“You taught me life’s most valuable lessons – to work hard, love fully and live with integrity. I carry that wisdom with me in my heart.”
“Ma, stanby ya, jangan kemana-mana setelah jemput Reva, Oma semakin drop, ini papa, mbak sama mas sepakat Oma tidak diberi alat bantu apapun,” melalui wa pak suami mengingatkan. Mungkin beliau ingat jika saya dan Reva sudah pamit mau langsung jalan ke Indah Bordir setelah menjemput Reva di stasiun. Finally, saya antar Reva ke Jilbab Jasmine untuk belanja kebutuhan kuliah, yang posisinya dekat dengan rumah, masih transaksi pak suami mengabarkan lagi,” Ma, Oma sudah tidak ada, Innalillahi, segera ke Rumah Sakit ya, naik taxol saja gak usah bawa Mobil, nanti riweh parkirnya,”. “Males pah panggil Taxol, mending bawa mobil saja, sekalian bawa anak-anak trus jemput kak Belva di stasiun, Alhamdulillah dia bisa pulang kebetulan libur dua hari, langsung beli tiket dan meluncur ke Stasiun setelah mama kabari,” jawabku. Sore itu kami bertiga langsung meluncur ke Rumah Sakit Airlangga
Setiba di rumah sudah menjelang Maghrib, karena di rumah duka ada keterbatasan, kami sepakat Oma dimandikan di Rumah Sakit. Kakak ipar memiliki kelompok pengajian yang terbiasa memandikan mayat dan saat itupun bisa langsung menyiapkan semua kebutuhan sampai proses mengkafani selesai. Adzan Maghrib sudah berkumandang kami segera sholat dan setelahnya langsung memandikan jenazah Oma. Setelah sejam selesai, jenazah Oma segera menuju rumah duka dengan ambulan Rumah Sakit. Saya dan anak-anak langsung ke stasiun untuk menjemput kak Belva dan langsung pulang ke rumah untuk menyiapkan keperluan besok di pemakaman.
Hampir tengah malam pak suami datang dan mengabarkan besok Oma akan dimakamkan sekitar jam 08.00 dan disholatkan lebih dahulu di Masjid terdekat rumah duka. Oma akan dimakamkan di Keputih satu wilayah dengan Opa, tapi sudah jauh sekali jaraknya, beda beberapa blok karena Opa sudah lama tiada, sekitar 2015. Usia Oma memang sangat tua, lebih dari 90th dengan riwayat sakit tidak ada yang serius, semua faktor Aging. Tapi ingatan Oma masih di atas rata-rata manusia kebanyakan, hanya sesaat sebelum meninggal mulai menurun drastis. Oma memang seorang pendidik, salah satu dosen Farmasi senior di Universitas Airlangga, lulusan ITB apoteker yang turut membidani lahirnya Fakultas Farmasi Universitas Airlangga.
Dengan semua dedikasi beliau di Perguruan Tinggi telah melahirkan banyak ahli dan para pendidik, insyaallah amal jariyah tiada henti dan atas Rahmat Allah Azza Wa Jalla, surga firdaus akan menjadi rumah terakhir beliau..aamiin.
“We need to move beyond the idea that an education is something provided for us, and toward the idea that an education is something that we create for ourselves” – STEPHEN DOWNES
Sabtu, 21 Juni 2025 kami berdua, saya dan adek Mika menghadiri acara Lepas Kenang kelas 12 PKBM Homeschooling Bintang di hotel Luminor. Undangan untuk saya sebagai salah satu pengurus FKO (komite) dan adek Mika sebagai pengisi acara dalam drama dan tari hadir tepat pk 08.45. Tepat pk 09.00 acara dimulai, diawali dengan sambutan-sambutan hingga wisuda jenjang SD hingga SMA diselipi tampilan drama, musik dan story telling secara bergantian.
Alhamdulillah, cukup banyak wisudawan/wisudawati jenjang SD hingga SMA di PKBM Homeschooling Bintang ini, dan tentunya terbanyak adalah jenjang SMA, kemungkinan karena siswa mulai berkarier lebih awal sebelum memasuki bangku perkuliahan. Prestasi yang mereka raih juga bukan main, beberapa sudah diterima PTN melalui jalur Tes SNBT, karena paket C tidak mendapatkan tiket undangan. Ada juga yang meneruskan ke Universitas Luar Negeri, keren pokoknya. Insyaallah adek Mika akan mendapatkan keberuntungan yang sama..aamiin.
Alhamdulillah, setelah agenda Wisuda di hari Sabtu, dilanjutkan raportan di hari Senin, menuju kelas 11 dijadwalkan sosialisasi yang berupa penjelasan tentang Kurikulum Merdeka, kemudian dilaksanakan tes kemampuan, langkah terakhir bersepakat visi dan misi dengan orangtua, dan adek Mika pun memutuskan memilih Kelas F5 dengan Mapel pilihan, Math lanjut, Fisika dan Ekonomi, yang nantinya akan kuliah dengan jurusan salah satunya Sistem Informasi yang sudah kami sepakati, insyaallah lancar dan berkah..aamiin.
Hari Minggu liburan akhir semester kami terscedule untuk membantu kak Reva pindahan Kos. Kami telah sepakat bahwa kos di Watu Gong sudah tidak sehat lagi, selain situasi kos juga lalu lintas sekitarnya sangat crowded, sempat kak Reva terserempet Bemo saat sepulang kuliah. Memang keputusan kos di Watu Gong sangat terburu-buru selain karena berlomba dengan waktu pertimbangan ada salah satu teman kak Reva di Smanisda ada di sana, paling tidak ada teman saat ospek. Setelah mendekati akhir semester dua, saya dan pak suami berburu kos-kosan dan akhirnya menemukan lokasi yang terbaik sejauh ini, di daerah Veteran, sisi yang berbeda dari Universitas Brawijaya. Setelah melihat keluar masuk ke Kampus dan melewati gang yang cukup aman, lanjut kami cari info untuk harga dan fasilitasnya. Rumah nyaman dengan ventilasi udara yang bagus, kamipun jatuh cinta. Alhamdulillah tersisa satu kamar yang memang barusaja ditinggalkan penyewanya karena lulus kuliah. Meskipun tanpa AC namun udara cukup nyaman tidak panas karena menghadap taman ditengah rumah kos.
Alhamdulillah hasil semester dua sangat membanggakan, meskipun masih proses adaptasi di sana-sini, kak Reva bisa berprestasi dengan mempersembahkan IP 3.8. Bahagia dan bangga selain karena IpK terkatrol naik, lebih baik dari semester satu, juga karena pindahan kos, memberikan suasana yang berbeda, lebih nyaman dan damai, semoga kedepan atas Ridho Allah semakin lancar dan sukses target akademis maupun target intern kak Reva akan tercapai dengan maksimal, insyaallah..aamiin.
“The chapter you are learning today is going to save someone’s life tomorrow. Pay attention.,,
“Bagaimana kak?, diterima dimana??,” siang itu rasanya bagai ketabrak motor, saat kakak jawab,” Astaghfirullah, Situbondo Ma,”. Siang itu pk 13.00, hari Kamis [17/04/25] penerimaan Internship Lokal diumumkan, semalem sebelumnya saya sudah sulit tidur, tiap jam melek saking kepikiran soal Internship. Dengan perjuangan yang berat dan dedikasi Koas yang cukup melelahkan selama 2 tahun dan berhasil meraih nilai tertinggi angkatan tidaklah cukup untuk mendapatkan Rumah Sakit sesuai domisili, malah terlempar ke RS hampir ujung timur Jawa, yaitu RSUD Besuki, Situbondo. Hal ini disebabkan Surabaya dan Sidoarjo tidak membuka kuota, sehingga yang lulusan Universitas di luar Jawa Timur semakin terbuang.
Siang itu kami bertiga panik, saya, paksu, terutama kak Belva bingung mengambil keputusan. Paksu tidak berfikir lama langsung mengajak saya survey ke RSUD Besuki, Situbondo untuk melihat kondisi secara langsung, karena sepanjang yang kami paham sebagai warga Jawa Timur yang lahir asli Surabaya, Situbondo memiliki penduduk dengan ras Madura sebagai mayoritas, bukan hendak rasis namun mereka terkenal problematic. Paksu yang punya pengalaman trayek perdagangan dan travel hingga ke Bali, menjadi sedih karena jalanan menuju Besuki tidak ada Tol langsung, tapi keluar tol Gending yang masih membutuhkan satu jam lebih sampai ke Besuki. Dengan kondisi jalanan yang dilewati Truk dan Bus bisa dibayangkan bagaimana rusak dan tidak nyamannya perjalanan, tidak ada stasiun Kereta Api sebagai alternatif pilihan saat ingin pulang. Sepanjang perjalanan airmata ingin terus mengalir, rasanya tidak tega melepas kakak untuk mengabdi di Besuki. Google review Rumah Sakit hanya 3.6 ditambah dengan pengalaman dokter inship yang pernah ditempatkan disana diperlakukan kurang baik dengan fasilitas RS yang buruk, kerjasama dengan dokter yang lain juga kurang, jadi ilmu tidak bertambah malah tersiksa. Kak Belva tidak ikut survey karena selain terjadwal mengajar, juga melihat sebaran Internship Regional sebagai cadangan jika RSUD Besuki tidak jadi diambil alias batal. Tibalah kami di lokasi, kebetulan malam hari, kami masuk ke halaman RSUD untuk parkir sambil video call dengan kak Belva agar dia juga bisa memantau dari jauh kondisi yang sangat suram ini..hiks. Di depan IGD banyak antrian pasien tiduran di lantai, terlihat sangat jorok dengan lingkungan RS yang juga kumuh. “Pa, mama gak mau kakak disini, kita lanjut ambil kesempatan Regional dengan pertimbangan kakak lulusan Universitas di Jogja, kakak tadi bilang ada kans untuk kembali ke Jogja,” saya mulai berargumen. Paksu mengangguk ragu,” tapi Ma, misalkan ambil DIY dan Jateng, Jateng itu sangat luas sampai Purwokerto, Cepu, Blora dll, itu juga jauh dari Tol dan butuh perjalanan panjang sampai kesana”.
“Bagaimana kak? Apakah kakak yakin membatalkan RSUD Besuki??,” saya lemparkan lagi bola panas ke kakak. “Ma, kakak yakin tapi kembali ke Mama, kakak butuh ridho Mama,” jawabnya disebrang. Bola itu kembali ke saya,”Pa, mama gak tega kakak disini, kita batalkan dan jika Regional melemparkan kakak jauh, kita lanjut Nasional dan ambil Kalimantan Timur, kalaupun ditolak lagi dan harus daftar 6 bulan kemudian, biarlah kakak nikah dulu, lanjut pindah KK Kaltim, dan mendaftar dari sana,”. Paksu hanya tersenyum kecut, “Duh, mama ini ya, anaknya suruh cepet-cepet nikah, yweslah, Papa ridho kakak batalkan RSUD Besuki,”. Sampai di rumah sudah pk 23.00, kami bertiga sepakat membatalkan RSUD Besuki, pk 24.00 lanjut kakak daftar untuk Internship Regional dengan 3 pilihan provinsi yaitu DIY, Jateng dan DKI. Tidur yang hanya sebentar saya kuatkan bangun untuk Tahajud memohon yang terbaik kepada Sang Khalik. Seharian killing time cuma golar goler di tempat tidur, sembari seling ibadah Dhuha dan Mengaji, kebetulan Jumat tanggal merah, jadi kami berempat berkumpul di rumah. Tepat pk 13.00 penempatan Regional diumumkan, dan Alhamdulillah diterima di RSAU dr Siswanto, Solo. Masyallah semalem paksu sudah berharap banyak akan ditugaskan di Solo, Alhamdulillah Allah ridho dengan doa paksu, sedangkan saya sendiri mendoakan kembali ke Jogja. Alhamdulillah bahagia terus bertambah, ternyata ada 2 teman kakak satu angkatan yang satu domisili Solo dan satu lagi Surabaya siap menemani kakak bertugas di RSAU ini. Kembali paksu mengajak untuk survey ke Solo tepatnya Karanganyar. Dengan jarak tempuh yang cukup jauh, tapi karena jalan Tol ke arah barat Indonesia hingga Jakarta, maka waktu tempuh menjadi sama antara ke RSAU dr Siswanto dengan RSUD Besuki yang seharusnya lebih dekat. Kami diarahkan google map keluar Tol bandara Adi Soemarmo dan tidak jauh, hanya 5 menitan kami sampai di Komplek Militer TNI Angkatan Udara, dimana RSAU dr Siswanto berada. Tampilan RSAU sangat berbeda dengan RSUD, dengan gedung tambahan yang lebih modern dan baru saja diresmikan bulan February oleh Prabowo sebagai Menhan, terlihat RSAU bersih dan representatif, memang sepi tapi sangat nyaman, dan yang membuat tenang Rumah Sakit ini berada dalam lingkungan militer yang membuat rasa tenang, apalagi review google juga bagus, yaitu 4.5 kami berdua dan kak Belva merasa yakin untuk melaksanakan internship disini. Meskipun sepi berpotensi kurangnya kasus dan menyebabkan skill kakak kurang terasah namun work life balance lebih bisa terpenuhi disini seperti keinginan kakak. Lagipula dokter Spesialis Syaraf dan Jiwa juga tersedia, artinya bisa magang di kedua dokter tersebut, karena PPDS nanti kakak berminat di kedua spesialis ini. Sebenarnya baik RSUD Besuki dan RSAU dr Siswanto ini Rumah Sakit tipe D, yang artinya dokter spesialis terbatas, tapi yang patut disyukuri RSAU menyediakan spesialis Jiwa aka Psikiatri, sedangkan di RSUD Besuki malah tidak ada. Tersisa hunting kosan, lingkungan sekitar yang merupakan komplek militer tak terlihat kos-kosan, kakak juga masih mencari informasi ke kating yang sudah pernah internship di RSAU ini. Sebelum pulang kami mengarah ke kota untuk mengisi perut yang kelaparan, Alhamdulillah banyak makanan khas, dan sebagai kota wisata, Solo memang lengkap dengan kuliner yang enak-enak. Betapa senangnya paksu, jiwa travelingnya semakin meronta, inginnya setiap hari keliling, ke Solo, ke Malang, entah kemana lagi..hihihi. RSAU dr Siswanto telah disiapkan Allah untuk kakak, Insyaallah lancar dan berkah ilmu dunia dan akhiratnya..aamiin
“Learning is their journey. Let them navigate. Push them to explore. Watch them discover. Encourage their questions. Allow them to struggle. Support their thinking”
Kamis [20/02/25] pk 05.40 kami berdua mengantarkan adek dan tiba di kampus Homeschooling Bintang tepat pk 06.00. Hari ini adek dan teman-teman jenjang SMP dan SMA terjadwal agenda Campus Tour ke Universitas Brawijaya dilanjutkan Nature Visit ke Kusuma Agrowisata Batu. Program Eduvisit dilaksanakan satu kali dalam satu semester. Jika semester ganjil kemarin adek tidak bisa bergabung karena cidera lutut, Alhamdulillah Eduvisit semester genap ini bisa ikut bergabung.
Destinasi pertama adek tiba di kampus kak Reva, yaitu Universitas Brawijaya, mereka langsung masuk gedung serbaguna dan mendengarkan tentang penjelasan tentang banyak prodi yang ada dan syarat-syarat masuk ke Universitas Brawijaya. Sayang tidak bertemu kak Reva karena memang terjadwal kuliah pagi saat hari itu. Saya berpesan buat adek agar lebih fokus menyimak Fakultas Komputer dan beberapa prodinya. Karena memang kami bersepakat adek akan melanjutkan pendidikan di Tehnik Informatika atau Sistem Informasi. Sebagai cadangan swasta, ada Universitas Surabaya yang merupakan almamater mamanya, semoga Campus Tour selanjutnya akan sempat kesana.
Selesai dengan agenda Campus Tour, adek dan teman-teman HSB lanjut menuju Kusuma Agrowisata untuk ishoma sejenak, sholat dan makan siang. Setelah ishoma agenda dilanjutkan dengan outbond, seluruh siswa SMP dan SMA melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir, ada permainan, pendakian, yang cukup menguras tenaga, Alhamdulillah kaki adek aman, walaupun terasa nyeri seperti biasanya jika overuse, karena memang flat feet sehingga gampang lelah.
Sudah jauh hari kami berencana setelah Eduvisit selesai, kami langsung jemput di Batu, Malang, karena adek Mika dan kak Reva baru saja merayakan ulangtahunnya yang ke 16th dan 19th. Namun karena kami bertiga berangkat kesorean, alhasil kami bertemu adek Mika di peristirahatan Pandaan, dan kami langsung balik arah lagi menuju Malang, untuk menjemput kak Reva dan melaksanakan agenda makan malam bersama di Sari Lambau, Malang.
Sari Lambau sudah lama ingin kami coba, karena salah satu menunya ada nasi goreng babat yang merupakan favorite kami kecuali adek Mika, dan karena saya kurang yakin, nasi goreng babat menjadi pilihan papa, kak Belva dan kak Reva, mamanya nyoba menu nasi bakar tuna dan menu andalan Sari Lambau, yaitu garang asam ayam yang disajikan dalam bambu panjang, sedangkan adek Mika sendiri memilih bubur ayam karena sudah kenyang makan bareng HS Bintang. Alhamdulillah, semua menu enak, dan garang asam terpaksa dibawa karena tidak muat perutnya. Sari Lambau ini restonya nyaman, variasi menu banyak dan lengkap, mushola dan toilet juga bersih, pokoknya top markotob. Alhamdulillah sejenak makan bersama lengkap dengan kak Reva yang saat ini tengah merantau menuntut ilmu di Malang. Doa mama papa untuk adek Mika dan kak Reva, insyaallah semakin shalih dan shalihah, mandiri dan bertanggung jawab, sukses pendidikannya dan sehat serta bahagia selalu untuk anak-anakku..aamiin
“The best education you will ever get is traveling. Nothing teaches you more than exploring the world and accumulating experiences”.
Pagi ini tepat pk 06.00, kami sudah siap dijemput gocar dan berangkat menuju bandara internasional Juanda untuk menikmati traveling dari SGM Sarihusada sebagai reward tahunan. 19 January 2025 tepat 4 hari pasca Sumpah Dokter kakbel dilaksanakan, Allah Maha Baik dengan segala karunia-Nya memudahkan kami mengatur jadwal hingga tak berbenturan dan sesuai rencana. Reward setelah Malaysia Singapore dari Sari husada tahun lalu, 2025 merupakan tahun kedua kami kerjakan reward yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu kami selalu berdua dan bersama dengan toko lainnya, dua tahun ini kami minta mentahan untuk bisa diatur mandiri bersama anak-anak kami. Alhamdulillah jika reward tahun lalu masih belajar membuat itinerary, reward kali ini kami kerjakan lebih matang dan sempurna. Dengan kecerdasan kakbel yang superior, hampir 80% dia kerjakan sendiri, mulai membuat itinerary, pembelian tiket pesawat, booking hotel, pesan octopus card sebagai senjata utama kami selama di Hongkong telat di siapkan dengan sangat sempurna, Masyaallah.
Pesawat kami Cathay Pacific terjadwal pk 08.10, Alhamdulillah tanpa delay kamipun langsung otewe. Siang hari jatah makan siang yang sudah kami pesan halal hadir lebih awal dengan menu yang sangat lezat. Kami makan dengan lahap tanpa sisa, padahal saat ke Malaysia dengan pesawat Malaysia Airline menu makanan tidak selezat ini, benar-benar selevel dengan Nasi Padang favorite kami. Pesawat sangat nyaman dengan fasilitas lengkap sekelas bintang 5, namun anak-anak memilih tidur daripada nonton film atau bermain. Dan kamipun tiba di Hongkong tepat waktu serta cuaca cerah, padahal sedang musim hujan, Alhamdulillah.
Sesampainya di Airport kami selesaikan urusan bagasi pemeriksaan seperti biasa, dan kakbel selalu berada di depan, dengan inggrisnya yang skilful memudahkan kami dengan semua agenda di Airport. Setelahnya kakbel lanjut mengurus octopus card yang sudah dia pesan untuk kebutuhan transportasi kami selama di Hongkong. Sembari menunggu mobil jemputan yang sudah kami booking anjem bandara, kami siapkan segala kebutuhan berkas untuk check in hotel. Alhamdulillah hotel yang kami pilih untuk stay 5malam 4hari berada di tengah distrik Tsim Sha Tsui, tepatnya di The Kowloon Hotel, yang sekitarnya terdapat makanan halal yang mudah dijangkau.
Sampailah kami di hotel, urusan booking dan lain sebagainya tentu saja kami serahkan ke tour leader terbaik yaitu kak Belva, segala pertanyaan resepsionis dapat terjawab dengan sempurna, satset tidak pake lama kami menuju kamar. Meskipun kurang luas namun relatif nyaman, tempat sholat memang terbatas, tau sendiri kan di Hongkong tanah merupakan aset termahal, apalagi distrik tersibuk di sana.
“Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.”..aamiin
“Mamaaa…..” teriakan kakbel saat masuk masuk sambil menangis, sangat mengagetkan saya. “Nilai ukmppd kakbel tertinggi seangkatan!!!, Masyaallah.., langsung saja kami berpelukan dan menangis bersama. Proud of you kakak, Allah telah mengabulkan doa-doa kita, kerja keras kakak selama Koas dan belajar dengan ketekunan tinggi tidak mengkhianati hasil. Padahal saat akan menghadapi Ujian kakbel ingin menambah les guna menguatkan keyakinan akan memperoleh nilai terbaik, tapi menuju ukmppd kakbel malah batal les dan memilih belajar kelompok bersama team koas dan beberapa teman lainnya, Alhamdulillah tanpa les kakbel tetap bisa meraih nilai terbaik ukmppd. Kami berharap dengan nilai tertinggi tersebut kakbel bisa mendapatkan penempatan internship di Surabaya atau Sidoarjo, melewati hari-hari bersama kembali di rumah, insyaallah.
Undangan Sumpah Dokter telah sampai di rumah, terjadwal Rabu, 11 January 2025 pk 09.00. Alhamdulillah tidak bertabrakan dengan scedule traveling kami ke Hongkong – Makau di akhir bulan, Allah Maha Baik, sangat menyayangi kami, mengabulkan semua doa-doa kami. Reward dari SGM sudah kami kerjakan di akhir tahun, reward traveling kedua bersama keluarga. Jika biasanya kami ikut reward bareng toko lainnya, dua tahun terakhir kami minta mentahan untuk kami atur sendiri sesuai destinasi beserta akomodasinya, dan tahun lalu kami berhasil traveling ke Malaysia dan Singapore meski kurang maksimal karena baru pertama kali kami traveling ke luar negeri bersama anak-anak secara mandiri, reward berikutnya HK dan Makau kami planning jauh lebih baik, lebih menantang dan spektakuler..hahaha.
Kami berangkat menuju Jogja Senin hari Senin sore, sepulang kerja, Selasa sore terjadwal foto keluarga untuk dokumentasi Sumpah Dokter. Jika wisuda Sarjana Kedokteran tema indoor kali ini outdoor, kami selalu manut apa kata kakbel karena kami juga kurang paham masalah foto gen Z seperti ini, maklum Gen X cenderung boomer..hiks. Selasa sore kondisi cuaca sedang gerimis kecil tapi sesi fotografi tetap lanjut, karena sudah sangat profesional, tukang foto enjoy saja mengarahkan gaya, baik di luar maupun di dalam gedung fakultas kedokteran UII. Bahagia terpancar dari seluruh anggota keluarga, Masyaallah bangganya kami kak, sudah sejauh itu komitmen berat ini finish dengan sangat manis. Ditempa jauh dari rumah, di lockdown covid 19, koas berpindah-pindah kota, tersisa tugas internship semoga bisa di kota sendiri.. aamiin.
Pagi ini sangat hectic, kakbel bangun super pagi untuk bermake up sedikit bold, dia males nyalon padahal harusnya tampil di panggung harusnya cetar membahana malah pilih pucet ala korea, kata kakbel males saja pake mua kalo harus sebelum subuh nyalon, mending mua diri sendiri bisa berhemat juga. Yasudah, toh kakbel punya priviledge kulit putih mulus seperti chindo jadi make up tipis pun sudah sangat sempurna, anak sendiri jelas mamanya yang puja puji..hihihi. Kami berangkat lebih awal untuk mengantarkan kakbel ke gedung Kahar Mudzakhir UII tempat berlangsungnya Sumpah Dokter lebih awal, kemudian balik lagi ke hotel jemput adek-adek, lanjut balik lagi sesuai jam undangan. Kami duduk di tempat undangan orangtua di kursi paling belakang ujung karena kakbel akan dipanggil paling awal, dokter dengan prestasi nilai ukmppd tertinggi. Masyaallah bangganya kami saat nama kakbel dipanggil paling awal, dilanjutkan sejawat kakbel yang lain hingga akhir. Setelah seremonial, sambutan dan pengumuman dokter berprestasi diumumkan, nama kakbel berkumandang dalam gedung, Masyaallah merinding dan menangis bahagia langsung membuncah. Kakbel memang anak kami yang paling ambisius, sejak kecil banyak prestasi berhasil ditorehkan, namun memang takdir membawanya ke UII bukan FK PTN, setiap takdir Allah pasti ada hikmah dibaliknya dan memilih ikhlas untuk dijalani dengan usaha terbaik. Apapun itu, kakbel sangat membanggakan buat kami sekeluarga. Bukan Pure Blood tapi memperoleh nilai ukmppd tertinggi, saat wisuda sarjana kedokteran kakbel berhasil meraih peringkat ipk tertinggi kedua, saat sumpah dokter dia berhasil mencatatkan sebagai yang terbaik, Masyaallah Tabarakallah.
Kembali berbicara tentang takdir, selama koas ternyata terjadi witing tresno jalanan soko kulino, kakbel menemukan tambatan hatinya dengan rekan satu tim. Masyaallah, selama ini urusan percintaan adalah prioritas terakhir dalam kamus kakbel, dia sangat ambisius untuk urusan pendidikan dan selalu ingin jadi yang terbaik. Finally, disaat detik-detik akhir koas, kakbel memproklamirkan kepada kami, keinginannya untuk menikah muda, sesuai targetnya 25th, dan Alhamdulillah sekali lagi Allah mengabulkan keinginannya. Selesai Sumpah Dokter kami agendakan perkenalan keluarga, dan satset tanpa drama kami sepakat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius, insyaallah 2026 kakbel dan soulmatenya akan menggelar pernikahan. Masyaallah, begitu cepat rasanya hingga kami terkaget-kaget, kakbel yang begitu ambisius menceritakan tentang harapan dan cita-citanya ke depan akan melanjutkan S2 di luar negeri harus menyusun ulang rencananya, setelah menikah keduanya akan melanjutkan PPDS di dalam negeri saja. Insyaallah ridho Allah akan bersama kalian, niat ibadah terpanjang sudah disusun dan segera dilaksanakan. Insyaallah lancar seluruh rencana kedepan dan mendapatkan keberkahan dari Allah Azza wa Jalla ..aamiin.
Malam ini, Rabu [29/10/24] tengah malam adek mendadak turun dari lantai 2 dimana kamarnya berada, menuju kamar kami dengan berjalan terseok-seok, kamipun sedang terlelap, ternyata adek sudah mencoba misscall, tapi karena saya terbiasa silentkan hp, telpon itu jadi tak terdengar. Paksu kaget, setengah teriak,” kenapa dek??,” adek jawab sembari meringis,” lututku geser pah, sakit banget,”. Tanpa babibu, paksu langsung ajak ke IGD Mitra Keluarga, rumah sakit terdekat dengan rumah kami, dan Alhamdulillah meskipun menggunakan BPJS, IGD satset melakukan tindakan. Sembari adek tiduran menunggu, diberikan anti nyeri dan persiapan foto. Setelah tindakan foto dikerjakan, lutut adek dibebat dan diijinkan pulang, besok ambil hasil sekaligus kontrol hasil ke Spesialis Ortopedi.
Karena kami masih ingin menggunakan layanan BPJS maka kami wajib mengurus rujukan ke Faskes 1, namun karena lama sekali faskes 1 selesai, sedangkan adek membutuhkan periksa dengan segera ke ortopedi maka kami putuskan menggunakan jalur umum. Segera kami daftar kembali ke ortopedi untuk dapat membaca hasil foto rontgen. Setelah bertemu dr Andi, spesialis ortopedi yang sudah menjadi langganan keluarga kami dan sudah sangat paham dengan kondisi adek menjelaskan, memang ada dislokasi sendi lutut tapi saat di foto sudah kembali ke posisinya. Dr Andi menambahkan kondisi adek memang rawan bertemu hal seperti ini karena ada histori ligament laxity dan saat ini yang bisa dilakukan hanya penguatan otot paha dan betis, agar beban di lutut berkurang, juga mengurangi berat badan juga wajib dilakukan bertahap agar lutut tidak gampang lari kemana-mana. Dr Andi merujuk adek ke bagian Fisioterapi dan bertemu spesialis rehab medik untuk pelaksanaan fisioterapi, apa saja yang akan dilakukan sementara hingga lutut bisa kembali pada posisi sempurna tanpa goyang. Jika tindakan fisioterapi tak cukup untuk mengembalikan posisi lutut dengan benar maka akan dilaksakan operasi (..ya Allah, semoga dicukupkan fisioterapi saja). Dr Andi juga menyarankan membeli decker lutut dengan memberikan rekomendasi toko dan jenis dekernya. Surat dokter pun menuliskan tidak boleh olahraga dan aktivitas berat di sekolah selama sebulan, Alhamdulillah adek homeschooling yang bisa dengan mudah lobi-lobi. Selesai kontrol dr Andi, kamipun segera menghubungi no wa yang tertera dan terhubung dengan mas Angga, beliau dengan satset datang ke rumah dan menjelaskan produk tersebut, dicoba dan pas ukurannya. Kamipun membeli deker lutut ini dan wajib dipake selama lutut terasa goyang, tapi tidak diperbolehkan dalam jangka panjang, karena justru dapat memperkecil otot.
Adek terjadwal konsultasi rehab medik dan terapi sebanyak 6x, karena faskes tak juga siap, kembali kami menggunakan jalur umum. Lumayan juga sekali terapi hampir 500k, belom dokter dan obat-obatan. Seminggu setelahnya surat rujukan selesai dari faskes 1 dan kamipun mengulang dari awal, ke ortopedi lagi lanjut rehab medik, kemudian terapi dan semuanya free, Alhamdulillah. Dan setelah 6x menurut dokter rehab masih agak goyang, tapi harus melalui ortopedi lagi, dr Andi menyarankan 6x lagi terapi dan diharapkan sudah selesai tanpa keputusan operasi. Dan selama terapi adek juga diberikan exercise yang dilakukan di rumah, hingga detik ini masih dilakukan, baik itu exercise maupun sepeda statis. Ya Allah, berikan kesehatan selalu untuk adek Mika, insyaallah otot-otot, sendi yang longgar dapat semakin rapat dan kuat, dan tidak ada lagi drama dislokasi dibagian tubuh manapun itu..aamiin
“Education begins at home and I applaud the parents who recognize that they – not someone else – must take responsibility to assure that their children are well educated”
Hari ini, Sabtu [15/11/2024] pengukuhan Forum Komunikasi Orangtua dilaksanakan, bersamaan dengan agenda Parenting yang diadakan di Mall Trans Icon. Saya ditunjuk sebagai koordinator jenjang SMA, bersama dengan bunda lainnya dari masing-masing jenjang mulai SD, SMP hingga Kebutuhan khusus. Acara berlangsung informal, hanya berdiri bersama beberapa tutor yang ditunjuk sebagai perwakilan dari PKBM. Jadi lebih jelasnya Forum Komunikasi Orangtua berisi perwakilan orangtua dan sekolah dari Homeschooling Bintang.
Sebenarnya FKO sudah terbentuk sejak dulu, apalagi sempat menjadi pilot project bagi PKBM lainnya. Namun sejak Covid, FKO kurang aktif juga karena PKBM yang dulunya dibawah bendera HS Kak Seto berubah menjadi HS Bintang dan menunjuk para anggota baru untuk memperkuat FKO HS Bintang ini. Tugas-tugas yang wajib diemban oleh kami, secara tehnically akan dipandu dalam grup tersendiri. Meliputi kegiatan Parenting, Gathering, dan lain-lainnya. Kami menjabat sekitar 2 tahun kedepan.
Sebelum menerima pinangan ini sebenarnya juga ragu kenapa memilih saya, pertimbangannya apa, dan sebagai Newbie di dunia Homeschooling tentu saja saya merasa belom capable. Siang itu, kak Ayu sebagai walas jenjang SMA ijin untuk menelepon saya, karena posisi tidak sedang repot, maka saya mengiyakan. “Siang bunda mas Mikaeel, kami meminta bantuan agar bunda mau menjadi koordinator jenjang SMA,”. Saya menjawab,” kenapa harus saya kak, kan masih banyak yang lebih senior dan sudah lama bergabung di HS Bintang??.” Kak Ayu,” kak Ayu melanjutkan, kami melihat bunda begitu concern dengan pendidikan adek Mikaeel dan adek juga sangat aktif dan PD di kelas, jadi kami memilih bunda bukan berdasarkan senioritas tapi sisi yang lainnya,”. “Masyaallah, jadi merasa tersanjung, baiklah kak Ayu, kira-kira tugasnya apa saja ya, apakah membutuhkan waktu yang sangat banyak dan aktif berorganisasi?? Apa mirip dengan komite sekolah, kalo iru saya sudah merasa senior, karena dulu juga aktif sejak si mbarep hingga ragil bersekolah di sekolah swasta islam,. “Tentu tidak bunda, kurang lebih sama dengan komite sekolah, seperti menyusun kegiatan untuk meningkatan mutu sekolah, mengkoordinasikan orangtua, juga sebagai role model, melakukan homevisit ke wali murid, menampung saran dan masukkan, dan menjadi saksi penandatanganan dokumen kurikulum HS Bintang,” kak Ayu lanjut menjelaskan. “Baik kak Ayu, diawali dengan Bismillah, saya ikut bergabung dengan niat bermanfaat bagi sesama wali murid dan menjembatani keinginan sekolah dan wali murid, insyaallah berkah..aamiin,”.
Sebelum saya ditunjuk sebagai bagian dari komite HS Bintang, dalam Agenda parenting yang pertama bersamaan dengan raport sisipan semester satu, saya juga sudah diminta mewakili orangtua jenjang SMA ikut berpartisipasi dalam seminar, untuk sharing pengalaman bagaimana pelaksanaan Sex Education di rumah. Masyaallah apresiasi terhadap kami bukan main, merasa tersanjung bisa sepanggung dengan pembicara sekelas bapak Ario yang merupakan ayah dari penulis cilik Deliang Faraby. Dengan sumbangsih saya yang tak seberapa ini dapat membawa manfaat buat HS Bintang dan para wali murid, semoga senantiasa bersinergi dalam mengembangkan talenta demi kesuksesan ananda di masa depan..aamiin.
“The function of education is to teach one to think intensively and to think critically.Intelligence plus character that is the goal of true education.” – Dr. Martin Luther King, Jr.
Sore itu Kamis [13/06/24], kakak menangis terisak, bukan semata karena diterima SNBT, tapi juga ketidaksiapan untuk kuliah di prodi Manajemen dan harus jauh di orangtua. Sejak memutuskan memilih prodi, pilihan 1 Manajemen Unair dan pilihan 2 Manajemen UB kak Reva belum sepenuhnya yakin dengan pilihannya. Manajemen adalah pilihan Mamanya, itu memang saya akui, sejak awal masuk SMA kami berdua sepakat agar kak Reva masuk paket ekonomi era kurikulum merdeka, dan mengejar lomba-lomba berbau Ekonomi. Bahkan hingga menjuarai Lomba Ekonomi yang diadakan FEB Unair. Mendadak kelas 12 mulai kak Reva oleng ke Psikologi, dan kembali kami bersepakat jika Undangan dan Ujian Tulis lepas, silahkan ambil jalur Mandiri prodi Psikologi. Namun ridho Allah jatuh di FEB UB, sebagai pilihan kedua SNBT, dan kak Reva semakin galau. Kamipun berdiskusi mau dilanjutkan atau dilepas, semuanya mengandung konsekuensi. Terus terang kami memiliki Bisnis yang dibangun dengan keringat, darah dan airmata, sekiranya ada yang melanjutkan tongkat estafet alangkah baiknya, toh hari ini begitu sulit mencari lahan pekerjaan yang sesuai dengan standart dan harapan kita. Dengan semua privilege yang ada, kami sangat berharap kak Reva bisa mempertahankan bisnis ini dan mengembangkannya lebih maju lagi.
Anak kedua kami yang sangat introvert ini merupakan anak yang tekun, dan saya berharap dia bisa mengatur keuangan perusahaan dengan lebih baik. Kerja sebagai entrepreneur merupakan dambaan banyak orang, apalagi sebagai pewaris tentunya akan banyak manfaat yang didapatkan kak Reva. Keterbatasan seorang perempuan dengan tanggungjawab sebagai ibu sekaligus wanita karir tentu sangat tertolong pekerjaan dengan fleksibilitas waktu, tidak mudah memang menjadi pengusaha, tapi waktu yang fleksible akan sangat menguntungkan. Itulah yang selalu saya doktrin ke kak Reva, dengan harapan dia akan tertarik dan mendatangkan ridho Allah, karena kami memiliki visi dan misi akan membantu sesama dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya dengan bisnis kami.
Sejak mundur sebagai Atlet dari dunia Panahan, kak Reva fokus ke akademis, dengan capaian tiga besar di kelas sejak kelas 10 tentunya kans untuk jalur undangan semakin terbuka, diimbangi dengan lomba-lomba olimpiade ekonomi, kak Reva berhasil mengumpulkan beberapa sertifikat lomba. Selama menempuh pendidikan di Smanisda kak Reva juga berhasil menang lomba di sekolah, seperti Smanisda got talent menjadi juara 2, juga lomba digital character juara 3, Alhamdulillah meskipun introvert kak Reva tampil percaya diri di atas panggung lomba. Namun berbekal juara 2 FEB UB dengan tandatangan Dekan serta ranking 3 dikelas tidak cukup mengantarkannya untuk masuk FEB Unair yang menjadi satu-satunya pilihan dalam kompetisi SNBP. Beberapa drama memang muncul akibat perubahan kurikulum, sekolah kak Reva merupakan sekolah prototype awal untuk kurikulum merdeka era pak Nadiem Makarim diluncurkan. Karena kelas 10 harus mempelajari seluruh mapel, mulai fisika hingga ekonomi, otomatis nilai tidak semaksimal siswa dengan kurikulum kurikulum 13 yang sudah penjurusan sejak awal kelas 10, tentu saja berpengaruh pada hasil akhir nilai reratanya. Kekacauan terjadi di semua Universitas, karena sistem Universitas tidak bisa membaca apakah siswa SMA tertentu menggunakan kurikulum merdeka atau kurikulum 13. Dan banyak Universitas menganulir hasil SNBP dan kepala sekolah banyak melakukan protes ke Universitas akibat penurunan drastis penerimaan jalur undangan, jika tahun sebelumnya menerima siswa Smanisda sebanyak 90an dan saat kak Reva berkurang lebih dari separuh.
Sebelum memutuskan memilih Unair dan UB, kak Reva juga sudah survey ke Universitas UGM. Namun dengan pertimbangan kak Belva sudah selesai di Jogja, maka kak Reva lebih dekat saja dengan rumah, agar kami juga gampang visit dan melakukan pengawasan. Sebenarnya harapan untuk diterima di Unair lebih tinggi tapi ridho Allah jatuhnya di UB, dan membuat galau kak Reva yang belum siap untuk jauh dari rumah. Setelah kami banyak berdiskusi dan kak Reva tak lagi memaksakan Psikologi di jalur Mandiri, walaupun masih denial hingga saat ini. Biarlah waktu yang akan menyelesaikan proses denial hingga acceptance.
Urusan daftar ulang dan lainnya selesai, UKT yang muncul sangat murah sekitar 7,8jtan, itupun sudah UKT tertinggi di UB. Memang jalur ujian tulis ini murah, tapi persaingannya berat, beda dengan jalur Mandiri yang terkadang melebihi Swasta mahalnya. Tugas yang terakhir dari orangtua adalah mendoakan, insyaallah pendidikan kak Reva di FEB Universitas Brawijaya selalu mendapatkan keridhoan Allah, berhasil lulus tepat waktu dan mendapatkan nilai Cumlaude, berkah ilmu dunia dan akhiratnya..aamiin
Setelah banyak belajar tentang health issue yang ditimbulkan kedua masalah kaki datar dan ligamen yang longgar, saya mulai mempelajari alternatif sekolah berbasis homeschooling. Ide tentang homeschooling sebenarnya sudah sejak lama, saat mau memasuki sekolah dasar, namun karena belom kuat tekad, akhirnya terlupakan. Dengan belajar dari kejadian Covid_19, yang mengharuskan belajar online karena lockdown, diperkuat dengan mundurnya Mika dari dunia Panahan akibat dua issue kesehatan, akhirnya saya memutuskan untuk mulai ikut mentoring homeschooling bersama Rumah Inspirasi. Selain itu banyak baca referensi buku dari berbagai metode homeschooling, menyimak youtube ustadz Harry Sentosa Rahimahullah (Fitrah World), termasuk juga keluarga homeschooling baik luar maupun dalam negeri, juga banyak bertanya ke sekitar yang punya pengalaman homeschooling, Alhamdulillah semakin memantapkan keinginan agar si Ragil melanjutkan jenjang SMA dengan metode homeschooling.
Setelah mempelajari A hingga Z tentang homeschooling, saya mulai mencari PKBM yang terbaik di Indonesia, termasuk didalamnya ada PKBM Kak Seto, PKBM Bintang Mulia (Kudus), PKBM HSPG, PKBM Primagama, dan semua terakreditasi A. Sebenarnya konsep homeschooling adalah tentang belajar akademis dan life skill atau passion yang seimbang yang ingin dikembangkan, bukan tentang sekolah yang wajib mempelajari semua Mapel sesuai Diknas. Namun, karena Mika akan melanjutkan ke jenjang Universitas, saya tidak berani mengambil resiko dengan urusan Mapel dan Raport. Sebelumnya saya sempat berfikir untuk homeschooling murni yang hanya membeli Modul pelajaran dan mengerjakan dirumah, untuk urusan raport dari pihak PKBM akan mengurusinya. Setelah visit satu persatu homeschooling berakreditasi A, saya melihat melihat perbedaan, semua sudah seperti sekolah normal dengan jam pelajaran lebih pendek dan flexible, ada komunitas yang menyediakan siswa untuk bersosialisasi tidak full di rumah, dan metode ini punya istilah Flexyschool, yang berada ditengah antara sekolah dan homeschooling.
Setelah melalui survei pilihan mengerucut antara PKBM Kak Seto Surabaya dan PKBM Pena, semuanya berada di Surabaya Selatan, beruntungnya kami mendapatkan posisi sekolah, flexy school terdekat dengan rumah. Sebenarnya saat-saat survei PKBM, PI Raudlatul Jannah sebagai naungan pendidikan anak-anak sejak Paud hingga SMP sudah mulai meluncurkan metode homeschooling (PKBM Raudlatul Jannah), namun sayang saat-saat terakhir Ketua Yayasan meragu untuk menjalankan program untuk jenjang SMA, karena ketakutan akan kanibalisme dengan SMA Raudlatul Jannah sendiri yang masih baru meluluskan 2 angkatan. Dan finally kami, baik saya, paksu dan Mika sepakat untuk mendaftarkan Mika di PKBM Kak Seto, yang kemudian berganti nama menjadi Homeschooling Bintang setelah ada perbedaan visi dan misi dengan PKBM Kak Seto Jakarta yang sekarang dikelola oleh anak-anak Kak Seto.
Kurikulum akademis sudah update dengan kurikulum Merdeka, memadukan mapel utama dan tambahan berupa modul dan tugas portofolio yang proposional, PKBM Bintang juga menyiapkan kurikulum non akademis berupa life skill di setiap hari Jumat juga Eduvisit yang dilaksanakan satu semester dua kali, seperti outbond, kunjungan kampus juga museum dan lain-lain. Talent Project sebagai kurikulum pelengkap juga disediakan untuk mengakomodir talent siswa, seperti Speak Up, Design Grafis, Badminton, Panahan, maupun Coding yang sedang happening.
Kurikulum Rumah juga sudah orangtua siapkan, baik saya maupun papa Mika bersepakat untuk memberikan Kurikulum berupa Kaderisasi Toko Baby Dea, pekerjaan dari hulu ke hilir merupakan menu wajib yang harus Mika kuasai. Seperti yang ustadz Harry Santosa Rahimahullah jabarkan dalam Kurikulum Fitrah World, bahwa anak laki-laki usia Baligh, sekitar 15th sudah wajib mencari Nafkah, dan kami sudah siapkan untuk Mika dalam belajar menjadi pejuang nafkah mulai dari sekarang. Alhamdulillah, memang kakak-kakak perempuan sejak masih SMA sudah bisa mencari uang sendiri, baik itu menjual buku, menggambar dan skill lainnya, meskipun nafkah anak perempuan masih dalam kewajiban orangtua , kecuali sudah menikah akan mengikuti perwalian suami. Termasuk juga Kurikulum olahraga seperti berenang kami berikan secara rutin sebagai penunjang kesehatan Mika, dan memang olahraga yang disarankan selain Gym oleh dokter Orthopedi. Bermain musik, yaitu Drum masih dilakukan sesekali, les Coding masih terus dikerjakan seminggu sekali dan les privat mapel Math, Fisika dan Kimia menu wajib sebagai pendamping pelajaran di PKBM.
Alhamdulillah, memilih PKBM homeschooling Bintang merupakan hasil kesepakatan bersama kami orangtua dan Mika sebagai anak lelaki kami, dapat dijalani Mika dengan senang hati, tidak ada lagi pressure yang berlebihan, baik akademis maupun non akademis dapat berjalan dengan seiring sejalan. Dengan ikhtiar terbaik kami ingin memberikan yang terbaik pula untuk sang putra mahkota, kami berharap selain Mika mendirikan kerajaannya sendiri, dia juga dapat melanjutkan tongkat estafet perusahaan keluarga dengan ikhlas dan totalitas tanpa batas..aamiin, Insyaallah.