Saya sempat shock baca cerita beberapa waktu lalu ada anak2 kecil yang menikah karena takut tidur sendiri. Lalu dilanjutkan pembelaan bahwa “lebih baik langsung dinikahkan sedini mungkin daripada berzina”
OMG, sedangkal itukah arti pernikahan di mata dunia saat ini? Hanya sekedar legalisasi hubungan intim?
Pernikahan jauh lebih dari itu!

Memang di Alkitab ada ayat yang juga mengatakan seperti ini :
1 Korintus 7:9 (TB)
Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Tapi dalam membaca Alkitab kita tidak boleh mencomot sepotong-potong lalu menggunakannya untuk keinginan kita. Kita harus baca Alkitab secara keseluruhan.
A. Pernikahan penuh dengan “kesusahan” bukan hanya sekedar happy
Dalam 1 perikop itu (baca sendiri ya nanti 1 korintus 7) Paulus juga memperingatkan kalau orang yang kawin akan ditimpa kesusahan badani. Maksudnya apa?
Kesusahan badani itu ya kerepotan-kerepotan yang ga akan kalian alami kalau belum menikah.
![]()
Ini mungkin sekedar lucu-lucuan tapi itu bener lho. Contoh simpel, Sebelum menikah, buat saya pribadi, nulis renungan gini bisa jadi dalam beberapa menit. Sekarang setelah menikah? 4 hari baru bisa dipost 😂 karena apa? Karena lagi nulis, eh anak nangis, nulis lagi, eh suami pulang. Trus hujan, jemuran perlu diangkat. Dll dll.
Dan masih banyak lagi “kesusahan” lain. So, kalau kamu ga punya tujuan yang kuat maka mustahil pernikahanmu akan bertahan.
B. Pernikahan butuh persiapan
Amsal 24:27 (TB) Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu.
Memulai pernikahan tanpa persiapan itu seperti masuk medan perang tanpa senjata. Artinya bersiap untuk kalah dan gagal.
Amsal mengingatkan bahwa sebelum mendirikan rumah, kita punya pekerjaan di luar yang HARUS diselesaikan lebih dahulu.
Pekerjaan itu berupa persiapan-persiapan yang perlu dipersiapkan sebelum menikah
Setidaknya buat saya ada beberapa persiapan sebelum menikah.
1. Punya tujuan yang benar
Apa tujuanmu menikah?
Tanpa tujuan, pernikahan tidak akan bertahan menghadapi masalah. Lah gimana mau bertahan, orang ga ada yang mau dicapai 🤔
Seperti apa sih tujuan yang saya maksud?
Untuk para pria, apakah kamu sudah tau tanggung jawabmu sebagai seorang suami? Apakah kamu sudah tau kewajiban yang harus kamu lakukan untuk istrimu? Kamu siap ga mengasihi istrimu seperti Kristus mengasihi jemaat?
Untuk para wanita, kamu siap ga 24 jam sehari tunduk sama suamimu dan menghormati dia sama seperti kepada Allah? Kamu tau ga kewajiban seorang istri?
Lalu apakah kalian siap menjadi orang tua? Kalian tau bahwa Tuhan memiliki mandat dalam Kejadian 1 :28 untuk beranakcucu dan bertambah banyak, tapi bukan sekedar beranakcucu saja. Tuhan ingin keturunan yang ilahi!
Artinya? Kalian harus mendidik anak sungguh-sungguh sampai karakter ilahi itu ada dalam diri anak yang Tuhan percayakan
Maleakhi 2:15 (TB) Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.
Apakah kamu siap menjadi ayah? Ga cukup hanya sekedar jadi ayah sperma (sorry to say), kamu siap ga jadi ayah rohani untuk anakmu?
Kamu siap ga menjadi seorang ibu? Mau jadi ibu yang seperti apa? Siap ga dengar tangisan 24 jam sehari dengan kondisimu capek dan lelah?
Apakah kamu sudah punya gambaran bagaimana membesarkan anakmu dan mendidiknya untuk jadi anak yang takut akan Tuhan?
Itu realitas yang ada dalam pernikahan. So sebelum menikah, gali dulu Firman Tuhan, pelajari dulu apa-apa saja kewajiban yang akan kalian hadapi.
Lalu tetapkan tujuanmu mau dibawa seperti apa keluargamu. Tanpa itu semua pernikahan tidak akan menyenangkan hati Allah
2. Persiapan secara finansial
Uang bukan segalanya tapi segala-galanya butuh uang. That’s true.
Memang ga perlu punya tabungan ratusan juta dulu buat menikah (tapi terserah orangnya sih hehe), tapi tetap menikah ga boleh modal nekat.
Dari awal menikah sebaiknya sudah menghitung kebutuhan finansial yang akan kalian hadapi nanti. Apakah cukup dengan gaji berdua? Apakah dua2nya harus bekerja atau cukup salah satu?
Itu perlu pertimbangan dan hitung-hitungan. Pasangan perlu saling tahu pemasukan masing-masing. Ga boleh ditutup-tutupi. Ingat ayat Firman Tuhan
Kejadian 2:24-25 (TB) Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.
Telanjang bukan cuma soal fisik tapi soal keuangan. Harus transparan.
Saya dan suami sebelum menikah kami sudah punya perhitungan untuk menikah. Dua tahun sebelum menikah kami mulai menabung untuk pernikahan.
Kami sepakat untuk tidak menghamburkan uang untuk acara resepsinya. Kami batasi pengeluaran sekian. Tidak boleh lebih dari itu. Karena bagi kami buat apa menghamburkan banyak resepsi apalagi sampai hutang tapi besoknya setelah menikah mau hidup aja susah.
Jadi tabungan pernikahan kami terbagi menjadi dua, resepsi dan setelah resepsi. Setelah resepsi itu ya untuk persiapan kalau punya anak nanti (biaya lahiran), biaya tempat tinggal dll.
So, menikah ga bisa modal nekat ya. Tetap harus ada perhitungan finansial nya.
Memang betul Tuhan itu Allah yang menyediakan, tapi ingat Tuhan sudah menyediakan akal budi untuk kita merencanakan!
Setelah menikah juga kami sudah diskusi dan sepakat bahwa saya akan resign dari pekerjaan saya di kantor. Karena saya mau fokus dengan anak kami. Untuk itu kami perlu punya hitung-hitungan matang apakah dengan gaji suami saja cukup atau tidak. Nah hal-hal seperti ini harus dibicarakan SEBELUM menikah supaya ga timbul pertengkaran setelahnya.
3. Persiapan secara karakter
Sebelum menikah buka mata lebar-lebar, setelah menikah tutup mata rapat-rapat
Itu adalah nasihat yang kami dapatkan di kelas pranikah. Mentor kami mencecar kami supaya membuka semua kelemahan pasangan pribadi di depan satu sama lain. Dosa kami semua terbuka.
Pernikahan adalah sekali seumur hidup oleh karena itu jangan kayak beli kucing dalan karung.
Maleakhi 2:15b-16 (TB) Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.
Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel — juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!
So, bagi kita anak Tuhan jangan sampai romansa membutakan matamu dari kelemahan pasanganmu. Sebelum menikah, buka matamu perhatikan semua kelemahannya. Memang ga akan ada yang sempurna. Justru yang kamu harus pertimbangkan, sanggup ga kamu hidup dan menerima kelemahan itu?
Jangan berpikir : “ah nanti bisa diubah.” Gimana kalau ternyata ga berubah nanti setelah menikah ? Pasti menyesal kan, kamu juga yang menderita.
Jadi tanyakan baik-baik pada dirimu sendiri :
“Apakah aku MAU menikah dengan orang ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya?
Saya menggunakan kata MAU untuk menyatakan bahwa itu adalah pilihan atas dasar KEINGINANMU sendiri. Jadi konsekuensi apapun yang akan dihadapi nanti harus kamu siap tanggung.
Selain karakter pasangan, yang paling terutama adalah bagaimana persiapan karaktermu sendiri.
Contoh :
Sebagai suami, apa kamu sudah latihan mengasihi istrimu seperti dirimu sendiri?
Latihannya dengan cara apa? Cek apakah kamu mengasihi ibumu? Bagaimana kamu bicara terhadap ibumu? Apakah kamu kasar terhadap ibumu? Itu gambaran tindakanmu kelak kepada istrimu.
Sebagai istri, apakah kamu sudah latihan tunduk pada suami?
Cek bagaimana kamu bicara kepada ayahmu? Apakah kamu membentak? Apakah kamu selalu protes terhadap semua yang dikatakannya?
Kalau memang tindakan kita masih belum baik, cicillah diperbaiki sebelum menikah.
4. Persiapan doa
Inilah yang TERPENTING. Ga ada artinya persiapan lain kalau ga berdoa.
1 Petrus 4:7 (TB) Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Sebelum berdoa untuk pernikahan,tenangkan dulu dirimu. Minta Tuhan berbicara atas kehendakNya.
Apakah Tuhan setuju dengan pernikahan kalian? Apakah Tuhan setuju dengan calonmu? Apakah motivasimu menikah lurus di hadapan Tuhan?
Amsal 16:2
Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati.
Dia Allah yang hidup! Dia bisa berbicara dengan bahasa yang kamu mengerti. Mungkin lewat Firman yang kamu baca, mungkin lewat khotbah yang kamu dengar, mungkin lewat orang tuamu atau mungkin lewat keadaan.
Setelah dapatkan iman dan peneguhan, serahkan semua rencanamu kepada Tuhan.
Amsal 16:3
Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.
Selamat mempersiapkan pernikahan ❤













