Welcome to My Home~

Agak telat sih mosting ini mengingat blog ini udah nongol dari beberapa bulan yang lalu, tapi yah… daripada ngga sama sekali yaaa…. let me say:

WELCOME TO MY HOME~ ^^

So this is my first own world in the cyber world(?). Semua hal yang berlaku di sini adalah sepenuhnya
HAK SAYA sebagai tuan rumah. Seperti semua rumah pada umumnya, di sini juga berlaku aturan-aturan yang aku harap bisa dipatuhi ama semua tamu yang datang.

Continue reading

Bright as The Sun

Image

 

Bright as The Sun

Author : Clan Yuuki / @trililiii

Cast : Byun Baekhyun (EXO K), Klee (F(X) Krystal Jung)

Genre : Fluff

Length : > 7k words 

Baekhyun dan Klee milik Tuhan Yang Maha Kuasa, storyline punya saya. Kyungsoo juga punya saya!

Klee sangat  mencintai ketenangan.

Hari masih pagi.

Klee menjejakkan kakinya di atas rerumputan basah. Rasa dingin dan geli merayapi telapak kakinya yang ia biarkan telanjang karena  ia meninggalkan sepatunya di tepian sungai. Sesekali tangannya menyentuh dedaunan berwarna coklat keemasan yang berjejer di sepanjang jalak setapak itu, membuat tangannya basah karena embun. Sementara tangan yang lain menggenggam erat jemari lain yang bertaut di sana.

“Perhatikan jalanmu, Klee. Ada banyak batu kecil di sini, kakimu bisa terluka.”

“Aku tak akan terluka hanya karena batu kecil, Baekhyun,” Klee mengayunkan tangannya yang bertaut dengan tangan Baekhyun.

“Juga banyak ulat di sini,”

“Mereka kecil dan lembek,  tak akan bisa menyakitiku,”

“Tapi mereka bisa membuatmu gatal di sekujur tubuh dan kau tak akan keluar kamar seharian karena tubuhmu menjadi merah dan bengkak,” Baekhyun melangkah lebar, melompati sebuah sungai kecil dengan air luar biasa jernih.

“Oh, itu terdengar tidak menyenangkan,” Klee bergidik ngeri. Tidak akan menyenangkan jika ia tak dapat bertemu Baekhyun sehari saja. Membayangkannya saja membuat Klee memanyunkan bibirnya.

Klee melompat ke dalam sungai kecil di hadapannya, membuat percikan air dingin dan menyegarkan itu membasahi bajunya. Klee mulai melompat-lompat senang, menimbulkan percikan air lebih banyak lagi hingga membasahi wajah Baekhyun yang masih memegang tangannya.

“Ini menyenangkan, Baek! Sungguh!” Klee menarik-narik tangan pemuda itu, rambutnya yang ikal sebahu bergoyang seiring gerakan tubuhnya.

Tubuh kurus Baekhyun sedikit terhuyung. Klee semakin menikmati kegiatannya dengan memutar-mutar tubuhnya dan menjejak ke sana kemari. “Hentikan itu, Klee! Astaga ada banyak batu tajam di situ… hei, awas kakimu!” suara Baekhyun yang meninggi diacuhkan oleh gadis itu.

“Ini menyenangkan, Baek! Sungguh!” Klee mengulang ucapannya. Tangan kecilnya meraih air yang sebatas mata kakinya dan mencipratkannya ke wajah Baekhyun.

“Hentikan itu! Kau membuat wajah tampanku basah. Astaga jangan salahkan aku kalau kau terluka,” Mata bulat Klee memicing, lalu ia mendengus pelan. Baekhyun tetap dengan percaya dirinya yang setinggi langit.

“Tapi ini menyenangkan, Baek! Percayalah!” Klee kembali melompat, bajunya telah basah sebagian. “Kau juga harus men- aaaaahhhh!!!”

Baekhyun langsung melompat ke dalam sungai saat Klee menjerit sambil memegangi kakinya yang mulai mengucurkan darah dan menetes ke aliran sungai di bawahnya. Sebuah pecahan kerikil tajam menggores telapak gadis itu. Baekhyun ikut meringis melihat wajah Klee yang mulai memucat, antara takut dan menahan perih.

“Aku sudah memperingatkanmu!” seru Baekhyun kesal. Klee memasang wajah menyesal sementara darah masih menetes dari kakinya.

 Klee pasrah saja saat Baekhyun mulai memapah tubuhnya ke tepi sungai dan mendudukkannya di atas sebuah batu. Baekhyun berjongkok di depannya, mengeluarkan sapu tangan berwarna cokelat muda dari saku celana pendeknya dan mulai membalutkannya ke kaki Klee, “Kau tak medengarkanku, Klee. Lihat sekarang, ayahmu pasti akan memarahiku karena aku yang mengajakmu bermain ke sini sekarang!”

“Kau hanya mengkhawatirkan hal itu, Baek!” seru Klee kesal dan menarik kakinya dari tangan Baekhyun.

Baekhyun mendesah pelan sambil menatap gadis itu dengan mata menyipit. Ia meraih kembali kaki gadis itu, membuat sebuah simpul di akhir perbannya, “Dan aku tak dapat bertemu denganmu karena ia akan melarangmu bermain denganku selama  beberapa hari sampai kakimu sembuh. Kau tidak merasa itu membosankan?”

Klee mengerjap pelan. Ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Menggelitik. Menyenangkan.  “Kau kesal karena tak bisa bertemu denganku?”

Baekhyun mengangkat kepalanya. Kulitnya yang seputih susu tertimpa cahaya matahari yang berwarna keemasan. Sebuah senyum lebar dan hangat terbentuk di wajahnya, membuat Klee lupa bernafas.

Senyum Baekhyun lebih cerah dari cahaya matahari pagi.

“Tentu saja. Kau pikir aku punya alasan lain?” senyum itu masih terkembang di wajah Baekhyun. Klee menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Terima kasih, Baek.”

Lalu Baekhyun tersenyum lagi, membuat Klee lupa bernafas lagi. Klee mencondongkan tubuhnya ke arah Baekhyun yang telah membalikkan tubuhnya. Perlahan tangan Klee melingkar di leher Baekhyun, rasanya hangat dan menyenangkan merasakan tubuhnya melekat di punggung pemuda itu.

Lalu Klee mendengarkan Baekhyun bercerita sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya. Suara Baekhyun yang khas sangat enak didengar dan itu membuat Klee mengantuk. Ia tertidur di punggung Baekhyun.

Klee sangat menyukai ketenangan. Karena itu ia sangat bersyukur saat ayahnya memutuskan untuk berhenti dari kantornya di London setelah ibunya meninggal. Klee baru berumur tujuh tahun saat itu. Mereka pindah ke sebuah desa kecil di sebuah pulau di Korea Selatan.

Desa itu indah dan Klee sangat menyukainya. Klee suka bermain di sungai kecil yang mengalir tak jauh dari rumah mereka. Ayahnya kadang mengajaknya memancing di sana, dan kegiatan itu akan berakhir dengan ayahnya yang memancing sendirian sementara Klee bermain air di sungai. Klee menyukai kebun bunga matahari milik paman Kim yang terbentang di belakang rumahnya. Klee menyukai warna kuning bunga matahari yang terbentang sangat luas –seperti tak berbatas- dan ia kerap bermain di sana seharian. Ia akan sangat bahagia saat musim panen tiba karena ia bisa makan kuaci sepuasnya. Klee menyukai desa itu dengan sangat. Karena ia bertemu dengan Byun Baekhyun di sana.

Pertemuan pertama mereka diawali dengan tatapan aneh dari Klee ke arah Baekhyun.

Byun Baekhyun bertubuh kecil dan kurus, ia bahkan tak lebih tinggi dari Klee –saat itu. Kaus putihnya yang kusam berpasangan dengan celana coklat pendek yang warnanya sudah pudar.

Tapi Klee tau ia dapat bersahabat baik dengan Baekhyun saat wajah polos Baekhyun yang tirus menunjukkan senyum cerah.

Senyum Baekhyun secerah matahari.

Tangan Baekhyun terulur, senyumnya masih terkembang dan tak memudar sedikitpun, “Hai, namaku  Byun Baekhyun.”

Itu satu pagi di musim semi.

Klee berumur sebelas dan ia berlari penuh semangat dengan satu kotak kecil berada di kedua tangannya. Senyumnya terkembang saat melihat Baekhyun telah duduk di bawah sebuah pohon yang tumbuh di tengah hamparan bunga matahari.

“Coba tebak apa yang kubawa!”

Baekhyun mengangkat bahunya acuh, “Aku tak tau.”

“Kau bahkan belum mecoba menebaknya. Kau tidak seru!” Klee mengerucutkan bibirnya lalu ikut duduk bersila di hadapan Baekhyun. Kotak itu berwarna merah muda dan pita merah marun bertengger cantik di tutupnya. Klee membukanya sementara Baekhyun menunggu dengan wajah penasaran.

“Taraaaaaaa!!” suara Klee melengking hingga Baekhyun sedikit berjingkat, tapi sedetik kemudian tatapannya kembali ke arah kotak tersebut.

“Apa itu?”

“Ini Turkish Delight, Baek. Bibi Samantha mengunjungi kami dari London dan ia membawakan ini untukku,” suara Klee agak terlalu ceria. Ia mengambil satu potong Turkish Delight dari kotak tersebut dan menyodorkannya ke arah Baekhyun.

“Kelihatannya enak,” mata Baekhyun berbinar. Ia mengambil permen itu dari tangan Klee, memencet-mencetnya pelan dan matanya semakin berbinar saat merasakan benda itu terasa kenyal di tangannya. Ia memasukkannya penuh-penuh ke dalam mulut, matanya tak bisa lebih berbinar lagi kali ini. “Ini sangat enak!”

Klee tertawa senang melihat ekspresi Baekhyun. Ia mengambil satu lagi Turkish Delight dari dalam kotak dan memasukkannya ke dalam mulut penuh-penuh hingga pipinya menggelembung. Tubuh gadis itu bergoyang-goyang karena senang.

“Apa bibimu sering datang kemari? Suruh dia membawakan lagi Turkish Delight, Klee. Yang banyak!!” Baekhyun menekankan suaranya di kalimat terakhir.

“London sangat jauh, Baek. Ia tak mungkin sering-sering  datang kemari.”

Wajah Baekhyun berubah muram, “apa sangat jauh?” ia mengambil satu permen lagi dan menjejalkan ke mulutnya.

“Tentu saja. Kau harus naik pesawat untuk bisa ke sana,” mata Klee menewarang.

“Ah, aku sangat ingin naik pesawat,” Baekhyun ikut menerawang, “Bagaimana rasanya terbang, Klee? Apa awan terlihat lebih indah dari dekat? Bagaimana bentuk rumahku dari atas sana?”

Klee terbahak melihat wajah Baekhyun yang polos terlihat sangat nelangsa dengan keinginannya. Baekhyun menekuk mukanya kesal. Apa salahnya ingin naik pewasat?

“Kau sungguh polos, Byun Baekhyun,” Klee kembali terbahak. Terlebih saat melihat serbuk gula tertinggal di samping mulut Baekhyun yang membuat wajah polos itu terlihat semakin polos. “Tentu saja menyenangkan, Baek. Kau harus mencobanya suatu saat nanti. Kita pergi ke London bersama dan membeli Turkish Delight banyak-banyak. Bagaimana?”

Tangan Klee terulur untuk membersihkan sisa gula di mulut Baekhyun. Baekhyun tersentak saat jemari gadis itu bergerak di sana dan Baekhyun dengan sadar merasakan pipinya memanas. Untuk pertama kalinya ia merasakan jantungnya berdetak di luar kendali karena sikap Klee, dan entah kenapa itu terasa menyenangkan.

Pergi ke London naik pesawat dan membeli Turkish Delight yang manis banyak-banyak bersama Klee. Bukan cita-cita yang buruk.

 

~~~ Bright As The Sun ~~~

 

Klee memandang layar laptopnya dengan senyum terkembang. Jemarinya lincah bergerak di atas touchpad untuk menyimpan file ketikannya di dalam sebuah folder khusus yang ia buat untuk menyimpan tulisan-tulisannya.

“Cepat selesaikan semuanya dan kita segera berangkat atau aku akan membiarkanmu berangkat dengan bus pagi ini. Kelas seniku jam Sembilan pagi ini, Klee. Kyungsoo akan mengamuk jika aku terlambat karena aku meminjam catatannya kemarin.”

Klee memutar kursinya dan mendapati seorang pemuda memandangnya tajam sementara ia hanya menanggapi dengan senyum tanpa dosa, “Kau benar-benar tak sabaran, Byun Baekhyun,” ucapnya sambil terkekeh.

“Hei, kau membiarkanku menunggumu menyelesaikan tulisanmu sejak lima belas menit yang lalu dan kau bilang aku tak sabaran? Kau gadis menyebalkan,” sungut Baekhyun kesal.

“Dan kau sangat cerewet,” Klee masih terkekeh. Ia beranjak dari duduknya dan mulai mengambil beberapa buku catatan untuk dimasukkan ke dalam ranselnya. Sesekali ia melirik pemuda yang berdiri sambil bersandar di pintu kamarnya itu.

Klee kembali tertawa geli. Byun Baekhyun terlihat sangat tampan pagi ini. Jeans bitu tua berpadu dengan kaus biru muda dan kemeja putih yang tak ia pasangkan kancingnya. Rambutnya kecoklatan dengan model sedikit berantakan. Selain tampan pemuda itu juga keren. Dan Klee baru saja membuat Baekhyun memakai kaus kusam dan celana pendek yang pudar warnanya dalam tulisannya. Maaf, Baek…

“Ayo,” ucap Klee setelah mengunci pintu rumahnya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil Baekhyun yang terparkir di depan rumahnya.

“Kau menulis apa lagi tentangku? Apa kau membuatku menjadi peri rumah lagi? Atau menjadikan namaku sebagai anak anjing lagi?” tanya Baekhyun sambil mulai menjalankan mobolnya.

“Kali ini lebih buruk dari itu, Baek!” kekeh Klee sambil memankan boneka di atas dashboard dengan jemarinya. Ia suka menggoda Baekhyun.

“Oh, biarkkan aku membacanya nanti siang.” Baekhyun membelokkan mobilnya ke arah jalan raya. Kendaraan terlihat lebih banyak dan beberapa terlihat berhenti bergerak beberapa ratus meter di depan mereka. Oh, Klee benci kemacetan.

“Kau sungguh ingin membacanya?” Klee bertanya basa-basi.

Eung,” Baekhyun memelankan mobilnya dan akhirnya berhenti di belakang kendaraan-kendaraan yang telah berjejer di depannya.

“Kau tau ada toko kue yang baru buka di dekat fakultas seni, Baek? Haera bilang mereka menjual Turkish Delight yang  sangat enak! Aku ingin makan Turkish Delight banyak-banyak!” Klee tersenyum penuh arti.

Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Klee. Sinar matahari yang berwarna keemasan menerpa wajahnya yang seputih susu. Ia tersenyum cerah kea rah Klee, “Berapapun yang kau mau, Klee.”

Lalu Klee tersenyum senang. Bahagia. Ia lupa bahwa mereka sedang terjebak kemacetan di tengah kota.

 

Klee sangat menyukai ketenangan.

Tapi Klee tak keberatan dengan keramaian, selama ada Baekhyun dengan senyumnya yang secerah matahari di sampingnya.

 

Yeah, saya memutuskan buat nulis lagi. Nggak menjanjikan apapun karena saya emang orangnya malesan dan gak konsiten jadinulisnya ya gitulah tergantung niat lagi full apa engga. Silakan caci maki tulisan ini… 🙂

 

 

 

 

 

 

Poster Collections

Berhubung gue ga punya apa-apa buat diposting (iya gue tau gue miskin postingan), yaudah apa yang ada aja lah gue post ya… Gue kalo lagi nganggur, bisa juga kalo lagi betek, bosen kencan ama skripshit, biasanya suka buka photoshop trus bikin beginian. Yah, masih amatir banget sih, dan otodidak pula belajarnya… Jadi ya gitu deh(?). Jja!

Continue reading

(Ficlets) Love and Pain

Image

Ini aslinya nulis buat 5 Songs Challenge, tapi aku gagal buat ngikutin tantangannya. Kesulitan buat nulis dengan limit waktu yang cuman segitu, jadinya aku ga anggep ini sebagai 5 Songs Challenge, cuman ficlet biasa yang dapet idenya pas dengerin lagunya hehehe… ini nulisnya juga udah lama banget sih, baru aku post sekarang aja…

Super Junior – She’s Gone

If I could turn it all back
No, if you would smile for me just once more
By myself, I’m unable to hold your heart
Because of foolish pride, I’m sorry
my love

Harusnya aku sadar, bahwa mencintainya adalah suatu hal yang tak kulakukan sejak awal. Harusnya aku sadar dengan konsekuensi yang harus ku hadapi sekarang, jika saja aku tak egois dan membiarkannya pergi dengan pria yang dicintainya. Andai saja…

Aku tau tak seharusnya aku menyekapnya dalam kungkungan hidupku, hanya untuk sebuah keegoisan. Ya, mencintai itu… menjadi egois. Dan itu berlaku padaku.

Ingatanku berputar, menjelajah kenangan yang mungkin selamanya tak akan pernah ingin ia ingat, atau memilih tak pernah melewati kejadian itu sama sekali dalam fase kehidupannya. Kenangan yang harusnya menjadi momen terindah untuknya, saat harusnya ia menjadi mempelai wanita dan Kyuhyun -pria yang ia cintai sepanjang hidupnya-, sebagai mempelai prianya.

Dan akulah yang merampas momen indah itu darinya, dengan menjadikannya suatu hari penuh dengan kutukan, saat aku menerobos para tamu di gereja dan menarik tangan gadis itu keluar dengan paksa. Aku tak tau apakah orang-orang di dalam sana terlalu tercengang atau apa hingga tak satupun dari mereka menyadari bahwa mempelai wanita mereka telah dibawa kabur.

Sudah seminggu ini, ia menolak mengkonsumsi makanan apapun yang aku berikan padanya. Ia menolak setiap suapan yang aku sodorkan dengan memalingkan wajahnya yang berekspresi jijik untuk sekedar menatapku.

Keringatku dinginku mengucur memandang tubuhnya yang kini membeku tanpa gerakan sedikitpun, bahkan gerakan dadanya yang menunjukkan paru-parunya masih bekerja untuk menukar udara dalam tiap alveolus-nya. Bibirnya pucat, dan tangannya dalam genggamanku perlahan terasa  semakin dingin.

Perlahan aku melepaskan tali yang mengikat kedua tangannya, saksi bisu perbuatanku yang menyekap dirinya dalam kamarku sejak hari di mana aku menarik dirinya dari altar…

Ujung mataku menangkap puluhan butir obat tidur dalam sebuah botol kaca di atas nakas. Haruskah aku menyusulnya sekarang?

EXO – What Is Love

I lost my mind, the moment I saw you
Except you, everything get in slow montion
Tell me, if this is love
Sharing and learning countless emotions everyday with you Fighting, crying and hugging
Tell me, if this is love

Adalah saat tangan kita saling menggenggam, dan mengerat seiring salju putih yang turun semakin lebat di balik jendela kamar di mana kita berdiri di baliknya.

Adalah saat nafasmu menerpa kepalaku dengan hangat, dan bibirmu yang mengecup pelan puncaknya.

Adalah separuh cangkir Coffee Latte yang telah dingin, yang kita teguk bergantian dari satu cangkir yang sama.

Adalah saat matamu menatap dengan lembut, mengungkap rasa yang tak cukup mampu tersampaikan lewat kata.

Adalah senyumku yang terkembang menjawab tatapmu, seolah paham. Hati kita, tak perlu uraian kata untuk sekedar saling mengisi.

Adalah  memori ketika tanganku yang bergetar  terulur ke arahmu di atas altar… dan senyummu yang terkembang sempurna kala menyambutnya siang tadi.

Cinta adalah… aku dan kamu. Kita…

Kkeut.

Adele – Someone Like You

Nevermind I’ll find someone like you

I wish nothing but the best for you

Don’t forget me, I begged… I remember you said

Sometimes it lasts in love but sometimes it hurts instead…

Soonhee mengeratkan tangannya yang bertaut di balik punggungnya saat menatap wajah di hadapannya, wajah yang tak pernah lepas dari tiap jengkal ingatannya, yang seolah menjadi kendali sarafnya untuk memberi perintah pada seluruh tubuhnya untuk bekerja. Wajah itu sekarang memerah, tersipu sendiri dengan semua penuturan yang bareu saja ia ungkapkan pada Soonhee.

“Kau… baik-baik saja, Soon Hee-ya?”

Soon Hee menahan napasnya sejenak. “Aku… baik… sepertinya,”

Jiyong mengerjapkan matanya, bingung, “Wae? Kau tak senang aku akan menikah?”

Soon Hee menggigit bibirnya kuat, lalu mendongak untuk menahan air matanya agar tak luruh di hadapan pria itu, “Bagaimana jika ternyata aku mencintaimu sejak dulu dan kau tak pernah menyadarinya, Ji?”

Jiyong spontan terbelalak, selama beberapa detik ia seolah kehilangan suaranya.

“Tapi… kau… sahabatku. Aku tak pernah berfikir kalau…”

“Tak apa,” Soon Hee memotong cepat sambil tersenyum getir, “Aku hanya perlu menemukan seseorang yang… paling tidak… mirip denganmu di suatu sisi. Bukan untuk menjadikannya sahabat, tapi untuk dijatuhi cinta,” lagi…

“Soon Hee-ya…”

“Aku… pergi dulu. Kalau sampai kau melupakanku, mati kau!” Soon Hee terkekeh kaku.

Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Jiyong yang masih terpaku di belakangnya. Bendungan di matanya runtuh, dan titik itu mengalir dengan cepat melewati pipinya.

Kkeut.

Urban Zakapa – My Love

Baby, my love
The day of our painful memory
Is probably just another fading memory of farewell for you
The painful scar remaining
Is the last precious trace of you left to me
In this world…
You said you’ve forgotten everything
No, it’s what you wanted me to believe
I tried to let go of everything
All of the memories and times I held back
But I keep lingering in around those memories

“Tidak bisakah… kita memulai semuanya dari awal? Anggaplah kita tak pernah bertemu sebelumnya,” Yejin berusaha membuat suaranya tak terdengar bergetar karena gugup. Dan takut…

“Dan memberiku kesempatan untuk menyakitimu lagi?” Ryeowook menatap dalam mata gadis itu, ada rindu yang tersirat dari mata almond-nya.

“Aku… aku sudah melupakannya,” Yejin menundukkan wajahnya, menatap caramel machiatto di hadapannya yang belum tersentuh sejak tadi.

“Kau berharap aku percaya bahwa kau berhasil melupakan sakit hatimu, begitu? Kau kira aku percaya?” tanya Ryeowook retoris.

Yejin menggigit bibirnya keras.

Ryeowook benar, tak mungkin ia dapat melupakan apa yang telah pria itu lakukan terhadapnya, mengingat pria itu telah meremukkan hati dan harapannya. Pria itu, yang ia cintai dengan seluruh hati dan jiwanya, yang ternyata telah menambatkan hatinya pada gadis lain yang memenuhi kriteria gadis idamannya. Tak seperti Yejin yang bahkan secuilpun mendekati kriteria gadis idaman Ryeowook.

Pria di hadapannya inilah yang membuatnya merasakan getirnya cinta tak terbalas.

Tapi Yejin berakhir di sini, di lantai 30 sebuah gedung di kota Tokyo. Memutuskan untuk memperbaiki semuanya, mengalah dengan rasa sakitnya.

Ia menginginkan penenangnya itu. Tidak, ia membutuhkannya.

Sekeras apapun ia mencoba untuk lupa, ia berakhir dengan kegagalan.

Ia butuh mengingat untuk bisa melupakan…

Yejin melempar pandangannya ke  arah luar, memilih untuk melihat pemandangan city light kota Tokyo di sampingnya.

“Aku…aku…”

“Aku mencintainya, Yejin-ah…” potong Ryeowook sebelum gadis itu berhasil menyelesaikan ucapannya.

Yejin tersentak. Matanya memandang tak percaya ke arah Ryeowook. Namun sesaat kemudan ia tertawa getir sambil menundukkan wajahnya, tangannya meremas keras ujung kausnya di bawah meja. Satu pisau lagi tertancap di hatinya.

“Ara… Arasseo…” sekuat tenaga ia membuat suaranya tak terdengar bergetar.

“Yejin-ah… aku hanya…”

“Bisakah kau meninggalkanku sekarang, Ryeowook-sshi?”

“Tapi…”

“Maaf, aku yang mengundangmu tapi malah menyuruhmu pergi. Tapi… bisakah? Aku ingin sendiri saat ini…” setengah mati Yejin menahan cairan bening yang mengumpul di pelupuk matanya.

Dan setelah itu Ryeowook dengan cepat berdiri dan menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan, tubuh gadis itu nyaris tak bertenaga sekedar untuk mendorong tubuh Ryeowook menjauh.

Tangis Yejin pecah. Tak mempedulikan orang-orang yang melihat kea rah mereka berdua saat ini. ia terisak dalam pelukan Ryeowook.

Untuk kali ini saja… untuk satu pelukan terakhir ini saja… kemudian aku akan melupakanmu…

Kkeut.

Okay, end. Loh, kok cuman empat? iye.. emang iye.. emang begitu… hahaha.

Nah, kalo ada yang mau coba tantangannya 5 songs challenge, here the rules~

Saya tidak meniru apapun dari apa yang sudah ditulis oleh teman saya terkecuali ‘aturan main’nya. Here it is;

FIVE SONGS CHALLENGE

 How it works:

 1. Pick a character, pairing or fandom you like.

 2. Put iTunes or equivalent media player on random.

 3. For each song that plays, write something related to the theme you picked inspired by the song. You have only the time frame of the song: no planning beforehand: you start when it starts, and no lingering afterward; once the song is over, you stop writing.(No fair skipping songs either; you have to take what comes by chance!)

Klik disinidisini dan disini kalau ingin melihat karya para author yang telah lebih dulu melakukan tantangan ini.

Selamat mencoba! 😀

(Ficlet) The Other Love

Title   : The Other LoveImage

Author : Clanyuuki

Cast    : Park Young Sun (OC), Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae

Genre  : Romance

Length : Ficlet

Disclaimer : All casts belong to their self, the plot is mine. Lee Hyukjae is mine boleh juga.. *-*

Lima bulan aku ga ngepost apapun di blog ini, silakan bakar saya! Akan saya jelaskan alasannya kapan-kapan. Hahaha… ini bukan tulisan baru, ini udah lumayan lama, my little gift for my Momma, @vitadwi13’s birthday at 13th February.

 “Maafkan aku…,” ucap namja yang duduk di sampingku saat ini.

“Aku akan dengan cepat mendapatkan namja yang jauh lebih tampan dan tidak bodoh sepertimu, kau sendiri pernah mengakui kalau aku menarik, kan?” aku terkekeh pelan.

“Ya, tapi kau bodoh. Kau mencintaiku selama bertahun-tahun dan baru mengungkapkannya saat aku bersiap memberimu kejutan tentang pertunanganku. Kau bodoh, Young Sun… bodoh. Kau membuatku menjadi sahabat paling jahat di dunia karena tak pernah menyadari perasaanmu,” suaranya beratnya terdengar bergetar.

Dan kau pasti tak akan berani menebak seberapa lama lukaku akan sembuh…

“Asal kau bahagia, Kyu,” dengan cepat kugigit keras bibirku setelah mengucapkan kalimat itu.

Hypocrite!” dengusnya keras, “Aku benci dengan pernyataan ‘orang bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia’. Such a hypocrite!” nafasnya putus-putus menahan emosi yang meluap.

Aku menghela nafasku pelan, berusaha tak terbawa emosi, “Baiklah, aku janji sakitnya tak akan lama,” ucapku sambil menatap matanya yang memandangku nanar.

“Kau percaya padaku?” tanyaku sambil meraih tangannya ke dalam genggamanku.

“Bodoh! Berjanjilah kau akan membuka hatimu untuk orang lain, ” ia menarikku ke dalam pelukannya. Aku tau ia tak mau aku melihat air mata yang akhirnya luruh dari sudut matanya.

Dan seketika pertahananku pun runtuh.

Kami berdua terisak tanpa suara.  Menangis dalam diam.

✌♫♪˙❤‿❤˙♫♪✌

Slowly I will move closer to you

I will tell you gathering up my courage

I love you, I need you, I only need you

B2ST – You

Aku masih menatap sebuah scraft yang terpasang pada manekin di toko ini. Scraft berwarna kuning muda dengan aksen garis berwarna putih.

Cantik…

“Apa semua wanita memang seperti itu?”

Aku menoleh dan menemukan sosok yang aku kenal telah berdiri di sampingku, entah sejak kapan.

“Selalu berlama-lama memandang barang yang disukainya tanpa membelinya, terlalu lama menimbang dan akhirnya kecewa begitu tau barang itu telah menjadi milik orang lain. Apa semua wanita seperti itu?”

Aku tersentak mendengar ucapannya. Apa yang ia ucapkan jelas-jelas tanpa maksud untuk menyindirku, karena tak mungkin ia tau apa yang aku alami. Tapi ucapannya benar-benar menohokku.

“Kau… apa maksudmu?” ucapku terbata.

“Kenapa tak membelinya saja, sih?” namja itu mengulurkan tangannya ke arah  dimana scraft itu tergantung, meraihnya kemudian menarik pergelangan tangaku menuju arah kasir toko ini. Aku yang masih sibuk dengan pikiranku sendiri hanya dapat mengikutinya dengan wajah bingung.

“Tolong bungkuskan ini, Agasshi…,” ia menyerahkan scraft tersebut lalu mengeluarkan sebuah credit card dari dalam dompetnya.

Aku menatap wajahnya yang sedang menatap ke depan. Untuk pertama kalinya, aku tertarik untuk memperhatikan sosoknya dengan seksama.

Wajah ceria dengan bentuk rahang yang unik dan tegas, bibir yang tak lepas dari senyum lucunya, hidung yang seolah tercetak tanpa cela untuk menjadi bagian dari wajahnya. Bukan wajah yang dapat disebut sangat tampan, tapi sanggup membuat orang untuk tak bosan menatapnya. Dengan balutan  celana jeans hitam dan kaus putih yang melekat di tubuhnya itu, terlihat tubuhnya yang sedikit terlalu kurus, tapi kaus itu tak sanggup menutupi lekuk tubuhnya yang terbentuk dengan baik. Secara keseluruhan, dia menarik.

Aku mengenalnya, tapi tak pernah sedikitpun peduli padanya.

Namja yang lebih dari sepuluh tahun tinggal dalam hunian yang berada tepat di samping rumahku. Namja yang beberapa kali tertangkap basah olehku sedang meletakkan setangkai mawar putih di depan pintu rumahku. Namja yang dengan terang-terangan menunjukkan perhatiannya kepadaku sekalipun selalu berakhir dengan sikap acuhku. Namja yang dengan sukses menarik perhatian ibuku karena kerap berkunjung ke rumahku sekedar untuk membantu ibuku memasak, tak peduli usahanya hanya akan berakhir dengan kondisi dapur yang menjadi kacau balau.

Namja ini seolah tak pernah lelah untuk mendapatkan secuil perhatianku.

“Kau langsung pulang setelah ini?” tanyanya membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ah, ne…”

“Ambillah, maaf aku tak bisa mengantarmu, aku ada janji dengan temanku dan sepertinya aku sudah terlambat,” ucapnya dengan wajah menyesal sambil mengulurkan sebuah tas kertas kepadaku.

“Aku akan mengganti uangnya nanti,”

“Sudahlah, anggap saja hadiah ulang tahun dariku,” jawabnya sambil tersenyum.

Dan aku menyadari satu hal lagi, aku begitu menyukai gummy smile-nya itu.

“Kau mengingat hari ini ulang tahunku?”

Ia hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaanku, “Okay, I gotta go now.”

Ia berbalik dan meninggalkanku yang masih menatap punggungnya yang semakin jauh dariku.

Aku mengabaikan namja ini selama bertahun-tahun, Demi Tuhan, aku baru menyadari kalau aku tak lebih pintar dari Kyuhyun. Kyuhyun bersikap sebagai sahabat kepadaku karena ia memang tak pernah tau perasaanku, tapi aku dengan sangat jelas tau bagaimana namja ini berharap kepadaku. Dan aku hanya terpaku pada namja bodoh itu, sedikitpun tak memberi celah bagi orang lain untuk masuk ke ruang hatiku, termasuk namja ini.

Aku meremas tali pegangan tas kertas yang ada di tanganku, “Hyukjae-sshi!”

Namja itu menoleh ke arahku dengan wajah penuh tanya. Terang saja, aku yang selama ini selalu menghindarinya, kini menahannya pergi. Aku bahkan tak ingat pernah memanggilnya dengan namanya sebelum ini.

“How about have a lunch today?”

Dan pertanyaan itu sukses membuatnya terperangah selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia menunduk dan tersenyum malu sambil meggaruk tengkuknya.

“Kenapa kau tidak mengajakku candle light dinner saja, sih?”

Kini aku yang menggaruk tengkukku sambil menunduk, menyembunyikan senyumku yang tak berhasil kutahan. Sempat-sempatnya ia menggodaku.

“Tunggu aku menjemputmu nanti,” ia tersenyum lebar, lalu berbalik dan berjalan kembali menjauhiku.

Senyumku belum hilang bahkan saat tubuhnya telah menghilang dari pandanganku. Kuraba bagian kiri dadaku yang entah mengapa terasa berdesir.

Adakalanya kita hanya perlu melihat pintu lain yang terbuka lebar untuk kita, tanpa perlu berlama-lama menatap pintu yang sudah tertutup.

Kyuhyun-ah, apa move on memang se-simple ini? Ah, bukankah sudah kubilang kalau aku menarik?

Aku melangkah pulang dengan senyum yang masih terkembang. Hei, apakah langit pernah terlihat seindah ini sebelumnya?

-FIN-

I have nothing to give in your day but this adorable story. No beautiful presents, no pretty cake, nothing special. I only have this imagine and whises for you. Hopefully u’ll get the best whises, a more more more beautiful life, whatever u want…

Sincerely, Art of Voice’s wifu

 

 

Jidi & Jidatnya

 

 

Apa itu JiLo? Jidat Lohan? Jidat Lobang? Biji Lobak? Aneh banget namanya. Mungkin semacam itu yang ada di benak orang-orang pas pertama denger istilah JiLo. Mungkin kalo aku sama gak taunya dengan orang-orang itu, aku bakal mikir JiLo itu semacam susu untuk nutrisi tulang atau susu rasa coklat yang enak itu. Entah kenapa pikirannya ke merek susu semua, aku juga gatau.

Sebelumnya, aku mau… errr… itu… aku nulisnya pake gue-elo aja, boleh? Aku bukan orang Jakarta sih, tapi kok agak gak nyaman tulisan nyeleneh gini nulisnya pake bahasa formal. Berasa lagi pacaran gitu ama semua readers cantik(?). Jadi boleh ya? Ya kalo ga boleh juga bakal tetep nulis pake gue-elo. Maksa? Biarin… blog blog gue ini #dibakar

Oke, jadi dari mana gue harus ngejelasin tentang JiLo ini?

Berawal dari pertemuan ga sengaja gue sama Diyan Yuska aka @shiraemizuka, yang sekarang akrab gue panggil umma, karena dia sesepuh. Dulu, gue kenal ama nih orang juga ga sengaja, pas gue pertama-pertama hapal member Big Bang, terus iseng nyari fanfic dengan cast member Big Bang juga, gue nyasar di blog dia. Di situlah semua bermula, dari komen-komen di blog, berlanjut ke obrolan tengah malem tentang Kwon Jiyong dan Cho Kyuhyun (waktu itu gue belum ditakdirkan untuk jatuh hati ama Yesung).

Setelah obrolan itu, selama berbulan-bulan, gue cuman beberapa kali doing ngobrol lagi ama umma. Ga sengaja lagi, gue nemu satu fanfic di suatu lomba penulisan fanfic di FFLovers yang gue suka banget ceritanya, tapi gue lupa judulnya, blabla En Tournant gitu deh. Maaf umma, tapi agak susah nyebutnya  bagi lidah gue yang Kejawen ini.

Berminggu-monggu setelah gue baca tuh fanfic, baru nyadar kalo ternyata tuh fanfic authornya adalah Diyan Yuska. Nah, langsung deh gue kirim wall message ke dia.

Hoaaa… aku baru tau kalo blabla En Tournant itu eonnie yang bikin!!! Keren banget!!!

Kira-kira seperti itulah isi wall message gue ke dia. Dan kemudian   terciptalah obrolan lagi. Tanya kabar Jiyong dan Kyuhyun, yang sayangnya waktu itu gue udah ditakdirkan untuk jatuh hati pada pria unik dengan suara seindah mimpi-mimpi gue tentang dia, Kim Jongwoon. Uuhh… gue enek sendiri baca kalimat terakhir.

Dari situ kita saling tuker akun twitter, dengan alasan kita sama-sama ga sering nongol di pesbuk.

Nah dari sinilah semua bermula. Gue inget, malam itu kita ngobrolin tentang novel Fairish-nya Esti Kinasih. Dan muncul satu nama baru, yang ikutan nimbrung saat itu, dialah @adiezrindra. Obrolan jadi ngalor ngidul, tapi masih tetap dengan topic yang sama, novel. Kita sharing tentang novel-novel yang rocomended buat dibaca, mulai dari karya-karya Esti Kinasih, Ilana Tan, sampai Diorama Sepasang Albanna-nya Ari Nur.

Saat itu, gue seneng banget dong, bisa sharing tentang dunia membaca yang udah lama banget gue tinggalin semenjak masuk ke neraka bernama dunia perkuliahan. Gue emang udah ninggalin banget yang namanya membaca novel-novel teenlit, metropop dan sebagainya semenjak kuliah, dan di lingkungan gue sendiri juga ga ada yang hobi baca selain gue. Mereka mah lumayan suka baca, tapi bacanya berkutat di sekitar buku-buku semacam Asuhan Kebidanan-nya Hellen Varney atau Ilmu Kebidanan-nya Sarwono Prawirohardjo. Euuhh…

Saat itu gue mikir, ‘Wah keren banget bisa ketemu orang-orang kayak gini. Asyik bisa sharing tentang hobi yang sama.”

Sampai sekitar dua hari, obrolan kita masih serius dan keren. Buku, quotes galau, semacam itu. sampai akhirnya, muncul suatu topik yang jadi sumber terbentuknya JiLo.

Jidat-nya G Dragon!!!

Dan di sinilah semua bermula –gue lupa udah berapa kali gue ngulang kata ‘bermula’ dari tadi-. Muncul satu nama lagi, yaitu Vivian Hess aka @Vhesss, yang gue baru tau setelahnya, dia ga lebih waras dari gue, Adies dan Diyan umma.

Gue waktu itu belum ngeh dan bertanya-tanya, ‘ada apa sih dengan jidatnya Jiyong?’. Namun semua terjawab ketika Adies bilang bahwa jidatnya GD itu lebar banget. Gue yang awalnya gak ngeh seketika langsung ngakak ngeliat umma Diyan ngamuk-ngamuk karena jidat biasnya dibully kayak gitu.

Obrolan makin random, kita jadi ngebahas jidatnya Jiyong yang waktu itu kita bilang bisa buat main bola, landasan pesawat, tempat parkir helicopter, sampe buat ngadain SS4 Indonesia. Absurd abis. Tapi yang bikin heran, obrolan yang super ga jelas itu tetap kita lanjutkan. Ngakak sampe mules tengah malem.

Saat itu juga, kesan pertama gue yang bilang kalo obrolan kita KEREN dan SERIUS langsung terjun bebas menjadi ORANG ORANG INI GILA. Hwahahahaha 😀

Sampai berhari-hari obrolan masih sama, sering mention-mentionan dengan topic yang sama, Jidat segede lapangan-nya GD!

Kemudian muncullah suatu pemikiran yang sama di otak kita, “Kita ini segitu cintanya ya ama jidatnya GD? Tiap hari ga bosen dibahas?”. Dari situ muncul sebuah singkatan, JiJi, yang artinya Jidat Jidi (Jidi = GD). Lalu berlanjut dengan peresmian bahwa kami adalah PECINTA JIDATNYA JIDI! Gue juga ga tau kenapa ini harus pake kepslok =_=”

Muncullah nama, Jiji Lovers. Absurd parah XD

Setelah itu, muncul nama lagi, yaitu Ajeng aka @AjengHp, Retno aka @repaprie dan Firah aka @FiLam_. Gue lupa siapa yang lebih dulu nongol waktu itu, tau-tau mereka nongol dan udah ikutan gila aja ama kita hahaha…

Terus, karena ngetwit itu karakternya Cuma terbatas 140, kita harus ngehemat karakter. Untuk mention mereka aja udah ngabisin separo quota(?) twit kita. Cuman bisa ngomong dikit L

Karena nama Jiji Lovers itu dianggap kepanjangan, akhirnya kita musyawarah #halah. Ada yang usul nama ini dan itu, Ji-eL, JiVers, tetep Jiji Lovers, dll. Tapi kemudian musyawarah tersebut menemui titik temu nan indah(?). JiLo terpilih sebagai singkatan yang cukup keren. Jiji Lovers! JiLo!! Keren kan? Kalo kata Firah sih kayak nama artis, J.Lo 😀

Kemudian virus ini semakin menyebar, karena ada nama lagi yang nongol, yaitu Chintya aka @cynastari, yang kalo kata gue, dia adalah member paling waras di antara kami semua. Gue mendapat protes keras dari yang lain, mungkin mereka ga terima gue katain ga waras, padahal aslinya yah~ *diiket di rel kereta ama members*

Tapi emang Chintya deh yang paling waras, di antara kami semua, dia doang yang paling kalem. Yang lainnya mah… yahh… gitu lah… *dirajam* Chin, udah gue puji nih, kirimin parcel ke rumah gue ntar!!

Dan kemudian ada lagi satu nama yang muncul paling akhir, hasil rekrutan Diyan umma. Adalah Devi aka @vyanadhevy. Selain Chintya, dia adalah satu member yang cukup waras menurut gue. Dev, kiriman parcel ditunggu juga…

Mereka, bagi gue adalah satu paket lengkap. Bagi gue mereka bukan sekedar kenalan. Mereka sahabat, temen curhat, kakak, adik, keluarga buat gue. Mungkin kalo ada dari mereka yang jenis kelaminnya ga sama ama gue, bakal gue anggep suami gue juga. Ga peduli jarak kita terbentang jauh, antar kota, antar pulau.

Gue selayaknya berterimakasih sama orang yang udah nemuin tekhnologi, yang udah nyiptain jejaring social twitter, yang udah bikin kita bisa ketemu dan kumpul sampe sekarang. Yang udah bikin gue ketemu ama orang-orang seajaib mereka. Orang-orang yang entah bagaimanapun caranya, selalu bisa bikin gue ketawa, ngelupain masalah-masalah gue walaupun sebentar.

Bersama mereka gue nyaris ga pernah ngerasa kesepian.

Pernah suatu ketika, gue, Adies, Diyan umma, ama Pipian, flashback tentang JiLo. Gimana kita ketemu, apa obrolan pertama kita, bagaimana nama JiLo terbentuk, dan lain-lain. Gue, saat itu, diem-diem nangis. Hal yang gue sadar, bahwa ada banyak orang yang walaupun secara ga langsung, deket ama gue. Ada orang-orang yang gue sayang. Gue bersyukur, bisa ketemu orang-orang seabsurd mereka, orang-orang absurd yang gue sayang ❤

Mungkin JiLo ini satu bukti bahwa untuk menjadi sahabat, tidak perlu selalu duduk di samping orang tersebut, tidak perlu menjadi orang yang dekat secara fisik dengan orang tersebut. Kita hanya butuh rasa saling menjaga. Kita berusaha sebisa gue untuk menjaga mereka agar tidak sedih, di saat itulah kita merasa perlu membuat suatu lelucon. Ga peduli lelucon itu garing, kadang kegaringan itu yang membuat kita terlihat konyol, dan secara tidak langsung menjadi lucu. Kita saling menjaga agar tak merasa kesepian, di saat itu yang kita lakukan adalah memberi perhatian, member sandaran yang kapan saja bisa jadi tong sampah untuk unek-unek yang bisa keluar kapan aja. Sekedar untuk lupa kalo dunia nyata kadang terlalu memuakkan, di dunia maya kami bisa menciptakan dunia sendiri yang indah.

Gue sendiri di JiLo merupakan orang yang sering banget jadi korban bully. Hal yang paling sering jadi bahan ledekan mereka adalah… google.

Gue adalah orang yang ga bisa lepas dari google dalam kehidupan sehari-hari. Kalo ada hal yang ge ga ngerti, gue pasti langsung colek mbah google buat nanya ke dia. Bagi gue, google itu udah ngelebihin pacar, semua yang gue butuh ada di dia. Oh my lovely grandpa…

Tapi dasarnya gue ini kadang rada lemot, ada banyak hal-hal kecil yang diketahui orang banyak, tapi gue ga tau. Misal nih, waktu itu si Pipian lagi bahas tentang smut. Dia bilang, ga ada deh kpopers yang ga pernah baca smut. Nah gue yang notabene adalah author gagal, ga paham tentang istilah-istilah di dunia fanfiction.

Gue tanya ke si Pipi. Tebak apa jawaban dia?

“Ah, masa sih ga tau smut? Katanya author FF?”

Gue langsung kebanting dong, kesannya semua orang yang pernah baca FF tuh tau apa itu smut, dan gue adalah satu-satunya orang yang ga paham. Naluri gue untuk buka google langsung jalan. Hasil yang gue dapatkan dari Wikipedia malah menyesatkan gue.

Smut (fungus), a group of plant parasitic fungi.

Gue berpikir keras waktu itu, berusaha menghubungkan antara kpopers dan jamur. Yang ada di kepala gue cuman, mungkin kapopers itu panuan, terus dia beli kalpanax buat panunya. Ga nyambung abis. Lagian ngapain juga si Pipi tiba-tiba ngomongin jamur.

Mungkin karena Pipi kasian ama gue, akhirnya dia ngasi tau apa itu artinya smut. Kesan google freak semakin melekat di diri gue. Hih!

Ada lagi, mereka lagi bahas tentang OC. Nah, gue gatau apa itu OC. Padahal sering liat istilah itu di FF yang gue baca. Gue tanya ke mereka, dan si Pipi dengan laknatnya ngelarang Diyan umma buat ngasi tau gue apa itu OC, biar gue googling aja. Kampret emang tuh anak.

Ada yang ga tau apa itu smut dan OC? Haha… jangan harap gue kasi tau apa artinya, silakan cari di google aja! *evil smirk*

Hal kedua yang sering dihinabinakan ama mereka adalah tari octopus-nya Yesung. Apa sih salahnya orang nari octopus? Itu kan… euh… wajar?! Jadi ga salah kan? Gak kan?! KAN??!!! *lemparin ubur-ubur satu-satu*

Tapi inilah kami, orang-orang yang sering saling bully, merasa sangat dekat satu sama lain walau pada kenyataannya kami tak pernah bertemu sama sekali. Kami hanya berhubungan lewat media twitter, pesbuk, atau SMS. Asal tau aja, timeline bisa berubah jadi pasar kalo kita udah kumpul jadi satu.

Eniwei dari kami semua, mereka itu VIP semua, fans Big Bang. Gue doang yang ELF. Kkk~ tapi nyatanya gue bisa akur dan adem ayem ama mereka. Yakali ada ELF labil yang hobinya fanwar ama fandom lain, coba deh liat kita yang bisa kayak gini. Perbedaan itu indah, kawan… *pasang sayap putih di punggung*

Mungkin suatu hari, jika kami ditakdirkan untuk kumpul jadi satu di suatu café misalnya, kami akan langsung diusir dari café dalam 5 menit sejak kami menginjakkan kaki di tempat itu saking berisiknya.

Sayangnya akhir-akhir ini kita jadi jarang kumpul, masing-masing punya real life yang menyita waktu yang bikin kita jarang kumpul bareng dan keluyuran di timeline twitter. Contohnya aja gue dan Adies yang sedang disibukkan dengan makhluk laknat bernama skrip~ ah, haruskah gue sebutkan? Kayaknya ga usah, toh gue juga berencana untuk segera putus hubungan ama tuh makhluk. Diyan umma juga sibuk karena mulai ngajar, dan juga sibuk ngurus makhluk laknat itu. Pipian sibuk karena baru masuk kuliah. Ajeng sibuk kuliah, Retno yang sibuk kerja, Firah dan Devi sibuk sekolah.

Gue sadar, kita ga selalu bisa kumpul, ga bisa ngakak bareng lagi. Juju raja gue kangen ama mereka, kangen gilanya mereka, terutajma Ajeng yang akhir-akhir ini eksistensinya berkurang secara drastis, nyaris ga pernah nongol sama sekali di TL L

Tapi mau gimana lagi.

Gue yain semua juga kangen ama momen-momen itu, dan mungkin mereka juga pada kangen am ague (mungkin juga engga, gue juga ga yakin).

Tapi sejauh-jauhnya kita, gue ngerasa ada semacam tali ngehubungin perasaan kita. Gue juga gatau apa namanya. Apakah ini yang dinamakan… cinta? *tiba-tiba muncul backsound lagu the bagindas, C.I.N.T.A*

Harapan gue, JiLo tetep saling ngejaga satu sama lain, kemarin, hari ini, besok dan seterusnya. Kalo suatu saat kita dipertemukan, bagi gue itu takdir. Tapi kalo nantinya sampe kapanpun kita ga pernah ketemu, bagi gue itu juga takdir. Termasuk ketemuan gue ama Adies dan Retno yang gagal, atau pertemuan Diyan umma dan Adies yang juga gagal, itu juga takdir. Gue pasrah aja ama takdir. Gue bisa kenal ama mereka aja udah syukur banget. ^^

Gue mau mempersembahkan sebuah puisi sebagai tanda cinta gue ke JiLo.

JiLo…

Anggotanya…

Tri…

Diyan…

Adies…

Pipi…

Ajeng…

Firah…

Retno…

Chintya…

Dan Devi…

Semuanya…

Cantik sekali….

Karya… Istrinya Jongwoon…

Ajegile puisi gue keren banget!!! Ini harusnya masuk ke world record!!! Akan gue patenkan biar ga ada yang plagiat puisi ini.

Sekian coretan ga jelas gue tentang beberapa butir member JiLo. Kalo ada yang mau kenalan ama mereka, follow aja twitternya, mereka orangnya baik-baik kok.,. mention aja ga usah malu-malu, tenang aja mereka ga punya malu kok *dirajam*

Udah ah segitu aja. Gue mau nyiapin ikan buat dibakar, malam taun baruan bakar-bakar ikan di pinggir pantai. Ahaaaiii… yang malam tau baru nongkrong di kamar sambil internetan mana suaranyaaaaaaaa??? Kesiann… muahahahaha… *lari bareng Ecung*