Suatu hari, saat diinterview oleh bagian HRD disebuah perusahaan swasta di Jakarta, aku dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang membuatku terdiam beberapa saat memikirkan jawabannya. Kira-kira redaksi kalimatnya seperti ini, “Bisa Anda ceritakan tentang teman-teman dan sahabat Anda?” Setelah terdiam sejenak, menarik nafas panjang akhirnya kujawab dengan singkat, “Semua orang-orang yang pernah saya kenal baik di lingkungan tetangga sekitar rumah, sekolah; dari SD sampai kuliah, himpunan, unit adalah teman-teman saya. Sedangkan sahabat….saat ini saya memilih untuk tidak punya sahabat.” Kulihat terbentuknya kerutan di kening sang ibu HRD.
“Bisa Anda jelaskan kenapa pilihan Anda seperti itu?” pertanyaan kedua terlontar dari mulut beliau. Pertanyaan ini terasa lebih sulit untuk dijawab. Bahkan untuk mengeluarkan jurus mengarang indah-pun terasa sulit. Akhirnya kupilih untuk menjawab apa adanya. Dulu aku berfikir bahwa sahabat adalah orang-orang terdekat yang nyaris sejajar posisinya dengan keluarga ku. Orang-orang yang selalu kusanjung keberadaannya, ku jaga perasaannya, kudengar semua keluh kesahnya, selalu dipihaknya, ku sayangi seperti aku menyayangi diri sendiri.
Jika dari teman aku hanya belajar menyukai, maka dari sahabat aku belajar menyayangi. Dari teman aku hanya belajar mengetahui, sedangkan sahabat mengajarkan ku untuk peduli. Disaat teman memberikanku kesenangan, maka sahabat memberikanku keluarga baru. Ketika teman tempat bertukar cerita maka sahabat tempat berbagi rasa percaya. Bahkan ketika lama tak bertemu seorang teman hanya berkata ‘hai!’ maka seorang sahabat melanjutkannya dengan ‘bagaimana kabarmu?’ dan kemudian mendengarkan ceritamu dengan antusias.
Tapi dari sahabat pula aku kemudian mengetahui apa artinya kecewa, merasakan sakit hati, tahu bagaimana rasanya benci, belajar untuk membatasi diri dan kemudian kemudian mulai untuk tidak peduli. Bahkan dari seorang sahabat aku tahu sakitnya dikhianati. Hal-hal yang tak pernah ditemui dari teman dan keluarga. “ dan saya tidak cukup kuat untuk belajar semuanya,”ku akhiri penjelasanku.
Sampai disitu kami berdua pun terdiam sampai pertanyaan ketiga diucapkan,”Pengalaman pribadi ya?” Kudengar tawa sinis keluar dari mulutku sendiri. “Saya rasa wawancara kita cukup sampai di sini,” beliau menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Pesan moral: 1. jangan jujur2 amat waktu interview jika tidak ingin interview disudahi dengan cepat .(percayalah)