SMA-ku tercinta, Desember 2007
Hari ini aku pulang ke SMA-ku tercinta. Aku diminta menjadi pembicara dalam salah satu sesi Latihan Dasar Kepemimpinan OSIS. Sembari berdiri di pintu gerbang SMA-ku, aku kembali mengenang masa – masa itu. Masa-masa SMA-ku. Ketika itu aku masih dihinggapi kebimbangan yang begitu pekat; ketika itu aku masih belum berani mengambil keputusan perihal urusan (yang kuanggap besar) dalam hidupku.
SMA-ku Tercinta, September 2005
Aku menghadapi empat buah dilema yang satu sama lain saling beradu: aku mencintai sahabatku: Dyah Kinanti, aku (mulai) mengetahui bahwa Islam tidak mengenal pacaran, aku ingin belajar jadi muslim yang baik, dan (ternyata) aku memang belum siap menikah…
Beberapa hari lamanya aku dihinggapi kebingungan ini. 5 hari. 7 hari. Aku tidak ingat persis.
Ingin rasanya meminta saran ke sahabat baruku, Muhammad Iqbal, ketua ROHIS SMA-ku tercinta ketika itu. Aku dan Iqbal mulai dekat semenjak kami terlibat aktivitas bersama dalam pembuatan program kerja OSIS. Dari dialah aku mengenal Islam kembali. Dari dialah aku mulai mengikuti kajian-kajian Islam di Masjid. Dan dari dialah aku mau mengikuti acara Muhasabah Nasional di Masjid At-Tin beberapa waktu yang lalu. Dan dari acara itulah awal upaya pertaubatanku dimulai.
“Tidak, ini bukan urusan Iqbal. Dia sudah terlalu kurepotkan dengan berbagai macam urusanku”, bisikku dalam hati. Pikiran itu mengental setelah aku melaksanakan sholat istikhoroh yang ketiga. Aku membuat keputusan (sementara): aku tidak akan memusingkan dilemaku. Apalagi sampai harus menyemainya dengan sering-sering mendengar lagu Agnes Monica “Cinta Mati”. Aku akan melanjutkan seluruh aktivitasku. Yang pasti, aku tidak akan “menembak” Kinan. Tidak sekarang. Tidak dalam waktu dekat.
Aktivitas belajar di kelas dan OSIS ternyata menyita begitu banyak perhatian dan energiku. Menginisiasi begitu banyak acara : Lomba 17 Agustus, Latihan Dasar Kepemimpinan OSIS, Bakti Sosial, sampai pentas seni. Di satu sisi aku juga harus terus menjaga nilaiku agar tetap berada di jalur aman. Yah… paling tidak, kalaupun harus remedial, cukup sekali saja. Tidak boleh ada dua kali remedial untuk sebuah ujian. Kesibukanku ternyata cukup efektif untuk membuatku lupa akan dilemaku tadi.
Oh iya, ada yang lupa kuceritakan. Kinan adalah Bendahara di OSIS. Tidak. Tidak ada nepotisme. Aku tidak memilihnya sebagai Bendahara karena aku menyukai dia. Malah cinta itu hadir beberapa saat setelah aku menunjuknya. Aku memilih Kinan karena diantara semua anak OSIS, Kinan adalah anak yang paling rapih dalam pencatatan keuangan. Kinan terkenal seantero sekolah sebagai (bisa dibilang) satu-satunya orang yang membuat catatan rutin dari pemasukan dan pengeluaran hariannya. Bahkan untuk satu buah permen sekalipun, tidak akan luput dari catatannya.
Dilemaku memang (terasa) hilang. Tapi tanpa kusadari, waktu demi waktu, aku semakin dekat dengan Kinan. “Tidak, aku tidak pacaran”, kalimat itu selalu menjadi pembenaranku dalam hati. “Aku kan tidak pernah menembak Kinan”.
Tetapi tidak bisa ditampik, kesibukanku di OSIS membuatku “harus” selalu berinteraksi dengan Kinan perihal masalah keuangan dan aktivitas OSIS lainnya. Aku semakin sering berdiskusi dengan Kinan, sering menelponnya; semuanya atas nama aktivitas organisasi. (Lagi-lagi) pembenaranku adalah, “Yang penting tidak pacaran, tidak menyatakan cinta, tidak berdua-duan di tempat tertutup, dan tidak bersentuhan”. Semua ajaran Iqbal kucoba terapkan dengan baik; sedikit demi sedikit.
Tetapi satu hal, aku berbohong kalau aku bilang aku merasa biasa saja dalam setiap interaksiku dengan Kinan. Butuh upaya khusus untuk membuatku terlihat santai dan tidak salah tingkah. Dan ya, tentu saja aku merasa bahagia ketika berinteraksi dengan Kinan. Itu tidak bisa kutampik.
Kondisi seperti ini terus berlangsung selama 1 tahun sampai menjelang aku selesai menjabat ketua OSIS. Di tengah (mulai) selesainya kesibukan organisasiku, aku mulai berhadapan dengan dilemaku lagi. Suatu hari Iqbal datang padaku ketika aku baru saja selesai Dhuha di masjid.
“Maaf nih Waz, ada yang mau ane Tanya. Tapi jangan marah ya. He..he..”, sapa Iqbal.
“Tafadhol Masykuron akh”, balasku dengan gaya seakan-akan fasih berbahasa arab.
Iqbal memulai pertanyaannya, “Hmm, ente pacaran ya sama Kinan?”
Deeg, tiba aku merasakan kekagetan yang sangat, “Sori bal, bisa diulang pertanyaanya?”
Iqbal terlihat tidak enak, tetapi tetap mengulang pertanyaanya, “Bener gak ente pacaran sama Kinan? Tadi dengar kabar ini dari Ari. Ari cerita kalau di sekolah mulai berkembang kasak kusuk kalau ente pacaran dengan Kinan.”
Dengan (pura-pura) tenangnya aku menjawab, “Egh.. ah tidak kok Bal. Itu keliatannya aja karena kita bedua satu organisasi dan punya banyak kerja bareng. Enggak kok”.
“Syukurlah”, tukas Iqbal terlihat lega. Tetapi aku tidak merasa lega. Aku buru-buru pamit dari masjid dan berjalan dengan sangat cepat ke kelas. Aku harus menemui Ari. Ada apa ini? Kok aku tidak tahu ada info seperti ini.
Ari Anggara, teman sebangku-ku, dan salah satu sahabat terbaik. Dia terlihat tampan (setidaknya aku dan teman sering meledeknya seperti itu); tipe teman sebangku yang asyik, rame, dan supel.
Kutemukan Ari sedang bermain HP di kelas. Aku menenangkan diriku terlebih dahulu, lalu aku temui dia.
Tetapi malah sebelum aku mulai berbicara, Ari sudah langsung mulai berkata, “Nah, ini anaknya yang gw cari.” Aku berlagak pura-pura bingung.
“Lo tau gak Waz, sekarang diantara anak-anak cowo terdengar kasak kusuk kalo lo pacaran sama Kinan.”
“Ah masak sih?”, pura-puraku.
“Iya, anak – anak mulai sering ngomongin tentang ini. Terutama sih karena lo terlihat semakin dekat dengan Kinan”, lanjut Ari.
“Ah, enggak kok. Itukan karena emang gw banyak aktivitas sama dia. Enggak-enggak kok”, lagi-lagi aku menyanggah.
“Yah, gw belum denger lo nembak Kinan sih. Hmm.. tapi lo sadar gak, lo berdua, honestly, emang keliatan kayak orang pacaran. Sering jalan berdua, sering diskusi di ruang OSIS, sering ketawa bareng. Dan… ini nih yang gw lupa bilang, di acara OSIS terakhir kemarin, gw secara sadar melihat kalau lo begitu peduli sama Kinan”.
“Yang mana?”, pungkasku.
Lanjut Ari, “Itu tuh lho, pas Kinan lagi mimpin rapat evaluasi keuangan tahunan OSIS, Kinan kan batuk – batuk dan suaranya kelihatan sedikit serak karena terlalu banyak ngomong. Lo inget kan lo jauh – jalan ke kantin untuk beliin dia Aqua”.
“Lah, bukannya itu wajar ya, gw nolongin temen”, tangkisku dengan cepat.
“Iya sih wajar, cuman, ada pembandingnya yang membuat gw jadi kepikiran. Lo sadar gak, lo gak bergerak seperti itu ketika Inggrit memimpin rapat evaluasi kesekretariatan setengah jam sebelumnya. Inggrit kan kondisinya lebih parah, suara dia jauh lebih serak dari Kinan karena baru mau mulai sakit. Tapi lo diam saja, hanya mendengarkan dan bertanya tentang presentasi Inggrit. Tetapi tidak sampai ke kantin tuk beliin dia Aqua. Tidak seperti Kinan. Lo langsung bergerak begitu cepat, bahkan seketika setelah batuk yang pertama”.
Aku terdiam…. Kegalauan yang dahulu sudah kulupakan, perlahan muncul.
“Sori, kalau gw bikin lo gak nyaman. Honestly, sebenarnya lo suka sama Kinan gk sih?”, tanya Ari.
“Gw tahu lo pernah cerita kalo lo mau berhenti pacaran. Dan gw tahu lo sekarang dekat dengan Iqbal, guru ngajinya sekolah kita. Tapi, honestly lagi, secara de jure lo emang gak pacaran, gw tahu itu. Tapi tau gak, menurut gw, secara de facto lo terlihat seperti pacaran. Secara “bungkus” lo gak pacaran, secara substansi, menurut gw lo pacaran”.
Kalimat Ari membuatku makin terdiam.
“Gw boleh kasih saran?”, tanya Ari. “Boleh”, ucapku pelan. “Saran gw, lo lebih baik bersikap tegas, sekalian tembak Kinan, dan, sori, berhenti bilang ke anak – anak kalo lo gak mau pacaran lagi, atau… hmm… baiknya lo mulai jaga jarak dari Kinan. Bersikap biasa aja dengan Kinan sebagaimana sikap lo dengan cewe lain. Kenapa gw bilang gini, karena.. lo bilang gak mau pacaran, tapi secara praktik, lo terlihat pacaran. Bahkan, honestly , sudah ada beberapa anak yang bilang lo -sori- muna, hipokrit. Sori bro. Gw ngasih tahu ini demi kebaikan lo juga.”
Kalimat Ari yang terakhir terasa begitu menohok. Aku tidak bisa berkata apa – apa selain mengucap terima kasih.
Setelah itu, aku menjadi tidak konsen. Pelajaran terakhir tidak kuperhatikan sama sekali. Aku izin tidak ikut rapat OSIS persiapan pemilihan ketua baru. “Aku tidak enak badan”, izinku. Dan anak-anak OSIS memakluminya karena aku memang nyaris tidak beristirahat selama satu minggu ini.
Aku merasakan kegalauan yang begitu kuat. Di metro mini. Di rumah. Bahkan ketika sholat Magrib di musholla depan rumah. Tanpa sadar aku meneteskan air mata ketika berdoa. Aku jadi teringat kata – kata seorang ustadz di salah satu kajian Masjid sekolah:
“Islam itu agama yang sempurna dan menyeluruh. Kita harus menerima semuanya. Kita tidak bisa menerima sebagian ayat dan menolak sebagian lainnya. Kita harus Islam secara label, status. Dan kita juga harus Islam secara substansi. Tahukah teman, mengapa orang kafir dan munafik, dalam keyakinan kita tempatnya di neraka? Orang kafir, boleh jadi Islam secara substansi. Akhlaknya baik, suka menolong orang, bahkan menolong perjuangan umat Islam. Tapi dia tidak Islam secara label luar, dia tidak mau bersyahadat. Dia tidak mau mempersaksikan. Maka hal ini akan membuat dia, jika tidak bertaubat, ditempatkan oleh Allah di neraka. Sama halnya dengan orang munafik; dia Islam secara label, bersyahadat. Tapi tidak Islam secara substansi. Benci dengan Islam, mencoba merusak dari dalam dan seterusnya. Tempat orang ini juga neraka, bahkan keraknya. Jadi, ingatlah teman-teman, kita harus ber-Islam, baik secara substansi maupun label. Keduanya harus dijalani secara bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa; dalam pribadi muslim, mau tidak mau, harus berpadu dua hal penting: kejujuran dan integritas. Jujur artinya mengatakan apa yang kita lakukan. Dan integritas adalah melakukan apa yang kita katakan. Kalau tidak demikian, ingat, ancamannya adalah neraka.”
Mengingat itu, aku semakin sedih. Aku seakan – akan tersadar dari mimpi “indah” yang begitu panjang. Aku sadar aku salah. Tapi…. Aku tidak bisa menampik, aku begitu mencintai Kinan. Mengingat itu, air mataku semakin banyak turun. Dan pertanyaan yang sama, setahun yang lalu, kembali muncul.
Apa yang harus kulakukan?



