Tahun 2008 segera usai, sepanjang tahun tersebut banyak peristiwa telah terangkai. Senang dan sedih terbungkus dalam suatu memori, pengalaman dan pelajaran.
Tapi kalo melihat dari sisi perekonomian Indonesia saat ini dengan mata telanjang (alias yang melihat itu adalah orang awam), negara kita sedang bermuram durja. Dari sikap optimisme pemerintah akan tingginya pertumbuahan ekonomi diawal tahun, diperkirakan mencapai angka 6,5% tiba-tiba saja runtuh di pertengahan tahun hingga akhir tahun ini. Ekonomi Indonesia di 2008 berpaling dari So Good ke So Bad. Tentu saja harus ada kambing hitam atas permasalahan tersebut, adanya krisis global.
Imbasnya adalah kersahan masyarakat. Asumsi PHK besar-besaran jika perusahaan tidak bisa menekan ongkos produksi, merosotnya nilai hampir semua saham membuat para emiten kebingungan, ketar-ketirnya pengusaha yang meminjam modal dari luar negeri karena nilai rupiah yang kembali menembus angka Rp. 11.000 per dolar AS dan yang paling mengenaskan adalah kelangkaan bahan bakar minyak.
Hampir semua masyarakat Indonesia merasa menjadi lebih miskin. Kemaren, saat membeli makan di warung padang, saya baru sadar bahwa uang di dompet tinggal tersisa Rp. 2.000 perak. Padahal nasi beserta lauknya sudah habis termakan. Mungkin krisis ekonomi juga yang membuat saku kantong saya menipis. Saya pikir tidak.
Tentu bukan masalah ekonomi yang mau kita bahas. Masih banyak hal-hal menyenangkan yang perlu kita kenang. Jika ada diantara kalian yang telah menikah, jika ada yang telah telah dikaruniai momongan, jika ada yang telah mendapatkan pekerjaan, jika ada yang mendapatkan prestasi-prestasi membanggakan, saya ucapkan selamat. Segala hal yang membahagiakan perlu kita kita kenang dan disyukuri.
Sekarang bukan saatnya untuk terus bersedih kemudian tenggelam dalam keterpurukan. Saatnya kita bangkit dan memupuk rasa optimisme dalam dada untuk menatap hari esok. Terus berjuang…. semangat….


