Posted in cuap-cuap

Two Year Gone

Assalamu’alaikum semuanya. Apa kabarnya nih manteman?

Terakhir kali nulis di sini, saya bercerita tentang keputusan saya untuk menyudahi ketidakjelasan hubungan itu lho. Hari ke hari berlalu sampai tulisan ini dibuat saya tidak bercerita apa-apa karena saya pikir tidak ada yang seru untuk saya tulis. Atau memang sudah lupa untuk menulis hahaha.

Kali ini saya ingin cerita kemana saja saya dua tahun ini gak nulis, sibuk ngapain, udah nikah belom?

Jadi ceritanya, saya punya kesibukan sejak saat itu. Saya mendapat pekerjaan dengan upah yang minimalis setelah sebulan perpisahan, yaitu menjadi operator SD. Buat yang gak tau apa itu operator sekolah, itu adalah sebuah jabatan khusus di sekolah yang mengelola data pokok pendidikan. Pekerjaannya luar biasa merepotkan bagi yang belum terbiasa seperti saya. Oke skipp soal ini. Intinya adalah ketika saya digantung kayak jemuran karena saya gak punya kerja, inilah yang terjadi. hehe.

Baiklah, selain bekerja saya juga mencoba aktif di Ruang Ilmu. Suatu komunitas pendidikan yang berbeda dari komunitas lainnya. Jika kalian punya kritik dan saran terhadap pendidikan indonesia, kalian bisa gabung dan terjun sebagai volunteer untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak kita nantinya. Malah promosi, hehe.

Jadi itulah kegiatan saya dua tahun lalu sedari oktober ya, ngurus administrasi online dan ngajar Bahasa Jepang untuk anak-anak putus sekolah di Ruang Ilmu.

Apakah saya sudah menikah?
Ya, saya sudah menikah bahkan akan memiliki seoarang anak. Terlalu panjang kalau saya cerita gimana proses dari ketemu sampai ke nikahan itu, yang jelas saya hanya bertemu sekali, chating tiga hari lalu saya ajak menikah dan dia mau, lalu kami progres selama empat bulan dan kami menikah di tangal 13 April 2018.

So, dari tulisan saya sebelumnya yang terlalu banyak curhat kalau ada yang nanya itu kenapa? Ya itu memang saya nulis karena saya jarang ketemu sama temen-temen deket saya yang biasa saya ajak curhat jadi saya curhat sama pembaca aja lah gak apa-apa. Kedepannya insya Allah akan nyusun konten lebih baik lagi based on pengalaman dan perbukuan kali ya.

Saya berharap banyak ada yang mengomentari tulisan saya, kritik positif dan saran supaya saya dan blog ini bisa berkembang lebih baik lagi.

Posted in cuap-cuap, curhat dan curcol

Lebih Baik Lagi?

Setiap perubahan dalam prosesnya melibatkan orang lain. Dari orang yang baik kepada kita juga dari orang yang kurang baik terhadap kita, maka berterimakasihlah pada mereka yang menjadikan diri kita lebih baik lagi. Hormati mereka, hargai mereka. Jangan lupa bersyukur juga pada Allah karena tanpa Allah kita bukan apa-apa.

Assalamualaikum…

Setelah beberapa waktu lalu banyak teman-teman yang baca, mereka kasih saran katanya mending pake ‘saya’ dari pada ‘gue’ untuk kata ganti orang pertama. Lalu, konten saya yang banyakan curhat daripada cuap-cuap katanya, well, kalau yang ini maklum aja namanya juga random blog yang isinya tumpahan kegelisahan yang mengganggu hari-hari saya kalau gak ditulis.

Mungkin kali ini bakalan curhat lagi. Bukannya apa-apa, saya mulai bosan bercerita lewat lisan setiap kali orang bertanya masalah yang sama. Jadi kalau orang ada yang nanya tetang sesuatu yang terjadi pada saya, tinggal saya kasih link. Dia dapet cerita, viewer saya nambah. hehehe.

Pertama, saya curhat dulu deh. Ini cerita tentang hubungan saya sama Elin yang akhirnya kandas juga kawan-kawan. Yah, aku sih rapopo, gak tau deh dianya gimana karena ini keputusan saya untuk menyudahi semua ini (lebay mode on). Kita mulai ceritanya dari awal, ramadhan kemarin saya silaturrahmi ke Bang Gusbeth, beliau ini da’i dari kalimantan yang menetap di Dago, Bandung. Saya bertanya soal pernikahan tentang mendidik istri suapya bisa jadi makmum yang baik untuk kita dan yang paling ngena banget buat saya, “Ya dari awal antum harus jujur mengenai jati diri antum, kalau antum datang dengan pakaian kekinian ala-ala orang non-muslim antum sudah gak jujur jadinya.” Oh, baiklah… ternyata ada kesalahan di awal pertemuan dengan orang tuanya.

Dengan harapan semua bisa diperbaiki, tanpa pikir panjang lagi saya ambil keputusan mengganti cara berpakaian sehari-hari. Kemana-kemana pakai pakaian sunnah. Baju gamis, celana cingkrang, dan peci gak pernah lepas kemana-kemana. Efeknya juga masya Allah, hampir semua kebiasaan buruk saya terbatasi karena pakaian ini. Singkat cerita, saya silaturrahmi ke dapur oma, tempat Bejo kerja selama ramadhan. Lagi-lagi ditanya soal kemajuan hubungan saya sama doi yang masih di situ-situ aja. Akhirnya dia cerita gimana kemajuan dia sama Bella dan ada poin yang saya tangkap dari obrolan waktu itu adalah, “Tentukan tanggal pernikahan, walaupun kita belom punya kerjaan tetap yang penting tetap bekerja.”

Sepulang dari Dapur Oma, saya diskusikan sama Elin lewat chat dan besoknya dengan pakaian sunnah saya berkunjung ke rumahnya. Di rumahnya juga lebih banyak ngobrol sama bapaknya dan seperti biasa bapaknya lebih mendominasi obrolan sampai bingung ngobrolin nikahan mulainya dari mana. Setelah itu, diskusi sama Elin buat nentuin tanggal bakal diserahkan ke orang tua kami, tepatnya saat halal bihalal keluarga saya ke rumahnya di Cihanjuang.

Lama gak chatting, akhirnya saya chat duluan dan tiba-tiba dia bilang pengen sendiri dulu. Wait, ada apa ini? Dia cerita tentang ibunya yang iri melihat anak tetangganya menikah, rasanya ingin cepat melihat anaknya menikah juga, setelah itu doi ditanya apakah saya sudah dapat kerja atau belum? dan doi merasa bosan dengan itu, lantas ingin sendirian dulu. Okay, saya coba ngertiin dan gak hubungi dia sama sakali sampai lebaran. Seminggu setelah lebaran saya ke rumahnya karena kesal chat gak dibalas. Saya nanya, apa hubungan ini mau dilanjut atau enggak? dan dia malah nanya pendapat saya. Saya yang ambil keputusan dan dia yang ngasih usulan harusnya. Saya gak punya pendapat apa-apa, saya serahkan sama dia. “Silakan kamu pikirkan dulu, nanti bilang sama aku, aku yang ambil keputusan,” kubilang. Doi malah bilang, “mending kamu ngobrol sama bapak,” what? yang jalanin kita berdua ya urusannya kita berdua dulu lah, kupikir.

Karena mulai ngeganggu pikiran saya, ibadah juga gak konsen, bawaannya malah pengen main sama tidur mulu, akhirnya saya ambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini dengan perpisahan. (tuh kan lebay)

Galau mungkin belum, ya, tapi ada pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini. Seperti halnya Nabi Ayub yang diuji dengan berbagai kehilangan kemudian beliau tingkatkan amal agama, maka dengan kejadian ini juga saya berharap bisa istiqomah meningkatkan amal dan pengorbanan untuk agama. Bisa lebih fokus lagi dalam dakwah dan lebih bersungguh-sungguh lagi ibadahnya. Memang sangat pedih rasanya berpisah dengan orang yang kita sayangi, tetapi Allah tahu betul mana yang terbaik untuk kita dan pasti kita akan berpisah dengan hal yang Allah anggap itu kurang baik untuk kita.

Ketika kita memutuskan untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi, kita berdoa kepada Allah untuk dilancarkan hijrahnya maka Allah akan bantu kita dengan mengganti semua hal yang kurang baik menjadi yang terbaik untuk kita. Seperti saya yang mengganti cara berpakaian saya, mengganti lingkungan bergaul, memilih teman yang lebih baik, semua jalan Allah tunjukan jika kita mau sadar.

Setiap perubahan dalam prosesnya melibatkan orang lain. Dari orang yang baik kepada kita juga dari orang yang kurang baik terhadap kita, maka berterimakasihlah pada mereka yang menjadikan kita lebih baik lagi. Hormati mereka, hargai mereka. Jangan lupa bersyukur juga pada Allah karena tanpa Allah kita bukan apa-apa.

(denny.nurrkahman@gmail.com)

Posted in cuap-cuap

Bekerja

Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaima kematian mengejarnya. (H.R. Ibnu Hibban)

Assalamu’alaikum

Jaraknya agak jauh sekali antara hari ini dengan terakhir kali saya ngeblog. Ya, memang saya tidak sekonsisten kawan-kawan blogger atau penulis lain karena saya menulis blog ketika ada opini di kepala saya yang lebih baik diutarakan.

Kali ini saya tidak menggunakan bahasa percakapan bebas ala-ala anak muda masa gini-gini aja karena penyampaian kali ini bukanlah sesi curhat.

Yang mengganggu pikiran saya kali ini adalah tentang bekerja. Ada suatu pertentangan dalam pendapat pada umumnya dengan pendapat saya yang berdasar pada ajaran Islam, bahwa bekerja adalah perantara datangya rezeki sedangkan menurut saya rezeki akan datang kepada kita tanpa perantara. Namun ini bukan berarti kita tidak perlu bekerja, hanya saja pekerjaan tidak ada hubungannya dengan rezeki.

Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaima kematian mengejarnya. (H.R. Ibnu Hibban)

Rezeki sudah Allah jamin seperti kematian, pasti dan pasti akan menghampiri. Otak kita sudah terseting bahwa uang adalah rezeki, maka pastilah bekerja menjadi perantara datangnya rezeki. Saya tidak setuju. Tentunya kita harus mengubah sudut pandang seperti ini karena seakan-akan eksistensi Allah tidak diakui, seakan-akan Allah tidak kuasa memberi kita rezeki tanpa perantara. Lalu bagaimana seharusnya?

Bekerja adalah perintah Allah subhanahu wata’ala dan sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, maka jika tidak bekerja malulah kita sebagai seorang muslim. Ulama katakan, “Orang yang bekerja 70 kali lebih mulia dari seorang yang tidak bekerja,” maka seoarang muslim akan lebih mulia dirinya di sisi Allah ketika bekerja. Namun, jangan kita salah dalam memilih pekerjaan, karena bisa saja pekerjaan kita membuat diri kita hina di sisi Allah. Carilah keberkahan dalam bekerja, karena boleh jadi pekerjaan yang rendah dipandang manusia adalah mulia dipandang Allah.

Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

Sungguh sekiranya salah seorang di antara kamu sekalian mencari kayu bakar dan dipikulnya ikatan kayu bakar itu, maka yang demikian itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta pada seseorang, baik orang itu memberi atau tidak memberinya [HR. Bukhari]

dan dalam hadist yang panjang Beliau bersabda:

sesungguhnya, dunia itu diperuntukan bagi empat orang; pertama seorang hamba yang diberi harta dan ilmu oleh Allah dan dengannya ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim dan ia tahu ada hak Allah dalam hartanya. ini adalah seutama-utama kedudukan. Kedua, seorang yang diberi ilmu oleh Allah namun ia tidak diberi harta, kemudian ia berniat seraya berkata, ‘’seandainya aku punya harta sungguh aku akan beramal sebagai mana si fulan (yang pertama).” dengan niatnya itu maka pahala keduanya adalah sama. Ketiga, seorang hamba yang tidak diberi ilmu namun hanya diberi harta oleh Allah. lalu ia membelanjakan hartanya tanpa dengan pengetahuan dan tidak dijadikan sebagai wasilah untuk bertaqwa pada Allah dan menyambung silaturrahim dan ia juga tidak tahu bahwa di dalamnya ada hak Allah, maka ini serendah-rendahnya kedudukan. Keempat, seorang hamba yang tidak diberi ilmu dan harta oleh Allah dan ia berkata, “seandainya aku punya harta sungguh aku akan beramal sebagai mana si fulan (yang ketiga),” maka dosa keduanya adalah sama [HR. Turmudziy]

Seorang muslim haruslah bekerja sungguh-sungguh bahkan lebih baik dari orang non muslim, karena bekerjanya muslim semata-mata untuk ibadah, menjalankan perintah Allah. Namun dalam kesungguh-sungguhan kita bekerja, hati-hati jangan sampai kita mengesampingkan perintah Allah yang lain, seperti shalat dan ibadah mahdhoh yang derajatnya lebih tinggi dari bekerja. Jika begitu, lama-kelamaan akan diperbudak dunia. Sesibuk apa pun bekerja, sisihkan waktu untuk perintah Allah yang lain dan lanjutkan pekerjaan jika sudah selesai.

(denny.nurrakhman@gmail.com)

 

Posted in curhat dan curcol

JODOH: Ditunggu atau Dicari?

Ada orang yang memang harus nyari dan ada orang yang harus nunggu. Kita gak pernah tahu ada di posisi mana kita berada. Namun benar kata orang bahwa “jodoh gak akan kemana” dan jika jodoh, ia pasti akan menemukan jalannya sendiri. Carilah jika kau mampu, tunggulah jika kau yakin. Percayalah bahwa Allah akan mempertemukan kau dengannya.

Assalamu alaikum…
Gue Deni Galing. Panggil aja Degal supaya singkat.

Sesuai judul, kali ini gue akan membahas tentang mana yang lebih baik antara menunggu jodoh atau mencari jodoh.

Sekalian aja gue curhat, hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidup gue. Salah satu hari yang bersejarah lebih tepatnya. Kenapa? Karena gue akhirnya telah menunjukan keseriusan gue dalam suatu hubungan dengan seorang cewek yang gue suka, namanya Elin. Secara fisik dia bukan tipe gue tapi secara personality dia cewek yang gue butuhkan. Ceritanya, waktu kuliah dulu, Elin adalah teman sekelas gue di kelas A, jurusan pendidikan bahasa jepang, UPI. Gue kagum dengan dia yang berjuang sekuat tenaga demi kuliahnya. Temen-temen gue bilang dia adalah orang yang super sibuk dengan kegiatan kuliah dan cari penghasilan buat bantu orang tua juga memenuhi kebutuhan kuliahnya, tapi kekaguman gue karena dia benar-benar contoh mahasiswi yang produktif. Setiap waktunya dia manfaatkan sebaik mungkin. Dari pagi dia udah stay di kampus buat belajar, padahal waktu masuk masih lama. Pulang dari kampus sangat sore demi ngerjain tugas. Sampai di rumah dia jahit orderan baju sampai malem. Bangun tidur jam 3 dan masih lanjutin jahit atau sebagian ngerjain tugas yang belom beres. Lalu, di ulang lagi begitu.

Suatu saat dia pengin lihat-lihat wayang. Gue bilang, “ada sih di saung angklung Udjo, tapi kalau mau yang gratisan bisa lihat di taman budaya dago thee huis.” Lalu dia milih yang gratisan. Karena Dago Thee Huis bisa dicapai dengan jalan kaki dari rumah gue, akhirnya dia gue bawa ke rumah gue. Tapi gak gue masukin tas, soalnya gak muat.

Kami jalan kaki dari rumah gue Dago Thee Huis, lihat-lihat wayang, lalu lanjut ke Curug Dago. Menurut cerita Elin, dia jatuh cinta sama gue ketika itu tapi gue cuman suka biasa aja sama dia. Gue beberapa kali nganterin dia ke rumahnya karena sering banget lihat dia jalan kaki pulang dari kampus. Seiring berjalannya waktu, gue sering banget duduk sebelahan sama Elin, dia sering bangunin gue kalau gue tertidur di tengah-tengah kuliah, dan gue mulai punya perasaan lebih. Gue sadar saat itu gue masih punya pacar, makanya gue tahu diri. Ya, temen-temen deket gue tahu betul gue bisa jatuh hati sama banyak perempuan. Kakak gue juga memaklumi karena laki-laki kodratnya memang begitu. Gue buaya tapi buaya yang tulus. Preeeet.

Sebelumnya gue cerita tentang kecelakaan nyokap gue kan? Di saat yang sama Elin nyatain perasaannya ke gue. Pakai bahasa Jepang. Waktunya memang gak tepat, sih karena gue syok lihat keadaan nyokap, ditambah kaget lihat isi chat dari Elin, sekaligus seneng ternyata ada orang lain yang bisa mendem perasaannya sama gue begitu lama. So, gue putuskan untuk ajak dia jalan. Elin ngajak ketemuan di salah satu kedai ramen di Bandung namanya gue lupa. Setelah makan dan ngobrol banyak di sana, kita lanjutin kencan kita ke KONBANWA Fest. Itu adalah sebuah acara event ke-Jepang-an yang biasanya gue dan Elin sering datengin. Lucunya, lebih tepatnya sih kampret moment saat itu, anak-anak Zeru (ekskul yang gue dirikan) mergokin gue. Bukan gue gak seneng tapi malu aja sih. Setelah puas berkeliling akhirnya gue anter Elin pulang. Alhamdulillah gue masih inget rumahnya.

Memang awalnya masih ragu apakah gue mau melanjutkan hubungan ini atau enggak. Masalahnya gue baru saja mengakhiri perjuangan gue untuk meyakinkan keluarga Nizar atas niat gue menikahinya. Akhirnya gue tanya temen-temen tentang Elin, cari informasi tentang pribadinya Elin seperti apa. Informasi yang gue dapet semuanya bagus banget dan gue suka, selanjutnya gue beberkan sifat buruk gue sama dia. Elin selalu membalas seolah sifat buruk gue bukan masalah buat dia terutama bagian temperamen. Terakhir gue butuh tanggapan orang tuanya dan ternyata setelah gue berkunjung ke rumahnya beberapa kali orang tuanya bilang sama Elin, “kalo dia sering kesini cuma buat main sih gak masalah tapi kalo punya niat lebih baik segerakan.” Kira-kira begitulah translatenya. Soalnya bapak bilangnya pake bahasa Sunda.

Begitulah garis besarnya hingga hari ini niat serius gue buktikan sama keluarganya Elin dan alhamdulillah tanggapannya baik. Mereka setuju dengan hubungan kami. Gue berfikir, apakah benar jodoh itu harus dicari sedangkan ketika gue nyari seringnya gagal tapi ketika gue gak nyari pilihan datang dengan sendirinya? Gue mencoba menemukan jawabannya dan inilah kesimpulan gue:

Ada orang yang memang harus nyari dan ada orang yang harus nunggu. Kita gak pernah tahu ada di posisi mana kita berada. Namun benar kata orang bahwa “jodoh gak akan kemana” dan jika jodoh, ia pasti akan menemukan jalannya sendiri. Carilah jika kau mampu, tunggulah jika kau yakin. Percayalah bahwa Allah akan mempertemukan kau dengannya.

Gue gak pernah tahu Elin jodoh atau bukan sampai akhirnya penghulu bilang “SAH” ketika gue selesai ijab kabul sama bapaknya.

(denny.nurrakhman@gmail.com)

Posted in curhat dan curcol

Belajar Dari Pengalaman

Assalamu alaikum…

Bahasan gue tentang bagaimana belajar dari kesalahan. Mungkin sering dari kalian yang berpikir bahwa ada yang salah di sekitar kita. Entah itu lingkungan kita, berita di teve, teman-teman kita, atau bahkan kita merasa pendidikan yang orang tua kita berikan itu salah, tidak sesuai, tidak serasi. Yaa, semacam itu lah.

Kita merasa kesal, merasa marah ketika melihat suatu kesalahan seperti buang sampah sembarangan misalnya, tapi kita juga enggan untuk bilang, “Hei, buang sampah ke tempatnya, dong!” Kita malas menegur orang padahal itu bermanfaat buat orang yang ditegur juga buat orang banyak. Ya, walau pun begitu setidaknya kita bisa pungut sampah itu demi orang lain, kan?

Sebuah pepatah bilang “Pengalaman adalah guru terbaik,” gue percaya itu benar. Pengalaman buruk atau pengalaman baik. Pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Menurut gue yang anak rumahan, belajar dari pengalaman orang lain itu jauh lebih baik. Semisal bagaimana orang bisa masuk lobang segede gitu gak keliatan, maka kita jangan masuk ke lobang yang sama. Terus gimana orang bisa selamet di jalan yang berbahaya, maka kita ikuti caranya. Ya, belajar dari kehidupan memang sesederhana itu. Sayangnya selalu ada tumbal untuk suatu kesalahan. Bisa jadi kita sendiri adalah tumbal (korban) dari sebuah pelajaran hidup orang banyak. Ngerti gak sih maksud gue? enggak ya? Gini, maksudnya adalah kita menjadi contoh supaya orang lain gak terjerumus seperti kita. Kurang lebih kayak gitu deh.

Gue sering menemukan kesalahan-kesalahan bahkan pada diri gue sendiri. Itu cukup memberikan pelajaran bahwa gue jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama. Gue yang sedang menghadapi pernikahan pun gak punya role model membina rumah tangga yang baik di keluarga gue. Gue gak tau bagaimana cara kakak gue membina rumah tangganya tapi sebagian bisa gue contoh, kalo orang tua, sih gue gak contoh hal-hal baiknya tapi gue bersyukur karena gue mengevaluasi kesalahan yang terjadi supaya gak terjadi di rumah tangga gue nanti. Dari memilih istri yang baik sampai hal yang gak boleh gue lakuin ke istri dan anak nanti.

Gue menulis ini terinspirasi dari keluhan nyokap tentang bokap. Nyokap pengin bokap berhenti dari pekerjaannya sebagai taxi driver karena penghasilan gak jelas, ibadah gak jelas, utang makin nambah, jarang pulang, dan masih banyak lagi. Lalu nyokap bilang, “padahal kalo babeh lu mau berhenti kan bisa usaha bareng.” Hm… di situlah gue inget bahwa membangun rumah tangga itu adalah kerjasama dalam segala hal, apalagi urusan finansial.

Allah mengedukasi kita dengan cara yang unik. Tidak hanya memberi sejarah bagaimana orang sukses dan gagal tapi juga memberi pelajaran selama kita hidup. Allah ngasih hidayah ke setiap orang tanpa kecuali, problemnya adalah kitanya yang gak sadar akan hidayah itu.

Wah kok jadi ke sana nyambungnya ya? ya udah deh gitu aja.

Wassalamu alaikum…

(denny.nurrakhman@gmail.com)

 

Posted in cuap-cuap, curhat dan curcol

Life is a Choice

Assalamu alaikum…

Kali ini gue mau ngebahas tentang pilihan hidup. Kayaknya nih ya, bahasan ini bakal panjang banget, gak kayak biasanya yang cuman ngabisin lebih kurang 600 kata. Gak seperti biasanya, kali ini bahasanya lebih bebas karena gue merasa lagi pengin aja pakai bahasa Indonesia yang lebih bebas kali ini.

Hidup selalu membuat kita berada dalam sebuah pilihan. Dari lahir kita memang tidak memilih mau dilahirkan di keluarga yang mana, tidak memilih agama kita. Namun yang harus kita lakukan adalah menerimanya dengan ikhlas, lapang dada. Gue inget waktu lulus TK disuruh memilih SD mana yang mau gue masuki.

“Dek, mau masuk SD Coblong atau Banjarsari?” kata bokap.
”Banjarsari, Pih,” gue bilang. Padahal gue gak tau banjarsari di mana, gak tau banjarsari itu SD favorit, dan gak tau kalo ternyata SD banjarsari adalah SD yang pada jaman dulu sampai sekarang itu adalah sekolah dasar yang pada umumnya kalangan menengah ke atas.

Dari kecil gue udah gaul sama anak-anak tajir. Hasilnya sekarang gue susah gaul sama temen-temen seangkatan gue di lingkungan rumah. Menyesal? Gak sama sekali. Gue menerimanya. Emang sih, kadang gue kena bully di SD sebagai si gendut, gue kena bully di lingkungan rumah sebagai anak kurang pergaulan, iya lah gak level sama anak kampung pikir gue gitu. Tapi hal baiknya adalah gue sekarang punya temen-temen pebisnis dan itu temen-temen SD gue.

Masuk SMP, saat itu gue memilih SMP 7. Tapi sayang Allah berkehendak lain. Gue gak keterima di SMP 7 dan terjebak di SMP 35 yang isinya kebanyakan anak-anak yang nakalnya kampungan. Gue gak menyesal karena bisa beradaptasi dengan baik walaupun lagi-lagi kena bully anak-anak yang sok preman. Bersyukur gue gak ikutan nakal, malah kegalauan gue salurkan dengan seringnya gue gaul sama kakak-kakak SMA remaja mesjid. Di masa SMP juga gue mengenal khuruj fii sabilillah walaupun ketika itu gue gak ngerti-ngerti amat tapi setidaknya adab-adab sunnah yang didapat gue terapkan dalam keseharian gue sampe sekarang.

Di masa SMP juga gue memilih menjadi Playboy. Gue PDKT-an sama banyak cewek yang memang berujung penolakan, patah hati, dan hampir dari semua penolakan adalah kesalahan gue karena bersikap konyol ketika nembak sehingga si cewek illfeel sama gue. Soal sikap konyol, gue gak mau cerita. Terlalu memalukan.

“Masa terakhir sekolah adalah SMA dan masa SMA adalah yang masa-masa yang paling memoriable.” Masa? Iyaa. SMA, gue gak masuk sekolah favorit sih tapi Alhamdulillah masih negeri. Sejak SMP gue seneng banget edit-edit foto di photoshop dan gue berfikir untuk ikut ekskul fotografi di SMA. Namun, kakak ipar menganjurkan gue ikut pencinta alam di SMA nanti, katanya banyak fotografer yang lahir dari perhimpunan pencinta alam. Oke fix, gue memilih untuk nurut, lagian gue gak nemu ekskul fotografi di SMA 19. Gue pikir gak ada eskul fotografi di 19 dan ternyata gue salah, ekskul fotografi di 19 itu ada. Well gue gak menyesal dengan pilihan gue masuk pencinta alam karena wawasan gue lebih terbuka dan gue belajar untuk lebih bertanggung jawab.

Ya, setiap pilihan kadang tidak selalu tepat, kadang mengecewakan, dan selalu ada konsekuensi yang kita hadapi. Penyesalan memang selalu datang di akhir namun penyesalan bukanlah sebuah akhir. Justru penyesalan adalah sebuah awal dari perubahan menuju yang lebih baik. Seperti pada cerita cinta gue. Yaa, alay mode on.

Pertama kali gue merasakan jatuh cinta adalah SMA kelas 11. Gue suka sama cewek yang namanya Dini. Ia satu ekskul sama gue yaitu IKREMA. Seperti orang jatuh cinta pada umumnya, mendadak gue jadi orang yang super aneh. Abisnya gak nyangka aja ternyata doi juga suka sama gue. Gue memilih untuk gak menyampaikan perasaan gue karena gue cukup tau dari sahabat kita waktu itu, Maryam namanya. Ternyata itu pilihan yang salah. Dini memutuskan untuk menyerah menunggu pernyataan gue dan memilih Doni sebagai pacar pertamanya. Begitulah yang gue tau.

Gak lama kemudian kelas 12 untuk pertama kalinya gue punya pacar. Sebut saja ia Missa. Anak jepangan, masih kelas 10, dan lebih tinggi dari gue 10 cm waktu itu. Cuma bertahan sebulan, putus gara-gara diadu domba. Tapi kita putusnya baik-baik kok. Jujur aja waktu itu gue belom move on dari Dini dan pacaran sama Missa adalah pilihan yang salah karena konsekuensinya orang menganggap doi cuma sebagai pelarian gue. Tapi gak gitu kok. Gue menyesal. Namun dari penyesalan itu gue tau hubungan gue selanjutnya harus gimana.

Setelah itu, masuk masa kuliah. Baru masuk smester pertama gue udah punya pacar lagi anak SMA kelas 10. Namanya gue rahasiakan. Secara fisik, Doi tipe gue banget. Chubby, berkacamata, dan yang paling penting lebih beke dari gue. Selain itu momen-momen pacaran kita yang sederhana bikin gue inget sampai lima tahun kedepan setelah kita putus. Hubungan kami berjalan 3 bulan, putus secara baik-baik. Gue pikir doi jenuh dengan hubungan ini dan semua terungkap setelah lima tahun dari putus. Gue masih berteman sampai sekarang, kok. Ketika putus gue gak tau apa yang menjadi kesalahan gue. Satu-satunya penyesalan gue adalah tidak mempertahankan doi karena gue terlalu sayang sama doi.

Ceritanya gak sampai dua bulan, gue udah punya pacar lagi. Ini yang paling awet walaupun banyak berantemnya, banyak putus nyambungnya, tapi karena doi gue dapet banyak pengalaman tentang bagaimana menjalani hubungan. Tentang kesalahan gue yang suka bahas mantan bahkan sejak hubungan gue sebelumnya, kesalahan gue yang terlalu cuek, gak dewasa, dan banyak hal. Hubungan yang gue jalani selama 3 tahun gak berakhir baik. Selain itu akhir dari hubungan kami meninggalkan penyesalan besar buat gue karena memilih untuk berakhir gitu aja, namun apapun penyesalan yang gue alami harus gue terima.

Ya, sebenarnya masih banyak cerita yang lainnya, sih tapi menurut gue cerita di atas sudah cukup mewakili tema gue kali ini. Jujur aja, alasan gue bahas ini karena beberapa waktu lalu gue dihadapkan dengan pilihan. Kali ini gue memilih seorang perempuan yang secara fisik bukan tipe gue banget, adik sepupu gue juga bertanya kenapa kok milih doi? Dengan bangga gue bilang, “gue butuh dia, gue sayang sama dia.” Menyesal? Mungkin nanti ada penyesalan tapi gue siap menerima itu.

setiap pilihan kadang tidak selalu tepat, kadang mengecewakan, dan selalu ada konsekuensi yang kita hadapi. Penyesalan memang selalu datang di akhir namun penyesalan bukanlah sebuah akhir. Justru penyesalan adalah sebuah awal dari perubahan menuju yang lebih baik

Wassalamu alaikum…

(denny.nurrakhman@gmail.com)

Posted in curhat dan curcol

Alasan Hiatus

Assalamu alaikum…

Yaaaa… akhirnya setelah berbulan-bulan saya gak update, ini blog idup lagi. Panjang ceritanya… maksudnya alasan kenapa saya vacum nulis. Seperti kata pepatah “selalu ada solusi bagi yang ingin sedangkan selalu banyak alasan bagi yang enggan” begitu juga dengan saya yang sekarang menulis ini karena ingin menjelaskan beberapa hal.

Nama blog ini nama saya sendiri “Deni Galing” dengan tagline “dan isi kepalanya”, maka sudah pasti saya tulis segala hal yang mengganggu yang harus saya tumpahkan dalam tulisan. Kalau orang mungkin biasa nyebut itu curhat, sedangkan saya nyebut itu TUMPAHAN KEGELISAHAN. ceilee…

Oke, sebenarnya saya mengalami sebuah trauma yang mengganggu saya sejak kecelakaan ibu saya pada akhir November kalau gak salah. Jadi ketika itu ibu saya memakai dress gitu, niatnya sih mau ambil nomor antrian buat beli gas di jalan Riau. Hari itu saya memilih motor trail buat anterin ibu dan saat itu saya gak sadar kalo itu pilihan yang buruk. Di jalan Taman sari, ujung bawah dressnya ibu nyangkut di gear belakang motor saya. Ibu saya ketarik jatoh dan keseret bersamaan dengan berhentinya putaran roda belakang. Sontak saya panik lihat keadaan ibu yang tergeletak dengan posisi tengkurap. Wajah ibu berdarah dan beberapa luka di lutut. Singkat cerita akhirnya ibu dibawa oleh ambulans ke rumah sakit terdekat, Santo Borromeus. Karena saya masih syok jadi sampai malam pertama ibu dirawat semua diurus sama kakak sedangkan saya nenangin diri di rumah.

Hari berikutnya sampai salesai masa rawat inap, saya habiskan waktu di rumah sakit dengan menulis naskah novel yang tertunda. Yang saya tulis itu draft cadangan dengan sudut pandang yang berbeda dengan draft asli. Plot tetap sama tapi dengan sudut pandang yang berbeda menghasilkan cerita yang berbeda. So, pada akhirnya karena sudut pandang baru membuat cerita lebih drama, komedi yang saya harapkan berkurang tingkat humornya. Ya sudah, balik lagi aja ke sudut pandang lama.

Bulan desember, adalah bulannya saya lahir dan bulannya saya bokek karena bener-bener gak ada projek yang nyantol sama sekali. Kata Bejo (sahabat saya di wigwam), “akhir tahun biasanya semua perusahaan lagi budgeting, pasrti susah proyekan.” Dan itu memang kenyataan. Tanggal 24 di saat saya lagi bokek-bokeknya, WIGWAM ngadai acara tahunan yaitu DIKLATSAR. Udah pada tahu kan, Pendidikan dan Latihan Dasar. Terpaksa saya absen di acara itu tapi sebagai gantinya saya bisa ngisi waktu saya buat ngelanjutin naskah saya sampai bagian 3. Pada tanggal 27 saya sama teman saya, Alnap, nyusul ke Ranca Upas, Ciwidey. Karena akan ada pelantikan dan penutupan diksar besoknya di Kawah Putih. Kampretnya, di Kawah Putih ada kejadian horror diawali dengan firasat gue ada makhluq ghaib lalu diteruskan dengan salah satu panitia yang kerasukan kuntilanak. Saya tahu itu kuntilanak karena tawa khasnya itu asem banget dah.

Seusai pelantikan, kami kembali ke SMA 19 bandung. Yang lain naik angkot dapet nyewa. Niatnya, saya juga mau naik angkot aja biar di jalan bisa tidur, tapi Eiji salah satu junior saya meminta saya menemani ia naik motor. Karena Eiji ngantuk gak ketahan Eiji tertidur saat ia bawa motor dan kami kecelakaan. untungnya gak parah-parah amat sih cuma luka-luka yang sembuhnya butuh waktu 2 minggu dan hape saya jadi matot gara-gara insiden itu. Saya bersyukur ikut sama Eiji karena kalau dia gimana-gimana, gimana? Perasaan menyesal karena gak ikut naik angkot sih ada tapi rasa sayang saya sama junior saya di WIGWAM membuat rasa sesal itu hilang. Selain itu, niat Eiji bertanggung jawab atas kerugian yang saya alami membuat saya bangga sama dia dan Eiji gak perlu mengganti kerugian itu karena Eiji juga sudah cukup rugi dengan kecerobohannya.

Nah jadi begitulah cerita saya atau bisa dianggap alasan saya gak update blog ini yang sejak september saya cuma update puisi gak jelas. Semoga dari cerita yang saya utarakan bisa jadi pelajaran bagi kalian bahwa safety riding itu penting. Kecerobohan kecil bisa berakibat fatal bagi orang lain terutama diri kita sendiri.

Mungkin di postingan selanjutnya saya mau cerita tentang pilihan hidup.

BTW ini postingan di awal tahun 2017. Yeay!

follow update-update gak penting lainnya di facebook dan buat karya foto saya di Instagram.
gak penting sih. artis juga bukan. tapi gapapa follow aja.

Assalamu alaikum.

Derap Langkah Pendaki

Derap langkah kaki para pendaki bergemuruh
Menghujam keras dinding tanah dan batu
Acuhkan derasnya hujan
Acuhkan ganasnya hewan

Derap langkah kaki para pendaki bergemuruh
Menghujam keras dinding tanah dan batu
Tiada satupun yang dapat menghalau
Tidak juga aku, tidak juga engkau

Derap langkah kaki para pendaki bergemuruh
Menghujam keras dinding tanah dan batu
Lelah letih separuh perjalanan
Telah tiba di puncak atas awan

Posted in cuap-cuap

Kenaikan Harga Rokok Apakah Hanya Bualan?

Ini bulan Agustus. Bulan depan (september) katanya harga rokok naik. Perokok banyak yang latah, mereka beli rokok dua kali lipat lebih banyak dari biasanya. Saya sih setuju saja kalau memang benar harga rokok naik. Secara, saya sebagai seorang lulusan jurusan pendidikan miris sekali melihat anak-anak di bawah umur berani merokok terang terangan. Memang bukan hal baru, bahkan sudah sejak lama kasus anak di bawah umur merokok, namun tidak banyak terekspos masyarakat seperti pada hari ini.

Banyak pro dan kontra mengenai kenaikan harga rokok terutama nasib petani tembakau. Sepertinya bukan masalah. Toh tembakau indonesia juga banyak di export ke luar negeri untuk diolah di sana dan kemudian di jual ke seluruh dunia termasuk Indonesia menjadi tembakau khusus untuk pemipa dan harganya tentu saja tidak murah. tidak semua kalangan masyarakat mampu membelinya, hanya menengah ke atas saja yang mampu membeli barang tersebut.

saya juga perokok. saya berbincang dengan teman saya yang juga perokok dan ia berkata, “saya yakin dalam hati seorang perokok, ada keinginan untuk berhenti. tapi karena rokok masih mudah untuk dibeli, maka sulit mereka berhenti.”

saya pikir ia benar. saya juga memiliki pipa yang sudah lama tidak saya gunakan untuk menikmati tembakau aromatic yang justru asapnya tidak mengganggu sama sekali. saya kesulitan untuk membeli tembakaunya, tidak seperti rokok yang bisa saya beli batangan.

ya, pada akhirnya saya setuju harga rokok naik, namun saya menemukan sebuah fakta bahwa kenaikan harga rokok bulan depan adalah untuk menaikkan penjualan rokok bulan ini.

“rokoknya gak sekalian beli dua bungkus pak? sebelum naik harganya bulan depan,” kata kasir atau SPG-nya.

saya mulai beranggapan apakah harga rokok pada akhirnya naik? atau hanya isu untuk menaikan penjualan? atau bisa saja itu pengalihan isu publik untuk menutupi sebuah fakta yang terjadi pada masyarakat?

kita tunggu saja.

(denny.nurrakhman@gmail.com)

Posted in cuap-cuap, curhat dan curcol

Balada PENGACARA (curhat)

Baru lulus kuliah, tepatnya setelah sidang. Beneran bingung mau cari kerja apaan, sedangkan yang terpikir masih pengen jalanin bisnis dari hobi fotografi. Itu juga karena ada pengalaman sebelumnya menjadi asisten fotografer sekaligus jadi backup photographer. Padahal lulusan jurusan pendidikan.

Beberapa waktu lalu, Nizar Ulfah, teman baikku dari SMA ngasih kabar katanya udah kerja di UNPAD. Sedang saya baru saja ditunjuk sebagai pelatih ekskul fotografi di SMA. Mendengar kabar itu Nizar bilang, “wah, mungkin kamu rezekinya gak jauh dari sekolahan, den.” Mungkin dia benar.

Hal itu membuat saya berfikir apa saya harus kembali mengajar bukan memotret? Ya, memang saya rindu ketika merasa letih sepulang dari sekolah setelah mengajar. Merasakan nikmatnya rumah, nikmatnya istirahat, secangkir kopi atau teh atau coklat yang kuminum ketika itu. aku rindu. Namun saat itu ada sesuatu yang memotivasi, sesuatu yang membuat saya mau merasa letih untuk itu. Hari ini motivasi itu lemah.

Insya Allah, urusan mengajar aka difikirkan lagi kedepannya.

sekarang ngurus proyek panjang sama dody Jayagiri. Alhamdulillah bantuan tenaga ada dari tetangga, I-De Motion yang nantinya kami salaing sokong dan berniat bekerja sama membuat induk perusahaan.

Beberapa waktu lalu, banyak ngobrol bisnis dari mas Bedjo. Dapet banyak masukan dan banyak belajar juga dari beliau. Dia sahabat seperhimpunan pendaki gunung. Meski seangkatan, ia lebih banyak berpengalaman dalam berbisnis.

Mungkin, Ibu sudah kesal melihat anaknya yang terlihat malas bekerja. Mungkin ibu pengennya saya ngajar di sekolah, kerja yang bener bukan bolak-balik ke kosan Ijal buat numpang wifi-an. padahal di sana juga saya membuat plan buat usaha saya juga usahanya Ijal.

Masih bingung, mau cari kerja atau enggak. Enggak tau kenapa merasa gak siap, gak kompeten. Padahal yang lain udah nyemangatin tapi rasanya masih ada rasa paranoid buat ambil keputusan itu. Seperti teman-teman yang udah nyemangatin buat nikah, tapi rasanya masih belom pantes aja, padahal udah wajib hahaha malah bahas itu

curhat aja sih…

walau tak semua tanya datang beserta jawab
dan tak semua harap terpenuhi
Ketika bicara juga sesulit diam.
utarakan utarakan utarakan