Musim hujan pun tiba, tiada hari tanpa hujan. Hujan yang terus menerus mengakibatkan kali Banda meluap, apa lagi ditambah pengurangan debit air dari waduk sempor. Belum ada perhatian dari pemerintah masalah tanggul sepanjang kali Banda, yang akibatnya ketika musim hujan tiba masyarakat harus bersiap-siap menghadapi banji. Sudah menjadi tradisi masalah banjir ketika musim hujan, karena hampir tiap tahun daerah sekitar kali Banda menghadapi banjir. Masyarakatpun tidak heran, ketika musim hujan tiba disibukan kegiatan penanganan banjir. Tidak hanya masyarakat sekitar yang harus mengalami hal tersebut di atas, anak sekolah juga harus ikut mengalami hal yang sama. waktu kelas II SMP Dariman sudah masuk pagi, tidak seperti ketika Dariman masih duduk di bangku kelas I.
Pagi hari yang mendung, Dariman sedikit ragu-ragu berangkat sekolah, dia khawatir kalau-kalau di jaln turun hujan. Angkutan umum selalu penuh kala jam anak sekolah berangkat, Dariman harus menunggu angkutan berikutnya. Hampir tidak masuk sekolah karena haripun sudah siang, bayangan Dariman sampai sekolah pasti telat, dan akan mendapat hukuman sekolah karena ketelatannya. Bayangan Dariman ternyata salah, sesampainya di sekolah ternyata masih banyak teman yang belum berangkat. Bukan hanya siswanya, beberapa guru pengajarpun belum semuanya sampai di sekolah.
Tidak tau kenapa. Kebanyakan guru yang berasal dari daerah utara belum sampai di sikolah, begitu juga siswa yang berasal dari daerah yang sama. Ketika hari semakin siang ada seorang guru yang memberi kabar, bahwa daerah utara sudah terkena banjir. Karena banyaknya siswa dan guru yang tidak bisa kesekolah, akhirnya beberapa guru yang lain memutuskan memulangkan siswanya lebih awal, sekolahanpun kembali sepi.
Ketika Dariman pulang menunggu angkutan, tak satupun angkutan umum yang melintas. Awalnya Dariman dan teman-temannya tidak tau kenapa tidak ada angkutan yang melintas, setelah mendapat berita dari beberapa warga yang memberitahukan bahwa di daerah utara sudah tidak bisa di lewati kendaraan. Terpaksa Dariman dan teman-temannya harus pulan jalan kaki, nasib beruntung bagi siswa yang orang tuanya atau sodaranya yang punya sepeda motor, mereka dijemput oleh mereka.
Baru berjalan sekitar 1 km, banjir sudah sampai selatan. Dariman harus berbasah-basahan, canda tawa mengiringi perjalanan pulang. Senang, walaupun harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai rumah. Jarak dari sekolah sampai rumah kurang lebih� 8 km, Dariman menempuh perjalanan tersebut sekitar 1,2 jam. Dariman tidak merasa capai atau lelah, mungkin karena banyak teman-teman dan penuh canda tawa.
Sekitar jam 10.15 WIB Dariman sampai rumah. Sesampainya dirumah Dariman ditanya Ibunya. “Dar, kenapa jam sepuluh sudah pulang? terus pulangnya ko jalan kaki, apa diturunin dijalan?” tanya ibu. “Tidak bu, tadi di sekolah banjir, jadi dipulangkan lebih awal. terus angkutan juga tidak ada, jadi aku pulang jalan kaki.” jawab Dariman.
Filed under: Kenanga | Leave a comment »