Assalamu alaikum…
Kali ini gue mau ngebahas tentang pilihan hidup. Kayaknya nih ya, bahasan ini bakal panjang banget, gak kayak biasanya yang cuman ngabisin lebih kurang 600 kata. Gak seperti biasanya, kali ini bahasanya lebih bebas karena gue merasa lagi pengin aja pakai bahasa Indonesia yang lebih bebas kali ini.
Hidup selalu membuat kita berada dalam sebuah pilihan. Dari lahir kita memang tidak memilih mau dilahirkan di keluarga yang mana, tidak memilih agama kita. Namun yang harus kita lakukan adalah menerimanya dengan ikhlas, lapang dada. Gue inget waktu lulus TK disuruh memilih SD mana yang mau gue masuki.
“Dek, mau masuk SD Coblong atau Banjarsari?” kata bokap.
”Banjarsari, Pih,” gue bilang. Padahal gue gak tau banjarsari di mana, gak tau banjarsari itu SD favorit, dan gak tau kalo ternyata SD banjarsari adalah SD yang pada jaman dulu sampai sekarang itu adalah sekolah dasar yang pada umumnya kalangan menengah ke atas.
Dari kecil gue udah gaul sama anak-anak tajir. Hasilnya sekarang gue susah gaul sama temen-temen seangkatan gue di lingkungan rumah. Menyesal? Gak sama sekali. Gue menerimanya. Emang sih, kadang gue kena bully di SD sebagai si gendut, gue kena bully di lingkungan rumah sebagai anak kurang pergaulan, iya lah gak level sama anak kampung pikir gue gitu. Tapi hal baiknya adalah gue sekarang punya temen-temen pebisnis dan itu temen-temen SD gue.
Masuk SMP, saat itu gue memilih SMP 7. Tapi sayang Allah berkehendak lain. Gue gak keterima di SMP 7 dan terjebak di SMP 35 yang isinya kebanyakan anak-anak yang nakalnya kampungan. Gue gak menyesal karena bisa beradaptasi dengan baik walaupun lagi-lagi kena bully anak-anak yang sok preman. Bersyukur gue gak ikutan nakal, malah kegalauan gue salurkan dengan seringnya gue gaul sama kakak-kakak SMA remaja mesjid. Di masa SMP juga gue mengenal khuruj fii sabilillah walaupun ketika itu gue gak ngerti-ngerti amat tapi setidaknya adab-adab sunnah yang didapat gue terapkan dalam keseharian gue sampe sekarang.
Di masa SMP juga gue memilih menjadi Playboy. Gue PDKT-an sama banyak cewek yang memang berujung penolakan, patah hati, dan hampir dari semua penolakan adalah kesalahan gue karena bersikap konyol ketika nembak sehingga si cewek illfeel sama gue. Soal sikap konyol, gue gak mau cerita. Terlalu memalukan.
“Masa terakhir sekolah adalah SMA dan masa SMA adalah yang masa-masa yang paling memoriable.” Masa? Iyaa. SMA, gue gak masuk sekolah favorit sih tapi Alhamdulillah masih negeri. Sejak SMP gue seneng banget edit-edit foto di photoshop dan gue berfikir untuk ikut ekskul fotografi di SMA. Namun, kakak ipar menganjurkan gue ikut pencinta alam di SMA nanti, katanya banyak fotografer yang lahir dari perhimpunan pencinta alam. Oke fix, gue memilih untuk nurut, lagian gue gak nemu ekskul fotografi di SMA 19. Gue pikir gak ada eskul fotografi di 19 dan ternyata gue salah, ekskul fotografi di 19 itu ada. Well gue gak menyesal dengan pilihan gue masuk pencinta alam karena wawasan gue lebih terbuka dan gue belajar untuk lebih bertanggung jawab.
Ya, setiap pilihan kadang tidak selalu tepat, kadang mengecewakan, dan selalu ada konsekuensi yang kita hadapi. Penyesalan memang selalu datang di akhir namun penyesalan bukanlah sebuah akhir. Justru penyesalan adalah sebuah awal dari perubahan menuju yang lebih baik. Seperti pada cerita cinta gue. Yaa, alay mode on.
Pertama kali gue merasakan jatuh cinta adalah SMA kelas 11. Gue suka sama cewek yang namanya Dini. Ia satu ekskul sama gue yaitu IKREMA. Seperti orang jatuh cinta pada umumnya, mendadak gue jadi orang yang super aneh. Abisnya gak nyangka aja ternyata doi juga suka sama gue. Gue memilih untuk gak menyampaikan perasaan gue karena gue cukup tau dari sahabat kita waktu itu, Maryam namanya. Ternyata itu pilihan yang salah. Dini memutuskan untuk menyerah menunggu pernyataan gue dan memilih Doni sebagai pacar pertamanya. Begitulah yang gue tau.
Gak lama kemudian kelas 12 untuk pertama kalinya gue punya pacar. Sebut saja ia Missa. Anak jepangan, masih kelas 10, dan lebih tinggi dari gue 10 cm waktu itu. Cuma bertahan sebulan, putus gara-gara diadu domba. Tapi kita putusnya baik-baik kok. Jujur aja waktu itu gue belom move on dari Dini dan pacaran sama Missa adalah pilihan yang salah karena konsekuensinya orang menganggap doi cuma sebagai pelarian gue. Tapi gak gitu kok. Gue menyesal. Namun dari penyesalan itu gue tau hubungan gue selanjutnya harus gimana.
Setelah itu, masuk masa kuliah. Baru masuk smester pertama gue udah punya pacar lagi anak SMA kelas 10. Namanya gue rahasiakan. Secara fisik, Doi tipe gue banget. Chubby, berkacamata, dan yang paling penting lebih beke dari gue. Selain itu momen-momen pacaran kita yang sederhana bikin gue inget sampai lima tahun kedepan setelah kita putus. Hubungan kami berjalan 3 bulan, putus secara baik-baik. Gue pikir doi jenuh dengan hubungan ini dan semua terungkap setelah lima tahun dari putus. Gue masih berteman sampai sekarang, kok. Ketika putus gue gak tau apa yang menjadi kesalahan gue. Satu-satunya penyesalan gue adalah tidak mempertahankan doi karena gue terlalu sayang sama doi.
Ceritanya gak sampai dua bulan, gue udah punya pacar lagi. Ini yang paling awet walaupun banyak berantemnya, banyak putus nyambungnya, tapi karena doi gue dapet banyak pengalaman tentang bagaimana menjalani hubungan. Tentang kesalahan gue yang suka bahas mantan bahkan sejak hubungan gue sebelumnya, kesalahan gue yang terlalu cuek, gak dewasa, dan banyak hal. Hubungan yang gue jalani selama 3 tahun gak berakhir baik. Selain itu akhir dari hubungan kami meninggalkan penyesalan besar buat gue karena memilih untuk berakhir gitu aja, namun apapun penyesalan yang gue alami harus gue terima.
Ya, sebenarnya masih banyak cerita yang lainnya, sih tapi menurut gue cerita di atas sudah cukup mewakili tema gue kali ini. Jujur aja, alasan gue bahas ini karena beberapa waktu lalu gue dihadapkan dengan pilihan. Kali ini gue memilih seorang perempuan yang secara fisik bukan tipe gue banget, adik sepupu gue juga bertanya kenapa kok milih doi? Dengan bangga gue bilang, “gue butuh dia, gue sayang sama dia.” Menyesal? Mungkin nanti ada penyesalan tapi gue siap menerima itu.
setiap pilihan kadang tidak selalu tepat, kadang mengecewakan, dan selalu ada konsekuensi yang kita hadapi. Penyesalan memang selalu datang di akhir namun penyesalan bukanlah sebuah akhir. Justru penyesalan adalah sebuah awal dari perubahan menuju yang lebih baik
Wassalamu alaikum…
(denny.nurrakhman@gmail.com)