Dalam menjalankan pengambilan keputusan, kita (guru) seorang pemimpin pembelajaran sudah seharusnya belajar dan mengasah kemampuan dalam mentukan keputusan sebuah permasalahan. Dalam kesempatan kali ini saya berkesempatan mewawancarai 2 kepala sekolah, guna mengetahui dan menganalisis bagaimana proses pengambilan keputusan yang sudah dijalankan.

Wawancara pertama saya lakukan kepada Bapak Nurkholis,S.Pd selaku Pimpinan/Kepala SMK N 1 Rembang Kabupaten Purbalingga. wawancara dibuka dengan pertanyaan bagaimana dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral? Menurut beliau Sekolah merupakan institusi moral yang dirancang untuk membentuk karakter warganya, sebagai pemimpin sering kali dihadapkan pada situasi yang sulit dimana kami harus membuat sebuah keputusan dimana akan menjadi rujukan bagi semua warga sekolah.misal harus memilih satu diantara benar keduanya, harus memilih 1 pilihan dari 2 yang sama-sama baik namun bertentangan, dan dalam kondisi lain harus memilih mana yang benar mana yang salah. contoh kasus dilema etika : beberapa siswa kurang disiplin ketika masuk sekolah, karena alasan rumah. banyak yg ditinggalkan merantau dia hanya tinggal dengan saudara atau kakek neneknya. kondisi keduanya baik, maka pada situasi ini KS harus mengambil keputusan yang baik untuk semua. contoh bujukan moral : guru yang mangkir, guru meninggalkan sekolah tanpa keterangan yang berdampak pada pembelajaran yang tidak efektis, kondisi ini KS harus menegakkan aturan yang sudah ditetapkan,dampaknya kepada guru untuk tidak melakukan lagi.
Pada kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan tentu beliau mengambil keputusan tidak
sendiri, ada tim yang diajak berembuk berdiskusi, pada situasi ini konsep mengambil kepoutusan diterapkan, pihak sekolah mesti mencari tahu hal-hal mana yang bertentangan, hal-hal mana yang mengandung kebaikan, mencari tahu pihak- pihak yang terkait, menggali data dan fakta yang relefan, Kepala sekolah mesti menerapkan resolusi dalam memecahkan masalah dalam tim.
“Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?”tanya saya. Yang dilakukan bapak Nurkholis diantaranta Mencari tahu asal informasi kemudian pada pihak yang terkait diajak berbicara, endingnya ketika mengambil keputusan harus mengedepankan prinsip-prinsip dilema etika yaitu 1) End based thingking yang artinya keputusan yang diambil harus mengandung kebaikan untuk semua, 2)Rule based thingking,menerapkan aturan yang ada, 3)Care based thingking : ada harapan dengan pengambilan keputusan pada pihak yang menerima keputusan itu untuk melakukan hal yang baik.
Hal – hal yang dianggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika diataranya yang pertama komunikasi yang efektif, bermakna, tidak berbelit dan dua arah, yang kedua Kolaborasi, mengambil keputusan dengan mendengarkan banyak pihak.
Tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika, beliau menjelaskan terdapat dua hal yaitu 1)orangtua jauh dari anaknya sehingga pemahaman orang tua terhadap anak minim sehingga komunikasi tidak lancar, 2)kesadaran orang tua untuk memperhatikan anaknya.
“Apakah Anda memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?” tanya saya lebih lanjut. Beliau menjelaskan Tidak disiapkan karena masalah muncul tidak teragendakan, sehingga kapanpun masalah muncul dapat langsung menyusun strategi untuk menyelesaikan masalah.
“Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?” tanya saya kembali. Faktor – faktornya karena di SMK N 1 Rembang memiliki Tim yang kuat yang saling mendukung sangat membantu dalam mengambil keputusan dan tetap menjaga komunikasi juga kolaborasi.
saya menutup wawancara dengan pertanyaan terakhir, “Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?”. Bapak Nurkholis menjelaskan terdapat dua point yaitu 1) Kepala sekolah harus paham lokasi dimana sekolah berada dengan culture masyarakat yang ada di sekotar sekolah, maka perlu mempelajari karakter local yang ada disekitar seklah dan habit, karena penting utnk memngetahui karakter siswa, 2) Memperhatikan prinsip pengambilan keputusan dan langkah-langkah dalam mengambil keputusan.

Wawancara kedua saya lakukan dengan Bapak Hilal Sutarso,S.Pd Kepala SMP N 1 Karangmoncol kabupaten Purbalingga. saya membuka percakapan dengan menanyakan pertanyaan pertama, “Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?” tanya saya. Yang selama ini dilakukan bapak Hilal Sutarso adalah menyikapi masalah dengan komunikasi dengan orang tua dan wali kelas, juga berkomunikasi dengan guru BK untuk bisa mengidentifikasi permasalahan. Dalam menjalankan pengambilan keputusan di sekolah, terutama untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan beliau melakukan pendekatan, pendampingan dan juga mengarahkan untuk bisa menyesuaikan, sesuai dengan aturan atau moral dalam sekolah.
Selama ini pengambilan keputusan suatu permasalahan khususnya tentang siswa, orang tua diundang ke sekolah, disampaikan ke orang tua tentang kondisi anak yang bermasalah, apabila dapat dibimbing dan memperbaiki kesalahan dapat kembali melanjutkan sekolah, tetapi jika sudah tidak dapat diperbaiki diarahkan bersekolah di sekolah yang mereka atau orang tua inginkan. Sekolah memberikan pemahaman supaya orang tua dapat memperhatikan perkembangan anak, selama ini yang dilakukan 80% lebih dapat kembali melanjutkan bersekolah. Pada awal tahun pembelajaran selalu dilakukan parenting untuk menyampaikan aturan awal di sekolah, pada pertengahan tahun pembelajaran parenting kembali untuk menyampaikan perkembangan siswa.Pengambilan keputusan dilakukan dengan urutan apabila masalah sederhana, wali kelas menangani bersama orang tua apabila belum terselesaikan, diselesaikan bersama guru BK dan kesiswaan, apabila masih belum terselesaikan baru dengan Kepala Sekolah.
Tingkat keefektifan dalam pengambilan keputusan dilakukan dengan penanganan permasalahan sedini mungkin, setiap ada permasalahan langsung ditangani. Sehingga permasalahan tidak berlarut – larut dan dapat dengan efektif terselesaikan.
“Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?” tanya saya. Bapak Hilal Sutarso menjelaskan tantangan tersebut diantaranya 1) kesulitan komunikasi dengan orang tua siswa karena banyak siswa yang tidak tinggal bersama kedua orang tua (orang tua merantau), 2) orang tua terlalu sayang dengan anak (protektif) pada saat disampaikan tentang perilaku anak orang tua tidak terima /tidak percaya karena orang tua berfikir anaknya baik – baik saja di rumah tetapi berbeda saat di sekolah, 3) Tidak percaya dengan data sekolah, contohnya saat diperlihatkan data kehadiran siswa, orang tua tahunya anak berangkat sekolah tetapi kenyataannya tidak sampai ke sekolah, 4) Orang tua membawa orang ketiga untuk membela anaknya, mereka hanya percaya dengan perkataan anak tetapi tidak peduli dengan data / informasi dari sekolah.
“Apakah Anda memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?” tanya saya lebih lanjut. Bapak Hilal Sutarso menyampaikan bahwa semua kegiatan dilakukan awal, tengah, akhir semester pembelajaran pada saat diadakan parenting. Setiap pagi pengawasan dan penanganan masalah dilakukan di depan pada saat siswa datang. setiap waktu disaat ada permasalahan yang harus segera diselesaikan. Kepala sekolah sering menanyakan kepada guru BK tentang permasalahan anak, diarahkan agar segera diselesaikan.
Karena penanganan dilakukan sedini mungkin, manurut bapak Hilal Sutarso ini dapat mempermudah penyelesaian permasalahan, kolaborasi semua pihak yang terlibat. Wawancara ditutup dengan menyampaikan pembelajaran yang didapatkan dari pengalaman mengambil keputusan dilema etika adalah permasalahan itu selalu ada disetiap kehidupan, tidak tergantung sekolah besar atau kecil, permasalahan itu menjadikan kita lebih dewasa dan mengasah otak kita dalam memecahkan permasalahan.
Dari dua hasil wawancara dapat dianalisis menurut cara pandang saya dan menurut apa yang sudah saya pelajari dalam pengambilan keputusan untuk permasalahan dilema etika, diantaranya :
Saya menemukan hal menarik dari wawancara yang saya lakukan yaitu sebenarnya permasalahan dilema etika dan bujukan moral itu tidak jauh dari kehidupan kita sehari – hari tinggal bagaimana kita menyikapi permasalahan yang terjadi. Hal menarik lainnya, ternyata setiap pemimpin apalagi pimpinan sebuah instansi sudah seharusnya memahami prinsip pengambilan keputusan dan langkah dalam menentukan benar atau tidaknya sebuah keputusan.
Dari kedua hasil wawancara persamaan terdapat pada langkah / prosedur dalam pengambilan keputusan juga kolaborasi yang dilakukan. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang sangat terlihat dimana kepala sekolah pertama memiliki pengetahuan lebih tentang kompetensi pengambilan keputusan dalam dilema etika, beliau memahami betul apa itu paradigma pengambilan keputusan, prinsip pengambilan keputusan bahkan 9 langkah dalam menentukan benar atau salahnya sebuah keputusan.
Rencana kedepan kedua pimpinan tersebut dalam menjalankan keputusan yang mengandung unsur dilema etika dengan berkolaborasi dengan semua pihak yang terkait dalam menjalankannya.
Untuk diri saya sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain dengan memperhatikan paradigma pengambilan keputusan dan prinsip – prinsip pengambilan keputusan selanjutnya diuji kebenarannya dengan sembilan langkah yang sudah dipelajari. Ini akan saya terapkan langsung pada saat saya menemukan permasalahan dilema etika dalam proses pembelajaran saya.