Jambo, Nairobi!

Sepekan ini berada di Nairobi untuk agenda yang menyenangkan: Digital Media Africa, AI workshop dan Guild! Yang terakhir adalah yang paling ashoy karena I get to see “my people” — women leaders in Media houses!

Ini adalah kali pertama gw ke Nairobi, dan kali kedua ke Afrika di tahun 2025!

Sesi pertama: AI workshop bareng Lindsay Jones. Ini seru banget karena gw lagi bikin AI Implementation Playbook. Lindsay jelasin macem-macem soal AI, termasuk soal Google Zero Click — orang tidak lagi datang ke website karena jawaban atas pertanyaan mereka sudah disediakan AI summary.

Gw ada di kelompok bareng teman-teman Zimbabwe, Ethiopia dan Kenya — the dynamic group! Sesi diskusi terakhir bikin degdegan: what if there is no website and appsite, how will you reach your audience?

Hari kedua, memasuki Digital Media Africa 2025. Ini kali pertama gw ikut DMA yang Afrika, sebelumnya pernah ikut DMA yang Asia. Yang di Asia kayaknya lebih megah dan banyak orang, di sini lebih sedikit. Tapi crowd-nya asik banget — aktif nanya, pertanyaan bagus-bagus. Jadwalnya padat banget dan lelah, tapi semua diskusinya itu bagus-bagus.

Agra Khan University, Nairobi

Hari ketiga, gw kebagian jatah masuk ke diskusi panel. Format diskusinya menarik juga sih — ada speaker, ada panel. Speaker ini bikin presentasi. Lalu setelah speaker selesai, maka lanjut tanya jawab. Kalau ada 2 speaker, ya formatnya gitu lagi. Abis selesai speaker, maka lanjut panel. Nah di panel ini bisa menghadirkan orang baru — yang akan terlibat diskusi saja, tidak bikin slide.

Gw ini masuk kaum panel. Asik kaaan. Gw nyiapin data-data terkait Podcaster Hunt, lalu cuap-cuap. Selebihnya ya improvisasi dong.

Yang paling membara dari sesi ini adalah presentasinya Jen Aquino dari Probe, Filipina. Dia sharing soal gimana Probe kerjasama dengan content creator dengan semangat “duty of care” dan tidak keluar duit!

Sumpah deh ya dua hari ini capek banget dan kepala berasap banget.

Maka di hari ketiga yaitu Guild gathering, kita bersepakat bersama kalau sesi hari ini harus selesai cepet. Otherwise, Nairobi buat kami ya hanya hotel dan venue belaka. “Please, we need to go shopping!” kata Noura dari Mesir.

Diskusinya menarik-menarik. Dimulai dengan wrap up dari DMA, dan apa yang mau kita kerjain. Lalu Dima memandu kita untuk unlocking our super powers dan menempel semua di tembok sebagai “Superpower Market”. Lalu sesi diskusi soal team development – gw share soal People Roadmap yang lagi dibikin di kantor.

Sesi terakhir adalah sesi di mana gw jadi fasilitator. Hehehe, kali pertama nih. Tujuan sesi ini adalah setiap orang bikin action plan pasca Nairobi. Gw diskusi sama Tamala, bahwa gw mau pakai Canva biar langsung sekalian digital. Dia bilang terserah gw aja. Lalu ngobrol sama Dima, dia kasih insight bagus. Kalau mesti melibatkan device, maka potensi distraksi tinggi banget dan bisa ada aja kendala teknologi.

Yaudah akhirnya gw switch jadi manual aja. Gw minta semua orang menulis di kertas dengan format begini: “I’m going to ____(active sentence)__ by ___(add month)___ and I need support from __(mention names)___ to help me ___(do what)___.” Dan untuk accountability aspect, maka setelah sharing action plan, maka si peserta akan foto bareng “pledge”-nya dan supporternya. Mantap kaaan!

Dengan begitu, semua saling tahu apa yang mau dilakukan. Minta tolong ke support system di Guild ini juga dilakukan terbuka dan in advance. Plus foto untuk kasih pressure hahha.

Setelah selesai sesi, Tamala memuji cara gw fasilitasi sesi uwuwuwuwuw senang!

Yuk mari kita ajojing lagi. Feeling recharged!!

Date Trip ArtJog

Apakah ku sejatinya anak skena banget sampai bela-belain ke ArtJog pas long weekend 17an Agustus….

Ya lagi ya lagi ya lagi…

Wkwkwkwkw.

Rencana ambisius ala gw seringkali gugur dengan waktu dan duit, tsaaah. Jadi rencana semula: Jakarta, Yogyakarta Art Jog, lalu geser ke Papringan karena Minggu ada Pasar Papringan, pulang pakai kereta.

Nyatanya: ya udah deh ArtJog aja. Hahaha!

Kami berangkat Sabtu 16 Agustus 2025. Hilman ada pentas monolog dulu di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, gw nemenin Senja di rumah, Senja tes masuk online utk ke Binus. Gw berangkat sendiri dari rumah menuju St Jatinegara, Hilman juga langsung ke sana. Senja nggak ikut ke Yogya karena “udah sering” dan ada temen sekelasnya yang ultah 17 tahun gitu deh.

Berangkat naik Ekonomi Premium. Not bad untuk gw yang berkaki pendek. Kursi bisa reclining, tapi gak optimal. Jadilah gelisah sruntal sruntul gak sanggup tidur, mana gw dan Hilman pun pisah gerbong.

Alhasil sampai Yogya langsung pegel linu haha. Abis itu pindah dari St Lempuyangan ke St Tugu untuk mandi di Shower & Locker. Bersih.

Hilman akhirnya rental mobil, setelah sebelumnya berencana macam dua sejoli Ali Topan anak jalanan gitu– alias mau sewa motor aja. Tapi trus males mikir parkiran, males mikir rute jalan, dll dsb – ya udah deh rental mobil dan driver.

Agenda pertama: makan di Pasar Ngasem. Gile ya ramenyaaaaaa. Ini semua pada sarapan di sini atau bijimana. Akhirnya ikut ngantre yang gak terlalu gimana-gimana, makan juga jadi buru-buru karena banyak orang juga kan.

Pas jalan keluar Ngasem, eh lho apa ini – pertunjukan ukulele oleh lansia! Lhoo kok lucu! Jadilah kami melipir dulu di situ untuk menikmati. Lucu juga para lansia ini ada yang baru tau ukulele itu apa ya pas gabung sama komunitas inim motor komunitas ini adalah seorang fotografer yang tentu sudah lansia juga, dan dia belajar ukulele dari YouTube pas pandemi.

Gw langsung berasa dapat kode-kode semesta dong ini, karena beberapa pekan terakhir lagi mikirin soal lucu juga kalau bikin media untuk lansia.

Gw menikmati banget dong itu pertunjukan ukulele, ikut tepuk tangan, ikut goyang-goyang, sampai akhirnya ditarik ke depan untuk ikut joget hahaha!

Abis dari ukulele, mampir ngopi sebentar, abis itu melaju ke ArtJog.

Impresi gw begini– bagus sekali ini ArtJog bisa menarik minat begitu banyak manusia yang mungkin dulunya gak minat sama arts. Sampai ArtJog dapat sebutan “lebaran seni”. Karya-karya juga bagus– beberapa karya terasa sangat tajam dan politis. But then, orang juga ada yang melihat pameran-pameran itu sebagai “latar untuk foto” belaka. Gile nih ya, pengunjung ArtJog itu semuanya bagus-bagus, emang niat foto juga kali ya.

Tapi apakah pengunjung perhatiin materi pamerannya? Pertanyaan ini muncul karena ada seorang pengunjung yang foto, tersenyum, bergaya, di depan materi pameran yang adalah tulisan tangan orang yang diasingkan di Pulau Buru. Di pameran yang sama itu ada phone booth, di mana kita bisa mendengarkan percakapan seorang cucu yang gak pernah ketemu kakeknya, dan kakeknya adalah pemilik tulisan-tulisan itu dari Pulau Buru.

Gile, gw cirambay di dalam phone booth – sementara dia foto sambil senyum. What is this? Rrrrr. Tapi gw foto di photo booth sambil senyum juga. Senyum nyesss sih tepatnya.

Setopan terakhir di ArtJog adalah bikin parfum sesuai weton! Gw yang ternyata Senin legi ini lantas mulai meracik wangi-wangian. Entah kenapa gw iseng banget gini, padahal gw nggak pernah pakai parfum eniwei haha!

Abis ArtJog, terbitlah lapar, dan berakhir makan soto yang ternyata legend. Abis makan, terbitlah Malioboro dan gw mencari kebaya lawas. Niatnya sih sekalian nyetok syal scarf batik buat oleh-oleh gitu, tapi niat tersebut kalah kuat sama keinginan pijat! Akhirnya pijat di tempat terdekat dari Pasar Bringharjo, yaitu di Ramai Mal yang tidak terlalu ramai (yah namanya juga manifesting yhaaa). Dan pijatnya omaga enak banget!!!!

Last stop adalah fine dining di Mil’s Kitchen Yogya. Kami menemukan tempat ini pas iseng nonton YouTube tanpa arah tujuan, di videonya Traveloka. Makanannya tipe fusion gitu, tradisional dan modern.

Makanannya gokil! Wingko hangat dipadukan dengan pisang yang caramelized dan es krim teh tubruk! Kerupuk gendar dipadukan dengan gohu khas Ternate (salmon, tuna, shallots)! Roti sobek lembut hangat dipadukan dengan butter dari cakalang! Tortellini dengan saus woku! Serta ikan crunchy dengan saus asam jawa dan kecombrang!

Jangan lupa WA dulu untuk reservasi buat makan siang atau makan malam di nomor ini: 0821-4613-8880

Tak terasa tiba juga waktu pulang, pakai kereta Gajah Wong menuju Stasiun Bekasi. Cusssss kita jugijagijugijagijug!

Akhirnya, Savana

Baluran itu sifatnya optional di trip kali ini. Mungkin juga karena gw pernah trip safari pas ke Malawi ya. Tapi hal lain adalah dorongannya gak sekuat naik Ijen, atau cobain surfing, atau bahkan diving di Tabuhan. Soal diving, terpaksa skip dulu karena abis ada kecelakaan kapal tenggelam itu, ngeri ombaknya.

Di hari terakhir di Banyuwangi, sebetulnya udah nggak ada agenda selain nyobain rawon. Jadi trus pagi gak ada agenda, sementara pulang naik kereta masih jam 16.

Jadilah sejak kemarin, mulai cari informasi soal Baluran. Dan begitulah ya informasi itu kadang sulit didapat di zaman sekarang ini. Di IG informasi kurang jelas, di website yah what do you expect, jadilah gw pergiat googling sampai nemu sebuah nomor WA yang somehow akan menuju ke orang Taman Baluran.

Kenapa ngotot banget? Karena ada beberapa postingan agak lama yang menunjukkan orang tersebut bisa sunrise di Baluran. Sunrise di ujung timur Pulau Jawa kan jos dong!

Karena gw berhasil kontak WA tersebut, barulah terungkap bahwa Baluran sudah tidak buka untuk sunrise trip. “Biar hewannya bisa istirahat,” kata petugas. Oh ya kalau itu alasannya, ku setuju.

Jadi yang bisa dilakukan adalah sampai pas Baluran buka, di sana sekitar 2-3 jam, balik lagi ke hotel yang butuh waktu 2 jam, lalu check out, lalu makan siang, lalu mampir lihat Banyuwangi Ethno Carnival, lalu ke stasiun, lalu pulang. Sounds like a plan!

Dan here we are di Baluran….. untuk wisata foto wkwkw. Di sinilah penting ada papan informasi, atau audio guide atau apa pun gitu ya to accompany tourist. Supaya ada pengetahuan gitu yang didapat kalau lagi trip. Foto-foto tentu senang, tapi kalau gitu doang ya gantung.

Makanya kami seneng banget pas mobil mesti jalan lambat karena di depan kami ada… kerbau! Wkwkkw. Ada sih monyet seliweran, tapi ya udah gitu. Paling enggak ketemu kerbau! Haha!

Rute di Baluran itu membawa kita ke ujungnya yaitu Pantai Bama. Di situ yaaaa foto-foto lagi haha.

Pas rute balik dari Pantai Bama ke pintu keluar Baluran, giliran Senja yang nyetir. Dia udah bisa nyetir tapi udah lama juga gak nyetir. Di Baluran kan ya kondisi aman dong, mobil dikit, jalur cuma 2 arah, nggak ada yang ngebut. Dan jadilah Senja menyesal baru nyetir sekarang – karena mobil rentalnya enak hahaha.

Setelah trip Baluran selesai, udah deh kembali ke rencana semula. Makan rawon enak. Menyusuri jalanan mencoba mencari Banyuwangi Ethno Carnival. Akhirnya kami tinggal karena acara molor dan ngaret, karnaval nggak kunjung mulai, dan kami mesti ngebut ke stasiun — naik kereta rute terpanjang! 16 jam! Mantap!

Terima kasih Banyuwangi 😘

Sebuah Upaya Surfing

Agenda lain selama di Banyuwangi adalah surfing. Sebetulnya ada juga pilihan diving tapi Senja lebih pilih surfing. Sebelumnya dia pertama kali surfing di Pangandaran, pas trip bareng Dace. Jadi buat Senja, surfing di Banyuwangi jadi kali kedua, sementara ini kali pertama buat gw.

Hasil riset menunjukkan, bisa belajar surfing di Pantai Pulau Merah. Ada juga G-land yang beken di Banyuwangi tapi lokasi lebih jauh dan tampaknya lebih banyak buat lomba surfing internasional.

Berangkat dari penginapan lumayan pagi, karena jarak dari Banyuwangi kota ke Pantai Pulau Merah itu sekitar 2 jam. Pas sampai di sana, ternyata sudah ada orang yang duluan datang dan juga mau latihan surfing. Jadilah kita duduk-duduk dulu sambil ngobrol dengan Pak Suyitno.

Pak Suyit

Pak Suyit ini top banget. Dia warga lokal, lulusan SMP atau SMA kalau nggak salah. Dia dapat beasiswa untuk belajar soal keselamatan di laut gitu, di Australia. Lalu sejak itu dia banyak beraksi di area tersebut, menjadi local contact point untuk urusan keselamatan laut, juga soal isu lingkungan.

Kenapa isu lingkungan? Karena di area Pantai Pulau Merah itu ada tambang emas. Dia lantas menunjuk ke satu titik yang agak jauh. Lalu menambahkan kalau semula Pulau Merah lah yang mau ditambang emas.

Dia beberapa kali bilang kalau dia tidak menentang perusahaan tambang, tapi dia mau memastikan kalau dampak lingkungannya diperhatikan betul. Dia cerita soal bagaimana dia seorang diri datang ke kantor perusahaan tambang tersebut untuk menyampaikan aspirasinya.

Dia cerita juga soal Tahta, yang sekarang jadi pengelola utama tempat surfing yang dikelola di Pantai Pulau Merah. Tahta ini diangkat anak, lalu dididik langsung sama Pak Suyit untuk bisa surfing dan belajar soal keselamatan di laut. Tahta jadi harapan dia sekarang untuk melanjutkan kerja-kerja dia, karena Pak Suyit sempat kena stroke.

“Orang lain kena stroke karena kurang olahraga. Saya malah kena stroke karena kebanyakan olahraga,” kata dia sambil ketawa.

Belajar surfing

Here comes the best part: belajar surfing.

Awalnya belajar di Pantai dulu. Latihan gerakan. Posisi kaki taro di mana, tangan di mana, jangan ini dan jangan itu. Lalu latihan dong, dari posisi tengkurep di papan, lanjut hap langsung berdiri dengan kaki kuda-kuda.

Dan gw gak bisa berdiri dong wkwkwkwk.

Gile badan gw berat banget!

Trus gw ada aja dong alasannya. Lutut kan lagi lecet karena sehari sebelumnya kepeleset pas di Ijen. Jadi lutut kegesek-gesek di papan itu sakit.

Well that’s true juga sih. Tapi yang lebih gawat adalah gw gak sanggup angkat badan gw sendiri! Rrrrrrr kzl!

Setelah latihan di Pantai beres, lanjut ke laut. Jalan dulu 5-10 menit sambil bawa papan surfing yang berat itu, ke titik kita surfing di laut.

Yak mari kita mulai. Tali surfing diikat ke pergelangan kaki gw, abis itu jalan menuju ombak. Pas deket-deket ombak, arahkan papan searah dengan ombak yang menuju ke Pantai, lalu langsung naik ke papan surfing dalam kondisi tengkurap.

Teorinya: hap, berdiri di atas papan surfing, seimbangkan badan, dan voila!

Tapi tentunya itu tak terjadiii hahaha.

Pertama, ini badan berat banget kampret. Kedua, gile ngeri juga liat ombak jarak deket gini ya. Alhasil, posisi terbaik gw adalah macam lagi ruku’ di atas papan surfing haha!

Maka demikianlah waktu 1 jam surfing di laut buat gw berupa serangkaian upaya untuk naik ke papan surfing wkwkwk.

Sementara itu Senja tampak keren sekali pas lagi surfing!

Terima kasih Pak Suyit untuk cerita-ceritanya. Terima kasih Pantai Pulau Merah untuk surfingnya. Jangan sampai tambang emas merusak ya!

Bonus anak lanang pamer otot wkwkw

I Was on Top of Ijen!

2386 mdpl for God’s sake!

Gw coba rajin olahraga sejak 2-3 pekan sebelum naik Ijen 10 Juli 2025 kemarin. Jalan kaki, naik turun tangga. Tapi begitu di lapangan, oooomaagaaaaa siapa sih yang bilang Ijen itu buat pemula???

Gw, Hilman, Senja tiba di Ijen sekitar jam 00.30 malam. Kami berangkat pakai Damri, titik penjemputan jam 23 di St Banyuwangi. Begitu sampai, cari warung dulu buat makan Indomie karena dwingin suhunya. Sekaligus rental kacamata goggles buat mengantisipasi udara dengan belerang di puncak Ijen.

Sempat ada insiden salah barcode karena Senja input tanggal 9 Juli pendakian, dengan me-refer ke tanggal penjemputan Damri. Jadilah mesti booking ulang, sementara sinyal yang ada cuma Telkomsel. Senja berupaya beli paket ByU dulu, tapi di saat yang sama Dace juga minta tetering dengan sesama penumpang Damri. Kedua upaya berhasil di saat yang sama, dan akhirnya bayar pakai barcode-nya Dace.

Setelah itu ya nunggu aja 1.5 jam di tengah situasi yang dingin. Mau balik ke warung, males. Nggak enak juga kalau nggak jajan. Sepanjang nunggu itu gw kedinginan bet, tapi gw berusaha menguatkan diri bahwa ketika di Belgia aja gw gak kedinginan amat kok, dan ini kan udah pake baselayer atas bawah, aman dong. Tapi dinginnyaaaa bener-bener bikin grogi.

Jam 2 pagi, palang dibuka, pendakian mulai. Gw pakai dua tracking pole dan seketika itu juga langsung dipepet sama warga lokal yang bawa “lamborghini” — troli buat angkut penumpang naik turun.

Mendaki 2 jam dalam kondisi dinginnnnn dan menanjaaaakkk itu sungguh suatu tantangan banget. Gw jalan pelannnn banget sampai gak enak sama Senja yang jadi ikut lambat (but he was soo sweet to wait for me). Dan Hilman juga terus kasih semangat. “Ayo Boncuy. Nafas dulu yang tenang, tarik nafas panjang, hembuskan. Kita jalan 100 langkah abis itu istirahat.”

Gw udah nggak bisa mikir ini udah sampai di pos berapa. Sebagai satu-satunya orang di antara Hilman dan Senja yang udah liat aneka video Tiktok dan riset soal Ijen ini, gw tau ada 5 pos, lalu jarak dari pos 5 ke puncak itu jauh banget. Sumpah gw selalu pengen nanya,”Masih berapa jauh lagi?” atau “Ini pos berapa?” Tapi khawatir kalau pertanyaan kayak gitu gak boleh ditanya di gunung. Capeknya luar biasa. Ada saat-saat kaki gw lemes banget sampai khawatir salah melangkah. Ada dalam kegelapan kan ya memang serem, apalagi kan ya ini di gunung. Apalagi abis kejadian Juliana turis Brasil jatuh di Rinjani.

Ini beneran deh yang coba gw taklukkan adalah diri sendiri, bukan gunungnya. Gak kebayang kalau ini bukan Ijen yang punya lamborghini, gw udah nangis nggak kuat nanjak kali. Ini gw menguatkan diri untuk terus nanjak dengan pemikiran “Kalau gw tepar banget, selalu ada back up lambo di sini.” Jadi gw pasti sampai puncak. Dan mari melaju aja karena gw bisa yok yok yok!

Kami tiba di puncak sekitar jam 04.45. Berarti mendaki 2 jam 45 menit di tengah suhu yang dingin (later on gw nemu sebuah video Tiktok bilang kalau suhu saat itu bisa mencapai 8 derajat Celcius, yasaalammm).

Ketika akhirnya sampai di puncak, kaki gw udah lemes banget. Plus kedinginan ampun-ampunan. Diem salah, gerak salah. Dinginnn yauwoh gw sampai nggak kuasa ngeluarin hp untuk foto-foto yang banyak.

Gw udah menepis keinginan untuk lihat blue fire karena gak sanggup kalau harus turun kawah batu-batuan 800 meter dengan kondisi kaki lemes jaya, badan kedinginan, dan perasaan takut jatuh selalu muncul. Gw juga menekan keinginan untuk nanjak 1 km lagi menuju sunrise point. Apalagi kondisi berkabut banget dan upaya mencari sunrise dengan another perjuangan lagi bisa sia-sia. Dan karena berkabut juga, danau hijau di kawah Ijen juga nggak kelihatan huhuhu.

Akhirnya kami istirahat di puncak, surprisingly Senja dan Hilman bisa tidur nyenyak di tengah dingin ini. Gw merem dikit, Hilman lanjut foto-foto, kami lalu makan pop mie untuk menghangatkan diri. Di tas ada banyak beng beng, fit bar dan sejenisnya, tapi kalah telak langsung sama popmie yang hangat. Gw mulai agak hangat dan bisa senyum gembira menikmati hasil pendakian – walau berkabut, walau nggak lihat sunrise. “Kamu hebat banget Boncuy udah bisa naik sendiri,” kata Hilman berkali-kali. Yes! And let’s be happy with that!

Senja terlalu capek kayaknya, dia cuma ngomel aja kalau kita foto-foto terus haha. Sementara itu Hilman bersuka cita selama di puncak karena ini adalah kali pertama dia naik gunung dan “Aku udah bisa bilang bahwa aku sudah naik gunung.” Horeee!

Di puncak, kami ketemu lagi sama operator lambo yang mepet gw sejak garis start. “Wah ibu udah sampai sini aja!” Lalu terjadilah bercandaan di antara mereka sendiri: “Abis ini ibu dapat hadiah deh dari bapak, yaitu nggak diajak ke sini lagi!” Wkwkwk.

Di puncak, gw mulai foto-foto. Dan karena kaki lemes, gw beneran kepeleset. Lutut swoakitttt banget. Lecet ini pasti karena perih banget. Gw bawa betadine dan tensoplast, tapi gak sanggup gw kalo mesti buka dua lapis celana ini. Gw jatuh persis di dekat kerumunan warlok yg jadi operator lambo dong…. Gile gw menjadikan diri sendiri sebagai sasaran empuk banget nih buat jasa pengantaran turun dengan lambo…

Tapi tentu gw being gw adalah tetap berusaha turun dengan jalan kaki dong. Ayo ayo semangat Cit! (walau dalam hati juga ada yang bilang: ini kalo turun kan lutut lebih berat sementara lutut elo lecet, malih!

Baru beberapa menit, gw nyerah. Apalagi ini udah gak gelap, sehingga gw bisa lihat jurangnya dong kan. Lutut gw langsung (emotionally) lemes. Apalagi lutut gw sakit banget karena kepeleset. Gw gak tega kalau harus ngerepotin Senja dan Hilman lagi dengan turun bareng mereka… secara gw jalannya pasti akan ekstra lambat banget.

Yaudah deh, gw naik lambo aja!

Wakakakak it was an experience! Ngerii banget bow turun pakai lambo itu. Membayangkan si bapak operator bisa nahan beban gw dan  lambo ini sangat mengagumkan. Mana dia pun bisa tetap sambil ketawa-ketawa dan ngobrol dengan sesama operator lambo. Gokil!

Gw sampai bawah jam 07.15 dalam kondisi akselerasi pakai lambo. Sementara itu Hilman dan Senja sampai hanya selisih dekitar 15-20 menit setelah gw – dan mereka kan jalan kaki. Gokilllll!

Kadang masih aja terbesit pikiran “duh sayang banget sih nggak ke kawah untuk lihat blue fire”. Atau “aduh sayang amat sih nggak ke sunrise point”. Tapi ya udah lah ya. I’m very thrilled to have challenged myself to do this.

I was on top of Ijen for God’s sake!!

Menuju Banyuwangi

Perjalanan liburan ini lumayan seru… persiapannya,wkwkwk.

Awalnya memilih dulu antara mau ke Banyuwangi atau Bukittinggi. Tentu ini jatah gw untuk riset. Banyuwangi itu ada gunung (Ijen) dan ada air-airan  (diving atau surfing). Bukittinggi itu ada ketiinggian (Bukittinggi), makan-makan dan… apalagi ya. Dari  situlah ketemu Mentawai, wah asik nih bisa surfing.

Setelah mempresentasikan hasil riset itu, akhirnya kita pilih Banyuwangi karena waktu yang terbatas. Ke Banyuwangi bisa pakai pesawat, untuk menghemat waktu.

Sebetulnya dengan cara pikir itu, harusnyaa pulang pakai pesawat juga dong. Tapi bukan gw namanya kalau gak eksplorasi hal-hal  lainnya. Tiba-tiba dah  gw eksplorasi dari Banyuwangi  ke Malang, untuk lihat Universitas Brawijaya yang jadi salah satu incaran Senja buat kuliah. Trus dari Malang, apa ke Batu sekalian aja ya liat Omah Munir.

Gw presentasikan lagi ide ini. Tapi Senja nggak terlalu minat karena dia sudah keliling kota Malang pas piknik sama sekolah. Plus dia tidak merasa perlu melihat lokasi Brawijaya untuk memutuskan mau kuliah di sana atau enggak. Yak oke baiklahhh.

OK jadi kita kembali ke rencana Banyuwangi PP ya. Nah kembali dengan perspektif “hemat waktu” maka harusnya PP pesawat dong. Tapi bukan Hilman namanya kalau nggak tiba-tiba  pengen pulang naik kereta aja.

“Aku aja yang pulang pakai kereta. Kalian pakai pesawat. Soalnya ini kereta rute terjauh, aku mau  cobain,” kata Hilman.

Say no more, my dear. Kita switch moda pulang pakai kereta Blambangan Ekspres, seribu kilometer, rute kereta KAI terjauh dari ujung ke ujung. Mantap!

“Tahun ini kita nggak naik-naik kereta lagi ya,” kata Senja. Wkwkwk. Voucher gw abis deh nih kalau mau ajakin Senja naik kereta. Soalnya dia udah ke Gombong berduaan Hilman pakai kereta.

OK sip, maka travel Banyuwangi PP beres. Berangkat pesawat, pulang kereta. Yahuy!

Ijen vs Diviing vs Surfiing

Kegalauan berikutnya adalah soal jadwal kegiiatan selama di sana.

As we all expect, gw udah bikin jadwal kegiatan di Sheet. Lengkap dengan mau ke restoran apa saja, dan link map-nya. Gw udah nandain titik-titik di Banyuwangi, bikin list, dan share map ke Hiilman. Maka rencananya adalah Rabu sampai, Kamis Ijen, Jumat surfing, Sabtu pulang. Sounds like a plan dong.

Sampai gw lihat postingan-postingan Ijen di 2 pekan sebelum berangkat. Hujan, trek licin. Wadoooh.

Dari situ lah  gw mulai mencocokkan jadwal yang gw susun dengan…. prakiraan cuaca!

Gw terus memantau postingan orang-orang di TikTok untuk pantau kondisi terkini, cross check dengan prakiraan cuaca, serta menyusun Plan B.

Begitu terus sampai akhirnya kepentok dengan  fakta bahwa  gw udah pesen Damri PP untuk Ijen (berangkat Rabu malam, pulang Kamis pagi)  dan Senja udah daftar online untuk ke Ijen juga. Darrrrrrr.

“Ya udah lah kita ikutin rencana semula aja. Kalau tiba-tiba ujan, ya kita jangan maksain naik. Yang penting keselamatan. Kita kan mau liburan,” kata suamiku yang bijaksana.

Jadilah kita ke Banyuwangi sesuai rencana, sambil tetap mantau postingan Ijen di TikTok, dan prakiraan cuaca… serta  berdoa semoga tetap cerah di Banyuwangi.

And it did!

Piglet

“If you felt like you had to do it, it was right,” Franny said to Piglet.

This book hits home. I think this is why it took me a while to finish this. I was feeling the anxiety, the doubt, the overthinking, the cooking-as-distraction, the feeling of reaching an “ideal self”, the expectations, etc.

Thank you, Pippa.

Kalap Tintin, Asterix, Obelix, Lucky Luke

Waktu kecil, mereka itulah bacaan gw. Dan tentu saja bacanya bisa berulang kali dan ketawanya juga berulang kali. Kesenangan ini berlanjut juga ke Senja meski sejauh ini dia hanya senang Tintin.

First stop: The House of Comics. Ini adalah toko buku dan segala macam merch terkait tokoh komik Belgia, juga mungkin negara Eropa lain. Di sini ada Tintin, Asterix-Obelix, juga Lucky Luke dan Smurf. Yang Smurf tidak terlalu menggetarkan hati, jadi gw skip. Dulu gw baca Smurf juga, tapi nggak terlalu greget.

Gw langsung telfon Senja dari toko itu. Video call supaya dia bisa langsung liat. Awalnya mau beli komik Tintin versi Bahasa Inggris, pilih 1 judul yang dia suka. Tapi akhirnya bergeser ke beli figurin kecil Snowy. Plus mug Snowy juga. Gw udah selangkah lagi menuju beli mug Captain Haddock, tapi akhirnya beli mug Obelix aja. Lucky Luke tentu jadi sasaran juga, dan gw beli gantungan kuncinya. Gw adalah Lucky Luke dalam versi kecepatan mengetik, kalau dia kan menembak, haha.

Second stop: House of Tintin. Nah kalau ini full Tintin doang isinya. Gw ke sini barengan teman-teman Dewan Pers setelah sesi makan siang bareng. Karena udah sempat ke toko pertama, jadinya kali ini gw lumayan lempeng. Sambil liat-liat juga, mana merch yang tidak ada di toko sebelumnya. Hampir saja tiba pada keputusan besar untuk beli sweater Tintin, tapi setelah dikurs kok jadi 1 juta lebih wkwkwk. Akhirnya bergeser ke kaos aja deh.

Third stop: Comics Arts Museum. Nah kalau ini ya beneran museum (dan museum shop!). Museum ini isinya sejarah soal comic strip di Belgia yang jadi kebanggaan negara. Tentu saja display museumnya bagus dengan narasi penjelasan yang enak dibaca. Ada 3 lantai di museum ini – di lantai 1 itu bahas soal sejarah komik strip, kenapa disebut komik strip, perkembangan dari komik hitam putih ke warna, aspek pemilihan sampul komik, sampai distribusinya. Kalau ke museum kayak begini, tentu saja sembari mbatin, kok ya kita nggak punya kayak gini…

Lantai 2 dan 3 itu lebih fokus ke highlight karya. Di lantai ada figurin life size Tintin, Kapten Haddock dan Snowy pakai baju astronot yang oranye itu. Di lantai 3 itu dikasih khusus soal comic strip artists yang berkarya supaya tidak ada di bawah bayang-bayang tokoh besar macam Herge.

Nah fourth stop tentu ke Museum Herge. Dan tentu ini butuh satu tulisan khusus dongs.

Di setiap tempat itu, gw pasti telfon Senja. Nanyain dia pengen apa. Sampai dia bilang:”Kan udah banyak oleh-oleh…”

Nah di sinilah prinsip nyokap gw berlaku: “Biar nggak penasaran…. kan buat pengalaman.” Pas kan!

Kesenjangan Sosial

Lagi rame di medsos tagar #KesenjanganSosial eh malah kejadian di gw.

Di lokasi acara Unesco, gw ketemu rombongan Dewan Pers dari Indonesia. Ada Bu Ninik, Mas Azul, Mas Tra, Pak Asep dan Pak Agung. Sebagai basa-basi awal maka gw cerita visa gw keluar Jumat sore banget. Niat hati mau dramatis, eh Mas Azul bilang: “Kita kan pakai Paspor dinas, jadi gak pakai visa.”

Wkwkwkw langsung mati gaya hamba.

Lalu gw cerita dengan semangat kalau dr bandara ke city center itu pakai kereta, wah asik juga, cepet soalnya. Cuma 20 menit. Trus Bu Ninik bilang: “Kami dijemput KBRI.”

Yaaasalam lupa deh hamba kalau mereka kan pejabat negara hahahaha.

Trus kok gw ya masih terjebak #KesenjanganSosial berikutnya.

Pas makan siang bareng sama rombongan DP itu, gw mengisi waktu sambil nunggu pesanan sambil ngecek map. Ceritanya mau menyusun rute jalan-jalan Kamis, mau ke mana aja dan naik kereta/bis apa. Trus staf sekretariat DP yang ikut rombongan, mendekat Bu Ninik dan bertanya: “Besok agendanya mau ke mana? Ditanya KBRI, mau diantar.”

Kyaaaaaa wkwkwkkw.

Kesenjangan itu nyata adanya hahaha.

Menginap di Bunk Bed Hostel

Ini adalah pengalaman ketiga gw nginep di hostel dengan bunkbed. Pertama di Singapura bareng Senja. Kedua di Oslo bareng Mbak Eni. Dan kali ini di Brussel, tepatnya di The Legacy by 2go4.

Senja sempat mempertanyakan kenapa gw pilih hostel dan bukan hotel biasa. “Kan dibayarin…” Itu iya sih tapi kalau bisa hemat di biaya akomodasi kan uangnya bisa dipakai untuk membiayai pengalaman hohoho. Secara akomodasi cuma buat tidur makblek aja, ya nggak usah yang mahal-mahal deh.

Dan harga akomodasi di Brussel ya mahil. Hostel gw, The Legacy by 2go4 Brussel itu harganya hampir 4 juta untuk 6 hari. Di area sekitar situ, ya cuma dia ini yang murah (plus Van Gogh Hostel yang diinapi oleh Mas Manan). Selebihnya harga langsung > 2 juta per malam. Ya males dong.

Gw pilih kamar yang all female dormitory, adanya yang 6 bed. Artinya ada 3 bunk bed.

Pemesanan lewat booking.com. Gw sempat kontak untuk tanya “Do you have blankets? If so, do I have to pay or is it free?” Maklum gw mudah kedinginan, maka ini penting. Jawaban adminnya gini: “We have bed sheets and it’s free!” Yah jadi selimut gimana nih? Sebagai antisipasi, maka gw angkut lah jadinya selimut pesawat. Maafkannnn. Walau akhirnya ternyata ya ada dufet-nya dong di bed. Gw lupa kalau di Eropa itu ya pake dufet dong, bukan selimut. Lha emang akomodasi di Dieng wkwkw.

Pas sampai pertama kali di situ hari Minggu sore, gw sempet celingukan dulu. Duh gimana masuknya nih. Pintu kekunci, kayak gak ada orang. Gw ketok-ketok deh jadinya. Ada tempelan nomor kontak emergency, lah tapi gw nelfonnya gimana, kan itu bukan nomor WA.

Untungnya ada orang di dalam yang bukain pintu. Sambil rada ngomel sih wkwk. Jadi di Booking.com itu dikasih tau sama admin akomodasi kalau gw perlu masukin kode di kotak penyimpanan kunci di depan pintu masuk. Masukin kode, maka kotak terbuka dan di dalamnya ada kartu akses gw. Wah iya ternyata ada. Mana lah gw kepikiran untuk cek email lagi huhu.

Setelah masuk dengan selamat, maka cobaan pertama datang. Kamar gw ada itu nomor 201. Lantai 2. Tanpa lift. Jadi kan mesti naik 4x demi menuju kamar. Sementara sore itu gw udah geol banget karena udah muter-muter dulu di area Brussels Centraal sama Mas Manan begitu tiba di Brussel.

Untungnya si bapak ini lantas berbaik hati. Dia bawain koper gw sampai ke depan kamar. Surga untukmu Paaak.

Kamar dengan 3 bunk bed itu udah penuh semua. Yang kosong tinggal 1 bed di bagian atas. Yah apek deh gw. Ribet kan kalau mesti naik turun kalau mau ambil barang. Tapi ya udah lah ya, ada rupa ada harga kan.

Di dalam kamar juga ada loker untuk koper. Karena ada loker itu malah jadi was-was. Wah nggak bisa dong ya kalau cuma naro koper di kamar dalam kondisi koper kekunci. Karena kan koper ya tinggal diangkut aja sama si maling kan. Rrrr. Itu membuat lebih akrobatis aja karena adaaaa aja barang ketinggalan di koper.

Satu hal penting yang berhasil gw antisipasi adalah bawa gembok. Gembok yang gw pakai adalah gembok koper, tapi untuk mengunci loker isi koper tadi itu. Gw tau itu tentu karena riset dulu soal akomodasi tersebut. Sungguh riset itu memang tidak pernah sia-sia yhaaa.

Untungnya lagi, meski sekamar itu ada 6 orang, gak ada pressure untuk basa-basi. Semua ya sibuk aja masing-masing. Cuma sekali aja sempat terjadi percakapan, pada saling memperkenalkan nama — gw ada di situ tapi gak dicolek juga dan gw pun nggak sukarela memperkenalkan diri.

Akomodasinya ya comes with a price aja, namanya juga cari yang murah haha. Mari kita nikmati keribetan keluar masuk koper, angkut barang ke bed atas supaya nggak kehausan, bisa ngecharge hp dll dan tidur dengan damai bersama sleeping mask.

Di hostel ini juga ada shared kitchen dan common room. Peralatan cukup lengkap, ada juga yang masak makan malam di sini. Ada peralatan makan yang disediakan, juga teh gula, ada kulkas, juga ada food label untuk namain makanan di kulkas, juga ada vending machine isi minuman soda dan bir.

Terima kasih The Legacy by 2go4 Brussels. You’ve been kind!

Design a site like this with WordPress.com
Get started