Dalam Hujan

•12 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Kamu ndak makan ?” tanyaku siang tadi lewat telpon.

“……………………………………………” jawab mu.

Setelah 3 menit.

“Kamu kok diem saja, kenapa ?” tanya ku lagi.

“Apa kamu masih marah sama aku ?”

“Aku ndak ada maksud buat mencampuri urusan kamu, tapi tolonglah jangan cuek in aku kaya malam-malam kemarin itu” jelas ku.

“……………………………………………….”

Tut…tut…tut..tut………..

Juancuk ditutup telponnya. Makiku dalam hati.

Mendungpun kian gelap, lalu hujan turun dengan derasnya.

Diam

•11 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sudah satu minggu ini kita diam. Membisu tanpa kata, hanya sesekali pandangan mata kita bertemu dan akhirnya terlempar jauh.

Kemarin aku cuma bertanaya tentang ‘Dia’, seseorang yang menghiasi setiap malam mu dan setiap menit mu saat kamu lagi nganggur. Eh, kamu nya malah sewot dan berkata, ” Ngga usah mau tahu urusan orang, titik !”

Lalu aku harus bilang apa, aku harus tanya apa sama kamu. Kebebasan sudah aku berikan, kamu boleh berbuat semau kamu asal kamu bisa mepertanggung jawabkan perbuatan-perbuatan kamu itu.

Lalu aku kamu anggap apa…..?

Hanya sebatang rokok dan secangkir kopi yang ga bisa ngomong menemani curhatan ku.

Antara Aku, Kau dan Dia

•3 Maret 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku ga’ tahu mengapa setiap malam kamu selalu mojok dengan ha pe mu. Kelihatan asik banget ngobrolnya, sampai-sampai aku kamu cuekin tiap malem.
Aku juga ga’ tahu bagai mana awalnya kamu mojok sama ‘dia’ yang kayaknya sudah jadi candu buat kamu, karena ga’ ada malam yang tidak di hiasi dengan tawa dan canda mu lewat ha pe.
Aku pingin negur cuma…. kmu kok asik banget jadi ga’ tega.
Akhirnya aku biarin saja kamu mojok dengan dia dan aku cuma mojok dengan ……………………………………………….
Nyamuk.

 
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai