sprinkled with chuckles and cheese.
Setelah usaha mengakhiri hidupnya dengan menegak banyak pil tidur gagal terlaksana, Kang Sang-man (Cha Tae-hyun) terbangun dengan kemampuan baru dalam dirinya. Alih-alih melepaskan diri dari kehidupannya yang penuh depresi dan masalah, Kang-man malah menemukan dirinya dikelilingi 4 hantu yang menyeretnya untuk mengikuti keinginan-keinginan dan ikut menyelesaikan urusan-urusan mereka yang belum selesai semasa hidup dulu. Tak kuasa menolak, Kang-man akhirnya menurut saja, membantu para hantu itu dengan harapan setelah selesai, mereka akan segera lenyap dari kehidupannya.
Keempat hantu itu yaitu : seorang kakek pervert (Omes kalau bahasa indonesia alay-nya sih) yang tanpa disadari menolong Kang-man menjadi dekat dengan seorang suster di rumah sakit tempat ia mencoba bunuh diri sebelumnya. Hantu kedua seorang bapak gendut yang hobi sekali merokok dan terobsesi untuk berpelesir ke laut. Yang ketiga hantu seorang ibu muda yang selalu menangis serta hantu seorang anak kecil yang punya banyak sekali keinginan.
3/4 bagian film ini sedari adegan pembuka akan banyak mengundang tawa, karena memang lebih sarat unsur komedinya. Namun pada 1/4 bagian akhir film, para penonton mesti siap-siap mengelap air mata. Terutama buat orang-orang seperti saya yang kalau nonton bawaannya all out alias penuh totalitas dan penghayatan hehe… Saya tidak mengira akan disuguhi ending mengejutkan seperti itu. Ternyata ada alasan khusus mengapa keempat hantu itu memilih Kang-man. Tanpa sadar sedikit demi sedikit setiap hal yang Kang-man lakukan bersama para hantu tersebut membuka kembali ingatannya akan masa kecilnya dulu. Saat dimana ia masih mempunyai keluarga yang utuh.
Jadi siapakah keempat hantu itu di kehidupan Kang-man sebelumnya? Jawaban itulah yang membuat penonton terhenyak, sekaligus menjadi momen paling mengharubirukan. Saya selalu menyukai film drama yang bisa menyentuh perasaan penonton seperti ini. Dimana melalui lakon-lakonnya, ia mampu berbicara dalam bahasa universal yang dimengerti semua budaya.. bahasa cinta kalau istilah saya. Cinta antara orang tua dan anak, cinta dalam keluarga. Tak heran Chris Columbus, sutradara 2 film Harry Potter, tertarik untuk me-remake film ini. But then again, I never expect too much from Hollywood’s remake. They tend to ruin the original one. Hopefully, for this one there will be an exception.
6) Psycho
I’m a big fan of Alfred Hitchcock books and movies. Semenjak esde dulu dengan Trio Detektif-nya hehe…
Bisa dikatakan film ini merupakan pelopor movies with twist ending. Psycho sebagai salah satu film legendaris Hitchcock mengangkat tema pembunuhan berlatar multiple personality disorder alias kepribadian ganda. Cerita diawali oleh upaya Lila Crane (Vera Miles) yang mencoba melacak keberadaan adiknya, Marion (Janet Leigh) yang telah seminggu menghilang. Lila lalu menggunakan jasa seorang detektif swasta Milton Arbogast (Martin Balsam) untuk membantunya menemukan adiknya itu. Penyelidikan yang dilakukan Arbogast mengantarkan Lila pada sebuah motel kecil yang terletak di pinggir kota milik Norman Bates (Anthony Perkins).
Setelah Lila menginap di motel Bates tersebut, terjadi banyak kejadian mencurigakan bahkan pembunuhan. Plot cerita menggiring penonton untuk menduga bahwa pelaku serangkaian pembunuhan tersebut adalah Ibu Norman Bates, si pemilik motel. Namun siapa yang menyangkan bahwa sosok perempuan misterius tersebut sebenarnya tidak pernah ada. Norman lah yang selama ini berperan sebagai ibunya sendiri dan melakukan pembunuhan-pembunuhan itu. Ibu Norman sendiri sudah lama meninggal, tapi Norman tetap menyimpan mayat ibunya itu di kamar mandi, di sebuah bath up yang dipenuhi es balok. Dan sakitnya, Norman bersikap seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa dengan ibunya tersebut.
Saya menonton kedua versi film ini, versi original yang masih hitam putih hehe.. dan versi remakenya produksi tahun 1998. Saya lebih suka versi klasiknya, yang walaupun tata pengambilan gambar nya masih sederhana, seremnya masih aja tetep nampol ;p
Sebenarnya masih ada beberapa film bagus lain dengan twisted ending yang cukup memorable buat saya seperti : The Others (dibintangi Nicole Kidman, 2001 ), Unusual Suspect ( Kevin Spacey, 1995), Saw (2004), The Game (Michael Douglas, 1997), The Mist (2007), Match Point (directed by Woody Allen, 2005), The Fight Club (with 2 dazzling actors, at least for me lol, Brad Pitt & Edward Norton, 1999), The Prestige (Christian Bale & Hugh Jackman, 2006), The Double (Richard Gere, 2011), dan Departed (Leonardo Di Caprio & Jack Nicholson, 2006). Tapi berhubung dah berat buat mengetik lagi karna mata sudah tak bersahabat lagi hehe… segini saja dulu yaa… next time I’ll share another movie review with another different theme. Ciaooo…
Beberapa orang mempunyai mimpi pastinya sendiri dan bekerja keras mewujudkannya. Sebagian lagi meminjam impian orang lain karena tak mampu menemukan mimpinya sendiri. Mereka menganggap mimpi orang lain jauh lebih baik karena terlanjur mengagumi kesuksesan orang lain dalam merealisasikan impiannya. Sisanya, tak memiliki dan merasa tak perlu punya mimpi, buat mereka kenyataan dan rutinitas hidup sudah mengambil alih hasrat dan imajinasi. Let it flow seakan menjadi justifikasi. Que Sera Sera, whatever will be, will be..
Dalam kategori manakah kira-kira saya dan anda berada?
Seiring bertambahnya usia, banyak hal yang tanpa saya sadari berubah ataupun terbiarkan pupus dengan sendirinya. Impian dan cita-cita adalah salah satunya. Selain itu tingkat keluguan mungkin termasuk juga diantaranya hehehe… Entah apakah karena saya tergolong orang yang mimpinya selalu berubah-ubah, tapi sepertinya sejak awal tak pernah ada satu mimpi yang membuat saya terobsesi untuk mewujudkannya. Tentu ada beberapa cita-cita dan harapan yang telah berhasil saya raih sejauh ini. Dan nampaknya perlahan-lahan saya juga telah merelakan romantisme mimpi-mimpi masa kecil dan remaja saya dikalahkan oleh imbas pola pikir realistis dan serba praktis ala orang dewasa. Alasannya karena telah terbiasa dibuai oleh segala bentuk kenyamanan.
Mencoba tantangan “ekstrim”, berani melawan mainstream maupun melakukan perubahan drastis saya asumsikan tak lebih dari pemberontakan sesaat terhadap kejenuhan menjalani rutinitas yang monoton. Serta menjadi terlalu berbeda adalah sikap yang berlebihan dalam upaya menonjolkan eksistensi. Saya jadi bertanya pada diri sendiri, “kemana hilangnya diri saya yang selalu tergelitik rasa serba ingin tahu, saat saya bisa begitu asyik terhanyut mengekplorasi hal-hal baru dan girang bermain dengan imajinasi yang berkelebat dengan lincah dan seakan tanpa batas?”. Back then, even the simplest thing can captivate me. Little things matters.
Apakah kedewasaan secara otomatis menggiring pola pikir dan cara pandang kita dalam menyikapi realita keseharian yang kita hadapi? Rule of the game yang berlaku yaitu “Seyogyanyalah sebagai manusia dewasa kita memiliki kesadaran dan kerelaan untuk patuh dan tunduk pada aturan-aturan yang terbelenggu dalih keumuman, kebiasaan, keseragaman dan kepatutan yang telah ditentukan kebakuannya oleh generasi “tua”. Relativitas dianggap tabu, karna dianggap terlalu berspekulasi dengan nasib dan bertentangan dengan pakem dimana kemapanan secara materi menjadi nomor satu dalam proses penentuan dan pengakuan identitas, tak kecuali dalam kriteria menetapkan jodoh idaman.
Tingkat mumpuni seseorang sering dinilai dari bagaimana mereka berbicara, sehingga menuntut seseorang dalam menjelaskan sesuatu sebisa mungkin menggunakan pilihan diksi yang tak biasa, intelek, kompleks dan berbelit. Alhasil, makin seringlah kita dibuat pusing oleh hal-hal rumit yang dibuat menjadi semakin sulit untuk dipahami dan hal-hal yang seharusnya sederhana malah menjadi susah dicari jalan keluarnya? Apa mungkin hal-hal tak terpecahkan selama ini hasil dari semua itu? Sepertinya, sekarang ini makin banyak orang mengagumi orang-orang yang mampu dengan fasih menjelaskan ilmu dan wawasan mereka dalam bahasa “dewa” dan tak tertangkap maknanya dalam sekali dengar. Padahal orang hebat atau pintar menurut saya adalah orang yang mampu membuat penjelasan akan hal-hal rumit, hi-tech sekalipun secara sederhana dan jelas, melalui penggunaan bahasa awam yang langsung bisa dimengerti bahkan oleh orang yang tadinya tidak paham akan hal itu sama sekali.
Terlarut dalam diam saat saya secara tidak sengaja membuka folder-folder lama di komputer. Terlihat tahun 1996 dalam keterangan file tersebut. Saya benar-benar tidak ingat pernah menulis surat ini. Sepertinya ini tugas bahasa inggris. Salah satu mata pelajaran favorit saya jaman sekolah dulu. Tersenyum saya waktu mulai membaca paragraf pertama dari surat pendek itu. Namun senyap setelah selesai. Benarkah saya yang menulis surat ini? Kemana perginya anak remaja dengan mimpi dan cita-cita besar itu sekarang?
Ini surat yang saya bicarakan :
Assalamu’alaikum wr. wb.
First of all, I would like to thank you for the opportunity you have given to me to speak my mind in this letter. As we know the topic is about the student’s dream. I found the topic very interesting because I’ve never think about it before.
Basically, I dream to be a successful person in life. I want to gain excellent achievements at my study, go to an acknowledge college, graduate as a bachelor of communication with flying colours and have the chance to continue my education to the higher degree. If possible, I want to get a scholarship from abroad university, so that I can experince living in another country. I aso want to be a good daughter who makes their parents proud and happy. And, as part of the society, hopefully I can give uselful contributions to them, such as : actively promoting the quality improvement of education; help solving economy problems in my coutry; join WWF or other environment organization and stand up for natural conservation; last and most of all fight for peace, in my country and in the world.
Nowadays, my biggest dream is to see Indonesia recovered from its collapsed condition; to have a trustworthy, mandatory and anti-corruption leaders, who have conscious and concern with their citizen’s need. How to build better indonesia is their highest priority. All children can go to school and have good education; All people can live in equality and prosperity, and we all could live in a peaceful country.
I have other wishes too which are : to be an innovator, discover new things that beneficial other; fulfill pilgrimage (hajj), go exploring middle east countries and disclose its magical 1001 folktales.. I really want to travel the world, take pictures of all world’s 7 wonder with my own camera like the pyramids in Egypt and the great wall of China; skiing in Alpen mountains, throw coins in Trevi Fountain, watching football matches in Anfield and San Siro; visiting Japan in springtime; and playing around in Disneyland.
That’s all my dreams. I really hope that someday they will all come true. Lastly, I would like to say thank you for your attention.
Wassalammu’alaikum wr.wb.
Segalanya terasa mungkin kala itu. Impossible is Nothing . Kini, saat pikiran disesaki terlalu banyak keinginan, komentar yang sering terlontar malah “Ngimpi terusss”.., dibilangnya ga realistis dan terlampau muluk-muluk. Nampaknya semakin banyak mimpi dan semakin bertambah usia tidaklah berkorelasi simetris. Jangan berharap terlalu tinggi karena hal itu hanya akan membebanimu, karna saat satu persatu harapanmu itu tidak terlaksana, jatuhnya akan terasa makin sakit.
Saya jadi terngiang satu kalimat yang pernah saya tanyakan pada diri sendiri saat masih berkutat dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan… jiaaah, hahaha… “Mana yang lebih baik : menyatakan/melakukannya dan berharap kau tak pernah menyatakan/melakukannya, atau, tak pernah menyatakan/melakukannya dan menyesal karena tak pernah punya keberanian untuk menyatakan/melakukannya ?”
Sekarang, saya akan mencoba kembali bermimpi, atau setidaknya merunut apa saja harapan saya. So, what are gonna be my dreams and hope ? I surely will take a time to think about it hehe…
Sembari bernostalgia mengenang impian masa kecil dan remaja kita dan sekaligus merancang impian masa depan, ada satu lagu yang bisa menjadi penggugah inspirasi. A beautiful song from Diana Ross. Liriknya benar-benar pas dengan mood saya saat merenungkan tema tulisan ini. Judulnya : Do You Know Where You Are Going To … try to listen to it 🙂
Do you know where you’re going to?
Do you like the things that life is showing you?
Where are you going to? do you know?
Do you get what you’re hoping for?
When you look behind you there’s no open door
What are you hoping for?
Do you know?
Once we were standing still in time
Chasing the fantasies that filled our minds
You knew i loved you, but my spirit was free
Laughing at the question that you once ask me
Now, looking back in all we pass
We’ve let so many dreams just slip through our hands
Why must we wait so long before we see
How sad the answers to those questions can be?
Those who don’t learn from history are doomed to repeat it (George Santanyana, hal. 4)
Ihwal ketertarikan saya membaca buku ini adalah review beberapa tokoh nasional akan buku ini. Dan setelah rampung membacanya… saya mengiyakan, buku ini memang bagus.
Berbeda dari travelogue pada umumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa yang ditulis Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra (Gramedia, 2011), menurut saya lebih bermuara pada sebuah memoar peziarah spiritual. Yang dalam perjalanannya selain menguak fakta-fakta (baru) sejarah peradaban Islam di masa lampau, jua turut menggugah para penyimaknya untuk ikut andil “menjadi agen muslim yang damai, teduh, indah, dan membawa berkah kepada komunitas non-muslim” (hal. 47). Hanum seakan ingin menghangatkan kebekuan akan identitas Islam yang terenggut oleh keegoisan beberapa pihak yang mengatasnamakan pembelaan Tuhan dan Agama. Mengembalikan citra Islam sebagai agama yang menebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Layaknya ensiklopedi sederhana, buku ini mengenalkan satu wawasan baru bagi pembacanya : Bagaimanakah wajah Islam di Eropa ratusan tahun yang lalu? Fakta tak tertampik bahwa terjadinya era Renaissance di Eropa ternyata dipelopori oleh peradaban Islam. Islam jugalah yang mengenalkan Eropa pada perkembangan ilmu pengetahuan (science) dan teknologi. Inovasi para cendekia Muslim telah memberikan cahaya kehidupan bagi masyarakat Eropa kala itu. Cordoba, dengan julukannya The City of Lights, menjadi bukti terangkatnya masa-masa kegelapan dan ketertinggalan Eropa menjadi masa-masa yang penuh cahaya dalam perkembangan dan kemajuan sains serta teknologi yang sangat pesat hingga kini. Realita yang bertolak belakang dengan kondisi saat ini. “Dimana dunia Islam malah memalingkan muka dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin jauh dari akar yang membuatnya bersinar seribu tahun yang lalu.” (hal. 5)
Tak dapat dipungkiri jika cahaya terang benderang itu kini meredup. Islam akhirnya tersapu dari Spanyol dan bumi Eropa. Saatnya berkaca pada sejarah. Apa saja yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lampau agar kita tidak terperosok ke dalam lubang yang sama? Bukankah Nabi Muhammad SAW selama hidupnya telah mengajarkan teladan luar biasa akan sikap, perilaku dan akhlaqul karimah yang berakar pada fitrah Islam sebagai agama rahmatan lil alamin?
Membaca buku ini seakan membaca Da Vinci Code versi Islam. Setidaknya saya merasakan sensasi yang sama. Terjadi konspirasi pengaburan fakta peradaban Islam di Eropa yang akhirnya dimisintepretasikan oleh dunia barat. Entah apa ini hasil manipulasi politik, propaganda ideologi, atau bukan? Namun, rekaman masa lalu seakan membuahkan persepsi global bahwa sejarah Islam di Eropa hanya sarat dengan kekerasan dan perang. Sementara banyak bukti menunjukan sebaliknya. Islam merupakan agama yang penuh toleransi, senantiasa menjaga harmoni dan kedamaian dengan komunitas non-muslim. Salah satu bukti yaitu pemerintahan Khalifiyah Islam di jaman Al-Andaluz selama 500 tahun di dataran Iberia.
Betapa Islam mengajarkan nilai kemanusiaan tanpa mengenal pembedaan sebagai salah satu esensi hakikinya terdeskripsi di hal. 193 yang menceritakan bagaimana La Grande Masquee, yang berdiri di pusat kota Paris pernah menjadi tempat untuk menyelamatkan puluhan warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman : “Aku merasa imam masjid ini, siapa pun dia, juga mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan orang-orang yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya. Namun, ia yakin akan perintah Allah dalam Alquran tentang kewajiban menyelamatkan jiwa umat manusia yang lain, apa pun agama mereka, apa pun kepercayaan mereka. Karena dengan demikian dia sama saja menyelamatkan seluruh manusia di bumi”… membuat selaksa sanubari ini berdesir haru.
Catatan perjalanan Hanum dan Rangga selama 3 tahun menelusuri kota Wina di Austria, Paris (Perancis), Cordoba dan Granada di Spanyol, hingga ke Istanbul (Turki) menantang kesadaran kita bahwa “barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Karena banyak di antara umat Islam kini yang tidak mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu ” (hlm. 4).
Tak banyak diketahui kalau Islam pada masa kekhalifahan Ummayah memiliki teritori hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah Kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar, di mana seluruh umat beragama dapat hidup damai berdampingan di bawah Islam, tempat dakwah bisa maju bersama ilmu pengetahuan (hal 194). Berkunjung ke Museum Louvre, Paris, menilik tempat dimana pelbagai artefak bukti kemajuan ilmu pengetahuan Islam tersimpan rapi, siapa menyangka bahwa penemu peta antariksa ilmu falak adalah Yunus Ibn al Husayn al-Asturlabi (1145), seorang astronom Muslim. Pun teknologi lensa yang kini bertengger di setiap kamera. Ilmuwan Islam pulalah yang mengenalkan dasar-dasar Algoritma, Aljabar, dan Trigonometri (hal 150-152). Bahkan Islam juga yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato dan Socrates. Subhanallah.
Dan pasti anda tak menduga, siapa yang mengenalkan ramuan minuman bernama Coffee pada Eropa? Bermula dari Ottoman Turki di tahun 1453 yang mempopulerkannya di kota Konstantinopel. Hingga akhirnya kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia, Italia, pada 1645. Ya, kopi adalah satu lagi warisan Islam bagi Dunia.
Buku ini banyak bercerita melalui tokoh Fatma, seorang Muslimah Turki, sahabat Hanum selama tinggal di Wina. Ia mengenalkan konsep “agen muslim yang baik” pada Hanum. Tertegun saya saat membaca bagian ini, saat Fatma menyikapi dengan sangat bijak, dan sekaligus elegan jika menurut saya, terhadap sikap anti-Islam yang ditunjukan beberapa pengunjung kafe, saat Ia dan Hanum tengah bersantap di situ. Insiden Roti Croissant dan masa lalu kelam Islam di Austria telah mendewasakan pemikiran dan sudut pandang Fatma akan Islam dan tentang peran seorang muslim/muslimah. Terutama saat mereka harus hidup sebagai kaum minoritas.
Kisah Fatma mengingatkan saya saat melakukan perjalanan ke Seoul, Korea Selatan bersama adik saya. Barulah setelah 32 tahun, saya mengalami bagaimana rasanya menjadi minoritas. Sulit sekali menemukan tempat makan yang menyajikan makanan halal. Apalagi tempat yang diperuntukkan khusus untuk Sholat. Namun pada momen-momen itulah saya merasa sangat bersyukur menjadi seorang Muslim. Tak jarang beberapa mata memandangi dikarenakan jilbab yang saya kenakan. Namun melalui identitas itu, saya malah merasa bisa memiliki sedikit peranan dalam mempraktekan perilaku seorang “agen muslim yang baik” menurut konsep Fatma.
Beberapa kali kami bertemu dengan para misionaris yang saya nilai cukup sering melakukan penyiaran agama di tempat-tempat keramaian. Satu yang berkesan yaitu waktu kami sedang berkeliling di daerah Myeongdong. Dari kejauhan saya dapat melihat satu lagi rombongan misionaris disana. Tak sadar, saat saya tengah memandangi sang orator utamanya, pandangan kami beradu. Ia sempat terdiam dan tertegun. Dan begitu kami lewat di depannya, saya mengangguk seraya tersenyum padanya… sesaat ragu, akhirnya ia membalas senyum saya dengan begitu ramah. Hal yang mungkin biasa saja bagi kebanyakan orang, tapi untuk saya pengalaman ini mirip dengan satu kalimat dalam buku ini “Kau dan aku berbeda, tapi senyuman kita bermakna sama,” (hal. 246). Akh, betapa indahnya kehidupan antar umat beragama bila dipilari toleransi, saling menghormati, dan kita dapat hidup berdampingan dengan damai.
Hanum juga bercerita lewat Marion Latimer, warga Eropa asli, yang begitu antusias mempelajari warisan budaya Islam, hingga mengambil jurusan Islam abad pertengahan di sebuah universitas ternama di Paris, Universitas Sorbonne. Betapa fakta-fakta yang sungguh mencengangkan dan tak terendus oleh sejarah, atau mungkin sengaja ditutup-tutupi terkuak oleh Marion dan ditulis secara apik oleh Hanum.
“Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. ‘’Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,’’ ungkap Marion akhirnya. (hlm 166)
Marion juga menjelaskan teorinya tentang Quadriga Arc de Triomphe du Carrousel yang dibangun Napoleon sepulangnya dari ekspedisi Mesir. Arc de Triomphe du Carrousel dan bangunan-bangunan peringatan kemenangan Napoleon Bonaparte diyakini oleh Marion memiliki garis imajiner yang searah dengan kiblat di Mekkah. Napoleonic Code yang pasal-pasalnya senapas dengan syariah Islam. Keislaman Francois Menou, jenderal kepercayan Napoleon yang bersyahadat sekembalinya dari Mesir. “‘Ini semua yang membuatmu berkesimpulan Napoleon seorang… muslim?’, Marion menoleh padaku. Lalu tertawa”. (hlm 181)
Buku ini mengingatkan saya bahwa sejatinya suatu perjalanan bukan sekedar menikmati keindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Perjalanan bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Tapi perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan dan menambah keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. (Hal.7)
Tulisan dalam buku ini membuat saya tertampar. Malu dan merasa sangat kerdil. Saya diberkahi Allah SWT orang tua beragama Islam. Hidup di negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Terbilang sangat mudah untuk menemukan nafas Islam di setiap pelosok daerah. Namun saya malah terbuai. Tak banyak keinginan dalam diri ini untuk mulai mempelajari, dengan giat mengkaji dan lebih mendalami ilmu agama yang saya anut. Mencoba menghayatinya dan bukan hanya melaksanakan ritual ibadahnya saja, semata untuk memenuhi kewajiban belaka. Rutinitas tanpa gairah seperti ini membuat dinamika dan kecerdasan spiritual saya mengendap. Tak bertumbuh kembang. Namun buku ini mengetuk kesadaran saya. Mengawali kembali momentum pencerahan yang Insha Allah akan senantiasa saya pelihara terus pendarannya.
“ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS 12:111).
Not only dogs that can bite you severely, reality can surely do the same. It could even leave you with more lasting wound or scar… So what would you do when the reality hits or bites you? Deal with it or just open your mouth and complaining all about it?
The choices are yours…
It is true to say that the way you wanna live your life is indeed your rights, yet it is also your responsibility. Because obviously we’re not living in some kind isolated jungle, right. Keep in mind, that there are people surrounding us.
Why am I writing this stuff? Coz I’m getting tired of people who are complaining about everything… almost everyday. Those naggers are really irritating me. Why do they wasting their energy doing it ? And why do I have to sacrifice my time and enduring my patience for? So, please guys, Stop complaining over things you had decided! No more blaming others (people or conditions). Since no one had force you to did all those things in your life. You don’t have to remind me or let me know the up date of your miserable life… We all have problems. I have mine too. But instead, I keep my mouth shut about it. It’s not a public consuming. There are reasons why we called it PRIVATE LIFE!
I personally believe we developed language because of our deep inner need to complain. But lets not making it as a habit. Reduce the frequence, significantly. The less, the better.
FYI, the world doesn’t owe you any favors. God does not change the condition of a people until they change what is in themselves. Of course there are destiny—we tend to hide behind these kinda reasons—but most times of our life, if I’m not saying almost entirely, we live upon choices. Choices that delivered to us every day, every hour, every minute to even every second by God The Almighty. We certainly being blessed, having given this privilege : Choices. Some people are so unfortunate, they had to live their life without many choices can be taken. Do you realize that when we complain about the weather, we are, in reality, murmuring against God?
Your life sucks? well, welcome to the club, my friend! Don’t worry, because bad things happen to many people, even to many better people than you. It’s completely normal getting bumped in a long way road. It doesn’t mean that every time it happens, you had to stop your car, pull over and start mumbling, fussy about it. What do you think would happen if you did that? Yup, Nothing! Change can never happen by itself. None in history has ever proven otherwise.
I believe that God abandons only those who abandon themselves, and whoever has the courage to shut up his sorrow within his own heart is stronger to fight against it than he who complains. Like I said, the less you talk, the more action you take. Make the change if you want to, if not, shut up.
Regrets, abashed, disappointed, angry, the feeling of being exiled, disrespected, insulted, humiliated, depressed, bored.. have become common psychological conditions in our daily life. Seldom we realize on how much amenities, pleasure and comfort we have received. We often sinking ourselves on those “few bad luck”. Wake up Guys.. open your mind. Don’t be such spoiled brats. No one can stand of a whining person. It makes us wanna shout “Get a grip will you!”. Just because you have a bad day, doesn’t mean you have a bad life,
Try to be brave, be consequent, be thankful and grateful… Enjoyment in life comes when you embrace your life, forgive yourself once in a while—for being stupid, careless or even ridiculous—and free your soul and mind from any destructive obsession and never ending wanting so many things. Live the moment, become useful to others and try to joke sometimes! Not everything in this world has to be taken too seriously or offensively..
Let me put this into an analogy : If Chiwawas wanted to be Lions, vice versa , they would look completely ridiculous, right?
I always amazed that so many people are concerned with wanting to be what they are not. What’s the point of making yourself look ridiculous? Just be yourself, believe in yourself, nobody can do that better than you; trust me!
Besides, if you just took one-tenth the energy you put into complaining and applied it to solving the problem, you’d be surprised by how well things can work out… Complaining does not work as a strategy. We all have finite time and energy. Any time we spend whining is unlikely to help us achieve our goals. And it won’t make us happier either.
Have you get it, the massage I’d like to send you, all complainers around me? Hopefully. Share me your problems, fine.. I’ll be a good listener. Especially when the intention is to find the best solutions, I shall be glad to help. Other than that… next counter please. This one is definitely (walk) out of (the) order.
By the way, let me share you an information —based on a trusted survey result I’ve read– ” Never tell your problems to anyone…because 20% of them don’t care and the other 80% are glad you have them…” ; )
Have a great life, guys!!!
Mewabahnya demam drama Asia berawal dr satu stasiun TV di awal thn 90-an yg setiap sore rutin menayangkan serial Jepang. Dengan jumlah episodenya yg terbilang pendek, rata-rata 10-12 episode tamat; dan berlatar dinamika kehidupan kaum pekerja kelas menengah yg cukup membumi, serial Jepang mjd pelopor perkembangan serial tivi di Asia. Namun kini sepertinya dominasi itu sdh diambil alih, seiring makin membanjirnya serial tivi dari negeri Ginseng.
Jauh sebelum suka serial Korea (yg jumlahnya udah ga keitung lg wkwkwk..), saya dah duluan kecantol serial Jepang. Beberapa judul spt Tokyo love story, Ordinary People dan GTO cukup fenomenal di jaman itu. Jaman putih biru dan putih abu-abu ;p Hal yg plg saya suka dr dorama—sebutan dr drama Jepang—adalah pesan dan nilai yg scr implisit terbungkus jalinan ceritanya. Tersirat namun tertangkap cukup kuat.
Tapi bukan cuma dramanya aja yg penuh makna. Kalo kebetulan lg ga mau tayangan bergenre melow dan butuh ketawa ngakak, sembari mengolah rangka tulang pipi sehingga membentuk topografi wajah lebih menarik, serial komedi Jepang memiliki beberapa pilihan Markotop! Saya sebut saja My Bos My Hero , Nodame Cantabile, Hanazakari no Kimitachi e, Gokusen, Kisarazu cat’s eyes atw Water Boys (the movie), dan Crows Zero.
Kalo kebetulan nemu serial/film jepang yg diangkat dari Manga (komik jepang), saya pasti beli. Jarang soalnya nemuin yg garing alias rata2 sih Bagus. Secara komik jepang klo udah ngelawak… pst phol kan! Dijamin sgt Komedius humor slapstiknya. Apalagi pas ngeliat muka-muka para pelakonnya yg terlihat penuh penjiwaan nampangin mimik OON… beneran AnCUUUrr minaah hahahaha,,,
Setelah sekian lama ga nonton serial Jepang, wiken kemaren saya iseng buka2 koleksi lama… beberapa seperti sdh bs ditebak, agak berlumut dan terpaksa kurelakan buat dijadiin pupuk kompos tanaman lidah buaya tante kost. Krn setelah bbrp kali dicoba, emang udah ga bs diputer (hwuaaaa, pdhl byk yg blom ketonton.. hikss). Kala itu saya memilih 99 Days with the star ( Boku to star no 99 nichi). Dan waaah, percobaan nostalgila yg sungguh berhasil. Aku kembali suka serial Jepang jadinya. Apalagi pemeran Mitzy di serial ini mirip banget sama salah satu karakter di komik Miss Modern hahaha… bodor pisan.
Saya coba share beberapa judul serial Jepang yg msh nemplok di memori otak kanan saya hehehe… di bawah ini yaa, silakaaan :
1) Galileo
Layaknya gaya tarik ulur Dr.Bones dan Booth di serial “Bones” ataupun percikan roman antara Detective Kate Beckett sm Richard Castle di serial “Castle” , chemistry antara Profesor Manabu Fukuwa dgn “rookie” detektif Utsumi Kaoru di dorama Galileo ini keliatan paasss bgt. Kontradiksi antara seorang ahli fisika antisosial yg eksentrik namun sdkt freak dan selalu serba logis analitis, dgn sang polisi perempuan yg temperamental, punya sense of justice tinggi namun sedikit suppositious, beradu dengan asik dan menarik di dorama satu ini.
Bersama mereka berhasil menguak misteri di balik kasus2 kriminal aneh yg pd awalnya seperti sulit dijawab oleh nalar. Mengambil sudut pandang dan pembuktian secara ilmu fisika yg supeeeer dupeeer keren namun pd saat bersamaan membuat saya jd merasa sdkt bloon hahahaha… Galileo (julukan buat prof. Fukuwa) bs menjelaskan pemecahan sdr setiap kasus secara Sugooiii. Karna walaupun fisika adl pelajaran yg ampyun bgt deh buat akika, tapi dia bs ngejelasinnya lwt eksperimen sederhana, shingga memudahkan kita yang awam ini utk bs nangkep apa maksudnya.
Ada kasus mirip tukang sihir yg bs membuat kepala orang tiba2 terbakar, pembunuhan yang ga bs kelacak sm sekali penyebabnya, kasus bunuh diri yg janggal dan misteri rumah berhantu yg setiap mlmnya bergoncang seperti layaknya kena gempa… sampe sempet bikin aku mikir “Nih kasus kayanya lbh cocok dikasihin Mulder and Scully deh, hehehe…”.
2) Nodame Cantabile
Dr sekian byk manga yg sukses diangkat ke layar kaca, Nodame Cantabile adl salah satunya. Bersetting sekolah musik dengan murid-muridnya yg atraktif tingkah polah dan dandanannya (alias ajahib hehe…), serial ini bs membuat yang tadinya ngga begitu “ngeh” sama karya2 masterpice-nya Beethoven, Mozart, Bach atw Gershwin…bakal mulai suka dengerin karya musik mereka.
Cerita terpusat pada dua tokoh utama yaitu Megumi Noda yang genius memainkan tuts piano walau cuma dr hasil mendengarkan potongan musik itu sebelumnya. Karna aslinya dia ga bs baca buku musik alias buta not balok! Dan si angkuh Shinichi Chiaki yang sangat piawai memainkan piano dan biola. Waktu pertama kali ngedengar permainan piano Noda, sebenernya Chiaki kagum. Namun sejurus dia merasa kalau bakat alami yg dipunyai Noda itu ga sesuai dgn pakem. Ia menilai teknik bermain piano milik Noda itu ga umum, serba kacau dan seenaknya. Belum lagi jawaban polos Noda pas ditanya apa cita2nya setelah lulus sekolah musik? “Aku sejak dl bermimpi utk jd guru TK”… suiiing, gubraaak… Mau ga mau Chiaki jd menvonis Noda sbg cewe dangkal yg hanya menyia-nyiakan bakatnya aja.
Namun dibalik bakat luar biasa yg dimiliki, mereka berdua punya kelemahan masing-masing. Chiaki yg dr luar keliatan bagai Mr. perfect, sebenernya punya mimpi utk jd konduktor. Tp sayangnya dia nih parno bgt sm yang namanya terbang, sehingga mimpi menjadi konduktor sebuah orkestra terkenal, mengikuti jejak konduktor idolanya yang tinggal di Wina, Austria harus dia kubur dalam2. Di sisi lain kelemahan dr miss Noda adalah kebiasaannya ngebiarin kamar apartemennya jd mirip kapal pecah. Bukan cuman Chiaki yg shock ngeliat kamarnya Noda yg super berantakan kaya gt, aku jg. Abis, dia ampe punya dus bekas mie instan yg diatasnya udah tumbuh jamur segede rmh smurf… dianggap tanaman hias kali yee ama diyee … *tepok jidat*
Jd bgm dua karakter yg awalnya sgt bertolak belakang, tyt perlahan malah bs jd saling melengkapi dan mendukung keberhasilan karier masing-masing? Nonton aja serial ini, sooo recommended by me..
Yang paling keren dari film ini adalah performance orchestra nya… krn dlm proses recordingnya melibatkan para musisi orkestra yg luar biasa dlm memainkan alat-alat musiknya. Udah lama coba nyari CD OST nya tp belum dpt2 jg nih.
3) Pride
Halu Satonaka , salah satu pemain andalan tim hoki Blue Scorpion ini telah mencuri hatiku sejak pertama kemunculannya di layar ehehehe… Such a tempered selfish yet confident bad boy, yg kebetulan cuakep bgt ini adalah sosok yg irritating but meanwhile irresistible.

Pride sebenernya sebuah drama roman berbumbu olahraga keras Hoki es. Seperti kebanyakan drama Jepang, kita bs dapet byk pesan dan nilai-nilai positif dr tiap episode nya. Dalam 11 episode Pride kita disuguhi cerita tentang nilai persahabatan, perjuangan utk menjadi yg terbaik, kesetiaan dan kemampuan utk bangkit dan belajar dr kesalahan/kegagalan.
Inti cerita, Satonaka yg tdnya cuma iseng tyt malah beneran suka sm Ai, sesosok perempuan lugu yg dengan setia menanti tunangannya kembali setelah 3 tahun pergi tanpa kabar. Diawali tawaran Halu utk menjadi kekasih “sementara” Ai sampai tunangannya kembali. Niat awal Halu adl buat meruntuhkan konsep kesetiaan yg begitu teguh dipegang Ai, yg dianggapnya platonik. Ia yakin bs membuktikan kalo hal-hal semacam itu cuma ilusi belaka. Dan tyt…. nonton sendiri okey. Dijamin ruame tenan serial ini.
I simply fall for this one.. Kimutaku sekali lagi membuktikan dirinya sebagai aktor papan atas Jepang lewat Pride.
4) Dragonzakura
Impossible is nothing. Walau judulnya sekilas mirip merk pompa aer, tp Dragonzakura sebagai sebuah serial remaja, berhasil menggagas ide bahwa bahkan murid yg dianggap bodoh sekalipun, bila ia mau berusaha tak ada yg tak mungkin baginya utk mengejar cita2. Hal yang menentukan adalah ia bisa mendapatkan guru dan motivasi yg tepat. “Tidak ada yg namanya murid bodoh, mereka hanya kebetulan mendapatkan guru yg salah”.
Sakuragi sbg seorang pengacara, mantan anggota geng motor di masa mudanya, tadinya ditugaskan buat menilai SMU Zakura apakah akan ditutup saja atau tetap beroperasi. Alih-alih dia malah membuat satu pertaruhan dengan para guru2 disana yg sdh kadung pesimistis, tis, tis sm anak2 didiknya sdr.. Ia merasa terpanggil untuk memperbaiki kualitas pendidikan di sekolah itu. Sakuragi bertaruh bahwa dlm wkt satu tahun, Ia akan merekrut 6 murid yg dianggap plg bodoh di SMU itu, membimbing dan menbawa mereka utk lulus masuk Universitas Todai (Tokyo University), perguruan tinggi plg prestisius di Jepang. Sekilas ide Sakuragi ini dianggap mustahil dan gila, apalagi guru2 yg diajaknya menjadi pengajar dlm kelas intensifnya jauh dr gambaran guru-guru ideal.
Guru fisikanya setiap ngajar selalu berdandan nyentrik ala Einstein, Pelajaran Matematik dipercayakan pada seorang master ala shaolin yg kemana2 selalu bawa tongkat penggebuk, sedang Bahasa inggris dipegang seorang mantan tour guide hehehe… unik kan??! Metode mengajar yg diterapkan jg out of the box, sdkt nyeleneh tp terbukti Jitu tyt!

Dan sekali lg, banyak nilai-nilai positif yg bisa diambil melalui dorama ini. Bahkan, saya turut mendapatkan suntikan motivasi.. krn pas lg nonton film ini, saya jg sdg berkutat dgn tes2 penerimaan kerja. Alhasil lahirlah motto “Kalo mereka aja bisa, saya juga pasti bisa…semangkaaaaaa Fikaaaa!” hehe…
5) One Litre of Tears
Waaah, kayanya ini dia drama yg paling menguras air mata saya. Abis gimana ngga, ceritanya sdr diangkat dr kisah nyata perjuangan seorang gadis belia, Aya Ueto, melawan penyakit langka yg secara perlahan merenggut kemampuan gerak tubuhnya. Ditemani dukungan dan kasih sayang keluarganya yg luar biasa (merinding saya…),terutama dari sang IBu, Aya mampu untuk tetap tegar menjalani sisa-sisa harinya dengan rutin menulis buku harian. Aktivitas yg pd awalnya disarankan dokter untuk memonitor kemampuan menulis dan kognitifnya.
Aya baru mulai menikmati masa-masa masuk SMA. Aktif bermain basket, menjadi ketua kelas dan diam-diam menyukai kakak kelasnya, saat ia tiba2 divonis mengidap penyakit Spinocerebellar Degeneration. Sebuah penyakit kelainan syaraf tulang belakang yg akan membuatnya perlahan kehilangan kemampuan motoriknya.
Adegan paling menyentuh adalah saat Aya mulai tak mampu berjalan normal sehingga harus berhenti bermain basket, dan dengan berat hati terpaksa meninggalkan sekolah dan teman-teman sekelasnya untuk masuk sekolah terapi fisik khusus. Pertanyaan Aya pada ibunya “Ibu, apakah benar aku tidak akan pernah menikah dan punya anak?… Apakah aku tidak boleh merasakan jatuh cinta?” hwuaaaa, ibu mana yg ga akan luruh hatinya membaca kalimat-kalimat itu di surat yg ditulis dgn susah payah oleh anak gadisnya.
Pemeran Aya dan sang ibu sangat berhasil membangun emosi penonton. Kisah cinta Aya dengan teman sekelasnya, yg tdnya apatis menjalani hidup, juga digambarkan dengan manis tanpa harus cengeng berlebihan.
Yang jg mengharukan adalah tayangan foto-foto Aya (yang sebenarnya) semasa hidup. Dan penggalan kalimat dr diary-nya pada setiap akhir episode… kelihatan bahwa meskipun dinyatakan tak akan punya banyak waktu dan kemungkinan untuk bisa sembuh, Aya masih bisa tersenyum, menyebarkan harapan dan semangat. Memberikan orang lain motivasi dan kekuatan untuk yakin bahwa di balik semua kesulitan dan cobaan msh ada celah untuk meraih kebahagiaan.
Sebenernya byk resensi yg pingin saya share, tp berhubung pekerjaan telah menanti.. sementara hanya bs segini dl yaa. So happy watching guys… buat yg mau minjem DVD2 saya silakan… hehehehe.. tinggal dikalkulasi aja brp tarifnya hahahaha…
Here, After by Mahir Pradana
My rating: 3 of 5 stars
“Depressing Infatuation About a Neverending Agony”
Kalimat yg ditulis intan untuk ollie ini seakan jadi kalimat pamungkas sekaligus tagline yg (menurut saya) mewakili sebagian besar kisah para tokoh di buku ini. Dan untuk OST-nya, hmm.. kayanya yg plg pas lagu dr Queen dengan “Too much love will kill you”.
Suka dengan jalan cerita, terlebih cara penulis menuturkannya. Plot-nya yg dibangun layaknya efek domino (istilah saya), membedakan buku ini dr kebanyakan novel bertema cinta lainnya yg pernah saya baca. Dr kesemua, cerita ttg Novi dan Arya membuat saya berdecak, Nicely written! Walaupun karakter Diana sptnya tidak sedetail yg lain dan seakan terburu2 disimpulkan. Ketakutan Diana akan sebuah LDR ataupun komitmen serasa serta merta klo pikir saya. But overall, novel ini cukup bagus.
Dan, seiring trend skr ini yaitu mengangkat adaptasi novel ke layar lebar. kalau nanti2 tyt novel ini kebagian dijadiin sebuah project film, maka yg kebayang di kepala saya adalah sebuah film gabungan antara “He’s just not that into you” dan “New York I Love You”. 🙂
Recent Comments