Posted by: denidarma | November 22, 2008

PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR TIK

PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR TIK

Oleh: Deni Darmawan

I. Pengantar

Ketika seorang guru kebingungan akan mengajarkan sebuah konsep ‘Perambatan Gelombang Suara”, maka ia berpikir dan dalam pikirannya ia mencoba mengingat kembali pengalaman ketika masa kecil. Pikirannya tertuju pada kaleung susu bekas didapurnya, maka guru tersebut mencoba untuk membuat sebuah alat untuk membuktikan dan menjelaskan kepada anak didiknya bahwa suara merambat melalui medium tali atau benang. Akhirnya guru tersebut menyambungkan kaleng bekas susu tersebut dengan benar. Ketika di kelas guru tersebut mencoba mnyuruh anak untuk ke depan dan memperagakan bagaimana suara merambat dengan melalui benang tersebut. Akhirnya siswapun cukup senang dan memperoleh pemahaman yang utuh dari penjelasan dan demonstrasi yang diperagakan oleh kedua temannya di depan kelas.

Bagaimana pendapat anda, silakan anda pikirkan dan bandingkan kondidi guru tersebut dengan kondisi saat ini ketika suara, atau guru berbicara dengan alat bantu pengeras suara ataupun telepon apa perbedaannya dan apa persamaannya, lalu apa yang membuat perbedaan itu terjadi. Selanjutnya marilah kita kaitkan dengan apa yang disebut dengan ”Sumber Belajar TIK”.

II. Memahami Sumber Belajar secara umum

Dalam memahami Sumber Belajar secara umum selain yang pokok di atas mulai dari lingkungan hingga prosedur atau teknik, pada dasarnya ada beberapa yang memberikan penjelasan mengenai sumber belajar ini, diantaranya sebagai berikut.

Sumber Belajar merupakan merupakan sebuah organisasi yang membudayakan teknologi pendidikan untuk menyepadukan nilai-nilai budaya dengan amalan pengajaran dan pembelajaran di bilik darjah dan sumber-sumber pendidikan dalam usaha untuk mencapai hasil pendidikan yang dihargai oleh masyarakat.

Seperti buku, alat dan bahan pandang-dengar adalah media komunikasi untuk menyampaikan maklumat pendidikan. Apa yang tercatat di dalam buku boleh dipindahkan dalam bentuk yang lain seperti rakaman kaset, slaid, gambar bersiri dan sebagainya. Ertinya, kedua-dua buku dan alat dan bahan pandang-dengar mempunyai peranan dan tugas yang sama dan saling melengkapi.

III. Sumber Sumber Belajar dan TIK

Banyak pakar merumuskan dan memberikan batasan apa yang dimaksud dengan Sumber Belajar. Misalnya dulu sebelum adanya trand Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam dunia pendidikan, maka guru atau umumnya pendidikan banyak mengklasifikasikan mengenai sumber belajar ini ke dalam bentuk:

1.1 Lingkungan

Lingkungan seperti gunung, sawah, hutan, kota, desa dan suasana-susasana tertettnu yang bisa dikaitkan dengan kebutuhan untuk menjelaskan pelajraan tertentu oleh pendidikan, maka lingkungan tersebut bisa dikatakan sebagai Sumber Belajar. Namun karenha pergeseran dan perekembangan jaman, hasil pemikir atau teknolog semakin banyak dan mencoba memodifikasi lingkungan-lingkungan tersebut ada yang nyata maupun buatan, ada yang dibentuk dalam sebuah model lingkungan tertentu, gambar lingkungan tertentu, foto-foto lingkungan tertentu, bahkan menunjukkannya dalam visual audio seperti dalam televisi, komputer dan sebagainya. Bentuk-bentuk pengkondisian sebuah llingkungan yang dilakukan oleh seorang pendidik tentunya untuk kepentingan pembelajaran. Dan karena ada pengaruh dari hasil Teknologi Informasi dan Komunikasi maka Sumber Belajar yang diciptakan (buatan) atau didesain ini sudah barang tentu termasuk ke dalam Sumber Belajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Banyak sekali sumber belajar dalam bentuk lingkungan ini yang kita kondisiskan dan klasifikasikan sebagai sumber belajar yang dihasilkan oleh pengaruh adanya pemakaian konsep TIK, dan juga yang betul-betul dibuat dengan melalui pemikiran-pemikiran dalam ilmu TIK.

1) Lingkungan sebagai Sumber Belajar untuk TIK

Sumber belelajar dalam bentuk lingkungan untuk mempelejari TIK ini cukup banyak, misalnya guru dapat menggunakan lingkungan di Warnet, Di Laboratorium Komputer, Di Laboratorium Sains, Di Ruangan kantor Telkom, di Ruangan Kantor PLN, lingkungan di ruang-ruang pustekom, lingkungan rumah yang memiliki alat-alat home teater untuk pembelajaran, dan sejenisnya. Lingkungan-lingkungan tersebut sebnarnya ada sebelumnya dan tidak dengan sengaja dibuat atau dicptakan dan dikonsisikan oleh guru untuk mengajar. Namun karena guru pandai dalam memanfaatkan lingkungan dan kondisi yang ada maka lingkungan-lingkungan tersebut bisa dijadikan sumber belajar bagi siswanya jika akan mempelajari mengenai penggunakan alat, prosedur dan teknik yang berkenaan dengan software dan hardware dari konsep TIK.

2) Lingkungan Sebagai Sumber Belajar hasil Implementasi TIK

Lingkungan ini berbeda dengan lingkungan sebagai sumber belajar TIK di atas. Lingkungan yang dimaksud disni yaitu lingkungan sebagai sumber belajar yang sudah didesain dan diciptakan oleh guru dengan pemikiran-pemikiran TIK, mulai dari adanya ide untuk membuat anak menjadi paham bagaimana pesawat telepon bisa diciptakan, musaknya guru membuat gambar dan diagram, atau laboratorium tiruan mengenai proses terjadinya pengiriman sinyal suara dari pesawat telepon yang satu ke pesawat telepon lainnya. Atau guru membuat suasana praktum anak dengan menggunakan komputer, dengan menggunakan telepon, dengan menggunakan Siaran Televisi Pendidikan, sehingga anak merasa bahwa lingkungan di mana ia berbada dapat memperlancar belajarnya. Inilah yang dimaksud dengan lingkungan sebagai sumber belajar hasil dari implementasi pemikirna-pemikiran TIK.

Demikian juga dengan seting lingkungan belajar tertentu yang memang memiliki teman mengenai hasil produksi dari pemikiran-pemikiran TIK, seperti lingkungan di sebuah Pameran atau expo Epitech-2 yang sedang dilaksanakn oleh Dinas Provinsi Jawa Barat di mana terdapat banyak pameran hasil produk dari TIK itu sendiri, kemudian guru menggunakannya untuk proses pembelajaran, di mana siswanya diajak berkunjung ke expo tersebut, maka lingkungan tersebut sudah bisa dikatakan sebagai sumber belajar untuk memberikan wawasan tentang TIK kepada siswanya.

1.2 Bahan dan Alat

Jika berbicara bahan, maka sangat dekat untuk memahami sebuah konsep sumber belajar TIK ini. Bahan pembelajaran berupa sebuah informasi tertulis, terekam dalam bentuk suara, terekam dalam bentuk visual atau gambar, semaunya sudah dengan mudah bisa dikatakan dan digunakan sebauah sumber belajar dalam pemikiran-pemikiran atau sebagai alat untuk mempelajari tentang TIK.

Demikian juga dengan alat-alat tertentu, misalnya alat berupa slide proyektor, alat berupa radio, Televisi, komputer, handphone, speaker, layar, monitor, batere, elektroda, kompas angin, dan sejenisnya, maka semuanya itu sudah dikatakan sebagai sumber belajar dalam bentuk alat-alat yang bisa digunakan untuk menjelasakan mengenai TIK.

Lebih utama jika bahan dan alat ini diciptakan atau dibentuk dan disiapkan oleh guru itu sendiri. Maka sudah lengkaplah pemahaman bahan dan alat sebagai sumber belajar anak didik yang dikemas dna dibentuk dan diciptakan oleh guru dalam bentuk ciptaa tertentu sehingga mendukung anak untuk bisa belajar dan mempelajari sesuatu secara lebih cepat. Sebagai misal guru membuat sebuah komputer-komputeran dari triplek atau kertas kemudian guru tersebut menjelaskaannya kepada anak tentang seluk beluk dan cara kerja sebuah komputer, maka dalam hal ini guru tersebut sudah mengimplementasikan dan memanfaatkan bahan dan alat sebagai su,mber belajar TIK. Demikian juga ketika guru membuat jangka dari ranting pohon jambu, membuat telepon mainan dair bekas kelaing susu, membuat miniatur pembangkit tenaga listrik dari kayu, dan sebagai maka dalam hal ini sudah dipastikan dan ditegaskan guru telah memanfaatkan sumber belajar TIK dalam bentuk bahan dan alat.

Dengan demikian bahan dan alat ini jika dibandingkan dengan sumber belajar yang lain maka akan lebih banyak peluangnya untuk membantu guru dalam menciptakan sumber belajar TIK, sehingga anak lebih mudah memahami materi pelajaran yang dimaksud.

Memang kadangkala bangsa ini termasuk guru dan para akademisi terlalu shock atau kaget ketika mendengar dan harus mempelajarai sebuah TIK, yang sangat sarat dengan aspek perangkat kerasnya. Padahal jika dilihat dari sumber belajar ini maka perangkat tersebut hanyalh termasuk ke dalam kelompok bahan dan alat yang bisa dibentuk, kemas oleh guru sehingga bisa dijadikan suatu produk dari Teknologi itu sendiri, sebagai bahan untuk menampung sejumlah informasi yang akan dikomunikasi di dalam proses pembelajaran.

1.3 Orang/manusia

Sumber belajar berupa orang, mungkin saja bisa dikondisikan oleh seornag guru, ketika akan menyampaikan suatau pelajaran tertentu. Misalnya ingin menyampaikan mengenai materi TIK, maka bisa saja guru mengundang pakar dalam bidang TIK dan disuruh menjelaskan di depan kelas mengenai TIK kepada siswanya. Dalam kondisi seperti itu maka orang yang didatangkan oleh guru tersebut adalah sumber belajar untuk memberikan pemahaman mengenai TIK itu sendiri.

Dewasa ini pemanfaatan manusia atau orang sebagai sumber belajar dalam proses pembelajarn semakin banyak seiring dengan penggunakan sumber belajar dalam bentuk bahan dan alat. Hal ini terjadai karena bahan dan alat dalam dunia TIK tentunya tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya penjelasan dari seorang pakar TIK-nya.

1.4 Prosedur Pemecahan Masalah Masalah/Kebutuhan Belajar

Sumber belajar tidak selamanya dalam bentuk benda, alat ada kalanya TIK lebih menekankan pada prosedur, Di aman sebuah alat komunikasi atau hardware tertentu akan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh guru jika guru tersebut memahami prosedur untuk menggunakannya. Inilah yang sebenarnya harus banyak dipikirkan bagaimana prosedur dan langkah pemecahan maslaah ini dipandang dalam tataran makro atau secara luas menjadi tantangan bagi semua pihak termasuk guru. Jadi masalah prosedur dan teknik ini akan terus berubah seiraing dengan perubahan alat, bahan, dan teknologi juga informasi serta bagaimana mengkomunikasikan sesuatu yang dari waktu ke waktu terus berubah. Sebagaimana kita rasakan bersama perubahan Teknologi semakin cepat apalagi informasi yang begitu luas, banyak dan cepat berkembang, ini merupakan tantangan bagi praktisi dan dunia akademisi termasuk guru untuk senantiasa selalu mampu mengikuti perkembangan abad teknologi informasi dan komunikasi ini.

Jika dikaitkan dengan teknik mengajar maka guru akan berhadapan dengan berbagai teknik atau strategi mengajar yang harus dihubungkan dengan kondisi alat, bahan, dan lingkungan serta manusia (akar) atau sumber yang bisa memberikan penjelasan mengenai teknologi informasi dan komunikasi ini.

Prosedur tertentu dalam menjelaskan sebuah alat, alat menyampaikan materi tententu dapat dikatakan sebagai sebuah teknologi sebagai proses, kemudian jika prosedur atau teknik benar dan bisa dipraktekan dalam proses pembelajaran maka dapat beralih menjadi sebuah proses komunikasi. Maka apapun yang disampaikan oleh guru atau diajarkan guru dalam pembelajaran, maka sumber belajar dalam bentuk prosedur atau teknik akan menjadi penentu apakah informasi pelajaran bisa diterima dengan baik oleh siswa atau tidak.

Dengan demikian sumber belajar ada dasarnya dapat juga berupa cara mengajar itu sendiri atau prosedur dan langkah mengajar itu sendiri. Namun apa yang diajarkan itulah yang akan mewarnai tentang isi materinya apakah sumber belajar untuk bidang TIK atau bukan. Jika prosedru ini juga mengenai bagaimana mengajarkan materi tentang TIK, atau mengajar dengan media-media hasil adopsi TIK maka kedudukan sumber belajar dalam bentuk prosedur atau teknik ini hanya sebagai prosedur dan teknik pembelajaran.

IV. Pengembangan Wawasan Sumber Belajar TIK


Untuk menambah wawasan mengenai Sumber belajar secara luas, maka berikut ini penulis sajikan salah satu artikel yang membahasan mengenai sumber belajar dan perkembangannya di Asia Tenggara. Di mana kecenderungan sumber belajar dalam dunia TIK lebih banyak dikaitkan dengan maslaah perangkat teknologi komputer. Jadi jika berbicara tentang teknologi informasi maupun teknologi komputer, AS dikenal sebagai negara yang sarat teknologi tinggi. Namun, pelaku-pelaku utama bidang teknologi informasi dan komputer sebagian besar berasal dari negara-negara di kawasan Asia, seperti India, Cina, Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan lainnya, yang memang memiliki dasar pendidikan yang kuat. Misalnya, orang-orang India yang dikenal di bidang hitung-hitungan uang dan pengembangan perangkat lunaknya. Kemudian orang Cina yang jago menduplikasi semua teknologi yang ada, sama seperti orang Jepang di era tahun 1970-an.

Kelihatannya, pengaruh pendidikan dasar dan menengah sangat dominan untuk kemajuan suatu bangsa. Itulah yang menentukan jalannya perputaran orang-orang pintar dan berpengaruh di dunia teknologi informasi, khususnya di kawasan Asia. Kepandaian bangsa Asia dalam mengimplementasikan teknologi terlihat sangat mencolok. Dimulai dari kebangkitan bangsa Jepang yang mulai meniru perangkat atau mesin-mesin apa saja yang ada di dunia, yang saat itu dikuasai oleh negara-negara Barat. Diikuti Taiwan yang sangat piawai dalam dunia teknologi komputer, terutama setelah Apple II diperkenalkan oleh duet Steve Wozniak dan Steve Jobs. Kemudian diikuti Korea yang mencontoh dan modifikasi dengan menyesuaikan diri pada kondisi di Korea. Dan, terakhir raksasa besar yang baru bangun dari tidurnya, Republik Rakyat Cina.

Kalau kita perhatikan seluruh daratan Asia, terlihat kalau dominasi teknologi komputer dan informasi dikuasai oleh empat besar saja, Cina, Taiwan, Singapura, dan Korea. Sementara Jepang berkutat di produksi barang-barang elektronik umumnya, walaupun ada banyak perusahaan yang punya spesialisasi dalam teknologi informasi seperti Toshiba, Fujitsu, NEC, dan lainnya. Sedangkan India sangat kuat di pengembangan perangkat lunak dan sistem.

Kenapa empat besar negara tersebut bisa maju teknologi informasinya, sedang Indonesia tetap saja jalan di tempat? Jawabannya bisa banyak dan cukup panjang, tetapi sudah jelas satu hal yang harus diperhatikan, yaitu besarnya dukungan pemerintah terhadap industri tersebut.

Di Taiwan, misalnya, pemerintahnya memberikan dukungan kepada pengusaha pembuat perangkat keras komputer dengan membentuk satu lembaga khusus yang mengembangkan perangkat lunak agar bisa mengendalikan perangkat kerasnya. Sehingga para pengusaha sudah tidak perlu pusing untuk mendapatkan kelengkapan produksinya. Pemerintah melalui lembaga tersebut, menjual produknya dengan harga sangat murah, sekitar 50 sen dollar NT untuk satu lisensi software, di mana pihak pabrik dapat membelinya dengan tambahan logo maupun nama perusahaan di dalam tampilannya, sehingga kelihatan identitas perusahaan tersebut. Melihat peluang berbeda dengan Taiwan, kemajuan Cina sebetulnya merupakan kelanjutan kemajuan Hongkong dan Taiwan yang memang berhubungan sangat erat dengan yang sering disebut sebagai Mainland China. Sebagian besar pemain di Hongkong atau Taiwan berasal dari daratan Cina. Dengan terbukanya Cina, maka para investor yang juga keturunan Cina, berbondong-bondong untuk kembali ke negara asalnya, membangun sistem dan berusaha dengan dukungan pemerintahnya.

Singapura mempunyai sifat yang agak spesifik, karena mereka memang tidak mempunyai alternatif lain untuk bisa hidup menghadapi negara-negara sekelilingnya, yang kebanyakan kaya akan hasil bumi. Dengan memusatkan perhatian pada kemajuan teknologi informasi, Singapura mendudukkan dirinya menjadi teratas di lingkungan Asia Tenggara. Sebetulnya kalau kita perhatikan, kelebihan Singapura dalam dunia teknologi informasi hanya pada dua hal, infrastruktur yang baik dan lokasinya yang cukup strategis.

Kemajuan Singapura juga ditunjang penuh oleh negara-negara besar seperti Malaysia dan Indonesia. Karena dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit dan pangsa pasar yang kecil, agak aneh melihat Singapura merupakan pemimpin teknologi informasi di kawasan Asia Tenggara.

Semenanjung Korea yang belum lama reda dari konflik perang saudara yang berkepanjangan, melihat Korsel yang menggeliat dengan memperkuat posisinya sebagai negara di Asia yang paling responsif terhadap Internet dan permainan (games) di komputer. Setelah morat-marit untuk berusaha mengejar kemampuan Jepang, dengan berbagai inovasi di bidang elektronik, akhirnya Korea Selatan mempunyai diferensiasi sendiri terhadap negara-negara di Asia.

Lautan warnet (Warung Internet) dengan perangkat yang mewah, menggunakan monitor 17 dan 21 inchi, memanfaatkan kabel sebagai sarana penyambungannya, ditambah dengan bandwidth sampai 8 Mbps, menjadikan Korea Selatan sebagai surga untuk akses Internet dan main komputer. Sayangnya, karakter mereka berbeda dengan kita, sehingga untuk adaptasinya diperlukan waktu yang cukup lama.

Kehebatan macan Asia tersebut adalah kemampuan melihat peluang yang ada, kemampuan untuk memasarkan produknya ke berbagai negara, dan sudah tentu kemampuan untuk melakukan riset tambahan khusus untuk menjual produknya lebih banyak dan murah. Kalau kita bandingkan dengan produk buatan AS, produk dari empat macan Asia ini sangat kompetitif sekali. Sebuah, router yang bermerk sangat terkenal dari AS, bisa dijual oleh sebuah produsen di Cina hanya senilai 40 persen dari harganya. Tentu dengan kemampuan dan kualitas yang setara. Komputer rakitan yang disebut juga Komputer Generik, bisa dijual 20 persen lebih murah dari yang ada mereknya. Walaupun pada kenyataan, hampir semua komputer bermerek di dunia, dibuat dan dikembangkan di empat negara tersebut.

Pengalaman berbisnis dengan mitra di antara ke empat negara ini membuktikan, kita betul-betul harus angkat topi akan usaha yang sudah mereka lakukan, sehingga dapat membuat barang dengan jumlah banyak, memangkas dana untuk promosi agar dapat dijual dengan harga lebih murah dan mutu yang memadai. Barang murah belum tentu barang jelek, apalagi kalau berkaitan dengan perangkat teknologi tinggi, seperti komputer atau perlengkapannya. Karena, perangkat elektronik secara generik mempunyai spesifikasi yang nyaris sama dengan perbedaan pada rancangan teknis, kemasan, iklan, dan dukungan teknisnya. Walaupun teknologi komputer dan telekomunikasi kebanyakan berasal dari AS dan Eropa, negara-negara di Asia condong mementingkan daya beli pemakainya. Kenyataan yang tidak bisa diperdebatkan adalah komputer PC, di mana IBM PC yang mencetuskan ide dan sekaligus merancang sistem komputer yang dikenal sekarang ini. Tetapi, kalau kita lihat, saat ini pemain utama perangkat komputer PC yang berasal dari teknologi yang dikembangkan IBM, sekarang dikuasai oleh Taiwan, Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Kenapa bisa terjadi hal ini? Sebagian besar disebabkan oleh cara kerja orang Asia yang relatif lebih mementingkan unjuk kerja ketimbang show-off, menampilkan hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Perangkat yang diberi merek terkenal, harganya akan relatif lebih mahal karena butuh biaya untuk beriklan, untuk layanan purna jual, dan untuk penelitian dan pengembangan sistemnya. Katakan satu set komputer IBM, selisih harganya 20-30 persen lebih mahal ketimbang buatan Taiwan dan bahkan dengan unjuk kerja yang mungkin lebih rendah ketimbang bikinan Taiwan. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, ditambah penelitian dan pengembangan yang didukung pemerintahnya, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan tidak kalah dalam pengembangan sistemnya. Bahkan ada kecenderungan perusahaan-perusahaan komputer besar meminta negara macan Asia tersebut untuk membantu pembuatannya, agar biayanya bisa ditekan dengan kualitas yang tetap prima.

Setelah dikalahkan oleh produsen komputer Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan, orang AS masih belum kapok dengan apa yang terjadi. Dan, sejarah berulang kembali dalam teknologi perangkat jaringan seperti switch, router, teknologi nirkabel, dan modem. Semua perangkat untuk keperluan jaringan komputer di standarisasi dan dikembangkan oleh AS, tetapi sebagian besar di produksi dan dipasarkan oleh negara-negara maju di Asia. Penyebab utamanya adalah harga yang relatif lebih terjangkau dengan mutu yang setara dengan produk atau rancangan AS. Apalagi, chip-set atau komponen yang dipakai adalah komponen standar dan dibuat dalam skala besar sehingga harganya menjadi murah.

Cisco yang terkenal dengan router model 766, harus berupaya keras melawan Zyxel Prestige 100 dalam kelas Personal ISDN Routers dengan selisih harga 40 persen serta perbedaan kinerja hanya 17 persen (lihat test perbandingan Personal ISDN Routers pada http://www. zdnet.com/pcmag/features/pisdn/decaf001a.html). Bagi perusahaan besar, pemakaian perangkat dengan merek internasional dan terkenal rasanya bukan merupakan masalah. Tetapi, bagi perusahaan yang baru berkembang dan banyak mendorong kegiatan para pengusaha berskala Small Medium Enterprise, selisih 40 persen merupakan sebuah penghematan yang sangat berarti.

Harga murah memang bukan satu-satunya alasan untuk bisa diterima oleh masyarakat luas. Karena kualitas, purna jual, dan strategi teknis juga merupakan hal yang harus diperhatikan oleh banyak produsen perangkat teknologi tinggi tersebut. Konsep ini sudah dibuktikan oleh banyak perusahaan teknologi informasi dan komputer di Asia, seperti FIC, Asus, Gigabyte, Compex, Dlink, Zyxel, Planet, dan ratusan lain yang dapat bertahan dan bersaing dengan negara pembuatnya, seperti AS dan Eropa.

Masih berantakan

Indonesia sendiri? Arah untuk memproduksi perangkat teknologi tinggi memang sudah terlihat sejak tahun 1990-an. Saat itu sudah ada pebisnis di Indonesia yang mencoba untuk merakit monitor, sampai akhirnya banyak yang mencoba membuat casing komputer, keyboard, mouse, dan kartu-kartu tambahan seperti kartu suara, kartu VGA, dan lainnya. Namun, upaya ini akhirnya rontok satu per satu karena tidak memenuhi skala ekonomi yang memadai. Kemampuan untuk membuat, merancang, dan mengembangkan teknologi perangkat komputer sebetulnya tidak kalah dengan negara mana pun. Kita cuma kalah karena tidak mempunyai infrastruktur yang baik, peraturan pemerintah yang jelas, dan tim pemasaran yang tangguh.

Infrastruktur kita masih berantakan. Mencari tanah industri saja, mesti menyesuaikan dengan berbagai kendala, seperti tersedianya listrik, telepon, dan jalan yang memadai. Peraturan pemerintah (pusat maupun daerah) sering berubah dan ini sangat menghambat jalannya produksi dan kegiatan harian yang akhirnya menyulitkan kita untuk mengambil keputusan. Ini terutama terkait untuk menentukan harga jual, pengusaha bisa merugi hanya karena harus mengeluarkan dana tambahan yang belum dihitung sebelumnya.

Tim pemasaran juga merupakan tulang punggung kesuksesan penjualan suatu produk. Selain itu, banyak pebisnis kita yang tidak menguasai bahasa Mandarin yang merupakan kunci untuk bisa berbisnis di kawasan Asia. Sehingga, kembali kita harus menelan kekalahan dalam penjualan hanya karena tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Jadi, ke mana kita harus berjalan? Pangsa pasar yang paling besar justru ada di dalam negeri sendiri dan digerogoti oleh pemain-pemain dari luar negeri. Jawabannya ada di tangan kita semua, berusaha dengan lebih keras dan menggandeng pemerintah untuk maju bersama.

V. Kesimpulan

Sumber belajar yang diperuntukan dalam mempelajari, dan mengajarkan tentang TIK pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi sumber belajar dalam bentuk lingkungan, manusia atau orang, bahan dan alat serta prosedur dan teknik. Namun demikian tidak selamanya hal itu terlepas sendiri=sendiri, namun adakalanya dalam proses pembelajaran semua bisa saja terintegarasi dan disampaikan dalam sebuah pembelajaran sehingga menjadi satu kesatuan sumber belajar TIK. Masalahnya hal ini akan tergantung kepada kreativitas dan kemampuan berpikir Teknologinya yang harus selalu siap berubah setiao saat.

VI. Penutup

Pada dasarnya tidak satupun sumber belajar yang bisa mandiri walaupun itu dengan bantuan Teknologi Secangggih apapun, namun semuanya justru akan tergantu kepada kreativitas, berpikir teknologi dan mampu mengemas dan meproduksi serta memanfaatan sumber belajar secara selektif. Itulah yang menjadi bekal dalam menemukan sumber-sumber belajar untuk bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi.

VII. Rujukan

Abdul Rahim Selamat & Ismail Hj. Adnan (1990). Pusat Sumber Pendidikan

Deni Darmawan, 2007, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Bandung: Arum

Mandiri Press.

Faridah Abdul Manaff & T. Subahan Mohd. Meerah (1993). Strategi Pusat

Sumber Dalam Pendidikan. Penerbit Fajar Bakti Sdn. Bhd., Kuala

Lumpur.
Halimah Badioze Zaman (1993). Pusat Sumber Sekolah Perancangan dan

Rekabentuk. Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi.

Michael S Sunggiardi Managing Director PT BoNet Utama, Bogor

Posted by: denidarma | November 22, 2008

IDENTIFIKASI SUMBER BELAJAR TIK

IDENTIFIKASI SUMBER BELAJAR TIK

Pengantar

Sumber-sumber belajar tidak hanya berbentuk buku semata. Ia bisa berupa alam yang ada di seputar lingkungan sekolah seperti sungai, kebun, pabrik, peternakan, sawah, sumur, bangunan sejarah, dsb. Ia bisa juga berbentuk jasa orang-orang/masyarakat seperti: orang tua murid, anggota organisasi kepemudaan, anggota PKK di desa/kecamatan, dokter/bidan di puskesmas, tokoh pendidikan, tokoh agama dan masyarakat/individu yang tinggal di lingkungan satuan pendidikan. Selain jasa individu/masyarakat, lembaga yang dimiliki oleh individu maupun masyarakat pun bisa dijadikan sumber belajar yang dapat membantu peningkatan kualitas belajar mengajar di satuan pendidikan. Contoh institusi/lembaga berikut dapat dijadikan acuan, yaitu: organisasi pemuda masjid, karang taruna, kelompok kesenian, kelompok PKK, industri, pabrik, polres/polsek, puskesmas, dsb.

Mengapa kita perlu mengidentifikasi sumber-sumber belajar? Tak lain jawabannya adalah untuk meningkatkan kualitas belajar mengajar murid dan guru. Selain itu identifikasi sumber belajar diperlukan apabila sekolah ingin menyajikan pembelajaran bagi murid-murid dengan lebih variatif dan sesuai dengan konteks yang ada di lingkungan sekolah. Pengalaman menunjukkan bahwa motivasi murid dan guru lebih meningkat dalam belajar ketika proses pembelajaran itu tidak selalu dibatasi oleh tembok-tembok ruang kelas. Untuk itulah baik unsur sekolah maupun masyarakat, melalui wakil-wakilnya di Komite Sekolah, perlu mengidentifikasi sumber-sumber belajar yang ada di lingkungan sekolahnya guna membantu guru dan murid memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lingkungan sekolah.

Tujuan

1. Peserta memahami pentingnya sumber belajar untuk meningkatkan kualitas belajar murid.

2. Peserta mampu mengidentifikasi sumber-sumber belajar yang ada di lingkungan sekolah.

3. Peserta mampu memanfaatkan berbagai sumber-sumber belajar di lingkungan sekolah dalam mendukung kegiatan-kegiatan belajar & mengajar baik di kelas maupun di luar kelas

Waktu

180 menit

Peserta

Guru dan Komite Sekolah

Penataan Ruang

Ruang sebaiknya diatur pada awalnya berbentuk U setelah itu berubah sesuai kebutuhan

Alat dan Bahan

1. Plano,

2. Papan Tulis

3. Spidol besar dan spidol sedang

4. Lakban kertas

5. Metaplan warna warni


2. Fasilitator mengajak peserta untuk memetakan sumber-sumber belajar.

Peserta diminta untuk menuliskan pendapatnya pada meta plan tentang:

Selain buku, sumber-sumber belajar apa saja yang ada di lingkungan sekolah? Jawaban peserta dipetakan di atas kertas plano.

Mengajak peserta melakukan latihan pemetaan

Bagi peserta dalam kelompok (5 orang / kelompok / sekolah)

Minta masing-masing kelompok memilih salah satu sumber belajar yang telah dipetakan sebagai objek latihan pemetaan bagi peserta.

Pajangkan contoh pemetaan sumber belajar yang telah dipersiapkan. (lihat lampiran)

3. Identifikasi sumber-sumber belajar & pemanfaatannya.

· Minta peserta kelompok untuk mendiskusikan jenis-jenis sumber belajar dan pemanfaatannya di sekolah.

· Pakai daftar yang mereka susun sebelumnya untuk membantu mereka bekerja.

· Mintalah masing-masing kelompok untuk memajangkan hasil kerjanya untuk mendapatkan masukan dari kelompok lain (Berbelanja)

Daftar Sumber-sumber Belajar & Pemanfaatannya (Contoh)

Sumber belajar

Jenis-jenis Pemanfaatan

1. Lingkungan

§ Sungai

§ Laut

§ Hutan

§ Peternakan

§ Kebun Masyarakat

2. Sumber daya manusia

· Orang tua/wali

§ Tukang kayu

§ Anggota Karang taruna

§ Masyarakat Bisnis

§ Tokoh Agama

§ Tokoh Pendidikan

§ Anggota Kelompok Seni/Olah Raga

§ Dsb.

3. Lembaga

§ Tempat ibadah

§ Pasar/Swalayan

§ Organisasi Profesional

§ Industri

§ Organisasi Pemuda/O. Raga

§ Karang Taruna

§ LSM lokal/Asing

§ Dsb.

4. Mencocokan sumber-sumber yang potensi untuk dikaitkan dengan kurikulum pada setiap kelas dan mata pelajaran (30’)

Peserta berdiskusi dalam kelompok sekolah masing-masing untuk memilih sumber-sumber belajar apa saja yang dapat dimanfaatkan bagi sekolah dan memajang hasilnya untuk dipresentasikan pada kelompok lain.

Potensi Pemanfaatan Orang/Tempat Sebagai Sumber Belajar (Contoh)

Tempat/Orang

Potensi pemanfaatan

Keterangan

Tukang kayu

Pelajaran matematika kelas V (mengukur)

Bisa dilakukan di tempat kerja tukang kayu

Kebun Singkong

Pelajaran Biologi kelas 4 (mengenal jenis-jenis serangga)

Siswa diajak untuk mengumpulkan dan mengidentifikasi serangga

Wartawan

Pelajaran Bahasa Indonesia kelas 5 (mengenal bentuk-bentuk paragraf)

Wartawan diundang untuk berdiskusi dengan siswa

Berikut adalah ilustrasi bagaimana transfer data dapat dilakukan dengan melalui sistem program inherent ini dilakukan. Dalam inherent ini bisa digunakan beberapa tools yang bisa mendukung proses transfer data atau informasi sebagaimana yang terlihat pada ilustrasi di bawah.

Mobile Learning (M-Learning)

Selain In-Herent yang dikembangkan pada pendidikan tinggi, dewasa ini juga telah dikenalkan dan mulai disosialisasikan apa yang disebut dengan mobile learning.

1. Latar Belakang

Ada beberapa kondisi nyata, kendala, pemikiran inovasi dan berbagai terobosan nyata yang bisa dikembangkan oleh praktisi pendidikan dan teknolog dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi serta kemudahan-kemudahan dalam melakukan komunikasi dewasa ini dengan melalui hand phone, ternyata telah menjadi landasan yang kuat sehingga revolusi pembelajaran memungkinkan untuk dilakukan. Berikut adalah bebrapa kondisi nyata yang berhubungan dengan perkembangan alat komunikasi handphone yang menjadi landasan latar belakang operasional kemunculan mobile learning, yaitu:

Penetrasi perangkat mobile sangat cepat

Lebih banyak daripada PC

Lebih mudah dioperasikan daripada PC

Perangkat mobile dapat dipakai sebagai media belajar.

2. Why M-Learning?

Salah satu alternatif bahwa layanan pembelajaran harus dilaksanakan dimanapun dan kapanpun, maka pemikiran dalam mengembangkan mobile learning ini sangat didasari oleh alasan-alasan pokok, khususnya karena:

Dapat digunakan kapan-pun di mana-pun. (Online/offline)

Cakupan Luas, dapat menggunakan jaringan seluler komersial (GSM,GPRS,CDMA) tanpa harus membangun sendiri. Jaringan
tersedia di mana-mana.

Integrasi dengan sistem yang ada khususnya mampu:

integrasi dengan e-learning

– integrasi dengan sistem penyelenggaraan pendidikan (Sistem

Informasi Akademik)

– integrasi dengan sistem lainnya misalnya, Instan messaging.

3. Klasifikasi M-Learning

Untuk mampu memanfaatkan keberadaan mobile learning ini, maka kita perlu memahami atau mengenal klasifikasinya dengan benar. Berikut adalah klasifikasi M-Learning, yaitu berdasarkan:

Jenis perangkat yang digunakan

Teknologi komunikasi Nirkabel yang digunakan

Tipe Informasi yang dapat diakses

Tipe pengaksesan(online/offline)

Lokasi

Tipe komunikasi

Dukungan standar e-learning

M-Learning pada dasarnya ada dalam versi ofline dan online. Versi ofline ini dapat dilakukan dan dimulasi hanya dengan melakukan satu kali install, tdak terkoneksi server (stand alone), Hanya menginstal engine, Dapat di-update dengan mengkoneksikan ke server, Dapat berinteraksi dengan pembelajar atau pengajar (diskusi/tanya jawab). Sebagai salah satu contoh hasil aksesnya, yaitu: Contoh: Modul Jaringan 2 PC dengan UTP Cross. www.getjar.com/products/6485/jarkomcross.

Sedangkan versi Online ini memiliki karakteristik dalam memulai pembelajarannya dengan cara : a) Hanya menginstal engine; b) Dapat di-update dengan mengkoneksikan ke server; c) Dapat berinteraksi dengan pembelajar atau pengajar (diskusi/tanya jawab).

Ada banyak prototipe yang dikembangkan dalam mendukung mobile learning ini, diantaranya adalah Prototipe Ganesa Mobile Learning (GML).

Melalui prototipe di atas maka pembelajaran secara mobile dapat secara lebih dikembangkan dan mampu menyentuh serta melibatkan pikiran dan aktivitas belajar individu di mana saja dan kapan saja. Berikut adalah salah satu ilustrasi yang menunjukkan sebuah fitur bagaimana Mobile Learning terjadi.

Dari vitur mobile learning di atas bagaimana siswa memiliki kesempatan untuk menerima informasi pembelajaran dari gurunya yang telah menyiapkan beberapa paket pelajaran, mulai dari informasi pelajaran secara umum hingga sistem atau prosedur evaluasi yang bisa diberikan kepada siswa. Semuanya itu tentunya melibatkan sistem organisasi secara online juga khususnya hal ini bisa dilakukan oleh seorang administrator, yang harus mengorganisasi mengenai log in dalam menu Register Tool, Management Tools, dan Course Management Tools.

Sistem penyelenggaraan hingga pembelajaran secara mobile ini bisa dikembangkan jika sebelumnya tentunya tekah dipersiapkan dan dirancang sedemikian rupa. Pada tahap inilah maka sebuah arsitektur untuk sebuah sistem mobile learning harus disiapkan. Sebagaimana yang diilustrasikan pada bab 10 sebelumnya berikut sebuah arsitektur fisik yang secara sederhana bisa memberikan penjelasan visual sebuah mobile learning.

Dari arsitektur fisik di atas maka Client dalam hal ini peserta pembelajar dapat melakukan koneksi melalui vitur internet over GPRS yang terdapat dalam menu-menu Hand phone yang dimilikinya. Client ini akan tersambung dengan provider, di mana provider ini telah memiliki beberapa bahan pembelajaran yang siap diakses. Bisa akses tidak seorang client pada provider tiada lain karena dikenali sebelumnya oleh Admin, melalui login yang telah terdaftar sebelumnya. Provider M-learning telah pula memiliki koneksi dengan jaringan internet ke sumber belajar Online Resources.

Posted by: denidarma | November 22, 2008

Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT

Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT

Oleh: Deni Darmawan[1]


[1] Penulis adalah Lulusan SPGN 1 Bandung angkatan Terakhir 1991

Perubahan Ke Arah Positif

Perubahan kadang bisa merubah budaya yang ada, baik secara sadar maupun tidak sadar. Jika kita telaah biasanya perubahan ke arah yang positif seakan berat dirasakan apalagi untuk merubah kondisi yang ada sebelumnya, sebaliknya perubahan ke arah yang negatif kadang tak terasa dan dengan mudah cepat merubah kondisi yang ada menjadi lebih parah. Inilah yang kadang menjadi penyakit bagi kemajuan suatu bangsa, golongan dan bahkan individu tertentu. Jika ini dibiarkan maka akan tercipta suatu budaya yang memang demikian, sehingga bangsa ini dalam berbagai bidang pembangunan akan sulit untuk berhasil terlebih dalam bidang pendidikan yang terus dituntut untuk selalu mampu memberikan layanan bagi generasi bangsa ini secara inovatif.

Namun demikian kita yakin bahwa secara jujur kegagalan dan ketertinggalan yang sekarang kita alami diasumsikan karena adanya indikasi bahwa budaya kegagalan yang seharusnya hanya sebagai guyonan di atas justru masih kita menganutnya dan tumbuh secara mendarah daging pada diri kita. Untuk mengikisnya atau menggeser budaya tersebut memang akan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun kita yakin dengan bergulirnya waktu tentunya semua pihak terus bergerak mencari solusi pemecahan agar budaya yang tumbuh adalah budaya yang justru kita inginkan bersama. Inilah yang selama ini telah dilakukan dalam proses pembangunan di bidang pendidikan. Dalam prakteknya ini merupakan tanggung jawab bersama baik secara kelompok bahkan institusi, mulai dari level atau jenjang paling bawah hingga level pengambil kebijakan.

Sebagaimana yang telah dicoba oleh Dirjen PMPTK (Penjamin Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan) yang telah bekerjasama dengan Seamolec sebagai fasilitator terbentuknya konsorsium pertama yang beranggotakan 10 universitas di Indonesia, termasuk di alamnya adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Hingga sekarang usia konsorsium pelaksana penyelenggaraan program sertifikasi dan peningkatan kualitas lulusan tenaga pendidik di level pendidikan dasar ini sudah berusia 2 tahun. Program layanan sertifikasi dan peningkatan kualifikasi tenaga pendidikan untuk level pendidikan dasar yang telah dilakukan oleh UPI yaitu dalam bentuk layanan perkuliahan melalui adopsi sistem dan teknologi pembelajaran jarak jauh yang dikenal dengan PJJ online. Karena yang menjadi saran adalah guru-guru SD di Kab/Kota yang belum S1 maka program ini biasa disebut dengan Program PJJ Online PGSD S1.

Hingga sekarang jumlah mahasiswa program ini telah mencapai 300 orang yang terbagi ke dalam dua angkatan yaitu anggkatan 2006/07 dan 2007/08. Jumlah mahasiswa ini tersebar dalam 8 Kab/Kota yaitu: Kab Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis, Kab. Sumedang, Kab. Bandung, Kota Bandung, Kab. Cianjur dan Kab. Sukabumi. Pada usia yang ke-2 tahun ini maka maka setidaknya sudah pantas untuk dievaluasi secara internal maupun eksternal. Tegasnya bahwa sebelum dievaluasi oleh orang lain maka sudah selayaknya kita terlebih dulu mengevaluasi diri sendiri. Sudahkan UPI sebagai anggota konsorsium yang memiliki tugas sebagai pelaksana atau penyelenggara sistem pembinaan dan perkuliahan bagi para pendidik di daerah telah berhasil mewujudkan budaya perubahan ke arah yang positif secara lebih cepat atau perubahan tersebut memang masih belum terwujud. Secara kelembagaan tentunya UPI yang didukung SDM dengan kompetensi yang memadai tidak ingin hal ini menjadi suatu kegagalan ditengah jalan. Namun untuk mewujudkan keberhasilan ini perlu dukungan kebersamaan dan kesadaran semua pihak khususnya individu guru-guru sekolah dasar itu sendiri yang menjadi mahasiswanya.

Budaya ICT Guru

Melalui proses perkuliahan yang dikembangkan sedemikian rupa, mulai dari pembekalan keterampilan dasar Ict yang sangat mendadak dan waktu yang sangat pendek memang menjadi tantangan bagi para pengelola demikian juga bagi mahasiswa yang mayoritas adalah guru sekolah dasar dari 8 Kab/Kota yang berusia rata-rata di atas 40 tahun dapat dikatakan sebagai suatu pemutarbalikan era teknologi informasi dan komunikasi di tahun 80-an. Pada rentang tahun itulah rata-rata guru yang harus menempuh perkuliahan dengan sistem PJJ Online sekarang ini memiliki masa-masa tingkat kecepatan dan ketajaman berpikir dan menangkap sesuatu yang baru dengan cepat, dan berbeda 180 derajat jika hal itu dirasakan sekarang.

Terlebih masalah budaya dan sudah menjadi kebiasaan rutin setiap hari yang sangat sulit untuk dirubah dengan segera, dan ini ternyata menjadi tantangan khusus bagi para dosen dan pengelola program PJJ S1 PGSD Online ini. Boleh dikatakan budaya ICT dimungkinkan hanya sekitar 0,2% dari 300 guru yang menjadi mahasiswa ini bahkan sekitar 65% guru belum pernah mengetik dengan komputer sekalipun apalagi mengenal dunia internet. Namun melalui 2-3 kali pembekalan khusus keterampilan komputer pengolah kata, pengolah angka, dan keterampilan dasar internet, mulai dari pendaftaran e-mail address yang dilakukan tim dosen selama proses resindesial, akhirnya keterbukaan wawasan dan cakrawala guru terhadap dunia ICT sudah mulai terbuka. Satu persatu mereka mampu menunjukkan keterampilan yang diharapkan.

Penguasaan keterampilan internet ini merupakan harga mati dan ini boleh dikatakan sebuah suatu tantangan tersendiri bagi seluruh mahasiswa PJJ S1 PGSD Online UPI ini. Tantangan tersebut ternyata bisa dipecahkan melalui perubahan kebiasaan atau budaya sebelumnya, hari-demi hari dan minggu demi minggu bapak dan ibu guru dari daerah ini mulai terbiasa mengunjungi warnet-warnet dan ICT Center yang berada di Kab/Kota masing-masing untuk melayani mahasiswa agar bida melakukan akses internet demi jalannya proses perkuliahan secara online.

Hingga pada tahun kedua ini ternyata budaya akses internet hingga tingkat kepemilikan sebuah flash disk mulai tumbuh dengan pesat di kalangan mahasiswa PJJ ini. Dalam pertemuan atau Tutor kunjung yang sudah beberapa kali dilakukan oleh dosen dan para pengelola maka melalui analisa kompetensi mahasiswa dalam penguasaan bidang ICT ini boleh dikatakan sudah lebih baik, dan dapat dikatakan Budaya ICT sudah dimiliki oleh mahasiswa PJJ ini. Indikator mulai tumbuhnya budaya ICT dikalangan guru-guru pilihan ini misalnya dapat dipancing melalui obrolan ringan dan lugu di mana beberapa guru yang sudah berusia sekitar 50 tahunan menanyakan pengalamannya melakukan hosting dan Browshing, atau chatting, di mana istilah-istilah ini biasa kita dengar dikalangan mahasiswa reguler usia 16-27 tahun. Ketika mengedengar kata-kata itu dari guruyang menjadi mahasiswa PJJ S1 PBSD Online tadi maka mendengarnya mungkin cukup unik tapi membanggakan. Ternyata diusia senja guru-guru Sekolah Dasar dari 8 Kab/Kota ini mampu bersaing dalam penguasaan ICT dengan komunitas lainnya yang barangkali lebih muda usia dan jam terbangnya. Setidaknya dari best Practice ini maka guru-guru tersebut akan mampu membangun suatu budaya baru dalam profesinya, bukan hanya untuk kepentingan perkuliahan saja, akan tetapi dalam menunaikan tugas-tugas kesehariannya sebagai guru di sekolah dasar diharapkan mampu menerapkannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolahnya masing-masing.

Kebiasaan-kebiasaan baru inilah dapat diyakini bahwa budaya baru yaitu ”Budaya ICT” di kalangan guru sekolah dasar akan terbangun. Jika budaya sudah terbangun maka karakter individu gurupun akan terbentuk dengan sendirinya. Maka inilah yang diharapkan oleh semua pihak.

Lebih Unggul dari Provinsi Lain

Jika boleh penulis bandingkan kecepatan dalam merubah dan membangun budaya ICT di kalangan mahasiswa PJJ S1 PGSD Online UPI yang 100% adalah guru-guru SD dengan usia lanjut ini ternyata lebih unggul daripada mahasiswa dari provinsi lain yang diselenggarakan oleh 9 Universitas pada keanggotaan konsorsium awal. Hal ini sebagaimana telah disampaikan dalam Acara Vicon (Video Conference) di Kampus Institut Teknologi Bandung (Jum’at 26 April 2007) telah dilakukan bersama Dirjen PMPTK dan Pengelola PJJ S1 PGSD Online Tingkat Nasional yaitu perwakilan Seamolec untuk Indonesia dalam hal ini adalah Universitas Terbuka dan Pustekom.

Jika penulis simak dari diskusi selama Vicon tersebut berlangsung dapat ditarik kesimpulan bahwa di dunia, Indonesia dianggap sebagai negara yang terbesar dalam penggunaan Teknologi Informasi dalam bidang pendidikan, sebagaimana contohnya untuk meningkatkan kompetensi guru SD maka dalam jangka 10 tahun akan dicetak 2,3 juta guru yang harus menguasai ICT dengan baik. Dengan melalui sistem Tutorial Online maka layanan akses pembelajaran jarak jauh oleh total anggota konsorsium penyelenggaran PJJ PGSD S1 online yang sudah berjumlah 23 Universitas ini akan mampu mewujudkan target tersebut.

Khusus untuk UPI maka untuk tahun kedua ini akan segera melakukan proses MoU dengan ICT Center di masing-masing Kab/Kota yang selama ini telah menjalin kerjasama proses perkuliahan untuk mahasiswa angkatan pertama (tahun pelajaran 2006/07) dan Angkatan ke-2 (tahun pelajaran 2007/08). Adapun ICT center tersebut diantaranya adalah Ict Center Kab. Garut beralamat di SMK 2 Tarogong yang sudah berstandar Internasional, ICT Center Sumedang beralamat di SMK PGRI, ICT Center Kota Bandung dan Kab. Bandung yang beralamat di SMK 4 Kota Bandung, ICT Center Kab. Sukabumi beralamat di Yayasan Tarbiyah Islamiah (YASTI), dan ICT Center Kab. Cianjur yang beralamat di SMK1 Cianjur.

Dengan demikian UPI sebagai Universitas Pendidikan yang diberi tugas dalam membangun kualitas guru sekolah dasar melalui penyelengaraan PJJ PGSD S1 Online yang bekerjasama dengan ICT Center Kab/Kota ini akan mampu menuntaskannya dengan baik. Sehingga perwujudan Karakter Guru SD yang menguasai bidang ICT bisa tercapai pula dengan cepat. Pada Akhirnya budaya ICT akan tumbuh sebagai budaya baru para guru sekolah dasar yang mampu mempercepat perubahan-perubahan positif lainnya, khususnya di lingkungan sekolahnya masing-masing. ***

Posted by: denidarma | November 22, 2008

PEMBACAAN PIKIRAN MANUSIA

PEMBACAAN PIKIRAN MANUSIA

Oleh: Dr. Deni Darmawan, S.Pd., M.Si.

Pada halaman 27 Kolom.1 Pikiran Rakyat Terbitan hari Kamis, 5 Juni 2008, disitu disajikan sebuah informasi pengetahuan “ Tahukah anda?, yaitu tentang “ Komputer Pembaca Pikiran Manusia”. Setelah membacanya penulis sangat tertarik, dimana ke depan akan tercipta sebuah komputer yang mampu membaca pola pikiran manusia, tentunya ini sangat membantu jika komputer tersebut bisa diciptakan. Khususnya bagian calon sang penciptakomputer pembaca pikiran manusia tersebut yaitu Tom Mitchell sebagaimana diuraikan pada kolom tersebut. Barangkali penulis ingin berbagi sedikit pengalaman mengenai hasil penelitian yang barangkali sedikit mendekati dengan apa yang dilakukan oleh Tom Mitchell.

Jika melihat gambar yang disajikan dalam kolom Cakrawala tersebut, dimana sejumlah elektroda atau semacamnya yang memenuhi semua permukaan kepala hingga ke muka seseorang, maka hal itu mengingatkan kembali kepada pengalaman penelitian yang pernah penulis lakukan. Pengalaman yang pernah penulis lakukan terfokus dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, waktu itu penulis memperoleh dukungan dari berbagai pakar bidang komunikasi (Prof. Dr. H. Santoso S. Hamidjojo, M.Sc.,P.hD, Prof. Dr. Hj. Nina W.Syam, Prof. H. Deddy Mulyana, MA.,P.hD ), pakar kedokteran (Prof. Dr. H.M. Nurhalim Shahib, Biomol., BioChem), pakar neurologi (dr. Siti Aminah dan dkk.), bedah syaraf dan otak (Prof. Kahdar), pakar psikologi (Prof. Dr. H. Kusdwiratri Setiono, M.Psi dan Prof. Dr. Mar’at, M.Psi), Pakar Biologi (Prof.Dr.Hj. Yetty) semuanya beliau-beliau berasal dari Pascasarjana Unpad dan pakar teknologi pendidikan (Prof. Dr. H. Ishak Abdulhak, M.PD) dari Universitas Pendidikan Indonesia. Adapun penelitian penulis waktu itu, ingin membuktikan tentang gejala perilaku psikologi yang nampak berdasarkan analisa perilaku manusia secara biologis. Di mana temuannya penulis nyatakan sebagai perilaku Biologi Komunikasi.

Adapun perilaku-perilaku atau aktivitas-aktivitas individu yang direkam dan dianalisa selama eksperimen laboratorium saat itu adalah aktivitas belajar mulai dari melihat, merasa, memahami dan kecenderungan bertindak khususnya yang mampu mendukung akselerasi belajar peserta didik. Analisa dan pembuktian dilakukan melalui perekaman terhadap aktivitas bagian spesifik otak yang mencakup Frontal, Parietal, Temporal, dan Occipital ketika peserta didik melakukan keempat aktivitas belajar tadi (melihat, merasa, memahami dan kecenderungan bertindak). Adapun prosesnya terlihat barangkali mirip dengan apa yang dilakukan oleh Tom Mitchell sebagaimana penulis bisa perlihatkan pada gambar di samping atas ini.

Proses perekaman terhadap pola dan kecepatan kerja bagian spesifik otang penulis lakukan ketika itu mulai dari siswa SD, SMP, SMA dan Mahasiswa, dan ternyata diperoleh temuan baru bagaimana perilaku peserta didik secara biologis dapat direkam dan dijelaskan. Sebagaimana salah satu hasil rekamannya juga penulis bisa perlihatkan seperti tampak pada gambar berikut.

Tampak Frekuensi naik turun gelombang Beta selama proses aktivitasi otak

kiri dan otak kanan pada individu dengan rentang usia 15-18 tahun.

 

Tampak Frekuensi naik turun gelombang Beta selama proses aktivitasi otak  kiri dan otak kanan pada individu dengan rentang usia 15-18 tahun.

a) Proses rekaman perilaku biologi komunikasi pada peserta didik usia Sekolah Dasar.

Proses rekaman dilakukan selama eksperimen laboratorium antara penulis bersama dengan tim akhli kedokteran serta tim pemeriksaan EEG dalam rentang waktu kurang lebih sekitar 4 jam lamanya. Berbagai fenomena dapat ditemukan dan direkam sebagai bahan analisa untuk pembuktian kebenaran adanaya proses komunikasi secara biologi yang dilakukan dalam diri individu dalam hal ini pada tataran kontrol otak, di mana proses kerja atau perilaku komunikasi dilakukan oleh bagian spesifik otak. Khususnya perilaku tersebut ditunjukkan baik sebelum individu memperoleh stimulus maupun ketika memperoleh stimulus dalam bentuk visual animasi, visual diam dan audio serta bentuk multimedia dengan pesan-pesan pembelajaran berbasis CBI atau pemanfaatan Teknologi Informasi dalam disain pesan-pesan komunikasi pembelajaran.

Selama proses berlangsung maka setiap detik, atau dalam satuan kecepatan milisecon untuk setiap aktivitas perilaku biologis individu nampak dalam bentuk gelombang elektromagnetik yang nampak pad alayar komputer EEG. Gelombang ini terdiri atas aplitudo dan berbentuk puncak dan lembah yang menunjukkan adanya perilaku aktivasi dari organ bagian spesifik otak individu sebelum maupun selama memperoleh stimulus sebagaimana didisain di atas. Bersama dengan tim penelitian eksperimen laboratorum ini, maka semua fenomena bersama-sama dianalisa berdasarkan acuan dan sistem pengukuran serta analisa dna interpretasi khusus, bagaimana sebuah perilaku berlangsung dan dilakukan pada bagian spesifik otak sesuai dengan aktivitas yang ditunjukkan oleh subjek penelitian. Temuan-temuan dan analisa terhadap fenomena pembuktian perilaku biologi komunikasi ini telah dibahas pada bagian sebelumnya.

Aktivitas eksperimen laboratorium di atas menunjukkan bagaiman perbedaan perilaku biologi komunikasi yang terjadi dan teream melalui EEG dapat diinterpretasikan dan dijelaskan sebagai bukti kebenaran dan pembuktian perilaku biologi komunikasi hipotetik. Analisa ini berdampak terhadap bagaimana upaya seorang disainer atau perancang sistem dan perencanaan komunikasi mampu untuk menyiapkan pesan-pesan dalam bentuk visual, audio, gerak, suara, warna dan multimedia sehingga respon atau perilaku individu dapat dioptimalkan untuk memperoleh pemahaman akan pesan-pesan yang disampaikan atau yang dimaksud selama proses komunikasi berlangsung.

b) Proses rekaman kondisi perilaku biologi komunikasi pada peserta didik usia Sekolah Menengah Pertama.

Eksperimen laboratorium pada individu atau subjek riset dengan rentang usia ini dilakukan dengan menggunakan pedoman dan prosesdur langkah kerja yang sama. Mulai dari perekaman terhadap perilaku biologi komunikasi sebelum adanya treatment atau stimulus juga dilakukan proses perekaman dan analisa, sehingga diperoleh perbedaan aktivitas bagian spesifik otak. Demikian juga ketika individu sudah berhadapan atau diberi stimulus dalma bentuk sajian pesan komunikasi dalam pembelajaran yang terdiri atas pesan gambar diam, gambar gerak (animasi), audio hingga multimedia. Semua kondisi dan prosedur dalam melaksanakan proses pembuktian perilaku komunikasi ini ternyata memberikan temuan-temuan yang mampu membuktikan perilaku biologi komunikasi hipotetik sebelumnya, khususnya untuk individu dengan rentang usia 11-15 tahun ini.

Dalam proses perekaman perilaku individu ketika memperoleh stimulus, misalnya disini diamati dan direkam aktivitas secara biologi komunikasinya dengan cara pemberian stimulus dalam bentuk animasi kemudian Mulai dari proses kinerja bagian spesifik otak ketika individu ini melakukan pengamatan, merasakan bahwa sata itu ia menecermati sesuatu, kemudian ia juga memperoleh pemahaman mengenai apa yang dilihatnya. Ketika itu subjek riset atau individu yang bersangkutan menunjukkan perilaku bilogi komunikasi yang nampak dari luar seperti kecendeurngan melakukan aktivitas psikomotor tertentu sesuai dengan apa yang sudah dipahaminya. Sebagai misal ia melakukan penakanan tombol tertentu pada keyboard komputer. Ketika individu tersebut melakukan aktivitas kecenderungan bertindak tadi maka terdapat perubahan aplitudo yang terjadi dan terlihat pada layar monitior komputer EEG, hal ini menunjukkan adanya aktivitas bagian spesifik tertentu yang mendukung aktivitas perilaku biologi komunikasi tersebut oleh individu tersebut. Adapun temuan-temuan dan aktivitas kerja yang telah diinterpretasikan maknanya dari temuan perilaku biologi komunikais ini telah dibahas pada bagian bab sebelumnya.

Sebagaimana tampak pada gambar di atas menunjukkan baaimana kecenderungan bertindak dalam bentuk gerakan terlihat secara fisik subjek memegang dan melakukan penekanan tombol, hal tersebut bukti bahwa ia melakukannya karena telah mengalami pemahaman atas segala aktivitas sebelumnya. Fenomena ini terjadi dan dapat dibuktikan bagaimana jalur-jalur pesan yang diterima oleh sistem syaraf penglihatan hingga diterjemahkan dan diterima oleh bagian spesifik otak tertentu kemudian dilanjutkan ke bagian spesifik otak lainnya, dan ujung-ujungnya mampu menghasilkan sebuah gerakan atau tindakan tertentu. Kesemuanya itu adlaah rangkaian dari perilaku biologi komunikasi yang selama ini dicari dan dibutuhkan dalam memberikan penjelasan terhadap fenomena perilaku psikologis yang selama ini diterjemahkan dan dibaca oleh siapa saja yang berkebutuhan dengan efek atau dampak pesan dari proses komunikasi yang dilakukan.

c) Proses rekaman kondisi perilaku biologi komunikasi Peserta didik jenjang SMA

Prosedur dan langkah yang sama dilakukan juga terhadap proses eksperimen laboratorium pada individu dengan rentang usia antara 15 -18 tahun. Beberapa temuan yang diperoleh dari subjek penelitian ini ternyata keluar dari anggapan dan pandangan kita selama ini tehadap masa-masa perkembangan individu pada usia pubertas ini, yaitu masa menemukan jati diri atau masa-masa terbentuknya kecakapan dan pola berpikir sebagaimana halnya secara formal identik dengan kelompok eksakta, kelompok sosial, kelompok bahasa. Ternyata temuan riset biologi komunikasi ini justru membawa kepada alternatif pergeseran pendangan trichotomis tersebut.

Jika dikaitkan dengan alur dan arah kemana saja informasi/pesan disampaikan, diolah, dan diterjemahkan menjadi pesan-pesan aktivitas yang harus dikerjakan oleh organ tubuah lainnya, ternyata sangat komplek. Alur transpormasi pesan yang dilakukan pada tataran biologi komunikasi yang dalma hal ini dilakukan melalui bagian spesifik otak baik otak belahan kiri maupun kanan salah satu contohnya dapat dilihat pada visualisasi seperti di bawah ini, di mana aktivitas bagian spesifik otak diwakili oleh gelombang-gelombang alpha, betha dan theta yang harus di diterjemahkan dan dianalisa menjadi sebuah penjelasan mengenai proses perilaku biologi komunikasi. Sebagaimana halnya yang ditemukan pada proses aktivitas belajar peserta didik pada rentang usia 15-18 tahun ini, ternyata ada beberapa ketidak stabilan dan cukup labih jika arus atau arah dan bentuk gelombang yang dapat dilihat pada layar monitor ternyata sangat berbeda dengan apa yang ditemukan pada individu dengan rentang usia sebelumnya.

d) Proses rekaman kondisi perilaku biologi komunikasi pada jenjang Pendidikan Tinggi.

Prosedur riset untuk menemukan bukti kebenaran akan adanya bentuk perilaku biologi komunikasi untuk rentang usia pada idividu ini dilakukan sesuai dengan prosedur sebelumnya.

Untuk rentang usia individu ini maka dapat ditemukan suatu perubahan tingkat kestabilan dalam arah dan bentuk gelombang yang menunjukkan bahwa semua aktivitas dasar dari perilaku biologi komunikasi ini bisa lebih baik. Kestabilan jalur dan arus transformasi pesan komunikasi yang diperoleh dengan melalui syaraf-syaraf penerima yang berada pada indera-indera ternyata lebih jelas. Fenomena ini mampu memberikan penjelasan mengenai adanya sebuah target akan cita-cita dan pemilihan profesi seseorang yang sudah mendekati taraf pencapaian cita-citanya. Demikian pula dengan adanya klasifikasi dari keilmuan yang selama ini berkembang dan menjadi bidang kajian masing-masing studi individu pada rentang usia ini ternyata bisa disesuaikan. Artinya bahwa dengan kestabilan individu dalma mempelajari kelompok ilmu tertentu maka itu yang dapat dibuktikan dengan melalui eksperimen ini. Contoh individu yang stabil dalam bidang kesejarahan maka dapat dijelaskan melalui kestabilan gelombang yang terbentuk, dan ini bida dijadikan dasar dalam memberikan pembuktian dan penjaminan bahwa vocational yang diabil dan ditunjukkan individu pada rentang usia 18-27 tahun ini bisa diharapkan.

Jika dikaitkanm dengan pembangunan kualitas SDM dari aspek knowledge competence, maka temuan pada usia individu inilah yang akan menentukan keberlanjutan kemampuan analisa individu dalam bentuk aktivitas perilaku biologi komunikasinya yang selama ini telah banyak mengalami perubahan. Perubahan atau alur dan tingkat kestabilan dari perilaku biologi komunikasi dalam bentuk aktivitas melihat, mengamati, merasa, memahami dan kecenderungan bertindak. Fenomena dari perilaku biologi komunikasi untuk individu dengan rentang usia yang sudah lebih tinggi, ternyata ditemukan suatu kestabilan kembali.

Sebagaimana dapat dilihat pada gambar di atas, bahwa sebelum individu direkam aktivita prilaku biologi komunikasinya melalui EEG, mak ia memperoleh pengkondisian dalam bentuk penempelan elektroda pada kepalanya seperti halnya juga dilakukan pada individu dengan rentang usia sebelumnya. Kemudian setelah memperoleh perlakuan seperti tadi maka ia akan memperoleh tahapan perekaman sebelum diberi stimulus baik itu stimulus visual, audio maupun tactile. Setelah itu individu dihadapkan pada saian pembelajaran dalam bentuk CBI (Compiter Based Instruction), kemudian ia melakukan aktivitas melihat, mengamati, merasakan dan melakukan kecenderungan bertindak sebagaimana dpaat dilihat pada rangkaian foto-foto aktiitas laboratorium.

Dengan setting pembelajaran seperti ini maka penulis bersama dengan tim dokter yang terdiri atas pakar neurolog, dokter syaraf,dan asistennya melakukan perekaman terhadap aktivitas dan perbedaan tinggi rendahnya gelombang yang tampl dilayar sebagai ciri adanya perbedaan kecepatan dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh individu tersebut selama proses pembelajaran. Dari layar komputer EEG ini maka dapat diketahui mengenai aktivitas bagian spesifik otak dengan masing-masing simbol seperti Prefrontal, Frontal, Parietal, Temporal, Occipital, dan Central, maka selama proses perekamanan ini diperoleh masing-masing jalur dan kecepatan gelombang untuk masing-masing bagian spesifik otak yang dimaksud.

Dari proses eksperiemen laboratorium ini maka penulis dapat menemukan terori tentang perilaku biologi komunikasi yang berdampak pada bentuk perilaku psikologis dalam sebuah proses komunikasi pembelajaran. Bentuk dan arah serta kecepatan perilaku biologi komunikasi yang terdiri atas proses melihat, merasa, memahami, dan kecenderungan bertindak setiap individu peserta didik dengan perbedaan rentang usia ternyata memiliki perbedaan satu sama lain. Secara tegas bahwa persiapan, proses dan hasil dari eksperimen laboratorium ini dapat dijadikan bahan untuk melakukan diskusi lebih lanjut tentang lahirnya sebuah cabang bidang ilmu komunikasi, yaitu biologi komunikasi. Khususnya dalam bidang pendidikan dan bidang ilmu terkait lainnya temuan ini sangat penting guna melakukan analisa dan pengembangan strategi dan pendekatan dalam komunikasi, baik komunikasi intra-interpersonal, psikologi komunikasi, sosiologi komunikasi, teknologi komunikasi dan komunikasi pendidikan.

Dengan ditemukannya fenomena perilaku biologi ini, maka setidaknya dapat memberikan penambahan wawasan dan tentunya landasan dalam menganalisis perilaku secara biologi komunikasi. Temuan dan proses pembuktian adanya perilaku biologi komunikasi ini juga diharapkan mampu memberikan pengayaan dalam proses pengembangan ilmu komunikasi di masa depan. Di sisi lain sudah barang tentu pengalaman penelitian ini setidaknya dapat ditindaklanjuti sehingga bisa mendekati atau memberikan kontribusi terhadap apa yang akan dilakukan lebih lanjut oleh Tom Mitchell dengan penemuan komputer pembaca pikiran manusia-nya. Filosofis lain yang dapat diambil dari tulisan tentang Tom Mitchell dan pengalaman penulis berarti bangsa kita pun seandainya diberi kesempatan maka akan mampu juga menemukan sesuatu yang baru, khususnya dalam menggali sesuatu yang diharapkan mendukung munculnya inovasi dan revolusi dalam pendekatan, metode pembelajaran, shingga kualitas pendidikan kita bisa bersaing di pentas dunia.

Posted by: denidarma | November 22, 2008

MENGENAL TEKNOLOGI INFORMASI

[1]MENGENAL TEKNOLOGI INFORMASI

Oleh:

Drs. Dinn Wahyudin, MA.

Dr. Deni Darmawan, S.Pd.,M.Si.

1. Pendahuluan

Untuk memahami informasi, tidak dapat dipisahkan dengan apa yang namanya data. Untuk itu, sebelum memahami konsep informasi dalam hal ini akan dibahas sepintas tentang dataPada dasarnya data adalah fakta, kejadian, berita, fenomena dan sejenisnya yang dapat diolah atau diproses berdasarkan prosedur tertentu yang pada akhirnya menjadi keluaran dalam bentuk informasi. Data dapat berupa angka, ukuran, kata, kalimat, tulisan-tulisan, uraian cerita, gambar, simbol, tanda, yang belum memliliki ciri-ciri informatif dan belum diinformasikan keberadannya, sehingga diperlukan pengolahan. Dengan demikian untuk dapat memahaminya maka diperlukan prosedur pengolahan misalnya perhitungan, pengukuran terhadap data-data yang dimilikinya.

Berdasarkan pemahaman terhadap definisi data di atas maka pada kenyataannya data bentuknya sangat variatif. Salah satu variasi bentuk data dewasa ini cenderung sudah bersifat abstrak yaitu bisa dilihat misalnya tetapi tidak bisa diraba. Lebih jauh berdasarkan pengaruh teknologi elektronik sekarang ini banyak dijumpai data dalam bentuk virtual atau maya yang merupakan hasil rekayasa sistem dan program aplikasi komputer. Jadi dapat pula dikemukakan bahwa data merupakan bahan mentah yang posisinya dalam sistem pengolahan data sering dikatakan sebagai input. Adapun keluarannya disebut informasi.

Dengan demikian informasi ini dapat dikatakan sebagai sejumlah data yang sudah diolah atau diproses melalui prosedur pengolahan data dalam rangka menguji tingkat kebenarannya, keterpaaiannya sesuai dengan kebutuhan. Sistem pengolah data ini sangat dibutuhkan sehingga semua data dapat dengan cepat dan mudah menjadi sekumpulan informasi yang siap pakai.

Sebagai perbandingan pemahaman terhadap informasi ini berikut ada beberapa definisi informasi, diantaranya :

§ Informasi merupakan hasil dari pengolahan data, akan tetapi tidak semua hasil dari pengolahan tersebut dapat menjadi informasi.

§ informasi merupakan data yang telah mengalami pengolahan

§ informasi memberikan makna

§ informasi berguna atau bermanfaat

§ informasi merupakan bahan pembuat keputusan.

2. Ciri Informasi

Sejumlah informasi yang biasa kita dengarkan atau kita peroleh kadang memiliki karakteristik yang berbeda, tentunya hal itu disesuaikan dengan sumber informasi, bentuk dan jenis informasi serta untuk apa informasi itu kita cari. Dalam membantu anda untuk mengenali bagaimana informasi itu bisa kita kenali, maka berikut penjelasan mengenai ciri-ciri informasi. Deni Darmawan (2001) menjelaskan 5 ciri dari informasi yang bisa memberikan makna bagi pengguna, diantaranya:

1) Amount of Information (Kuantitas Informasi), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh suatu prosedur pengolahan informasi mampu memenuhi kebutuhan banyaknya informasi.

2) Quality of Information (Kualitas Informasi), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan kualitas informasi.

3) Recency of Information (Informasi Aktual), dalam arti bahwa informasi yang diolah oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi baru.

4) Relevance of Information (Informasi yang relevan atau sesuai), dalam arti bahwa informasi yang oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi.

5) Accuracy of Information ( Ketepatan Informasi), dalam arti bahwa informasi yang oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi

6) Autehnticity of Information ( Kebenaran Informasi), dalam arti bahwa informasi yang dikelola oleh sistem pengolahan tertentu mampu memenuhi kebutuhan informasi yang benar.

Ciri-ciri dari informasi ini idealnya dimiliki oleh informasi yang dibutuhkan ketika kita akan merumuskan atau membuat kebijakan tertentu, sehingga tindakan atau aktivitas yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pemakaian informasi yang dimaksud.

3. Komponen-komponen Informasi

Sebuah informasi bisa bermanfaat, bisa memberikan pemahaman bagi orang yang menggunakannya, jika informasi tersebut memenuhi atau mengandung salah satu komponen dasarnya. Jika dianalisis berdasarkan pendekatan information system, pada dasarnya ada sekitar 8 komponen. Adapun keenam komponen atau jenis informasi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Root of Information, yaitu komponen akar bagian dari informasi yang berada pada tahap awal keluaran sebuah proses pengolahan data. Misalnya yang termasuk ke dalam komponen awal ini adalah informasi yang disampaikan oleh pihak pertama.

b. Bar of Informatione, merupakan komponen batangnya dalam suatu informasi, yaitu jenis informasi yang disajikan dan memerlukan informasi lain sebagai pendukung sehingga informasi awal tadi bisa dipahami. Contohnya jika anda membaca Headline dalam sebuah surat kabar, maka untuk memahami lebih jauh tentunya harus membaca informasi selanjutnya, sehingga maksud dari informasi yang ada pada head line tadi bisa dipahami secara utuh.

c. Branch of Informationl, yaitu komponen informasi yang bisa dipahami jika informasi sebelumnya telah dipahami. Sebagai contoh adalah informasi yang merupakan penjelasan keyword yang telah ditulis sebelumnya, atau dalam ilmu eksakta seperti Matematika bentuknya adalah hasil dari sebuah uraian langkah penyelesaian soal dengan rumus-rumus yang panjang, biasanya disebut dengan hasil perhitungan. Adapun dalam bidang sosial, misalnya dapat berupa petunjuk lanjutan dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu.

d. Stick of Information, yaitu komponen informasi yang lebih sederhana dari cabang informasi, biasanya informasi ini merupakan informasi pengayaan pengetahuan. Kedudukannya bersifat pelengkap (suplement) terhadap informasi lain. Misalnya informasi yang muncul ketika seseorang telah mampu mengambil kebijakan/keputusan untuk menyelesaikan suatu proses kegiatan, maka untuk menyempurnakannya ia memperoleh informasi-informasi pengembangan dari keterampilan yang sudah ia miliki tersebut.

e. Bud of Information, yaitu komponen informasi yang sifatnya semi micro, tetapi keberadaannya sangat penting sehingga dimasa yang akan datang, dalam jangka waktu yang akan datang informasi ini akan berkembang dan dicari serta ditunggu oleh pengguna informasi sesuai kebutuhannya. Misalnya yang termasuk ke dalam komponen ini adalah informasi tentang masa depan, misalnya bakat dan minat, cikal bakal prestasi seseorang, harapan-harapan yang positif dari seseorang dan lingkungan.

f. Leaf of Information, yaitu komponen informasi yang merupakan informasi pelindung, dan lebih mampu menjelaskan kondisi dan situasi ketika sebuah informasi itu muncul. Biasanya informasi ini berhubungan dengan informasi mengenai kebutuhan pokok, informasi yang menjelaskan cuaca, musim, yang mana kehadirannya sudah pasti muncul.

Secara ideal keenam komponen ini sebaiknya dipahami oleh seseorang yang akan melaksanakan interaksi atau komunikasi. Keenam komponen informasi ini juga merupakan satu kesatuan dan jika hanya beberapa komponen yang dipahami maka seseorang tidak akan merasa paham, tentang, dan siap dalam menerapkan atau memanfaatkan informasi yang diterimanya. Maka keenam komponen informasi tersebut, satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan memiliki unsur ketergantungan. Informasi yang mampu mendukung proses pengambilan keputusan adalah yang memenuhi paling sedikit enam komponen. Keenam komponen ini sekaligus menjadi syarat sehingga sebuah informasi menjadi berkualitas, yaitu berdasarkan data yng valid dan reliabel, utuh, sumber pertamanya dapat dipercaya, mutakhir, akurat, dan disimpan sedemikian rupa sehingga mendasari pemahaman seseorang sepanjang waktu seiring perkembangan zaman sebagai alat pendukung proses pengambilan keputusan apabila diperlukan.

Sehubungan dengan pemahaman kita tentang informasi, sudah tentu kita sering mendengar ungkapan bahwa saat ini kita sudah memasuki ”era informasi”. Artinya semakin disadari oleh banyak pihak bahwa informasi merupakan sumber daya yang makin penting perannya dalam kehidupan dan penghidupan manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa informasi telah menyentuh seluruh kehidupan manusia, meskipun teknologi yang menghasilkannya mungkin tidak dipahami, apalagi dikuasainya. Informasi diperlukan bukan hanya oleh individu dan berbagai kelompok dalam masyarakat, akan tetapi juga oleh semua jenis organisasi, termasuk organisasi bisnis, organisasi sosial, organisasi politik, birokrasi pemerintahan dan organisasi nirlaba, termasuk organisasi pendidikan dan keagamaan.

Faktor kelengkapan sangat penting karena informasi yang tidak lengkap dapat berakibat pada kesimpulan yang tidak benar yang pada gilirannya bermuara pada keputusan yang tidak tepat. Faktor kemutakhiran tidak kalah pentingnya, karena seperti dimaklumi, suatu keputusan adalah upaya sadar dan sistematis untuk mengatasi suatu situasi yang kurang menguntungkan atau memecahkan masalah. Orientasi waktu suatu keputusan adalah masa sekarang dan masa depan. Informasi yang sudah kadaluarsa tidak akan mendukung proses pengambilan keputusan. Akurasi informasi merupakan hal mutlak karena informasi yang tidak akurat justru akan mempersulit proses pengambilan keputusan terutama dalam menganalisis berbagai alternatif untuk kemudian memilih salah satu di antaranya yang diyakini merupakan alternatif terbaik. Berkaitan dengan akurasinya, informasi harus dapat dipercaya. Artinya, data tidak dimanipulasi dalam pengolahannya yang apabila terjadi akan mengaburkan situasi yang sebenarnya. Seluruh informasi yang telah terkumpul dan terolah harus disimpan sedemikian rupa sehingga siapa pun yang memerlukannya dan memang berhak untuk itu dapat memperolehnya.

4. Hakikat Teknologi Informasi dan Komunikasi

Sebelumnya telah dibahas tentang konsep teknologi informasi dan komunikasi merupakan dasar untuk memahami apa itu teknologi komunikasi. Teknologi komunikasi dianggap mencakup pengertian yang lebih luas, termasuk sistem, saluran, perangkat keras dan perangkat lunak dari komunikasi modern. Sedangkan teknologi informasi merupakan bagian dari pengertian teknologi komunikasi. Akan tetapi, apabila diamati dengan lebih mendalam baik pengertian teknologi komunikasi maupun teknologi informasi, nyatalah bahwa di antara dua bidang tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain, bahkan seringkali digunakan untuk menyebut hal yang sama secara bergantian. Oleh karena itu, dalam penggunaan sehari-hari kedua istilah tersebut seringkali diucapkan dalam nafas yang sama, karena pengertian yang terkandung pada masing-masing istilah tersebut memang saling berkaitan satu sama lain.

Secara sederhana teknologi informasi dapat dikatakan sebagai ilmu yang diperlukan untuk mengelola informasi agar informasi tersebut dapat dicari dengan mudah dan akurat. Isi dari ilmu tersebut dapat berupa teknik-teknik dan prosedur untuk menyimpan informasi secara efisien dan efektif. Informasi dapat dikatakan sebagai data yang telah di olah. Informasi tersebut dapat disimpan dalam bentuk tulisan, suara, gambar, gambar mati ataupun gambar hidup, Sehingga informasi akhirnya dapat berupa ilmu dan pengetahuan itu sendiri.

Bila informasi tersebut volumenya kecil, tentunya tidak perlu teknik-teknik atau prosedur yang rumit untuk menyimpannya. Namun bila informasi tersebut dalam volume yang besar, diperlukan teknik dan prosedur tertentu untuk menyimpannya agar mudah mencari informasi yang tersimpan. Komputer mempunyai kapasitas untuk menyimpan informasi dalam volume besar. Pada mulanya komputer hanya mampu menyimpan teks dan grafik sederhana saja. Namun dewasa ini komputer telah mampu menyimpan informasi dalam berbagai bentuk, misalnya dalam bentuk audio, visual, dan audio visual.

Teknologi Informasi (Information Technologi) yang mulai populer di akhir tahun 70-an, dihantarkan untuk menjawab tantangan. pada masa sebelumnya, istilah tekonolgi komputer atau pengolahan data electronis atau EDP (Electronic Data Processing). Menurut kamus Oxford (1995), teknologi informasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata, bilangan, dan gambar. Menurut Alter (1992), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data.

Lebih lanjut, menurut Martin (1999) teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan mencakup juga teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Secara lebih umum Lucas (2000) menyatakan bahwa teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis, seperti mikrokomputer, komputer mainframe, pembaca barcode, software pemproses transaksi perangkat lunak untuk lembar kerja, peralatan komunikasi dan jaringan.

Everett M Rogers dalam bukunya Communication Technology (1986), mengemukakan bahwa “Teknologi informasi merupakan perangkat keras bersifat organisatoris dan meneruskan nilai-nilai sosial dengan siapa individu atau khalayak mengumpulkan, memproses dan saling mempertukarkan informasi dengan individu atau khalayak lain.”

Pendapat tersebut mengisyaratkan bagaimana teknologi informasi dapat memberikan andil dalam proses komunikasi individu secara efektif khususnya dalam menembus ruang dan waktu ketika berkomunikasi dengan individu lainnya. Kecenderungannya dalam upaya memperoleh efektivitas komunikasi jarak jauh ini tidak terlepas dari komponen komunikasi jarak jauh, seperti instrumental tools, atau dalam konteks teknologi informasi, maka teknologi yang digunakan diantaranya komputer dan piranti pendukung lainnya.

Telaah terhadap piranti teknologi informasi ini dijelaskan oleh Haag dan Keen (1996) dalam Abdul Kadir dan Terra Ch Triwahyuni (2003:2) bahwa “Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu Anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi.” Demikian juga dengan apa yang disampaikan oleh William dan Sawyer (2003) yang dikutif Abdul Kadir dan Terra Ch Triwahyuni (2003:2) dalam bukunya pengenalan teknologi informasi mengemukakan bahwa “Teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.” Dari definisi di atas tergambar bahwa teknologi informasi baik secara implisit maupun eksplisit tidak sekedar berupa teknologi komputer, tetapi juga teknologi telekomunikasi. Dengan kata lain yang di sebut teknologi informasi adalah gabungan antara teknologi komputer dan teknologi telekomunikasi.

5. Pendidik dalam Memanfaatan TIK

Ada beberapa peran pendidik dalam kerangka pemanfaatan teknologi informasi di sekolah. itu. Pertama, ada sejumlah pendidik yang mengaku bahwa mereka belum memiliki kemampuan untuk menggunakan alat teknologi informasi. Ada pendidik, yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan untuk menggunakan komputer. Ada pula pendidik yang sudah memiliki pengetahuan menggunakan komputer tetapi belum memiliki kemampuan untuk menggunakan internet. Dalam hal ini, perlu ada penekanan kepada para pendidik agar mereka memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi informasi.

Kedua, pendidik dapat mengikutsertakan keunggulan teknologi informasi dalam pemberian tugas kepada para peserta didik. Peserta didik ditugaskan untuk memanfaatkan keunggulan teknologi informasi sehingga mereka dapat menghasilkan pekerjaan yang sempurna. Pendidik, misalnya, menugaskan peserta didik untuk mengarang atau melukis dengan menggunakan komputer. Dengan fasilitas edit yang canggih, pendidik dapat menuntut karya peserta didik yang terus diedit sampai sempurna. Ketiga, di bawah pengawasannya secara langsung, pendidik dapat menugaskan para peserta didik untuk bermain di komputer sesaat sebelum pelajaran dimulai berkenaan dengan topik yang akan diajarkan. Sebelum masuk kelas, pendidik misalnya dapat menugaskan peserta didik untuk bermain dengan komputer untuk membuat bermacam lingkaran serta bermacam susunan dari sejumlah lingkaran.

Setelah itu, pendidik memberi pelajaran tentang lingkaran. Keempat, pendidik dapat menugaskan para peserta didik untuk mengumpulkan sejumlah informasi tertentu dari internet serta menyusun laporan tertulis tentang kumpulan informasi itu. Lebih baik lagi kalau pendidik terlebih dahulu mengakses informasi itu sehingga peserta didik ditugasi untuk mengakses informasi yang telah diakses oleh pendidik itu.

Dalam rangka ini, pendidik dapat juga menugaskan para peserta didik untuk mencari sejumlah judul literatur perpustakaan melalui internet pada website tertentu. Misalnya, pendidik memberikan nama pengarang, peserta didik mencari judul literatur atau sebaliknya. Kelima, sejumlah kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan melalui transparansi, slide, film atau videotape, kini sudah dapat dilakukan melalui teknologi informasi yakni komputer. Bahkan pekerjaan rumah dapat juga dikerjakan melalui teknologi informasi. Di samping berbagai kemungkinan ini, pendidik dapat saja secara proaktif mencari kegiatan pembelajaran lainnya yang dapat memanfaatkan keunggulan teknologi informasi. Termasuk di dalamnya, latihan berpikir sistematik melalui pembuatan program komputer seperti yang telah banyak dilakukan di sekolah sekarang ini.

6. TIK sebagai jembatan menuju Realitas Pembelajaran

Perkembangan Teknologi Informasi yang mampu mengolah, mengemas dan menampilkan serta menyebarkan informasi pembelajaran baik dalam medium audio, visual, audio visual bahkan multi media, dewasa ini telah mampu mewujudkan apa yang disebut dengan Virtual Learning. Konsep ini berkembang sehingga mampu mengemas kondisi dan realitas pembelajaran sebelumnya menjadi lebih menarik dan memberikan pengkondisian secara adaptif pada si pembelajaran di manapun mereka berada.

Memang upaya ke arah tersebut banyak dicontohkan dengan munculnya konsep e-learning. Di mana secara realitas bahwa pembelajaran itu tidak sulit walaupun dibatasi olah ruang dan jarak yang tidak mungkin jika dilakukan secara nature, akan tetapi justru realitas yang diharapkan ini mampu diwujudkan melalui konsep e-learning ini.

7. Kesimpulan

Informasi adalah hasil pengolahan data yang memberikan arti dan manfaat. Dengan demikian berarti tidak semua hasil pengolahan data tersebut dapat menjadi informasi, hasil pengolahan data yang tidak memberikan makna atau arti serta tidak bermanfaat bagi seseorang bukanlah merupakan informasi bagi orang tersebut. Dalam hal ini, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan, yaitu

1. informasi merupakan hasil pengolahan data

2. memberi makna atau arti

3. berguna atau bermanfaat.

Tepatnya Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan.

Secara sederhana ”teknologi informasi” dapat dikatakan sebagai ilmu yang diperlukan untuk mengolah informasi agar informasi tersebut dapat dicari dengan mudah dan akurat. Isi dari ilmu tersebut dapat berupa prosedur, cara-cara dan teknik-teknik untuk menumpulkan, menyimpan, mengolah atau menelusuri informasi secara efisien dan efektif. Dengan kata lain teknologi informasi adalah serangkaian tahapan penanganan informasi, yang meliputi penciptaan informasi, pemeliharaan saluran informasi, seleksi dan transmisi informasi, penerimaan informasi secara selektif, penyimpanan dan penelusuran informasi, dan penggunaan informasi.

8. Kepustakaan

Abdul Kadir, Triwahyuni, 2003, Teknologi Informasi, Yogyakarta: Kanisius.

Cohen, Vicki Blum. 1985. A Reexamination of Feedback In Computer Based Instruction: Implication for Instructional Design. Educational Technology Journal, New Jersey.

Deni Darmawan. (2005), Penulisan Bahan Ajar Modul Berbasis Multimedia. Bandung: Makalah Diklat Dosen STSI tahun-1 Hibah A1.

_____________. (2005), Pembelajaran e-learning dan Internet. Palembang: Universitas Negeri Palembang: Pelatihan Dosen Universitas Negeri Palembang dalam Program Hibah A1.

_____________. (2006), Bahan Belajar Multimetode dan Multimedia Berbasis e-Learning. Bandung: Makalah Diklat Dosen STSI tahun-2 Hibah A1.

_____________. (2006). Teknik Penulisan Skrip untuk Bahan Ajar E-learning. Bandung : Makalah disampaikan dalam Pelatihan E-learning untuk Dosen UPI dalam Program Hibah P3AI.

Ellis, Alan, Wagner and Longmire, (1999), Managing Web-Based Training, USA: ASTD.

Kanpp R. Linda & Allen D Glenn, 1996. Resstructuring Schools with Technology, Unityed States: Allyn & Bacon.

LaRose Straubaar, 2000, Media Now : Communications Media in the Information Age, USA: Wadsworth/Thonson Leearning.

Lee. Kar Tin, (2001), Information Technology in Teacher Education. Published in the Asia Fasific.

Joel L., Information Revolution, National Geographic Magazine, Oktober 1995

Rogers. 1989. Communication Technology. New York: Prentice –Hall Company.

Triggs Teal. 1995. Communicating Design in Visual Communication. London: Basford Ltd.

Michael S Sunggiardi, 2006 Asia dan Perkembangan Teknologi Komunikasi Informasi .

Nasution, Zulkarimein. (2001) Perkembangan Teknologi Komunikasi. Jakarta: Universitas Terbuka

Nasution. (1994) Teknologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Siagian, Sondang P. (2002). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.

Salisbury, David F (1996). Five Technologies for Education Change. New

Jersey: Educational Technology Publications

Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad. (1989) Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.


[1] Disajikan dalam pelatihan TIK guru-guru Kota Cimahi, Kerjasmaa FIP dengan Dinas Pendidikan Kota Cimahi, 17, Des, 07

Posted by: denidarma | November 22, 2008

ANTARA GURU DAN ABAD TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI

ANTARA GURU DAN ABAD TEKNOLOGI

INFORMASI-KOMUNIKASI

Oleh: Deni darmawan[1]


[1] Penulis adalah lulusan SPGN 1 Bandung angkatan terakhir 1991 yang waktu itu tidak bisa mengikuti pengangkatan langsung menjadi seorang Guru Sekolah Dasar.

Sebuah Kenyataan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang secara tidak langsung telah banyak mempengaruhi dunia pendidikan dan pembelajaran di negara ini. Boleh kita lihat guru-guru kita misalnya yang harus dengan cepat mengupdate pengetahuan dan keterampilannya alih-alih kompetensinya dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi. Upaya guru-guru kita ternyata tidak bisa dengan mudah begitu saja menguasai bidang TIK ini, banyak kendala mulai dari faktor usia, dukungan sarana peralatan, kesempatan dan dukungan kebijakan dari atasan, hingga ketersediaan infrastruktur di sekolah yang tidak sederhana dan dengan mudah bisa disesuaikan.

Kesiapan, ketersediaan , kebiasaan dan keterpaksaan seakan menjadi sebuah gunung es yang sulit untuk dicairkan hanya karena oleh bekal kreativitas, semangat dan motivasi serta keberanian yang dimiliki oleh para guru. Bahkan guru-guru yang sudah menunjukkan kekearyaannyapun ternyata mereka masih membutuhkan dukungan kebebasan berkarya, finansial, dan manajemen kebijakan yang adaptif. Kondisi ini bisa penulis rasakan tak kala seorang guru masih kesulitan dalam memperoleh dukungan manajemen dan finansialnya terhadap hasil jerih payahnya yang telah diraih selama ini. Fakta ini bisa dilihat dari 19 orang guru yang mewakili jenjang SD, SMP dan SMA yang mengikuti lomba ”Inovasi Media Pembelajaran” yang baru-baru ini telah dilaksanakan di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi Jawa Barat dapat dijadi cermin bagaimana pihak manajemen, para pengelola, dan para pengambil kebijakan dalam bidang pendidikan kurang begitu gencar dalam memnfasilitasi karya dan inovasi guru-guru terpilih ini.

Terlebih dari 10 guru yang mengikuti Lomba Inovasi Media Pembelajaran pad ajenjang SMA misalnya, ternyata masih terlihat aspek keragu-raguan dari para guru pilihan ini untuk mampu memaksimalkan karya-karyanya. Penulis bangga dengan LPMP yang telah berusaha memfasilitasi dan memberikan jalur bagaimana guru-guru pilihan ini mampu menunjukkan dna mengaktualisasikan tingkat kreativitasnya. Dari kegiatan tersebut penulis lihat banyak potensi lokal yang mampu mencapai target Nasional bahkan Internasional. Namun semuanya itu tidak akan terlepas dari faktor dukungan manajemen dan tata kelola pendidikan oleh para stakeholder dan penggerak sistem pendidikan di Negara ini. Sebagaimana jika penulis telaah dalam bidnag Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dari 10 orang guru SMA yang mengikuti perlombaan ini hanya 3-4 orang yang sudah memberaikan diri masuk dan menguasai bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi ini. Namun demikian kondisi dan tingkat kualitasnya maish bisa dikalahkan oleh karya-kraya inovasi yang murni berangkat dari kejauhan dan sentuhan dunia Teknologi Informasi ini. Dengan demikian guru-guru pilihan yang mencoba menunjukkan kreativitasnya dalam bidang TIK harus puas dengan peringkat di bawah juara ke-3.

Dari pengalaman tersebut maka dapat ditarik sebuah lesson learnt, bahwa ternyata selama ini kita hanya gembar-gembor akan semaraknya inovasi dan adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalma dunia pendidikan dan pembelajaran. Tapi ternyata kita tidak bisa kompak seirama dan saling mendukung siapa dan pihak mana yang harus mendukung siapa dan melakukan inovasi apa dalam dunia TIK. Inilah persoalan yang harus segera dicairkan, artinya semua pihak harus kembali duduk bersama dan membahas kembali serta menanamkan kerangka pikira yang jelas bagi semua pihak mengenai apa, bagaimana TIK serta seperti apakah TIK yang cocok untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan bagi bangsa ini. Padahal jika penulis amati yang waktu itu bertindak sebagai evaluator, maka sangat banyak potensi yang dimiliki guru-guru pilihan ini terhadap upaya menguasai TIK dalam melakukan inovasi pembelajarannya. Kenyataan ini harus menjadi pekerjaan rumah bersama.

Kiat memahami dan memaknai TIK

Jika seorang guru kita tanya mengenai Teknologi, maka seakan hal itu menjadi suatu hal yang antik dan tidak familier dengan keseharaiannya sebagai seorang pendidik sejati. Maka disinilah letak locus masalah titik temu antara dunia pendidikan dengan dunia TIK jika dilihat dari kacamata pendidik. Setidaknya jika penulis amati ternyata ada suatu bentuk jurang pemisah antar zaman. Maksudnya antar zaman adalah masa kejayaan wwaktu berpikir dan belajar guru-guru kita dengan masa munculnya abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Padahal jika kita coba uraikan dan sederhanakan strategi pemahaman dan pemaknaannya tentang teknologi ini ternyata hasilnya cukup banyak guru-guru kita dengan usia 50 tahunan yang tersenyum bangga dan yakin akan kemampuan untuk menguasai abad teknologi informasi dan komunikasi ini. Penulis yakin jika semua guru pada semua jenjang telah tersentuh oleh pendekatan dalam memahami TIK yang dimaksud maka inovasi pendidikan yang berbasis kreativitas guru-guru berteknologi ini akan menjadi lebih bisa diwujudkan secara merata dan ringan.

”Teknologi”

Untuk memahami dan memaknai sebuah TIK dengan mudah ini, penulis ilustrasikan dalam pernyataan bahwa Teknologi bisa dipandang dari 3 sudut pandang, yaitu sudut pandang Teknologi sebagai Ide, Teknologi sebagai Proses-rancangan bangun ide dan aktivitas, serta Teknologi sebagai Produk atau hasil. Kecepatan berpikir kita yang selama ini selalu langsung memahami dan memikirkan kata-kata teknologi yaitu dengan cara langsung melihat produk atau langsung memandang teknologi sebagai hasil rancang bangun (enginering). Dan ini biasanya bagi pihak tertentu cuku menyesakkkan, atau seseorang mungkin mengucapkan guyonannya ” canggih” = ’can kapanggih ’ ( belum ketemu cara dan pemahamannya). Fenomena seperti inilah yang banyak dijumpai dan dirasakan oleh siapa saja jika melihat dan memandang serta memahami ”Teknologi” hanya sebagia produk.

Terlebih di kalangan guru yang tinggal dan bertugas serta berasal dari daerah yang jauh dari perkotaan, maka tentunya pandangan terhadap teknologi sebagai produk seolah akan terlalu tinggi. Padahal sudut pandang terhadap Teknologi ini diharapkan mulai dari sudut pandang Teknologi sebagai Ide, artinya semua guru pasti sudah berteknologi atau melakukan proses kegiatan tertentu yang akna menghasilkan sebuah teknologi, atau menggunakan produk hasil teknologi. Sebagai ilustrasi misalnya ketika seorang guru akan mengajarkan pokok bahasan Bangun Datar dan guru tersebut harus mendemonstrasikan bagaimana membuat sebuah lingkaran dengan menggunakan sebuah jangka , tiba-tiba jangkanya tidak ada di kelas, dan skeolah tidak memilikinya. Kemudian guru tersebut berpikir dan mulai mewujudkan ide pikirnya tersebut untuk membuat sebuah jangka. Selanjutnya sang guru pergi mencari sebuah ranting atau dahan pohon jambu yang bercabang (cagak), dan dipotonglah dahan bercabang ini, kemudian ia mengikatkan cabang dahan pertama dengan sebuah paku dan cabang dahan yang satunya ia ikatkan dengan sepotong kapur, kemudian ia gunakan dan praktekan untuk membuat sebuah lingkaran. Akhirnya hasil gambar yang dibuat dengan jangka dari ranting tersebut hasilnya sama bulat jika dibuat dengan menggunakan jangka yang banyak dijual di pasaran.

Jika ditelaah dari ilustrasi ini, maka guru tesebut telah menunjukkan dan memanfaatan hasil pemahaman terhadap apa itu ”Teknologi”. Pemahaman guru tersebut bukan hanya sekedar aspek kognitifnya, tetapi juga sudah pada tataran psikomotor atau prakteknya. Jadi secera utuh ”Teknologi” yang dimaksud telah dikuasai oleh guru mulai dari Teknologi sebagai ide, teknologi sebagai proses dan akhirnys Teknologi sebagai hasil rancang bangun dari ide pikiran dan proses guru tersebut membuat jangka dari ranting bambu tersebut.

”Informasi”

Ketika guru menyampaikan bahan pembelajaran kepada siswanya, maka disitu terdapat sejumlah informasi yang ia kemas, olah dan akhirnya disampaikan kepada siswa. Setelah informasi tersebut sampai pada diri siswa dan siswa merasa mengerti akan informasi yang disampaikan oleh guru tersebut. Maka pada tahapan inilah pada dasarnya guru harus menyadai bahwa dirinya adalah seorang manajer terhadap proses pengelolaan informasi pelajaran yang setiap harinya ia lakukan sehingga begitu banyak informasi yang diolah guru maka informasi tersebut akan semakin mudah ditata dan dimengerti oleh para siswanya.

Jika dikaitkan dengan upaya memahami ”Teknologi Informasi dan Komunikasi”, maka ketika guru banyak mengelola informasi inilah pada dasarnya bahwa guru sudah berada pada pemahaman kata kedua dari istilah TIK ini, yaitu kata ”Informasi”. Dengan demikian guru pada dasarnya pihak yang selalu dituntut untuk kreatif dana mencari, mengelola, mendasain pengelolaan dan penyampaian informasi tersebut. Maka guru di sini sebetulnya secara tida langsung telah mampu menguasai dunia Teknologi dan Informasi.

”Komunikasi”

Ketika guru menyampaikan informasi yang sudah ia olah sedemikian rupa, misalnay disampaikan dengan kepandaiannya berbicara dengan sistematis, jelas, tegas dan benar maka informasi dapat dengan mudah sampai kepada diri siswa. Sebagai misal guru menggunakan alat batu atau media pembelajaran dengan menggunakan papan tulis, poster, gambar, dan media lainnya, kemudian terjadi proses interaksi yang hangat antara ia dengan siswanya ytang diakhiri dengan perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa, maka sudah dapat dikatakan bahwa guru tersebut sudah sukses melakukan proses komunikasi dalam pembelajarannya tersebut.

Apakah guru masih asing dengan kata ”Komunikasi” ini?, tentunya jika melihat penjelasan di atas maka sebenarnya guru adalah pihak yang paling aktif dalam melakukan proses komunikasi dengan tujuan dan target yang ketat. Di mana setiap jam, setiap hari, setiap minggu selalu ada target proses komunikasi (mengajar) seperti apa yang paling efektif sehingga siswanya bisa mengerti mengenai apa yang ia komunikasikan.

Selanjutnya jika dikaitkan dengan Pemahaman dan Pemaknaan terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi, maka guru ini adalah pihak yang sudah secara lengkap menguasai, memahami dan memaknai bahwakan telah sukses mengimplementasinyakannya dalam tugas sehari-hari. Inilah fenomena yang harus banyak digali, khususnya pada tataran kesadaran guru atau pihak yang selalu membawa misi inovasi dalam dunia Tkenologi Informasi dan Komunikasi. Secara mendalam jika dianalisis maka fenomena seorang guru yang setiap hari mengajar pada dasarnya ia telah menjadi seorang Maestri dalam dunia Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Kabar Gembira

Penulis yakin jika guru kembali melakaukan perenungan dan melakuka review terhadap apa yang biasa ia lakukan setiap harinya dalam melaksanakan tugas sebagai seorang penidikan, khususnya jika dikaitkan dengan kata-kata kunci dari konsep Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), maka kita semua akan dapat menyimpulkannya sendiri. Sebagai penegasan bahwa dunia TIK adalah dunia guru maka tidak perlu khawatir ataupun was-was, cemas dna grogi ketiak seorang guru ditanya atau diajak diskusi oleh pihak lain mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jadi jawabannya bahwa guru adalah pelaku aktif dan pelatak dasar bangunan kokoh bagi dirinya dan siswanya untuk mampu menguasai dunia Teknlogi Informasi dan Komunikasi secara lebih praktis dan mendalam di kemudian hari.

Posted by: denidarma | November 22, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started