Aku sedang berpikir, tentang suatu praduga. Menduga-duga sesuatu layaknya aku mengetahui semua hal yang ada di dunia ini, bahkan tentang tulisan yang ditulis seseorang, gambar yang ia pajang dalam keseharian, dan perilaku pada sejumlah orang. Aku selalu menduga dengan praduga ku sendiri, tanpa memperhatikan, tanpa memperdulikan, bahwa yang menulislah yang lebih tahu tentang apa yang ia tulis, bahwa ia lebih paham tentang apa yang ia pajang dalam keseharian, dan pastinya ia lebih mengerti bagaimana harus bersikap.
Aku selalu mengkait-kaitkan apa yang ia tulis dengan ceritaku, ceritamu, dan ceritanya. Merangkai bulir-bulir pikiran di otak yang tak tahu itu benar atau salah, menjadi suatu rangkaian pikiran kompleks hingga membuat ku terus menduga hal yang harusnya tak layak untuk ku duga, sedikitpun itu. Sungguh, tak layak.
Aku selalu menduga jika sikapnya pada sejumlah orang bukanlah ia sesungguhnya, hanya kamuflase saja. Dia hanya berusaha terlihat ceria, padahal dia sedang menyembunyikan gurat amarah. Dia hanya berusaha terlihat baik-baik saja, padahal dia menyimpan sejuta masalah yang ia sendiri tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Sungguh, aku benar-benar tak layak menduganya.
Bahwa sejatinya aku salah. Tidak semua yang aku duga itu benar adanya, karena sesungguhnya akan selalu ada makna tersendiri di hati seseorang tentang apa yang ia tulis, tentang bagaimana ia bersikap, tanpa aku tahu. Setiap orang memiliki rahasianya sendiri, rahasia di balik rahasia itu. Rahasia yang bahkan hatinya sendiripun berusaha untuk dibohongi. Mungkin, aku terlalu sombong merasa paling tahu dan membenarkan dugaanku sendiri, tanpa melihat sisi pandang orang lain.
Selayaknyalah, aku harus membuka mata, melebarkan telinga, melunakkan hati untuk bersama melihat dan mendengar segala hal tentangnya dari sisi pandang banyak orang, dan tentu dari si dia pemilik hati.
akhir Mei 2013 —
dibagi ke temen-temen yah...