Jika ada kawan pria dari luar kota yang berkunjung ke Bandung sembari menemuiku, terkadang aku lebih senang pada kawan dengan berstatus telah menikah. Lho-lho-lho… kenapa?
Biasanya, kawan-kawan priaku yang telah lagi menikah, ke Bandung dengan tujuan jelas. Ketika pada akhirnya kita bertemu untuk, katakanlah, melepas kangen, kita betul-betul bertemu, di kantor, di rumah, berbincang, bakar rokok, makan, atau jalan mengitari kota. Tujuan mereka jelas dan tak macam-macam.
Sementara kawan yang belum lagi menikah, meski tetap bertujuan jelas, ditambah menemuiku, kita pun bertemu, pun berbincang, pun bakar rokok, pun makan dan pun jalan mengitari kota. Hanya saja, pada beberapa kasus ada tambahannya. Apa itu? Mereka kadang memintaku hal-hal yang tak kumiliki, semisal:
“Ada cewek nggak, Dan?” Sableng!
“Punya film bokep nggak, Dan?” Sialan!
Betul, memang tidak semua kawanku seperti itu. Tapi pada beberapa kasus (terutama pada kawan pria belum menikah. Belum kujumpai kawan pria berstatus menikah tapi brengsek di luar kota, hehe!), aku seperti nyaris selalu menemukan polah semacam itu.
Kalau aku tak mampu menjawab (atau memenuhi?) permintaannya, paling-paling ia akan berkata: “Ah, payah kamu, Dan!” Aku memang hanya tertawa-tawa. Tapi kenapa aku kerap kali menemui kejadian semacam itu…
Kalau ada kawan yang sudah menikah tapi sekadar lirak-lirik sembari berkomentar: “Cewek Bandung cantik-cantik ya…” Ah, itu wajar. Pria manapun berhak punya penilaian berseloroh macam itu. Seperti halnya perempuan toh, berhak pula punya penilaian terhadap pria. Tapi kalau dengan sengaja cari perempuan?
Maaf Kawan, aku tak bisa memenuhi permintaanmu…
Bandung, 2 April 2008.