Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.
Seorang anak kecil sedang bermain di atas Vespa ayahnya. Seperti kebiasaan yang dilakukan di rumah. Setiap hari. Dan semua baik-baik saja. Tapi saat ini, seseorang datang menegurnya dengan galak, “E…e…e..ojo dolanan ning kono, ndene wae! Ayo, mengko tibo kowe.”
Anak kecil yang tidak habis pikir itu tetap tak bergeming. Hingga kemudian Sang Nenek turun dari beranda rumahnya yang cukup tinggi itu. Menurunkan Sang Cucu yang masih terlihat kesal. Satu karena bentakannya. Dua karena kesenangannya terpasung.
Dengan langkah gontai dihampirilah ibunya.
“Bu, mbah putri galak…aku diseneni” anak itu mengadu.
“Yo wis rapopo. Simbah ki pancen ngono kuwi. Ora galak, ning wedhi nek kowe tibo…trus loro…trus mlebu rumah sakit..piye jal?” sang Ibu berusaha menetralisir keadaan.
.
.
Masih teringat dengan jelas waktu itu. Waktu yang lalu. Di mana sekarang semua hanya tinggal kenangan.
Dua hari ini anak kecil tersebut dan kedua orang tuanya menginap di rumah Sang Nenek. Dan saat ini mereka sudah akan berpamitan pulang.
“Mbah, kula pamit ndhisik nggih” kata Sang Cucu dengan bahasa jawa krama yang masih level 1.
“O kosek le…” Nenek itu setengah berlari masuk ke kamarnya. Diberikanlah plastik putih kecil yang berisi beberapa uang logam. Dan telah diikat sempurna.
Tanpa menghitung pun Sang Cucu tahu, jumlahnya ada sepuluh. Selalu begitu. Tidak kurang, tidak lebih. Ending yang selalu memberi kesimpulan bahwa kunjungan ke rumah nenek selalu menyenangkan. Anak kecil itu tak kan pernah ingat lagi bentakan Sang Nenek. Karena sepuluh uang logam itu sudah di tangannya. …baca lanjutannya
Yang urun rembug