Om Swastyastu

Sloka:
बीजं मां सर्वभूतानां विद्धि पार्थ सनातनम् ।
बुद्धिर्बुद्धिमतामस्मि तेजस्तेजस्विनामहम् ॥

bījaṁ māṁ sarva-bhūtānāṁ
viddhi pārtha sanātanam
buddhir buddhimatām asmi
tejas tejasvinām aham. (Bhagavadgita 7.10)

Terjemahan:
Wahai Arjuna (Pārtha), ketahuilah bahwa Akulah benih abadi dari segala sesuatu yang ada. Akulah kecerdasan dari orang-orang yang cerdas, dan kemegahan (kekuatan) dari orang-orang yang mulia (perkasa).

Penjelasan:
Dalam hubungan sebab akibat, setiap sebab adalah benih dari akibatnya. Misalnya, lautan adalah benih awan, dan awan adalah benih hujan. Dalam sloka ini dijelaskan bahwa Tuhanlah penyebab (benih abadi) yang darinya semua makhluk bermanifestasi.

Pernahkah kita merenungkan mengapa beberapa orang lebih cerdas daripada yang lain? Mengapa mereka memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dalam pikiran dan gagasan mereka? Satu-satunya penjelasan untuk hal ini adalah karena segala sesuatu yang ada hanyalah manifestasi dari energi Tuhan. Kualitas-kualitas luar biasa yang terlihat pada orang-orang luar biasa seperti itu hanya dapat terwujud berkat waranugraha Tuhan. Sebagaimana Sri Krishna sebutkan dalam sloka ini. Tuhan adalah kekuatan halus di balik orang-orang yang cerdas dan mulia. Dia membuat pikiran mereka lebih analitis dan pikiran mereka berkilauan.

Legenda sejarah modern, seperti William Shakespeare, menunjukkan kecemerlangan yang tak tertandingi di bidang sastra. Hal itu hanya mungkin terjadi berkat anugerah Tuhan. Karya-karyanya telah memupuk sastra Inggris, dan bahasa Inggris kini telah menjadi bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Swami Vivekananda pernah berkata: Kerajaan Inggris telah menyatukan dunia dalam satu bahasa.

Kejeniusan lain yang serupa adalah Bill Gates, yang mengubah arah teknologi informasi dengan Sistem Operasi Windows-nya. Dengan pangsa pasar lebih dari sembilan puluh persen, Windows telah menjadi Sistem Operasi terpopuler di dunia. Karena sangat mudah digunakan, Windows telah membuat teknologi informasi tersedia bagi masyarakat luas. Penggunaan komputer tidak lagi terbatas pada insinyur TI. Inspirasi untuk memiliki satu sistem operasi utama yang menyatukan industri teknologi informasi dan memastikan interaksi yang tepat hanya dapat terwujud melalui rencana Tuhan.

Tuhan meningkatkan kecerdasan seseorang ketika Dia ingin menyelamatkan kita dari kekacauan.
Tentu saja, para wali selalu mengakui bahwa kecemerlangan dan keindahan karya mereka adalah berkat anugerah khusus Tuhan.

Resi Valmiki berkata: “Aku bukan penulis Ramayana , dan aku juga tidak punya kemampuan untuk menulisnya. Tuhan adalah Pelakuku. Dia mengarahkan tindakanku dan bertindak melalui diriku, tetapi dunia berpikir bahwa Valmiki-lah yang melakukannya.

Simpulan:
Oleh karena itu, Tuhan sungguh merupakan sumber utama dari segala kecemerlangan dan kecerdasan yang terwujud di sekitar kita.

Om Santih Santih Santih Om
I Wayan Sudarma
(PAH Kab. Bangli)
Bangli, 2 Nopember 2025

Sumber: Bhagavadgita

Om Swastyastu

Śloka:
श्रेयो हि ज्ञानमभ्यासाज्ज्ञानाद्ध्यानं विशिष्यते |
ध्यानात्कर्मफलत्यागस्त्यागाच्छान्तिरनन्तरम् ||

śreyo hi jñānam abhyāsāj
jñānād dhyānaṁ viśiṣyate
dhyānāt karma phala tyāgas
tyāgāc chāntir anantaram.
(Bhagavadgītā 12.12)

Terjemahan:
Yang lebih baik daripada praktik mekanis adalah pengetahuan; yang lebih baik daripada pengetahuan adalah meditasi. Yang lebih baik daripada meditasi adalah tidak pamrih akan pahala dari perbuatan, karena kedamaian segera mengikuti perbuatan yang tanpa pamrih tersebut.

Penjelasan:
Banyak orang berada pada level praktik mekanis. Mereka melakukan ritual yang diperintahkan oleh keyakinan agama mereka, tetapi tidak melibatkan pikiran dan hati mereka kepada Tuhan. Ketika mereka membeli rumah baru atau mobil baru, mereka memanggil rohaniwan untuk melakukan upacara pūjā (pemujaan). Dan sementara rohaniwan melakukan pūjā, mereka duduk dan berbicara di ruangan lain atau menyesap secangkir teh. Bagi mereka, pengabdian tidak lebih dari melakukan ritual kosong. Hal itu sering dilakukan melalui kebiasaan seremonial yang telah diwariskan dari orang tua dan tetua. Melakukan ritual secara mekanis bukanlah hal yang buruk, karena bagaimanapun juga, sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya orang-orang seperti itu terlibat secara eksternal dalam pengabdian.

Namun, melalui śloka ini ditegaskan bahwa yang lebih tinggi dari praktik mekanis adalah pengembangan pengetahuan spiritual. Pengetahuan menganugerahkan pemahaman bahwa tujuan hidup adalah realisasi Tuhan dan bukan kemajuan materi semata. Orang yang ahli dalam pengetahuan melampaui ritual kosong dan mengembangkan keinginan untuk memurnikan pikiran. Namun, pengetahuan belaka tidak dapat membersihkan hati. Maka, śloka ini menegaskan bahwa yang lebih tinggi daripada pengembangan pengetahuan adalah proses melibatkan pikiran dan hati dalam meditasi. Dengan mengendalikan pikiran secara praktis melalui meditasi, kita mulai mengembangkan pelepasan dari kesenangan duniawi. Ketika pikiran mengembangkan beberapa ukuran kualitas pelepasan, kita kemudian dapat mempraktikkan langkah berikutnya, yaitu tanpa kemelekatan (tanpa pamrih) terhadap pahala suatu tindakan. Pencapaian ini akan membantu menghilangkan keduniawian dari kotoran pikiran dan memperkuat kecerdasan untuk tahap-tahap yang lebih tinggi berikutnya. Hanya tatkala kita mampu memiliki sifat dan sikap tanpa pamrih akan suatu tindakan, di saat yang sama kedamaian akan hadir dengan caranya yang menakjubkan. Manggalamastu.

Om Santih Santih Santih Om
I Wayan Sudarma
(PAH Kab. Bangli)
Jumat, 5 Desember 2025

Sumber: Bhagavadgītā

PUTRA RNA

Om Swastyastu
Cerita ini bagus…
Ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anak, menantu dan cucunya yang berusia 6 tahun. Tangan orang tua ini sangat rapuh dan sering bergerak tak menentu, penglihatannya buram dan berjalanpun sulit. Keluarga tersebut biasa makan bersama di ruang utama. Namun si orang tua pikun ini salalu mengacaukan suasana makan.

Tangannya yang bergetar dan matanya yang rabun membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke lantai, saat ia meraih gelas susu, susu tersebut tumpah membasahi taplak meja.

Anak dan menantunya sangat gusar. “Kita harus melakukn sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan segala sesuatu untuj Pak Tua ini”. Lalu kedua suami istri tersebut membuatkan sebuah meja kayu dan meletakkanya di sudut ruangan. Di sana sang kakek akan duduk makan sendirian, karena sering memecahkan piring, mereka memberikan mangkuk kayu unruk sang kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam, terdengar isak tangis dari sudut ruangan. Ada air mata mengalir dari gurat keriput sang kakek. Namun kata yang sering diucapkan pasangan tersebut omelan agar jangan menjatuhkan makanan lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun hanya melihat dalam diam. Suatu malam, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang bermain dengan mainan kayu.

Dengan lembut ditanyalah anak itu: “Kau sedang apa?”
Jawab anak itu: “Aku sedang membuat meja dan mangkuk kayu untuk ayah dan ibu jika aku sudah besar kelak, akan aku letakkan di sudut dekat meja tempat kakek makan sekarang”. Anak itu tersenyum dan melanjutkan bermain.

Saudaraku semua……Jawaban itu membuat suami istri itu terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Anaknya telah memukulnya telak di dadanya. Airmata mengalir di pipi mereka. Walaupun tanpa kata-kata, kedua orang ini mengerti ada sesuatu yang harus diperbaiki.

Malam itu juga mereka menuntun sang kakek untuk makan malam bersama di meja makan lagi. Tidak ada lagi omelan pada saat piring jatuh, atau saat makanan tumpah di meja.

Apa yang kita bisa pelajari dari kisah ini…??
Maka marilah kita selalu memberi teladan yang baik untuk anak-anak dan orang-orang di sekitar kita. Karena itu adalah tabungan masa depan kita

Mari Bersyukur untuk keberadaan orang tua kita. Karena tanpa mereka yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Barangkali hari ini kita tidak akan pernah ada di kehidupan ini.

Jika semeton menganggap kisah ini layak direnungkan dan diteruskan sebagai bentuk penyadaran….maka jangan sungkan untuk mesharenya kepada siapa saja…!!

Semoga kita rasa welas asih kita kian mekar dalam keseharian hidup kita. Manggalamastu..!!

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma

  • Disunting dari Naskah Dharma Wacana: Refleksi Putra Sasana

Sanghyang Widhi Sang Pelindung dan Pemberi Anugerah

Om Swastyastu

mutiaradharma: “Air conditioner tentu dapat menyejukkan tubuh kita, namun hanya KARUNIA TUHAN yang dapat menyegarkan dan menyehatkan Pikiran yang Kacau dan Hati yang Galau. Tuhan mampu memberikan pemenuhan setiap hal (sekala-niskala) yang diperlukan oleh manusia”.

अनन्याश्चिन्तयन्तो मां ये जना: पर्युपासते |
तेषां नित्याभियुक्तानां योगक्षेमं वहाम्यहम् ||

ananyāś cintayanto māṁ
ye janāḥ paryupāsate
teṣāṁ nityābhiyuktānāṁ
yoga-kṣemaṁ vahāmyaham (Bhagavadgita 9.22)

Seorang ibu tak pernah berpikir untuk meninggalkan bayinya yang baru lahir dan tak berdaya yang sepenuhnya bergantung padanya. Ibu jiwa yang tertinggi dan abadi adalah Tuhan. Dalam sloka ini, Tuhan menawarkan jaminan keibuan kepada jiwa-jiwa yang berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Kata-kata yang digunakan adalah vahāmi aham, yang berarti “Aku sendiri yang menanggung beban menafkahi para penyembah-Ku,” sebagaimana seorang pria yang telah menikah menanggung beban menafkahi istri dan anak-anaknya.

Tuhan menjanjikan dua hal:
Pertama adalah yoga—Dia menganugerahkan kepada para pemuja-Nya aset spiritual yang tidak mereka miliki. Kedua adalah kṣema —Dia melindungi aset spiritual yang telah dimiliki oleh para penyembah-Nya.

Namun, kondisi yang Dia tetapkan untuk ini adalah penyerahan diri secara nakeng tuwas (lascarya). Ini dapat dipahami lagi melalui analogi yang sama tentang ibu dan anak. Bayi yang baru lahir sepenuhnya bergantung pada ibunya, yang mengurus kesejahteraan bayi sepenuhnya. Bayi itu hanya menangis setiap kali membutuhkan sesuatu; ibu membersihkannya, memberinya makan, memandikannya, dll. Tetapi ketika bayi itu menjadi anak berusia lima tahun, ia mulai melakukan beberapa tindakan untuk dirinya sendiri. Sejauh itu ibu mengurangi tanggung jawabnya. Dan ketika anak yang sama menjadi remaja dan memikul semua tanggung jawab, ibu melepaskan tanggung jawabnya lebih jauh. Sekarang jika ayahnya pulang dan bertanya, “Di mana putra kita?” sang ibu menjawab, “Dia belum pulang ke rumah setelah sekolah. Dia pasti pergi menonton film dengan teman-temannya.” Sikapnya sekarang lebih netral terhadapnya. Namun, ketika anak laki-laki itu berusia lima tahun, dan terlambat sepuluh menit pulang sekolah, baik ibu maupun ayahnya mulai khawatir, “Apa yang terjadi? Dia masih kecil. Semoga dia tidak mengalami kecelakaan. Mari kita telepon pihak sekolah dan cari tahu.”

Dengan cara ini, ketika anak laki-laki itu terus memikul lebih banyak tanggung jawab, ibunya terus melepaskan tanggung jawabnya.

Hukum Tuhan persis sama. Ketika kita bertindak atas kemauan sendiri, berpikir bahwa kita adalah pelaku tindakan kita, dan bergantung pada kehebatan dan kemampuan kita sendiri, Tuhan tidak menganugerahkan waranugraha-Nya. Dia hanya mencatat karma kita dan memberikan hasilnya. Ketika kita berserah sebagian kepada-Nya dan sebagian bergantung pada dukungan materi, Tuhan juga sebagian menganugerahkan karunia-Nya kepada kita. Dan ketika kita mempersembahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya, māmekaṁ śaraṇaṁ vraja , Tuhan menganugerahkan anugerah-Nya yang utuh dan bertanggung jawab penuh, dengan memelihara apa yang kita miliki dan menyediakan apa yang tidak kita miliki.

Semoga renungan singkat ini bermanfaat bagi kita semua. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
♡ I Wayan Sudarma

KUAT DALAM TEKAD

Om Swastyastu

mutiaradharma “Selama kita masih punya TEKAD yang terpelihara dalam SEMANGAT, maka tiada kata TERLAMBAT untuk terus BERBENAH”.

Piteket Leluhur yang satu berikut ini, jelas sekali super heroik dan sangat fowerfull sebagai cambuk/motivasi hidup, agar tidak loyo dan frustrasi. “Ulat Madhep Ati Karep” demikian Pepeling tersebut sering dikumandangkan, yang secara harfiah berarti: Muka memandang tegap ke depan, Hati pun mantap. Inilah bentuk KESIAPAN diri secara totalitas (lahir-bathin).

Piteket ini merupakan gambaran orang yang mempunyai tekad yang kuat dalam menggapai cita-cita atau suatu keinginan/tekad yang memang telah diimpi-impikannya. Dengan “Ulat Madhep Ati Karep”, segala rintangan akan dihadapi dengan berani.

Pengaruh dari orang lain yang ingin mematahkan semangatnya pun tidak digubris sama sekali. Ia akan maju terus pantang mundur sehingga peluang untuk berhasil pun lebih besar.

Nah…jika demikian…bagaimana dengan semangat dan tekad Anda..?? Mari menjadi pribadi yang senantiasa SIAP..!!

Dan harus diingat….Subha dan Asubha Karma adalah yang paling setia menemani kemanapun kita melangkah. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om
@way_sudarma

suluhhindu

mutiaradharma

literasihindu

Untuk Segala Sesuatu Semua Sudah Ada Waktunya

Om Swastyastu

Bahwa sejatinya: Di dunia fana ini, waktu yang kita jalani selalu terpilah. Waktu selalu menjadi penanda dan pemilah satu peristiwa dengan peristiwa lainnya. Setiap peristiwa itu selalu bersifat sementara dan tidak pernah ‘permanen’. Untuk segala sesuatu selalu sudah ada waktunya.

Ada waktunya orang mengalami kebahagiaan, ada waktu juga mengalami kepedihan; ada waktu memiliki, ada waktunya juga mengalami kehilangan; ada waktu orang mengalami kepenuhan hidup dan ada waktunya juga mengalami kehampaan; ada waktu meraih sukses dan kebahagiaan, namun ada waktunya juga orang mengalami kegagalan. Semua peristiwa dalam hidup datang silih berganti untuk menempa, dan meneguhkan hidup.

Semua peristiwa dalam hidup ini selalu menunjuk pada hakikatnya yang tidak abadi, sementara saja dan selalu berganti kepada keadaan yang baru dan berbeda. Satu hal yang pasti adalah bahwa: Tuhan memiliki GRAND DESIGN untuk setiap ciptaanNya, termasuk kita. Oleh karena itu, tak perlu menjadi lekas kehilangan semangat dan pengharapan di saat mengalami persoalan hidup, saat diterpa dilema, dan berbagai kecemasan. Tidak perlu juga menjadi angkuh dan tinggi hati di saat mengalami sukses, kebahagiaan, di saat mendapatkan intuisi, visi-visi kesemestaan, dan sebagainya.

Tuhan menempatkan setiap peristiwa dalam hidup ini agar dialami. Betapa baiknya DIA. Betapa penuh kasihnya IA dengan menetapkan dalam hati setiap orang ‘benih kekekalan’ beserta dayaNya yang lestari. Maksudnya ialah agar tidak ada waktu dalam setiap detik dan menit yang berlalu, orang mampu melupakan kasih dan kebaikanNya dalam hidup ini.

Semoga kita dimampukkan untuk mencecap kasih dan kebahagiaan yang IA hadirkan di dalam dan melalui setiap peristiwa yang boleh kita alami setiap saat dalam hidup. Manggalamastu..!

Om Santih Santih Santih Om
I Wayan Sudarma

Punggung (Kebodohan)

Om Swastyastu

नादत्ते कस्यचित्पापं न चैव सुकृतं विभुः।
अज्ञानेनावृतं ज्ञानं तेन मुह्यन्ति जन्तवः ॥५.१५॥
nādatte kasyacit pāpaṁ na caiva sukṛtaṁ vibhuḥ,
ajñānenāvṛtaṁ jñānaṁ tena muhyanti jantavaḥ. (Bhagavadgita V.15)

Terjemahan: Tuhan tidak mengambil dosa ataupun jasa milik seseorang. hanya karena kebijaksanaan yang diselimuti oleh kebodohan sehingga dengan kebodohan ini makhluk hidup menjadi bingung.

Tuhan tidak bertanggung jawab atas perbuatan baik atau perbuatan dosa seseorang. Tuhan hanya:
1). Dia memberi jiwa sebagai kekuatan untuk bertindak.
2). Setelah kita melakukan tindakan dengan kekuatan yang diberikan kepada kita, Dia mencatat tindakan kita.
3). Dia memberi kita hasil karma kita.

Jiwa individu memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan baik atau buruk dengan menggunakan kehendak bebasnya sendiri. Kehendak bebas itu adalah dasar dari permainan penciptaan dan itu menjelaskan keragaman kesadaran di antara jiwa-jiwa yang ada.

Dengan kebebasan ini manusia memproduksi karma baik dan karma buruk, dan bertanggung jawab atas karma-karmanya itu.

Menurut pandangan Hindu, kebodohan (disebut avidyā atau ketidaktahuan) adalah akar dari penderitaan dan kesalahpahaman terhadap hakikat sejati realitas, yang membuat manusia terpisah dari kesadaran murni dan terjerat dalam maya (ilusi). Ini bukan sekadar ketidaktahuan intelektual, tetapi lebih merupakan kebingungan batin yang menyebabkan kekeliruan dalam menilai, bertindak, dan memahami diri sebagai jiwa yang terpisah dari kesadaran ilahi (Brahman).

Ciri-ciri kebodohan (avidyā):
1). Ketidaktahuan akan hakikat diri; Seseorang yang bodoh tidak mengenali jati diri sejatinya sebagai kesadaran murni tanpa dualitas, melainkan terikat pada tubuh dan ego.

2). Terjebak dalam ilusi; Kebodohan ini menyebabkan individu keliru menganggap realitas yang selalu berubah (maya) sebagai kenyataan yang sesungguhnya.

3). Tidak mampu membedakan kebenaran; Individu yang bodoh secara keliru menganggap hal-hal yang tampak adalah hal yang sebenarnya dan tidak mampu membedakan antara pantulan dengan objek aslinya.

4). Salah menafsirkan ajaran; Kebodohan juga bisa berupa kesalahan dalam memahami ajaran spiritual, sehingga salah dalam memuja dan bertindak.

Dampak kebodohan:
1). Penderitaan (dukkha); Kebodohan dianggap sebagai akar dari segala bentuk penderitaan karena menciptakan kesalahpahaman dan ilusi.

2). Karma buruk; Kesalahan penilaian dan tindakan yang timbul dari kebodohan akan menciptakan karma buruk yang dapat menjerat seseorang dalam siklus kelahiran kembali (punarbawa).

3).Keterikatan; Kebodohan membuat seseorang terikat pada hal-hal duniawi yang fana dan melupakan tujuan spiritual yang sebenarnya, yaitu pembebasan (moksa).

Cara mengatasi kebodohan:
1)..Mencari pengetahuan (vidyā); Kebalikan dari avidya adalah vidya atau pengetahuan sejati. Melalui berbagai praktik spiritual (sadhana), seseorang dapat berusaha membedakan yang benar dari yang salah dan yang nyata dari yang ilusi.

2). Meditasi dan refleksi; Melalui praktik meditasi, seseorang dapat menenangkan pikiran, mengendalikan nafsu, dan akhirnya dapat membedakan hakikat sejati dari ego dan ilusi.

3). Meningkatkan kesadaran; Seseorang dapat berupaya meningkatkan kesadarannya akan sifat dasarnya sebagai kesadaran murni dan melihat lebih dalam di balik ilusi duniawi. Semoga renungan singkat ini bermanfaat. Manggalamastu

Om Santih Santih Santih Om

♡ I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Tubuh atau badan ini disebut DEHA. Tubuh/’deha adalah apa yang terbakar’ – “DAHYATI ITI DEHA”. Ketika tubuh masih hidup, tubuh mengalami pembakaran, dan setelah mati tubuh (jasad) juga dibakar. Tubuh manusia yang terbentuk dari lima unsur tanah-air-api udara dan akasa bersifat tidak kekal. Hanya Atma/roh yang tinggal di dalam badan itulah yang abadi, langgeng dan tidak berubah. Dia yang tinggal di dalam badan ini disebut ‘Dehi’, yang menghuni tubuh/Deha.

Sebutan lain bagi tubuh adalah SARIRA. Tubuh/’sarira adalah apa yang cenderung membusuk’ – “SIRYATI ITI SARIRAH”. Awalnya tubuh hanyalah segumpal daging dan darah. Ketika tumbuh berkembang, tubuh memperoleh bentuk badan yang indah di masa muda, kemudian disusul dengan kerusakan akibat usia tua. Tubuh senantiasa berubah dan mengalami serta melewati banyak perubahan, yang pada akhirnya membusuk. Namun dia yang menempati tubuh adalah kekal dan disebut dengan istilah ‘Sariri’.

Nama lain bagi tubuh adalah KSETRA atau Tempat Suci. Di dalam Sastra, tempat-tempat suci disebut dengan Kshetra; misalnya seperti Badrinath, Kashi (Varanasi) dan Tirupati di India, digambarkan dan disebut sebagai Ksetra, karena di tempat-tempat itulah para pemuja menikmati suasana yang suci dan sembahyang memuja/ berhubungan dengan Yang Maha Suci. Setra (Ksetra?) di Bali adalah kuburan, tempat membakar badan yang sudah mati, yang oleh masyarakat dianggap sebagai tempat yang kotor, tercemar dan tidak suci. Namun di tempat itu juga Tuhan, pencipta makhluk dipuja dengan nama Prajapati.

Kata “KSETRA” juga berarti bidang, tempat, lapangan atau medan. Di tanah lapang tubuh ini, orang menanam-memanen buah dari biji yang ditaburnya. Apa benihnya, begitulah buahnya.

Bila menabur-menanam benih tindakan ucapan dan pikiran yang baik, maka hasil yang baiklah yang akan dituai-dipanen. Begitu pula tindakan, ucap kata dan pikiran yang buruk, hanya akan memberikan hasil yang buruk. Karena itu, jangan menyia-nyiakan tubuh dan/atau menyalahgunakannya dengan laku-lampah yang tidak baik. Di Ksetra tubuh ini – pikiran, ucapan dan tindakan yang baik dan suci – hendaknya tetap dijaga dan harus menang-berjaya.

________________________________________
• Deho dewalaya prokto, Jiwo dewa (siwa) sanathanah – Tubuh/deha adalah tempat suci dimana Jiwa/roh, percikan Tuhan(siwa) yang abadi, bersthana. Tanpa ‘Siwa’ tubuh hanyalah ‘Sawa’, badan mati yang akan membusuk dan dibakar.

• Sariram adhyam kalu dharma sadhanam – Badan/sarira ini diberikan adalah semata-mata untuk melakukan tindak kebajikan, dharma.

• Ksetra tubuh ini adalah ladang dimana benih ditanam, dan Dia yang mengetahui ladang/’Ksetrajna’ adalah pemiliknya. Ksetra adalah badan, dan bila badan ini ditinggal pemiliknya maka sang badan akan dibawa ke ‘setra’ (kuburan) untuk dibakar.

• Jantunam narajanma durlabham – dari semua makhluk hidup, kelahiran sebagai manusia adalah yang paling langka dan amat sulit didapat.
*********
Om Santih Santih Santih Om

I Wayan Sudarma

Bagaikan air yang mengalir
Dari gunung melalui sungai menuju samudera
Hingga akhirnya bersatu bersama leluhur, dewata, dan Hyang Parama Kawi.

Moksa…….
Bebas……..
Lepas……..
Melepaskan ikatan keduniawian
Melalui jalan Dharma
Menyatu dengan Maha Pencipta

Moksa……..
Tujuan dalam hidup
Terbebas, terlepas
Menuju nirwana kebahagiaan abadi

Oh,Hyang Widhi..
Tunjukanlah jalan kepada kakkek, nenek, orang tua, kerabat, adik, kakak dan semua orang~orangku menuju MoksaMu
Agar arwahnya, jiwatmannya
Dapat menyatu denganMu…..wahai Paramaatman
Menuju kebahagiaan Moksa abadi…..Sunyata.

Semoga Semua Swargi yang hari ini mendapatkan Pengaskara Widhi Pengabenan Mantuk mewali Kajati Mula; Manunggal Ring Hyang Widhi.

Om Swastyastu

Bagi saudara/i yang kurang sehat, sakit berkepanjangan tanpa sebab, badan lemah, ingin menghilangkan efek obat-obatan kimiawi-termasuk narkotika, hepatitis, dan TBC paru dan TBC Tulang, Reumatik, Asam Urat, Jantung, Kista, Endometrusis, Haid tidak normal, dan sebagainya: ini obatnya menurut Lontar Usada Dalem:
1. Air putih +/- 400 cc yang sudah dimasak kemudian di endapkan, atau air kelapa muda (cengkir/klungah).
2. 3 tangkai bunga kamboja bali warna putih, saat di petik jangan bernapas/saat memetik sambil menahan napas, lalu dicuci dengan bersih.

Cara penggunaan:
1. Setelah air menjadi adem/dingin, masukkan ke-3 tangkai kamboja ke dalam air, tutup dengan kain kasa selama 12 jam. Kalau bisa dilakukan mulai matahari terbenam hingga subuh.
2. Sebelum meminumnya, jangan lupa berdoa.
3. Agar bisa meminumnya setiap saat, volume air dan jumlah tangkai bunga dapat dikelipatkan. Misalnya kalau airnya 800 cc, bunganya menjadi 6 tangkai.

Rasakan manfaatnya setelah seminggu saudara/i meminumnya. Sistem kekebalan tubuh akan meningkat, toksin/racun, dan zat adiktif dalam tubuh akan diurai keluar melalui keringat yang bau, air seni, dan tinja.

Kerabat lain kamboja yaitu adenium, mandevilla dan pachypodium. Kamboja mengandung senyawa kimia yang sangat bermanfaat, seperti : asam plumerat, asam serotinat, plumierid dan agoniadin.

Kulitnya mengandung zat beracun pahit (plumierid), getahnya mengandung damar dan asam plumeria.

Akar dan daunnya mengandung saponin, polifenol, alkaloid dan fenetilalkohol. Senyawa fulvoplumierin di hampir seluruh tanaman ini menghambat disentri, radang saluran pernafasan, TBC dan hepatitis. Fungsi lain kamboja : meredakan demam, menghentikan batuk, melancarkan air seni, mencegah pingsan, dan lain sebagainya.


Getah kamboja mengandung alkaloid, tanin, flavonoid dan triterpenoid yang berfungsi sebagai antibiotik apabila dengan dosis tepat, termasuk untuk pngobatan gigi berlubang. Caranya dengan meneteskan getah kamboja ke kapas. Dosis cukup 1-2x sehari.


Untuk mengobati bisul dengan  cara memanaskan daun kamboja di atas api hingga layu kemudian diolesi minyak zaitun. Tempelkan di atas bisul dlm keadaan panas.


Mengobati kaki bengkak dan kaki pecah-pecah. Dengan merebus akar dan daun ditambahkan garam mineral. Gunakan untuk merendam kaki.
Mengobati gonorrhea dan borok. Caranya dengan mengoleskan getahnya.

 Biji bunga kamboja yang kering: disangrai, lalu seduh dengan air panas seperti  teh, bermanfaat buat sakit typus, desentri, dan radang usus.
Selamat mencoba. Semoga semakin sehat.

Om Santih Santih Santih Om 

I Wayan Sudarma
* Sumber: Ayur Weda, Lontar Usada Dalem

Design a site like this with WordPress.com
Get started