Sajak ini ialah caraku menafsirkanmu
sebuah kebingungan jelang tidur yang tak bisa kujawab sendiri.
Sebab diingatanku, kau bayangan yang tak ditenggelamkan gelap malam.
Kau telah menjelma duri tajam
duri yang telah kuikhlaskan menancap,
ke dinding hati ketulusan.
Perihal pertama kebingunganku ialah wajahmu.
Bagaimana bisa hadirmu, ada di saat pejam tidurku?
Kau serasa racun menyebar dalam diri, tak teraba tapi terasa pasti.
Kau pil pahit merusak isi dada, terbuat dari kenangan cantik kita berdua.
Ia mendadak menjelma kunang-kunang yang bergerak tiada letihnya; terbang beterbaran bermain di taman ingatan.
Entah gambaran apa ini,
Mungkin ini yang kemudian disebut orang sebagai kenangan.
Ia seolah mempunyai mata
mata yang menyalak dalam gelap minta diperhatikan.
Apa itu karena matamu dulu
Mata yang kuingat paling cantik, tempat meleburkan duka-hitam-pahit.
Ya, tatapanmu. Ia serupa pusat putaran rotasi bumi, dimana pun aku pergi.
Padamulah arti pulangku kembali.
Matamu berair.
Sedihku hadir.
Ah, kenapa Tuhan ia tidak bisa keluar dari pikiranku
Aku seperti pintu yang terus menerus diketuk, padahal pintu itu jelas sudah tertutup.
Bukankah kau Tuhan, selalu mengajarkanku syukur
Aku sudah menjalani apa yang bisa kujalani, menanggung apa yang telah kusanggupi.
Sebab seperti pelukan dari belakang.
Kudiamkan lengan. Agar kau bukan lagi di lingkaran dekapan.
Kini tak apa aku menjadi abu, yang terbang agar tanaman lain bisa tumbuh.
Sedangkan kau tungku api,
terus menyala membakar entah sampai kapan.
Tapi mengapa ketika aku mulai bersyukur, selalu muncul bayanganmu yang kufur.
Kamu begitu fasih mengelabui hati, mengganti arti membahagiakan dengan melepaskan.
“Bahagia seperti apa itu?, hujatku dalam hati, bukankah bahagia tak lebih dari gambar yang kita ciptakan dalam kepala?
Sedang keterbatasanku. Bukankah ia cobaan? Bukan, alasan kita saling melepaskan.”
Inilah membawa kebingunganku selanjutnya,
kita saling ‘melepas’ tapi mengapa bayangmu tak tanggal lekas.
Selalu datang disaat jelang tidurku.
Bagaimana kau bisa disana, apa kau menungguku tidur?
Selalu sesaatku perlahan memejam mata kenanganmu pecah dalam kepala.
Ia menjelma pedang yang menghunus jantung, lalu merobek-robeknya tanpa ampun.
Tidakah kau mengerti, hal itu membuatku perih?
Pasti itu karena senyummu?
Lengkungan yang kuingat paling memikat, tempat isi ulang peluhku menjadi semangat.
kau kolam untukku tenggelam; tenggelam menyelami mata air ketabahan.
Bius ampuh penghilang rasa sakit yang selalu kuandalkan.
Kau muram.
Tawaku karam.
Sedangkan sentuhan kulitmu.
Ialah bumi dimana kuberpijak, langit yang menerangi setiap tapak.
Kemanapun aku pergi, sebenarnya tetap kaulah alam berlindung diri ini.
Peluhku jatuh, kau hadirkan angin sepoi sesaat.
Kumenangis, kau hadirkan hujan untuk menutupinya cepat.
Kau udara, yang tak habis-habisnya tempatku bergantung napas.
Tanpamu, hempaskanku ke jurang sedih tanpa batas.
Berikutnya, ciumanmu.
Bagaimana aku melupakan ciuman itu?
Dosa termanis yang kudapatkan, peredam amarahku dengan sekali kecupan.
Kau pernah berkata: “Jika cinta kita pupus, kau tak perlu takut. Setidaknya kenangan kita jadi cahaya kunang kunang penuntun jalanmu yang lurus”
Aku diam saat itu, kau ingat?
Karena tak ada terbayang di’angan’ku, untuk kau jadi ‘angin’ lalu.
Dan kini kau memang berlalu.
Jauh.
Meninggalkan ragaku.
Kini kepakan kunang-kunang itu pun menggangguku setiap malam.
Cahayanya gemintang, ia terbang berputar-putar mengitari taman ingatan. dari tempat ke tempat. Bekas tawa kita pecah melekat.
Pada mulanya kunang-kunang itu muncul di mimpiku, di dalam tidurku, di pejam kedua mataku.
Kemudian ia keluar dari tanganku; tangan yang pernah kubalas sentuhanmu yang hangat.
Kini kunang-kunang itu keluar juga dari mulutku; mulut yang kuingat membalas kecupanmu singkat. Dan sampai kemudian kulihat, seluruh tubuhku mengeluarkan kunang-kunang.
Sungguh kebingungan ini tak bisa kujawab sendiri.
Kini mereka terbang gentayangan. melayang di kamarku. Kemudian dengan kompak membuat konstelasi wajahmu yang manis. Lambat laun kulihat muncul lehermu disana. Kemudian lengan tanganmu.
Tangan dari tempatku bertahan, kekalahan hidup pun tak apa jika pelukanmu ada setiap kubutuhkan.
Dekap lengan yang setara embun pagi surga. Masuk menyelinap mengugurkan perih cobaan dunia.
Hingga kau benar-benar masuk dalam jiwa.
Merasuk, mengisi kekosonganku disana.
Kuingat, semua begitu terasa menyenangkan, saat lenganmu merengkuh badan.
Tapi tidak saat kau tiba-tiba melepaskan,
dan tubuhku keburu tak mengetahui cara bertahan.
Nah! mengertilah kamu apa yang kurasakan sekarang.
Tapi jika itu kurang?
Tambahkanlah perasaan itu; perasaan sekarang dengan sepi jelang tidurmu,
taburkanlah suasana gelap kamar tidurmu,
padukanlah juga dengan sunyimu.
Kemudian aduklah dengan kuat semua itu.
Pekat benarkan?
Sesaat sesak pun meruak.
Kini semua kunang-kunang terbang berhamburan; di mejaku, tempat tidurku, Lemariku, sobekan poto-poto kita yang lucu, dan tentu barang-barang pemberianmu. Semuanya menyala bak pasar malam.
Dan tentu wujudmu yang kini utuh dibuatnya.
Kulihat kau masih terpaku di depanku, lalu tak lama kemudian kau tersenyum, dan melambaikan tangan.
Aku pula tersenyum gemetaran.
Ah, kini kau makin menyelamiku lagi.
Bagaimana untuk berhenti.
Tuhan, entah apakah dengan berdoa seribu kali ini akan terhenti?
Tapi bagaimana bisa, jika sudah mendarah daging begini.
“Tolong pergilah kunang-kunang”, teriakku dalam hati. Tapi kunang-kunang itu pun masih saja keluar dari kepalaku, tanganku, mulutku dan seluruh tubuhku.
Tidakkah kau tahu?
Tubuhku istirahat itu bukan untuk memikirkanmu.
Sungguh kebingungan ini tak bisa kujawab sendiri
Aku sudah letih.
Sesak.
Menanggungnya sendiri.
Oh Tuhan ini yang paling lagi aku tak sanggup, apa cukup bersyukur ini akan selesai? Pun ditambah doa dan sabar?
Rasanya tidak! karena air mataku ternyata tidak sabar; tidak sabar berdoa agar selalu disyukuri ketabahan.
Sebab
air mataku kutanyapun terjatuh, tak mengerti hendak ia jatuh untuk apa dan siapa.
Akukah yang sebenarnya merindukanmu yang pergi?
Atau semua ini tanda kau berpisah denganku;
Sebuah tanda kau pergi meninggalkan tubuhku ini?