Semua itu dimulai 7 hari yang lalu. Bukan, actually bukan 7 hari tetapi lebih tepat kalau gue bilang itu dimulai 28 hari sebelum 7 hari yang lalu. Ketika itu pak Kamil selaku PIC PK mulai mengundang kami ke google groups PK BPI angkatan 22 dan menugaskan kami untuk memilih ketua angkatan pra PK (Persiapan Keberangkatan). Gue bahkan masih ingat itu hari itu, hari ketika semua dimulai yaitu tanggal 19 Oktober 2014.
Yang paling seru (walaupun sangat menyita waktu gue yang harus fokus kerja juga) tentu saja adalah pengerjaan tugas biografi, dimana masing-masing peserta harus berkenalan dan membuat biografi 22 teman yang tidak satu kelompok. Jadi gue kenalan dengan Atha, Nadya, Joan, Mariska, Mia, Miranda, Mully, Vina, Hanna, Monica, Ade, Agus, Edo, Hanna, Inte, Leni, Andra, Antoni, Gena, Indra, Usep, dan Yandra. Kalo lo nanya kenapa porsi cewek-nya lbh banyak daripada cowok, yaahhh… karena itu memang sangat disengaja…hahaha… Anyway, beberapa dari mereka ternyata pernah crossing path dengan gue sebelumnya, either sekantor, setemen main, dsb. The world is small after all. Pembuatan buku angkatan juga sangat seru, di sini gue diminta jadi Editor in Chief, sehingga harus berkoordinasi dengan tim visual yang diketuai Calosa dan juga mengoordinasikan anggota tim editor untuk menyiapkan semua isi dari buku ini. Thanks to the editors, Karib, Agus, Ajie, Efrin, Tikeu, Zulmi, Dhani, and Dhoni.
Judul dari kisah ini sendiri diambil dari slogan angkatan kami, yang diambil dari bahasa Sansekerta, Sedya yang berarti niat, Sena yang berarti kuat, dan Sura yang berarti berani. Dalam kalimat singkat, kami berharap angkatan kami menjadi pemuda Indonesia yang memiliki niat untuk memajukan bangsa, kekuatan untuk menjalani perjuangan menuju kemajuan dan keberanian untuk mengambil tindakan demi perubahan menuju arah yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.
Setelah melalui 3 minggu, mengerjakan 22 tugas dan melaksanakan banyak pertemuan-pertemuan untuk pelaksanaan pra-PK yang melelahkan sekaligus menyenangkan berlalu, selama 7 hari terakhir, pelaksanaan PK angkatan 22 dilakukan. Dan inilah kisah kami:
Day 1: Teman baru!
Jam menunjukkan pukul 05.00, gue berangkat dari rumah pake B 1234 TY kesayangan, tp kali ini disetirin adek ipar gue karena gue gk mau bawa mobil ke lokasi. Sampe di sana, ternyata uda rame, cuy! Langsung aja gue samperin anak2 yang lucu-lucu (yang sengaja gue pilih buat kenalan di tugas biografi…hahaha) buat kenalan muka. Gak lama sesi dimulai. Sesi pertama adalah perkenalan panitia dan pembahasan tata tertib. Di sesi ini gue dan anak-anak yang lain deal sama pak Kamil selaku “Kepala Sekolah” untuk peraturan-peraturan yang akan diterapkan. Sesi PK selalu diisi oleh pembicara-pembicara berkualitas yang memberikan pandangan-pandangan penting untuk masa depan Indonesia. Jadi, abis itu ada pembicara yang bernama Tantia, seorang mantan mahasiswa berprestasi yang sekarang jadi Head of Operations di Traveloka.com. Tantia mengingatkan pentingnya menjadi seorang yang otentik, adaptif dan kompetitif. Kebebasan berpendapat juga menjadi poin penting yang menurut Tantia harus terus diperjuangkan. Oia, hari ini diakhiri dengan diangkatnya gue dengan semena mena menjadi Ketua Kelompok, dan (hampir saja) jadi Ketua Angkatan… Thanks to Joan, gue akhirnya batal jadi Ketua Angkatan…hahahaha,, Oh, btw, nama Kelompok gue Ki Hajar Dewantara. Isinya orang-orang luar biasa tapi aneh bin ajaib semua macam Chitra, Nita, Niki, Astrid, Mu’ti, Fadhil, Medicia, Meti, Rijal, Gerhana, Franko, Tati, Elida, Bintang, dan Chaidir. Hahaha…piss guys!
Day 2: Dance!
Highlight of day 2 adalah gue nari untuk pembukaan! Jadi ceritanya sebelum sambutan pak Eko sebagai Direktur LPDP, ada tarian persembahan dari angkatan, dan gue bersama 11 teman lain menarikan 2 tarian khas daerah NTT (Ja’i) dan Papua (Yosim Pancar). Setelah latihan berhari-hari, akhirnya gue dan teman2 bisa menarikan tarian tersebut dengan sangat baik (at least menurut gue sih..hahaha). Ditambah gue tiba-tiba dipilih, melalui survey yang dilakukan sebelumnya, menjadi anggota paling kontributif selama persiapan. Pembicara hari kedua ada Prof Misri yang berbicara tentang Gagasan Inovatif, dan juga Menjadi Creativepreneur oleh Bang Jay seorang entrepreneur dan penulis buku.
Day 3: School Visit – Membangun motivasi anak muda Indonesia
Di hari ketiga, setengah hari pertama gue ama anak-anak Ki Hajar Dewantara main-main ke sekolah SMA Pelita di Depok. Kami berbagi kisah dan memotivasi anak-anak yang ada di sana untuk melanjutkan kuliah setelah SMA. Salah satu anak yang masuk kelompok kecil gue pas sharing session ingin melanjutkan ke LaSalle College of Arts di Singapore! Sesi itu diakhiri cukup seru…mungkin karena kurang doa, angkot yang kami tumpangi mogok setelah beberapa ratus meter… untung ada angkot lain jadi kita tidak perlu dorong-dorong angkot sepanjang Margonda… hahaha,, Abis itu ada Dik Doank! Sesi motivasi yang cukup seru sih gue bilang, intinya apapun yang terjadi, harus selalu pasrah pada Tuhan. Sesuatu yang masih jauh dari apa yang gue lakukan sekarang, bukan karena gue gak percaya Tuhan, tapi karena gue percaya kalo Tuhan juga akan ngelihat usaha kita dulu…
Day 4: Menjadi Pemimpin
Hari keempat dibuka dengan upacara bendera. Meski cuma jadi peserta, gue yakin upacara yang kami lakukan adalah upacara paling kompak yang pernah ada. Dan pak Kamil (PIC PK) juga mengakui hal yang sama. Setelah itu, Pak Arief memberikan pandangannya mengenai menjadi pemimpin masa depan Indonesia. Harus gue akui, sesi pak Arief adalah sesi terbaik selama PK. Pembawaan sesinya sangat mirip seperti seorang comic (stand up comedian) yang sedang melakukan show. Gue inget gue ketawa sangat keras sampe gue ampir jatoh pas pak Arief bilang joke about “ternyata”-nya seorang mahasiswa…will tell you about the jokes in other post…hahaha,, Sesi sore diisi seorang purnawirawan Laksamana Muda Angkatan Laut yang sangat berapi-api di usianya yang ke-72. Gila, dia sukses membuat anak-anak yang rata-rata berusia sekitar 25-35 tahun ikut merasakan semangat nasionalisme yang luar biasa. Jadi malu gue sama tingkat nasionalisme gue selama ini.
Day 5: the BUMMER!
Hari kelima dimulai jam 00.30 AM, karena kita harus travel ke Bandung (approx 90 miles dari Depok) naik bus. There’s good news and bad news about it. Berita baiknya gue bisa tidur lbh lama di bus. At least lebih lama daripada yang gue dapet selama 4 hari sebelumnya…yang cuma 2 jam sehari… Berita buruknya…well it is a bus…gimana bisa gue tidur enaaakk…hahaha,, Tapi ternyata day 5 is the best day of PK. Diawali dengan ice breaking seperti layaknya outbound pada umumnya, kegiatan dilanjutkan dengan BUMMER (Building Unshakeable Mentality Race). Game pertama adalah 8 set games yang dilakukan bergantian. My favorite was the Breaking the Gate. Intinya harus mecahin balon yang digantung-gantung pake batang bambu. Dannnn…nilai yang kita dapet adalah nilai kebrutalan dan frustasi…hahahaha… gue ama anak-anak KHD akhirnya hanya ngayun-ayun dengan brutal sampe balon-balon itu pecah. Yang paling berkesan dr sesi siang itu adalah individual games. Gue yang takut ketinggian (acrophobia) ini memaksa diri gue sendiri untuk melawan rasa takut gue untuk melakukan rapelling (menuruni tebing dengan tali), flying fox (berayun turun lewat sloping rope line) and human jump (loncat dari tebing untuk nangkep sandsack). That was hell of a ride dan gue akan kasih detail-nya serta versi dramatis-nya di tulisan lain! Hahaha… Walaupun istruktur-nya agak kurang ajar…enak aja ngatain gue kaya tukang jahit (kaki gue gemeter pas turun rapelling). Hahahaha. Hari itu ditutup dengan paintball wars, dimana Ki Hajar Dewantara akhirnya menduduki posisi 2 dari semua peserta kegiatan!
Day 6: the Most Important Session!
Hari itu diisi sesi paling menarik dan paling ditunggu-tunggu… Sesi penjelasan cara pencairan Beasiswa Pendidikan Indonesia yang bisa dilakukan dengan segera. Hehehehe… Malamnya, dilakukan refleksi Merah Putih yang semakin membangkitkan rasa nasionalisme kami peserta PK-22. Pak Fahrizal membawa kita menghayati arti sang Merah Putih, dan arti rekan-rekan di samping kita… yang akan bahu-membahu membangun bangsa ini.
Day 7: The Closing
Hari terakhir diisi dengan sesi penutupan. Entah mengapa tiada penghargaan-penghargaan peserta terbaik, teraktif, dsb. seperti yang ada di PK sebelum2nya. Mungkin karena pada bandel-bandel kali yah…hahahaha… Terus yang bener-bener penutupannya adalah sesi Drama Musikal persembahan angkatan 22 yang menurut gue luar biasa sukses! Anak-anak ngambil cerita Ande-Ande Lumut yang dihubungkan dengan nilai-nilai LPDP (Integritas, Profesional, Sinergi, Pelayanan, dan Kesempurnaan). Dan seperti biasa, gak afdhol kalo gue cuma jadi pemain biasa-biasa aja…jadilah gue Klenting Kuning! Yes…gue lagi2 didapuk jadi bencong… tp at least kata anak-anak yg cewek gue lumayan cantik… Jadi menginspirasi buat ke Thailand nih…hahahaha… ya keleeuuusss…
Anyway, that was hell of a ride,, I met awesome people and had an awesome time together. High appreciation for the committee who had prepared this for us from the beginning until the end, for their hard work as well as their friendship and supports. Special thanks for Joan, Chitra, Ramda, Agus, Karib, Calosa, Atha, Mariska, Chief Vina and for sure my room mates Yudhis and Albert! Anw, this short notes is dedicated to the best group ever, PK-22! I believe this is not the end of our journey, but the beginning of everlasting adventures! PK-22… SEDYA! SENA! SURA!
Disclaimer: Post ini adalah kisah nyata yang melatarbelakangi cerita “28 Days Later: Petualangan 7 Hari untuk Selamanya” di post-post yang akan gue publish setelah yang ini. Karena yang kisah itu akan mengambil sudut pandang lain yang sedikit berbeda dan pastinya lebih detil (dan sedikit bumbu). Kalau ada perbedaan persepsi, please refer ke post yang ini yaah! hahaha… #sedangpengennulislagi



