
“si miskin dilarang masuk”
Tulisan ini terpampang jelas di gerbang-gerbang sekolah di negeri ini semenjak puluhan tahun yang lalu. Anehnya, tulisan itu tidak pernah pudar dan selalu tampak semakin baru dan semakin mengkilap serta semakin mudah untuk dibaca walaupun tidak pernah dicat ulang atau diperbaharui. Tulisan ini layaknya seperti makhluk hidup yang semakin hari semakin tumbuh berkembang dan membesar.
Begitu jelas dan terang terulis di gerbang sekolah seperti sebuah rambu-rambu lalu lintas yang jika dilanggar tentu saja akan ditilang oleh petugas lalu lintas, tetapi ini masih agak longgar karena harga tilang di jalan raya saat ini masih bisa di“nego”kan dengan sang petugas. Akan tetapi jangan main-main dengan rambu-rambu di gerbang sekolah ini, sangsi yang ditegakkan oleh setiap sekolah terhadap orang yang melanggar peraturan ini sangat kuat dan tegas. Sekolah punya cara dan trik sendiri untuk menegakkan peraturan ini, dan terbukti bahwa orang-orang miskin benar-benar kapok dan trauma untuk masuk ke sekolah.
Jadi sebaikmya jika kita termasuk dalam kelompok orang tidak punya banyak uang, pikir-pikirlah dulu untuk masuk sekolah karena bisa saja nanti kita mendapatkan sangsi dengan sendirinya, yaitu keluar dari sekolah tanpa harus dikeluarkan dan itu dilakukan dengan sadar karena dari awal sudah diperingatkan bahwa orang miskin dilarang masuk ke sekolah.
Trik-trik yang dilakukan sekolah untuk menerapkan peraturan ini sangat hebat. Wajar saja, karena sekolah telah berpengalaman puluhan tahun dalam menegakkan peraturan tersebut. Trik tersebut dengan sendirinya akan menjaring orang-orang sehinga dengan sendirinya orang-orang yang melanggar peraturan tersebut akan langsung keluar. Namanya test kemiskinan.
Test pertama dimulai ketika penyeragaman pakaian ketika akan masuk sekolah. Orang yang boleh masuk ke sekolah adalah orang-orang yang mempunyai seragam. Gilanya lagi, seragam tersebut sangat banyak jenisnya, mulai dari seragam putih, seragam pramuka yang harus lengkap dengan berbagai aksesoris yang ditempel di kantong dan lengan baju, kemudian seragam muslim untuk hari jum’at dan seragam olah raga, belum lagi sepatu, kaos kaki, jilbab dan seterusnya. Harga pelengkapan tersebut tentunya sangat mahal bagi orang-orang miskin. Jadi tidak mengherankan jika setiap tahun ajaran baru si miskin menjerit ketika ingin sekolah karena test kemiskinan untuk masuk sekolah sangat berat untuk dijalani. Sedangkan bagi si kaya, mereka tinggal gesek dan semuanya selesai.
Pada tahap awal ini, si miskin bisa saja lulus tes dengan menipu pihak sekolah karena mampu menyediakan seragam sekolah dengan cara berhutang sana-sini atau menjual harta benda berharga agar bisa membeli seragam sekolah. Ada juga sebagian yang mendapat sumbangan dari seorang dermawan atau memakai pakaian bekas orang lain, tetapi jebakan berikutnya siap menanti.
Test berikutnya dilakukan setelah duduk di bangku sekolah. Siswa diharuskan menyediakan alat-alat tulis seperti buku tulis yag sangat banyak dengan berbagai jenis seperti, buku halus kasar, buku petak-petak untuk matematika, buku isi 18, isi 40, isi seratus dan seterusnya, pena, pensil, spidol, peghapus, penggaris, tipe x dan alat tulis lainnya. Akan tetapi tidak cukup sampai disini, si miskin juga harus membeli buku-buku yang diproduksi oleh kapitalis yang ditolong jualkan oleh para guru-guru di sekolah, yaitu buku bacaan dengan puluhan jenis mata pelajaran, lembar kerja siwa, foto copy tugas dan seterusnya.
Bagi si miskin tentu saja ini adalah hal yang sangat mahal, jika tidak maka dia tidak akan masuk dalam kategori orang miskin. Akhirnya si miskin berhutang lagi, atau jika tidak mampu maka sangsi sudah menanti.
“Ya, kalau gak mampu jangan sekolah, keluar saja!”
Tetapi jika si miskin kembali bisa melewati ini, test berikutnya ada lagi. Orang tua siswa di undang untuk datang ke sekolah untuk menghadiri rapat komite sekolah. Topik rapat tidak lain untuk membicarakan pembangunan gedung sekolah yang berlantai tiga atau fasilitas lainnya seperti pembelian komputer, bahkan untuk membeli pendingin udara di kelas. Tentunya si kaya datang dengan bangga naik mobil mewah dengan kepala tegak dan disambut dengan senyuman ramah dan penuh penghargaan oleh pihak sekolah. Sedangkan si miskin datang tanpa dilihat karena tertutup oleh bayangan si kaya dan bahkan kehadirannya pun cenderung tidak diharapkan kerena tidak akan memberikan sumbangsih apa-apa karena di gerbang sekolah juga sudah tertulis “si miskin dilarang masuk”. Jadi, jika memaksa masuk, terima saja sangsinya yaitu jadi “mentimun bungkuk”.
Dengan sedikit gaya yang dianggap demokrasi, rapat dikuasai oleh para si kaya, dan keputusan yang diambil pun berpihak pada si kaya. hasil rapat pun milik si kaya yaitu, siswa harus membayar uang pembangunan sekolah yang sesuai dengan isi kantong si kaya. Sedangkan si miskin yang mencoba hadir disana akhirnya hanya mengurut dada.
Hal ini terus berjalan setiap tahunnya, jika pada tahun pertama si miskin berhasil lolos dari test kemiskinan yang diselenggarakan sekolah, maka akan ada tahun-tahun berikutnya dan test kemiskinan akan berulang lagi di sekolah sehingga orang-orang miskin benar-benar akan tersaring dan keluar dari sekolah dengan sendirinya. Hebat bukan!
Dengan demikian, jika si miskin ingin masuk ke sekolah, sebaiknya pikir-pkir dulu dari awal karena sudah diperingatkan dengan jelas di gerbang sekolah bahwa “si miskin dilarang masuk”.
Sebagian besar kita mungkin tidak percaya dan tidak menemukan tulisan “si miskin dilarang masuk” di gerbang sekolah. Hal ini bisa saja terjadi karena tidak memperhatikan atau tidak termasuk dalam kelompok orang-orang terlarang. Dengan demikian kita bebas keluar masuk sekolah tanpa harus mengikuti tes kemiskinan tersebut dan kita lupa bahwa tulisan itu terpampang dengan jelas di gerbang sekolah.
Akan tetapi yang mampu membaca tulisan ini hanya 2 orang saja, pertama adalah orang-orang miskin yang sering kali tersangkut dengan berbagai persoalan setiap akan masuk ke sekolah sehingga bacaan “si miskin dilarang masuk” menjadi sesuatu hal yang sangat traumatis dan tidak bisa terlupakan oleh mereka. Kedua adalah orang yang punya hati nurani yang bisa merasakan penderitaan si miskin.
Jadi, jika kita tidak bisa membaca atau menemukan tulisan ini di gerbang sekolah maka kita bukan termasuk orang miskin dan juga bukan orang yang punya hati nurani.


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.