Bagaimana Sikap Seorang Pemimpin dalam Pengambilan Keputusan (di Sekolah)

Dalam menjalankan pengambilan keputusan, kita (guru) seorang pemimpin pembelajaran sudah seharusnya belajar dan mengasah kemampuan dalam mentukan keputusan sebuah permasalahan. Dalam kesempatan kali ini saya berkesempatan mewawancarai 2 kepala sekolah, guna mengetahui dan menganalisis bagaimana proses pengambilan keputusan yang sudah dijalankan.


Wawancara pertama saya lakukan kepada Bapak Nurkholis,S.Pd selaku Pimpinan/Kepala SMK N 1 Rembang Kabupaten Purbalingga. wawancara dibuka dengan pertanyaan bagaimana dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral? Menurut beliau Sekolah merupakan institusi moral yang dirancang untuk membentuk karakter warganya, sebagai pemimpin sering kali dihadapkan pada situasi yang sulit dimana kami harus membuat sebuah keputusan dimana akan menjadi rujukan bagi semua warga sekolah.misal harus memilih satu diantara benar keduanya, harus memilih 1 pilihan dari 2 yang sama-sama baik namun bertentangan, dan dalam kondisi lain harus memilih mana yang benar mana yang salah. contoh kasus dilema etika : beberapa siswa kurang disiplin ketika masuk sekolah, karena alasan rumah. banyak yg ditinggalkan merantau dia hanya tinggal dengan saudara atau kakek neneknya. kondisi keduanya baik, maka pada situasi ini KS harus mengambil keputusan yang baik untuk semua. contoh bujukan moral : guru yang mangkir, guru meninggalkan sekolah tanpa keterangan yang berdampak pada pembelajaran yang tidak efektis, kondisi ini KS harus menegakkan aturan yang sudah ditetapkan,dampaknya kepada guru untuk tidak melakukan lagi.
Pada kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan tentu beliau mengambil keputusan tidak
sendiri, ada tim yang diajak berembuk berdiskusi, pada situasi ini konsep mengambil kepoutusan diterapkan, pihak sekolah mesti mencari tahu hal-hal mana yang bertentangan, hal-hal mana yang mengandung kebaikan, mencari tahu pihak- pihak yang terkait, menggali data dan fakta yang relefan, Kepala sekolah mesti menerapkan resolusi dalam memecahkan masalah dalam tim.
“Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?”tanya saya. Yang dilakukan bapak Nurkholis diantaranta Mencari tahu asal informasi kemudian pada pihak yang terkait diajak berbicara, endingnya ketika mengambil keputusan harus mengedepankan prinsip-prinsip dilema etika yaitu 1) End based thingking yang artinya keputusan yang diambil harus mengandung kebaikan untuk semua, 2)Rule based thingking,menerapkan aturan yang ada, 3)Care based thingking : ada harapan dengan pengambilan keputusan pada pihak yang menerima keputusan itu untuk melakukan hal yang baik.
Hal – hal yang dianggap efektif dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika diataranya yang pertama komunikasi yang efektif, bermakna, tidak berbelit dan dua arah, yang kedua Kolaborasi, mengambil keputusan dengan mendengarkan banyak pihak.
Tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika, beliau menjelaskan terdapat dua hal yaitu 1)orangtua jauh dari anaknya sehingga pemahaman orang tua terhadap anak minim sehingga komunikasi tidak lancar, 2)kesadaran orang tua untuk memperhatikan anaknya.
“Apakah Anda memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?” tanya saya lebih lanjut. Beliau menjelaskan Tidak disiapkan karena masalah muncul tidak teragendakan, sehingga kapanpun masalah muncul dapat langsung menyusun strategi untuk menyelesaikan masalah.
“Adakah seseorang atau faktor-faktor apa yang selama ini mempermudah atau membantu Anda dalam pengambilan keputusan dalam kasus-kasus dilema etika?” tanya saya kembali. Faktor – faktornya karena di SMK N 1 Rembang memiliki Tim yang kuat yang saling mendukung sangat membantu dalam mengambil keputusan dan tetap menjaga komunikasi juga kolaborasi.
saya menutup wawancara dengan pertanyaan terakhir, “Dari semua hal yang telah disampaikan, pembelajaran apa yang dapat Anda petik dari pengalaman Anda mengambil keputusan dilema etika?”. Bapak Nurkholis menjelaskan terdapat dua point yaitu 1) Kepala sekolah harus paham lokasi dimana sekolah berada dengan culture masyarakat yang ada di sekotar sekolah, maka perlu mempelajari karakter local yang ada disekitar seklah dan habit, karena penting utnk memngetahui karakter siswa, 2) Memperhatikan prinsip pengambilan keputusan dan langkah-langkah dalam mengambil keputusan.

Wawancara kedua saya lakukan dengan Bapak Hilal Sutarso,S.Pd Kepala SMP N 1 Karangmoncol kabupaten Purbalingga. saya membuka percakapan dengan menanyakan pertanyaan pertama, “Selama ini, bagaimana Anda dapat mengidentifikasi kasus-kasus yang merupakan dilema etika atau bujukan moral?” tanya saya. Yang selama ini dilakukan bapak Hilal Sutarso adalah menyikapi masalah dengan komunikasi dengan orang tua dan wali kelas, juga berkomunikasi dengan guru BK untuk bisa mengidentifikasi permasalahan. Dalam menjalankan pengambilan keputusan di sekolah, terutama untuk kasus-kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan beliau melakukan pendekatan, pendampingan dan juga mengarahkan untuk bisa menyesuaikan, sesuai dengan aturan atau moral dalam sekolah.
Selama ini pengambilan keputusan suatu permasalahan khususnya tentang siswa, orang tua diundang ke sekolah, disampaikan ke orang tua tentang kondisi anak yang bermasalah, apabila dapat dibimbing dan memperbaiki kesalahan dapat kembali melanjutkan sekolah, tetapi jika sudah tidak dapat diperbaiki diarahkan bersekolah di sekolah yang mereka atau orang tua inginkan. Sekolah memberikan pemahaman supaya orang tua dapat memperhatikan perkembangan anak, selama ini yang dilakukan 80% lebih dapat kembali melanjutkan bersekolah. Pada awal tahun pembelajaran selalu dilakukan parenting untuk menyampaikan aturan awal di sekolah, pada pertengahan tahun pembelajaran parenting kembali untuk menyampaikan perkembangan siswa.Pengambilan keputusan dilakukan dengan urutan apabila masalah sederhana, wali kelas menangani bersama orang tua apabila belum terselesaikan, diselesaikan bersama guru BK dan kesiswaan, apabila masih belum terselesaikan baru dengan Kepala Sekolah.
Tingkat keefektifan dalam pengambilan keputusan dilakukan dengan penanganan permasalahan sedini mungkin, setiap ada permasalahan langsung ditangani. Sehingga permasalahan tidak berlarut – larut dan dapat dengan efektif terselesaikan.
“Hal-hal apa saja yang selama ini merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada kasus-kasus dilema etika?” tanya saya. Bapak Hilal Sutarso menjelaskan tantangan tersebut diantaranya 1) kesulitan komunikasi dengan orang tua siswa karena banyak siswa yang tidak tinggal bersama kedua orang tua (orang tua merantau), 2) orang tua terlalu sayang dengan anak (protektif) pada saat disampaikan tentang perilaku anak orang tua tidak terima /tidak percaya karena orang tua berfikir anaknya baik – baik saja di rumah tetapi berbeda saat di sekolah, 3) Tidak percaya dengan data sekolah, contohnya saat diperlihatkan data kehadiran siswa, orang tua tahunya anak berangkat sekolah tetapi kenyataannya tidak sampai ke sekolah, 4) Orang tua membawa orang ketiga untuk membela anaknya, mereka hanya percaya dengan perkataan anak tetapi tidak peduli dengan data / informasi dari sekolah.
“Apakah Anda memiliki sebuah tatakala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah Anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa yang Anda jalankan?” tanya saya lebih lanjut. Bapak Hilal Sutarso menyampaikan bahwa semua kegiatan dilakukan awal, tengah, akhir semester pembelajaran pada saat diadakan parenting. Setiap pagi pengawasan dan penanganan masalah dilakukan di depan pada saat siswa datang. setiap waktu disaat ada permasalahan yang harus segera diselesaikan. Kepala sekolah sering menanyakan kepada guru BK tentang permasalahan anak, diarahkan agar segera diselesaikan.
Karena penanganan dilakukan sedini mungkin, manurut bapak Hilal Sutarso ini dapat mempermudah penyelesaian permasalahan, kolaborasi semua pihak yang terlibat. Wawancara ditutup dengan menyampaikan pembelajaran yang didapatkan dari pengalaman mengambil keputusan dilema etika adalah permasalahan itu selalu ada disetiap kehidupan, tidak tergantung sekolah besar atau kecil, permasalahan itu menjadikan kita lebih dewasa dan mengasah otak kita dalam memecahkan permasalahan.
Dari dua hasil wawancara dapat dianalisis menurut cara pandang saya dan menurut apa yang sudah saya pelajari dalam pengambilan keputusan untuk permasalahan dilema etika, diantaranya :
Saya menemukan hal menarik dari wawancara yang saya lakukan yaitu sebenarnya permasalahan dilema etika dan bujukan moral itu tidak jauh dari kehidupan kita sehari – hari tinggal bagaimana kita menyikapi permasalahan yang terjadi. Hal menarik lainnya, ternyata setiap pemimpin apalagi pimpinan sebuah instansi sudah seharusnya memahami prinsip pengambilan keputusan dan langkah dalam menentukan benar atau tidaknya sebuah keputusan.
Dari kedua hasil wawancara persamaan terdapat pada langkah / prosedur dalam pengambilan keputusan juga kolaborasi yang dilakukan. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang sangat terlihat dimana kepala sekolah pertama memiliki pengetahuan lebih tentang kompetensi pengambilan keputusan dalam dilema etika, beliau memahami betul apa itu paradigma pengambilan keputusan, prinsip pengambilan keputusan bahkan 9 langkah dalam menentukan benar atau salahnya sebuah keputusan.
Rencana kedepan kedua pimpinan tersebut dalam menjalankan keputusan yang mengandung unsur dilema etika dengan berkolaborasi dengan semua pihak yang terkait dalam menjalankannya.
Untuk diri saya sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain dengan memperhatikan paradigma pengambilan keputusan dan prinsip – prinsip pengambilan keputusan selanjutnya diuji kebenarannya dengan sembilan langkah yang sudah dipelajari. Ini akan saya terapkan langsung pada saat saya menemukan permasalahan dilema etika dalam proses pembelajaran saya.

KONEKSI ANTAR MATERI 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai – Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yaitu  Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri handayani. Filosofi ini sangat bisa dijadikan pedoman dalam mengambil Keputusan karena filosofi ini sangat berpihak pada murid. Makna diantaranya :

  • Ing Ngarso Sung Tulodho, menjadi Teladan yang dalam setiap Keputusan yang diambil
  • Ing Madya Mangunkarsa, dalam setiap Keputusan yang diambil harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat
  • Tut Wuri Handayani, setiap keputusannya juga dapat memberikan dorongan dan memberikan semangat

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Sebagai seorang guru saya dituntut untuk dapat menjadi teladan bagi banyak murid, sehingga apa yang saya lakukan akan diperhatikan oleh anak-anak yang sedang dalam fase belajar. Kondisi ini menjadikan saya memikirkan beberapa sisi, dalam mengambil sebuah Keputusan, karena setiap Keputusan dapat mempengaruhi pihak lain.

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Kegiatan coaching dan materi pengambilan Keputusan ini sangat berpengaruh, pada saat coaching kita ditutuntun untuk dapat menentukan Keputusan sesuai dengan apa yang kita inginkan, suatu masalah diselesaikan sendiri atas bantuan coach. Dalam tahap pengambilan Keputusan ini kita diajarkan untuk merefleksikan apakah Keputusan yang sudah kita ambil itu tepat atau malah menjadi masalah lagi kedepannya.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan sangat berpengaruh dalam pengambilan Keputusan. Kondisi sosial emosional yang tidak stabil menjadikan sebuah Keputusan yang lebih sembrono dan cenderung tidak bijaksana. Apabila kemampuan dalam mengelola sosial emosional ini diterapkan, kita dapat mengambil Keputusan dalam kondisi yang sadar sepenuhnya.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Dari pembahasan studi kasus yang focus pada masalah moral atau etika dapat menjadikan kita lebih tajam dan tepat dalam menentukan Keputusan, kondisi ini menjadikan kita seorang pendidik dapat dengan tepat menentukan suatu Keputusan. Nilai – nilai yang dianut seorang guru dalam mengambil Keputusan seharusnya memperhatikan kepentingan murid.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan Keputusan yang tepat, pastilah sangat berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Keputusan yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan ini biasanya akan didukung oleh banyak pihak dan menjadikan suasana lingkungan menjadi positif, kondusif, aman dan nyaman.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan yang biasanya terjadi yaitu perasaan pihak yang tidak sepakat dengan Keputusan kita. Setiap Keputusan tidak selamanya dapat memuaskan semua pihak, tertapi dengan memperhatikan prinsip – prinsif dan paradigma dalam pengambilan Keputusan kita berharap Keputusan yang sudah ditetapkan itu akan dapat diterima oleh semua pihak.

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan Keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid adalah dapat mengambil Keputusan dengan memperhatikan murid kita. Kondisi ini dapat menciptakan Merdeka belajar dalam pembelajaran. Dalam pemenuhan kebutuhan murid yang berbeda-beda dapat dilakukan proses pembelajaran berdeferensiasi. Dimana pembelajaran dengan memperhatikan potensi murid masing – masing, melihat kesiapan belajar mereka.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Saat pengambilan Keputusan, seorang pemimpin pembelajaran seharusnya berpihak kepada murid, memperhatikan bagaimana dampak keputusannya untuk murid-muridnya. Setiap Keputusan yang diambil pemimpin pembelajaran mempengaruhi masa depan muridnya. Termasuk dalam prinsip pengambilan Keputusan yaitu berfikir berbasis jangkapendek dan jangka Panjang, jangka Panjang yang ingin dicapai seorang pemimpin pembelajaran adalah masa depan murid – muridnya.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang dapat saya ambil diantaranya :

Sebuah Keputusan harus tetap memperhatikan prinsip – prinsip pengambilan Keputusan, Keputusan yang diambil seharusnya memperhatikan nilai Kebajikan universal, dapat dipertanggungjawabkan, berpihak kepada murid dan berpedoman pada filosofi Ki Hajar Dewantara.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Perbedaan dilema etika dan bujukan moral, terletak pada kondisi pembandingnya. Apabila kondisi itu benar dengan benar ini termasuk dalam dilemma etika, tetapi apabila kondisi saat mengambil Keputusan itu salah satu pihaknya salah ini masuk dalam bujukan moral.

Hal yang diluar nalarnya, ternyata ada kondisi dimana awalnya saya anggap itu bukan masalah, ternyata hal tersebut termasuk dalam bujukan moral.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, perbedaannya sebelum mempelajari materi ini saya tidak pernah memikirkan suatu Keputusan itu harus diuji kebenarannya.

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini biasanya saya mengambil Keputusan dengan prosedur secara umum saja, saya berkomunikasi dengan beberapa pihak yang terkait dengan Keputusan yang akan saya ambil, setelah mempelajari materi ini saya jadi paham bahwa saya seharusnya menerapkan Analisa melalui prinsip – prinsip, paradigma dan 9 langkah dalam pengambilan Keputusan.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Topik modul ini sangat penting karena saya sebagai individu juga seharunya berkembang kea rah yang lebih baik, apalagi sebagai seorang pemimpin modul ini sangat dibutuhkan supaya setiap Keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

Koneksi antar materi modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi menurut saya adalah sebuah proses pembelajaran dengan mempertimbangkan semua kebutuhan siswa. Kebutuhan itu dapat dilihat dari 3 aspek yaitu kesiapan belajar murid, minat murid, dan profil belajar murid. Untuk strategi pembelajaran berdiferensiasi sendiri ada bermacam – macam, 3 diantaranya yang sering digunakan yaitu pembelajaran berdiferensiasi Konten, pembelajaran berdiferensiasi Proses, dan pembelajaran berdiferensiasi Produk. Pembelajaran ini dapat dilakukan di kelas dengan syarat guru sudah mengidentifikasi kebutuhan muridnya.

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berhubungan dengan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun murid sesuai kodrat alamnya. Dengan proses pembelajaran ini diharapkan murid dapat terpenuhi apa yang mereka butuhkan dalam belajar, ini tidak akan menyimpang dari kodrat alam yang ada pada diri mereka.

Proses pembelajaran berdeferensiasi sesungguhnya sangat membantu guru dalam memetakan kompetensi murid. Murid dengan kemampuan lebih tidak perlu menunggu temannya yang memiliki kemampuan dibawahnya, begitu pula murid dengan kemampuan dibawah kompetensi yang ingin dicapai bisa mendapatkan pendampingan lebih dari gurunya dengan harapan mereka dapat mengejar ketertinggalannya. Hasil belajar dapat optimal apabila pembelajaran berdiferensiasi ini dapat diterapkan dalam proses belajar. Diawal penerapan guru akan menemukan proses yang sedikit rumit, karena harus membuat beberapa option dalam proses belajar di kelas tapi ini akan sepadan dengan hasil yang dicapai.

Koneksi antar materi budaya positif

Disini saya akan menjabarkan pendapat dan refleksi saya tentang materi yang sudah saya pelajari dalam program guru penggerak angkatan 9, pada modul budaya positif. Modul ini memuat tentang : Disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi.

Pertanyaan :

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi.

  • Dari seorang guru lah murid dibimbing dan dibiasakan menerapkan budaya positif dalam kesehariannya. Ini dimulai dari penerapan disiplin positif, dalam penerapannya dapat diimbangi dengan motivasi perilaku manusia, dimana yang menjadi tujuan adanya motivasi dari dalam diri guru maupun murid dalam menegakkan disiplin positif itu sendiri. Dalam keseharian kita menjaga disiplin positif kepada murid harus memperhatikan posisi kontrol restutusi kita yang diharapkan kita dapat menjadi seorang manager sehingga dapat membuat murid mandiri dan dapat berfikir kritis apabila dilain waktu dia menemukan permasalahan sendiri. Dalam penegakan budaya positif sangat dibutuhkan keyakinan kelas/sekolah dimana keyakinan ini sudah disepakati oleh semua pihak yang terlibat, sehingga muncul kesadaran dalam menegakkan keyakinan tersebut. Apabila dalam penerapannya masih ditemukan pelanggaran keyakinan, dapat ditangani dengan langkah seperti pada segitiga restitusi ini akan membuat murid lebih nyaman dan sadar dengan kesalahannya dan selanjutnya mereka dengan kemampuannya mencoba menyelesaikan permasalahan yang sudah dilakukan.

Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

  • banyak hal menarik, banyak pemahaman baru yang daya dapatkan dalam materi budaya positif ini. biasanya saya menangani permasalahan murid dengan cara menjadi teman mereka karena awalnya itu saya anggap sudah sesuai dengan kodrat alam murid, dan tidak menghakimi murid, ternyata ada cara yang lebih membantu murid dalam menjadikan dirinya sebagai manusia yang lebih berharga dengan menjadi manager. Hampir semua materi menurut saya sangat menarik. Membuat keyakinan kelaspun juga bagi saya sangat menarik, aturan yang datang dari diri sendiri diyakini dapat tertanam dalam di dalam diri masing-masing, dan hal lainnya.

Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
mendisiplinkan murid tidak hanya dengan hukuman, karena itu akan membuat mereka menjadi pendendam dan pemberontak. Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan anak-anak yang memiliki disiplin diri sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.

Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

  • pengalaman dalam menangani permasalahan yang dilakukan murid, saya mencoba menyelesaikan dengan menggunakan langkah segitiga restitusi tetapi saya terhenti di bagian keyakinan kelas, ini belum dibentuk karena saya baru mengetahuinya setelah saya mempelajari budaya positif ini. sehingga saya berfikir akan mulai membuat keyakinan kelas untuk membuat siswa sadar dengan aturan / keyakinan yang dibuat secara bersama – sama.

Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

  • saya bingung, awalnya karena ternyata harus benar-benar memahami langkah demi langkah, tetapi saat mencoba dilakukan ini tidak begitu susah.

Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

  • menurut saya hal baik yang sudah ada pada saya, dimana kehadiran saya termasuk yang diharapkan siswa dikelas yang saya ampu. dengan begitu sebenarnya saya akan dengan mudah memasukkan nilai-nilai keyakinan yang seharusnya bisa digunakan dalam kelas. hal yang perlu diperbaiki dengan membiarkan murid mencoba mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi, bukan hanya memberikan solusi tetapi mereka dicoba untuk berfikir kritis dengan masalahnya sendiri.

Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu?

  • posisi kontrol yang sering saya gunakan di kelas saya adalah sebagai teman. Perasaan saya, ternyata masih ada posisi kontrol yang lebih baik dalam mendidik murid.

Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

  • saya akan mencoba pada posisi manager, mungkin akan ada kendala karena kebiasaan saya bercanda dengan murid, tetapi itu tidak akan menghalangi saya untuk terus mencoba, untuk kebaikan murid dimasa mendatang.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
belum, saya belum pernah menerapkan segitiga restitusi sebelumnya. sejak mempelajari modul ini saya baru memahami bagaimana itu proses segitiga restitusi.

Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

  • belum ada hal lain yang terfikirkan oleh saya, karena semua materi dalam modul ini bagi saya adalah hal baru dimana saya harus menerapkan satu per satu supaya terwujud budaya positif yang diharapkan bersama.

Koneksi Antar Materi Modul 1.2 Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak

Oleh : Siti Fatmawati, S.Kom

Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):

Peristiwa: Momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 adalah saat diskusi pada ruang kolaborasi, dalam momen tersebut kita benar – benar diajak berfikir dan mendalami modul bersama teman kelompok. Perbedaan pendapat membuat saya lebih ingin memahami materi pada modul tersebut. Ini membuat pemahaman saya terhadap modul tersebut meningkat.

Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya fahami adalah dalam modul 1.1 kita dibawa memahami makna suatu Pendidikan yang akan dikembangkan pada modul 1.2 dimana modul ini mempelajari tentang bagaimana peran saya sebagai guru dalam memaknai dan menjalankan Pendidikan yang sudah didapatkan pada modul 1.1.

Perasaan: Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan seorang siswa yang sedang diberikan tantangan oleh gurunya, ini membuat saya bersemangat seperti saat sekolah dulu.

Pembelajaran: Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa proses pembelajaran dikendalikan oleh seorang guru dengan tidak memperhatikan nilai – nilai yang harus dimiliki guru sekarang saya berpikir bahwa ternyata Pendidikan itu menyenangkan, pembelajaran dapat mengikuti bagaimana siswanya, pembelajaran harus menyenangkan dan sesuai dengan potensi siswa, seorang guru selain memfasilitasi pembelajaran juga harus memiliki nilai – nilai lainnya. Seperti, kolaboratif, inovatif, reflektif, dan mandiri dalam pengembangkan kompetensi diri sebagai guru.

Penerapan ke depan (Rencana): Apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak?

  1. Berusaha melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid
  2. Membuat form atau isian yang berisi tentang :
  3. Perasaan mereka terhadap pembelajaran saya
  4. Model pembelajaran yang mereka inginkan
  5. Sampai mana kompetensi yang mereka kuasai dalam pembelajaran jurusan
  6. Ingin jadi apa mereka kelak dan kompetensi apa yang sudah dimiliki dan ingin dikembangkan
  7. Membuat pembelajaran menjadi lebih menarik
  8. Berusaha berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk mendukung pembelajaran
  9. Meningkatkan kompetensi diri dengan mengikuti pelatihan – pelatihan yang menunjang pembelajaran